Kaskus

Story

irazz1234Avatar border
TS
irazz1234
Dunia Para Monster [Zombie Apocalypse Story]
Hello kaskuser dan momod tercintah emoticon-heart

Gw mau coba share cerita yang bertema horor.
Tapi horor bukan sembarang horor. emoticon-EEK!
Horor kali ini temanya Zombie Apocalypse.
Mirip kyk resident evil, the last of us, the walking dead, dll.
Tema yg cukup jarang diulas ato dibuat threadnya di SFTH.

Apdet dirilis sesuka hati, tergantung moodnya TS emoticon-Malu
Kentang sih pasti ada, tapi gw usahain gak sampe busuk tuh kentang emoticon-Ngakak (S)

Ga perlu lama-lama dah intronya, semoga semua pada suka emoticon-Embarrassment

Selamat membaca emoticon-Blue Guy Peace

Quote:
Diubah oleh irazz1234 06-03-2019 20:55
rinnopiantAvatar border
indrag057Avatar border
Karimake.akunaAvatar border
Karimake.akuna dan 12 lainnya memberi reputasi
13
36.4K
264
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread52.9KAnggota
Tampilkan semua post
irazz1234Avatar border
TS
irazz1234
#35
Chapter 4



Beberapa jam setelah menghabiskan sup bersama Gabriel, Alyssa kembali ke kamarnya untuk beristirahat. Ia merasa gelisah memikirkan perjanjian yang ia lakukan dengan seorang vampire, namun ia merasa kalau Gabriel sedang putus asa dan itu membuatnya berada diatas angin. Pria tidak bisa menahannya sebagai tawanan, karena ia bisa menolak makan dan itu akan membuat nutrisi dalam darahnya berkurang drastis.

Alyssa merasa sangat lelah untuk memikirkan hal tersebut, dan ia memutuskan untuk langsung tidur malam itu. Kasurnya sangat empuk dan nyaman, berbaring di tempat seperti itu baru pertama kali ia rasakan. Kasur itu merupakan kasur terbesar yang pernah ia lihat seumur hidupnya, ia yakin kalau empat atau lima orang dapat tidur bersama diatasnya tanpa saling berhimpitan. Ia merasa bersalah karena hanya menikmati ruangan mewah itu sendirian, tapi itu merupakan sesuatu yang tidak akan bisa ia rasakan selama hidup di kota kecil.

Semenjak ayahnya meninggal, Alyssa dan adiknya tinggal menumpang dari satu rumah ke rumah yang lain, berbagi tempat tidur karena mereka terlalu muda untuk memiliki rumah sendiri, terkecuali bagi mereka yang telah berkontribusi banyak bagi kemajuan kota. Itulah alasannya mengapa Alyssa setuju untuk pergi keluar dan melakukan tugas untuk mencari bahan makanan.

Alyssa selalu memperjuangkan haknya untuk dapat memiliki rumah sendiri. Hal itu selalu membuatnya terjaga malam itu. Takut karena membayangkan adiknya akan menangis setiap malam karena mengira satu-satunya keluarga yang ia miliki telah tewas. Terbunuh dalam tugas untuk mencari bahan makanan seperti ayahnya beberapa tahun silam. Satu-satunya alasan ia mau bernegosiasi dengan Gabriel, karena dia akan membantunya mendapatkan suplai makanan untuk dapat hidup mandiri bersama adiknya dan bertahan hidup.

Mereka berdua mendapatkan keuntungan dari perjanjian tersebut, jadi ia harus menyingkirkan rasa takutnya mendonorkan darah untuk mendapatkan barang kebutuhan yang ia inginkan. Jika Gabriel tidak mengigitnya dan menguras habis darahnya, perjanjian ini akan menguntungkan kedua belah pihak. Pemikiran itulah, dan juga kasur super empuk dan nyaman yang membantunya untuk dapat tidur dengan nyenyak malam itu.

Keesokan harinya saat ia membuka mata, keadaan sudah cukup terang diluar. Ia menyeret kakinya perlahan kearah ruang keluarga, lalu melihat kalau tirai sudah terbuka dan sinar matahari yang cerah telah menyinari ruangan itu. Ia berjalan mengitari ruangan dan berhenti di depan rak buku besar yang berada di seberang dapur. Setelah memeriksa buku-buku yang ada, ia lalu menuju dapur untuk melihat apa yang ada disana. Ia tidak berharap banyak, tapi ternyata lemari disana penuh dengan bahan makanan, tapi apa yang ada di dalam kulkas lah yang mengejutkan dirinya.

