- Beranda
- Stories from the Heart
Teror Hantu Kos Baru Pejaten (berdasar pengalaman nyata)
...
TS
pakdhegober
Teror Hantu Kos Baru Pejaten (berdasar pengalaman nyata)
Assalamualaikum, semoga agan dan aganwati semua sehat, punya pacar dan enggak kehabisan uang.
Agan pernah, diganggu jin atau sejenis makhluk astral lainnya. Kalau belum, Alhamdulillah. Bagi yang udah pernah, agan berarti nggak sendirian. Karena Ane kali ini mau berbagi cerita tentang pengalaman 7 tahun lalu di sebuah rumah kos di Pejaten, Jakarta Selatan. Sekadar overview, ane sudah lama mau nulis cerita ini, tapi banyak pertimbangan. Yang paling berat karena kos-kosan ini masih ada sampe sekarang. Setahu ane juga rame terus. Semoga kondisinya sudah lebih baik sekarang. Karena itu sebelum membaca ada beberapa rules ya, mohon dimaklumi.
1. Ini beneran cerita nyata gan? Iye ada benernye, tapi ane menulis cerita ini dengan metodologi prosa modern, ambil gampangnya novel. Jadi ane perlu nambahin bumbu buat dramatisasi. Kalau terpaksa dibikin komposisi, kira-kira 50:50 gan.
2. Kos gue juga Pejaten gan! Ini Pejaten sebelah mananya? Udeh ye nikmatin aje, jangan ganggu lapak rejeki orang. Jangan-jangan kos ente yang ane maksud lagi, berabe kan?
3. Gan bagusnya ada foto kali, supaya lebih kentara aslinya, bisa difoto gan? Yah entar ane usahain dah, pura2 nanya kamar kosong, tapi ane bakal ambil foto yang anglenya kelihatan susah ditebak ya. Lagi-lagi ini properti orang gan, mereka punya hak. Tapi entar insya allah ane usahain.
4. Kayanya ane ngerti deh tempatnya di mana, yang di jalan ini kan, sebelah ini kan? Udeh kalo ngerti simpen aja dalem hati.
5. Apdetnya kapan gan? Insya allah paling enggak seminggu sekali, antara malem jumat sampe malem minggu. kalo ada waktu banyak bisa dua kali.
6. Gan, kalo penampakan yang ini asli? suara yang itu juga asli apa rekayasa? Ya udah sih baca aja, ini bukan tayangan fact or fiction.
Nah, gitu aja sih rulesnya. semoga cerita ini menghibur dan bermanfaat. kalau ada kesamaan nama, mohon maaf ya. Buat penghuni kos yang kebetulan baca (soalnya kamarnya banyak banget gan sekarang) semoga gak sadar. Kalopun sadar, ane doain sekarang kondisinya udah nyaman sekarang.
Selamat membaca.
Last Update 13/3/2019
Bersambung....
Agan pernah, diganggu jin atau sejenis makhluk astral lainnya. Kalau belum, Alhamdulillah. Bagi yang udah pernah, agan berarti nggak sendirian. Karena Ane kali ini mau berbagi cerita tentang pengalaman 7 tahun lalu di sebuah rumah kos di Pejaten, Jakarta Selatan. Sekadar overview, ane sudah lama mau nulis cerita ini, tapi banyak pertimbangan. Yang paling berat karena kos-kosan ini masih ada sampe sekarang. Setahu ane juga rame terus. Semoga kondisinya sudah lebih baik sekarang. Karena itu sebelum membaca ada beberapa rules ya, mohon dimaklumi.
1. Ini beneran cerita nyata gan? Iye ada benernye, tapi ane menulis cerita ini dengan metodologi prosa modern, ambil gampangnya novel. Jadi ane perlu nambahin bumbu buat dramatisasi. Kalau terpaksa dibikin komposisi, kira-kira 50:50 gan.
2. Kos gue juga Pejaten gan! Ini Pejaten sebelah mananya? Udeh ye nikmatin aje, jangan ganggu lapak rejeki orang. Jangan-jangan kos ente yang ane maksud lagi, berabe kan?
3. Gan bagusnya ada foto kali, supaya lebih kentara aslinya, bisa difoto gan? Yah entar ane usahain dah, pura2 nanya kamar kosong, tapi ane bakal ambil foto yang anglenya kelihatan susah ditebak ya. Lagi-lagi ini properti orang gan, mereka punya hak. Tapi entar insya allah ane usahain.
4. Kayanya ane ngerti deh tempatnya di mana, yang di jalan ini kan, sebelah ini kan? Udeh kalo ngerti simpen aja dalem hati.
