- Beranda
- Stories from the Heart
GW BERTEMAN DENGAN KOLONG WEWE (CHAPTER 3 / FINAL CHAPTER)
...
TS
juraganpengki
GW BERTEMAN DENGAN KOLONG WEWE (CHAPTER 3 / FINAL CHAPTER)
GW BERTEMAN DENGAN KOLONG WEWE (CHAPTER 3 / FINAL CHAPTER)

Cool Cover By Agan Linbara (Thanks, Bree)..
Prolog
Setelah bangun dari ‘Mati Suri’ karena memutuskan untuk mencoba membunuh diri sendiri untuk melindungi Kitab Langit dan melenyapkan Bayu Ambar, gw kembali ke dunia nyata.. Kehidupan gw sedikit jauh berbeda, karena pengalaman ‘Mati Suri’ itu berefek langsung pada kelebihan yang gw miliki.. Gw masih sama Anggie, meski ujian atas cinta kami masih saja mendera.. Ada musuh baru, tentu saja.. Tapi ada juga sahabat baru yang muncul.. Karena ini akhir dari cerita kami berempat..
Kembalinya Anak Ibu...
Pengorbanan Pedang Jagat Samudera...
Cintai Aku Sewajarnya, Yank...
Matinya Seorang Saudara (Versi Gw/Bimo)
Berkumpul Kembali...
Keanehan Yang Mulai Muncul...
Sambutan Ketiga Saudara Ke Reinata...
Sabar???
Cukup! Tinggalin Aku Sendiri!!!
Siapa Kau???
Aku Ikutin Kemauan Kamu...
Keputusan Sepihak Yang Pahit...
Semua Beban Menjadi satu
Semua Beban Menjadi Satu (2)...
Serangkum Rindu Untuk Ayah...
Munculnya Penguasa Laut Utara...
Bertemunya Dua Penguasa...
Sebuah Kesepakatan...
Ibu Kenapa Yah???
Lu Kenapa, Ka???
Wanted Dead Or Alive.. ANTON!!!
Mo 'Perabotan' Lu Hancur Apa Tanggung Jawab???
It's The End Of Us...
Di Kerjain Ibu...
Ridho!!!
Kelewatan!!!
Munculnya Dua Penjaga Gerbang Kerajaan Laut...
Dewi Arum Kesuma VS Dewi Ayu Anjani
Datangnya Sosok Seorang Pemisah Dan Shock Therapy Buat Gw...
Kerajaan Jin...
Terkuaknya Semua Jawaban...
Maafin Gw, Bree...
Pengakuan Suluh...
Akhirnya Boleh Gondrong...
Pernikahan Kak Silvi Yang Seharusnya Membuat Gw Bahagia...
Pernikahan Kak Silvi Yang seharusnya Membuat Gw Bahagia (2)...
Tunggu Pembalasan Gw!!!...
Ni Mas Linduri dan Banas Ireng...
Dua Sosok Penyelamat Misterius...
Ada Apa Sama Ridho?...
Kesalahan Fatal...
Kembalinya Jin Penjaga Ridho dan Suluh...
Akibat Terlalu Ikut Campur...
Setiap Perbuatan Akan Mendapat Balasan...
Munculnya Viny Dan Sebuah Tantangan Bertarung...
Manusia Cabul...
Suara Penolong Misterius...
Bertemunya Kembali Sepasang Kekasih...
Terkuaknya Kebenaran...
Kabar Baik Ayu Dan Prasangka Sekar...
Kabar Baik Ayu Dan Prasangka Sekar (2)...
Jaket Dan Celana Jeans Robek Serta Sweater Hitam Kumal...
She's My True Love...
Dilema...
Pertengkaran Dengan Ibu...
Rambe Lantak...
Gendewa Panah Pramesti...
Akan Ku Balaskan Dendam Mu, Arum Kesuma!!!
Yang Hilang dan Yang Kembali...
Jawaban Ayu...
Mati Gw!!!
Aku Makin Sayang...
Nasihat Om Hendra...
Jera Mencuri...
Ajian Segoro Geni...
Pilihan Sulit...
Keputusasaan Anggie...
Kabar Baik dari Ridho dan Suluh...
Perjalanan Menuju Pembalasan Dendam...
Rawa Rontek...
Rawa Rontek 2 (Terbayarnya Dendam)...
Kedatangan Pak Sugi...
Orang Titipan...
Hukuman Paling Berat...
Tidurlah Di Pangkuan Ku...
Menjajal Kesaktian...
Menjajal Kesaktian (2)...
Pengakuan Mengejutkan Babeh Misar...
Pengajaran Ilmu Silat Betawi...
Di Kepret Babeh Misar Lagi...
Tasya...
Naga Caglak dan Bajing Item...
Misteri Sebuah Dendam...
Kekuatan Sejati Kitab Langit Bagian Matahari...
Perpisahan...
Tanah, Air, Api dan Setetes Darah dari Jantung Seorang Putera...
Tanah, Air, Api dan Setetes Darah dari Jantung Seorang Putera (2)...
Kembalinya Ibu...
Empat Bayangan Hitam...
Siapa Ni Mas Laras Rangkuti???
Dendam Seorang Sahabat...
Ini Keputusan Yang Harus Gw Ambil...
Semua Pengorbanan Ini Demi Ibu...
Rapuh...
Kabar Mengejutkan Sekar dan Sebuah Restu...
Siasat Braja Krama...
Munculnya Kitab Langit...
Si Pembuka Kitab langit dan Sosok Asli Pak Sugi...
Rencana Yang Matang...
Lamaran Pribadi...
Keingintahuan Anggie...
Perubahan Rencana...
Hampir Terjebak...
Kekecewaan Sekar...
Dua Syarat Reinata...
Aku Harap Kamu dan Anggie Bahagia, Mam...
Rahasia Sepasang Suami Isteri...
Menitipkan Amanah...
Berkumpulnya Para Pembela Kitab Langit...
Siasat Ki Purwagalih...
Raja Jin Raja Muslihat (Nyesek, Bree)...
Pertukaran Tawanan...
Perang Gaib PunTak Terelakkan...
Sang Penyelamat Dari Utara...
Pertempuran Awal Dua Penguasa Kerajaan Gaib...
