- Beranda
- Stories from the Heart
Where the fvck are you?
...
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
palinglembut
#5
2
" Hei! " seseorang meremas bahu gue dari belakang. Gue yang sedang menimang sepatu lari Reebok ukuran 40 di Sports Station, jantung gue langsung berpacu karena gue langsung berpikir bahwa gue dikira sedang maling, langsung berusaha memutar otak untuk mengyakinkan siapapun itu bahwa gue beneran mau beli dan bukannya nilep sepatu disini.
Tapi ternyata yang berada dibelakang gue adalah muka yang familiar, bahkan kelewat familiar. Mira tersenyum cengengesan, dengan kemeja kerja berwarna putih yang kancingnya sudah terbuka dua dari atas. Mira melongok melihat benda di tangan gue sambil memukul balik pundak gue dengan lumayan keras. " My god! Ternyata beneran elo, Met! Gue takut salah orang tadi. "
Mira selalu memanggil gue dengan nama 'Memet', yang lalu kemudian menyebar ke satu angkatan dan dua angkatan di bawah gue, dan bahkan terkadang nyokap gue juga memanggil gue dengan nama sialan itu. Bahkan nama asli gue aja nggak ada sama sekali unsur 'Memet'nya.
" Anjir lo masih aja manggil gue dengan nama begituan. " Kata gue, tapi kali ini dengan tersenyum sekalipun sedikit kesal juga. Perasaan nostalgia dan euphoria memenuhi diafragma gue, mengalir ke seluruh nadi, membuat jantung gue nggak berhenti berdegup senang.
Mira balas tersenyum, lalu merangkul gue. " Yuk kita karaokean berdua? Atau kita ke tempat yang ada Smirnoff nya! ". Lalu selang beberapa detik melihat keraguan gue, dia menambahkan. " Atau nggak kita ke transmart aja, disana jual juga kok beer kesukaan lo. San Miguel light! Murah-murah juga kok. "
" Anjir, gue bukannya nggak ada duit. Tapi gue nggak minum-minum sesuatu yang karbohidratnya banyak gitu―" Mira menghentikan gue ngomong dengan mengambil sepatu yang gue pegang dari tangan gue, lalu menarik gue sampai gue tidak bisa menolak karena tenaganya yang seperti kuli.
" Gue juga udah mulai keto kok, makanya gue cuma minum Smirnoff kalau lagi ada sesuatu yang harus di rayakan. " Mira memeluk lengan gue dengan kasual. " Nah ketemu elo juga udah cukup buat gue untuk merayakannya dengan Smirnoff, gimana? Oke kan? "
Gue menghela napas dan kemudian tersadar bahwa Mira mungkin belum tahu bahwa dia, menghubungi gue lagi setelah sekian lama menghilang lenyap kayak kuntilanak. Wait, bahkan kuntilanak aja ngasih tahu keberadaan dia lewat cekikikannya di malam hari. Berbeda sekali sama si dia.
" Yaudah, kebetulan juga ada sesuatu yang harus gue omongin ke elo. "
Mira mukanya langsung tertarik. " Apaan? Siapa terdakwanya? "
" Kok lo langsung mikirnya gue mau ngomongin orang? " Balas gue cepat.
" Yaaa, I mean, nggak mungkin juga dong lo keseret MLM dan nawarin gue herbalife atau tupperware kan?! "serunya sambil ketawa. " Bagi gue dua barang itu udah kayak barang MLM, bagus sih, cuman yaa mereka―" Mira langsung membelalakan mata, lalu tersenyum sinis ke gue. " Oh, ini pasti soal Mia. "
Gue menghela napas lagi lebih panjang, mendengar nama yang sengaja gue hapus dari memori karena terlalu menyakitkan untuk diungkit, membuat lidah gue gatal untuk memuntahkan semuanya sementara kita menuruni eskalator. " Bingo, ". cuman segitu aja yang bisa gue omongin untuk sekarang ini.