5. Apdetnya kapan gan? Insya allah paling enggak seminggu sekali, antara malem jumat sampe malem minggu. kalo ada waktu banyak bisa dua kali.
6. Gan, kalo penampakan yang ini asli? suara yang itu juga asli apa rekayasa? Ya udah sih baca aja, ini bukan tayangan fact or fiction.
Nah, gitu aja sih rulesnya. semoga cerita ini menghibur dan bermanfaat. kalau ada kesamaan nama, mohon maaf ya. Buat penghuni kos yang kebetulan baca (soalnya kamarnya banyak banget gan sekarang) semoga gak sadar. Kalopun sadar, ane doain sekarang kondisinya udah nyaman sekarang.
Selamat membaca.
Spoiler for Prolog:
Quote:
Last Update 13/3/2019
Bersambung....
Polling
Poll ini sudah ditutup. - 112 suara
Part bagusnya pake foto ilustrasi apa nggak?
Pake, biar makin ngefeel
42%
nggak usah, ane penakut
11%
terserah TS, yang penting gak kentang
47%
Diubah oleh pakdhegober 14-05-2022 11:55
bebyzha dan 141 lainnya memberi reputasi
128
1.2M
3.4K
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
pakdhegober
#1550
Part 43: Desir
Tak bisa dipercaya, akhir-akhirnya hatiku mantap untuk menuruti anjuran si penulis tak berbentuk. Tadi ia sempat kembali dan menulis lagi,
“Lawanlah setiap perbuatan syirik. Bila Pak Wi datang untuk menaruh persembahan, segera singkirkan benda-benda itu. Demikianlah jin maupun setan mengunci hati manusia.”
“Namun untuk mengelabui si tua bangka, lakukanlah dengan cerdik. Kamu akan mengganti sesajiannya dengan benda-benda pengganti yang tampak serupa. Sesungguhnya setiap sesaji melekat bersama niat dan keyakinan manusianya. Kamu semata-mata melakukan itu supaya Pak Wi tidak curiga. Mintalah perlindungan dan ampunan pada Allah agar tercegah dari dosa syirik.”
Bukan itu saja, jin intelijen memberitahu sejumlah rahasia kehidupan Mbak Fani sejak masa kecilnya.
***
Mula-mula sekali yang kulakukan ialah menduplikasi kunci kamar pojok atas. Hitung-hitung Pak Wi masih di luar, aku segera mencari tukang kunci di pusat Pasar Minggu. Selusin kunci kutemukan di atas meja dekat TV. Sepi lagi keadaan di bawah. Ruangan Mbak Fani tertutup rapat. Namun tak ada gunanya buang-buang waktu demi mencocokkan kunci. Untuk itu, kepada ahli kunci aku mengatakan, “Duplikat semuanya, Bang!”
Tukang kunci tersenyum girang bukan kepalang melihat rezeki datang tepat pada alamatnya. Setelahnya aku merasa bodoh, sebab mencocokkan kunci dengan sarangnya tentu lebih irit waktu ketimbang mencetak tiruannya.
Di seberang lapak kunci berdiri sebuah toko mainan. Ada yang membisiki diriku untuk membeli sesuatu dari toko itu. Untuk Sybillia. Tapi apa yang dia suka atau yang bisa dimainkan? aku menerka.
Sebelum mendapat jawabannya aku sudah berada di dalam toko tersebut. Helikopter, robot-robotan, boneka barbie, halah! Malah membuat bingung. Anak perempuan biasanya suka dibelikan boneka barbie. Tapi bagiku mainan itu hanya akan mendoktrin anak-anak tentang standar kecantikan.
Akhirnya aku membeli satu set lego. Alasannya ayahku dulu rajin menghadiahkan lego untuk semua anaknya, baik laki atau perempuan. Entah hadiah untuk Sybillia berguna atau tidak.
Cukup waktu demi menunggu kunci selesai jadi. Di bawah swastamita aku menyalakan mesin motor lalu pulang dengan diburu-buru kekhawatiran. Di balik pagar kos tak sengaja aku bertemu Mbak Fani. Setelannya boyish, dominan hitam dengan syal kotak-kotak serta jaket dan boots kebanggaannya. Kami memarkir sepeda motor dalam waktu nyaris bersamaan. Wanita itu tampak terkejut mendapati aku sudah berada di sisinya lagi.
“Dari mana kamu?” Dia memulai.
Selusin kunci di kantong jaket kujaga baik-baik agar tidak berkerincing.
“Ini, Mbak,” kusodorkan sekotak bersampul kado.
“Lho, ini apa?” terheran-heran raut mukanya.
“Sybillia kan ulang tahun, terlambat sih kasihnya.”