Bertekuk Lututnya Sekutu Braja Krama...
Pertarungan Dua Putera (Gugurnya Satu Sahabat Gaib)...
Krama Raja...
Braja Krama Versus Krama Raja...
Raja Licik...
Aku Lah Sang Pembuka...
Siasat Krama Raja dan Bayu Ambar...
Terbukanya Semua Ilmu Terlarang...
Sebuah Pengecualian...
Sri Baduga Maharaja...
Hilangnya Sebuah Pengecualian...
Hilangnya Sebuah Pengecualian (2)...
Sebuah Pengorbanan...
Pahlawan...
Sumpah...
Ilmu Pamungkas yang Terlarang...
Kabar Yang Mengejutkan...
Pulang...
Pulang (2)...
Sedikit Kisah Rio Sebelum Kisah Ini Tamat...
Terhalang Sumpah...
Bantuan Sahabat Baik...
Bachelor Party...
Keturunan Lain Sang Prabu...
Pembalasan Dendam Singgih...
Sepenggal Kisah Nyi Mas Roro Suwastri...
Tawaran Yang Mengejutkan...
Lawan Atau Kawan???
Terkuaknya Silsilah...
Sebuah Kebenaran...
Sebuah Kebenaran (2)...
Bertemunya Dua Keturunan Sang Prabu...
Pertempuran Dua Hati...
Cinta Pertama VS Cinta Terakhir Jagat Tirta...
Pengakuan Bayu Barata...
Ki Larang dan Nyi Mas Galuh Pandita???
Prana Kusuma...
Kau Benar Keturunan Kami, Ngger...
Our Big Day...
Insiden...
Munculnya Para Tamu Tak Terduga...
Munculnya Para Tamu Tak Terduga (2)...
Dua Tamu Istimewa...
Semua Karena Cinta...
Keputusan Sekar Kencana...
Kena Gampar...
Bonyok!!!
RIBET!!!
Berdamai...
Keponakan Baru...
Malam Pertama dan Tiga Keanehan...
Ajian Warisan Para Leluhur (The Last Part/End Of All Chapters)
SIDE STORIES
Keturunan Yang Tersesat...
Keturunan Yang Tersesat (2)...

Cool Cover By Agan Linbara (Thanks, Bree)..
Prolog
Setelah bangun dari ‘Mati Suri’ karena memutuskan untuk mencoba membunuh diri sendiri untuk melindungi Kitab Langit dan melenyapkan Bayu Ambar, gw kembali ke dunia nyata.. Kehidupan gw sedikit jauh berbeda, karena pengalaman ‘Mati Suri’ itu berefek langsung pada kelebihan yang gw miliki.. Gw masih sama Anggie, meski ujian atas cinta kami masih saja mendera.. Ada musuh baru, tentu saja.. Tapi ada juga sahabat baru yang muncul.. Karena ini akhir dari cerita kami berempat..
Kembalinya Anak Ibu...
Pengorbanan Pedang Jagat Samudera...
Cintai Aku Sewajarnya, Yank...
Matinya Seorang Saudara (Versi Gw/Bimo)
Berkumpul Kembali...
Keanehan Yang Mulai Muncul...
Sambutan Ketiga Saudara Ke Reinata...
Sabar???
Cukup! Tinggalin Aku Sendiri!!!
Siapa Kau???
Aku Ikutin Kemauan Kamu...
Keputusan Sepihak Yang Pahit...
Semua Beban Menjadi satu
Semua Beban Menjadi Satu (2)...
Serangkum Rindu Untuk Ayah...
Munculnya Penguasa Laut Utara...
Bertemunya Dua Penguasa...
Sebuah Kesepakatan...
Ibu Kenapa Yah???
Lu Kenapa, Ka???
Wanted Dead Or Alive.. ANTON!!!
Mo 'Perabotan' Lu Hancur Apa Tanggung Jawab???
It's The End Of Us...
Di Kerjain Ibu...
Ridho!!!
Kelewatan!!!
Munculnya Dua Penjaga Gerbang Kerajaan Laut...
Dewi Arum Kesuma VS Dewi Ayu Anjani
Datangnya Sosok Seorang Pemisah Dan Shock Therapy Buat Gw...
Kerajaan Jin...
Terkuaknya Semua Jawaban...
Maafin Gw, Bree...
Pengakuan Suluh...
Akhirnya Boleh Gondrong...
Pernikahan Kak Silvi Yang Seharusnya Membuat Gw Bahagia...
Pernikahan Kak Silvi Yang seharusnya Membuat Gw Bahagia (2)...
Tunggu Pembalasan Gw!!!...
Ni Mas Linduri dan Banas Ireng...
Dua Sosok Penyelamat Misterius...
Ada Apa Sama Ridho?...
Kesalahan Fatal...
Kembalinya Jin Penjaga Ridho dan Suluh...
Akibat Terlalu Ikut Campur...
Setiap Perbuatan Akan Mendapat Balasan...
Munculnya Viny Dan Sebuah Tantangan Bertarung...
Manusia Cabul...
Suara Penolong Misterius...
Bertemunya Kembali Sepasang Kekasih...
Terkuaknya Kebenaran...
Kabar Baik Ayu Dan Prasangka Sekar...
Kabar Baik Ayu Dan Prasangka Sekar (2)...
Jaket Dan Celana Jeans Robek Serta Sweater Hitam Kumal...
She's My True Love...
Dilema...
Pertengkaran Dengan Ibu...
Rambe Lantak...
Gendewa Panah Pramesti...
Akan Ku Balaskan Dendam Mu, Arum Kesuma!!!
Yang Hilang dan Yang Kembali...
Jawaban Ayu...
Mati Gw!!!
Aku Makin Sayang...
Nasihat Om Hendra...
Jera Mencuri...
Ajian Segoro Geni...
Pilihan Sulit...
Keputusasaan Anggie...
Kabar Baik dari Ridho dan Suluh...
Perjalanan Menuju Pembalasan Dendam...
Rawa Rontek...
Rawa Rontek 2 (Terbayarnya Dendam)...
Kedatangan Pak Sugi...
Orang Titipan...
Hukuman Paling Berat...
Tidurlah Di Pangkuan Ku...
Menjajal Kesaktian...
