Kaskus

Story

juraganpengkiAvatar border
TS
juraganpengki
GW BERTEMAN DENGAN KOLONG WEWE (CHAPTER 3 / FINAL CHAPTER)
GW BERTEMAN DENGAN KOLONG WEWE (CHAPTER 3 / FINAL CHAPTER)

GW BERTEMAN DENGAN KOLONG WEWE (CHAPTER 3 / FINAL CHAPTER)
Cool Cover By Agan Linbara (Thanks, Bree)..

Prolog

Setelah bangun dari ‘Mati Suri’ karena memutuskan untuk mencoba membunuh diri sendiri untuk melindungi Kitab Langit dan melenyapkan Bayu Ambar, gw kembali ke dunia nyata.. Kehidupan gw sedikit jauh berbeda, karena pengalaman ‘Mati Suri’ itu berefek langsung pada kelebihan yang gw miliki.. Gw masih sama Anggie, meski ujian atas cinta kami masih saja mendera.. Ada musuh baru, tentu saja.. Tapi ada juga sahabat baru yang muncul.. Karena ini akhir dari cerita kami berempat..

Kembalinya Anak Ibu...
Pengorbanan Pedang Jagat Samudera...
Cintai Aku Sewajarnya, Yank...
Matinya Seorang Saudara (Versi Gw/Bimo)
Berkumpul Kembali...
Keanehan Yang Mulai Muncul...
Sambutan Ketiga Saudara Ke Reinata...
Sabar???
Cukup! Tinggalin Aku Sendiri!!!
Siapa Kau???
Aku Ikutin Kemauan Kamu...
Keputusan Sepihak Yang Pahit...
Semua Beban Menjadi satu
Semua Beban Menjadi Satu (2)...
Serangkum Rindu Untuk Ayah...
Munculnya Penguasa Laut Utara...
Bertemunya Dua Penguasa...
Sebuah Kesepakatan...
Ibu Kenapa Yah???
Lu Kenapa, Ka???
Wanted Dead Or Alive.. ANTON!!!
Mo 'Perabotan' Lu Hancur Apa Tanggung Jawab???
It's The End Of Us...
Di Kerjain Ibu...
Ridho!!!
Kelewatan!!!
Munculnya Dua Penjaga Gerbang Kerajaan Laut...
Dewi Arum Kesuma VS Dewi Ayu Anjani
Datangnya Sosok Seorang Pemisah Dan Shock Therapy Buat Gw...
Kerajaan Jin...
Terkuaknya Semua Jawaban...
Maafin Gw, Bree...
Pengakuan Suluh...
Akhirnya Boleh Gondrong...
Pernikahan Kak Silvi Yang Seharusnya Membuat Gw Bahagia...
Pernikahan Kak Silvi Yang seharusnya Membuat Gw Bahagia (2)...
Tunggu Pembalasan Gw!!!...
Ni Mas Linduri dan Banas Ireng...
Dua Sosok Penyelamat Misterius...
Ada Apa Sama Ridho?...
Kesalahan Fatal...
Kembalinya Jin Penjaga Ridho dan Suluh...
Akibat Terlalu Ikut Campur...
Setiap Perbuatan Akan Mendapat Balasan...
Munculnya Viny Dan Sebuah Tantangan Bertarung...
Manusia Cabul...
Suara Penolong Misterius...
Bertemunya Kembali Sepasang Kekasih...
Terkuaknya Kebenaran...
Kabar Baik Ayu Dan Prasangka Sekar...
Kabar Baik Ayu Dan Prasangka Sekar (2)...
Jaket Dan Celana Jeans Robek Serta Sweater Hitam Kumal...
She's My True Love...
Dilema...
Pertengkaran Dengan Ibu...
Rambe Lantak...
Gendewa Panah Pramesti...
Akan Ku Balaskan Dendam Mu, Arum Kesuma!!!
Yang Hilang dan Yang Kembali...
Jawaban Ayu...
Mati Gw!!!
Aku Makin Sayang...
Nasihat Om Hendra...
Jera Mencuri...
Ajian Segoro Geni...
Pilihan Sulit...
Keputusasaan Anggie...
Kabar Baik dari Ridho dan Suluh...
Perjalanan Menuju Pembalasan Dendam...
Rawa Rontek...
