- Beranda
- Stories from the Heart
WARISAN
...
TS
meta.morfosis
WARISAN
hai gan/sis....
ini adalah thread keberapa dari beberapa thread yang sudah pernah ane buat, tapi karena adanya beberapa alasan...dengan terpaksa thread thread tersebut ane hentikan, intinya penghentian thread thread tersebut bukan karena alasan adanya perintah ghoib ataupun permintaan narasumber hehe....semoga untuk kisah ini bisa ane share sampai akhir...
oke...singkat kata, kisah yang akan ane share kali ini masih berhubungan dengan hal hal yang berbau ghoib alias setan/demit dan sejenisnya, dan kisah ini akan ane beri judul
catatan :
* untuk kisah yang ane akan tuliskan ini, ane akan menempatkan diri sebagai tokoh yang mengalaminya
* jangan bertanya...ini kisah nyata ataupun fiksi, karena sudah jelas apa yang akan ane share ini berhubungan dengan sesuatu yang ghoib, dan ketika kita berbicara tentang sesuatul yang ghoib itu akan ada pertentangan antara percaya enggak percaya...kenyataan ataupun imajinasi....cukup jadikan kisah ini sebagai bacaan di waktu senggang aja...atau lebih tepatnya jadikan kisah ini sebagai bacaan yang membangkitkan adrenalin....
* apakah ts percaya dengan sesuatu yang ghoib, jawaban ts...percaya tapi tidak dengan cara berlebihan
* apakah ts pernah mengalaminya.....ya pernah...
* apakah ts percaya dengan kejadian kejadian yang terjadi dan di luar akal sehat adalah ulah dari mahluk ghoib ....jawaban ts...bisa ya..bisa juga tidak, alasannya karena kita sebagai manusia diberikan kelebihan berupa akal pikiran yang akan memberikan kita modal untuk mencerna setiap peristiwa yang terjadi dengan bijak, banyak faktor lain yang bisa melatarbelakangi peristiwa tersebut di luar hal hal yang berbau ghoib
* apakah ts percaya mahluk ghoib mempunyai kekuatan.....percaya, seperti halnya manusia, hewan, dan tumbuhan ....semuanya mempunyai kekuatan, begitu juga dengan mahluk ghoib...tapi kekuatan yang paling besar dan tidak tertandingi...adalah kekuatan tuhan yang maha esa...
* jangan creepy/copy pasta kisah ini tanpa seizin ts....
selamat membaca....

Prologue
Chapter 1
Chapter 2
Chapter 3
Chapter 4
Chapter 5
Chapter 6
Chapter 7
Chapter 8
Chapter 9
Chapter 10
Chapter 11
Chapter 12
Chapter 13
Chapter 14
Chapter 15
Chapter 16
Chapter 17
Chapter 18
Chapter 19
Chapter 20
Chapter 21
Chapter 22
Chapter 23
Epilog
ini adalah thread keberapa dari beberapa thread yang sudah pernah ane buat, tapi karena adanya beberapa alasan...dengan terpaksa thread thread tersebut ane hentikan, intinya penghentian thread thread tersebut bukan karena alasan adanya perintah ghoib ataupun permintaan narasumber hehe....semoga untuk kisah ini bisa ane share sampai akhir...
oke...singkat kata, kisah yang akan ane share kali ini masih berhubungan dengan hal hal yang berbau ghoib alias setan/demit dan sejenisnya, dan kisah ini akan ane beri judul
WARISAN
catatan :
* untuk kisah yang ane akan tuliskan ini, ane akan menempatkan diri sebagai tokoh yang mengalaminya
* jangan bertanya...ini kisah nyata ataupun fiksi, karena sudah jelas apa yang akan ane share ini berhubungan dengan sesuatu yang ghoib, dan ketika kita berbicara tentang sesuatul yang ghoib itu akan ada pertentangan antara percaya enggak percaya...kenyataan ataupun imajinasi....cukup jadikan kisah ini sebagai bacaan di waktu senggang aja...atau lebih tepatnya jadikan kisah ini sebagai bacaan yang membangkitkan adrenalin....
* apakah ts percaya dengan sesuatu yang ghoib, jawaban ts...percaya tapi tidak dengan cara berlebihan
* apakah ts pernah mengalaminya.....ya pernah...
* apakah ts percaya dengan kejadian kejadian yang terjadi dan di luar akal sehat adalah ulah dari mahluk ghoib ....jawaban ts...bisa ya..bisa juga tidak, alasannya karena kita sebagai manusia diberikan kelebihan berupa akal pikiran yang akan memberikan kita modal untuk mencerna setiap peristiwa yang terjadi dengan bijak, banyak faktor lain yang bisa melatarbelakangi peristiwa tersebut di luar hal hal yang berbau ghoib
* apakah ts percaya mahluk ghoib mempunyai kekuatan.....percaya, seperti halnya manusia, hewan, dan tumbuhan ....semuanya mempunyai kekuatan, begitu juga dengan mahluk ghoib...tapi kekuatan yang paling besar dan tidak tertandingi...adalah kekuatan tuhan yang maha esa...
* jangan creepy/copy pasta kisah ini tanpa seizin ts....
selamat membaca....

