- Beranda
- Stories from the Heart
Gadis Bingung dan Pengembara
...
TS
hujan.soresore
Gadis Bingung dan Pengembara

Quote:
INDEX
Its freezing outside ...
Merindukanmu juga, sangat merindukanmu
Dan semua itu karena mereka pandir!
Gue Fahrezi
The Barbietch
Sore hari yang dijanjikan
Cerah...?
Rapat Rakyat Indonesia
Seuntai Awan Kecil
Day by day pass away
Well, I Should Say Thanks or Terima Kasih?
Janji sama gue..
Seperti beruang gendut kuning dengan baju merah kekecilan
Penghuni The Gloomy
Ada Rindu di Sepotong Ubi Cilembu
Itu milik Ezra
Gadis Bingung dengan rantai kacamata menjuntai
Ingin Bertemu Cerah
Pelangi di Senja Hari Bulan November
Candu
Hari-hari Bertualang Tanpa Akhir
Hari Hitam Legam
Semesta Bertautan
Dia Hanya Berhenti Bermain
Di Bawah Hujan
Abhipraya
Diubah oleh hujan.soresore 17-02-2018 05:20
anasabila memberi reputasi
1
8.9K
66
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.6KAnggota
Tampilkan semua post
TS
hujan.soresore
#61
Hari Hitam Legam
Bertahun-tahun Fahrezi menjalani hari-hari yang disebutnya bertualang tanpa akhir yang lepas kendali. Sekali waktu sempat kena tangkap. Dipukuli ayahnya habis-habisan, masuk rehabilitasi beberapa bulan, lantas kembali lagi ke rutinitas.
Suatu malam di atap rumah petak tempat ia dan sejawatnya biasa memadat Fahrezi bergeming mendengar Praya menggesek dawai. Keduanya sedang sadar saat itu. Praya mengulurkan kertas lusuh berisikan bualan seorang komandan perang dari negeri antah berantah soal kehidupan.
Fahrezi menerimanya dengan kening bertaut. "Apa sih yang bikin lo kagum banget sama cerita ini. Udah kayak dapet wangsit dari Tuhan," selorohnya sembari mengibaskan kertas lusuh itu kembali ke hadapan Praya.
Praya menepis tangan sahabatnya. "Kadang orang butuh wake-up call buat ngelanjutin hidup kayak yang dilakukan awan kecil. Tapi mesti ada orang yang mau ngorbanin diri kayak awan kecil supaya hidup orang lain jadi lebih baik. Hidup sedih Kalo dipikirin ya bro," ucapnya menerawang disambut tawa membahana sahabatnya.
Fahrezi terpingkal sampai berguling ke lantai. Entah kenapa ia tertawa sekeras itu. Praya meningkahi tawanya dengan tawa yang lebih keras lagi, sampai terjungkal dari bangku plastik murahan tempatnya duduk. Kali pertama Fahrezi melepaskan sesuatu dari dalam hati dalam keadaan sadar.
Dilipatnya rapi kertas yang memuat cerita si awan kecil itu. "Ni gw simpen rapet di dalem dompet ya biar lo senang," ucap Fahrezi sebelum meninggalkan Praya. Kali terakhir ia menatap mata sahabatnya. Praya over dosis malam hari itu. Koma beberapa hari di rumah sakit sampai organnya menyerah.
Hari di saat organ Praya menolak hidup adalah hari hitam legam bagi Fahrezi. Seperti debu vulkanik berjatuhan dari langit kemudian menutup total kemungkinan matahari meradiasi cahanya menembus atmosphere bumi. Ia ingat dadanya sesak sekali tanpa mampu mengeluarkan sebutir air matapun.
***
Malam ini tangan Fahrezi meremukkan kertas hvs lusuh yang sama. Kertas berisi cerita si awan kecil, cerita kesukaan Praya. Lebih dari dua tahun sepeninggal Praya, kali pertama kertas lusuh itu keluar dari dompetnya.
Fahrezi lantas menjatuhkan bulir air mata seperti hujan, sekujur tubuhnya bergetar hebat. Kali pertama kesal dan marahnya pada Praya, pada hidup, pada keadaan, pada apa saja, membuncah tanpa bisa diredam.
Lalu refleks tangannya menyalin setiap kata pada hvs lusuh dalam komputer, mengirimkanya pada si gadis bingung. Ia hapal betul alamat email itu. Tertulis apik di sudut halaman buku yang dipinjamkan gadis bingung padanya berhari-hari lalu.
Checklist tanda email terkirim di layar komputer yang tak lama muncul seolah menyadarkan Fahrezi pada tindakan randomnya. Berulang kali memaki diri sendiri. Bahkan ia sendiri kebingungan untuk apa mengirim email pada Cerah. Cerah, pemilik nama itu sungguh membuat dunianya jungkir-balik dalam sekali jentikan jari.
Diubah oleh hujan.soresore 17-02-2018 05:02
0