- Beranda
- Stories from the Heart
GW BERTEMAN DENGAN KOLONG WEWE (CHAPTER 3 / FINAL CHAPTER)
...
TS
juraganpengki
GW BERTEMAN DENGAN KOLONG WEWE (CHAPTER 3 / FINAL CHAPTER)
GW BERTEMAN DENGAN KOLONG WEWE (CHAPTER 3 / FINAL CHAPTER)

Cool Cover By Agan Linbara (Thanks, Bree)..
Prolog
Setelah bangun dari ‘Mati Suri’ karena memutuskan untuk mencoba membunuh diri sendiri untuk melindungi Kitab Langit dan melenyapkan Bayu Ambar, gw kembali ke dunia nyata.. Kehidupan gw sedikit jauh berbeda, karena pengalaman ‘Mati Suri’ itu berefek langsung pada kelebihan yang gw miliki.. Gw masih sama Anggie, meski ujian atas cinta kami masih saja mendera.. Ada musuh baru, tentu saja.. Tapi ada juga sahabat baru yang muncul.. Karena ini akhir dari cerita kami berempat..
Kembalinya Anak Ibu...
Pengorbanan Pedang Jagat Samudera...
Cintai Aku Sewajarnya, Yank...
Matinya Seorang Saudara (Versi Gw/Bimo)
Berkumpul Kembali...
Keanehan Yang Mulai Muncul...
Sambutan Ketiga Saudara Ke Reinata...
Sabar???
Cukup! Tinggalin Aku Sendiri!!!
Siapa Kau???
Aku Ikutin Kemauan Kamu...
Keputusan Sepihak Yang Pahit...
Semua Beban Menjadi satu
Semua Beban Menjadi Satu (2)...
Serangkum Rindu Untuk Ayah...
Munculnya Penguasa Laut Utara...
Bertemunya Dua Penguasa...
Sebuah Kesepakatan...
Ibu Kenapa Yah???
Lu Kenapa, Ka???
Wanted Dead Or Alive.. ANTON!!!
Mo 'Perabotan' Lu Hancur Apa Tanggung Jawab???
It's The End Of Us...
Di Kerjain Ibu...
Ridho!!!
Kelewatan!!!
Munculnya Dua Penjaga Gerbang Kerajaan Laut...
Dewi Arum Kesuma VS Dewi Ayu Anjani
Datangnya Sosok Seorang Pemisah Dan Shock Therapy Buat Gw...
Kerajaan Jin...
Terkuaknya Semua Jawaban...
Maafin Gw, Bree...
Pengakuan Suluh...
Akhirnya Boleh Gondrong...
Pernikahan Kak Silvi Yang Seharusnya Membuat Gw Bahagia...
Pernikahan Kak Silvi Yang seharusnya Membuat Gw Bahagia (2)...
Tunggu Pembalasan Gw!!!...
Ni Mas Linduri dan Banas Ireng...
Dua Sosok Penyelamat Misterius...
Ada Apa Sama Ridho?...
Kesalahan Fatal...
Kembalinya Jin Penjaga Ridho dan Suluh...
Akibat Terlalu Ikut Campur...
Setiap Perbuatan Akan Mendapat Balasan...
Munculnya Viny Dan Sebuah Tantangan Bertarung...
Manusia Cabul...
Suara Penolong Misterius...
Bertemunya Kembali Sepasang Kekasih...
Terkuaknya Kebenaran...
Kabar Baik Ayu Dan Prasangka Sekar...
Kabar Baik Ayu Dan Prasangka Sekar (2)...
Jaket Dan Celana Jeans Robek Serta Sweater Hitam Kumal...
She's My True Love...
Dilema...
Pertengkaran Dengan Ibu...
Rambe Lantak...
Gendewa Panah Pramesti...
Akan Ku Balaskan Dendam Mu, Arum Kesuma!!!
Yang Hilang dan Yang Kembali...
Jawaban Ayu...
Mati Gw!!!
Aku Makin Sayang...
Nasihat Om Hendra...
Jera Mencuri...
Ajian Segoro Geni...
Pilihan Sulit...
Keputusasaan Anggie...
Kabar Baik dari Ridho dan Suluh...
Perjalanan Menuju Pembalasan Dendam...
Rawa Rontek...
Rawa Rontek 2 (Terbayarnya Dendam)...
Kedatangan Pak Sugi...
Orang Titipan...
Hukuman Paling Berat...
Tidurlah Di Pangkuan Ku...
Menjajal Kesaktian...
Menjajal Kesaktian (2)...
Pengakuan Mengejutkan Babeh Misar...
Pengajaran Ilmu Silat Betawi...
Di Kepret Babeh Misar Lagi...
Tasya...
Naga Caglak dan Bajing Item...
Misteri Sebuah Dendam...
Kekuatan Sejati Kitab Langit Bagian Matahari...
Perpisahan...
Tanah, Air, Api dan Setetes Darah dari Jantung Seorang Putera...
Tanah, Air, Api dan Setetes Darah dari Jantung Seorang Putera (2)...
Kembalinya Ibu...
Empat Bayangan Hitam...
Siapa Ni Mas Laras Rangkuti???
Dendam Seorang Sahabat...
Ini Keputusan Yang Harus Gw Ambil...
Semua Pengorbanan Ini Demi Ibu...
Rapuh...
Kabar Mengejutkan Sekar dan Sebuah Restu...
Siasat Braja Krama...
Munculnya Kitab Langit...