Prologue
Chapter 1
Chapter 2
Chapter 3
Chapter 4
Chapter 5
Chapter 6
Chapter 7
Chapter 8
Chapter 9
Chapter 10
Chapter 11
Chapter 12
Chapter 13
Chapter 14
Chapter 15
Chapter 16
Chapter 17
Chapter 18
Chapter 19
Chapter 20
Chapter 21
Chapter 22
Chapter 23
Epilog
Diubah oleh meta.morfosis 26-02-2018 22:57
sekarpuspita531 dan 22 lainnya memberi reputasi
23
105K
Kutip
337
Balasan
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•54.2KAnggota
Tampilkan semua post
TS
meta.morfosis
#284
Spoiler for Chapter 23:
inilah sebuah benda yang selama ini telah gw cari keberadaannya di rumah ini, seiring dengan kemunculan ember dari dalam sumur, kini nampak sebuah golok kecil berada di dalamnya, mendapati hal tersebut...tampak abah iding meminta agar bapak mengambil golok tersebut dan menyerahkan kepadanya
“ ini golok abah.....bagaimana bisa ada di dalam sumur....?” tanya bapak yang berbalas terlepasnya genggaman abah iding pada golok tersebut
“ iya tam...ini milik abah kamu...luar biasa jahatnya golok ini....bahkan hanya dengan menyentuhnya...abah bisa merasakan golok ini seperti membakar telapak tangan abah...” ujar abah iding seraya memperlihatkan kulit telapak tangannya yang memerah, kini seraya merapalkan sesuatu di mulutnya, abah iding kembali memungut golok tersebut dan menyatukannya dengan cincin bermata batu hitam yang ada di dalam genggaman tangannya
“ bah....kenapa golok abah ini bisa berada di dalam sumur....?” tanya bapak kembali sambil memperhatikan gerakan tangan abah iding yang meletakan genggaman tangannya di atas kepulan asap putih yang keluar dari dalam wadah, lama abah iding terdiam tanpa mengeluarkan satu patah kata pun dari mulutnya, kedua bola matanya yang terpejam seperti mempertajam ekspresi wajahnya yang menunjukan bahwa abah iding sedang merasakan sesuatu
“ abah kamu kecewa tam, apa yang telah abah kamu tumbalkan untuk kali kedua ini tidak dapat menolong jiwa ibu kamu, karena memang perjanjian yang abah kamu buat itu hanya untuk kesaktian dan kekayaan...bukan untuk memperpanjang masa hidup seseorang....kekecewaan yang abah kamu rasakan telah membuatnya memutuskan untuk membuang golok tersebut di dalam sumur ini...pilihan abah kamu yang memilih untuk menyiksa diri dengan cara tidak makan dan tidak minum telah membuat abah kamu semakin lemah bahkan seharusnya mati...tapi kematiannya itu tidak semudah itu, perjanjian ghoib yang telah abah kamu lakukan telah membuat abah kamu terperangkap dalam hidup dan mati....begitu juga dengan golok milik abah kamu ini....seharusnya jika abah kamu sehat...dimanapun golok ini dibuang pasti akan kembali lagi ke abah kamu tapi karena kondisi abah kamu yang sudah terperangkap dalam hidup dan mati bahkan sekarang abah kamu sudah meninggal maka golok ini terperangkap juga dalam sumur ini....dan akhirnya golok ini sekarang kembali menampakan wujudnya karena memang sudah ada seseorang yang terikat dengan golok dan cincin ini...... dan percayalah tam... golok ini jugalah yang telah menyamarkan keberadaan tumbal kedua yang ada di sumur ini....” jawab abah iding seraya mengeluarkan sehelai kain putih dari dalam pelastik hitam
“ tumbal kedua....?” tanya bapak dengan rasa tidak percaya atas apa yang telah dikatakan oleh abah iding
“ iya tam....tumbal yang kedua, kakak kamu telah mempunyai dua orang anak....ini adalah tumbal yang kedua...”
“ astagfirullah..” ucap pak ujang yang merasa tidak nyaman dengan perkataan abah iding
“ kalian ikut bantu abah....” entah tertuju kepada siapa perkataan yang terucap dari mulut abah iding ini, tapi dari sorot matanya yang tertuju ke arah gw dan daru, sepertinya perkataannya itu memang ditujukan kepada gw dan daru, untuk sejenak gw yang masih terdiam karena mencoba mencerna perkataan abah iding tadi telah tersadarkan oleh gerakan tangan daru yang menarik pergelangan tangan gw
“dan akhirnya golok ini sekarang kembali menampakan wujudnya karena memang sudah ada seseorang yang terikat dengan golok dan cincin ini....apa maksud semua kata kata itu....siapa yang terikat dengan perjanjian ghoib yang telah aki buat ini....” tanya gw dalam hati, belum sempat gw mendapatkan jawaban atas pertanyaan itu, terlihat abah iding menyerahkan kain yang dipegangnya kepada bapak
“ sekarang kalian pegang setiap ujung dari kain ini, dan bentangkan di atas sumur...” untuk sesaat gw dan daru hanya bisa saling berpandangan dalam tanya begitu mendapati perintah tersebut, hingga akhirnya kembali terdengar perintah abah iding yang meminta kami untuk segera memegang setiap ujung dari kain tersebut dan membentangkannya di atas sumur, kini setelah melihat kain tersebut terbentang di atas sumur, abah iding kembali seperti merapalkan sesuatu seraya menggenggam golok dan cincin tersebut di atas kain
“ sekarang kalian bisa melepaskannya....” ucap abah iding yang berbalas terlepasnya pegangan tangan kami pada kain tersebut secara serentak
“ ini benar benar enggak masuk akal....” ucap gw dalam hati begitu melihat kain tersebut masih terbentang di atas sumur tanpa menunjukan tanda tanda akan terjatuh ke dalam sumur, setelah beberapa saat kembali terdiam dalam rapalannya, kini gerakan tangan abah iding mulai terarah ke kain putih tersebut
“ ya tuhannnn....” ucap gw dengan rasa tidak percaya atas apa yang tengah gw lihat, kini begitu gerakan tangan abah iding yang lebih tepat dikatakan sebagai sebuah rengkuhan itu mulai menyentuh kain putih tersebut...tangan abah iding terlihat seperti memegang sesuatu lalu merengkuhnya
“ apa itu bah...?” tanya bapak begitu melihat abah iding mulai membungkus benda yang berhasil di rengkuhnya itu dengan kain putih, seiring dengan pertanyaan yang terlontar dari mulut bapak, kini gw bisa merasakan aroma bau busuk yang sedari tadi telah tersamarkan oleh aroma wangi kemenyan yang terbakar, mulai bisa tercium kembali, dan sepertinya...sumber dari aroma bau busuk itu berasal dari benda yang kini ada dalam rengkuhan tangan abah iding
“ ini anak dari kakak kamu tam...anak ceu odah....” ujar abah iding tanpa memperlihatkan bentuk dari kondisi phisik anak uwa odah
“ astagfirullah...” ucapan yang terlontar dari mulut pak ujang seakan akan mewakili rasa keterkejutan kami atas perkataan yang baru saja di ucapkan oleh abah iding
“ ya tuhannn...setega inikah abah terhadap anaknya...” ratap bapak sambil menyentuh sesosok anak uwa odah yang berselimutkan kain putih
“ semua ini sudah terjadi tam....apa yang telah abah kamu lakukan itu hanyalah sebuah bagian dari perjalanan hidup....” nasehat abah iding begitu melihat keterpurukan jiwa bapak
“ apa yang harus kita lakukan selanjutnya bah....?”