Di dalam sana terdapat banyak kantong medis yang berisi cairan berwarna merah, dan Alyssa mengetahui betul apa yang ada didalam kantong-kantong itu. Ia menarik nafas dalam-dalam dan memeriksa apa ada susu di dalam situ dan ia juga menemukan sereal sewaktu memeriksa lemari makan lalu ia memutuskan untuk membuat sarapan. Ia lalu menuangkan sereal dalam jumlah banyak dan juga susu dalam jumlah yang sama tanpa membuat serealnya tumpah dari mangkuk. Dia jarang menikmati sarapan seperti ini, karena susu merupakan barang langka dan biasanya berbentuk bubuk, berbeda sekali rasanya dengan yang segar seperti ini. Ia memeriksa tanggal kadaluarsa susu itu dan ternyata masih dua minggu lagi. Ia berpikir mungkin Gabriel pergi berbelanja ketika dirinya sedang tidur.

Alyssa menghabiskan sebagian besar harinya menjelajahi rumah, mencari info dan petunjuk tentang pria yang tinggal di rumah besar itu. Meskipun bersemangat, tapi ia menjauhi ruangan kamar tidur, untuk menunjukkan sedikit rasa hormat kepada pria yang telah menyelamatkannya dari serangan zombie tempo hari. Gabriel terlihat tidak berbahaya, dan jika itu benar, berarti dia benar-benar membutuhkan bantuan dari dirinya. Hal itu membuat Alyssa merasa aman, dan ia juga harus melakukannya karena itu menguntungkan kedua belah pihak. Ia tidak ingin merusak hal itu dengan memeriksa terlalu jauh jadi ia hanya memeriksa sekitar ruang utama, lemari, dan bahkan kamar mandi.

Alyssa cukup terkejut karena airnya berfungsi, meskipun ia bingung bagaimana cara Gabriel melakukannya. Ia pun memutuskan untuk mandi, yang rasanya sudah lama sekali ia tidak lagi melakukannya. Karena takut kehabisan air, ia memutuskan untuk keramas dan membasuh seluruh tubuhnya dengan sabun. Menggosok leher dan bagian dadanya yang membusung ke depan dengan handuk kecil yang ia temukan disana, lalu lanjut ke bagian kewanitaannya. Cukup lama ia membersihkan area tersebut, lalu lanjut ke paha terus sampai kaki. Setelah itu ia memutuskan untuk mencuci pakaian dalamnya untuk dijemur nanti di jendela, lalu ia langsung berendam di bak mandi yang berisi air hangat. Ia ingin sekali berlama-lama berendam karena rasanya sungguh nyaman, tapi Alyssa tidak mau menjadi tamu yang tidak sopan.

Belum sampai matahari terbenam, Alyssa sudah melihat Gabriel lagi. Ia sedang membaca buku di sofa ketika Gabriel melangkah masuk kedalam ruang keluarga.

"Tidurmu nyenyak?" Alyssa bertanya.

"Apa yang membuatmu berpikir kalau aku tadi tidur?" Gabriel membalas.

Alyssa menutup bukunya, buku yang membahas tentang vampire. Mengingat dimana ia berada sekarang, rasanya buku itu merupakan pilihan yang bijak diantara buku yang lain.

"Sebagai catatan, aku lebih memilih kasur yang empuk daripada peti mati." Kata Gabriel menjelaskan. "Hal tentang peti mati berasal dari kaum kami yang terlalu ketakutan. Mereka takut seseorang akan membunuhnya saat mereka tidur, jadi mereka memilih peti mati yang bisa dikunci dari dalam. Aku tidak pernah suka gagasan itu. Jika seseorang bisa membobol rumah, mereka juga pasti bisa membobol peti mati. Aku sendiri lebih memilih ruangan aman, yang cukup luas dan aku bisa mendapatkan privasi yang lebih."

"Bagus deh kalau gitu." Ucap Alyssa lalu mengembalikan bukunya ke rak. "Apakah semua yang ada dibuku ini benar?"

"Tidak." Kata Gabriel berterus terang.
"Pemikiran orang-orang tentang kami terlalu dibuat-buat. Beberapa hal sengaja dipalsukan oleh kami sendiri. Contohnya perak tidak berpengaruh apapun kepada kami. Mitos ini telah menyelamatkan teman-temanku dalam beberapa kejadian."

"Menarik juga." Ujar Alyssa sambil memikirkan hal itu.

"Aku hanya bisa membayangkannya." Kata Gabriel sambil berjalan kearah berlawanan dengan bangku berbentuk hati yang sedang diduduki Alyssa. "Aku berusia lebih dari tiga ratus tahun. Aku cukup terkejut karena kamu tidak menanyakan apapun tentang masa lalu, khususnya sebelum perjangkitan dimana manusia sedang berjaya."

"Gimana bisa kamu bilang begitu?" Alyssa keberatan. "Kelaparan dan busung lapar di Afrika, perang bertahun-tahun untuk memperebutkan ladang minyak, orang-orang saling membunuh menggunakan senjata di dalam sekolah mereka sendiri, penembakan di dalam gedung bioskop, orang sinting yang menembaki orang-orang yang sedang menonton konser musik, apakah itu yang kamu sebut berjaya?"