Rawa Rontek 2 (Terbayarnya Dendam)...
Kedatangan Pak Sugi...
Orang Titipan...
Hukuman Paling Berat...
Tidurlah Di Pangkuan Ku...
Menjajal Kesaktian...
Menjajal Kesaktian (2)...
Pengakuan Mengejutkan Babeh Misar...
Pengajaran Ilmu Silat Betawi...
Di Kepret Babeh Misar Lagi...
Tasya...
Naga Caglak dan Bajing Item...
Misteri Sebuah Dendam...
Kekuatan Sejati Kitab Langit Bagian Matahari...
Perpisahan...
Tanah, Air, Api dan Setetes Darah dari Jantung Seorang Putera...
Tanah, Air, Api dan Setetes Darah dari Jantung Seorang Putera (2)...
Kembalinya Ibu...
Empat Bayangan Hitam...
Siapa Ni Mas Laras Rangkuti???
Dendam Seorang Sahabat...
Ini Keputusan Yang Harus Gw Ambil...
Semua Pengorbanan Ini Demi Ibu...
Rapuh...
Kabar Mengejutkan Sekar dan Sebuah Restu...
Siasat Braja Krama...
Munculnya Kitab Langit...
Si Pembuka Kitab langit dan Sosok Asli Pak Sugi...
Rencana Yang Matang...
Lamaran Pribadi...
Keingintahuan Anggie...
Perubahan Rencana...
Hampir Terjebak...
Kekecewaan Sekar...
Dua Syarat Reinata...
Aku Harap Kamu dan Anggie Bahagia, Mam...
Rahasia Sepasang Suami Isteri...
Menitipkan Amanah...
Berkumpulnya Para Pembela Kitab Langit...
Siasat Ki Purwagalih...
Raja Jin Raja Muslihat (Nyesek, Bree)...
Pertukaran Tawanan...
Perang Gaib PunTak Terelakkan...
Sang Penyelamat Dari Utara...
Pertempuran Awal Dua Penguasa Kerajaan Gaib...
Bertekuk Lututnya Sekutu Braja Krama...
Pertarungan Dua Putera (Gugurnya Satu Sahabat Gaib)...
Krama Raja...
Braja Krama Versus Krama Raja...
Raja Licik...
Aku Lah Sang Pembuka...
Siasat Krama Raja dan Bayu Ambar...
Terbukanya Semua Ilmu Terlarang...
Sebuah Pengecualian...
Sri Baduga Maharaja...
Hilangnya Sebuah Pengecualian...
Hilangnya Sebuah Pengecualian (2)...
Sebuah Pengorbanan...
Pahlawan...
Sumpah...
Ilmu Pamungkas yang Terlarang...
Kabar Yang Mengejutkan...
Pulang...
Pulang (2)...
Sedikit Kisah Rio Sebelum Kisah Ini Tamat...
Terhalang Sumpah...
Bantuan Sahabat Baik...
Bachelor Party...
Keturunan Lain Sang Prabu...
Pembalasan Dendam Singgih...
Sepenggal Kisah Nyi Mas Roro Suwastri...
Tawaran Yang Mengejutkan...
Lawan Atau Kawan???
Terkuaknya Silsilah...
Sebuah Kebenaran...
Sebuah Kebenaran (2)...
Bertemunya Dua Keturunan Sang Prabu...
Pertempuran Dua Hati...
Cinta Pertama VS Cinta Terakhir Jagat Tirta...
Pengakuan Bayu Barata...
Ki Larang dan Nyi Mas Galuh Pandita???
Prana Kusuma...
Kau Benar Keturunan Kami, Ngger...
Our Big Day...
Insiden...
Munculnya Para Tamu Tak Terduga...
Munculnya Para Tamu Tak Terduga (2)...
Dua Tamu Istimewa...
Semua Karena Cinta...
Keputusan Sekar Kencana...
Kena Gampar...
Bonyok!!!
RIBET!!!
Berdamai...
Keponakan Baru...
Malam Pertama dan Tiga Keanehan...
Ajian Warisan Para Leluhur (The Last Part/End Of All Chapters)

SIDE STORIES

Keturunan Yang Tersesat...
Keturunan Yang Tersesat (2)...