“ seperti apa yang telah abah katakan sebelumnya....abah hanya bisa membantu kamu sebatas ini tam..., setelah ini abah akan meminta ujang untuk membuang kedua benda ini ke tempat yang jauh...” ucap abah iding seraya memberikan isyarat pada golok kecil serta cincin bermata batu hitam yang masih ada di dalam genggaman tangannya
“ andai memang benda ini nantinya akan kembali lagi ke rumah ini...berarti....” belum sempat abah iding mengakhiri perkataannya, terlihat bapak memberikan isyarat tangan agar abah iding tidak meneruskan perkataannya
“ baiklah kalau begitu....untuk tidak menimbulkan banyaknya omongan dari warga kampung, maka kita akan menguburkan anak kakak kamu ini tengah malam nanti....” ucap abah iding yang berbalas anggukan kepala bapak
“ pak....apakah ibu dan kak dira perlu diberitahukan tentang penemuan anak uwa odah ini...?” tanya gw yang berbalas keraguan bapak, hingga akhirnya abah iding memberikan saran agar gw memberitahukan penemuan anak uwa odah ini kepada ibu...karena menurut abah iding biar bagaimanapun ibu adalah adik dari uwa odah walaupun bukan adik kandung seperti bapak
adalah hal yang sulit untuk gw memberitahukan sesuatu kepada seseorang yang masih terlihat lemah karena kejadian buruk yang telah dialaminya, kini setelah gw berputar putar berbicara tentang hal hal indah yang gw alami selama masa kehidupan aki, akhirnya gw mulai dapat memberitahukan tentang penemuan dari anak uwa odah yang telah meninggal kepada ibu serta kak dira, walaupun ibu sempat terlihat shock begitu mendengar berita tersebut...tapi semuanya itu tidak berlangsung lama, keyakinan ibu akan sesuatu yang buruk telah menimpa anak uwa odah telah memberinya kekuatan untuk tidak terlalu lama bergelut dengan rasa dukanya
“ sepertinya ini waktu yang tepat untuk menguburkan anak kakak kamu.....” ucap abah iding setelah beberapa saat lamanya terlibat pembicaraan dengan bapak, detik demi detik yang berlalu kini tanpa terasa telah mengantarkan kami pada pukul satu malam
“ sepertinya begitu pak......” ucap bapak sambil mengarahkan pandangannya ke arah gw dan daru yang berada tidak jauh dari posisi bapak dan abah iding berbicara, setelah mengucapkan kata kata tersebut, kini terlihat bapak berjalan menghampiri kami
“ sebaiknya kalian tunggu di rumah menemani ibu...biar bapak dan abah iding saja yang menguburkan anak uwa odah....” ucap bapak sambil mengelus rambut gw dan daru, seperti tidak mau untuk berlama lama menunda prosesi pemakaman anak uwa odah, terlihat bapak kini mengambil cangkul yang ada di halaman belakang lalu membungkusnya dengan kertas...sepertinya bapak memang tidak ingin apa yang akan dilakukannya bersama abah iding malam ini diketahui oleh warga kampung
“ sudah siap tam...?” tanya abah iding sambil menghimpitkan kain putih yang berisikan anak uwa odah ditangannya...layaknya seseorang yang tengah membawa sesuatu, mendapati pertanyaan tersebut terlihat bapak menganggukan kepala sebagai tanda kesiapannya, hingga akhirnya....bapak dan abah iding mulai beranjak pergi meninggalkan rumah menembus kegelapan malam
rasa lelah yang gw dan daru rasakan malam ini, telah membuat mata kami begitu mudah untuk dipejamkan, tapi mungkin bukan hanya rasa lelah yang membuat kami terasa mudah untuk memejamkan mata ini....gw merasa apa yang telah bapak tunjukan malam ini, memberikan gw sebuah pelajaran akan arti sebuah tanggung jawab dari seorang bapak....ya...sebuah tanggung jawab besar untuk memberikan rasa aman...rasa nyaman terhadap keluarga yang di pimpinnya...dan hal tersebut telah dibuktikan oleh bapak malam ini
tanpa terasa udara pagi yang terasa segar mulai gw rasakan memasuki indera penciuman ini, diantara pejaman mata gw yang mulai terbuka, tampak terlihat disekitar gw.... bapak,ibu,kak dira,daru,serta adik kecil gw yang belum mempunyai nama masih terlihat tertidur pulas dalam balutan dingin udara pagi, suara azan shubuh yang mungkin sebentar lagi akan terdengar, kini memaksa gw untuk segera beranjak dari tempat tidur dan berjalan menuju ke kamar mandi...seiring dengan langkah kaki yang berjalan menuju ke kamar mandi...sama sekali tidak terlintas dalam pikiran gw akan rasa takut atas penampakan sosok sosok aneh yang menyerupai uwa odah atau pun aki...hal ini mungkin karena keyakinan gw yang begitu yakin atas tindakan yang telah dilakukan oleh bapak malam tadi telah mengakhiri segala bentuk gangguan menyeramkan di rumah ini
“ brengsek...airnya habis...” gerutu gw begitu melihat air di dalam bak kamar mandi yang hampir mengering, tanpa berpikir panjang, kini gw segera berjalan menuju ke halaman belakang untuk mengambil air dari sumur...tapi...baru saja gw membuka pintu rumah dan berjalan beberapa langkah keluar dari dalam rumah...gw merasakan seperti ada sesuatu yang terantuk oleh langkah kaki gw ini...dan benar saja, begitu gw menolehkan pandangan ini ke arah tanah...kini gw melihat dua buah benda yang seharusnya sudah tidak ada lagi keberadaanya di rumah ini
