Aku terkejut karena mendengar suara Ratna menyuruh Popi memotong Cabe, dan aku baru ngeuh bahwa Popi tertidur disebelah kananku, dan sekaran aku sedang menghadap kearah kiri dan ada wanita yang sedang terbaring disebelahku. Dan aku juga baru ngeuh karena rambut wanita ini sangat panjang dan bukan rambut Popi.
Seperti biasa aku membuka mataku dengan cepat untuk melihat siapa yang sedang ada disebelahku ini. Aku menghitung dalam hati, dan pada hitungan ketiga aku membuka mataku dan mendapati seorang wanita cantik sedang berbaring menghadap kearahku sambil tersenyum.
Part 25
Aku memperhatikan wanita itu dengan teliti, dan ternyata wajahnya sangat mirip dengan wanita yang mewhatsappku kemarin. Aku merasa bingung dan penasaran sebenarnya siapa wanita ini, melihatku kebingungan wanita ini melebarkan senyumnya dan tak lama kemudian tertawa.
“Kamu kok wajahnya bingung gitu Ron?” ujar wanita itu.
Tak lama kemudian dia merubah posisinya menjadi duduk bersila, tangannya memegangi mata kaki dan dia masih terus tersenyum melihatku. Sedetik kemudian aku melihat Popi keluar dari arah Dapur membawa dua gelas Teh Panas dan menyuguhkannya didepan kami, satu hal yang menggangguku yaitu wajah Popi terlihat asam dan berlalu begitu saja tanpa berkata apapun.
“Popi, ini temen kamu bukan?” dengan polos aku bertanya kepada Popi sambil bangkit dari posisi tidurku.
Popi tidak memberikan jawaban dan masuk kembali kearah dapur, dan aku merasa tidak enak kepada Popi padahal aku tidak melakukan hal yang salah. Kutoleh kearah wanita tadi, dia masih duduk bersila dan menatapku dengan senyumannya, lesung pipinya terlihat jelas.
“Kamu siapa ya mbak?” tanyaku kepadanya.
Bukannya menjawab, wanita itu malah ikut-ikutan memasang wajah masam kepadaku. Kuingat-ingat aku seperti pernah mengalami sensasi ini ketika Sheril melihatku dengan Popi, ah kupikir aku tidak boleh GR dulu.
“Kau gak inget sama sekali sama aku? Jahat banget sih !” jawabnya kesal.
Aku mencoba mengingat-ngingat kembali apakah aku pernah bertemu dengannya atau tidak, namun tetap nihil. Aku tidak tau wanita ini siapa, namun tiba-tiba aku teringat perkataan Arif yang berkata bahwa Ayu meminta nomer HP-ku.
“hmmm apa mungkin dia ini Ayu? Tapi masa sih ah, Ayu kan gendut, ga putih pula. Tapi ini cewek udah putih bersih bening, cantik pula” gumamku dalam hati sambil menopang daguku.
“Aku Ayu Ron, masa kamu gak inget sama sekali !!”
Aku terhenyak mendengar perkataan wanita yang mengaku Ayu ini, karena Ayu yang kuingat bukanlah seperti ini. Kuperhatikan seksama seluruh tubuhnya dari ujung rambut hingga kaki, tidak ada hal yang menunjukan dia Ayu.
“Kamu Ayu? Kok beda banget sama yang aku inget, jangan-jangan Cuma ngaku-ngaku doang ah” jawabku tak yakin.
Wanita itu kembali tersenyum, dan tak lama dia mengangkat kaosnya sedikit dan memperlihatkan sesuatu yang ada dipinggangnya. Kuperhatikan ada sebuah tompel dengan ukuran besar dipinggang, dan setelah kuingat-ingat Ayu juga memiliki tanda tompel besar
dipinggangnya, aku melihatnya ketika kami sedang berenang bersama.
“Ayu ? Ya ampun kamu berubah banget sampe aku gak ngenalin kamu, kamu jadi cantik banget”
“TAK TAK TAK!!!!!” terdengar suara pisau besar beradu dengan talenan digetok dengan keras.
