Kaskus

Story

irazz1234Avatar border
TS
irazz1234
Dunia Para Monster [Zombie Apocalypse Story]
Hello kaskuser dan momod tercintah emoticon-heart

Gw mau coba share cerita yang bertema horor.
Tapi horor bukan sembarang horor. emoticon-EEK!
Horor kali ini temanya Zombie Apocalypse.
Mirip kyk resident evil, the last of us, the walking dead, dll.
Tema yg cukup jarang diulas ato dibuat threadnya di SFTH.

Apdet dirilis sesuka hati, tergantung moodnya TS emoticon-Malu
Kentang sih pasti ada, tapi gw usahain gak sampe busuk tuh kentang emoticon-Ngakak (S)

Ga perlu lama-lama dah intronya, semoga semua pada suka emoticon-Embarrassment

Selamat membaca emoticon-Blue Guy Peace

Quote:
Diubah oleh irazz1234 06-03-2019 20:55
rinnopiantAvatar border
indrag057Avatar border
Karimake.akunaAvatar border
Karimake.akuna dan 12 lainnya memberi reputasi
13
36.4K
264
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread52.8KAnggota
Tampilkan semua post
irazz1234Avatar border
TS
irazz1234
#26
CHAPTER 3


Alyssa berpikir tentang apa yang Gabriel katakan dan berupaya keras mengingat kembali tentang semua dongeng vampire yang telah ia baca bertahun-tahun yang lalu di perpustakaan. Ia mengetahui bahwa vampire membutuhkan sesuatu untuk menghilangkan rasa lapar mereka dan yang jelas hal itu bukanlah sup-sayur-kalengan. Alyssa melirik ke arah Gabriel yang sedang berdiri di sisi lain ruang keluarga, menunggunya untuk sebuah jawaban.

"Kamu butuh darah, benar kan?" Alyssa bertanya.

"Ya, aku butuh." Gabriel mengiyakan jawabannya. "Tapi aku lebih suka darah manusia."

"Aku bisa saja membiarkan kamu mati," Ucap Gabriel mengingatkan. "Tapi membiarkan kamu mati oleh zombie-zombie itu rasanya sangat sia-sia."

"Apa cuma karena itu?" Alyssa bertanya. "Hanya karena kamu tidak suka menyia-nyiakan makanan?"

"Bukan, itu karena kamu belum terinfeksi." Gabriel melanjutkan, "Kami hanya bisa minum darah dari manusia yang belum berubah menjadi mayat hidup. Bukan hal yang mudah mengingat jumlah kalian telah berkurang drastis semenjak dua puluh tahun terakhir. Kaum kalian sudah mendekati daftar spesies makhluk yang terancam punah."

"Kenapa kamu gak minum saja darah para mayat hidup itu?" Alyssa berkilah, meskipun ia sendiri tahu jawabannya.

"Kami telah belajar dari hal yang terburuk bahwa darah mereka berbahaya untuk kami." Gabriel menjawab. "Kami mungkin dapat berubah menjadi zombie juga."

"Yang benar?" Kata Alyssa, terkejut atas pernyataan tersebut.

"Bukan hal yang menyenangkan untuk diingat." Kata Gabriel sambil mengingat kembali ingatannya yang kelam. "Coba bayangkan sebuah zombie dengan kecepatan super dan kekuatan yang luar biasa."

"Ya ampun." Alyssa menjawab, lalu membayangkannya. "Sebuah Super Zombie?"

"Butuh hampir dua belas orang dari kami untuk bisa mengungguli dan membunuhnya." Gabriel berkata, memandang ke arah luar jendela yang gelap. "Aku sangat ketakutan pada malam itu. Sejujurnya aku tidak tahu apa aku bisa selamat atau tidak."

"Ada berapa jumlah vampir yang terinfeksi diluar sana?" Alyssa bertanya.