“ ini enggak mungkin....enggak mungkin.....” sangkal gw atas apa yang tengah gw lihat....kini tatapan mata gw memandang kepada dua buah benda yang berada di atas tanah....yaa...kedua benda itu adalah golok kecil beserta cincin bermata batu hitam....dua buah benda yang seharusnya sudah menghilang bersamaan dengan kepergian pak ujang untuk menyingkirkan benda benda tersebut dari kehidupan keluarga kami
“ apakah ini yang dimaksud dengan perkataan abah iding yang mengatakan... andai memang benda ini nantinya akan kembali lagi ke rumah ini...berarti...” lama gw terdiam mencoba mencerna setiap kata yang terangkai dari perkataan abah iding tersebut, tapi semakin lama gw mencoba mencerna setiap rangkaian kata tersebut, semakin bertambah juga kebuntuan gw untuk memahami semua perkataan itu
“ sialll.....sepertinya hanya bapak yang mengerti dengan maksud perkataan abah iding tersebut...dan gw harus menanyakan apa maksud dari semua kejadian ini kepada bapak...” ucap gw seraya mencoba memungut kedua benda tersebut dari atas tanah
“ nang....?” suara teguran yang terdengar secara tiba tiba dari belakang tubuh gw ini dengan serta merta membatalkan keinginan gw untuk memungut kedua benda tersebut dari atas tanah
“ ini enggak mungkin.....” ucap bapak seiring dengan pandangan mata gw yang terarah ke arah bapak, terlihat bapak yang berdiri mematung di depan pintu dengan tatapan mata tidak percaya atas apa yang telah dilihatnya
“ apa sebenarnya maksud dari semua ini pak....?” tanya gw seraya meneruskan keinginan gw untuk memungut kedua benda tersebut dari atas tanah, lalu menyerahkannya kepada bapak, lama bapak terdiam memperhatikan kedua benda tersebut...walaupun tidak ada sepatah katapun yang terucap dari mulut bapak, tapi dari ekspresi wajah yang diperlihatkan bapak sudah cukup memberikan gw keyakinan kalau apa yang telah terjadi kali ini adalah sebuah peristiwa yang sebenarnya telah bapak perkirakan sebelumnya walaupun bapak memang tidak berharap kejadian tersebut benar benar terjadi
“ pak...bapak kenapa....?” tanya gw kembali diantara tatapan mata bapak yang masih memperhatikan kedua benda tersebut
“ bapak enggak kenapa napa nang....semua yang terjadi ini hanyalah sebuah kejadian biasa, biar nanti pagi....bapak akan membawa kedua benda ini ke rumah abah iding.....” jawab bapak sambil mengembangkan senyum kecil di wajahnya
“ kalang memang begitu...danang ikut pak....”
“ kamu sebaiknya di rumah aja nang...jaga ibu..kakak dan adik adik kamu.....biar semua ini bapak yang menyelesaikannya, kamu harus percaya sama bapak...mulai hari ini...semuanya akan kembali normal kembali....” ucap bapak menolak keinginan gw yang ingin ikut serta menemani bapak ke rumah abah iding, tapi entah mengapa gw merasa kalimat penolakan yang diucapkan bapak tersebut terasa begitu janggal...bahkan kini gw semakin merasa yakin kalau apa yang telah dikatakan oleh bapak tersebut adalah sebuah perkataan yang mencoba membungkus sebuah peristiwa besar yang mungkin akan terjadi
tepat pukul tujuh pagi, bersamaan dengan acara sarapan pagi yang biasa kami lakukan bersama...tidak terlihat sama sekali tanda tanda kalau bapak akan menceritakan perihal kembalinya golok kecil dan cincin bermata batu hitam tersebut kepada ibu, kak dira ataupun daru, tatapan mata bapak yang sesekali terarah ke wajah gw seperti memberikan gw sebuah isyarat agar gw merahasiakan semuanya ini kepada mereka
“ senang rasanya...akhirnya kita bisa berkumpul lagi seperti ini...tanpa ada rasa takut dan khawatir lagi...” ucap ibu sambil mengarahkan pandangannya ke wajah bapak
“ iya bu....dira enggak bisa bayangkan, kalau kita menghadapi semua kejadian ini tanpa ada bapak di rumah ini....untungnya bapak cepat kembali....” mendengar perkataan kak dira, terlihat bapak mengembangkan senyum kecilnya, hal ini sangat berbanding terbalik dengan ekspresi wajah yang gw perlihatkan
“ bapak gitu loh....” ujar daru dengan candaannya, dan hal tersebut membuat senyum kecil di wajah bapak berubah menjadi sebuah tawa kecil, diantara wajah wajah yang ceria tersebut, tampak ibu memperhatikan ekspresi wajah gw yang sama sekali tidak menunjukan keceriannya
“ kamu kenapa nang...?” tanya ibu seraya bangkit dari kursinya dan berjalan menghampiri gw, terlihat ibu menyentuhkan telapak tangannya ke kening gw
“ kamu sakit....?” tanya ibu kembali yang berbalas tatapan mata dari bapak, kak dira dan daru ke arah gw
“ danang enggak sakit bu...mungkin danang cuma lelah aja...” jawab gw beralasan, karena sangat tidak mungkin untuk gw menceritakan apa yang tengah gw rasakan kali ini
“ sebaiknya kamu istirahat aja nang...wajarlah bu danang lelah...kan selama bapak enggak ada di rumah ini, danang yang menggantikan peran bapak di rumah ini....” ucap bapak dengan menunjukan ekspresi wajah bangganya, terlihat ibu, kak dira dan daru mengembangkan senyum kecilnya begitu mendengar perkataan bapak
“ ohh iya bu...habis sarapan ini, bapak mau ke rumah abah iding...” ucap bapak kembali yang berbalas rasa heran di wajah ibu
“ ke rumah abah iding...? memangnya ada apa lagi pak...bukankah semua kejadian ini sudah berakhir...”