Menjajal Kesaktian (2)...
Pengakuan Mengejutkan Babeh Misar...
Pengajaran Ilmu Silat Betawi...
Di Kepret Babeh Misar Lagi...
Tasya...
Naga Caglak dan Bajing Item...
Misteri Sebuah Dendam...
Kekuatan Sejati Kitab Langit Bagian Matahari...
Perpisahan...
Tanah, Air, Api dan Setetes Darah dari Jantung Seorang Putera...
Tanah, Air, Api dan Setetes Darah dari Jantung Seorang Putera (2)...
Kembalinya Ibu...
Empat Bayangan Hitam...
Siapa Ni Mas Laras Rangkuti???
Dendam Seorang Sahabat...
Ini Keputusan Yang Harus Gw Ambil...
Semua Pengorbanan Ini Demi Ibu...
Rapuh...
Kabar Mengejutkan Sekar dan Sebuah Restu...
Siasat Braja Krama...
Munculnya Kitab Langit...
Si Pembuka Kitab langit dan Sosok Asli Pak Sugi...
Rencana Yang Matang...
Lamaran Pribadi...
Keingintahuan Anggie...
Perubahan Rencana...
Hampir Terjebak...
Kekecewaan Sekar...
Dua Syarat Reinata...
Aku Harap Kamu dan Anggie Bahagia, Mam...
Rahasia Sepasang Suami Isteri...
Menitipkan Amanah...
Berkumpulnya Para Pembela Kitab Langit...
Siasat Ki Purwagalih...
Raja Jin Raja Muslihat (Nyesek, Bree)...
Pertukaran Tawanan...
Perang Gaib PunTak Terelakkan...
Sang Penyelamat Dari Utara...
Pertempuran Awal Dua Penguasa Kerajaan Gaib...
Bertekuk Lututnya Sekutu Braja Krama...
Pertarungan Dua Putera (Gugurnya Satu Sahabat Gaib)...
Krama Raja...
Braja Krama Versus Krama Raja...
Raja Licik...
Aku Lah Sang Pembuka...
Siasat Krama Raja dan Bayu Ambar...
Terbukanya Semua Ilmu Terlarang...
Sebuah Pengecualian...
Sri Baduga Maharaja...
Hilangnya Sebuah Pengecualian...
Hilangnya Sebuah Pengecualian (2)...
Sebuah Pengorbanan...
Pahlawan...
Sumpah...
Ilmu Pamungkas yang Terlarang...
Kabar Yang Mengejutkan...
Pulang...
Pulang (2)...
Sedikit Kisah Rio Sebelum Kisah Ini Tamat...
Terhalang Sumpah...
Bantuan Sahabat Baik...
Bachelor Party...
Keturunan Lain Sang Prabu...
Pembalasan Dendam Singgih...
Sepenggal Kisah Nyi Mas Roro Suwastri...
Tawaran Yang Mengejutkan...
Lawan Atau Kawan???
Terkuaknya Silsilah...
Sebuah Kebenaran...
Sebuah Kebenaran (2)...
Bertemunya Dua Keturunan Sang Prabu...
Pertempuran Dua Hati...
Cinta Pertama VS Cinta Terakhir Jagat Tirta...
Pengakuan Bayu Barata...
Ki Larang dan Nyi Mas Galuh Pandita???
Prana Kusuma...
Kau Benar Keturunan Kami, Ngger...
Our Big Day...
Insiden...
Munculnya Para Tamu Tak Terduga...
Munculnya Para Tamu Tak Terduga (2)...
Dua Tamu Istimewa...
Semua Karena Cinta...
Keputusan Sekar Kencana...
Kena Gampar...
Bonyok!!!
RIBET!!!
Berdamai...
Keponakan Baru...
Malam Pertama dan Tiga Keanehan...
Ajian Warisan Para Leluhur (The Last Part/End Of All Chapters)
SIDE STORIES
Keturunan Yang Tersesat...
Keturunan Yang Tersesat (2)...
Diubah oleh juraganpengki 15-07-2018 20:23
iskrim dan 132 lainnya memberi reputasi
127
2.1M
8K
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
juraganpengki
#2665
Nasihat Om Hendra...
Gw terdiam masih menghadap ke depan, tapi sudah bersiap dengan dua telapak tangan tersisi Ajian Tapak Jagat.. Rasa penasaran bercampur rasa kesal karena ada hal gaib yang muncul disaat Ibu sedang dirawat, membuat gw ingin sekali melihat sosok berkekuatan tinggi yang ada dibelakang..
Namun, terpaksa gw tekan semua yang gw rasakan disebabkan permintaan sosok asing tersebut.. Terlebih, gw juga merasakan aura kekuatan sosok itu sama sekali tidak menantang..
“Jaga diri dan keluarga mu serta orang-orang yang kau sayang, anak manusia.. Minta perlindungan dari Penguasa Alam Semesta.. Hanya kepada Nya lah dirimu menyembah, dan hanya kepada Nya lah kau patut meminta perlindungan” Ucap sosok asing itu yang membuat gw mengerutkan dahi akan maksud kalimatnya..
Baru saja ucapan sosok tadi terdengar, mendadak gw merasakan aura nya yang kuat lenyap seketika.. Langsung gw membalikkan badan dan hanya mendapati udara kosong serta sisa bau harum bunga cengkeh.. Kening gw kembali berkerut menyadari sosok asing yang datang untuk memperingatkan gw itu, telah lenyap tanpa bekas..
“Aneh.. Siapa dia? Terus maksud omongannya apaan yah?” Tanya gw pada diri sendiri, sambil membalikkan badan kembali dan melangkah menuju ruang rawat..
Sesampainya gw di koridor ruang rawat Ibu, Reinata nampak sedang menelpon seseorang sambil duduk sendirian diatas bangku panjang berwana putih.. Gadis itu menoleh ke arah gw dan menutup pembicaraanny, seraya bangkit dari duduk..
“Kamu anterin aku yah, Mam” Pinta Reinata dengan wajah memelas saat gw sudah berada di hadapannya..
