- Beranda
- Stories from the Heart
URBAN LEGEND PANTAI TRISIK 1990
...
TS
breaking182
URBAN LEGEND PANTAI TRISIK 1990
URBAN LEGEND : PANTAI TRISIK 1990
Quote:

INDEX URBAN LEGEND PANTAI TRISIK 1990
Quote:
SERIES BARU
MUTILASI
MUTILASI
EPISODE 1 : MAYAT TERPOTONG DI HUTAN JATI
EPISODE 2 : EVAKUASI
EPISODE 3 : SANG DALANG
EPISODE 4 : KASIH TAK SAMPAI
EPISODE 5 : PENYUSUP
EPISODE 6 : LOLOS DARI MAUT
EPISODE 7 : DUKA TERDALAM
EPISODE 8 : PEMBUNUHNYA ADALAH ....
EPISODE 9 : PENYERGAPAN
CREDIT SCENE
TAMAT
EPISODE 2 : EVAKUASI
EPISODE 3 : SANG DALANG
EPISODE 4 : KASIH TAK SAMPAI
EPISODE 5 : PENYUSUP
EPISODE 6 : LOLOS DARI MAUT
EPISODE 7 : DUKA TERDALAM
EPISODE 8 : PEMBUNUHNYA ADALAH ....
EPISODE 9 : PENYERGAPAN
CREDIT SCENE
TAMAT
SERIES BARU
MAHKLUK DARI SEBERANG ZAMAN
MAHKLUK DARI SEBERANG ZAMAN
EPISODE 1 : SRITI WANGI
EPISODE 2 : PANGKAL BENCANA
EPISODE 3 : MAYAT DI DALAM PETI
EPISODE 4 : KECELAKAAN MAUT
EPISODE 5 : SANG DEWI
EPISODE 6 : KORBAN BERJATUHAN
EPISODE 7 : PENODONGAN DI MALIOBORO
EPISODE 8 : PENYERGAPAN DI BUKIT BINTANG
EPISODE 9 : K.O
EPISODE 10 : PETUNJUK?!
EPISODE 11 : KI AGENG BRAJAGUNA
EPISODE 12 : PERTEMPURAN TERAKHIR
STORY BRIDGE
TAMAT
EPISODE 2 : PANGKAL BENCANA
EPISODE 3 : MAYAT DI DALAM PETI
EPISODE 4 : KECELAKAAN MAUT
EPISODE 5 : SANG DEWI
EPISODE 6 : KORBAN BERJATUHAN
EPISODE 7 : PENODONGAN DI MALIOBORO
EPISODE 8 : PENYERGAPAN DI BUKIT BINTANG
EPISODE 9 : K.O
EPISODE 10 : PETUNJUK?!
EPISODE 11 : KI AGENG BRAJAGUNA
EPISODE 12 : PERTEMPURAN TERAKHIR
STORY BRIDGE
TAMAT
KUMPULAN CERPEN HORROR
INDEX
Diubah oleh breaking182 07-05-2018 13:16
itkgid dan 41 lainnya memberi reputasi
40
255.7K
Kutip
809
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.6KAnggota
Tampilkan semua post
TS
breaking182
#212
Quote:

Quote:
Mobil Mercy Tiger 280e berwarna biru itu berhenti di depan sebuah rumah besar dengan regol yang terbuat dari besi kokoh. Hartono masih berada di balik kemudi dimainkannya klakson sehingga menimbulkan bunyi berisik. Tidak lama kemudian dari balik pintu regol muncul seorang lelaki paruh baya berbadan kurus memakai kaos oblong putih dan bercelana hitam panjang yang digulung sampai lutut.
" Pak Parman, aku hendak ketemu dengan majikan mu. Sampaikan kepadanya Hartono mencari ".
" Iya den, akan saya sampaikan sementara den Hartono menunggu dahulu saja di serambi. Sebentar saya panggilkan ".
Parman menutup kembali regol setelah mobil Hartono masuk kemudian berhenti di depan rumah besar itu.
Hartono duduk bersandar pada kursi yang ada di serambi depan rumah Juragan Sentiko. Matanya memandang ke arah pekarangan luas yang ditumbuhi pohon sawo kecik dan jambu dersana di tiap – tiap sudut halaman.
" Lumayan bagus juga rumah dan pekarangan juragan keparat ini. Dahulu aku mungkin untuk membayangkan saja tidak berani untuk memiliki kekayaan seperti Sentiko. Tetapi sekarang..aku lebih kaya dari dia ".
Batin Hartono dalam hati. Hartono tersenyum sendiri.
Lamunannya buyar setelah sesorang berdeham dari belakang. Seorang lelaki berusia sekitar tujuh puluh tahun. Rambut dan kumisnya telah memutih seperti kapas. Tubuhnya yang tinggi tidak kelihatan bungkuk. Sebuah tongkat berhulu gading putih kekuningan tergenggam erat di tangan kanan.
" Selamat siang juragan Sentiko".
Hartono berdiri dari tempat duduknya sembari setengah menunduk hormat.
Juragan Sentiko hanya tersenyum. Kemudian menarik kursi dan duduk. Diikuti oleh Hartono yang juga kembali duduk di kursinya.
" Ada apa gerangan kau datang Hartono? "
Suara juragan Sentiko terdengar berat dan dingin. Seperti ada rasa tidak suka dinada suaranya. Mungkin merasa tersaing sebagai orang terkaya di Sambirejo.
" Adu dua tujuan saya kesini Juragan. Selain silaturahmi saya juga ingin memberikan sedikit hadiah. Sekedar ucapan terimakasih atas bantuan juragan yang selama ini selalu membantu saya ".
Nada suara Hartono seperti menyindir. Akan tetapi, juragan Sentiko tidak bereaksi apa –apa. Air mukanya masih kelihatan dingin.