“Ya ampun, diseriusin ya sama dia,” berkembanglah bibir delima itu hingga sampai sudutnya. Barang sejenak dipandangi kotak tersebut dengan mata binar. "Aku buka langsung, ya, boleh kan?”
Aku sama sekali tidak keberatan. Umpamanya bisa mengintip lubuk hatiku, dia akan tahu betapa bergembiranya diri ini melebihi perasaannya sendiri.
“Sorry banget ya, belum bisa kadoin mamanya,” ujarku dibuat-buat memelas. Tapi ia tak menggubris. Sial.
“Owwww...lego nih nak,” suaranya meninggi seraya menunjukkan pemberianku pada Sybillia. Anak itu berdiri dengan melendot pada kaki induknya, dan tiba-tiba kesenangan memancar dari bola matanya yang jernih.
“Sybillia paling suka warna-warni. Benda apa saja asalkan banyak warna, pasti dia girang.”
Syukurlah kalau aku tidak keliru, kataku dalam hati. Mbak Fani kemudian mengucap terima kasih dan aku membalasnya dengan lebih senang lagi.
“Tumben ya sepi,” aku mengalihkan pembicaraan. Hanya dua sepeda motor meski langit sudah mulai gelap.
“Kan masih mid test, Vin. Kalau Ron sama Lis memang biasa pulang malam.”
“Iya ya. Pantes dari pagi tadi kita aja berdua.”
“Bertiga. Terus kalau berdua kenapa? Enggak suka?”
Sybillia berisyarat minta digendong sehingga aku tidak perlu menjawab pertanyaan yang terakhir. Namun Mbak Fani malah menawarkanku.
“Sama om Alvin ya, nak.”
“Oke deh, Ma,” sahutku menirukan suara bocah.
Untuk kedua kalinya aku menggendong Sybillia. Tampaknya anak ini mudah diatur dan jarang rewel. Terbukti, sekali diangkat ia langsung mapan bersandar di pundakku.
“Omong-omong, Mbak Fani dari mana?” tanyaku saat kami hendak berjalan masuk.
“Pejaten Village. Muter-muter aja.”
“Oooo.”
“Vin, mulai sekarang panggil namaku aja, ya.”
Agak kaget, kakiku terhenti di depan kamar mandi tak terurus.
“Itu sebutan yang wajar, bukan?”
“Aku ngerti. Tapi ini permintaan.”
Kupikir yang sebenarnya itu adalah perintah, bukan permintaan. Aku mengangguk supaya tidak menjadi panjang lebar, meski mempraktikannya mungkin tidak selalu mudah.
Setelah itu tanpa aba-aba Mbak Fani menyelipkan lengannya ke dalam lenganku. Aku kian bergeming di atas kaki sendiri. Akan tetapi perempuan itu menggariskan tanda bahwa aku tak perlu berkelit dari lilitan tersebut.
Di ujung masanya aku harus memaknai awal malam ini dengan pemaknaanku sendiri. Aku mulai berjalan dengan lebih mantap dan lebih berani. Sebatang lengan menggendong Sybillia, sebatang sisanya kuberikan kepada biangnya.
Kemudian dalam sekian langkah, tahu-tahu saja gerimis menitik dari awan tanpa mengabarkan sebelumnya.
“Ayo cepat. Aku punya kopi yang pas untuk kamu,” kata Fani separo berbisik.
Langkah demi langkah berayun cepat. Gerimis seolah tak mau kalah, beberapa detik saja menghujan begitu lebat.
Yang masuk lebih dulu aku bersama Sybillia. Sunyi dan gelap di dalam selain terdengar hujan dan gemuruh kecil. Sybillia lantas berpindah tangan, digendong ibunya ke kamar.
Lampu-lampu kubuat menyala secukupnya. Desain ruangan utama di rumah ini sebetulnya memanjakan mata. Aku sekali-sekali masih sempat mengagumi langit-langitnya yang julang hingga enam meter dan hanya dibatasi kayu rangka. Alangkah baiknya bila taman air di sisi utara ruangan difungsikan lagi. Itu belum seberapa, karena masih ada lampu kristal besar menjuntai dari plafon. Yang terakhir itu juga tidak pernah menyala. Apa boleh buat, penerangan yang bisa digunakan tinggal sebuah lampu putih dan satu lagi lampu susu dari koridor atas.
Kebetulan tidak ada siapa-siapa lagi, aku menaruh kunci di tempat sebelumnya.
Menghabiskan 10 menit sendirian, Fani kembali menampakkan diri. Pakaiannya sudah berubah menyehari, bawahan piyama dan kaus tanpa lengan dengan potongan pendek menghinggapi pusar. Dia bergerak gesit ke dapur hingga dengan semestinya terangkat bahan kausnya barang dua ruas jari. Menyembul sebuah gambar memanjang mencoraki batas pinggul itu.