“Yah, ga bisa Rei.. gw kan mo nemenin Ibu.. Lagian kenapa lu ga minta dijemput Aziz? Dia kan cowo lu, pasti mo jemput lah.. Kalo ga, minta bantuan Jin Penjaga lu aja, Rei”
“Iiih, si gagap itu sepupu aku tau.. Aku ga demen sama yang timur tengah gitu.. Aku suka nya tipe lokal kek kamu” Sambar Anggie sambil tersenyum menggoda..
Gw hanya tersenyum getir mendengar perkataannya, yang gw anggap sebagai gurauan semata..
“Eh, Anggie itu asli nya lebih cantik yah.. Pantes aja kamu ga bisa move on- move on.. Percuma aku ngejar kamu kek gimana juga.. Btw, Anggie marah ga liet aku meluk tangan kamu, terus sengaja pegang pipi kamu didepan dia, Mam?” Tanya Reinata, seraya memegang dagunya sendiri dan menatap ke atas..
“Alhamdulillah, cewe gw udah berubah, Rei.. Dia ga marah, karena percaya gw ga bakal khianatin dia” Jawab gw dengan tenang..
Reinata nampak menekuk muka dan langsung berjalan meninggalkan gw yang terbengong heran melihat tingkahnya..
“Lu mo kemana, Rei?”
“Pulang.. Males lama-lama disini” Jawab gadis itu dengan nada ketus tanpa membalikkan tubuhnya..
Gw hanya menghela nafas melihat reaksi Reinata setelah mendengar jawaban barusan.. Untuk mencegahnya pun sengaja tidak gw lakukan, karena jika terjadi apa-apa dengan gadis itu, ada Penjaga nya yang pasti langsung menolong..
“Nambah lagi cewe yang ngambek ke gw.. Aaah, what ever lah.. Yang penting Anggie ga ikutan ngambek” Gumam gw , sembari memandangi Reinata yang sudah cukup cauh melangkah..
“Mam, udah nganterin pacar kamu ke parkiran?” Tanya Om Hendra yang membuat gw langsung menoleh ke arahnya..
Laki-laki paruh baya itu terlihat mulai duduk di atas bangku panjang.. Om Hendra dan Tante Septi memang sudah sangat mengenal Anggie jauh sebelum gadis itu menjadi pacar gw.. Secara, Anggie itu sahabat karib putri mereka dan dulu Anggie sering sekali main ke rumahnya..
“Udah, Om.. Mumpung belum malem banget” Jawab gw sambil duduk disebelahnya..
“Kamu sepertinya serius sama Anggie, Mam?” Tanya Om Hendra yang membuat gw cukup kaget..
“Inshaa Allah, Om.. Imam ga pernah main-main sama Anggie” Jawab gw dengan mantap..
“Bagus lah! Om tahu Anggie banyak berubah sejak berhubungan sama kamu.. Sebagai orang tua, Om tidak akan melarang hubungan kalian.. Asal selalu sama-sama jaga diri saja yah”
Gw mengangguk pelan dan menyambut perkataan Om Hendra dengan senyuman manis..
“Oh iya.. Kamu mau tau kan gimana ceritanya Ibu kamu bisa di rawat?” Tanya Om Hendra yang membuat gw melemparkan pandangan ke arahnya sekali lagi, lalu merubah posisi duduk sedikit miring menghadap beliau..
“Jadi, sejak Ibu kamu datang sama adik mu, Ayu ke rumah Om.. Dia sudah mengeluhkan sakit di dada.. Tante kamu beberapa kali membujuk nya untuk memeriksakan diri ke dokter, tapi Ibu kamu ga mau.. Sampai pas sore hari, dia mengeluh dadanya terasa terbakar dan sulit bernafas karena sesak.. Lalu, tak lama kemudian Ibu kamu jatuh pingsan”
Gw tertegun mendengar penjelasan Om Hendra yang membuat rasa penyesalan terbit dalam batin.. Seharusnya, gw yang menemani dan menjaga Ibu saat sakit, bukan orang lain..
“Om tadi sudah bicara sama dokter.. Menurut diagnosanya, Ibu kamu mengalami serangan jantung ringan, Mam”
Kedua mata gw seketika terbelalak saat mengetahui penyakit yang diderita Ibu, dari kalimat Om Hendra barusan..
“Ibu sakit jantung, Om?” Tanya gw mencoba meyakinkan diri, meski dalam hati sangat berharap Om Hendra salah ucap..
“Iya, Mam.. Kamu tahu kan gimana seharusnya bersikap pada orang yang menderita sakit jantung?” Tanya Om Hendra yang membuat kening gw berkerut karena bingung..
“Maafin, Om.. Ibu kamu sempat curhat ke Om dan Tante soal kamu saat di rumah kami, sebelum ia mengeluh sesak didada.. Jadi, Om minta ke kamu.. Mulai sekarang harus berhati-hati sekali untuk berucap atau bersikap di depan Ibu mu”
Gw tertegun mendengar nasihat sekaligus permintaan Om Hendra, yang terasa seperti sebuah tamparan keras.. Benak gw kembali terbayang saat diri ini menaikkan nada suara, membantah permintaan Ibu.. Tanpa sadar, dua titik airmata menetes di pipi gw disebabkan oleh rasa bersalah..
“Sudah, Mam.. Kamu harus tegar.. Kamu kan sosok pengganti almarhum Ayah mu di keluarga.. Om tahu kamu menyesal.. Tapi, jadikan rasa sesal itu sebuah niat untuk merubah diri” Ucap Om Hendra sambil mengusap-usap punggung gw..
“Iya, Om.. Imam ga mau Ibu kenapa-napa.. Imam janji ga bakal ngecewain Ibu, Om” Ucap gw sambil memandang kosong ke arah lantai..
“Lalu, soal biaya perawatan di Rumah Sakit, kamu ga usah risau.. Om yang tanggung semua biayanya”
Lagi-lagi, kedua mata gw dibuat terbelalak oleh kalimat Om Hendra.. Gw tahu, tarif rumah sakit yang terbilang mewah di perbatasan Kota Depok dan Jakarta Selatan ini, sangat sesuai dengan pelayanan dan fasilitasnya.. Dengan kata lain cukup mahal.. Apalagi ruang tempat Ibu dirawat itu ketegori VIP.. Bisa gw bayangkan akan berapa rupiah jumlahnya nanti, saat Om Hendra mengeluarkan uang..