“ memang sudah berakhir bu....bapak hanya ingin bersilaturahmi sekaligus mengucapkan terima kasih kepada abah iding, karena semalam itu bapak lupa untuk mengucapkannya....” jawab bapak yang berbalas anggukan kepala ibu sebagai tanda ibu memahami maksud tujuan bapak ke rumah abah iding, setelah mengucapkan jawaban tersebut, terlihat bapak bangkit dari kursinya dan berjalan memasuki kamar, setelah beberapa saat lamanya bapak berada di dalam kamar, terlihat bapak sudah keluar kembali dengan membawa sebuah tas ransel di tangannya
“ loh...apa itu pak...?” tanya ibu yang berbalas rasa heran di wajah gw, kak dira dan daru
“ ohhh...ini semua pakaian bekas aki dan nini, bapak mau menyerahkannya ke abah iding, siapa tau bisa mereka pergunakan lagi...”
“ betul pak....dari pada mubazir, lebih baik disumbangkan...” ucap kak dira yang berbalas belaian tangan ibu di rambutnya
“ ya..udah...kalau begitu bapak ke rumah abah iding dulu....” mendengar perkataan bapak, terlihat ibu berjalan ke arah bapak dan mencium tangan bapak, begitu juga dengan kak dira dan daru
“ nang...” tegur ibu begitu melihat gw yang masih terdiam di kursi, melihat gw yang masih belum juga beranjak dari kursi, terlihat bapak berjalan menghampiri gw dengan senyum kecilnya
“ kamu sudah dewasa nang....bapak bangga sama kamu....” ucap bapak seraya memainkan rambut gw dengan telapak tangannya, mendapati hal tersebut gw segera bangki dari kursi dan memeluk bapak...butiran air mata yang smenjak tadi masih tertahan di kedua kelopak mata ini kini berangsur angsur mulai mengalir seiring dengan isak tangis gw yang mulai terdengar, mungkin apa yang gw lakukan saat ini akan membuat ibu, kak dira dan daru akan merasa heran...karena apa yang gw lakukan saat ini seperti layaknya seseorang yang baru saja bertemu setelah sekian lama berpisah atau seseorang yang memang hendak berpisah dalam kurun waktu yang lama
“ haduh nang....nanti sore bapak kamu juga pulang...ibu jadi ikutan sedih nih...” ucap ibu diantara senyum dan matanya yang berkaca kaca
“ iya nang...aneh lu...kayak lagi main drama aja...” canda kak dira yang berbalas gelak tawa daru, akhirnya setelah tidak ada satu kata pun yang terucap dari mulut gw...pelukan gw yang semula terasa erat...kini terasa semakin melonggar...bahkan kini terlepas sama sekali...seiring dengan langkah bapak yang mulai berjalan ke luar dari dalam rumah dan menghilang dari pandangan mata ini
Next : Epilogue (titik puncak dari cerita ini)
“ ini golok abah.....bagaimana bisa ada di dalam sumur....?” tanya bapak yang berbalas terlepasnya genggaman abah iding pada golok tersebut
“ iya tam...ini milik abah kamu...luar biasa jahatnya golok ini....bahkan hanya dengan menyentuhnya...abah bisa merasakan golok ini seperti membakar telapak tangan abah...” ujar abah iding seraya memperlihatkan kulit telapak tangannya yang memerah, kini seraya merapalkan sesuatu di mulutnya, abah iding kembali memungut golok tersebut dan menyatukannya dengan cincin bermata batu hitam yang ada di dalam genggaman tangannya
“ bah....kenapa golok abah ini bisa berada di dalam sumur....?” tanya bapak kembali sambil memperhatikan gerakan tangan abah iding yang meletakan genggaman tangannya di atas kepulan asap putih yang keluar dari dalam wadah, lama abah iding terdiam tanpa mengeluarkan satu patah kata pun dari mulutnya, kedua bola matanya yang terpejam seperti mempertajam ekspresi wajahnya yang menunjukan bahwa abah iding sedang merasakan sesuatu
“ abah kamu kecewa tam, apa yang telah abah kamu tumbalkan untuk kali kedua ini tidak dapat menolong jiwa ibu kamu, karena memang perjanjian yang abah kamu buat itu hanya untuk kesaktian dan kekayaan...bukan untuk memperpanjang masa hidup seseorang....kekecewaan yang abah kamu rasakan telah membuatnya memutuskan untuk membuang golok tersebut di dalam sumur ini...pilihan abah kamu yang memilih untuk menyiksa diri dengan cara tidak makan dan tidak minum telah membuat abah kamu semakin lemah bahkan seharusnya mati...tapi kematiannya itu tidak semudah itu, perjanjian ghoib yang telah abah kamu lakukan telah membuat abah kamu terperangkap dalam hidup dan mati....begitu juga dengan golok milik abah kamu ini....seharusnya jika abah kamu sehat...dimanapun golok ini dibuang pasti akan kembali lagi ke abah kamu tapi karena kondisi abah kamu yang sudah terperangkap dalam hidup dan mati bahkan sekarang abah kamu sudah meninggal maka golok ini terperangkap juga dalam sumur ini....dan akhirnya golok ini sekarang kembali menampakan wujudnya karena memang sudah ada seseorang yang terikat dengan golok dan cincin ini...... dan percayalah tam... golok ini jugalah yang telah menyamarkan keberadaan tumbal kedua yang ada di sumur ini....” jawab abah iding seraya mengeluarkan sehelai kain putih dari dalam pelastik hitam
“ tumbal kedua....?” tanya bapak dengan rasa tidak percaya atas apa yang telah dikatakan oleh abah iding
“ iya tam....tumbal yang kedua, kakak kamu telah mempunyai dua orang anak....ini adalah tumbal yang kedua...”