Diubah oleh juraganpengki 15-07-2018 20:23
uang500ratusAvatar border
devanpancaAvatar border
iskrimAvatar border
iskrim dan 132 lainnya memberi reputasi
127
2.1M
8K
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread3Anggota
Tampilkan semua post
juraganpengkiAvatar border
TS
juraganpengki
#2859
Rawa Rontek 2 (Terbayarnya Dendam)

Tak mau menyiakan kesempatan, gw juga ikut melompat sambil menyabetkan Pedang Jagat Samudera.. Dan..

CRAASS!!!

Sabetan Pedang sakti pemberian Ki Suta berhasil memutuskan sebelah kaki kiri Rambe Lantak dan membuat lompatan Jin itu tidak sempurna, hingga terjatuh persis disebelah Seruling Wesi Ireng..

Meski dengan posisi tubuh masih rebah diatas tanah karena sempat terjatuh tadi, Rambe Lantak langsung meraih Seruling Wesi Ireng.. Kemudian, ia sabetkan senjatanya itu ke sebuah batu seukuran kambing dewasa dan membuat batu tersebut terpental ke arah gw..

Sambil berteriak keras, gw memutar tubuh sembari melempar Pedang Jagat Samudera tinggi ke arah depan.. Lalu mengayunkan telapak tangan kanan yang sudah kembali terisi Ajian Segoro Geni tepat ke arah batu besar..

BRAKKK!!!

Batu hitam seukuran badan kambing dewasa langsung hancur seketika menjadi bongkahan-bongkahan kecil, saat terkena Ajian Segoro Geni di telapak tangan kanan gw.. Masih dengan telapak tangan kanan semerah bara yang terulur ke depan, pandangan mata gw menatap nanar ke arah Rambe Lantak..

Dari kedua mata nya yang membesar, gw tahu Jin itu terkejut.. Tapi, kedatangan gw bersama Nyi Mas Galuh Pandita ke sini sama sekali bukan untuk pamer kesaktian.. Melainkan guna membalaskan dendam seorang gadis dari golongan Jin yang meregang nyawa karena perbuatannya..

Gw langsung mengatur jalan nafas dan kembali ke posisi menangkap Pedang Jagat Samudera yang sempat melayang-layang diudara.. Sementara beberapa tombak didepan, Rambe Lantak nampak berdiri dengan satu kaki kanan..

Sebuah senyuman menyeringai kembali disunggingkan Rambe Lantak sambil melirik ke arah sebelah kaki kiri yang ada tiga tombak disampingnya.. Perlahan, jin laki-laki tersebut memejamkan kedua matanya sesaat, seraya kembali mengucap mantera..

Mendadak, sebelah kaki kiri Rambe Lantak yang berhasil diputuskan oleh Pedang Jagat Samudera, melesat cepat menempel ke bagian putusannya.. Lalu, kembali Jin itu mengusap bagian kaki yang terputus.. Lagi-lagi, asap hitam mengepul dari jejak usapannya.. Dan untuk yang kedua kali, gw terbelalak melihat organ Rambe Lantak yang terputus sudah tersambung kembali seperti sedia kala..

“Seperti yang aku ucapkan, anak manusia.. Kau tidak akan bisa membunuh ku.. Meski kau tebas leher ku dari kepala, aku akan tetap hidup.. Karena luka apapun yang aku derita, akan sembuh dengan kesaktian yang kumiliki” Teriak Rambe Lantak sambil memutar kaki kirinya yang baru tersambung, lalu disusul suara tawa Jin itu yang membahana diseluruh gua..

Gw terdiam mengetahui Ilmu aneh yang dimiliki Rambe Lantak.. Ingatan gw sempat terbayang saat Bayu Barata menyebut nama Ilmu yang sama ketika kami melawan Ratu Kala Wanara.. Tapi langsung diralat Sekar yang menyebut Ilmu Ratu Kalajengking bukanlah Rawa Rontek, melainkan Ilmu Belah Rogo pemberian Raja Siluman..

“Teruslah bertarung, Ngger.. Jika saatnya tiba, aku terpaksa akan turun tangan.. Aku tahu kelemahan Ilmu Rawa Rontek” Ucapan Nyi Mas Galuh Pandita dalam batin, membuat gw menoleh ke arah sosoknya yang masih menjelma menjadi Ridho..