Si Pembuka Kitab langit dan Sosok Asli Pak Sugi...
Rencana Yang Matang...
Lamaran Pribadi...
Keingintahuan Anggie...
Perubahan Rencana...
Hampir Terjebak...
Kekecewaan Sekar...
Dua Syarat Reinata...
Aku Harap Kamu dan Anggie Bahagia, Mam...
Rahasia Sepasang Suami Isteri...
Menitipkan Amanah...
Berkumpulnya Para Pembela Kitab Langit...
Siasat Ki Purwagalih...
Raja Jin Raja Muslihat (Nyesek, Bree)...
Pertukaran Tawanan...
Perang Gaib PunTak Terelakkan...
Sang Penyelamat Dari Utara...
Pertempuran Awal Dua Penguasa Kerajaan Gaib...
Bertekuk Lututnya Sekutu Braja Krama...
Pertarungan Dua Putera (Gugurnya Satu Sahabat Gaib)...
Krama Raja...
Braja Krama Versus Krama Raja...
Raja Licik...
Aku Lah Sang Pembuka...
Siasat Krama Raja dan Bayu Ambar...
Terbukanya Semua Ilmu Terlarang...
Sebuah Pengecualian...
Sri Baduga Maharaja...
Hilangnya Sebuah Pengecualian...
Hilangnya Sebuah Pengecualian (2)...
Sebuah Pengorbanan...
Pahlawan...
Sumpah...
Ilmu Pamungkas yang Terlarang...
Kabar Yang Mengejutkan...
Pulang...
Pulang (2)...
Sedikit Kisah Rio Sebelum Kisah Ini Tamat...
Terhalang Sumpah...
Bantuan Sahabat Baik...
Bachelor Party...
Keturunan Lain Sang Prabu...
Pembalasan Dendam Singgih...
Sepenggal Kisah Nyi Mas Roro Suwastri...
Tawaran Yang Mengejutkan...
Lawan Atau Kawan???
Terkuaknya Silsilah...
Sebuah Kebenaran...
Sebuah Kebenaran (2)...
Bertemunya Dua Keturunan Sang Prabu...
Pertempuran Dua Hati...
Cinta Pertama VS Cinta Terakhir Jagat Tirta...
Pengakuan Bayu Barata...
Ki Larang dan Nyi Mas Galuh Pandita???
Prana Kusuma...
Kau Benar Keturunan Kami, Ngger...
Our Big Day...
Insiden...
Munculnya Para Tamu Tak Terduga...
Munculnya Para Tamu Tak Terduga (2)...
Dua Tamu Istimewa...
Semua Karena Cinta...
Keputusan Sekar Kencana...
Kena Gampar...
Bonyok!!!
RIBET!!!
Berdamai...
Keponakan Baru...
Malam Pertama dan Tiga Keanehan...
Ajian Warisan Para Leluhur (The Last Part/End Of All Chapters)
SIDE STORIES
Keturunan Yang Tersesat...
Keturunan Yang Tersesat (2)...

Cool Cover By Agan Linbara (Thanks, Bree)..
Prolog
Setelah bangun dari ‘Mati Suri’ karena memutuskan untuk mencoba membunuh diri sendiri untuk melindungi Kitab Langit dan melenyapkan Bayu Ambar, gw kembali ke dunia nyata.. Kehidupan gw sedikit jauh berbeda, karena pengalaman ‘Mati Suri’ itu berefek langsung pada kelebihan yang gw miliki.. Gw masih sama Anggie, meski ujian atas cinta kami masih saja mendera.. Ada musuh baru, tentu saja.. Tapi ada juga sahabat baru yang muncul.. Karena ini akhir dari cerita kami berempat..
Kembalinya Anak Ibu...
Pengorbanan Pedang Jagat Samudera...
Cintai Aku Sewajarnya, Yank...
Matinya Seorang Saudara (Versi Gw/Bimo)
Berkumpul Kembali...
Keanehan Yang Mulai Muncul...
Sambutan Ketiga Saudara Ke Reinata...
Sabar???
Cukup! Tinggalin Aku Sendiri!!!
Siapa Kau???
Aku Ikutin Kemauan Kamu...
Keputusan Sepihak Yang Pahit...
Semua Beban Menjadi satu
Semua Beban Menjadi Satu (2)...
Serangkum Rindu Untuk Ayah...
Munculnya Penguasa Laut Utara...
Bertemunya Dua Penguasa...
Sebuah Kesepakatan...
Ibu Kenapa Yah???
Lu Kenapa, Ka???
Wanted Dead Or Alive.. ANTON!!!
Mo 'Perabotan' Lu Hancur Apa Tanggung Jawab???
It's The End Of Us...
Di Kerjain Ibu...
Ridho!!!
Kelewatan!!!
Munculnya Dua Penjaga Gerbang Kerajaan Laut...
Dewi Arum Kesuma VS Dewi Ayu Anjani
Datangnya Sosok Seorang Pemisah Dan Shock Therapy Buat Gw...
Kerajaan Jin...
Terkuaknya Semua Jawaban...
Maafin Gw, Bree...
Pengakuan Suluh...
Akhirnya Boleh Gondrong...
Pernikahan Kak Silvi Yang Seharusnya Membuat Gw Bahagia...
Pernikahan Kak Silvi Yang seharusnya Membuat Gw Bahagia (2)...
Tunggu Pembalasan Gw!!!...
Ni Mas Linduri dan Banas Ireng...
Dua Sosok Penyelamat Misterius...