“Vin, aku punya Kintamani arabica, aku bikinin ya,” seru Fani dari dapur.
Sahutanku yang bersemangat menggema. Sesaat kemudian terdengar grinder kopi bekerja.
“Drip atau tubruk?”
“Tubruk.”
“Yakin?”
Jawabanku adalah diam, tetapi tidak ada pertanyaan ulangan. Bunyi grinder lantas berhenti dan mengembalikan ruangan ini kembali pada keheningan.
Bosan menyendiri, kutinggalkan saja kursi makan untuk bergabung ke dapur. Fani bersiap-siap mengangkat pemanas air dari tungku.
“Aku suka dapur ini,” ujarku sambil menghampiri perempuan itu.
“Jangan ngada-ada deh.”
“I swear.”
“Kenapa begitu?”
Sekali ini lagi kubiarkan pertanyannya. Air mendidih dituangkannya ke dalam cangkir porselen. Tetap bertahan ia membelakangiku, mengaduk kopi dengan kecepatan berlebih.
Keberanian yang lain menggumpal sedikit demi sedikit, mendorongku berbuat jauh lagi. Mula-mula dua tanganku mendarat di bahunya. Berkata,
“Kamu terlalu cepat mengaduknya.”
Fani cuma tersenyum lalu mengurangi kecepatannya.
“Begini?” tanyanya.
“Ya, begitu lebih baik.”
Sekarang aku memilih takdirku sendiri. Dengan sadar aku membuatnya terlilit dari belakang. Ia tetap diam dan menunduk namun bibirnya terus mengembang. Ternyata diri ini belum matang seutuhnya. Degup jantungku menyerang tidak karu-karuan. Sedang Fani tetap bergeming tanpa pembalasan yang setimpal. Sungguh aku tidak yakin atas apa yang sedang kulakukan.
“Jangan didiamkan kopimu, mumpung masih panas.”
Ketika Fani mulai bersuara, itulah gilirannya mengambil kendali atas segala situasi ini. Waktunya bagiku menjadi anak kecil yang belum mengerti banyak hal.
“Ada yang ingin kubicarakan,” Fani menutup punggung tanganku dengan tenang.
“Sebaiknya aku dulu yang bicara,” sahutku masih agak berdebar-debar.
“Oke,” desisnya.
Nyatanya aku kesulitan mengucap. Seperti ingin menyerah sementara semangat sedang memuncak. Asal musababnya ialah penglihatanku terhadap perempuan ini telah berubah. Tentang perasaan, sehingga aku menggugat diri sendiri, apakah ia menaruh perasaan yang setara terhadapku.
Kutakik hirupanku dekat pada batang lehernya, dan ketika itu aromanya kembali tercerup. Sungguhlah sungguh aku telah mencandui dahlia ini. Bagaimana jadinya aku membiarkan perasaan ini menjadi yatim piatu. Bicaralah, pinta batinku mendesak, sebab ia pun menaruh perasaan yang sama.
Tidak pernah ada penyesalan atas bertubi-tubinya kegagalan, melainkan atas sesuatu yang belum aku lakukan. Suatu ketika jika aku terbaring tua demi menunggu datangnya ajal, niscaya kutangisi hari ini yang berlari larat tanpa kata-kata. Maka jangan diam saja jika kekhawatiran telah mengucilkan perasaan. Tidak pernah ada hari yang sama melainkan nama-namanya saja. Sekali tertinggal waktu di belakang, mustahil ia kembali meskipun ditarik kecepatan cahaya. Sebab yang paling dekat ialah kematian dan yang terjauh adalah waktu yang telah berlalu, demikian yang terakhir telah disabdakan Al Ghazali.
Dengan keyakinan itu aku membisiki telinganya, “Malam ini pikiranku tidak bisa ditahan-tahan lagi untuk mengatakan, aku sangat menyukaimu.”
Sekejap saja aku seperti mendapat orgasme hebat setelah pengakuan terucap. Tidak peduli lagi bagaiamana sesudah itu. Bagianku sudah selesai di sini. Waktu terus berdetak meski Fani bertahan diam.
Namun beberapa saat berikutnya Fani melepaskan lilitan lalu memutar tubuh, memalingkan wajahnya padaku. Dalam saat-saat itu seekor semut pun tidak boleh menyelinap di antara aku dan ia. Pandangannya naik turun sebab barangkali ia meresahkan sesuatu.
Satu kecupan menyapu bibirku. Cepat dan singkat. Dapat kurasakan napasnya yang kurang teratur. Agak-agaknya Fani tidak menduga aku akan mengungkapkan hal itu begini cepat.