***
" Hei! " seseorang meremas bahu gue dari belakang. Gue yang sedang menimang sepatu lari Reebok ukuran 40 di Sports Station, jantung gue langsung berpacu karena gue langsung berpikir bahwa gue dikira sedang maling, langsung berusaha memutar otak untuk mengyakinkan siapapun itu bahwa gue beneran mau beli dan bukannya nilep sepatu disini.
Tapi ternyata yang berada dibelakang gue adalah muka yang familiar, bahkan kelewat familiar. Mira tersenyum cengengesan, dengan kemeja kerja berwarna putih yang kancingnya sudah terbuka dua dari atas. Mira melongok melihat benda di tangan gue sambil memukul balik pundak gue dengan lumayan keras. " My god! Ternyata beneran elo, Met! Gue takut salah orang tadi. "
Mira selalu memanggil gue dengan nama 'Memet', yang lalu kemudian menyebar ke satu angkatan dan dua angkatan di bawah gue, dan bahkan terkadang nyokap gue juga memanggil gue dengan nama sialan itu. Bahkan nama asli gue aja nggak ada sama sekali unsur 'Memet'nya.
" Anjir lo masih aja manggil gue dengan nama begituan. " Kata gue, tapi kali ini dengan tersenyum sekalipun sedikit kesal juga. Perasaan nostalgia dan euphoria memenuhi diafragma gue, mengalir ke seluruh nadi, membuat jantung gue nggak berhenti berdegup senang.
Mira balas tersenyum, lalu merangkul gue. " Yuk kita karaokean berdua? Atau kita ke tempat yang ada Smirnoff nya! ". Lalu selang beberapa detik melihat keraguan gue, dia menambahkan. " Atau nggak kita ke transmart aja, disana jual juga kok beer kesukaan lo. San Miguel light! Murah-murah juga kok. "
" Anjir, gue bukannya nggak ada duit. Tapi gue nggak minum-minum sesuatu yang karbohidratnya banyak gitu―" Mira menghentikan gue ngomong dengan mengambil sepatu yang gue pegang dari tangan gue, lalu menarik gue sampai gue tidak bisa menolak karena tenaganya yang seperti kuli.
" Gue juga udah mulai keto kok, makanya gue cuma minum Smirnoff kalau lagi ada sesuatu yang harus di rayakan. " Mira memeluk lengan gue dengan kasual. " Nah ketemu elo juga udah cukup buat gue untuk merayakannya dengan Smirnoff, gimana? Oke kan? "
Gue menghela napas dan kemudian tersadar bahwa Mira mungkin belum tahu bahwa dia, menghubungi gue lagi setelah sekian lama menghilang lenyap kayak kuntilanak. Wait, bahkan kuntilanak aja ngasih tahu keberadaan dia lewat cekikikannya di malam hari. Berbeda sekali sama si dia.
" Yaudah, kebetulan juga ada sesuatu yang harus gue omongin ke elo. "
Mira mukanya langsung tertarik. " Apaan? Siapa terdakwanya? "
" Kok lo langsung mikirnya gue mau ngomongin orang? " Balas gue cepat.
" Yaaa, I mean, nggak mungkin juga dong lo keseret MLM dan nawarin gue herbalife atau tupperware kan?! "serunya sambil ketawa. " Bagi gue dua barang itu udah kayak barang MLM, bagus sih, cuman yaa mereka―" Mira langsung membelalakan mata, lalu tersenyum sinis ke gue. " Oh, ini pasti soal Mia. "
Gue menghela napas lagi lebih panjang, mendengar nama yang sengaja gue hapus dari memori karena terlalu menyakitkan untuk diungkit, membuat lidah gue gatal untuk memuntahkan semuanya sementara kita menuruni eskalator. " Bingo, ". cuman segitu aja yang bisa gue omongin untuk sekarang ini.
***
0