“Jangan Om.. Kami juga masih punya simpenan tabungan milik Ayah.. Jumlahnya pun cukup banyak.. Jadi Om ga usah repot-repot”
“Huss! Kamu kek lagi ngomong sama orang lain aja, Mam.. Om ini kan paman kamu sendiri.. Sudah jangan banyak bantah soal biaya! Lagipula, tabungan peninggalan Almarhum Ayah kamu itu buat persiapan sekolah Ayu dan kamu juga” Ucap Om Hendra dengan nada tinggi..
Gw terdiam mendengar bentakan beliau barusan.. Sungguh mulia hati Om Hendra.. Yang gw bisa perbuat untuk membalas jasanya, hanya mengucap terima kasih dan mencium tangannya..
“Ya sudah.. Om masuk dulu yah.. Mau bilang Tante kamu kalo udah waktunya pulang.. Kasihan soalnya sama adik kamu nanti.. Besok kan Ayu harus sekolah” Kata Om Hendra sambil berdiri..
Gw mengangguk lalu duduk termenung sendiri di atas bangku panjang berwarna putih.. Benak gw kembali teringat akan nasihat Om Hendra tadi.. Dalam hati, gw meniatkan diri untuk tidak pernah lagi membantah perintah Ibu, mengingat akan penyakit yang beliau derita..
“Mam, jagain Ibu mu baik-baik yah.. Tante sama Om, mau pulang dulu.. Terus, Ayu tante ajak pulang biar nginap dirumah.. Oh iya, Mam.. Karena besok ada jam ngajar, mungkin Tante datangnya agak siang kesini”
“Iya, Tan.. Ga apa-apa.. Besok pagi ada Anggie koq yang mau nemenin Ibu” Jawab gw sambil berdiri menghadap perempuan berhijab biru itu..
Gw sempat menangkap tatapan mata Tante Septi seperti membesar setelah gw menyebut nama Anggie.. Untuk sesaat, beliau terdiam seperti memikirkan sesuatu..
“Ya sudah, kasihan Ayu ngantuk tuh.. Kamu jangan tinggalin Ibu sendiri ya, Mam.. Om sama Tante pulang dulu” Ucap Om Hendra yang gw sambut dengan anggukan kepala dan senyuman..
“Kamu jangan nakal di rumah Tante, De” Pinta gw ke Ayu yang kedua matanya nampak memerah menahan kantuk..
Ayu hanya menjawab dengan anggukan kepala, lalu berjalan sambil di gandeng oleh tante Septi..
Selepas tubuh mereka hilang dibalik tembok, gw segera masuk ke dalam ruang rawat dan melihat Ibu yang sudah kembali tidur.. Selimut rumah sakit yang sedikit tersibak dari kaki beliau, langsung gw rapikan..
Karena belum menunaikan Shalat Isya, gw segera kekamar mandi untuk mengambil wudhu.. Persis di sebelah Ibu, gw menggelar sajadah dan menunaikan kewajiban.. Selepasnya, gw berdo’a memohon akan kesembuhan Ibu dari Sang Maha Penyembuh dengan tulus ikhlas..
“Bang, tolong kecilin AC nya yah.. Ibu kedinginan” Ucap Ibu tepat setelah gw berdiri dan sedang merapikan sajadah..
“Ibu koq belum tidur juga sih? Udah malam, Bu.. Ibu harusnya istirahat” Jawab gw sambil meraih remote alat pendingin ruangan yang ada di atas kulkas berukuran mini..
“Ibu ga bisa tidur, Bang.. Mata Ibu kayanya kering banget”
“Abang pijitin kakinya mau yah?” Tanya gw setelah menaikkan suhu AC ke angka 28° Celcius..
Ibu sendiri menganggukan kepalanya sebagai jawaban.. Gw pun langsung menarik kursi kecil dan mulai memijat kaki kiri beliau..
“Bang, tadi Ayu ngurusin Ibu telaten banget.. Ibu jadi makin yakin, kalo Ayu bakal jadi istri yang baik nantinya..” Ucap Ibu dengan suara pelan..
Gw hanya terdiam mendengarkan kalimat beliau yang lagi-lagi menyebut nama Ayu.. Tapi, sama sekali gw tidak berniat untuk menimpali obrolannya..
“Sayangnya kamu sukanya sama Anggie.. Padahal, Ibu mau nya kamu sama Ayu aja.. Ibu tau betul sifat anak itu, Bang”
Kali ini, gw sempat menghentikan pijatan lalu menghela nafas panjang dan meneruskan kembali pijatan yang terhenti sesaat.. Dalam hati, gw berharap Ibu akan lekas tertidur pulas agar tak lagi membicarakan soal Ayu.. Terlebih soal Anggie..
Tiba-tiba, gw mencium bau bunga kenanga yang tersebar ke seluruh ruangan.. Pandangan gw langsung tertuju pada Sekar yang muncul persis di balik pintu..
“Bang, kamu nyium bau bunga kenanga ga? Terus, Ibu koq merinding begini yah..”
“Abang nyiumnya bau obat, Bu.. Udah, Ibu coba tidur aja yah.. Abang pijitin sampe Ibu tidur” Jawab gw sambil menatap ke arah Sekar..
Jin Penjaga gw itu menganggukan kepalanya satu kali, lalu mengulurkan tangannya ke depan dengan telapak tangan yang terbuka.. Gw sempat bertanya-tanya saat melihat Sekar mengayunkan tangannya satu kali.. Tapi, begitu bau bunga kenanga lenyap seketika, baru gw sadar bahwa yang Sekar lakukan barusan adalah untuk menyerap bau bunga yang menjadi ciri khas kedatangannya..
“Kamu bener, Bang.. Ga ada bau kembang kenanga.. Ibu salah cium kayanya” Kata Ibu yang membuat gw tersenyum..
“Kang Mas, boleh aku bantu Ibu mu agar lekas tertidur dengan Ilmu Sirep?” Tanya Sekar yang membuat gw membesarkan kedua mata..
