- Beranda
- Stories from the Heart
Where the fvck are you?
...
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.7KAnggota
Tampilkan semua post
TS
palinglembut
#6
2.5
Di trotoar, dengan dua plastik size large yang berisi tiga smirnoff, satu botol san mig, kacang garuda, dan berbagai macam rasa pocky. ‘Traktiran’ Mira ini membuat gue memikirkan diet low carb yang selama ini gue jalani dengan religius, menyusun rencana untuk balik lagi ke diet itu setelah semua gibahan ini selesai. I mean, setelah ini, kemungkinan besar gue berpapasan nggak sengaja―tanpa direncanakan sama sekali―sama ‘mantan’ sahabatnya dia itu seberapa besar sih persennya? melewati sepuluh persen juga nggak.
Gue lalu duduk di trotoar depan Transmart cempaka putih, sambil memerhatikan mobil-mobil yang melewati kami dengan kecepatan sedang pada pukul setengah sembilan malam. Sedikit menumpahkan bir yang membuat basah tangan gue karena nggak ada pembuka botol, jadi harus dibuka di sudut trotoar. Mira duduk di sebelah gue, sambil mengelap tangan lengket beraroma vodka ke rok hitam diatas lutut sedikit, lalu menyesap sedikit Smirnoff dari tutup botol.
“ Dia menghubungi lo lewat ask.fm? “ mulainya tanpa melihat ke arah gue sama sekali. Detik berikutnya, gue melihat ekspresi heran terpantul dari wajahnya dibantu oleh cahaya lampu jalanan. “ Kok lewat situ sih? Gue yakin banget dia hapal mati sama akun socmed lo yang lain lah, dulu kalian saling follow akun socmed satu sama lain ‘kan?”
Gue mengangguk, lalu membuang muka untuk melihat ke jalanan lagi. “ Yaa, dia bilang ke gue kalau bentar lagi mau nikah, tolong doanya, dan seterusnya. “ Gue menyesap san miguel ke dalam mulut, rasanya yang sudah kelewat familiar membuat gue teringat banyak hal yang gue lalui dulu saat gue lagi sering-seringnya minum merek ini. “ Gue rasa lebih personal kali kalau ask.fm, atau dia nggak kepingin langsung dibalas gitu pertanyaan dia karena gue jarang banget ngecek ask.fm. “
“ Tapi sejak itu lo jadi ngecek terus kan? “ tebak Mira, dan tebakannya bullseye.
“ Yaaa, lo juga gitulah pasti kalau seseorang yang dulu lo pernah suka banget, dia message lo tanpa ada peringatan apa-apaan. “
“ Pasti bentar lagi kiamat. “ kata Mira bercanda. “ Karena dia pernah cerita ke gue, kalau habis selesai sekolah, biasanya dia langsung ngilang dan nggak tertarik lagi untuk berteman sama temen-temen sekolahnya dia.”
“ Bahkan elo juga kena? “ tanya gue penasaran.
“ Gue cuma dikabarin setahun sekali ama dia, tapi tahun ini beloman. “ aku Mira jujur. “ Gue sayang sama anak itu sih, jadi pasti gue balesin langsung kalau dia muncul dari goanya dia. “
“ Tapi. “ Lanjut mira tanpa menunggu gue membuka mulut sama sekali. “ Gue ada rahasianya dia, yang sebenarnya sih nggak boleh dikasih tahu sama siapapun. Tapi gue rasa elo perlu tahu soal ini, Aldi. “
Gue ‘menegakan’ telinga seperti anjing, tertarik dengan apa yang akan mau dikatakan oleh Mira. “ Soal apa nih? “
“ Dia tahun lalu jadi mulai minum obat preskripsi. “ Kata Mira serius dan tersirat keprihatinan disana. “ Preskripsi buat bipolarnya dia. “
Jujur. Gue nggak kaget mendengar dia mendeveloping penyakit mental, mengingat kehidupan dia jauh dari kata bahagia dan sama sekali nggak punya masa kecil yang bahagia. Karena hal ini juga, penyesalan gue melepas dia semakin membuat gue ditusuk ke tanah. Karena disaat dia paling membutuhkan gue, malah justru gue menghilang kayak Avatar.