" Satu lagi juragan, saya ingin mengajak juragan untuk bekerja sama. Saya yakin kita berdua akan bisa menguasai daerah –daerah disini jika kita punya kekuasaan. Dan saya yakin Juragan Sentiko sangat berpengalaman dalam hal ini ".
Juragan Sentiko tertawa terkekeh. Kebekuan hatinya tiba -tiba cair dengan seketika. Otaknya yang licik cepat tanggap mencari jalan untuk menghancurkan Hartono.
" Usulan kamu cemerlang Hartono. Tidak salah kalau kau anaknya Mangun Sarkoro pejabat tinggi di pemerintahan daerah. Otak mu cerdas ".
Juragan Sentiko memuji Hartono. Padahal di dalam hatinya sumpah serapah terucap. Saat kesempatan itu datang. Aku akan menyingkirkan mu Hartono. Aku yang berhak menyandang gelar sebagai orang terkaya dan berpengaruh serta berkuasa di desa ini.
Hartono menyeringai aneh.
Diulurkan tanganya ke arah juragan Sentiko.
" Juragan Sentiko dengan ini perjanjian kita telah diputuskan. Jabat tangan suatu pertanda kalau kita sekarang telah berkerja sama ".
Juragan Sentiko menyambut uluran Hartono. Lalu menjabatnya dengan erat. Sambil tertawa –tawa. Hartono kembali menyeringai.
" Juragan Sentiko saya membawa banyak perhiasan dan juga keramik mahal yang saya dapat dari kolega saya orang Borneo. Saya sengaja membawa kesini sebagai simbol kerjasama kita ".
Mata Juragan Sentiko nampak berbinar –binar. Tidak sedikitpun curiga dan bertanya -tanya dalam hal apa Hartono memberikannya hadian yang sangat mahal harganya. Keserakahan atas harta benda dunia menutup akal sehatnya. Di balik hadiah itu mengintai maut yang sewaktu -waktu akan mencabut nyawa.
"Dimana barang –barang itu? "
" Sabar juragan......Jangan keburu nafsu "
Hartono tersenyum.
" Semua itu ada di dalam mobil. Nanti Pak Parman yang akan menurunkan untuk juragan ".
Juragan Sentiko kembali tertawa tergelak –gelak sampai perutnya tergoncang –goncang. Setelah tertawanya reda juragan Sentiko berteriak memanggil ke dua istrinya.
" Kuntini, Nastiti...ambilkan minuman istimewa yang aku simpan di dalam lemari! Hari ini kita berpesta pora ".
Tidak berapa lama kemudian muncul dua perempuan muda yang membawa botol minuman yang jika dilihat dari tampilannya itu minuman mahal. Pakaian yang dikenakan kedua istri juragan Sentiko bagus dan melekat ketat di tubuh sehingga jelas kelihatan badan mereka yang bagus ramping. Rambut hitam panjang yang tersanggul rapi di atas kepala masing-masing menambah aura kecantikan.
" Sebentar lagi kau akan modar Sentiko. Dan kedua istri mu yang cantik itu akan menjadi janda. Mungkin aku juga akan berminat menyimpannya sebagai gundik ".
Bisikan iblis bergema di benak Hartono. Hartono tersenyum dan kembali menyeringai. Nafsu iblis rupanya telah menguasai setiap nadi dan pembuluh darah di badannya.
" Pak Parman, aku hendak ketemu dengan majikan mu. Sampaikan kepadanya Hartono mencari ".
" Iya den, akan saya sampaikan sementara den Hartono menunggu dahulu saja di serambi. Sebentar saya panggilkan ".
Parman menutup kembali regol setelah mobil Hartono masuk kemudian berhenti di depan rumah besar itu.
Hartono duduk bersandar pada kursi yang ada di serambi depan rumah Juragan Sentiko. Matanya memandang ke arah pekarangan luas yang ditumbuhi pohon sawo kecik dan jambu dersana di tiap – tiap sudut halaman.
" Lumayan bagus juga rumah dan pekarangan juragan keparat ini. Dahulu aku mungkin untuk membayangkan saja tidak berani untuk memiliki kekayaan seperti Sentiko. Tetapi sekarang..aku lebih kaya dari dia ".
Batin Hartono dalam hati. Hartono tersenyum sendiri.
Lamunannya buyar setelah sesorang berdeham dari belakang. Seorang lelaki berusia sekitar tujuh puluh tahun. Rambut dan kumisnya telah memutih seperti kapas. Tubuhnya yang tinggi tidak kelihatan bungkuk. Sebuah tongkat berhulu gading putih kekuningan tergenggam erat di tangan kanan.
" Selamat siang juragan Sentiko".
Hartono berdiri dari tempat duduknya sembari setengah menunduk hormat.
Juragan Sentiko hanya tersenyum. Kemudian menarik kursi dan duduk. Diikuti oleh Hartono yang juga kembali duduk di kursinya.
" Ada apa gerangan kau datang Hartono? "
Suara juragan Sentiko terdengar berat dan dingin. Seperti ada rasa tidak suka dinada suaranya. Mungkin merasa tersaing sebagai orang terkaya di Sambirejo.
" Adu dua tujuan saya kesini Juragan. Selain silaturahmi saya juga ingin memberikan sedikit hadiah. Sekedar ucapan terimakasih atas bantuan juragan yang selama ini selalu membantu saya ".
Nada suara Hartono seperti menyindir. Akan tetapi, juragan Sentiko tidak bereaksi apa –apa. Air mukanya masih kelihatan dingin.
" Satu lagi juragan, saya ingin mengajak juragan untuk bekerja sama. Saya yakin kita berdua akan bisa menguasai daerah –daerah disini jika kita punya kekuasaan. Dan saya yakin Juragan Sentiko sangat berpengalaman dalam hal ini ".
Juragan Sentiko tertawa terkekeh. Kebekuan hatinya tiba -tiba cair dengan seketika. Otaknya yang licik cepat tanggap mencari jalan untuk menghancurkan Hartono.
