~Abdi téh ayeuna, gaduh hiji boneka teu kinten saé na, sareng lucu na ku abdi di erokan, erokna saé pisan cing mangga tingali, boneka abdi~
Spoiler for satu:
Waktu itu aku sedang melakukan diksar (didikan dasar) untuk anak kelas 1 yang baru masuk organisasi. Kebetulan aku ketua organisasinya. Kondisinya saat itu acara jerit malam sudah selesai, semua anggota baru kembali istirahat di lapangan, sedangkan aku dan tiga orang temanku membersihkan lantai sekolah. Satu lantai, satu orang dan aku membersihkan lantai teratas. Waktu menunjukkan pukul 01:00 dini hari.
Spoiler for dua:
Aku mulai masuk ke tiap kelas untuk mengambil kamera dan beberapa barang yang sudah digunakan. Termasuk ruangan kelas paling ujung, kelas C10. Aku melintas dan melihat ada kamera serta barang lainnya. Padahal seingatku kelas ini tidak digunakan, tapi sudah lah.
Spoiler for tiga:
Aku masuk mengambil kamera dan merapikan bangku yang berantakan. Lalu, aku melihat tas cewek di meja kedua dari belakang, di ujung kiri. Lebih kaget lagi karena aku juga melihat kaki cewek di atas kursi, seperti sedang diluruskan (posisiku disamping bangku depan). Aku berjalan perlahan menghampiri bangku itu, sontak bulu tangan dan leherku merinding. Suasana menjadi dingin, dan....
Aku melihat ada siswi sedang tertidur diatas kursi
Spoiler for empat:
Kursi di kelas itu adalah kursi panjang. Aku berpikir sepertinya dia sedang kecapekan karena cewek ini tidur masih memakai seragam sekolah. Aku duduk di atas meja di samping tas miliknya, lalu aku membangunkannya. Dia terbangun dengan paras wajah yang sangat cantik, dengan kulit putih mulus, berambut panjang sampai dada. Walapun, paras tersebut tidak bisa menyembunyikan rasa capek dan agak pucat.
Spoiler for lima:
Setelah bangun dia bersandar di dinding kelas, aku mengobrol dengannya. Tercium aroma tubuhnya yang harum bau vanilla. Namanya, Shyntia, siswi kelas 3. Sambil ngorbol, Shyntia mengeluh lapar dan meminta makanan kepadaku, untungnya aku membawa tas yang berisi susu kotak dan tiga bungkus roti. Dia makan dengan lahap.
Spoiler for enam:
Kami berdua terus ngobrol dan bercanda sangat lama. Kami cepat akrab. Selesai makan, aku mengajaknya untuk turun dan bergabung di lapangan bersama yang lainnya, tapi dia menolak. Sedang asik, tiba-tiba handy talkie berbunyi. Temanku bertanya posisiku, dan aku katakan kalau aku lagi BAB di toilet.
Spoiler for tujuh:
Tak terasa satu jam sudah aku bersama Shyntia. Aku sudah tahu alamat rumahnya sampai ID Line miliknya. Shyntia meminta izin untuk melanjutkan tidurnya. Karena tidak tega, aku menemaninya sampai tak sadar aku pun ikut tertidur. Esok paginya kepalaku terasa sangat berat dan pusing. Ketika membuka mata, aku lihat temanku sedang membangunkanku.
Spoiler for delapan:
Dan kaget sekali aku menyadari ternyata aku tertidur di lantai toilet. Teman-temanku mengatakan bahwa mereka menemukanku tertidur di sana
Spoiler for sembilan:
Aku teringat dengan Shyntia. Dengan cepat aku berlari ke dalam kelas C10 untuk melihatnya. Aku menjadi tambah kaget ketika aku melihat suasana dan bangku di sana masih dalam keadaan berantakan. Aku menuju bangku tempat Shyntia semalam. Bangku itu kosong. Aku duduk terdiam, rasa takut sudah menguasai diriku. Tak sengaja aku menoleh ke dalam laci meja.
Spoiler for sepuluh:
Aku melihat ada bungkusan susu, kotak dan roti yang semalam kuberikan. Aku tahu kalau itu punyaku karena aku memberinya tanda (tanda cemilan untuk panitia). Di bawah bungkusan makanan tadi, aku menemukan secarik kertas surat dari Shyntia untukku.
Spoiler for sebelas:
“Terima kasih, Dirs (nama panggilanku). Kamu sangat baik padaku. Aku suka sama kamu, aku akan sering datang dan melihat keadaanmu, sayang. Shyntia”.
Spoiler for dua belas:
Sangat terkejutnya aku membaca surat itu, dengan segera kumasukkan surat itu ke kantong saku. Tak sampai satu menit, aku mendadak tidak sadarkan diri lagi. Aku terbangun saat temanku datang membawakan air minum. Sku sudah berada di tengah lapangan. Temanku bilang kalau aku pingsan di toilet sejak pagi. Aku semakin takut karena aku ingat aku berlari ke dalam kelas C10 saat bangun dari toilet sebelumnya. Lalu aku memeriksa saku, anehnya surat itu tak ada, tapi isi suratnya aku ingat jelas.
Spoiler for tiga belas:
Singkat cerita, aku sampai di rumah sepulang sekolah. Aku mandi dan langsung istirahat di kamar. Sangat terkejutnya aku melihat surat itu ada di atas ranjangku, aku baca kembali dan tulisannya persis sekali dengan yang kubaca di sekolah.
Spoiler for empat belas:
Rasa penasaran dengan kejadian semalam membuatku mendatangi ruang guru di kemudian hari. Aku meminta data murid atas nama Shyntia, siswi kelas C10. Tahu guruku bilang apa?
Spoiler for lima belas:
Sejak dua tahun yang lalu, kelas C10 telah dihancurkan dan kelas di sekolahku cuma sampai kelas C9 saja. Seketika perasaanku bercampur aduk, (bisalah anda bayangkan). Sepulang sekolah aku menceritakan kejadian ini kepada kakak alumniku, ada satu alumni yang tahu siapa itu Shyntia. Dia adalah siswi dua tahun lalu meninggal karena kesurupan massal yang terjadi di kelas C10 dulu. Aku masih tidak percaya dengan cerita alumni itu, lalu dia menunjukkan foto Shyntia dan memang itu Shyntia yang aku temui semalam. Aku teringat dengan ID Line-nya Shyntia. Betapa kagetnya aku karena status ID Line tersebut tertulis namaku.
Spoiler for enam belas:
Di tengah perasaan yang tidak menentu ini, aku mengunjungi rumah Shyntia. Aku meminta izin kepada orang tuanya untuk memasuki kamar Shyntia. Aku kembali ‘dihadiahi’ dengan aroma vanilla.
Spoiler for tujuh belas:
Aku duduk termenung di atas ranjang, dan Shyntia kembali muncul di hadapanku
Spoiler for delapan belas:
Aku semakin takut, aku tersandar ke dinding. Shyntia senyum dengan lembut lalu menghilang lagi. Sampai sekarang Shyntia masih sering menemuiku, bahkan saat menulis cerita ini pun Shyntia duduk disampingku. Kini aku sudah terbiasa dengannya dan juga aroma vanilla-nya.