“ Makanya maaf-maaf aja ya, Di. Gue rasa pesan dia lewat ask.fm itu hasil dari manic-nya dia yang bisa bertahan sampai berbulan-bulan. Karena kalau lagi orang yang mengidap bipolar lagi manic, hal-hal yang kesannya impulsif dan beresiko tinggi―semuanya itu jadi kesannya oke-oke aja. Nggak ada masalah sama sekali. “
Gue terdiam. Satu-persatu sel patah hati gue mengerubungi dada gue, mengisi diafragma paru-paru, sehingga napas yang gue keluarkan jauh lebih berat dari biasanya. Gue merasakan detak jantung, darah yang mengalir ke jari kaki gue yang mendingin, dan gejolak sayap kupu-kupu bertebangan jatuh lunglai karena tahu bahwa dia cuma menghubungi gue hanya karena penyakitnya aja. Bukan karena dari pribadinya sendiri yang kangen, pengen tahu soal gue.
Gue rasa-rasanya mau nangis mendengar semua yang baru gue ketahui malam ini. Jadi gue menelan San miguel sampai berteguk-teguk. Melupakan semua hasil kerja keras gue yang sudah hidup dengan nyaris tanpa karbohidrat, hanya untuk supaya gue bisa ‘kuat’ dengan berita tersebut.
“ Tapi dia juga cerita ke gue, “ Mira menghancurkan keheningan yang bertahan hanya beberapa menit. “ Kalau dia terus-terusan keinget elo, mimpiin elo yang pas pacaran di masa SMP, dan betapa kepengennya dia ‘ketemu’ elo didalam mimpi dia tapi elo selalu nggak bisa, dan atau nggak mau ketemu dia.”
“ Dia sampai-sampai ngaku kalau saking kuatnya dan sering banget mimpi begitu, kebentuk memori baru kalau elo mutusin dia pas masih sekolah. “
Gue terheran. “ Memang bisa sampai kayak begitu? “ Mira menghendikan bahu, nggak tahu. Sehingga gue melanjutkan, “ Tapi elo tahu kan sejarahnya gue putus ama dia kayak gimana? Dia yang mutusin gue duluan. “
“ Iya gara-gara elo nggak support dia pas dia lagi butuh-butuhnya elo. “ Kata Mira, sedikit ketus. “ Gue harus jujur juga nih, diantara mantan-mantannya dia, elo doang yang paling gue suka dan benci disaat yang sama. “
“ Kenapa? “
“ Lo nggak nyadar apa? Waktu kelas 2, dia itu lagi ancur-ancurnya. Waktu itu kesannya dia oke-oke aja, ya. ketawa haha-hihi. tapi pas itu dia baru aja dirudapaksa sama mantan nyokapnya. “ aku Mira lebih sedih lagi suaranya. “ Tapi pas itu elo malah nganggep dia kayak ‘piala’ aja, gara-gara elo ngejer lama dan baru ngedapetin dia pas itu, ya ‘kan?”
“ Gue nggak pernah nganggap dia kayak piala. “ Kata gue defensif. “ Tapi dia juga nggak pernah cerita soal itu ke gue. “
“ Karena dia tahu lo cuman nganggep dia anggota baru dari daftar ‘pacar’ lo doang, Di. Makanya dia simpen aja semua itu sendirian. “ seru Mira lumayan keras. Gue membelalak dan teringat bahwa memang ada kenyataan dibalik semua kata-kata pedas Mira barusan. “ Dia ngerasa elo juga bakalan benci dia kalau tahu kenyataan yang sebenar-benarnya. “
Kali ini gue nggak bernapas. Gue kehilangan kata-kata, sehingga kepala gue menunduk. memperhatikan ban-ban mobil di jalanan yang selalu dilewati oleh berbagai macam kendaraan.
“ Jadi saran gue, kalau dia message lo lagi. Please, jangan rebut dia dari calon suaminya yang sekarang. Jangan cari-cari dia. Jangan tanya-tanya dia lewat siapa-siapa. “ Lalu Mira menyesap Smirnoff dalam keheningan yang membutakan.