Ada Apa Sama Ridho?...
Kesalahan Fatal...
Kembalinya Jin Penjaga Ridho dan Suluh...
Akibat Terlalu Ikut Campur...
Setiap Perbuatan Akan Mendapat Balasan...
Munculnya Viny Dan Sebuah Tantangan Bertarung...
Manusia Cabul...
Suara Penolong Misterius...
Bertemunya Kembali Sepasang Kekasih...
Terkuaknya Kebenaran...
Kabar Baik Ayu Dan Prasangka Sekar...
Kabar Baik Ayu Dan Prasangka Sekar (2)...
Jaket Dan Celana Jeans Robek Serta Sweater Hitam Kumal...
She's My True Love...
Dilema...
Pertengkaran Dengan Ibu...
Rambe Lantak...
Gendewa Panah Pramesti...
Akan Ku Balaskan Dendam Mu, Arum Kesuma!!!
Yang Hilang dan Yang Kembali...
Jawaban Ayu...
Mati Gw!!!
Aku Makin Sayang...
Nasihat Om Hendra...
Jera Mencuri...
Ajian Segoro Geni...
Pilihan Sulit...
Keputusasaan Anggie...
Kabar Baik dari Ridho dan Suluh...
Perjalanan Menuju Pembalasan Dendam...
Rawa Rontek...
Rawa Rontek 2 (Terbayarnya Dendam)...
Kedatangan Pak Sugi...
Orang Titipan...
Hukuman Paling Berat...
Tidurlah Di Pangkuan Ku...
Menjajal Kesaktian...
Menjajal Kesaktian (2)...
Pengakuan Mengejutkan Babeh Misar...
Pengajaran Ilmu Silat Betawi...
Di Kepret Babeh Misar Lagi...
Tasya...
Naga Caglak dan Bajing Item...
Misteri Sebuah Dendam...
Kekuatan Sejati Kitab Langit Bagian Matahari...
Perpisahan...
Tanah, Air, Api dan Setetes Darah dari Jantung Seorang Putera...
Tanah, Air, Api dan Setetes Darah dari Jantung Seorang Putera (2)...
Kembalinya Ibu...
Empat Bayangan Hitam...
Siapa Ni Mas Laras Rangkuti???
Dendam Seorang Sahabat...
Ini Keputusan Yang Harus Gw Ambil...
Semua Pengorbanan Ini Demi Ibu...
Rapuh...
Kabar Mengejutkan Sekar dan Sebuah Restu...
Siasat Braja Krama...
Munculnya Kitab Langit...
Si Pembuka Kitab langit dan Sosok Asli Pak Sugi...
Rencana Yang Matang...
Lamaran Pribadi...
Keingintahuan Anggie...
Perubahan Rencana...
Hampir Terjebak...
Kekecewaan Sekar...
Dua Syarat Reinata...
Aku Harap Kamu dan Anggie Bahagia, Mam...
Rahasia Sepasang Suami Isteri...
Menitipkan Amanah...
Berkumpulnya Para Pembela Kitab Langit...
Siasat Ki Purwagalih...
Raja Jin Raja Muslihat (Nyesek, Bree)...
Pertukaran Tawanan...
Perang Gaib PunTak Terelakkan...
Sang Penyelamat Dari Utara...
Pertempuran Awal Dua Penguasa Kerajaan Gaib...
Bertekuk Lututnya Sekutu Braja Krama...
Pertarungan Dua Putera (Gugurnya Satu Sahabat Gaib)...
Krama Raja...
Braja Krama Versus Krama Raja...
Raja Licik...
Aku Lah Sang Pembuka...
Siasat Krama Raja dan Bayu Ambar...
Terbukanya Semua Ilmu Terlarang...
Sebuah Pengecualian...
Sri Baduga Maharaja...
Hilangnya Sebuah Pengecualian...
Hilangnya Sebuah Pengecualian (2)...
Sebuah Pengorbanan...
Pahlawan...
Sumpah...
Ilmu Pamungkas yang Terlarang...
Kabar Yang Mengejutkan...
Pulang...
Pulang (2)...
Sedikit Kisah Rio Sebelum Kisah Ini Tamat...
Terhalang Sumpah...
Bantuan Sahabat Baik...
Bachelor Party...
Keturunan Lain Sang Prabu...
Pembalasan Dendam Singgih...
Sepenggal Kisah Nyi Mas Roro Suwastri...
Tawaran Yang Mengejutkan...
Lawan Atau Kawan???
Terkuaknya Silsilah...
Sebuah Kebenaran...
Sebuah Kebenaran (2)...
Bertemunya Dua Keturunan Sang Prabu...
Pertempuran Dua Hati...
Cinta Pertama VS Cinta Terakhir Jagat Tirta...
Pengakuan Bayu Barata...
Ki Larang dan Nyi Mas Galuh Pandita???
Prana Kusuma...
Kau Benar Keturunan Kami, Ngger...
Our Big Day...
Insiden...
Munculnya Para Tamu Tak Terduga...
Munculnya Para Tamu Tak Terduga (2)...
Dua Tamu Istimewa...
Semua Karena Cinta...
Keputusan Sekar Kencana...
Kena Gampar...
Bonyok!!!
RIBET!!!
Berdamai...
Keponakan Baru...
Malam Pertama dan Tiga Keanehan...
Ajian Warisan Para Leluhur (The Last Part/End Of All Chapters)
SIDE STORIES
Keturunan Yang Tersesat...
Keturunan Yang Tersesat (2)...