Ia berkata,
“Walau baru sejenak, aku senang bersama kamu. Tapi biarkanlah aku dengan diriku sendiri.”
Fani merendahkan pandangannya seketika. Hanya aku sudah bisa mengerti, kalimatnya jelas bermakna penolakan. Yang mengejutkan, tidak ada sedikit pun rasa kecil hati menderaku. Akan kusimpan malam ini sebagai cerita.
Lantas kuangkat wajahnya yang tertunduk, memberinya permulaan lagi. Tatapan kami bertahan lama, tiada lepas tiada ragu. Dengan sendirinya tubuh kami berputar. Aku sekarang bersandar pada sanggahan tungku api. Hanya berdua, semata-mata bersama, harapanku terus demikian hingga sepanjang-panjangnya malam.
“I love you,” kataku berkeras.
“Ssstt!”
Derasnya hujan beriring angin kencang bahkan tidak cukup membuat sejuk. Pelucutan segera dimulai. Akal dan ingatan lenyap sudah jauh-jauh. Perlahan-lahan kami tenggelam kian dalam.
Namun rupanya aku mendapat takdir yang lain.
Selerek alas kaki mengandaskan segala-gala kesenangan malam ini. Aku tersadar di tengah serangan yang tak henti-henti.
Benarlah ada orang lain yang baru memasuki rumah ini. Naas bagiku, itu Wina!
Wina melihatku dan membuang pandangannya dalam sekejap. Bagai tersambar petir pikiran aku langsung terkulai. Fani menginsyafi perubahan lalu mengikuti jalur mataku. Wina cepat-cepat melangkah ke arah tangga dan sosoknya lenyap terhalangi tembok dapur.
Langsung saja kurapikan diriku yang sudah setengah berantakan. Bagaimanapun aku harus menemuinya kendati hubungan asmara yang masih seumur jagung ini niscaya akan berakhir selama-lamanya.
Sialnya lagi, Fani menahanku kuat-kuat. Kupastikan ia tak serius melakukan itu, tetapi yang terjadi justru kebalikannya.
“Jangan, Alvin, jangan.”
Tak peduli apapun, tangan itu mesti tersingkir, lantas aku berlari meninggalkannya. Belakangan perempuan itu bersikeras mengikutiku. Sampai di atas kudapati pintu kamar Wina terbuka.
“Wina...”
“Wina?”
“Wina??”
“Wina!!??”
Tiada seorang pun di kamar ini. Aku bersegera ke kamar mandi, sebab ia pasti ke situ. Tetapi lagi-lagi tak nampak batang hidungnya. Mendadak aku bertingkah di luar kendali. Mustahil mata ini salah. Sebab jelas-jelas itu Wina.
“Apa yang kamu lihat enggak sama dengan penglihatanku,” demikian Fani sudah berada di dekatku.
Fani mendekat dengan tenang dan langsung mendekapku.
“Dia ada di lukisan itu, seandainya kamu tahu.”
Tak bisa dipercaya, akhir-akhirnya hatiku mantap untuk menuruti anjuran si penulis tak berbentuk. Tadi ia sempat kembali dan menulis lagi,
“Lawanlah setiap perbuatan syirik. Bila Pak Wi datang untuk menaruh persembahan, segera singkirkan benda-benda itu. Demikianlah jin maupun setan mengunci hati manusia.”
“Namun untuk mengelabui si tua bangka, lakukanlah dengan cerdik. Kamu akan mengganti sesajiannya dengan benda-benda pengganti yang tampak serupa. Sesungguhnya setiap sesaji melekat bersama niat dan keyakinan manusianya. Kamu semata-mata melakukan itu supaya Pak Wi tidak curiga. Mintalah perlindungan dan ampunan pada Allah agar tercegah dari dosa syirik.”
Bukan itu saja, jin intelijen memberitahu sejumlah rahasia kehidupan Mbak Fani sejak masa kecilnya.
***
Mula-mula sekali yang kulakukan ialah menduplikasi kunci kamar pojok atas. Hitung-hitung Pak Wi masih di luar, aku segera mencari tukang kunci di pusat Pasar Minggu. Selusin kunci kutemukan di atas meja dekat TV. Sepi lagi keadaan di bawah. Ruangan Mbak Fani tertutup rapat. Namun tak ada gunanya buang-buang waktu demi mencocokkan kunci. Untuk itu, kepada ahli kunci aku mengatakan, “Duplikat semuanya, Bang!”
Tukang kunci tersenyum girang bukan kepalang melihat rezeki datang tepat pada alamatnya. Setelahnya aku merasa bodoh, sebab mencocokkan kunci dengan sarangnya tentu lebih irit waktu ketimbang mencetak tiruannya.