" Usulan kamu cemerlang Hartono. Tidak salah kalau kau anaknya Mangun Sarkoro pejabat tinggi di pemerintahan daerah. Otak mu cerdas ".
Juragan Sentiko memuji Hartono. Padahal di dalam hatinya sumpah serapah terucap. Saat kesempatan itu datang. Aku akan menyingkirkan mu Hartono. Aku yang berhak menyandang gelar sebagai orang terkaya dan berpengaruh serta berkuasa di desa ini.
Hartono menyeringai aneh.
Diulurkan tanganya ke arah juragan Sentiko.
" Juragan Sentiko dengan ini perjanjian kita telah diputuskan. Jabat tangan suatu pertanda kalau kita sekarang telah berkerja sama ".
Juragan Sentiko menyambut uluran Hartono. Lalu menjabatnya dengan erat. Sambil tertawa –tawa. Hartono kembali menyeringai.
" Juragan Sentiko saya membawa banyak perhiasan dan juga keramik mahal yang saya dapat dari kolega saya orang Borneo. Saya sengaja membawa kesini sebagai simbol kerjasama kita ".
Mata Juragan Sentiko nampak berbinar –binar. Tidak sedikitpun curiga dan bertanya -tanya dalam hal apa Hartono memberikannya hadian yang sangat mahal harganya. Keserakahan atas harta benda dunia menutup akal sehatnya. Di balik hadiah itu mengintai maut yang sewaktu -waktu akan mencabut nyawa.
"Dimana barang –barang itu? "
" Sabar juragan......Jangan keburu nafsu "
Hartono tersenyum.
" Semua itu ada di dalam mobil. Nanti Pak Parman yang akan menurunkan untuk juragan ".
Juragan Sentiko kembali tertawa tergelak –gelak sampai perutnya tergoncang –goncang. Setelah tertawanya reda juragan Sentiko berteriak memanggil ke dua istrinya.
" Kuntini, Nastiti...ambilkan minuman istimewa yang aku simpan di dalam lemari! Hari ini kita berpesta pora ".
Tidak berapa lama kemudian muncul dua perempuan muda yang membawa botol minuman yang jika dilihat dari tampilannya itu minuman mahal. Pakaian yang dikenakan kedua istri juragan Sentiko bagus dan melekat ketat di tubuh sehingga jelas kelihatan badan mereka yang bagus ramping. Rambut hitam panjang yang tersanggul rapi di atas kepala masing-masing menambah aura kecantikan.
" Sebentar lagi kau akan modar Sentiko. Dan kedua istri mu yang cantik itu akan menjadi janda. Mungkin aku juga akan berminat menyimpannya sebagai gundik ".
Bisikan iblis bergema di benak Hartono. Hartono tersenyum dan kembali menyeringai. Nafsu iblis rupanya telah menguasai setiap nadi dan pembuluh darah di badannya.
Quote:
Desa Sambirejo terlelap dalam kesunyian. Kabut tipis yang turum dari puncak pegunungan Sewu makin lama semakin tebal menyelimuti sudut –sudut desa. Hawa dingin khas pegunungan sangat terasa mencucuk pori –pori kulit. Di kediaman juragan Santiko tepatnya di kamar pribadinya. Lampu menyala temaram. Sesekali terdengar suara cekikikan perempuan dengan manja. Ditimpali suara tertawa juragan Sentiko yang terbahak –bahak. Di atas ranjang bersprei dan berkelambu merah. Tampak tiga sosok tubuh tengan tertawa –tawa gembira. Di atas meja yang terbuat dari kayu jati berserakan perhiasan berkilau. Mulai dari gelang, kalung, anting, giwang, cincin serta lointin semua ada disana. Di sudut ruangan guci dari keramik berjajar rapi.
" Kuntini, Nastiti..semua perhiasan itu milik kalian. Pilih dan pakailah sesuka kalian".
" Terimakasih Mas Juragan".
Kedua perempuan muda itu tertawa cekikikan.
" Tadi Hartono memberikan itu semua pada mu dalam rangka apa Mas Juragan? Perhiasan sebanyak itu tentu mahal harganya ".
Istri juragan Sentiko yang bernama Kuntini bertanya.
" Ha...ha...ha...Si bodoh itu berusaha menyuapku agar aku membantu keinginannya. Perhiasan ini aku terima..Tapi nanti dulu. Tidak serta merta aku akan menuruti semua keinginannya ".
Juragan Sentiko setengah berbisik di telinga Kuntini. Perempuan itu mengikik kegelian saat kumis Juragan Sentiko menyentuh cuping telinganya.
" Aku punya rencana, suatu saat aku akan hancurkan Hartono dan akan aku rampas semua harta bendanya. Tunggu saatnya itu tiba ".
Kembali Juragan Sentiko tertawa gelak –gelak.
" Badan ku capek istri –istri ku. Tolong Kuntini pijit kedua tangan ku dan bahuku. Dan kamu Nastiti tolong kau pijat kaki ku ! "
Dua istri Juragan Sentiko tanpa banyak cakap lalu melakukan apa yang telah diperintahkan oleh suaminya. Malam semakin larut. Tiga orang dalam kamar itu telah terkapar diserang kantuk.
Juragan Sentiko membuka matanya. Menggeliat beberapa kali kemudian duduk, disingkirkan tangan Kuntini dan Nastiti yang masih memeluk badannya. Sesaat ditengok jam dinding antik yang menempel di tembok kamar tepat pukul pukul 01.00 dini hari. Diucek - ucek matanya yang tiba –tiba pandangannya terasa kabur.
" Mengapa hawa malam ini tiba –tiba terasa panas? Gerah sekali, tidak biasanya hawa udara sepanas ini."