Diubah oleh juraganpengki 15-07-2018 20:23
iskrim dan 132 lainnya memberi reputasi
127
2.1M
8K
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
juraganpengki
#2532
Mati Gw!!!..
Tepat saat adzan Ashar berkumandang, Ayu pamit pulang setelah meminta hubungan kami tetaplah hanya sebagai teman saja.. Ayu juga kembali mewanti-wanti gw untuk masuk kuliah sore ini dan ikut UAS.. Dengan menggunakan mobil peninggalan Ayah, gw berangkat kuliah selepas mengunci pintu rumah.. Ibu dan adik gw, Ayu, masih belum pulang.. Tapi, gw tidak perlu khawatir karena Ibu punya kunci sendiri..
UAS gw berjalan dengan lancar.. Biar kata gw ga belajar rutin tiap malam, tapi otak gw masih bisa digunakan untuk menjawab soal.. Ya, meski ada beberapa butir pertanyaan yang terpaksa gw tinggalkan karena tidak menemukan jawaban yang tepat, tapi gw yakin nilai gw tidak akan anjlok menjadi C atau D.. Minimal B mah, sudah ada dalam bayangan gw..
Setelah melewati UAS hari ini, gw memutuskan untuk mampir di rumah makan yang tadi sore sempat disinggung Ayu.. Niat gw mau makan malam disana, karena gw yakin Ibu pasti masih ga mau masakin gw..
Saat sedang menikmati makan malam, tiba-tiba gw melihat Reinata yang memasuki rumah makan bersama seorang pemuda tidak gw kenal.. Sebelumnya, pandangan gw memang sempat menyisir ke arah depan, saat merasakan aura kuat sosok Jin yang mendekat.. Reinata sendiri nampak kaget melihat gw yang sedang makan seorang diri.. Sementara, Jin penjaga nya malah tersenyum ramah sambil melayang beberapa tombak dibelakang..
Gw sempat melempar senyum ke arah gadis itu, tapi hanya dibalasnya dengan senyuman dingin.. What ever lah, mungkin dia masih kesal setelah gw bilang Ayu adalah cewe gw yang baru, saat bertemu terakhir kali dikampus beberapa waktu lalu..
“Ayu nya mana, Mam? Koq makan sendirian?” Tanya Reinata yang membuat gw tidak menyangka ia akan menegur sapa, setelah melihat reaksinya tadi..
“Ehh, Rei.. Cewe gw udah balik duluan.. Ada urusan keluarga kata nya” Jawab gw berbohong dan langsung di ‘ohh’ kan gadis itu..
“Oh iya.. Kenalin nih, cowo aku.. Aziz” Ucap Reinata sambil memegang lengan pemuda berkacamata dengan wajah khas keturunan timur tengah..
Gw sempat menangkap reaksi kaget di raut muka pemuda itu, sesaat setelah Reinata memperkenalkan dirinya sebagai pacar.. Tapi, dia berusaha menyembunyikan raut keterkejutan nya dan mengganti dengan senyuman ramah, seraya mengulurkan tangan kanan ke gw..
“A..Aziz” Kata pemuda itu menyebut namanya sendiri dengan sedikit gagap..
“Imam” Jawab gw sambil tersenyum ramah dan menjabat uluran tangan pemuda itu..
Reinata langsung mengajak Aziz untuk duduk di bangku sebelah, dan nampak terdiam.. Sesekali gw sempat merasa gadis itu mencuri-curi pandang.. Namun gw tidak menggubrisnya dan meneruskan menyantap makanan yang masih tersisa..
Sebatang rokok gw nyalakan sebagai kebiasaan rutin sehabis makan.. Beberapa pengunjung lain yang baru tiba, terlihat masuk bergantian dengan pengunjung yang keluar.. Gw sempat mengambil Hp di dalam saku celana, untuk melihat barangkali ada pesan yang masuk..
“Mam, lu dimana? Kak Silvi telpon gw barusan.. Ibu masuk Rumah Sakit.. Lu disuruh langsung ke RS X di daerah Cinere.. Disana sudah ada Tante lu” Ucap Bimo secara tiba-tiba didalam batin gw..
Sontak gw langsung berdiri seketika karena saking terkejutnya.. Bahkan Hp yang ada didalam genggaman tangan gw pun jatuh tanpa sengaja.. Dengan wajah panik, gw segera membayar makanan dan beniat kembali ke mobil peninggalan Ayah..
Sambil melangkah keluar, gw sempat memanggil Bimo lewat batin.. Namun tidak dijawabnya.. Gw tahu Bimo tidak akan berbohong untuk hal penting seperti ini.. Tapi, bagaimana bisa Ka Silvi punya nomer Hp nya Bimo yak? Terserahlah, yang penting gw harus segera tiba di rumah sakit..
Mendadak, seseorang menarik lengan gw dari belakang hingga menghentikan langkah kaki.. Saat menoleh, ternyata Reinata yang memegang lengan kiri gw..
“Rei, Sorry.. Gw lagi buru-buru nih”
“Ada apaan, Mam.. Koq muka kamu panik banget?” Tanya Reinata dengan wajah penuh tanda tanya..
Sejenak, gw terdiam karena ragu untuk menceritakan perihal kabar yang barusan disampaikan oleh Bimo..
“Mam, ada apaan sih?” Tanya Reinata dengan nada memaksa..