"Wow, aku cukup terkesan." Ucap Gabriel sambil tersenyum kearahnya. "Apa yang membuatmu berpikir aku tidak berbicara tentang perang sipil tahun enam puluhan, atau memenangkan perang dunia? Aku akui bahwa dunia ini tidak dalam masa yang indah waktu memasuki abad kedua puluh satu, tapi tidak seburuk itu. Apapun yang aku pikirkan tentang kemanusiaan, bahkan vampire sepertiku tidak akan pernah menganggap bahwa manusia layak menerima kiamat ini."

"Benar juga." Ujar Alyssa menyerah. "Tapi kamilah yang menciptakan kiamat ini, inilah akibat yang kami terima karena mencoba menjadi tuhan."

"Itu juga benar, tapi kita tidak bisa menyalahkan orang banyak atas kecerobohan beberapa ilmuwan yang mencoba merubah vaksin flu." Kata Gabriel menikmati obrolan ini. "Ketika pertama kali hal ini terjadi, seluruh dunia seperti kebakaran jenggot. Kaum kami pun banyak yang mati, mereka yang tidak mampu terbang harus berjuang mencari jalan keluar tapi jumlah mereka terlalu banyak, bahkan bagi para vampire."

"Vampire melawan zombie." Alyssa berkata sambil memikirkannya. "Aku membayangkan berapa banyak yang bisa kalian lawan."

"Aku pernah melihat satu dari kami mampu membunuh lebih dari dua ratus zombie kurang dari tiga puluh menit." Gabriel memberitahunya. "Kami bergerak sangat cepat untuk membunuh mereka sebelum mereka dapat menyentuh kami. Benda ini juga sangat berguna dalam pertarungan."

Alyssa melihat Gabriel mengangkat tangannya dan kuku disetiap jari mulai tumbuh tepat didepan matanya hingga menjadi cakar berukuran lima centi yang terlihat sangat kuat dan tajam. Ia lalu melihat kearah Gabriel setelah menyaksikan hal tersebut.

"Aku akan menggunakan senjata jika sudah terdesak." Ujar Gabriel berterus terang. "Tapi jika aku bisa terbang tanpa harus bersentuhan dengan mereka, itulah yang akan kulakukan."

"Pilihan yang cukup bijak." Alyssa mengakuinya. "Mengecilkan resiko terinfeksi. Apa vampire juga bisa terinfeksi?"

"Ya kami bisa. Sudah lama sekali hal itu terjadi." Jawab Gabriel. "Percayalah, kalian tidak ingin hal itu terulang kembali."

"Ya, aku percaya." Ucap Alyssa. "Aku telah berpikir tentang semua yang telah kita omongin sebelumnya, dan mengingat dari apa yang kita obrolin barusan, aku yakin bisa membantumu."

"Senang sekali mendengarnya." Ucap Gabriel. "Terlebih karena kamu telah memastikannya."

"Gimana caranya mengambil darahku?" Alyssa bertanya.

"Akan kutunjukkan untuk pertama kali." Kata Gabriel menjelaskan. "Tapi setelah itu kamu harus lakukan sendiri. Lebih baik aku menjauh sewaktu kamu melakukannya. Aku masih memiliki kendali atas diriku, tapi tidak dengan naluri alamku."

"Jadi kamu mau aku ngelakuin ini sendiri? Di dalam kotaku?" Alyssa bertanya.

"Aku menyarankannya." Ucap Gabriel sedikit memaksa. "Untuk mengontrol rasa hausku."

"Boleh saja." Kata Alyssa memikirkan hal itu. "Aku gak mau lama-lama sama hal sepele kayak gini. Ajarin caranya supaya aku bisa pulang."

"Baiklah." Gabriel berkata sambil berdiri. "Aku sudah siapkan obat-obatan untukmu supaya kesehatanmu tetap terjaga sewaktu darahmu diambil. Kau bisa memintanya lagi saat aku membawakanmu bahan makanan untuk kotamu. Akan kuajari cara mengambil darahmu. Aku sarankan untuk mengisi satu kantong dalam beberapa hari, tapi tidak lebih dari tiga kantong dalam seminggu. Aku sendiri menyarankan hanya dua dalam seminggu, jadi ada jarak sekitar tiga hari. Lebih dari itu akan sangat berbahaya bagi kesehatanmu dan aku tidak ingin hal itu terjadi.".

"Baiklah." Kata Alyssa sambil menyaksikan Gabriel menyiapkan peralatan diatas meja. "Sehabis ini kamu akan antar aku pulang kan?"

"Tentu saja." Jawab Gabriel. "Aku menghargai perjanjian kita. Jadi mari kita mulai."
kudo.vicious
kudo.vicious memberi reputasi
2
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.