Juragan Sentiko mengelap peluh yang ada di leher dan dadanya. Perlahan orang tua itu turun dari ranjang. Sesaat dilirik ke dua istrinya yang masih tidur terlelap. Tangannya meraih gelas yang ada di atas meja. Setelah meneguk air putih dari dalam gelas dia cepat memakai sandal, mengencangkan ikatan kain sarung. Lalu keluar dari kamar menuju ke ruang tengah yang temaram karena hanya diterangi lampu lima watt warna merah yang menempel di langi-langit ruangan itu.
Juragan Sentiko menghempaskan tubuhnya di kursi panjang empuk yang diletakkan mepet tembok ruangan. Udara terasa sejuk diruangan itu. Sesaat Sentiko akan terlelap. Tiba –tiba matanya menangkap sekelebatan bayangan yang berjalan menuju ke belakang.
" Maling? "
Desis Jurgan Sentiko.
Berjingkat –jingkat orang tua itu meraih golok yang tergantung di tembok ruang tengah. Kemudian diloloskan dari sarungnya. Mata golok berkilat – kilat diterpa cahaya lampu temaram.
" Berani mengendap –endap dan mencuri di rumah ku. Terpaksa golok ini akan ku cuci dengan darah malam ini ".
Sentiko berbisik geram.
Juragan Sentiko berjalan perlahan penuh kewaspadaan mengikuti bayangan misterius itu. Sesampainya di dapur tidak ada siapa –siapa. Tidak ada bayangan yang nampak. Ruangan dapur sepi sunyi. Bahkan, seekor tikus pun tidak nampak. Sentiko mendengus kesal.
" Apakah tadi hanya bermimpi. Jelas sekali tadi ada bayangan orang? "
Juragan Sentiko bertanya –tanya dalam hati. Tetapi itu tidak lama. Lalu dengan gontai berjalan ke arah ruang tengah. Tetapi alangkah terkejutnya orang tua itu ketika melihat lima ekor ular sendok melata di lantai sudah meninggikan tubuh dan siap mematuk. Dengan sangat hati-hati agar gerakannya tidak menarik perhatian lima ekor ular, Sentiko merapat ke dinding di belakangnya sambil tangan kanannya mencengkeram erat hulu golok yang masih dipegangnya.
Tiba-tiba ular paling kanan bergerak maju. Empat kawannya mendesis dan ikut bergerak. Sentiko membabatkan golok ke arah lima ekor ular sendok yang akan menyerangnya. Empat ekor ular sendok surutkan kepala ke belakang. Yang satu seperti nekad meneruskan mematuk ke arah kaki juragan Sentiko. Ujung golok menderu menghajar tubuh ular. Tubuhnya langsung terpenggal menjadi dua bagian darah menyembur lalu jatuh di lantai. Sentiko kembali menebaskan goloknya. Dua ekor ular sendok jatuh berkaparan dalam keadaan terpotong.
Dua ekor ular yang masih hidup bersurut mundur, memendekkan badan masing-masing, kelihatannya hendak menyelinap lari. Sentiko tidak mau membiarkan binatang-binatang itu lolos. Sekali lagi golok tajam dikiblatkan. Dua ekor ular sendok bergelepakan di lantai. Mati.
" Pertanda apa ini? Ada lima ular sendok berkunjung ke rumah malam –malam ".
Tengkuknya tiba –tiba meremang. Matanya terbelalak. Bangkai lima ekor ular sendok raib dari lantai. Noda darah yang tadi dilihatnya menggenangi lantai juga lenyap, bersih tidak berbekas. Diangkatnya golok yang masih dipegang. Tidak ada noda darah di hulu golok itu. Bahkan, percikan darah sedikitpun tidak ada. Diam –diam hati Sentiko menciut juga. Hatinya menjadi tidak enak. Firasatnya mengatakan akan terjadi hal yang buruk pada dirinya.
Lamunannya buyar tatkala tangan halus dengan jemari yang lentik menyentuh punggung dan kemudian memeluk tubuh Sentiko dari belakang. Seorang perempuan muda berkulit hitam manis dengan tubuh sekal pada bagian dada dan bagian pinggul.
" Kau terbangun Nastiti? "
Juragan Sentiko berbalik badan ke arah istrinya yang tiba-tiba telah berada di belakangnya.
" Iya Mas Juragan ".
Nastiti menjawab dengan suara parau. Pandangan matanya sayu.
Dan yang membuat Sentiko serta merta melupakan hal ganjil yang baru saja terjadi adalah perempuan muda salah satu istrinya itu tampak tidak tertutup selembar benangpun!
" Ayolah Mas Juragan, kita bersenang –senang malam ini. Letakkan golok mu itu di lantai ".
Suara parau Nastiti terdengar manja.
Nafas Juragan Sentiko memburu. Entah bagaimana nafsunya langsung bergelora. Dilepaskan golok yang masih dipegang ke lantai. Perlahan di dekati tubuh Nastiti yang berdiri di hadapannya. Ketika sesaat lagi tubuhnya akan menempel pada tubuh telanjang itu tiba-tiba terdengar desisan keras. Di hadapan Sentiko muncul ular berwarna hijau sebesar pohon kelapa. Tidak ada waktu lagi untuk kaget atau menjerit. Secepat kilat ular besar itu mematuk leher Juragan Sentiko. Tubuh itu mengejang sebentar kemudian jatuh berlutut. Perlahan –lahan tumbang terkapar di lantai. Tidak bernafas lagi. Tubuhnya sontak membiru. Seperti terkena racun yang sangat kuat dan jahat.
" Kuntini, Nastiti..semua perhiasan itu milik kalian. Pilih dan pakailah sesuka kalian".
" Terimakasih Mas Juragan".
Kedua perempuan muda itu tertawa cekikikan.
" Tadi Hartono memberikan itu semua pada mu dalam rangka apa Mas Juragan? Perhiasan sebanyak itu tentu mahal harganya ".
Istri juragan Sentiko yang bernama Kuntini bertanya.