Di seberang lapak kunci berdiri sebuah toko mainan. Ada yang membisiki diriku untuk membeli sesuatu dari toko itu. Untuk Sybillia. Tapi apa yang dia suka atau yang bisa dimainkan? aku menerka.
Sebelum mendapat jawabannya aku sudah berada di dalam toko tersebut. Helikopter, robot-robotan, boneka barbie, halah! Malah membuat bingung. Anak perempuan biasanya suka dibelikan boneka barbie. Tapi bagiku mainan itu hanya akan mendoktrin anak-anak tentang standar kecantikan.
Akhirnya aku membeli satu set lego. Alasannya ayahku dulu rajin menghadiahkan lego untuk semua anaknya, baik laki atau perempuan. Entah hadiah untuk Sybillia berguna atau tidak.
Cukup waktu demi menunggu kunci selesai jadi. Di bawah swastamita aku menyalakan mesin motor lalu pulang dengan diburu-buru kekhawatiran. Di balik pagar kos tak sengaja aku bertemu Mbak Fani. Setelannya boyish, dominan hitam dengan syal kotak-kotak serta jaket dan boots kebanggaannya. Kami memarkir sepeda motor dalam waktu nyaris bersamaan. Wanita itu tampak terkejut mendapati aku sudah berada di sisinya lagi.
“Dari mana kamu?” Dia memulai.
Selusin kunci di kantong jaket kujaga baik-baik agar tidak berkerincing.
“Ini, Mbak,” kusodorkan sekotak bersampul kado.
“Lho, ini apa?” terheran-heran raut mukanya.
“Sybillia kan ulang tahun, terlambat sih kasihnya.”
“Ya ampun, diseriusin ya sama dia,” berkembanglah bibir delima itu hingga sampai sudutnya. Barang sejenak dipandangi kotak tersebut dengan mata binar. "Aku buka langsung, ya, boleh kan?”
Aku sama sekali tidak keberatan. Umpamanya bisa mengintip lubuk hatiku, dia akan tahu betapa bergembiranya diri ini melebihi perasaannya sendiri.
“Sorry banget ya, belum bisa kadoin mamanya,” ujarku dibuat-buat memelas. Tapi ia tak menggubris. Sial.
“Owwww...lego nih nak,” suaranya meninggi seraya menunjukkan pemberianku pada Sybillia. Anak itu berdiri dengan melendot pada kaki induknya, dan tiba-tiba kesenangan memancar dari bola matanya yang jernih.
“Sybillia paling suka warna-warni. Benda apa saja asalkan banyak warna, pasti dia girang.”
Syukurlah kalau aku tidak keliru, kataku dalam hati. Mbak Fani kemudian mengucap terima kasih dan aku membalasnya dengan lebih senang lagi.
“Tumben ya sepi,” aku mengalihkan pembicaraan. Hanya dua sepeda motor meski langit sudah mulai gelap.
“Kan masih mid test, Vin. Kalau Ron sama Lis memang biasa pulang malam.”
“Iya ya. Pantes dari pagi tadi kita aja berdua.”
“Bertiga. Terus kalau berdua kenapa? Enggak suka?”
Sybillia berisyarat minta digendong sehingga aku tidak perlu menjawab pertanyaan yang terakhir. Namun Mbak Fani malah menawarkanku.
“Sama om Alvin ya, nak.”
“Oke deh, Ma,” sahutku menirukan suara bocah.
Untuk kedua kalinya aku menggendong Sybillia. Tampaknya anak ini mudah diatur dan jarang rewel. Terbukti, sekali diangkat ia langsung mapan bersandar di pundakku.
“Omong-omong, Mbak Fani dari mana?” tanyaku saat kami hendak berjalan masuk.
“Pejaten Village. Muter-muter aja.”
“Oooo.”
“Vin, mulai sekarang panggil namaku aja, ya.”
Agak kaget, kakiku terhenti di depan kamar mandi tak terurus.
“Itu sebutan yang wajar, bukan?”
“Aku ngerti. Tapi ini permintaan.”
Kupikir yang sebenarnya itu adalah perintah, bukan permintaan. Aku mengangguk supaya tidak menjadi panjang lebar, meski mempraktikannya mungkin tidak selalu mudah.
Setelah itu tanpa aba-aba Mbak Fani menyelipkan lengannya ke dalam lenganku. Aku kian bergeming di atas kaki sendiri. Akan tetapi perempuan itu menggariskan tanda bahwa aku tak perlu berkelit dari lilitan tersebut.
Di ujung masanya aku harus memaknai awal malam ini dengan pemaknaanku sendiri. Aku mulai berjalan dengan lebih mantap dan lebih berani. Sebatang lengan menggendong Sybillia, sebatang sisanya kuberikan kepada biangnya.