“ astagfirullah..” ucap pak ujang yang merasa tidak nyaman dengan perkataan abah iding
“ kalian ikut bantu abah....” entah tertuju kepada siapa perkataan yang terucap dari mulut abah iding ini, tapi dari sorot matanya yang tertuju ke arah gw dan daru, sepertinya perkataannya itu memang ditujukan kepada gw dan daru, untuk sejenak gw yang masih terdiam karena mencoba mencerna perkataan abah iding tadi telah tersadarkan oleh gerakan tangan daru yang menarik pergelangan tangan gw
“dan akhirnya golok ini sekarang kembali menampakan wujudnya karena memang sudah ada seseorang yang terikat dengan golok dan cincin ini....apa maksud semua kata kata itu....siapa yang terikat dengan perjanjian ghoib yang telah aki buat ini....” tanya gw dalam hati, belum sempat gw mendapatkan jawaban atas pertanyaan itu, terlihat abah iding menyerahkan kain yang dipegangnya kepada bapak
“ sekarang kalian pegang setiap ujung dari kain ini, dan bentangkan di atas sumur...” untuk sesaat gw dan daru hanya bisa saling berpandangan dalam tanya begitu mendapati perintah tersebut, hingga akhirnya kembali terdengar perintah abah iding yang meminta kami untuk segera memegang setiap ujung dari kain tersebut dan membentangkannya di atas sumur, kini setelah melihat kain tersebut terbentang di atas sumur, abah iding kembali seperti merapalkan sesuatu seraya menggenggam golok dan cincin tersebut di atas kain
“ sekarang kalian bisa melepaskannya....” ucap abah iding yang berbalas terlepasnya pegangan tangan kami pada kain tersebut secara serentak
“ ini benar benar enggak masuk akal....” ucap gw dalam hati begitu melihat kain tersebut masih terbentang di atas sumur tanpa menunjukan tanda tanda akan terjatuh ke dalam sumur, setelah beberapa saat kembali terdiam dalam rapalannya, kini gerakan tangan abah iding mulai terarah ke kain putih tersebut
“ ya tuhannnn....” ucap gw dengan rasa tidak percaya atas apa yang tengah gw lihat, kini begitu gerakan tangan abah iding yang lebih tepat dikatakan sebagai sebuah rengkuhan itu mulai menyentuh kain putih tersebut...tangan abah iding terlihat seperti memegang sesuatu lalu merengkuhnya
“ apa itu bah...?” tanya bapak begitu melihat abah iding mulai membungkus benda yang berhasil di rengkuhnya itu dengan kain putih, seiring dengan pertanyaan yang terlontar dari mulut bapak, kini gw bisa merasakan aroma bau busuk yang sedari tadi telah tersamarkan oleh aroma wangi kemenyan yang terbakar, mulai bisa tercium kembali, dan sepertinya...sumber dari aroma bau busuk itu berasal dari benda yang kini ada dalam rengkuhan tangan abah iding
“ ini anak dari kakak kamu tam...anak ceu odah....” ujar abah iding tanpa memperlihatkan bentuk dari kondisi phisik anak uwa odah
“ astagfirullah...” ucapan yang terlontar dari mulut pak ujang seakan akan mewakili rasa keterkejutan kami atas perkataan yang baru saja di ucapkan oleh abah iding
“ ya tuhannn...setega inikah abah terhadap anaknya...” ratap bapak sambil menyentuh sesosok anak uwa odah yang berselimutkan kain putih
“ semua ini sudah terjadi tam....apa yang telah abah kamu lakukan itu hanyalah sebuah bagian dari perjalanan hidup....” nasehat abah iding begitu melihat keterpurukan jiwa bapak
“ apa yang harus kita lakukan selanjutnya bah....?”
“ seperti apa yang telah abah katakan sebelumnya....abah hanya bisa membantu kamu sebatas ini tam..., setelah ini abah akan meminta ujang untuk membuang kedua benda ini ke tempat yang jauh...” ucap abah iding seraya memberikan isyarat pada golok kecil serta cincin bermata batu hitam yang masih ada di dalam genggaman tangannya
“ andai memang benda ini nantinya akan kembali lagi ke rumah ini...berarti....” belum sempat abah iding mengakhiri perkataannya, terlihat bapak memberikan isyarat tangan agar abah iding tidak meneruskan perkataannya
“ baiklah kalau begitu....untuk tidak menimbulkan banyaknya omongan dari warga kampung, maka kita akan menguburkan anak kakak kamu ini tengah malam nanti....” ucap abah iding yang berbalas anggukan kepala bapak
“ pak....apakah ibu dan kak dira perlu diberitahukan tentang penemuan anak uwa odah ini...?” tanya gw yang berbalas keraguan bapak, hingga akhirnya abah iding memberikan saran agar gw memberitahukan penemuan anak uwa odah ini kepada ibu...karena menurut abah iding biar bagaimanapun ibu adalah adik dari uwa odah walaupun bukan adik kandung seperti bapak
adalah hal yang sulit untuk gw memberitahukan sesuatu kepada seseorang yang masih terlihat lemah karena kejadian buruk yang telah dialaminya, kini setelah gw berputar putar berbicara tentang hal hal indah yang gw alami selama masa kehidupan aki, akhirnya gw mulai dapat memberitahukan tentang penemuan dari anak uwa odah yang telah meninggal kepada ibu serta kak dira, walaupun ibu sempat terlihat shock begitu mendengar berita tersebut...tapi semuanya itu tidak berlangsung lama, keyakinan ibu akan sesuatu yang buruk telah menimpa anak uwa odah telah memberinya kekuatan untuk tidak terlalu lama bergelut dengan rasa dukanya
“ sepertinya ini waktu yang tepat untuk menguburkan anak kakak kamu.....” ucap abah iding setelah beberapa saat lamanya terlibat pembicaraan dengan bapak, detik demi detik yang berlalu kini tanpa terasa telah mengantarkan kami pada pukul satu malam