“Ibu masuk Rumah Sakit X di Cinere.. Barusan gw dikabarin lewat batin, sama sodara gw, Bimo”
Reinata nampak terkejut mendengar jawaban gw barusan.. Dengan cepat, gadis itu kembali ke tempat duduk dan nampak berbicara empat mata dengan pacarnya.. Gw sempat mengerutkan dahi saat melihat Reinata memberikan kunci mobil ke Aziz, lalu berjalan cepat kembali ke arah gw..
“Aku ikut kamu.. Aku juga mau lihat kondisi Ibu”
Ucapan Reinata berhasil membuat gw kaget dan melempar pandangan ke arah pacarnya yang nampak tersenyum kecut..
“Cowo lu gimana, Rei? Masa ditinggal.. Tega amat” Tanya gw bingung karena merasa tidak enak hati dengan si Aziz yang sedikit gagap..
Bukannya menjawab, Reinata malah menarik lengan gw dan mengajak untuk segera keluar dari rumah makan.. Tak mau berdebat, terlebih karena masih kepikiran kondisi Ibu, gw pun menuruti Reinata dan mulai berjalan cepat ke arah mobil..
Persis sebelum masuk ke dalam kendaraan peninggalan Almarhum Ayah, Reinata nampak menatap ke arah Kakek Tua bertongkat putih yang menjadi Jin Penjaganya.. Beberapa saat, gadis itu nampak tertegun.. Kalo sudah melihat Reinata seperti itu, tandanya ia sedang berbicara dengan sang Jin Penjaga.. Dan benar saja dugaan gw, sosok Kakek Tua bergamis putih yang masih melayang di hadapan Reinata, menghilang tak lama kemudian..
Jika ada yang bertanya kenapa Reinata setengah memaksa untuk ikut ke rumah sakit bersama gw, itu karena gadis tersebut juga mengenal baik Ibu.. Bahkan, Reinata sempat menjadi salah satu cewe yang disukai oleh beliau..
Gw sengaja melajukan mobil sedikit cepat, karena ingin segera sampai di rumah sakit.. Namun, jalan yang kami lewati termasuk jalur padat dan seringkali gw terpaksa menggerutu saat terjebak kemacetan.. Saat melihat Hp yang ternyata sudah dalam kondisi mati, entah karena terjatuh tadi atau memang low bat, gw kembali menggerutu.. Seharusnya gw lihat Hp sejak tadi.. Mungkin sudah banyak telpon dan pesan yang masuk terkait kabar Ibu..
“Bawa power bank ga, Rei? Pinjam donk.. Hp gw mati nih”
Reinata mengangguk dan terlihat merogoh tasnya, lalu menyodorkan sebuah benda putih bertuliskan SAMSUL ke arah gw..
“Bentar, Rei.. Gw ambil hpnya dulu” Ucap gw sambil mencoba mengeluarkan Hp dari saku celana sebelah kiri, sementara tangan kanan masih berada di atas stir..
Cukup lama gw berusaha mengeluarkan Hp dari dalam saku celana yang memang agak dalam.. Terlebih, celana yang gw kenakan termasuk slimfit.. Jadi kantongnya pun agak sempit..
“Sini, aku bantu ambilin”
Mendengar ucapan Reinata yang menawarkan bantuan, gw sempat tertegun sejenak.. Bukan tidak mau dibantu, tapi gw memikirkan letak Hp yang ada cukup dalam di saku celana.. Jika Reinata yang mengambil, gw khawatir tangan gadis itu akan menyentuh bagian terlarang..
Namun, adanya Hp sangat penting disaat seperti ini.. Gw mau menelpon atau setidaknya me ‘WA Tante Septi untuk menanyakan kondisi Ibu dan di ruang apa Beliau berada.. Ya udah lah, biar gw terima aja bantuan Reinata.. Lagipula, setahu gw gadis itu bukan tipe cewe yang agresif..
“Iya, Rei.. Bantuin ambil yah.. Terus sekalian tolong di charge juga nanti” Jawab gw meski sedikit lama..
Reinata mengangguk, lalu menggeser duduknya sedikit mendekat ke arah gw.. Perlahan, gadis itu memasukkan tangan kanan nya ke dalam saku celana kiri gw.. Gw sendiri mencoba terus fokus ke jalan yang mulai lancar, meski masih terlihat padat..
“Kantong kamu sempit banget.. Aku susah ngambilnya, Mam.. Emang ga bisa berhenti dulu, yah?”
“Ga bisa, Rei.. Jalannya padet gini.. :Lagian, gw mesti sampe di RS cepet-cepet” Jawab gw yang sempet menoleh ke arah nya, lalu kembali menatap ke depan..
Gw sempat merinding geli saat merasakan jari-jari lentik Reinata, masuk semakin dalam ke kantung celana berusaha untuk meraih Hp.. Awalnya gw masih tidak merasakan apapun.. Tapi karena Reinata juga nampak kesusahan mengambil Hp, mau tidak mau jari-jarinya semakin bergerak kesana kemari.. Dan sialnya lagi, ade gw yang bawah mulai bangun karena terusik..
“Jangan bangun.. Pliss, jangan bangun” Bisik gw dalam hati sambil mengepalkan tangan kiri diatas stir..
Tiba-tiba, kedua mata gw terbelalak saat apa yang gw khawatirkan terjadi.. Tangan Reinata malah bergeser sedikit ke kanan dan memegang sesuatu yang seharusnya tidak ia sentuh.. Gw mengigit lidah sendiri saat gadis itu malah meraba dan menekan-nekan benda terlarang milik gw
“Hp kamu koq panjang begini, Mam.. Jangan-jangan, ini..” Kata Reinata sambil menatap heran ke arah gw yang nampak tegang..