Kemudian dalam sekian langkah, tahu-tahu saja gerimis menitik dari awan tanpa mengabarkan sebelumnya.
“Ayo cepat. Aku punya kopi yang pas untuk kamu,” kata Fani separo berbisik.
Langkah demi langkah berayun cepat. Gerimis seolah tak mau kalah, beberapa detik saja menghujan begitu lebat.
Yang masuk lebih dulu aku bersama Sybillia. Sunyi dan gelap di dalam selain terdengar hujan dan gemuruh kecil. Sybillia lantas berpindah tangan, digendong ibunya ke kamar.
Lampu-lampu kubuat menyala secukupnya. Desain ruangan utama di rumah ini sebetulnya memanjakan mata. Aku sekali-sekali masih sempat mengagumi langit-langitnya yang julang hingga enam meter dan hanya dibatasi kayu rangka. Alangkah baiknya bila taman air di sisi utara ruangan difungsikan lagi. Itu belum seberapa, karena masih ada lampu kristal besar menjuntai dari plafon. Yang terakhir itu juga tidak pernah menyala. Apa boleh buat, penerangan yang bisa digunakan tinggal sebuah lampu putih dan satu lagi lampu susu dari koridor atas.
Kebetulan tidak ada siapa-siapa lagi, aku menaruh kunci di tempat sebelumnya.
Menghabiskan 10 menit sendirian, Fani kembali menampakkan diri. Pakaiannya sudah berubah menyehari, bawahan piyama dan kaus tanpa lengan dengan potongan pendek menghinggapi pusar. Dia bergerak gesit ke dapur hingga dengan semestinya terangkat bahan kausnya barang dua ruas jari. Menyembul sebuah gambar memanjang mencoraki batas pinggul itu.
“Vin, aku punya Kintamani arabica, aku bikinin ya,” seru Fani dari dapur.
Sahutanku yang bersemangat menggema. Sesaat kemudian terdengar grinder kopi bekerja.
“Drip atau tubruk?”
“Tubruk.”
“Yakin?”
Jawabanku adalah diam, tetapi tidak ada pertanyaan ulangan. Bunyi grinder lantas berhenti dan mengembalikan ruangan ini kembali pada keheningan.
Bosan menyendiri, kutinggalkan saja kursi makan untuk bergabung ke dapur. Fani bersiap-siap mengangkat pemanas air dari tungku.
“Aku suka dapur ini,” ujarku sambil menghampiri perempuan itu.
“Jangan ngada-ada deh.”
“I swear.”
“Kenapa begitu?”
Sekali ini lagi kubiarkan pertanyannya. Air mendidih dituangkannya ke dalam cangkir porselen. Tetap bertahan ia membelakangiku, mengaduk kopi dengan kecepatan berlebih.
Keberanian yang lain menggumpal sedikit demi sedikit, mendorongku berbuat jauh lagi. Mula-mula dua tanganku mendarat di bahunya. Berkata,
“Kamu terlalu cepat mengaduknya.”
Fani cuma tersenyum lalu mengurangi kecepatannya.
“Begini?” tanyanya.
“Ya, begitu lebih baik.”
Sekarang aku memilih takdirku sendiri. Dengan sadar aku membuatnya terlilit dari belakang. Ia tetap diam dan menunduk namun bibirnya terus mengembang. Ternyata diri ini belum matang seutuhnya. Degup jantungku menyerang tidak karu-karuan. Sedang Fani tetap bergeming tanpa pembalasan yang setimpal. Sungguh aku tidak yakin atas apa yang sedang kulakukan.
“Jangan didiamkan kopimu, mumpung masih panas.”
Ketika Fani mulai bersuara, itulah gilirannya mengambil kendali atas segala situasi ini. Waktunya bagiku menjadi anak kecil yang belum mengerti banyak hal.
“Ada yang ingin kubicarakan,” Fani menutup punggung tanganku dengan tenang.
“Sebaiknya aku dulu yang bicara,” sahutku masih agak berdebar-debar.
“Oke,” desisnya.
Nyatanya aku kesulitan mengucap. Seperti ingin menyerah sementara semangat sedang memuncak. Asal musababnya ialah penglihatanku terhadap perempuan ini telah berubah. Tentang perasaan, sehingga aku menggugat diri sendiri, apakah ia menaruh perasaan yang setara terhadapku.
Kutakik hirupanku dekat pada batang lehernya, dan ketika itu aromanya kembali tercerup. Sungguhlah sungguh aku telah mencandui dahlia ini. Bagaimana jadinya aku membiarkan perasaan ini menjadi yatim piatu. Bicaralah, pinta batinku mendesak, sebab ia pun menaruh perasaan yang sama.