“Popi motong ayamnya diiris aja, gak usah dibanting atuh” terdengar suara Ratna.
Untuk beberapa detik aku dan ayu mengarahkan pandangan kami kearah dapur, dan tak lama kemudian Ayu tertawa kecil.
“Aku pulang dulu ya Ron, mau ambil barang buat ikutan camping bareng kamu, udah bilang sama Galih tadi aku”
Setelah berkata demikian dia langsung berdiri dan berlalu begitu saja, akupun beranjak dan mengikutinya keluar. Diteras aku melihat Ayu yang berjalan keluar menuju gerbang, disana ada sebuah mobil sedan dengan gaya atap terbuka.
Ada pemandangan yang tidak biasa menurutku, karena dikursi belakang sedan tersebut aku melihat dua orang laki-laki berwajah pucat dan salah satunya terlihat seperti bule. Mereka menatapku dengan tatapan kosongnya, dan ada hal yang membuatku terkejut saat melihat mereka lebih teliti, dileher mereka seperti ada luka tusukan dan sayatan.
Tak lama kemudian Ayu pergi dengan mobil sedannya, aku terdiam. Aku terdiam karena penasaran kenapa ada dua sosok yang mengikuti Ayu, dan dengan kondisi mereka aku mulai memikirkan hal-hal aneh.
“Ehem-ehem yang udah ditemuin pacarnya, seneng nih kayaknya”
Aku menoleh kearah suara, rupanya Popi dan wajahnya masih terlihat masam.
“Pacar? Kata siapa Pop? Aku mah gak punya pacar”
“Lah itu tadi terus siapa, dia ngakunya pacar kamu pas dia dateng”
“Dia itu Ayu temen aku pas kecil, dan dia bukan pacar aku, satu-satunya pacar yang aku punya Cuma Linda. Kamu tau kan Pop? Kata Ratna kamu satu SMA sama aku kan?”
“Oh Linda ya, iya aku tau kamu dulu pacaran sama Linda Ron, aku juga tau Linda meninggal, ya udah maafin aku udah nyangka yang enggak-enggak”
“Oh iya Pop, katanya kamu satu SMA sama aku, kok aku gak pernah tau kamu ya? Emang kamu dulu kaya apa sih Pop?”
Bukannya menjawab pertanyaanku, Popi malah berlalu begitu saja masuk kembali kedalam rumah meninggalkanku dengan pertanyaan yang tidak terjawab. Tak lama kemudian Ratna keluar dari rumah dengan HP ditangannya.
“Ron, kata Galih berangkatnya agak telatan soalnya mobil yang kemarin udah deal nganter kita malah ada urusan mendadak. Sekarang dia lagi
nyari lagi mobil lain katanya !” ujar Ratna.
“Oh iya Na gak papa, BTW yang lain pada kemana ? kok Cuma ada kamu sama Popi, Ipin sama Yana kemana?”
“Yana sama Ipin ikut sama Galih, tau dah tuh anak berdua suka ngintilin mulu. Cewek tadi pacar kamu bukan Ron?”
“Bukan Na, dia temen aku pas kecil. Kenapa gitu?”
“Ya tadi pagi banget dia tiba-tiba dateng terus ngomong sama Galih, kayanya Galih juga kenal dia. Dan pas masuk kedalem ke aku dia ngakunya pacar kamu. Aku lumayan kaget sih, tapi didalem ada yang lebih kaget tuh” ujarnya lalu tertawa kecil.
Setelah mengobrol ringan dengan Ratna, aku memutuskan untuk segera mandi karena ternyata barang persiapan untuk kemah sudah disiapkan oleh Galih dan yang lain, karena tadi aku melihat tas untuk camping dsb ada diteras depan.
Saat aku hendak kekamar mandi yang terletak dekat dapur, aku melihat Popi sedang memasak daging ayam. Wajahnya focus memasak, dan dia terlihat sangat lihai dalam memasak terlihat dari gerakan tangannya yang cepat dan aroma masakan yang membuat lapar.