"Saat ini, tidak satupun." Gabriel memberitahukan. "Kami telah menyingkirkan mereka semua. Lebih baik kami mati kelaparan daripada membuat salah satu dari kami berubah menjadi seperti itu."

"Jadi, ada berapa banyak jumlah kalian?" Alyssa bertanya.

"Sulit untuk mengatakannya." Kata Gabriel. "Kami punya kebebasan yang lebih semenjak perjangkitan virus terjadi. Lebih banyak daerah yang kami bisa kami kuasai meskipun dengan sangat hati-hati. Setidaknya mereka berada di sisi lain bumi ini. Kaum kami di Eropa senang melakukan apapun yang mereka inginkan, tanpa memikirkan resikonya."

"Jadi intinya kamu mau darahku?" Alyssa bertanya.

"Aku membutuhkannya." Sanggah Gabriel mengkoreksi pertanyaannya.

"Aku gak bisa bayangin." Alyssa mengakui, "Jadi ini alasan kamu nyelametin aku?"

"Tentu saja tidak." Gabriel menjawab. "Seperti yang aku bilang sebelumnya, sangat menyenangkan memiliki tamu disini. Sepertinya kamu juga membutuhkan bantuan. Sebenarnya aku berharap kamu bisa melakukannya secara sukarela sebagai rasa terima kasih. Aku tidak akan memaksa untuk melakukan hal yang tidak kamu suka. Tapi pilihan ada di tanganmu sendiri."

"Berapa banyak yang kamu butuhkan?" Alyssa bertanya, mencoba untuk bersikap setenang mungkin.

"Tidak banyak." Gabriel menjawab sambil berpikir. "Hanya sedikit, tanpa membahayakan tubuhmu."

"Gimana cara kita sampai kesini?" Alyssa mencoba mengalihkan pembicaraan sembari memandang keluar jendela.

"Aku bisa terbang." Kata Gabriel. "Hanya darah murni Sepertiku lah yang dapat melakukannya. Mereka yang dirubah hanya dapat memiliki beberapa kekuatan kami. Tapi tidak untuk kekuatan lain yang keren seperti terbang misalnya."

"itu hal yang sangat keren menurutku." Alyssa berkata seolah-olah itu bukan hal yang aneh. "Apa kau akan menahanku disini selamanya?"

"Sejujurnya aku belum memikirkan hal tersebut." Kata Gabriel sambil memandangi ruangan. "Aku mengerti kalau sulit bagi kita untuk menemukan makanan. Beberapa monster dapat bertahan hidup lebih baik daripada yang lainnya, tapi aku yakin bahwa Darwin akan menyebutnya sebagai evolusi dari battle royal. Mereka yang dapat bertahan hidup akan menjadi khalifah di bumi."

"Ada monster yang lainnya?" Alyssa bertanya.

"Kaum Lycanthrope berkembang biak dengan pesat." Gabriel menjawab, lalu melihat ke arah Alyssa yang sedang bingung. "Kenapa?"

"Apa itu Lycanthrope?" Alyssa bertanya kepadanya.

"Oh, mereka itu siluman serigala." Jawab Gabriel, tanpa melirik kearah wanita muda itu yang sedang terkejut. "Ya, manusia serigala itu ada."

"Gak bisa dipercaya." Kata Alyssa, lalu ia ingat kepada siapa ia berbicara sekarang.

"Bagaimana bisa mereka berjaya disaat dunia sedang kiamat?"

"Kaum Lycan bisa memakan mayat hidup." Jawab Gabriel. "Selama mereka menyiapkan dagingnya untuk diolah sedemikian rupa dan membuang bagian yang buruk, perut besi mereka dapat mencernanya dengan baik tanpa merubah diri mereka sendiri. Asalkan mereka tetap mengikuti aturan dan menjaga dapur mereka tetap bersih, mereka tidak akan pernah kekurangan makanan."

"Mengagumkan." Jawab Alyssa, lalu merinding. "Dan juga menjijikan."

