Kaskus

Story

palinglembutAvatar border
TS
palinglembut
Where the fvck are you?
Where the fvck are you?

Spoiler for summary:





Diubah oleh palinglembut 14-03-2018 02:29
anasabilaAvatar border
anasabila memberi reputasi
1
7K
55
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread52.8KAnggota
Tampilkan semua post
palinglembutAvatar border
TS
palinglembut
#29
6


Met, bantu gue melupakan elo. Otak gue sekarang udah jadi gila, Met. kayak, tahu-tahu bikin memori baru dimana lo ninggalin gue waktu masih sekolah, padahal kita putus pas kita lulus.

Gue mau nikah, Met. Kasih tahu gue caranya buat quit lo. Gue udah coba semua cara yang gue tahu, tapi ujung-ujungnya gue kejebak didalam masa dimana gue SMP, gue macarin lo, gue milik lo, tiap kali gue mimpi.

Pas bangun dari mimpi sialan itu, gue sedih. Karena gue udah punya cowok yang jauh―jauh lebih baik daripada lo, yang jauh lebih cinta daripada lo, yang terima semua-semuanya bagian gue daripada lo.

Gue sedih karena, sebagai ceweknya, dan sekalipun hubungan gue dan dia berjalan dengan baik. Disetiap mimpi, setiap malamnya gue ketemu elo.

Please, Met. bantu gue lupain lo. karena penyakit ini nggak sehat, met.

Udah berapa tahun gue begini terus, sedikit-sedikit kesebut nama lo tiap kali gue menghela napas tanpa sengaja? gue cuma mau mencintai orang dengan sepenuh hati, Met. bukannya malah setengah-setengah begini.

Kalau lo tahu caranya, please bantu gue melupakan elo. Selama-lamanya.


Gue menyelipkan diri ke toilet, memilih bilik paling ujung dekat tembok, menutup pintu dan menguncinya, kemudian menutup tutup toilet dan duduk diatasnya. Jemari tangan gue membeku, dosis kerisauan menjalar ke setiap penjuru nadi―belum apa-apa rasanya seperti lupa bernapas, jadi harus dengan cara manual―gue menarik napas, lalu mengeluarkannya dengan kebingungan.

Gue pikir yang merasakan semua kekalutan itu cuma gue sendirian. dan ternyata dia juga.

Dan lucunya, lebih parahnya lagi, gue merasa bahwa kalau memang cinta sejati itu nyata―mungkin saja cintanya gue dan Mia termasuk diantaranya.

Tapi, seegois apa gue sampai-sampai menginginkan Mia untuk melepaskan dirinya dari lelaki yang berada disampingnya sekarang?

Sejahat apa gue sehingga ingin berdoa, ‘Tuhan, sampaikan ke dia bahwa saya merasakan hal yang sama juga. Bahwa tak sekalipun dia lepas dari pikiran saya, Tuhan’?

Sesadis apa gue bahwsanya ada cewek, mantan pula, memohon-mohon diberikan cara untuk melupakan gue―dan gue nggak memberikan arah yang jelas kepada seseorang yang jelas-jelas sudah bertanya ke gue?

Sekalipun sedari dulunya gue ingin dimungkinkan, untuk bersatu lagi dengan dia.

Meskipun sudah beratus-ratusan surat cinta yang gue tulis tanpa sengaja, selalu menginginkan hal yang dulu terjadi untuk terulang lagi buat yang terakhir kali?

Gue.
Ingin.
Dia.


Tapi justru sebaliknya, dia ingin melupakan gue.

Dan sekarang otak gue menggerayangi tubuh remajanya Mia, bibir gue teringat lagi bentuk sudut bibirnya yang terangkat keatas disaat gue kecup dengan manja. Semua perasaan yang melanda karena pesan-pesan LINE, membuat gue menangis tanpa suara.

Tapi gue mengendalikan diri. Gue menghapus sebutir air mata dengan ujung kerah baju, lalu berdiri dengan tegak didepan toilet.

Gue menarik napas panjang, dan menghelanya dengan berat.

Bibir gue tersenyum, lalu dengan punggung tegap dan kepala yang menunduk menatap keyboard di handphone, siap menulis apapun yang gue ketik―gue berjanji kepada diri gue untuk satu hal―bahwa sekarang ini gue akan menuliskan surat cinta terakhir teruntuk seorang perempuan yang selalu memiliki tempat di setiap penjuru nadi gue.

*
0
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.