Dia menyadari keberadaanku yang berjalan kearah kamar Mandi, namun hanya matanya saja yang mendelik. Aku dengan segera masuk kekamar mandi, setelah beres mandi dan berpakaian aku segera duduk diteras depan menunggu Galih dkk sambil sarapan.
“Triiing”
Hp ku berbunyi, setelah kucek ternyata whatsapp dari Arif.
Quote:
Ron, gimana kabar mata Batin lu? Udah terbiasa kan sekarang mah?
Quote:
Emang lu ya Rif, bukannya nanya kabar gue malah nanya mata batin ,, parah bener dah. Gue udah mulai terbiasa, tapi rasanya penampakan yang gue liat gak seintens dulu
Quote:
Maksudnya gak intens gimana?
Quote:
Gue jadi jarang lihat gitu Rif,sekalinya ngeliat dari jauh. Terus mereka kaya gak suka gitu ke gue
Quote:
Kok lu bilang gitu? Bisa nyimpulin mereka gak suka ke elu
Quote:
Ya soalnya pas ngeliat gue kayak wajah cewek yang kesel cowoknya gak peka gitu, sama ada yang kaya takut juga pas ngeliat
gue
Arif hanya meread saja pesanku, ada mungkin sekitar 5 menit kemudian dia baru membalas.
Quote:
Lu punya barang mistis gak?maksudnya kaya berbentuk benda gitu? Biasanya makhluk yang lemah suka ngerasa takut sama benda-benda kek pusaka gitu?
Quote:
Pusaka? Kemarin sih gue nemu buntelan aneh Rif, gue bawa tuh buntelan tapi sekarang gak tau tiba-tiba ilang
Kali ini Arif benar-benar hanya meread pesanku tanpa membalasnya, aku menjadi terpikir apakah buntelan itu memiliki energy ghaib yang kuat? Sampai-sampai penghuni Rumah pun seperti Yuli dkk menjaga jarak dariku.
“Tiiin Tiiiin !!!”
Aku mendengar suara klakson mobil, dan saat kulihat kearah sumber suaranya rupanya sebuah mobil pick-up dan Galih dkk berada dibak belakang mobil itu, mereka segera bergegas turun dan mengambil peralatan kemudian mengangkutnya kemobil.
“Ron bantuin napa malah liatin doang!” ujar Galih ketus.
“Eh maaf Lih gue malah keenakan ngeliatin elu, ahaha”
“Eh bilangin juga ke cewek-cewek suruh siap-siap, soalnya mereka suka lama”
“Ok dah Lih gue masuk dulu bentar”
Akupun masuk kedalam rumah memberi tahu Ratna dan Popi, lalu akupun melanjutkan mengangkut barang kemobil pick up. Setelah barang sudah naik ke mobil, tak lama para wanita pun sudah siap dan menghampiri kami.
“Tumben nih cewek-cewek dandannya cepet, biasanya la….maaaaa..eh ampun mah sakit” ujar Galih sambil meringis.
“Papah bilang apa barusan? Kan kalo dandan lama cantiknya juga buat Papah bukan buat yang lain”
Sepertinya aku dan yang lain mulai terbiasa melihat tingkah Galih dan Ratna, kami hanya tersenyum kecil melihat mereka.
“Pah kok mobilnya pick Up? Katanya mau pake Teri*s punya temennya?” Tanya Ratna.
“Kan tadi Aku bilang ada urusan mendadak dia, adanya ini yang nganggur. Gak apa-apa lah biar kaya anak sekolahan” jawab galih dengan senyum kecil.
“Terus para cewek nanti dimana Lih?” tanyaku.
“Ya para cewek nanti didepan, kalo si Popi dibelakang gue jadi khawatir ke elu Ron” jawab galih dengan nada meledek.