“Tenanglah, Kang Mas.. Aku hanya akan menggunakan Ilmu Sirep tingkat dasar.. Itu pun supaya Ibu mu bisa lekas istirahat, dan tentu saja aku akan melakukannya jika kau mengizinkan”
Sejenak, gw terdiam memikirkan ucapan Sekar.. Dalam hati, gw membenarkan apa yang ia utarakan.. Bagi orang yang sedang sakit, istirahat yang cukup adalah suatu hal penting.. Akhirnya, dengan anggukkan kepala, gw mengizinkan Sekar untuk melakukan apa yang ia sarankan..
Perlahan, Jin Penjaga gw menutup kedua matanya beberapa detik.. Lalu, meniupkan nafas ke arah Ibu saat sudah membuka mata.. Dari arah samping, gw melihat indera penglihatan Ibu mulai meredup dan tak lama kemudian tertutup rapat tertidur pulas..
“Alhamdulillah, akhirnya Ibu bisa istirahat juga” Ucap gw yang melempar pandangan ke arah Sekar..
“Kang Mas.. Aku perlu menyampaikan sesuatu.. Di rumah mu saat ini, ada dua orang pencuri yang sudah aku lumpuhkan”
Kedua mata gw membesar saat mendengar maksud kedatangan Sekar ke rumah sakit.. Gw mengepalkan tangan karena kesal.. Masih ada saja orang yang berusaha memanfaat kan musibah dikeluarga kami.. Manusia-manusia berhati kerdil yang berniat mencuri di rumah kami yang kosong..
“Apa yang harus aku lakukan, Kang Mas?” Tanya Sekar lagi..
Gw terdiam mendapat pertanyaan dari Sekar.. Dalam hati, gw sebenarnya ingin melihat tampang dua maling yang dimaksud Sekar.. Gw mau menghentikan mereka dengan tangan gw sendiri, yang mulai terasa gatal..
Tapi, melihat kondisi Ibu saat ini, sangat tidak mungkin untuk gw tinggalkan.. Apalagi sedang terbaring lemah meski sudah tertidur pulas.. Akhirnya, setelah menghela nafas panjang, gw mengambil sebuah keputusan..
“Buat mereka jera, Sekar.. Terserah dengan cara apa kau membuatnya”
Gw terdiam masih menghadap ke depan, tapi sudah bersiap dengan dua telapak tangan tersisi Ajian Tapak Jagat.. Rasa penasaran bercampur rasa kesal karena ada hal gaib yang muncul disaat Ibu sedang dirawat, membuat gw ingin sekali melihat sosok berkekuatan tinggi yang ada dibelakang..
Namun, terpaksa gw tekan semua yang gw rasakan disebabkan permintaan sosok asing tersebut.. Terlebih, gw juga merasakan aura kekuatan sosok itu sama sekali tidak menantang..
“Jaga diri dan keluarga mu serta orang-orang yang kau sayang, anak manusia.. Minta perlindungan dari Penguasa Alam Semesta.. Hanya kepada Nya lah dirimu menyembah, dan hanya kepada Nya lah kau patut meminta perlindungan” Ucap sosok asing itu yang membuat gw mengerutkan dahi akan maksud kalimatnya..
Baru saja ucapan sosok tadi terdengar, mendadak gw merasakan aura nya yang kuat lenyap seketika.. Langsung gw membalikkan badan dan hanya mendapati udara kosong serta sisa bau harum bunga cengkeh.. Kening gw kembali berkerut menyadari sosok asing yang datang untuk memperingatkan gw itu, telah lenyap tanpa bekas..
“Aneh.. Siapa dia? Terus maksud omongannya apaan yah?” Tanya gw pada diri sendiri, sambil membalikkan badan kembali dan melangkah menuju ruang rawat..
Sesampainya gw di koridor ruang rawat Ibu, Reinata nampak sedang menelpon seseorang sambil duduk sendirian diatas bangku panjang berwana putih.. Gadis itu menoleh ke arah gw dan menutup pembicaraanny, seraya bangkit dari duduk..
“Kamu anterin aku yah, Mam” Pinta Reinata dengan wajah memelas saat gw sudah berada di hadapannya..
“Yah, ga bisa Rei.. gw kan mo nemenin Ibu.. Lagian kenapa lu ga minta dijemput Aziz? Dia kan cowo lu, pasti mo jemput lah.. Kalo ga, minta bantuan Jin Penjaga lu aja, Rei”
“Iiih, si gagap itu sepupu aku tau.. Aku ga demen sama yang timur tengah gitu.. Aku suka nya tipe lokal kek kamu” Sambar Anggie sambil tersenyum menggoda..
Gw hanya tersenyum getir mendengar perkataannya, yang gw anggap sebagai gurauan semata..
“Eh, Anggie itu asli nya lebih cantik yah.. Pantes aja kamu ga bisa move on- move on.. Percuma aku ngejar kamu kek gimana juga.. Btw, Anggie marah ga liet aku meluk tangan kamu, terus sengaja pegang pipi kamu didepan dia, Mam?” Tanya Reinata, seraya memegang dagunya sendiri dan menatap ke atas..
“Alhamdulillah, cewe gw udah berubah, Rei.. Dia ga marah, karena percaya gw ga bakal khianatin dia” Jawab gw dengan tenang..
Reinata nampak menekuk muka dan langsung berjalan meninggalkan gw yang terbengong heran melihat tingkahnya..
“Lu mo kemana, Rei?”
“Pulang.. Males lama-lama disini” Jawab gadis itu dengan nada ketus tanpa membalikkan tubuhnya..
Gw hanya menghela nafas melihat reaksi Reinata setelah mendengar jawaban barusan.. Untuk mencegahnya pun sengaja tidak gw lakukan, karena jika terjadi apa-apa dengan gadis itu, ada Penjaga nya yang pasti langsung menolong..
“Nambah lagi cewe yang ngambek ke gw.. Aaah, what ever lah.. Yang penting Anggie ga ikutan ngambek” Gumam gw , sembari memandangi Reinata yang sudah cukup cauh melangkah..
“Mam, udah nganterin pacar kamu ke parkiran?” Tanya Om Hendra yang membuat gw langsung menoleh ke arahnya..
Laki-laki paruh baya itu terlihat mulai duduk di atas bangku panjang.. Om Hendra dan Tante Septi memang sudah sangat mengenal Anggie jauh sebelum gadis itu menjadi pacar gw.. Secara, Anggie itu sahabat karib putri mereka dan dulu Anggie sering sekali main ke rumahnya..