“ Karena cowoknya sekarang, yang beneran nemenin dia disaat dia butuh orang lain. “ Mira melirik gue dengan tatapan sinis. “ Nggak kayak elo, Aldi. “
***
Di trotoar, dengan dua plastik size large yang berisi tiga smirnoff, satu botol san mig, kacang garuda, dan berbagai macam rasa pocky. ‘Traktiran’ Mira ini membuat gue memikirkan diet low carb yang selama ini gue jalani dengan religius, menyusun rencana untuk balik lagi ke diet itu setelah semua gibahan ini selesai. I mean, setelah ini, kemungkinan besar gue berpapasan nggak sengaja―tanpa direncanakan sama sekali―sama ‘mantan’ sahabatnya dia itu seberapa besar sih persennya? melewati sepuluh persen juga nggak.
Gue lalu duduk di trotoar depan Transmart cempaka putih, sambil memerhatikan mobil-mobil yang melewati kami dengan kecepatan sedang pada pukul setengah sembilan malam. Sedikit menumpahkan bir yang membuat basah tangan gue karena nggak ada pembuka botol, jadi harus dibuka di sudut trotoar. Mira duduk di sebelah gue, sambil mengelap tangan lengket beraroma vodka ke rok hitam diatas lutut sedikit, lalu menyesap sedikit Smirnoff dari tutup botol.
“ Dia menghubungi lo lewat ask.fm? “ mulainya tanpa melihat ke arah gue sama sekali. Detik berikutnya, gue melihat ekspresi heran terpantul dari wajahnya dibantu oleh cahaya lampu jalanan. “ Kok lewat situ sih? Gue yakin banget dia hapal mati sama akun socmed lo yang lain lah, dulu kalian saling follow akun socmed satu sama lain ‘kan?”
Gue mengangguk, lalu membuang muka untuk melihat ke jalanan lagi. “ Yaa, dia bilang ke gue kalau bentar lagi mau nikah, tolong doanya, dan seterusnya. “ Gue menyesap san miguel ke dalam mulut, rasanya yang sudah kelewat familiar membuat gue teringat banyak hal yang gue lalui dulu saat gue lagi sering-seringnya minum merek ini. “ Gue rasa lebih personal kali kalau ask.fm, atau dia nggak kepingin langsung dibalas gitu pertanyaan dia karena gue jarang banget ngecek ask.fm. “
“ Tapi sejak itu lo jadi ngecek terus kan? “ tebak Mira, dan tebakannya bullseye.
“ Yaaa, lo juga gitulah pasti kalau seseorang yang dulu lo pernah suka banget, dia message lo tanpa ada peringatan apa-apaan. “
“ Pasti bentar lagi kiamat. “ kata Mira bercanda. “ Karena dia pernah cerita ke gue, kalau habis selesai sekolah, biasanya dia langsung ngilang dan nggak tertarik lagi untuk berteman sama temen-temen sekolahnya dia.”
“ Bahkan elo juga kena? “ tanya gue penasaran.
“ Gue cuma dikabarin setahun sekali ama dia, tapi tahun ini beloman. “ aku Mira jujur. “ Gue sayang sama anak itu sih, jadi pasti gue balesin langsung kalau dia muncul dari goanya dia. “
“ Tapi. “ Lanjut mira tanpa menunggu gue membuka mulut sama sekali. “ Gue ada rahasianya dia, yang sebenarnya sih nggak boleh dikasih tahu sama siapapun. Tapi gue rasa elo perlu tahu soal ini, Aldi. “
Gue ‘menegakan’ telinga seperti anjing, tertarik dengan apa yang akan mau dikatakan oleh Mira. “ Soal apa nih? “
“ Dia tahun lalu jadi mulai minum obat preskripsi. “ Kata Mira serius dan tersirat keprihatinan disana. “ Preskripsi buat bipolarnya dia. “
Jujur. Gue nggak kaget mendengar dia mendeveloping penyakit mental, mengingat kehidupan dia jauh dari kata bahagia dan sama sekali nggak punya masa kecil yang bahagia. Karena hal ini juga, penyesalan gue melepas dia semakin membuat gue ditusuk ke tanah. Karena disaat dia paling membutuhkan gue, malah justru gue menghilang kayak Avatar.