" Ha...ha...ha...Si bodoh itu berusaha menyuapku agar aku membantu keinginannya. Perhiasan ini aku terima..Tapi nanti dulu. Tidak serta merta aku akan menuruti semua keinginannya ".
Juragan Sentiko setengah berbisik di telinga Kuntini. Perempuan itu mengikik kegelian saat kumis Juragan Sentiko menyentuh cuping telinganya.
" Aku punya rencana, suatu saat aku akan hancurkan Hartono dan akan aku rampas semua harta bendanya. Tunggu saatnya itu tiba ".
Kembali Juragan Sentiko tertawa gelak –gelak.
" Badan ku capek istri –istri ku. Tolong Kuntini pijit kedua tangan ku dan bahuku. Dan kamu Nastiti tolong kau pijat kaki ku ! "
Dua istri Juragan Sentiko tanpa banyak cakap lalu melakukan apa yang telah diperintahkan oleh suaminya. Malam semakin larut. Tiga orang dalam kamar itu telah terkapar diserang kantuk.
Juragan Sentiko membuka matanya. Menggeliat beberapa kali kemudian duduk, disingkirkan tangan Kuntini dan Nastiti yang masih memeluk badannya. Sesaat ditengok jam dinding antik yang menempel di tembok kamar tepat pukul pukul 01.00 dini hari. Diucek - ucek matanya yang tiba –tiba pandangannya terasa kabur.
" Mengapa hawa malam ini tiba –tiba terasa panas? Gerah sekali, tidak biasanya hawa udara sepanas ini."
Juragan Sentiko mengelap peluh yang ada di leher dan dadanya. Perlahan orang tua itu turun dari ranjang. Sesaat dilirik ke dua istrinya yang masih tidur terlelap. Tangannya meraih gelas yang ada di atas meja. Setelah meneguk air putih dari dalam gelas dia cepat memakai sandal, mengencangkan ikatan kain sarung. Lalu keluar dari kamar menuju ke ruang tengah yang temaram karena hanya diterangi lampu lima watt warna merah yang menempel di langi-langit ruangan itu.
Juragan Sentiko menghempaskan tubuhnya di kursi panjang empuk yang diletakkan mepet tembok ruangan. Udara terasa sejuk diruangan itu. Sesaat Sentiko akan terlelap. Tiba –tiba matanya menangkap sekelebatan bayangan yang berjalan menuju ke belakang.
" Maling? "
Desis Jurgan Sentiko.
Berjingkat –jingkat orang tua itu meraih golok yang tergantung di tembok ruang tengah. Kemudian diloloskan dari sarungnya. Mata golok berkilat – kilat diterpa cahaya lampu temaram.
" Berani mengendap –endap dan mencuri di rumah ku. Terpaksa golok ini akan ku cuci dengan darah malam ini ".
Sentiko berbisik geram.
Juragan Sentiko berjalan perlahan penuh kewaspadaan mengikuti bayangan misterius itu. Sesampainya di dapur tidak ada siapa –siapa. Tidak ada bayangan yang nampak. Ruangan dapur sepi sunyi. Bahkan, seekor tikus pun tidak nampak. Sentiko mendengus kesal.
" Apakah tadi hanya bermimpi. Jelas sekali tadi ada bayangan orang? "
Juragan Sentiko bertanya –tanya dalam hati. Tetapi itu tidak lama. Lalu dengan gontai berjalan ke arah ruang tengah. Tetapi alangkah terkejutnya orang tua itu ketika melihat lima ekor ular sendok melata di lantai sudah meninggikan tubuh dan siap mematuk. Dengan sangat hati-hati agar gerakannya tidak menarik perhatian lima ekor ular, Sentiko merapat ke dinding di belakangnya sambil tangan kanannya mencengkeram erat hulu golok yang masih dipegangnya.
Tiba-tiba ular paling kanan bergerak maju. Empat kawannya mendesis dan ikut bergerak. Sentiko membabatkan golok ke arah lima ekor ular sendok yang akan menyerangnya. Empat ekor ular sendok surutkan kepala ke belakang. Yang satu seperti nekad meneruskan mematuk ke arah kaki juragan Sentiko. Ujung golok menderu menghajar tubuh ular. Tubuhnya langsung terpenggal menjadi dua bagian darah menyembur lalu jatuh di lantai. Sentiko kembali menebaskan goloknya. Dua ekor ular sendok jatuh berkaparan dalam keadaan terpotong.
Dua ekor ular yang masih hidup bersurut mundur, memendekkan badan masing-masing, kelihatannya hendak menyelinap lari. Sentiko tidak mau membiarkan binatang-binatang itu lolos. Sekali lagi golok tajam dikiblatkan. Dua ekor ular sendok bergelepakan di lantai. Mati.
" Pertanda apa ini? Ada lima ular sendok berkunjung ke rumah malam –malam ".
Tengkuknya tiba –tiba meremang. Matanya terbelalak. Bangkai lima ekor ular sendok raib dari lantai. Noda darah yang tadi dilihatnya menggenangi lantai juga lenyap, bersih tidak berbekas. Diangkatnya golok yang masih dipegang. Tidak ada noda darah di hulu golok itu. Bahkan, percikan darah sedikitpun tidak ada. Diam –diam hati Sentiko menciut juga. Hatinya menjadi tidak enak. Firasatnya mengatakan akan terjadi hal yang buruk pada dirinya.
Lamunannya buyar tatkala tangan halus dengan jemari yang lentik menyentuh punggung dan kemudian memeluk tubuh Sentiko dari belakang. Seorang perempuan muda berkulit hitam manis dengan tubuh sekal pada bagian dada dan bagian pinggul.
" Kau terbangun Nastiti? "
Juragan Sentiko berbalik badan ke arah istrinya yang tiba-tiba telah berada di belakangnya.
" Iya Mas Juragan ".
Nastiti menjawab dengan suara parau. Pandangan matanya sayu.