Melihat wajah gw yang tegang menatap ke arah jalan, Reinata berhenti menekan-nekan ade gw dengan jarinya, kemudian menurunkan pandangan ke arah celana gw yang nampak mengembung ke atas.. Lalu...
“IMAM!!!” Teriak Reinata sambil berusaha menarik tangannya keluar dari dalam kantong..
Karena tangan Reinata sempat tersangkut dalam kantong, mau tidak mau badan gw ikut bergeser ke kiri dan membuat jalan mobil yang kami kendarai oleng ke samping.. Beberapa kendaraan dibelakang kami yang mungkin terkejut, langsung membunyikan klakson.. Gw segera menguasai mobil saat tangan gadis itu berhasil keluar.. Lalu membunyikan klakson dan mengeluarkan tangan untuk meminta maaf ke pengendara lain..
Sementara, Reinata nampak terdiam seraya menatap kearah luar jendela sampingnya.. Suasana diantara kami langsung terasa sangat kaku, karena tak satu pun dari kami mau membuka suara.. Dalam hati, sebenarnya gw beberapa kali menertawai kejadian tadi.. Entah bagaimana dengan Reinata dan apa yang gadis itu pikirkan saat ini.. Yang gw yakin, kejadian barusan tidak akan pernah bisa dia lupakan..
Perlahan, gw menepikan mobil ke sebelah kiri.. Reinata terlihat menoleh dan memandang gw dengan tatapan heran..
“Kamu mo ngapain berhenti, Mam?” Tanya Reinata yang akhirnya mau membuka suara..
“Mo ambil Hp.. Biar kejadian kek tadi ga terulang lagi” Jawab gw seraya menaikkan tubuh sedikit dari atas jok, dan mengambil Hp dari dalam kantong dengan mudah..
“Nih, tolong chargerin yah Rei” Pinta gw sambil menyodorkan Hp dan menatap wajah gadis itu yang masih memerah..
“Ga mau.. Kamu sendiri juga bisa, kan lagi ga nyetir.. Lagian aku udah illfeel” Gerutu Reinata dengan menekuk wajah dan melipat kedua tangan di dadanya..
“Ngaku Illfeel, tapi tadi sempet mencet-mencet juga” Celetuk gw dengan suara pelan, sembari memegang kemudi bersiap melajukan mobil kembali..
“IMAAAAM!!!”
Teriakan Reinata yang ternyata mendengar celetukan lirih gw barusan, seketika cumiakkan telinga.. Beberapa kali pinggang gw menjadi sasaran empuk cubitannya.. Beberapa kali juga gw berteriak kesakitan sambil diselingi tawa..
Setelah puas membuat pinggang gw memerah, Reinata kembali terdiam dan menekuk mukanya karena masih sebal.. Sementara, gw mulai mencolokkan kabel penghubung Power Bank ke Hp, sambil sesekali mengusap-usap pinggang yang terasa menyisakan panas perih..
Setiba nya di rumah sakit sekitar pukul setengah sembilan malam, gw segera berjalan menuju ke meja informasi bersama Reinata untuk menanyakan tentang di ruang apa Ibu dirawat.. Sebenarnya, gw dan Reinata sama-sama melihat banyak penampakan Jin jahil.. Bahkan, gadis itu sempat meminta izin untuk memeluk lengan gw karena takut..
Gw yang sangat mengerti akan hal itu, mengizinkan Reinata untuk memeluk lengan dan terus berjalan ke meja Informasi.. Seorang laki-laki yang menjaga meja informasi, mengatakan bahwa Ibu gw dirawat di ruang Anggrek kelas VIP.. Tanpa banyak basa-basi, gw dan Reinata langsung meneruskan langkah ke ruangan yang juga telah diberitahukan letaknya oleh petugas tadi..
Saat melewati koridor, Reinata semakin erat memeluk lengan gw karena beberapa penampakan yang menyerupai pasien rumah sakit ini, berusaha mendekati kami.. Tapi, saat gw meminta Pedang Jagat Samudera untuk mengeluarkan hawa nya dari bahu, semua Jin Jahil yang mencoba mengganggu kami pun menjauh..
Gw sempat bertanya ke seorang perawat, tentang letak kamar dengan nomer yang diberikan petugas pemberi informasi tadi.. Perawat tersebut menjawab bahwa ruang rawat inap Anggek dengan nomer yang barusan gw sebutkan, ada nya tepat di ujung koridor..
“Cepetan jalannya, Mam.. Aku ga mau Jin-jin jahil tadi ikutin kita lagi” Pinta Reinata dengan wajah takut..
Gw menganggukan wajah dan mempercepat langkah kaki, masih dengan lengan kanan di gandeng gadis itu.. Saat hampir tiba di ujung koridor, gw melihat Tante Septi dan Om Rudi sedang duduk di sebuah bangku putih.. Sementara, seorang gadis yang tidak gw ketahui siapa, sedang berdiri membelakangi..
Tante Septi yang melihat kedatangan gw bersama Reinata, segera bangkit dari bangku sambil memanggil nama gw, dan membuat gadis tadi juga membalikkan badan..
“Anggie” Ucap gw dengan kedua mata membesar, karena terkejut saat melihat siapa gerangan gadis yang sedari tadi berdiri membelakangi..
Bersamaan dengan itu, pintu ruang rawat yang persis ada di sebelah Om Rudi terbuka dari dalam, disusul keluarnya seorang gadis lain..
