Kaskus

Story

hujan.soresoreAvatar border
TS
hujan.soresore
Gadis Bingung dan Pengembara
Gadis Bingung dan Pengembara



Quote:


INDEX

Its freezing outside ...

Merindukanmu juga, sangat merindukanmu

Dan semua itu karena mereka pandir!

Gue Fahrezi

The Barbietch

Sore hari yang dijanjikan

Cerah...?

Rapat Rakyat Indonesia

Seuntai Awan Kecil

Day by day pass away

Well, I Should Say Thanks or Terima Kasih?

Janji sama gue..

Seperti beruang gendut kuning dengan baju merah kekecilan

Penghuni The Gloomy

Ada Rindu di Sepotong Ubi Cilembu

Itu milik Ezra

Gadis Bingung dengan rantai kacamata menjuntai

Ingin Bertemu Cerah

Pelangi di Senja Hari Bulan November

Candu

Hari-hari Bertualang Tanpa Akhir

Hari Hitam Legam

Semesta Bertautan

Dia Hanya Berhenti Bermain

Di Bawah Hujan

Abhipraya



Diubah oleh hujan.soresore 17-02-2018 05:20
anasabilaAvatar border
anasabila memberi reputasi
1
8.9K
66
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
33KThread54.4KAnggota
Tampilkan semua post
hujan.soresoreAvatar border
TS
hujan.soresore
#63
Dia Hanya Berhenti Bermain


Fahrezi masih memaki-maki Bang Jose dalam hati saat mengambil tempat kesukaanya di sudut theatre. Malam ini konser orkestra lain ia datangi. Paling tidak selusin pemain musik di atas podium itu adalah kenalannya. Bertahun-tahun tidak bermain bukan berarti Fahrezi memutuskan begitu saja hubungan dengan musik. Dia hanya berhenti bermain.

Sejak Praya berhenti menggesek dawai, itu juga kali terakhir jemari Fahrezi menari di atas tuts. Ayahnya yang mengenalkan piano pertama kali. Umurnya empat setengah tahun waktu itu. Ia benci kenyataan betapa ia mencintai piano, betapa ia mahir dengan cepat, betapa ia terikat atas persegi hitam putih yang menaungi ratusan dawai bertautan itu. Menaungi keterikatanya dengan Praya.

Sekian hari setelah kali terakhir jemarinya menekan tuts, Fahrezi pernah mendapati ibunya terisak lama sekali di hadapan alat musik itu. Atau lain waktu saat ibu diam-diam membersihkan segenap trofi dan tanda mata penghargaan miliknya. Membuat Fahrezi jadi membenci dirinya sendiri.

Ribuan melodi dari puluhan alat musik berbagai tempo silih berganti membelai indranya malam itu. Inilah tujuannya datang ke gedung dewan kesenian sejak sore tadi. Alasan yang membawanya bisa mendengar suara semanis gulali sekali lagi.

Dua simfoni sebelum konser ditutup Fahrezi bergegas pergi. Dia tidak ingin berbasa-basi dengan siapa saja. Terlebih soal musik juga piano. Ia sadar betul mungkin separuh penonton di theatre itu dikenalnya, juga mengenalnya sebagai sosok pemain.

Selangkah dari pintu keluar loby theatre Fahrezi mendengar namanya diucapkan dengan ritmis oleh suara amat dikenalnya. Suara semanis gulali. Dalam sekejap Fahrezi tersadar tengah menunggu Cerah datang menghampirinya dengan langkah cepat dari seberang ruangan.

"Lu nonton konser juga yaa. Kenapa pulang duluan? Jangan bilang mau ngejer kereta juga," cerocos si gadis bingung. Ringan saja Cerah menemuinya. Terngiang selorohan Bang Jose sore tadi, kembali menyumpah-nyumpah Fahrezi dalam hati.

"Hampir tengah malam begini kamu pulang sendiri," Fahrezi menatap Cerah keheranan usai mendengar gadis itu menjelaskan perihal jadwal kereta yang hendak dia kejar panjang lebar.

Fahrezi spontan menawarkan tumpangan, Cerah dengan sopan menolak. Fahrezi memaksa sampai dirinya sendiri keheranan. "Boleh deh sampai stasiun ya, ke asrama udah deket dari stasiun kok. Maaf ngerepotin ya sebelumnya," jawab Cerah enggan mendebatnya lebih lama. Fahrezi terdiam, entah mesti berujar apa. Dalam sunyi ia temukan kenyamanan saat berjalan bersisian si gadis bingung menuju mobilnya.

Keluar dari gedung dewan kesenian Fahrezi melewatkan jalan ke arah stasiun. "Gw anter sampe asrama ya," katanya pendek tak bisa ditawar. Cerah memajukan bibir sesaat, mengangguk pendek. Satu setengah jam lamanya perjalanan itu, selain suara radio dari amplifier mini di dalam mobil, sesekali suara Cerah terdengar menunjukkan arah.

Fahrezi berhenti di hadapan pagar besi menjulang warna biru gelap. Asrama tempat Cerah tinggal selemparan jarak dari kampus. Mestilah dia tinggal di asrama, negeri para unicorn terlalu jauh dari sini, Fahrezi tersenyum geli tanpa sadar. "Apa yang mendadak bikin seneng banget sih?" Cerah mengerutkan kening. Fahrezi menggeleng cepat. Si gadis bingung menutup malam itu dengan senyuman lengkung pelangi di senja hari sehabis hujan bulan November.
Diubah oleh hujan.soresore 17-02-2018 05:12
0
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.