Dan yang membuat Sentiko serta merta melupakan hal ganjil yang baru saja terjadi adalah perempuan muda salah satu istrinya itu tampak tidak tertutup selembar benangpun!
" Ayolah Mas Juragan, kita bersenang –senang malam ini. Letakkan golok mu itu di lantai ".
Suara parau Nastiti terdengar manja.
Nafas Juragan Sentiko memburu. Entah bagaimana nafsunya langsung bergelora. Dilepaskan golok yang masih dipegang ke lantai. Perlahan di dekati tubuh Nastiti yang berdiri di hadapannya. Ketika sesaat lagi tubuhnya akan menempel pada tubuh telanjang itu tiba-tiba terdengar desisan keras. Di hadapan Sentiko muncul ular berwarna hijau sebesar pohon kelapa. Tidak ada waktu lagi untuk kaget atau menjerit. Secepat kilat ular besar itu mematuk leher Juragan Sentiko. Tubuh itu mengejang sebentar kemudian jatuh berlutut. Perlahan –lahan tumbang terkapar di lantai. Tidak bernafas lagi. Tubuhnya sontak membiru. Seperti terkena racun yang sangat kuat dan jahat.
Quote:
Jam antik yang menempel di dinding ruang tengah berdentang dua belas kali. Tepat tengah malam. Hawa malam itu panas dan gerah. Sasongko anak pertama Hartono gelisah dalam tidurnya. AC yang berada di kamar tak mampu mendinginkan panas udara malam itu. Piyama yang dikenakannya telah basah kuyup bermandikan peluh. Sasongko lalu terbangun dan duduk di tepi ranjang. Radio yang ada di meja tampak sudah mengeluarkan bunyi distorsi tanda sudah tidak ada siaran.
Diputarnya tuning gelombang radio untuk mencari stasiun masih siaran. Terdengar suara lagu dari stasiun radio RRI. Lagu dari Betaria Sonata yang berjudul Hati Yang Luka.
Lagu itu tiba –tiba menjadi lambat dan suaranya menjadi aneh lebih mirip rintihan dari alam kegelapan. Kemudian.....
Bzzzz .. Bzzzz .. Bzzzz
Radio tiba –tiba mengalami distorsi. Sasongko membalik radio lalu memeriksa kotak baterai. Menggoyang –goyangkan badan radio, lalu menepuk pelan radionya itu. Tetap saja bunyi distorsi yang keluar. Diletakannya radio itu di tempat semula. Sasongko kembali merebahkan tubuhnya di ranjang. Kemudian dia berbalik badan ke arah tembok. Terbelalak matanya tatkala di di tepi ranjangnya membelakangi sosok tubuh anak kecil perempuan berambut panjang.
" Witri...... "
Suara Sasongko bergetar bulu kuduk Sasongko meremang. Dia sangat mengenali perawakan adiknya itu. Tubuh kecil misterius itu berbalik badan. Seorang anak kecil perempuan berumur sekitar lima tahun. Wajahnya pucat putih dengan bibir membiru. Wajah menyeramkan itu sebagian tertutup rambut panjang tergerai ke depan, kelopak matanya menghitam menakutkan dan yang lebih menggidikkan leher anak itu patah. Sehingga kepalanya sedikit terkulai. Sasongko menjerit ketakutan.
Jam antik yang menempel di dinding ruang tengah berdentang dua belas kali. Sasongko terperanjat terbangun dari tidurnya dan duduk di tepi ranjang. Di raihnya gelas berisi air putih yang ada di meja samping ranjangnya.
" Ohhh..hanya mimpi...hanya mimpi... "
Sasongko berbicara sendiri berulang –ulang.
Radio yang ada di meja tampak sudah mengeluarkan bunyi distorsi tanda telah tidak ada siaran.
Bzzzz .. Bzzzz .. Bzzzz
Bzzzz .. Bzzzz .. Bzzzz
Sasongko bergidik lalu menoleh ke arah samping sisi tempat tidurnya. Tidak ada siapa –siapa. Dia menarik nafas lega. Ketika tiba –tiba terdengar ada langkah-langkah kaki setengah berlari menuruni tangga.
Sasongko keluar dari kamarnya.
" Bu..ibu..Pak..Bapak... "
Sepi tidak ada jawaban.
Suara langkah kaki itu terhenti. Sasongko bermaksud untuk masuk ke kamarnya lagi. Ketika tiba –tiba terdengar lagi suara langkah kaki menuruni tangga. Bulu kuduk nya meremang lagi. Saat itu lah matanya melihat sekelebatan anak kecil menuruni tangga dan berlari sambil tertawa–tawa ke arah rumah bagian belakang. Serta merta seperti ada suntikan nyali dan keberanian Sasongko mengejar bayangan itu. Bayangan itu lenyap tak berbekas di depan kamar kosong yang dipergunakan Hartono untuk melakukan ritual bersetubuh dengan Nyi Blorong.
" Sasongko Bapak ingatkan, jangan sekali –kali masuk ke ruangan ini. Ingat itu, apapun alasannya biarkan tetap terkunci dan tertutup ".
" Kamar itu isinya apa Pak? Mengapa Bapak melarang saya dan Ibu untuk mengetahui isi dari kamar itu?! "
Sasongko bersikeras meminta penjelasan pada Hartono.
" Jangan banyak tanya, kalau Bapak mu ini sudah bilang itu jangan bnayak tanya dan jangan banyak membantah. Turuti saja! "
Sasongko teringat saat Bapaknya mendamprat habis –habisan karena bertanya mengenai kamar kosong itu. Sasongko telah berada tepat di depan pintu kamar kosong itu. Telinganya mendengar dengus nafas memburu dan menggebu-gebu dari dalam kamar. Karena khawatir terjadi sesuatu pada ayahnya, Sasongko memutar handle pintu. Ternyata pintu itu tidak terkunci. Dibukanya pintu itu lebar –lebar. Betapa terkejutnya Sasongko melihat pemandangan tak lazim di dalam kamar. Sang ayah sedang bergumul dengan seekor ular sebesar pohon kelapa. Sasongko kaget sekali dan langsung berteriak histeris.