“ sepertinya begitu pak......” ucap bapak sambil mengarahkan pandangannya ke arah gw dan daru yang berada tidak jauh dari posisi bapak dan abah iding berbicara, setelah mengucapkan kata kata tersebut, kini terlihat bapak berjalan menghampiri kami
“ sebaiknya kalian tunggu di rumah menemani ibu...biar bapak dan abah iding saja yang menguburkan anak uwa odah....” ucap bapak sambil mengelus rambut gw dan daru, seperti tidak mau untuk berlama lama menunda prosesi pemakaman anak uwa odah, terlihat bapak kini mengambil cangkul yang ada di halaman belakang lalu membungkusnya dengan kertas...sepertinya bapak memang tidak ingin apa yang akan dilakukannya bersama abah iding malam ini diketahui oleh warga kampung
“ sudah siap tam...?” tanya abah iding sambil menghimpitkan kain putih yang berisikan anak uwa odah ditangannya...layaknya seseorang yang tengah membawa sesuatu, mendapati pertanyaan tersebut terlihat bapak menganggukan kepala sebagai tanda kesiapannya, hingga akhirnya....bapak dan abah iding mulai beranjak pergi meninggalkan rumah menembus kegelapan malam
rasa lelah yang gw dan daru rasakan malam ini, telah membuat mata kami begitu mudah untuk dipejamkan, tapi mungkin bukan hanya rasa lelah yang membuat kami terasa mudah untuk memejamkan mata ini....gw merasa apa yang telah bapak tunjukan malam ini, memberikan gw sebuah pelajaran akan arti sebuah tanggung jawab dari seorang bapak....ya...sebuah tanggung jawab besar untuk memberikan rasa aman...rasa nyaman terhadap keluarga yang di pimpinnya...dan hal tersebut telah dibuktikan oleh bapak malam ini
tanpa terasa udara pagi yang terasa segar mulai gw rasakan memasuki indera penciuman ini, diantara pejaman mata gw yang mulai terbuka, tampak terlihat disekitar gw.... bapak,ibu,kak dira,daru,serta adik kecil gw yang belum mempunyai nama masih terlihat tertidur pulas dalam balutan dingin udara pagi, suara azan shubuh yang mungkin sebentar lagi akan terdengar, kini memaksa gw untuk segera beranjak dari tempat tidur dan berjalan menuju ke kamar mandi...seiring dengan langkah kaki yang berjalan menuju ke kamar mandi...sama sekali tidak terlintas dalam pikiran gw akan rasa takut atas penampakan sosok sosok aneh yang menyerupai uwa odah atau pun aki...hal ini mungkin karena keyakinan gw yang begitu yakin atas tindakan yang telah dilakukan oleh bapak malam tadi telah mengakhiri segala bentuk gangguan menyeramkan di rumah ini
“ brengsek...airnya habis...” gerutu gw begitu melihat air di dalam bak kamar mandi yang hampir mengering, tanpa berpikir panjang, kini gw segera berjalan menuju ke halaman belakang untuk mengambil air dari sumur...tapi...baru saja gw membuka pintu rumah dan berjalan beberapa langkah keluar dari dalam rumah...gw merasakan seperti ada sesuatu yang terantuk oleh langkah kaki gw ini...dan benar saja, begitu gw menolehkan pandangan ini ke arah tanah...kini gw melihat dua buah benda yang seharusnya sudah tidak ada lagi keberadaanya di rumah ini
“ ini enggak mungkin....enggak mungkin.....” sangkal gw atas apa yang tengah gw lihat....kini tatapan mata gw memandang kepada dua buah benda yang berada di atas tanah....yaa...kedua benda itu adalah golok kecil beserta cincin bermata batu hitam....dua buah benda yang seharusnya sudah menghilang bersamaan dengan kepergian pak ujang untuk menyingkirkan benda benda tersebut dari kehidupan keluarga kami
“ apakah ini yang dimaksud dengan perkataan abah iding yang mengatakan... andai memang benda ini nantinya akan kembali lagi ke rumah ini...berarti...” lama gw terdiam mencoba mencerna setiap kata yang terangkai dari perkataan abah iding tersebut, tapi semakin lama gw mencoba mencerna setiap rangkaian kata tersebut, semakin bertambah juga kebuntuan gw untuk memahami semua perkataan itu
“ sialll.....sepertinya hanya bapak yang mengerti dengan maksud perkataan abah iding tersebut...dan gw harus menanyakan apa maksud dari semua kejadian ini kepada bapak...” ucap gw seraya mencoba memungut kedua benda tersebut dari atas tanah
“ nang....?” suara teguran yang terdengar secara tiba tiba dari belakang tubuh gw ini dengan serta merta membatalkan keinginan gw untuk memungut kedua benda tersebut dari atas tanah
“ ini enggak mungkin.....” ucap bapak seiring dengan pandangan mata gw yang terarah ke arah bapak, terlihat bapak yang berdiri mematung di depan pintu dengan tatapan mata tidak percaya atas apa yang telah dilihatnya
“ apa sebenarnya maksud dari semua ini pak....?” tanya gw seraya meneruskan keinginan gw untuk memungut kedua benda tersebut dari atas tanah, lalu menyerahkannya kepada bapak, lama bapak terdiam memperhatikan kedua benda tersebut...walaupun tidak ada sepatah katapun yang terucap dari mulut bapak, tapi dari ekspresi wajah yang diperlihatkan bapak sudah cukup memberikan gw keyakinan kalau apa yang telah terjadi kali ini adalah sebuah peristiwa yang sebenarnya telah bapak perkirakan sebelumnya walaupun bapak memang tidak berharap kejadian tersebut benar benar terjadi
“ pak...bapak kenapa....?” tanya gw kembali diantara tatapan mata bapak yang masih memperhatikan kedua benda tersebut
“ bapak enggak kenapa napa nang....semua yang terjadi ini hanyalah sebuah kejadian biasa, biar nanti pagi....bapak akan membawa kedua benda ini ke rumah abah iding.....” jawab bapak sambil mengembangkan senyum kecil di wajahnya
“ kalang memang begitu...danang ikut pak....”