Setelah mengobrol cukup lama kami akhirnya berangkat, tak lupa kami memastikan motor sudah berada didalam rumah dan pintu sudah terkunci dengan baik. Menurut Galih akan memerlukan waktu sekitar 3 jam untuk bisa sampai ke lokasi yang akan kami gunakan untuk berkemah nanti.
Kulihat jam menunjukkan pukul 9 pagi, berarti kami akan tiba disana sekitar jam 12 itupun jika perjalanan lancer. Aku,Ipin dan Yana duduk di bak mobil sambil memastikan barang bawaan kami tidak jatuh, diperjalanan aku merasa kepikiran tentang Ipin dan Eko yang meninggal.
“Yan, lu deket sama rumahnya Upin kan? Tanyaku.
“Iya bang kenapa?”
“Lu tau gak kenapa Upin bisa sampe bunuh diri, barangkali lu tau gelagatnya gimana pas sebelum meninggal”
“Gimana ceritanya ya bang, setahu saya sama warga lain dan keluarganya. Upin suka kaya orang parno gitu bang. Suka ngomong sendiri sama teriak-teriak PERGI PERGI gitu bang”
“Ngomong sama teriak-teriak sendiri?” tanyaku.
“Iya bang, kadang dia suka nangis sama kayak ketakutan gitu. Keluarganya pernah nyoba manggil orang pinter buat ngobatin, tapi katanya orang pinternya gak sanggup ngobatin dan bilang katanya itu disebabin karena ulah Upinnya bang”
Aku terdiam sejenak, teringat kejadian ketika aku sedang berkemah dekat air terjun dulu. Seingatku kami sudah mengembalikan emas talak balak milik mbah omah yang dicuri Eko dan Upin. Lalu kenapa Upin seperti dihantui?
“Triing!” Hp ku berbunyi, ternyata whatsapp dari Ayu.
Quote:
Kalian ninggalin aku, kan aku udah bilang tadi sama Galih nunggu aku

Aku tidak langsung membalasnya dan bertanya kepada Galih terlebih dahulu, aku berdiri dibak dan mendekati Galih yang sedang menyetir. Aku berkata sediikit berteriak karena suara angina menggebu disebabkan Galih yang menyetir cukup kencang.
“Lih napa lu tinggalin Ayu? Emang Lu ngajak gak tadi?”
“Gue kagak ngajak, dianya yang maksa ikut. Udah gue larang tadi, tapi dianya maksa”
Mendengar jawaban Galih demikian, aku kembali duduk dan membalas pesan yang dikirim oleh Ayu.
Quote:
Maaf Yu, tapi kata Galih kamu gak boleh ikut
Quote:
Ayu hanya membalas dengan emoji marah.
Setelah dirasa cukup aku memasukan Hp kedalam saku celanaku dan mulai memandangi jalan dengan badan menghadap ke arah belakang. Dijalan aku melihat beberapa penampakan, yang paling mendominasi adalah neng kunkun.
Penampakan lainnya adalah korban kecelakaan yang anggota badannya tidak lengkap, dan aku juga melihat ada gerombolan orang yang seperti sedang menunggu angkutan, tapi mereka bukanlah manusia karena wajah mereka semua pucar dan darah bersimbah di baju mereka.
Ada satu penampakan yang menarik perhatianku, yaitu penampakan sosok Gadis bergaun kuning kusam yang semalam mengganggu Popi. Sosok itu berdiri dipinggir jalan, dan ketika jalan berbelok dia hilang dari pandangan mata, sosok itu kembali muncul disisi jalan yang lain dan kejadian itu terus berulang-ulang mungkin sekitar 6 kali.
Dan ketika mobil berbelok lagi, aku tidak mendapati penampakan sosok itu lagi. Aku berpikir mungkin sosok itu sudah bosan mengikuti kami, aku terpikir untuk mengajak Ipin dan Yana mengobrol. Dan saat aku membalikan badanku kearah depan aku mendapati sosok wanita bergaun kuning kusam sedang berdiri tepat dihadapanku.
BERSAMBUNG