“Jika kau ingin meminta bantuan anak manusia lain yang ada dibelakang, silahkan saja.. Aku akan melenyapkan kalian berdua dengan Ilmu Tembang Kematian andalanku” Ejek Rambe Lantak seraya menunjuk ke arah Ridho yang malah tersenyum manis sambil memainkan rambutnya..

“Ohh, aku hampir terlupa.. Dengan Ilmu Tembang Kematian milik ku tempo hari, kekasih Jin mu yang cantik dan bertubuh indah itu tewas bukan? Jadi, hari ini merupakan hari keberuntungan mu, anak manusia.. Hari ini, aku akan membuat kalian berdua kembali berkumpul di neraka.. Setelah itu, akan mengambil Kitab Langit Bagian Matahari yang ada ditelapak tangan kananmu, bocah tengik” Lanjut Rambe Lantak yang membuat darah gw terasa mendidih..

“Aku bersumpah akan menebas leherku sendiri jika sampai petang nanti kau masih bisa bernafas, Rambe Lantak” Jawab gw dengan suara bergetar penuh amarah..

Sebuah senyuman menyeringai sempat di sunggingkan Rambe Lantak sebelum kedua matanya terpejam, bersamaan dengan Seruling Wesi Ireng yang tertempel di bibir.. Sayup-sayup, terdengar suara seruling yang mendayu-dayu penuh kesedihan dari arah Jin itu..

Kedua mata gw membesar, mendengar alunan nada dari Seruling Wesi Ireng.. Yang menjadi pertanda bahwa Rambe Lantak sudah mulai menggunakan Ilmu Tembang Kematian andalannya..

Diarah depan, tatapan nanar gw memandang tubuh Rambe Lantak yang nampak mulai melayang sambil terus meniupkan Seruling Wesi Ireng.. Perlahan, sedikit demi sedikit rambutnya yang hitam dan panjang acak-acakan berubah memutih, seiring kedua matanya yang nampak terbuka..

Gw tertegun melihat kedua bola mata Rambe Lantak pun telah berubah putih semua, disusul melesatnya tiga buah sinar kuning dari ujung bawah Seruling sakti miliknya.. Ketiga sinar kuning yang melesat cepat ke arah gw itu, terdengar membawa alunan nada sedih akan sebuah Kematian..

“Sobat, bantu aku dengan kekuatan mu..” Bisik gw ke arah Pedang Jagat Samudera, lalu mencium bagian tengah Pedang sakti itu yang terasa bergetar seperti mengiyakan permintaan gw barusan..

Sesaat, gw tertegun melihat sinar biru yang sempat membalut sinar putih Pedang Jagat Samudera perlahan berganti warna menjadi kuning.. Bersamaan dengan terasa semakin meningkatnya hawa sakti Pedang tersebut.. Gw sempat berfikir, apakah sinar kuning yang menyelimuti sinar putih di Pedang itu merupakan hawa sakti Kitab Langit Bagian Matahari yang ikut terserap? Entahlah, gw hanya bisa berharap demikian..

Dengan bibir melisankan Kalimat Basmallah, gw melompat sambil menyabetkan tiga kali Pedang Jagat Samudera ke atas.. Tiga sinar putih berselimut sinar kuning, tercipta dari sabetan Pedang Jagat Samudera dan melesat ke arah tiga sinar kuning dari Seruling Wesi Ireng..

DUARRR!!!

Sebuah ledakan dahsyat terjadi di dalam gua dan membuat tempat kami berpijak itu terguncang hebat laksana terkena gempa.. Saat tiga kesaktian mengandung tenaga luar biasa berbenturan diatas dan membuat suasana dalam gua terang benderang oleh bunga api ledakan meski untuk sesaat..

Gw sempat terseret dua tombak ke belakang, saat tersapu gelombang ledakan.. Beruntung, gw masih sempat menancapkan ujung Pedang Jagat Samudera ke dalam tanah berkerikil tajam, agar tidak lebih jauh tersapu gelombang ledakan tadi....

Suasana dalam gua nampak cukup gelap ketika bunga api ledakan hilang.. Semua obor pun telah padam karena tersapu gelombang ledakan.. Gelapnya suasana ini disebabkan pula oleh kepulan asap hitam nan tebal yang timbul dari ledakan hebat barusan..

