Kaskus

Story

bakamonotongAvatar border
TS
bakamonotong
MEREKA YANG HIDUP DALAM GELAP
MEREKA YANG HIDUP DALAM GELAP

Halo sahabat penikmat kaskus, setelah membaca beberapa trit horor kaskus yang menarik, dan tentang indigo, saya berencana untuk sharing apa yang saya alami hingga saat ini, sebuha pengalaman seorang penulis, semoga kalian bisa menikmati segala tulisan yang saya tuangkan dalam trit horror ini, semoga menemani malam2 kelam kalian, jangan lupa sekililing kalian selalu ada MEREKA YANG HIDUP DALAM GELAP
----
Sebuah kisah tentang bagaimana seorang anak bernama ARDA yang menjadi seorang "indigo", kisah penuh drama, cinta, dan 90% horor, dan bagaimana seorang anak biasa, "bersahabat" dengan MEREKA YANG HIDUP DALAM GELAP

Kisah yang dituliskan adalah kisah yang dialami oleh beberapa orang, mulai dari penulis, dan teman- teman nya, merupakan suatu kejadian nyata yang dialami, namun mungkin akan dibumbui dengan kesyahduan bumbu bumbu penulisan cerita yang sedikit hiperbola

Let's Just Enjoy The Story ( jangan lupa di subscribe dan kasih like, cendol, asal jangan bata merah )

Cerita akan di update paling lambat 2 hari sekali, dan jam update nya pagi berhubung ane pagi kerja sekalian untuk update awal jam kantor hehe

jangan lupa follow Instagram : @bakemonotong
twitter : @ardahakimotong

Quote:



Quote:


Quote:


Quote:
Diubah oleh bakamonotong 22-06-2018 09:51
mmuji1575Avatar border
G.FaustAvatar border
kemintil98Avatar border
kemintil98 dan 7 lainnya memberi reputasi
8
53.3K
135
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.7KThread52.6KAnggota
Tampilkan semua post
bakamonotongAvatar border
TS
bakamonotong
#4
PART II – Jurit Malam (2)

“da, ayo ndang tangi, kancamu wes do siap, tangi woi le”(da, bangun woi, temen2 mu uda siap semua tu, ayo bangun nak), ucap guruku, pak untung, aku terbangun dan berjalan lunglai mengikuti beliau dan menuju teman2 ku, dan aku lihat mereka semua siap memgang lilin sebatang yang belum dinyalakan, aku melihat 12 anak cowok dan 13 anak perempuan, ya total murid sekolah kami 25, namun itu termasuk aku, lalu siapa yang disana satu orang, aku mengucek mata lagi dan kuhitung hingga jumlahnya menjadi 11, aku pikir tadi aku salah hitung.
“Bajigur I, turu mu ngorok, suwe tenan we da” ( bangke da, tidurmu lama amat)- kata dendy, “iyo ki cuk raiso turu mergo Arda” (iya nih, gak bisa tidur karena arda). Aku cuma bisa diam dan senyum2 saja, haaa, dasar sial, aku memang gendut tapi tak sadar aku selalu mengorok saat tidur. “Ayo meneng kabeh” (Ayo diam semua) kata pak untung sedikit keras, kami dikumpulkan di dekat masjid SD, dan aku hanya mendengarkan guru berkata “silahkan berpasang2an cowok dnegan cowok, cewek sama cewek, buat yang cewek satu kelompok ber 3 gak apa2”, dan aku berpasangan sama Beni. Rute nya adalah sekolah- jalan ke arah kuburan daerah balong, perjalanan sekitar 30 menit, melewati jalan kampung yang penerangan sangatlah minim, berbekal lilin sebatang, membuat kami harus berhati2, perjalanan dibagi per grup dimulai jam 11 malam, dengan selah 3 menit perorang.

Aku adalah rombongan terakhir kelompok cowok, sedangkan cewek lebih awaldari kami, hingga akhirnya aku harus berjalan bersama Beni, dingin membuat kami yang bercelana selutut menggunakan sarung untuk menutupi badan kami, mirip seperti orang2 beronda, sambil memegang lilin masing2, kami berjalan hingga mencapai pos 1, sebelum kuburan, disebuah kebun salak gelap, yang jalan sempit dan kami harus berhati- ahti melangkah. Saat itu Pak Novi yang menjaga, pos 1 ini menyuruh kami untuk menghafal doa2 yang diajarkan saat sekolah dan pelajaran agama, saat kami membaca doa2 tadi, sekelebat aku melihat makhluk besar di kebun salak, dia memandang kami dengan tatapan benci, seperti mengusir, matanya melotot besar berwarna merah kehitam2an, makhluk ini berjongkok dan tangannya panjang menjalar disekitarnya, membuat ku ketakutan, tapi tak bisa berhenti melihat makhluk tadi, hingga akhirnya aku berjalan pergi, makhluk tadi masih terdiam, kemudian merangkak pergi makin dalam ke lingkungan kebun tadi.

Aku berjalan menuju daerah yang makin gelap menuju arah kuburan, disana gelap benar2 tanpa penerangan kecuali 2 buah lilin yang kami bawa, aku dan beni hanya bisa berjalan pelan, hingga sampai disebuah pohon nangka besar yang dimana aku mencium bau kentang rebus atau ubi rebus, khas yang membuat aroma ini bukan enak, namun merinding, bergidik ngeri, hingga mataku tertarik pada satu titik sekitar pohon nangka tadi, aku melihat, makhluk besar, tinggi, berwujud raksasa, kepalanya menatap kebawah seperti menilai kami, melihat2 saja, lidahny menjulur sedada, dan sedikit bercabang di ujung, taring bawahnya naik keatas menjulang dan berambut panjang hingga tanah, tak perlu ku deskripsikan lebih, aku hanya bergidik merinding melihatnya, hingga dia menggoyang2kan pohon, membuat Beni yang tidak melihatnya menjadi kaget dan berlari cepat hingga lilinnya mati dan meninggalkan aku yang tak mampu mengejarnya, “cukup! Aku tidak mau lagi”, teriak ku dalam hati, namun apa, semakin banyak yang muncul dan tertarik pada ku, mereka bermunculan, satu demi satu, hingga beberapa yang aku sadari pernah kulihat, anak kecil kali boyong tertawa2 melihatku, si kunti yang melayang2 diatasku , dan beberapa sugus (pocong) yang tinggi2, mengganggu ku, seakan menertawakan aku, aku merasa tersesat hilang, aku sendirian, “ASU BEN”(anj**ng Ben) umpatku dalam hati, aku Cuma bisa berlari cepat mencoba menerobos mereka tapi nihil, bergerak selangkah pun tidak, hingga aku lemas dan pak Novi dating dari pos 1, seakan kedatangannya membuat mereka menghilang serta merta, aku yang hanya diam dan menangis tersedu- sedu akhirnya ditemani bersama pak novi menuju pos terakhir, pos kuburan yang membuat aku makin merinding untuk membayangkannya, ditambah dengan pak novi berkata "Ayo, semangat, lanju, uda mau deket kuburannya".
Diubah oleh bakamonotong 23-02-2018 17:21
mmuji1575
johny251976
regmekujo
regmekujo dan 4 lainnya memberi reputasi
5
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.