"Memang." Kata Gabriel tanpa bisa menghilangkan rasa jijik. "Karena kami tidak bisa bergantung kepada daging, hal itu sangat menyulitkan kami. Darah harus berasal dari makhluk yang hidup. Itulah mengapa aku butuh bantuanmu."

"Gimana kalau aku mau pulang?" Alyssa bertanya.

"Yah, kalo gitu aku antar kamu pulang." Gabriel menawarkan. "Lalu aku akan mencari sumber makanan yang lain."

"Bisa gak kita buat penawaran." Alyssa berkata sambil mendekat. "Bagaimana kalau aku setuju untuk memberikan darahku setiap minggu, apakah itu cukup?"

Gabriel melangkah mendekat. "Akan cukup bagiku untuk bertahan hidup. Apa yang kamu inginkan sebagai balasannya?"

"Persediaan." Alyssa menjawab.

"Persediaan macam apa yang kamu butuhkan?" Gabriel menimpali.

"Persediaan yang dapat membuatku dan warga kota bertahan hidup." Ia melanjutkan "Aku sedang ada diluar sana mencari persediaan ketika aku dan grupku diserbu zombie."

"Jadi begitu." Kata Gabriel penasaran dengan ide tersebut. "Inikah cara kotamu bertahan hidup? Mengirim orang-orang keluar menuju bahaya untuk mencari makanan?"

"Kami punya kebun dan ladang, kami juga menanam sayuran dan buah-buahan tapi tempatnya terbatas." Kata Alyssa menjelaskan. "Kami tidak punya tempat yang cukup untuk memberi makan semua orang tanpa harus pergi keluar sana untuk mencari kekurangannya."

"Kenapa kamu bisa ada diluar sana?" Gabriel bertanya.

"Aku hebat dalam membunuh zombie." Kata Alyssa mengakuinya. "Aku juga salah satu dari penembak terbaik."

"Boleh juga." Kata Gabriel sambil memikirkan hal tersebut. "Jadi penawaranmu adalah jika aku dapat memberikan makanan untuk kotamu, kamu akan memberikan suplai makanan rutin untukku?"

"Benar sekali." Alyssa menyetujui.

"Sejujurnya, aku tertarik dengan tawaran ini." Aku Gabriel. "Tapi kenapa kamu mau kembali ke kotamu? Aku bisa memenuhi semua kebutuhanmu disini. Kamu bisa tinggal disalah satu apartemen kosong di gedung ini."

"Kedengarannya menarik." Alyssa menimpali. "Tapi tidak bisa. Aku harus kembali ke kota asalku, ada banyak orang yang aku sayang disana. Salah satunya adalah adikku."

"Aku mengerti." Kata Gabriel setuju. "Maaf kalau aku tidak peka."

"Gak apa-apa." Kata Alyssa. "Disaat sulit seperti ini banyak orang yang datang dan pergi. Tapi aku punya rumah untuk tempatku kembali, pulang ke keluarga yang kusayang."

"Aku mengerti." Kata Gabriel. "Kamu menyukai orang-orang dikotamu, dan tinggal ditempat ini akan membuatmu cepat merasa bosan. Jadi intinya, kalau aku terbang membawamu kerumah, kita akan bertemu lagi setidaknya sekali dalam dua minggu untuk memberi ku makan?"

"Ya, itulah tawarannya." Alyssa membenarkan. "Tapi kamu juga harus membantuku soal persediaan makanan."

"Itu bagian yang paling mudah." Gabriel mengakui. "Ada banyak cara untuk memenuhi apa yang kotamu butuhkan, dan itu tidak akan membahayakan kita sama sekali."

"Benarkah?" Ucap Alyssa, penasaran akan apa yang pria ini ketahui.

"Kita akan mengumpulkan persediaan dari kota-kota besar." Gabriel menyarankan.