Masih dengan setengah berlutut dan bertumpu pada Pedang Jagat Samudera yang tertancap dalam tanah, gw berusaha menggunakan Ajian Tembus Pandang dan menatap ke depan.. Samar-samar, gw bisa melihat sosok Rambe Lantak sedang bersandar di dinding gua dengan sebuah luka menganga di dadanya..

Pandangan gw juga sempat melihat Seruling Wesi Ireng yang merupakan senjata andalan Rambe Lantak, tergeletak diatas tanah dalam keadaan sudah terpatah dua..

Tiga obor yang berada di dalam gua, mendadak menyala lagi dengan sendirinya dan membuat suasana kembali temaram seperti sedia kala..

Perlahan, gw bangkit dan mencabut Pedang Jagat Samudera, sambil terus menatap nanar ke arah Rambe Lantak, yang juga mulai mencoba bangkit.. Darah hitam terus mengucur dari luka menganga yang ada di dada Rambe Lantak.. Sesekali, wajah Jin itu yang meringis menahan sakit, nampak menoleh sendu ke arah Seruling Wesi Ireng miliknya diatas tanah..

“Demi nama Junjungan ku, Braja Krama.. Hari ini, kau pasti akan aku bunuh, anak manusia” Ucap Rambe Lantak dengan suara bergetar sambil menatap nanar ke arah gw..

Perlahan, Jin berwujud laki-laki tinggi besar dengan rambut panjang acak-acakan itu, kembali memejamkan kedua matanya sambil mengucap mantera dari lisan dan mengusap luka menganga di dada..

“Ini saat yang tepat untuk menghabisi Rambe Lantak, Ngger.. Lekas kau tebas lehernya menggunakan Pedang mu” Ucap Nyi Mas Galuh Pandita dalam batin gw..

Gw mengangguk, lalu secepat kilat melompat sambil menyabetkan Pedang Jagat Samudera ke arah batang leher Rambe Lantak..

CRASSSH...

Suara tebasan Pedang sakti pemberian Ki Suta terdengar menggidikan hati siapapun yang mendengarnya, saat berhasil melepas bagian tengah leher Rambe Lantak dan membuat kepala sosok Jin itu mencelat ke atas..

Tiba-tiba dari arah belakang, terdengar suara seperti dua kain yang ditegangkan.. Pandangan gw tertegun melihat Nyi Mas Galuh Pandita yang sudah kembali ke wujud aslinya, melemparkan dua ujung Selendang biru..

Ujung yang pertama langsung menggulung seluruh bagian kepala Rambe Lantak.. Sementara, ujung yang kedua menggulung tubuh tanpa kepala jin itu, dari bagian leher hingga kakinya.. Gw tercengang, saat melihat Nyi Mas Galuh Pandita mencabut mahkota birunya dari atas kepala dan melemparkan benda itu ke arah selendang biru yang membungkus tubuh tanpa kepala Rambe Lantak seperti mumi..

BREETT..

Ujung tajam Mahkota nampak menyambar bagian atas selendang yang menutupi ujung leher Rambe Lantak dan terus melesat hingga menancap diatas dinding gua.. Tubuh Jin tanpa kepala yang telah terbungkus utuh layaknya mumi dalam selendang biru milik Nyi Mas Galuh Pandita, terlihat berkelojotan menggantung dua jengkal diatas tanah..

Sementara, ujung selndang biru yang membungkus seluruh kepala Rambe Lantak, langsung ditarik Nyi Mas Galuh Pandita sebelum jatuh ke atas tanah.. Lalu, menenteng bungkusan selendang biru berisi kepala musuh gw, menggunakan tangan kanan..

Sebuah senyuman senang terlukis di wajah Nyi Mas Galuh Pandita.. Seiring, suara omelan samar Rambe Lantak dari dalam bungkusan yang ditenteng beliau.. Gw perlahan melangkahkan kaki mendekat ke arah sosok isterinya Ki Suta itu.. Kening gw seketika berkerut mendengar suara samar omelan Rambe Lantak..

“Dia masih hidup, Eyang Puteri?” Tanya gw penasaran..