Tidak pernah ada penyesalan atas bertubi-tubinya kegagalan, melainkan atas sesuatu yang belum aku lakukan. Suatu ketika jika aku terbaring tua demi menunggu datangnya ajal, niscaya kutangisi hari ini yang berlari larat tanpa kata-kata. Maka jangan diam saja jika kekhawatiran telah mengucilkan perasaan. Tidak pernah ada hari yang sama melainkan nama-namanya saja. Sekali tertinggal waktu di belakang, mustahil ia kembali meskipun ditarik kecepatan cahaya. Sebab yang paling dekat ialah kematian dan yang terjauh adalah waktu yang telah berlalu, demikian yang terakhir telah disabdakan Al Ghazali.
Dengan keyakinan itu aku membisiki telinganya, “Malam ini pikiranku tidak bisa ditahan-tahan lagi untuk mengatakan, aku sangat menyukaimu.”
Sekejap saja aku seperti mendapat orgasme hebat setelah pengakuan terucap. Tidak peduli lagi bagaiamana sesudah itu. Bagianku sudah selesai di sini. Waktu terus berdetak meski Fani bertahan diam.
Namun beberapa saat berikutnya Fani melepaskan lilitan lalu memutar tubuh, memalingkan wajahnya padaku. Dalam saat-saat itu seekor semut pun tidak boleh menyelinap di antara aku dan ia. Pandangannya naik turun sebab barangkali ia meresahkan sesuatu.
Satu kecupan menyapu bibirku. Cepat dan singkat. Dapat kurasakan napasnya yang kurang teratur. Agak-agaknya Fani tidak menduga aku akan mengungkapkan hal itu begini cepat.
Ia berkata,
“Walau baru sejenak, aku senang bersama kamu. Tapi biarkanlah aku dengan diriku sendiri.”
Fani merendahkan pandangannya seketika. Hanya aku sudah bisa mengerti, kalimatnya jelas bermakna penolakan. Yang mengejutkan, tidak ada sedikit pun rasa kecil hati menderaku. Akan kusimpan malam ini sebagai cerita.
Lantas kuangkat wajahnya yang tertunduk, memberinya permulaan lagi. Tatapan kami bertahan lama, tiada lepas tiada ragu. Dengan sendirinya tubuh kami berputar. Aku sekarang bersandar pada sanggahan tungku api. Hanya berdua, semata-mata bersama, harapanku terus demikian hingga sepanjang-panjangnya malam.
“I love you,” kataku berkeras.
“Ssstt!”
Derasnya hujan beriring angin kencang bahkan tidak cukup membuat sejuk. Pelucutan segera dimulai. Akal dan ingatan lenyap sudah jauh-jauh. Perlahan-lahan kami tenggelam kian dalam.
Namun rupanya aku mendapat takdir yang lain.
Selerek alas kaki mengandaskan segala-gala kesenangan malam ini. Aku tersadar di tengah serangan yang tak henti-henti.
Benarlah ada orang lain yang baru memasuki rumah ini. Naas bagiku, itu Wina!
Wina melihatku dan membuang pandangannya dalam sekejap. Bagai tersambar petir pikiran aku langsung terkulai. Fani menginsyafi perubahan lalu mengikuti jalur mataku. Wina cepat-cepat melangkah ke arah tangga dan sosoknya lenyap terhalangi tembok dapur.
Langsung saja kurapikan diriku yang sudah setengah berantakan. Bagaimanapun aku harus menemuinya kendati hubungan asmara yang masih seumur jagung ini niscaya akan berakhir selama-lamanya.
Sialnya lagi, Fani menahanku kuat-kuat. Kupastikan ia tak serius melakukan itu, tetapi yang terjadi justru kebalikannya.
“Jangan, Alvin, jangan.”
Tak peduli apapun, tangan itu mesti tersingkir, lantas aku berlari meninggalkannya. Belakangan perempuan itu bersikeras mengikutiku. Sampai di atas kudapati pintu kamar Wina terbuka.
“Wina...”
“Wina?”
“Wina??”
“Wina!!??”
Tiada seorang pun di kamar ini. Aku bersegera ke kamar mandi, sebab ia pasti ke situ. Tetapi lagi-lagi tak nampak batang hidungnya. Mendadak aku bertingkah di luar kendali. Mustahil mata ini salah. Sebab jelas-jelas itu Wina.
“Apa yang kamu lihat enggak sama dengan penglihatanku,” demikian Fani sudah berada di dekatku.
Fani mendekat dengan tenang dan langsung mendekapku.
“Dia ada di lukisan itu, seandainya kamu tahu.”
Diubah oleh pakdhegober 18-08-2019 01:47
bebyzha dan 13 lainnya memberi reputasi
14