"Tapi semua kota besar telah terinfeksi." Sergah Alyssa. "Akan ada lebih banyak bahaya disana."

"Tidak semuanya." Gabriel mengkoreksinya. "Banyak dari tempat tersebut yang bebas dari zombie. Sepertinya dinding tebal dan peraturan yang ketat dapat menjauhkan mereka dari bahaya."

"Tunggu dulu, kota besar mana yang kita bicarakan?" Alyssa bertanya. "Aku tidak tahu keadaan kota lain diluar kotaku sendiri."

"Sulit untuk dijelaskan." Kata Gabriel sambil berjalan keruangan yang lain. "Lebih mudah untuk menunjukannya langsung kepadamu."
Gabriel lalu membuka lemari dan mengambil sesuatu seperti sebuah gulungan kertas yang besar. Gabriel berjalan menuju meja makan lalu membuka gulungan tersebut tanpa menyentuh panci sup. Itu adalah map Amerika Serikat dengan banyak gambar lingkaran diatasnya.

Alyssa berjalan mendekat untuk mengamatinya. "Lingkaran merah apa ini?"

"Itu adalah kota-kota besar yang masih berfungsi." Gabriel menjelaskan. "Mereka berhasil melawan balik dan membuat barikade untuk menghalau zombie-zombie masuk melalui perbatasan kota. Seperti yang kubilang, dinding tembok tinggi cukup berhasil menahan mereka. Beberapa kota dapat bertahan sementara sebelum kehancuran terjadi antara mereka karena kelaparan dan perang antar status. Kota yang dapat bertahan adalah mereka yang memperlakukan warganya tanpa memandang status sosial ataupun jabatan, setidaknya tidak ada yang hidup mewah diantara semuanya."

Alyssa tidak terlalu mendengarkan penjelasan Gabriel karena ia terlalu sibuk menghitung jumlah lingkaran merah yang ada. "Aku gak percaya ini, ada lebih dari lima belas kota disini!"

"Dimana lokasi kotamu?" Gabriel bertanya. Ia memandang Alyssa yang sedang menunjuk ke salah satu titik diatas peta dan ia mengangguk seolah mengerti sesuatu, "Itu cukup menjelaskan kenapa kotamu sangat terisolir dari kota yang lain. Jarak kota terdekat sekitar dua ratus kilometer jauhnya."

Alyssa masih melihat kearah peta. "Kenapa ada beberapa kota yang dilingkari hijau? Aku hitung ada enam disini."

Gabriel menarik nafas dalam-dalam. "Itu adalah kota yang tidak dihuni oleh manusia."
Alyssa terdiam sejenak, "Kalau gitu mereka dihuni oleh apa?"

"Monster, seperti diriku." Gabriel menjawab.

"Kota vampire ada dimana?" Alyssa bertanya.

"Tidak satu pun." Ia menjawab. "Kami tidak tinggal di tengah kota di belahan bagian bumi ini. Mungkin ada satu di Eropa tapi aku malas untuk mencari tau. Terbang melintasi samudra terlalu berat bagi kami, dan hanya ada beberapa yang sanggup melakukannya. Kami tidak dikenal karena kemampuan kami bersosialisasi, jadi cukup sulit bagi kami untuk membentuk kelompok atau pemerintahan. Aku pindah ke Amerika untuk menghindari para pengurus dewan yang kaku. Kami tidak terlalu akrab."

"Ada berapa banyak jenismu disini?" Alyssa bertanya, "Kira-kira saja."

Gabriel menghela nafas sambil memikirkannya. "Mungkin sekitar dua ratus, mungkin juga lebih."

"Baiklah." Ucap Alyssa memikirkan hal tersebut. "Jika memang tidak ada satupun kota vampire, lalu kota apa ini?"

"Contohnya ini, New Salem, kota para penyihir." Kata Gabriel sambil menunjuk kearah peta. "Kami tidak pernah pergi kesana. Cukup menakutkan bahkan bagi kami."