“Benar, Ngger.. Sosok Rambe Lantak yang menguasai Ilmu Rawa Rontek baru akan binasa, saat kepalanya hancur dan terpisah selama satu purnama dari sisa tubuhnya.. Tapi, selama darahnya menyentuh tanah meski hanya setetes, maka ia akan hidup kembali dengan sendirinya.. Kau tunggulah disini sesaat, aku akan menempatkan bagian kepala Rambe Lantak di suatu tempat jauh dari jangkauan Jin lain, terutama Braja Krama”

Mendengar penuturan Nyi Mas Galuh Pandita, gw tertegun.. Dalam hati, gw terusik saat ingat akan sumpah yang gw ucapkan sebelum menawan Rambe Lantak..

“Tunggu, Eyang Puteri.. Maafkan aku.. Tapi, kau dengar sendiri sumpah ku tadi yang akan menebas leherku sendiri jika tidak berhasil membunuh Rambe Lantak.. Apa yang harus ku lakukan untuk menebus sumpah itu?” Tanya gw memberanikan diri menghentikan kehendak puterinya Raja Jin tersebut..

Sejenak, Nyi Mas Galuh Pandita nampak termenung memikirkan sesuatu.. Gw berharap beliau menimbang-nimbang untuk memberikan gw solusi atas sumpah yang gw ucapkan beberapa waktu lalu..

“Aku ingatkan kepadamu, Cah Gendeng! Jangan sembarangan mengucap sumpah.. Terutama untuk suatu hal yang kau belum yakin akan sanggup melakukannya, hingga bisa menebus sumpah mu itu” Bentak Nyi Mas Galuh Pandita sambil melotot..

Gw hanya bisa terdiam seraya memutar-mutar Pedang Jagat Samudera yang ujungnya sudah berada di atas tanah, mendengar omelan sosok cantik berusia hampir seribu tahun..

“Baiklah! Kali ini aku turuti permintaan mu, sekaligus untuk menggugurkan sumpah yang kau ucapkan tadi..” Kata Nyi Mas Galuh Pandita yang membuat kedua mata gw seketika berbinar..

Perlahan, sosok isterinya Ki Suta tersebut mengarahkan tangannya ke arah sebuah batu pipih besar, seukuran meja belajar dikamar gw.. Seiring tangan Nyi Mas Galuh Pandita yang mengayun ke hadapan kami, batu pipih berwarna hitam tadi juga tiba-tiba bergeser cepat dan berhenti tepat ditengah-tengah gw dan Beliau..

Perlahan, Nyi Mas Galuh Pandita meletakkan buntelan selendang biru miliknya diatas batu pipih.. Kemudian, dengan telaten beliau membuka gulungan demi gulungan selendang biru yang membungkus kepala Rambe Lantak hingga kepala utuh Jin itu terlihat..

Gw sempat bergidik ngeri menatap wajah Rambe Lantak yang melotot menatap ke arah gw dan Nyi Mas Galuh Pandita secara bergantian.. Ujung lehernya yang masih dibasahi darah hitam nampak terserap secara aneh oleh selendang biru milik Nyi Mas Galuh Pandita..

“Setan alas!! Aku pasti akan membalaskan dendam ku kepada mu, Bocah Jahanam” Bentak Rambe Lantak sambil menatap nanar ke arah gw..

“Lekas gunakan Ajian Segoro Geni milikmu, Ngger.. Hancurkan kepala Jin cerewet itu beserta isi nya.. Aku mulai muak mendengar sumpah serapah dari mulut Rambe Lantak” Ucap Nyi Mas Galuh Pandita yang membuat kedua mata Rambe Lantak sendiri terbelalak..

Perlahan, kedua mata gw terpejam mencoba mengingat wajah Dewi Arum Kesuma.. Saat ia tersenyum.. Saat gadis itu merajuk.. Hingga, saat terakhir ia menghembuskan nafas dengan tersenyum bahagia mendengar kalimat gw mencintainya..

Sedikit demi sedikit, gw melepas Pedang Jagat Samudera dan kedua telapak tangan gw mulai naik ke atas.. Kemudian berhenti tepat di ubun-ubun kepala Rambe Lantak.. Kedua mata gw kembali terbuka dan menatap nanar penuh dendam ke wajah Rambe Lantak yang terdengar acap kali menyumpah serapah..