“Ayu” Ucap gw melihat puterinya Pak Sugi, yang baru saja keluar dari balik pintu..
“Mati gw!”
Tepat saat adzan Ashar berkumandang, Ayu pamit pulang setelah meminta hubungan kami tetaplah hanya sebagai teman saja.. Ayu juga kembali mewanti-wanti gw untuk masuk kuliah sore ini dan ikut UAS.. Dengan menggunakan mobil peninggalan Ayah, gw berangkat kuliah selepas mengunci pintu rumah.. Ibu dan adik gw, Ayu, masih belum pulang.. Tapi, gw tidak perlu khawatir karena Ibu punya kunci sendiri..
UAS gw berjalan dengan lancar.. Biar kata gw ga belajar rutin tiap malam, tapi otak gw masih bisa digunakan untuk menjawab soal.. Ya, meski ada beberapa butir pertanyaan yang terpaksa gw tinggalkan karena tidak menemukan jawaban yang tepat, tapi gw yakin nilai gw tidak akan anjlok menjadi C atau D.. Minimal B mah, sudah ada dalam bayangan gw..
Setelah melewati UAS hari ini, gw memutuskan untuk mampir di rumah makan yang tadi sore sempat disinggung Ayu.. Niat gw mau makan malam disana, karena gw yakin Ibu pasti masih ga mau masakin gw..
Saat sedang menikmati makan malam, tiba-tiba gw melihat Reinata yang memasuki rumah makan bersama seorang pemuda tidak gw kenal.. Sebelumnya, pandangan gw memang sempat menyisir ke arah depan, saat merasakan aura kuat sosok Jin yang mendekat.. Reinata sendiri nampak kaget melihat gw yang sedang makan seorang diri.. Sementara, Jin penjaga nya malah tersenyum ramah sambil melayang beberapa tombak dibelakang..
Gw sempat melempar senyum ke arah gadis itu, tapi hanya dibalasnya dengan senyuman dingin.. What ever lah, mungkin dia masih kesal setelah gw bilang Ayu adalah cewe gw yang baru, saat bertemu terakhir kali dikampus beberapa waktu lalu..
“Ayu nya mana, Mam? Koq makan sendirian?” Tanya Reinata yang membuat gw tidak menyangka ia akan menegur sapa, setelah melihat reaksinya tadi..
“Ehh, Rei.. Cewe gw udah balik duluan.. Ada urusan keluarga kata nya” Jawab gw berbohong dan langsung di ‘ohh’ kan gadis itu..
“Oh iya.. Kenalin nih, cowo aku.. Aziz” Ucap Reinata sambil memegang lengan pemuda berkacamata dengan wajah khas keturunan timur tengah..
Gw sempat menangkap reaksi kaget di raut muka pemuda itu, sesaat setelah Reinata memperkenalkan dirinya sebagai pacar.. Tapi, dia berusaha menyembunyikan raut keterkejutan nya dan mengganti dengan senyuman ramah, seraya mengulurkan tangan kanan ke gw..
“A..Aziz” Kata pemuda itu menyebut namanya sendiri dengan sedikit gagap..
“Imam” Jawab gw sambil tersenyum ramah dan menjabat uluran tangan pemuda itu..
Reinata langsung mengajak Aziz untuk duduk di bangku sebelah, dan nampak terdiam.. Sesekali gw sempat merasa gadis itu mencuri-curi pandang.. Namun gw tidak menggubrisnya dan meneruskan menyantap makanan yang masih tersisa..
Sebatang rokok gw nyalakan sebagai kebiasaan rutin sehabis makan.. Beberapa pengunjung lain yang baru tiba, terlihat masuk bergantian dengan pengunjung yang keluar.. Gw sempat mengambil Hp di dalam saku celana, untuk melihat barangkali ada pesan yang masuk..
“Mam, lu dimana? Kak Silvi telpon gw barusan.. Ibu masuk Rumah Sakit.. Lu disuruh langsung ke RS X di daerah Cinere.. Disana sudah ada Tante lu” Ucap Bimo secara tiba-tiba didalam batin gw..
Sontak gw langsung berdiri seketika karena saking terkejutnya.. Bahkan Hp yang ada didalam genggaman tangan gw pun jatuh tanpa sengaja.. Dengan wajah panik, gw segera membayar makanan dan beniat kembali ke mobil peninggalan Ayah..
Sambil melangkah keluar, gw sempat memanggil Bimo lewat batin.. Namun tidak dijawabnya.. Gw tahu Bimo tidak akan berbohong untuk hal penting seperti ini.. Tapi, bagaimana bisa Ka Silvi punya nomer Hp nya Bimo yak? Terserahlah, yang penting gw harus segera tiba di rumah sakit..
Mendadak, seseorang menarik lengan gw dari belakang hingga menghentikan langkah kaki.. Saat menoleh, ternyata Reinata yang memegang lengan kiri gw..
“Rei, Sorry.. Gw lagi buru-buru nih”
“Ada apaan, Mam.. Koq muka kamu panik banget?” Tanya Reinata dengan wajah penuh tanda tanya..
Sejenak, gw terdiam karena ragu untuk menceritakan perihal kabar yang barusan disampaikan oleh Bimo..
“Mam, ada apaan sih?” Tanya Reinata dengan nada memaksa..