“ Tolooong... ada ular besar di kamar Bapak...”
Ular besar bermahkota itu mengangkat kepalanya.
" Kau telah menyalahi perjanjian kita Hartono. Nyawamu tebusannya ".
" Tapi Ratu........ "
Suaranya tercekat di tenggorokan.
Ular besar itu membelit tubuh Hartono. Terdengar bunyi kereketan suara tulang patah. Hartono menjerit sekejap. Matanya melotot dan lidah terjulur keluar. Sebentar kemudian tubuhnya jatuh melorot ke lantai dalam keadaan kaku membiru. Sementara ular besar penjelmaan Nyi Blorong itu dengan cepat menghilang saat melihat Sasongko masuk dan menjerit histeris.
Marni yang baru saja terlelap, tersentak bangun dan cepat-cepat keluar kamar. Dia berlari menuju suara jeritan anaknya. Sesampainya di belakang terlihat Sasongko terduduk pucat. Suaranya gagu dan tersendat- sendat sambil menunjuk-nunjuk ke arah kamar kosong yang terbuka pintunya. Marni terkesiap. Dilihatnya tubuh Hartono yang tak tertutup benang sehelaipun terkapar di lantai dengan tubuh membiru kaku. Hartono meninggal dunia secara mengenaskan.
Ketika itu beberapa tetangga yang juga mendengar teriakan Sasongko serta merta mendatangi rumah Hartono. Beberapa lelaki yang mendatangi rumah Hartono langsung mendobrak pintu depan.
“Ada apa, Marni? Kenapa Sasongko teriak-teriak? Apa yang terjadi?” tanya seorang warga.
Marni hanya bisa sesenggukan menangisi jasad suaminya yang sudah terbujur kaku. Sasongko terduduk. Wajahnya masih terlihat ketakutan dan tidak mampu berbicara apa –apa. Dari kabar yang beredar warga pun akhirnya mengetahui kalau Hartono telah bersekutu dengan siluman ular.
Matahari baru saja tenggelam. Sore hari yang beranjak gelap itu keadaan di pekuburan Jati ngaleh nampak diselimuti kesunyian padahal belum lama berselang rombongan pengantar jenazah yang berjumlah hampir seratus orang meninggalkan tempat itu. Di ujung kanan tanah pekuburan, dibawah sepokok batang Kemboja kecil tampak seongguk tanah makam yang masih merah ditaburi oleh bunga-bunga aneka warna. Di nisan kayu yang masih terlihat sangat baru terpampang nama “ HARTONO“ .
Dikejauhan terdengar suara kicau burung yang kembali ke sarangnya. Lalu sunyi lagi dan sore merambat ke malam semakin gelap. Pada saat itu lah terdengar ledakan keras. Tanah pekuburan berhamburan ke atas. Sosok mayat yang ada di dalamnya mencelat keluar jatuh terguling di atas tanah pekuburan. Perlahan –lahan tubuh mayat Hartono bergerak –gerak. Membuka mata yang mulai memerah kemudian dengan susah payah bangkit berdiri dan mulai berjalan. Langkah kaki kaku dan tertatih –tatih meninggalkan kuburan yang telah menganga kosong.
Diputarnya tuning gelombang radio untuk mencari stasiun masih siaran. Terdengar suara lagu dari stasiun radio RRI. Lagu dari Betaria Sonata yang berjudul Hati Yang Luka.
Berulang kali aku mencoba
s’lalu untuk mengalah
demi keutuhan kita berdua
walau kadang sakit
Lihatlah tanda merah di pipi
bekas gambar tanganmu
sering kau lakukan
bila kau marah menutupi salahmu
Samakah aku
bagai burung disana
yang dijual orang
hingga sesukamu
kau lakukan itu
kau sakiti aku
s’lalu untuk mengalah
demi keutuhan kita berdua
walau kadang sakit
Lihatlah tanda merah di pipi
bekas gambar tanganmu
sering kau lakukan
bila kau marah menutupi salahmu
Samakah aku
bagai burung disana
yang dijual orang
hingga sesukamu
kau lakukan itu
kau sakiti aku
Lagu itu tiba –tiba menjadi lambat dan suaranya menjadi aneh lebih mirip rintihan dari alam kegelapan. Kemudian.....
Bzzzz .. Bzzzz .. Bzzzz
Radio tiba –tiba mengalami distorsi. Sasongko membalik radio lalu memeriksa kotak baterai. Menggoyang –goyangkan badan radio, lalu menepuk pelan radionya itu. Tetap saja bunyi distorsi yang keluar. Diletakannya radio itu di tempat semula. Sasongko kembali merebahkan tubuhnya di ranjang. Kemudian dia berbalik badan ke arah tembok. Terbelalak matanya tatkala di di tepi ranjangnya membelakangi sosok tubuh anak kecil perempuan berambut panjang.
" Witri...... "
Suara Sasongko bergetar bulu kuduk Sasongko meremang. Dia sangat mengenali perawakan adiknya itu. Tubuh kecil misterius itu berbalik badan. Seorang anak kecil perempuan berumur sekitar lima tahun. Wajahnya pucat putih dengan bibir membiru. Wajah menyeramkan itu sebagian tertutup rambut panjang tergerai ke depan, kelopak matanya menghitam menakutkan dan yang lebih menggidikkan leher anak itu patah. Sehingga kepalanya sedikit terkulai. Sasongko menjerit ketakutan.
Jam antik yang menempel di dinding ruang tengah berdentang dua belas kali. Sasongko terperanjat terbangun dari tidurnya dan duduk di tepi ranjang. Di raihnya gelas berisi air putih yang ada di meja samping ranjangnya.