Seluruh tenaga dalam mulai gw pusatkan ke kedua telapak tangan diatas kepala Rambe Lantak.. Perlahan-lahan, warna telapak tangan gw sudah berubah menjadi semerah warna bara yang menyala.. Sedikit demi sedikit, gw menggeser dua telapak tangan yang tadinya berada di atas ubun-ubun Rambe Lantak, hingga turun ke bagian dua telinganya..

Pandangan mata gw sama sekali tak berkedip, saat asap hitam mulai terlihat mengepul dari samping kiri dan kanan kepala Rambe Lantak.. Bersamaan, dengan suara jeritan kesakitan Jin itu yang menyayat hati..

Seluruh tubuh gw bergetar hebat.. Terutama di bagian tangan yang masih menempel di samping kiri dan kanan kepala Jin Pembunuh Dewi Arum Kesuma.. Sinar merah yang terlihat dari dua telapak tangan gw semakin nampak mencorong.. Bersamaan dengan mulai menghangusnya kulit dan terbakarnya rambut Rambe Lantak..

TOS!!!

Suara meledaknya dua biji mata Jin itu, terdengar cukup keras ditelinga gw.. Namun, seperti orang yang sedang kesetanan, gw hanya menyunggingkan senyuman dingin melihat penderitaan yang sedang dirasakan Rambe Lantak..

“Semua ini untukmu, Arum Kesuma” Ucap gw dengan suara bergetar, bersamaan dengan terbakarnya seluruh kepala Rambe Lantak..

Tiba-tiba, gw merasakan seseorang seperti sedang memeluk dari belakang sambil menyandarkan kepalanya di punggung ini.. Pandangan gw yang sempat tertunduk menikmati rasa sakit yang dirasakan Rambe Lantak dari dua telapak tangan berisi Ajian Segoro Geni, langsung naik dan menatap kosong ke arah bagian atas gua..

Gw tertegun merasakan pelukan seseorang dari belakang.. Gw kenal pelukan ini.. Gw pernah merasakan seseorang memeluk gw dengan sepenuh hati dan cinta.. Ini pelukan sama seperti yang pernah diberikan Dewi Arum Kesuma..

“Kakang, aku mohon hentikan semuanya..” Ucap seseorang yang suaranya terdengar lembut dari arah belakang..

Gw langsung melepaskan kedua tangan dan meninggalkan kepala Rambe Lantak yang masih diselimuti api merah yang berkobar.. Lalu, dengan cepat gw membalikkan tubuh dan tertegun melihat sosok yang tadi memeluk..

Kedua mata gw seketika terasa perih dan mulai dibanjiri air mata, begitu melihat sosok cantik berbaju ala puteri keraton berwarna kuning, sedang tersenyum sangat manis persis dihadapan mata kepala gw sendiri..

“Arum Kesuma..” Ucap gw sambil berusaha menyentuh wajah gadis itu, meski hanya udara kosong yang gw dapat..

“Kakang.. Hentikan dendammu.. Jangan mengusik kebahagiaanku dengan dendam” Ucap Dewi Arum Kesuma sambil menyunggingkan senyuman paling manis yang pernah ia lemparkan..

Gw menganggukan kepala dengan kedua mata basah, lalu membalas senyuman manis gadis itu dengan senyuman yang sama..

“Lanjutkan hidupmu, Kakang.. Carilah kebahagiaan sendiri untukmu bersama gadis yang kau cintai.. Aku disini pun bahagia jika kau bahagia.. Aku mencintaimu, Kakang” Ucap Dewi Arum Kesuma lagi, lalu mengecup kening gw dengan sangat lembut..

Kedua mata gw terpejam begitu menerima kecupan yang terasa sangat hangat dikening.. Kemudian, senyuman gw terkembang diwajah saat merasakan seseorang menyeka lembut air bening yang membasahi dua pelupuk mata..

“Arum Kesuma” Ucap gw lirih dengan kedua mata masih terpejam dan sebuah senyuman bahagia yang terlukis diwajah..
Diubah oleh juraganpengki 19-02-2018 23:20
jenggalasunyi
sampeuk
dodolgarut134
dodolgarut134 dan 13 lainnya memberi reputasi
14
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.