"Apakah kota-kota tersebut cukup ramah?" Alyssa bertanya.

"Yang satu ini." Kata Gabriel sambil menunjuk kearah kota yang lain. "Mereka cukup bersahabat. Setiap makhluk punya bangunannya sendiri, surga yang cukup aman bagi kami. Jadi jika aku mengunjungi kota ini, aku akan tinggal di gedung vampire. Polisinya merupakan warga lokal, tapi mereka ditugaskan untuk melindungi kami."

"Cukup menarik." Ucap Alyssa.

"Kita juga bisa mampir ke kota manusia." Gabriel menganjurkan. "Sepengetahuanku, Kota-kota ini merupakan tempat yang baik untuk membeli persediaan. Mereka lebih beradab dan tidak akan menanyakan apapun yang kita beli."

"Wow, benarkah?" Kata Alyssa sambil memandangi peta. "Aku akan seneng banget kalo bisa pergi kesana. Berada di tengah-tengah manusia lagi."

"Mungkin nanti." Gabriel berkata. "Jika semuanya berjalan dengan lancar."

"Jadi kamu setuju dengan tawaran yang kuberikan?" Alyssa balas bertanya.

"Aku sanggup melakukannya." Ucap Gabriel sambil berpikir jauh tentang hal itu. "Tapi aku ingin kamu tinggal disini sehari lagi. Aku harus menyiapkan peralatan medis supaya dapat mengambil darahmu yang bersih tanpa meninggalkan bekas gigitan."

"Aku seneng kamu bilang begitu." Ucap Alyssa sambil tertawa. "Aku gak mau hal yang buruk terjadi padaku."

"Gigitan langsung tidak dianjurkan." Gabriel mengakuinya. "Sekali kami menancapkan taring akan sangat susah untuk melepasnya, dan akan menjadi fatal akibatnya untuk manusia. Tapi dengan menyimpannya kedalam kantong, aku dapat mengendalikan rasa hausku."

"Dengan kata lain, mengontrol porsi makan." Ucap Alyssa dengan tawa renyah.

"Kurang lebih begitu." Angguk Gabriel setuju.

"Aku hargai kejujuranmu." Alyssa berkata, lalu melanjutkan menyeruput supnya sambil melihat peta diatas meja. Suara zombie diluar sana samar-samar terdengar, dan itu agak sedikit menakutinya.

"Mereka tidak bisa naik kesini." Ujar Gabriel menenangkannya seolah mengerti akan ketakutan Alyssa. "Juga tidak akan ada orang lain yang kesini karena zombie-zombie itu. Anggap saja itu pertahanan pertama kita."

"Cara yang aneh." Alyssa menyimpulkan.

"Aku tidak harus menjaga pintu masuk supaya mereka tidak kesini." Gabriel menjelaskan lalu melihat keluar jendela. "Betapa bersyukurnya aku karena kamu mau membantu. Akan kulakukan sebaik mungkin agar perjanjian ini tetap terjaga."

"Kapan aku boleh pulang?" Alyssa bertanya.

"Dua hari." Jawab Gabriel. "Aku akan cukup kuat untuk membawamu dan beberapa persediaan kembali ke kotamu."

"Terima Kasih." Ucap Alyssa, "Karena telah menyelamatkanku dan juga soal tawaran itu."

"Aku punya beberapa persediaan yang tidak kubutuhkan." Lalu ia melanjutkan, "Aku akan mengisi beberapa tas dengan bahan makanan. Agar mereka tidak menanyaimu macam-macam saat kau datang dan menunjukkan hasil pencarianmu."

"Setuju." Alyssa menjawab. "Terima kasih."

"Akulah yang seharusnya berterima kasih." Ucap Gabriel sembari membungkuk hormat. "Habiskan supnya, itu bagus untukmu dan darahmu."
kudo.vicious
kudo.vicious memberi reputasi
3
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.