“Udah, Om.. Mumpung belum malem banget” Jawab gw sambil duduk disebelahnya..
“Kamu sepertinya serius sama Anggie, Mam?” Tanya Om Hendra yang membuat gw cukup kaget..
“Inshaa Allah, Om.. Imam ga pernah main-main sama Anggie” Jawab gw dengan mantap..
“Bagus lah! Om tahu Anggie banyak berubah sejak berhubungan sama kamu.. Sebagai orang tua, Om tidak akan melarang hubungan kalian.. Asal selalu sama-sama jaga diri saja yah”
Gw mengangguk pelan dan menyambut perkataan Om Hendra dengan senyuman manis..
“Oh iya.. Kamu mau tau kan gimana ceritanya Ibu kamu bisa di rawat?” Tanya Om Hendra yang membuat gw melemparkan pandangan ke arahnya sekali lagi, lalu merubah posisi duduk sedikit miring menghadap beliau..
“Jadi, sejak Ibu kamu datang sama adik mu, Ayu ke rumah Om.. Dia sudah mengeluhkan sakit di dada.. Tante kamu beberapa kali membujuk nya untuk memeriksakan diri ke dokter, tapi Ibu kamu ga mau.. Sampai pas sore hari, dia mengeluh dadanya terasa terbakar dan sulit bernafas karena sesak.. Lalu, tak lama kemudian Ibu kamu jatuh pingsan”
Gw tertegun mendengar penjelasan Om Hendra yang membuat rasa penyesalan terbit dalam batin.. Seharusnya, gw yang menemani dan menjaga Ibu saat sakit, bukan orang lain..
“Om tadi sudah bicara sama dokter.. Menurut diagnosanya, Ibu kamu mengalami serangan jantung ringan, Mam”
Kedua mata gw seketika terbelalak saat mengetahui penyakit yang diderita Ibu, dari kalimat Om Hendra barusan..
“Ibu sakit jantung, Om?” Tanya gw mencoba meyakinkan diri, meski dalam hati sangat berharap Om Hendra salah ucap..
“Iya, Mam.. Kamu tahu kan gimana seharusnya bersikap pada orang yang menderita sakit jantung?” Tanya Om Hendra yang membuat kening gw berkerut karena bingung..
“Maafin, Om.. Ibu kamu sempat curhat ke Om dan Tante soal kamu saat di rumah kami, sebelum ia mengeluh sesak didada.. Jadi, Om minta ke kamu.. Mulai sekarang harus berhati-hati sekali untuk berucap atau bersikap di depan Ibu mu”
Gw tertegun mendengar nasihat sekaligus permintaan Om Hendra, yang terasa seperti sebuah tamparan keras.. Benak gw kembali terbayang saat diri ini menaikkan nada suara, membantah permintaan Ibu.. Tanpa sadar, dua titik airmata menetes di pipi gw disebabkan oleh rasa bersalah..
“Sudah, Mam.. Kamu harus tegar.. Kamu kan sosok pengganti almarhum Ayah mu di keluarga.. Om tahu kamu menyesal.. Tapi, jadikan rasa sesal itu sebuah niat untuk merubah diri” Ucap Om Hendra sambil mengusap-usap punggung gw..
“Iya, Om.. Imam ga mau Ibu kenapa-napa.. Imam janji ga bakal ngecewain Ibu, Om” Ucap gw sambil memandang kosong ke arah lantai..
“Lalu, soal biaya perawatan di Rumah Sakit, kamu ga usah risau.. Om yang tanggung semua biayanya”
Lagi-lagi, kedua mata gw dibuat terbelalak oleh kalimat Om Hendra.. Gw tahu, tarif rumah sakit yang terbilang mewah di perbatasan Kota Depok dan Jakarta Selatan ini, sangat sesuai dengan pelayanan dan fasilitasnya.. Dengan kata lain cukup mahal.. Apalagi ruang tempat Ibu dirawat itu ketegori VIP.. Bisa gw bayangkan akan berapa rupiah jumlahnya nanti, saat Om Hendra mengeluarkan uang..
“Jangan Om.. Kami juga masih punya simpenan tabungan milik Ayah.. Jumlahnya pun cukup banyak.. Jadi Om ga usah repot-repot”
“Huss! Kamu kek lagi ngomong sama orang lain aja, Mam.. Om ini kan paman kamu sendiri.. Sudah jangan banyak bantah soal biaya! Lagipula, tabungan peninggalan Almarhum Ayah kamu itu buat persiapan sekolah Ayu dan kamu juga” Ucap Om Hendra dengan nada tinggi..
Gw terdiam mendengar bentakan beliau barusan.. Sungguh mulia hati Om Hendra.. Yang gw bisa perbuat untuk membalas jasanya, hanya mengucap terima kasih dan mencium tangannya..
“Ya sudah.. Om masuk dulu yah.. Mau bilang Tante kamu kalo udah waktunya pulang.. Kasihan soalnya sama adik kamu nanti.. Besok kan Ayu harus sekolah” Kata Om Hendra sambil berdiri..
Gw mengangguk lalu duduk termenung sendiri di atas bangku panjang berwarna putih.. Benak gw kembali teringat akan nasihat Om Hendra tadi.. Dalam hati, gw meniatkan diri untuk tidak pernah lagi membantah perintah Ibu, mengingat akan penyakit yang beliau derita..
“Mam, jagain Ibu mu baik-baik yah.. Tante sama Om, mau pulang dulu.. Terus, Ayu tante ajak pulang biar nginap dirumah.. Oh iya, Mam.. Karena besok ada jam ngajar, mungkin Tante datangnya agak siang kesini”
“Iya, Tan.. Ga apa-apa.. Besok pagi ada Anggie koq yang mau nemenin Ibu” Jawab gw sambil berdiri menghadap perempuan berhijab biru itu..
Gw sempat menangkap tatapan mata Tante Septi seperti membesar setelah gw menyebut nama Anggie.. Untuk sesaat, beliau terdiam seperti memikirkan sesuatu..