“ Makanya maaf-maaf aja ya, Di. Gue rasa pesan dia lewat ask.fm itu hasil dari manic-nya dia yang bisa bertahan sampai berbulan-bulan. Karena kalau lagi orang yang mengidap bipolar lagi manic, hal-hal yang kesannya impulsif dan beresiko tinggi―semuanya itu jadi kesannya oke-oke aja. Nggak ada masalah sama sekali. “
Gue terdiam. Satu-persatu sel patah hati gue mengerubungi dada gue, mengisi diafragma paru-paru, sehingga napas yang gue keluarkan jauh lebih berat dari biasanya. Gue merasakan detak jantung, darah yang mengalir ke jari kaki gue yang mendingin, dan gejolak sayap kupu-kupu bertebangan jatuh lunglai karena tahu bahwa dia cuma menghubungi gue hanya karena penyakitnya aja. Bukan karena dari pribadinya sendiri yang kangen, pengen tahu soal gue.
Gue rasa-rasanya mau nangis mendengar semua yang baru gue ketahui malam ini. Jadi gue menelan San miguel sampai berteguk-teguk. Melupakan semua hasil kerja keras gue yang sudah hidup dengan nyaris tanpa karbohidrat, hanya untuk supaya gue bisa ‘kuat’ dengan berita tersebut.
“ Tapi dia juga cerita ke gue, “ Mira menghancurkan keheningan yang bertahan hanya beberapa menit. “ Kalau dia terus-terusan keinget elo, mimpiin elo yang pas pacaran di masa SMP, dan betapa kepengennya dia ‘ketemu’ elo didalam mimpi dia tapi elo selalu nggak bisa, dan atau nggak mau ketemu dia.”
“ Dia sampai-sampai ngaku kalau saking kuatnya dan sering banget mimpi begitu, kebentuk memori baru kalau elo mutusin dia pas masih sekolah. “
Gue terheran. “ Memang bisa sampai kayak begitu? “ Mira menghendikan bahu, nggak tahu. Sehingga gue melanjutkan, “ Tapi elo tahu kan sejarahnya gue putus ama dia kayak gimana? Dia yang mutusin gue duluan. “
“ Iya gara-gara elo nggak support dia pas dia lagi butuh-butuhnya elo. “ Kata Mira, sedikit ketus. “ Gue harus jujur juga nih, diantara mantan-mantannya dia, elo doang yang paling gue suka dan benci disaat yang sama. “
“ Kenapa? “
“ Lo nggak nyadar apa? Waktu kelas 2, dia itu lagi ancur-ancurnya. Waktu itu kesannya dia oke-oke aja, ya. ketawa haha-hihi. tapi pas itu dia baru aja dirudapaksa sama mantan nyokapnya. “ aku Mira lebih sedih lagi suaranya. “ Tapi pas itu elo malah nganggep dia kayak ‘piala’ aja, gara-gara elo ngejer lama dan baru ngedapetin dia pas itu, ya ‘kan?”
“ Gue nggak pernah nganggap dia kayak piala. “ Kata gue defensif. “ Tapi dia juga nggak pernah cerita soal itu ke gue. “
“ Karena dia tahu lo cuman nganggep dia anggota baru dari daftar ‘pacar’ lo doang, Di. Makanya dia simpen aja semua itu sendirian. “ seru Mira lumayan keras. Gue membelalak dan teringat bahwa memang ada kenyataan dibalik semua kata-kata pedas Mira barusan. “ Dia ngerasa elo juga bakalan benci dia kalau tahu kenyataan yang sebenar-benarnya. “
Kali ini gue nggak bernapas. Gue kehilangan kata-kata, sehingga kepala gue menunduk. memperhatikan ban-ban mobil di jalanan yang selalu dilewati oleh berbagai macam kendaraan.
“ Jadi saran gue, kalau dia message lo lagi. Please, jangan rebut dia dari calon suaminya yang sekarang. Jangan cari-cari dia. Jangan tanya-tanya dia lewat siapa-siapa. “ Lalu Mira menyesap Smirnoff dalam keheningan yang membutakan.
“ Karena cowoknya sekarang, yang beneran nemenin dia disaat dia butuh orang lain. “ Mira melirik gue dengan tatapan sinis. “ Nggak kayak elo, Aldi. “
***
0