" Ohhh..hanya mimpi...hanya mimpi... "
Sasongko berbicara sendiri berulang –ulang.
Radio yang ada di meja tampak sudah mengeluarkan bunyi distorsi tanda telah tidak ada siaran.
Bzzzz .. Bzzzz .. Bzzzz
Bzzzz .. Bzzzz .. Bzzzz
Sasongko bergidik lalu menoleh ke arah samping sisi tempat tidurnya. Tidak ada siapa –siapa. Dia menarik nafas lega. Ketika tiba –tiba terdengar ada langkah-langkah kaki setengah berlari menuruni tangga.
Sasongko keluar dari kamarnya.
" Bu..ibu..Pak..Bapak... "
Sepi tidak ada jawaban.
Suara langkah kaki itu terhenti. Sasongko bermaksud untuk masuk ke kamarnya lagi. Ketika tiba –tiba terdengar lagi suara langkah kaki menuruni tangga. Bulu kuduk nya meremang lagi. Saat itu lah matanya melihat sekelebatan anak kecil menuruni tangga dan berlari sambil tertawa–tawa ke arah rumah bagian belakang. Serta merta seperti ada suntikan nyali dan keberanian Sasongko mengejar bayangan itu. Bayangan itu lenyap tak berbekas di depan kamar kosong yang dipergunakan Hartono untuk melakukan ritual bersetubuh dengan Nyi Blorong.
" Sasongko Bapak ingatkan, jangan sekali –kali masuk ke ruangan ini. Ingat itu, apapun alasannya biarkan tetap terkunci dan tertutup ".
" Kamar itu isinya apa Pak? Mengapa Bapak melarang saya dan Ibu untuk mengetahui isi dari kamar itu?! "
Sasongko bersikeras meminta penjelasan pada Hartono.
" Jangan banyak tanya, kalau Bapak mu ini sudah bilang itu jangan bnayak tanya dan jangan banyak membantah. Turuti saja! "
Sasongko teringat saat Bapaknya mendamprat habis –habisan karena bertanya mengenai kamar kosong itu. Sasongko telah berada tepat di depan pintu kamar kosong itu. Telinganya mendengar dengus nafas memburu dan menggebu-gebu dari dalam kamar. Karena khawatir terjadi sesuatu pada ayahnya, Sasongko memutar handle pintu. Ternyata pintu itu tidak terkunci. Dibukanya pintu itu lebar –lebar. Betapa terkejutnya Sasongko melihat pemandangan tak lazim di dalam kamar. Sang ayah sedang bergumul dengan seekor ular sebesar pohon kelapa. Sasongko kaget sekali dan langsung berteriak histeris.
“ Tolooong... ada ular besar di kamar Bapak...”
Ular besar bermahkota itu mengangkat kepalanya.
" Kau telah menyalahi perjanjian kita Hartono. Nyawamu tebusannya ".
" Tapi Ratu........ "
Suaranya tercekat di tenggorokan.
Ular besar itu membelit tubuh Hartono. Terdengar bunyi kereketan suara tulang patah. Hartono menjerit sekejap. Matanya melotot dan lidah terjulur keluar. Sebentar kemudian tubuhnya jatuh melorot ke lantai dalam keadaan kaku membiru. Sementara ular besar penjelmaan Nyi Blorong itu dengan cepat menghilang saat melihat Sasongko masuk dan menjerit histeris.
Marni yang baru saja terlelap, tersentak bangun dan cepat-cepat keluar kamar. Dia berlari menuju suara jeritan anaknya. Sesampainya di belakang terlihat Sasongko terduduk pucat. Suaranya gagu dan tersendat- sendat sambil menunjuk-nunjuk ke arah kamar kosong yang terbuka pintunya. Marni terkesiap. Dilihatnya tubuh Hartono yang tak tertutup benang sehelaipun terkapar di lantai dengan tubuh membiru kaku. Hartono meninggal dunia secara mengenaskan.
Ketika itu beberapa tetangga yang juga mendengar teriakan Sasongko serta merta mendatangi rumah Hartono. Beberapa lelaki yang mendatangi rumah Hartono langsung mendobrak pintu depan.
“Ada apa, Marni? Kenapa Sasongko teriak-teriak? Apa yang terjadi?” tanya seorang warga.
Marni hanya bisa sesenggukan menangisi jasad suaminya yang sudah terbujur kaku. Sasongko terduduk. Wajahnya masih terlihat ketakutan dan tidak mampu berbicara apa –apa. Dari kabar yang beredar warga pun akhirnya mengetahui kalau Hartono telah bersekutu dengan siluman ular.
Matahari baru saja tenggelam. Sore hari yang beranjak gelap itu keadaan di pekuburan Jati ngaleh nampak diselimuti kesunyian padahal belum lama berselang rombongan pengantar jenazah yang berjumlah hampir seratus orang meninggalkan tempat itu. Di ujung kanan tanah pekuburan, dibawah sepokok batang Kemboja kecil tampak seongguk tanah makam yang masih merah ditaburi oleh bunga-bunga aneka warna. Di nisan kayu yang masih terlihat sangat baru terpampang nama “ HARTONO“ .
Dikejauhan terdengar suara kicau burung yang kembali ke sarangnya. Lalu sunyi lagi dan sore merambat ke malam semakin gelap. Pada saat itu lah terdengar ledakan keras. Tanah pekuburan berhamburan ke atas. Sosok mayat yang ada di dalamnya mencelat keluar jatuh terguling di atas tanah pekuburan. Perlahan –lahan tubuh mayat Hartono bergerak –gerak. Membuka mata yang mulai memerah kemudian dengan susah payah bangkit berdiri dan mulai berjalan. Langkah kaki kaku dan tertatih –tatih meninggalkan kuburan yang telah menganga kosong.
SEKIAN
Diubah oleh breaking182 22-02-2019 22:04
mincli69 dan 4 lainnya memberi reputasi
5
Kutip
Balas