“Ya sudah, kasihan Ayu ngantuk tuh.. Kamu jangan tinggalin Ibu sendiri ya, Mam.. Om sama Tante pulang dulu” Ucap Om Hendra yang gw sambut dengan anggukan kepala dan senyuman..
“Kamu jangan nakal di rumah Tante, De” Pinta gw ke Ayu yang kedua matanya nampak memerah menahan kantuk..
Ayu hanya menjawab dengan anggukan kepala, lalu berjalan sambil di gandeng oleh tante Septi..
Selepas tubuh mereka hilang dibalik tembok, gw segera masuk ke dalam ruang rawat dan melihat Ibu yang sudah kembali tidur.. Selimut rumah sakit yang sedikit tersibak dari kaki beliau, langsung gw rapikan..
Karena belum menunaikan Shalat Isya, gw segera kekamar mandi untuk mengambil wudhu.. Persis di sebelah Ibu, gw menggelar sajadah dan menunaikan kewajiban.. Selepasnya, gw berdo’a memohon akan kesembuhan Ibu dari Sang Maha Penyembuh dengan tulus ikhlas..
“Bang, tolong kecilin AC nya yah.. Ibu kedinginan” Ucap Ibu tepat setelah gw berdiri dan sedang merapikan sajadah..
“Ibu koq belum tidur juga sih? Udah malam, Bu.. Ibu harusnya istirahat” Jawab gw sambil meraih remote alat pendingin ruangan yang ada di atas kulkas berukuran mini..
“Ibu ga bisa tidur, Bang.. Mata Ibu kayanya kering banget”
“Abang pijitin kakinya mau yah?” Tanya gw setelah menaikkan suhu AC ke angka 28° Celcius..
Ibu sendiri menganggukan kepalanya sebagai jawaban.. Gw pun langsung menarik kursi kecil dan mulai memijat kaki kiri beliau..
“Bang, tadi Ayu ngurusin Ibu telaten banget.. Ibu jadi makin yakin, kalo Ayu bakal jadi istri yang baik nantinya..” Ucap Ibu dengan suara pelan..
Gw hanya terdiam mendengarkan kalimat beliau yang lagi-lagi menyebut nama Ayu.. Tapi, sama sekali gw tidak berniat untuk menimpali obrolannya..
“Sayangnya kamu sukanya sama Anggie.. Padahal, Ibu mau nya kamu sama Ayu aja.. Ibu tau betul sifat anak itu, Bang”
Kali ini, gw sempat menghentikan pijatan lalu menghela nafas panjang dan meneruskan kembali pijatan yang terhenti sesaat.. Dalam hati, gw berharap Ibu akan lekas tertidur pulas agar tak lagi membicarakan soal Ayu.. Terlebih soal Anggie..
Tiba-tiba, gw mencium bau bunga kenanga yang tersebar ke seluruh ruangan.. Pandangan gw langsung tertuju pada Sekar yang muncul persis di balik pintu..
“Bang, kamu nyium bau bunga kenanga ga? Terus, Ibu koq merinding begini yah..”
“Abang nyiumnya bau obat, Bu.. Udah, Ibu coba tidur aja yah.. Abang pijitin sampe Ibu tidur” Jawab gw sambil menatap ke arah Sekar..
Jin Penjaga gw itu menganggukan kepalanya satu kali, lalu mengulurkan tangannya ke depan dengan telapak tangan yang terbuka.. Gw sempat bertanya-tanya saat melihat Sekar mengayunkan tangannya satu kali.. Tapi, begitu bau bunga kenanga lenyap seketika, baru gw sadar bahwa yang Sekar lakukan barusan adalah untuk menyerap bau bunga yang menjadi ciri khas kedatangannya..
“Kamu bener, Bang.. Ga ada bau kembang kenanga.. Ibu salah cium kayanya” Kata Ibu yang membuat gw tersenyum..
“Kang Mas, boleh aku bantu Ibu mu agar lekas tertidur dengan Ilmu Sirep?” Tanya Sekar yang membuat gw membesarkan kedua mata..
“Tenanglah, Kang Mas.. Aku hanya akan menggunakan Ilmu Sirep tingkat dasar.. Itu pun supaya Ibu mu bisa lekas istirahat, dan tentu saja aku akan melakukannya jika kau mengizinkan”
Sejenak, gw terdiam memikirkan ucapan Sekar.. Dalam hati, gw membenarkan apa yang ia utarakan.. Bagi orang yang sedang sakit, istirahat yang cukup adalah suatu hal penting.. Akhirnya, dengan anggukkan kepala, gw mengizinkan Sekar untuk melakukan apa yang ia sarankan..
Perlahan, Jin Penjaga gw menutup kedua matanya beberapa detik.. Lalu, meniupkan nafas ke arah Ibu saat sudah membuka mata.. Dari arah samping, gw melihat indera penglihatan Ibu mulai meredup dan tak lama kemudian tertutup rapat tertidur pulas..
“Alhamdulillah, akhirnya Ibu bisa istirahat juga” Ucap gw yang melempar pandangan ke arah Sekar..
“Kang Mas.. Aku perlu menyampaikan sesuatu.. Di rumah mu saat ini, ada dua orang pencuri yang sudah aku lumpuhkan”
Kedua mata gw membesar saat mendengar maksud kedatangan Sekar ke rumah sakit.. Gw mengepalkan tangan karena kesal.. Masih ada saja orang yang berusaha memanfaat kan musibah dikeluarga kami.. Manusia-manusia berhati kerdil yang berniat mencuri di rumah kami yang kosong..
“Apa yang harus aku lakukan, Kang Mas?” Tanya Sekar lagi..
Gw terdiam mendapat pertanyaan dari Sekar.. Dalam hati, gw sebenarnya ingin melihat tampang dua maling yang dimaksud Sekar.. Gw mau menghentikan mereka dengan tangan gw sendiri, yang mulai terasa gatal..
Tapi, melihat kondisi Ibu saat ini, sangat tidak mungkin untuk gw tinggalkan.. Apalagi sedang terbaring lemah meski sudah tertidur pulas.. Akhirnya, setelah menghela nafas panjang, gw mengambil sebuah keputusan..
“Buat mereka jera, Sekar.. Terserah dengan cara apa kau membuatnya”
dodolgarut134 dan 13 lainnya memberi reputasi
14