“ kamu sebaiknya di rumah aja nang...jaga ibu..kakak dan adik adik kamu.....biar semua ini bapak yang menyelesaikannya, kamu harus percaya sama bapak...mulai hari ini...semuanya akan kembali normal kembali....” ucap bapak menolak keinginan gw yang ingin ikut serta menemani bapak ke rumah abah iding, tapi entah mengapa gw merasa kalimat penolakan yang diucapkan bapak tersebut terasa begitu janggal...bahkan kini gw semakin merasa yakin kalau apa yang telah dikatakan oleh bapak tersebut adalah sebuah perkataan yang mencoba membungkus sebuah peristiwa besar yang mungkin akan terjadi
tepat pukul tujuh pagi, bersamaan dengan acara sarapan pagi yang biasa kami lakukan bersama...tidak terlihat sama sekali tanda tanda kalau bapak akan menceritakan perihal kembalinya golok kecil dan cincin bermata batu hitam tersebut kepada ibu, kak dira ataupun daru, tatapan mata bapak yang sesekali terarah ke wajah gw seperti memberikan gw sebuah isyarat agar gw merahasiakan semuanya ini kepada mereka
“ senang rasanya...akhirnya kita bisa berkumpul lagi seperti ini...tanpa ada rasa takut dan khawatir lagi...” ucap ibu sambil mengarahkan pandangannya ke wajah bapak
“ iya bu....dira enggak bisa bayangkan, kalau kita menghadapi semua kejadian ini tanpa ada bapak di rumah ini....untungnya bapak cepat kembali....” mendengar perkataan kak dira, terlihat bapak mengembangkan senyum kecilnya, hal ini sangat berbanding terbalik dengan ekspresi wajah yang gw perlihatkan
“ bapak gitu loh....” ujar daru dengan candaannya, dan hal tersebut membuat senyum kecil di wajah bapak berubah menjadi sebuah tawa kecil, diantara wajah wajah yang ceria tersebut, tampak ibu memperhatikan ekspresi wajah gw yang sama sekali tidak menunjukan keceriannya
“ kamu kenapa nang...?” tanya ibu seraya bangkit dari kursinya dan berjalan menghampiri gw, terlihat ibu menyentuhkan telapak tangannya ke kening gw
“ kamu sakit....?” tanya ibu kembali yang berbalas tatapan mata dari bapak, kak dira dan daru ke arah gw
“ danang enggak sakit bu...mungkin danang cuma lelah aja...” jawab gw beralasan, karena sangat tidak mungkin untuk gw menceritakan apa yang tengah gw rasakan kali ini
“ sebaiknya kamu istirahat aja nang...wajarlah bu danang lelah...kan selama bapak enggak ada di rumah ini, danang yang menggantikan peran bapak di rumah ini....” ucap bapak dengan menunjukan ekspresi wajah bangganya, terlihat ibu, kak dira dan daru mengembangkan senyum kecilnya begitu mendengar perkataan bapak
“ ohh iya bu...habis sarapan ini, bapak mau ke rumah abah iding...” ucap bapak kembali yang berbalas rasa heran di wajah ibu
“ ke rumah abah iding...? memangnya ada apa lagi pak...bukankah semua kejadian ini sudah berakhir...”
“ memang sudah berakhir bu....bapak hanya ingin bersilaturahmi sekaligus mengucapkan terima kasih kepada abah iding, karena semalam itu bapak lupa untuk mengucapkannya....” jawab bapak yang berbalas anggukan kepala ibu sebagai tanda ibu memahami maksud tujuan bapak ke rumah abah iding, setelah mengucapkan jawaban tersebut, terlihat bapak bangkit dari kursinya dan berjalan memasuki kamar, setelah beberapa saat lamanya bapak berada di dalam kamar, terlihat bapak sudah keluar kembali dengan membawa sebuah tas ransel di tangannya
“ loh...apa itu pak...?” tanya ibu yang berbalas rasa heran di wajah gw, kak dira dan daru
“ ohhh...ini semua pakaian bekas aki dan nini, bapak mau menyerahkannya ke abah iding, siapa tau bisa mereka pergunakan lagi...”
“ betul pak....dari pada mubazir, lebih baik disumbangkan...” ucap kak dira yang berbalas belaian tangan ibu di rambutnya
“ ya..udah...kalau begitu bapak ke rumah abah iding dulu....” mendengar perkataan bapak, terlihat ibu berjalan ke arah bapak dan mencium tangan bapak, begitu juga dengan kak dira dan daru
“ nang...” tegur ibu begitu melihat gw yang masih terdiam di kursi, melihat gw yang masih belum juga beranjak dari kursi, terlihat bapak berjalan menghampiri gw dengan senyum kecilnya
“ kamu sudah dewasa nang....bapak bangga sama kamu....” ucap bapak seraya memainkan rambut gw dengan telapak tangannya, mendapati hal tersebut gw segera bangki dari kursi dan memeluk bapak...butiran air mata yang smenjak tadi masih tertahan di kedua kelopak mata ini kini berangsur angsur mulai mengalir seiring dengan isak tangis gw yang mulai terdengar, mungkin apa yang gw lakukan saat ini akan membuat ibu, kak dira dan daru akan merasa heran...karena apa yang gw lakukan saat ini seperti layaknya seseorang yang baru saja bertemu setelah sekian lama berpisah atau seseorang yang memang hendak berpisah dalam kurun waktu yang lama
“ haduh nang....nanti sore bapak kamu juga pulang...ibu jadi ikutan sedih nih...” ucap ibu diantara senyum dan matanya yang berkaca kaca
“ iya nang...aneh lu...kayak lagi main drama aja...” canda kak dira yang berbalas gelak tawa daru, akhirnya setelah tidak ada satu kata pun yang terucap dari mulut gw...pelukan gw yang semula terasa erat...kini terasa semakin melonggar...bahkan kini terlepas sama sekali...seiring dengan langkah bapak yang mulai berjalan ke luar dari dalam rumah dan menghilang dari pandangan mata ini
Next : Epilogue (titik puncak dari cerita ini)
itkgid dan 5 lainnya memberi reputasi
6
Kutip
Balas