“Ibu masuk Rumah Sakit X di Cinere.. Barusan gw dikabarin lewat batin, sama sodara gw, Bimo”
Reinata nampak terkejut mendengar jawaban gw barusan.. Dengan cepat, gadis itu kembali ke tempat duduk dan nampak berbicara empat mata dengan pacarnya.. Gw sempat mengerutkan dahi saat melihat Reinata memberikan kunci mobil ke Aziz, lalu berjalan cepat kembali ke arah gw..
“Aku ikut kamu.. Aku juga mau lihat kondisi Ibu”
Ucapan Reinata berhasil membuat gw kaget dan melempar pandangan ke arah pacarnya yang nampak tersenyum kecut..
“Cowo lu gimana, Rei? Masa ditinggal.. Tega amat” Tanya gw bingung karena merasa tidak enak hati dengan si Aziz yang sedikit gagap..
Bukannya menjawab, Reinata malah menarik lengan gw dan mengajak untuk segera keluar dari rumah makan.. Tak mau berdebat, terlebih karena masih kepikiran kondisi Ibu, gw pun menuruti Reinata dan mulai berjalan cepat ke arah mobil..
Persis sebelum masuk ke dalam kendaraan peninggalan Almarhum Ayah, Reinata nampak menatap ke arah Kakek Tua bertongkat putih yang menjadi Jin Penjaganya.. Beberapa saat, gadis itu nampak tertegun.. Kalo sudah melihat Reinata seperti itu, tandanya ia sedang berbicara dengan sang Jin Penjaga.. Dan benar saja dugaan gw, sosok Kakek Tua bergamis putih yang masih melayang di hadapan Reinata, menghilang tak lama kemudian..
Jika ada yang bertanya kenapa Reinata setengah memaksa untuk ikut ke rumah sakit bersama gw, itu karena gadis tersebut juga mengenal baik Ibu.. Bahkan, Reinata sempat menjadi salah satu cewe yang disukai oleh beliau..
Gw sengaja melajukan mobil sedikit cepat, karena ingin segera sampai di rumah sakit.. Namun, jalan yang kami lewati termasuk jalur padat dan seringkali gw terpaksa menggerutu saat terjebak kemacetan.. Saat melihat Hp yang ternyata sudah dalam kondisi mati, entah karena terjatuh tadi atau memang low bat, gw kembali menggerutu.. Seharusnya gw lihat Hp sejak tadi.. Mungkin sudah banyak telpon dan pesan yang masuk terkait kabar Ibu..
“Bawa power bank ga, Rei? Pinjam donk.. Hp gw mati nih”
Reinata mengangguk dan terlihat merogoh tasnya, lalu menyodorkan sebuah benda putih bertuliskan SAMSUL ke arah gw..
“Bentar, Rei.. Gw ambil hpnya dulu” Ucap gw sambil mencoba mengeluarkan Hp dari saku celana sebelah kiri, sementara tangan kanan masih berada di atas stir..
Cukup lama gw berusaha mengeluarkan Hp dari dalam saku celana yang memang agak dalam.. Terlebih, celana yang gw kenakan termasuk slimfit.. Jadi kantongnya pun agak sempit..
“Sini, aku bantu ambilin”
Mendengar ucapan Reinata yang menawarkan bantuan, gw sempat tertegun sejenak.. Bukan tidak mau dibantu, tapi gw memikirkan letak Hp yang ada cukup dalam di saku celana.. Jika Reinata yang mengambil, gw khawatir tangan gadis itu akan menyentuh bagian terlarang..
Namun, adanya Hp sangat penting disaat seperti ini.. Gw mau menelpon atau setidaknya me ‘WA Tante Septi untuk menanyakan kondisi Ibu dan di ruang apa Beliau berada.. Ya udah lah, biar gw terima aja bantuan Reinata.. Lagipula, setahu gw gadis itu bukan tipe cewe yang agresif..
“Iya, Rei.. Bantuin ambil yah.. Terus sekalian tolong di charge juga nanti” Jawab gw meski sedikit lama..
Reinata mengangguk, lalu menggeser duduknya sedikit mendekat ke arah gw.. Perlahan, gadis itu memasukkan tangan kanan nya ke dalam saku celana kiri gw.. Gw sendiri mencoba terus fokus ke jalan yang mulai lancar, meski masih terlihat padat..
“Kantong kamu sempit banget.. Aku susah ngambilnya, Mam.. Emang ga bisa berhenti dulu, yah?”
“Ga bisa, Rei.. Jalannya padet gini.. :Lagian, gw mesti sampe di RS cepet-cepet” Jawab gw yang sempet menoleh ke arah nya, lalu kembali menatap ke depan..
Gw sempat merinding geli saat merasakan jari-jari lentik Reinata, masuk semakin dalam ke kantung celana berusaha untuk meraih Hp.. Awalnya gw masih tidak merasakan apapun.. Tapi karena Reinata juga nampak kesusahan mengambil Hp, mau tidak mau jari-jarinya semakin bergerak kesana kemari.. Dan sialnya lagi, ade gw yang bawah mulai bangun karena terusik..
“Jangan bangun.. Pliss, jangan bangun” Bisik gw dalam hati sambil mengepalkan tangan kiri diatas stir..
Tiba-tiba, kedua mata gw terbelalak saat apa yang gw khawatirkan terjadi.. Tangan Reinata malah bergeser sedikit ke kanan dan memegang sesuatu yang seharusnya tidak ia sentuh.. Gw mengigit lidah sendiri saat gadis itu malah meraba dan menekan-nekan benda terlarang milik gw
“Hp kamu koq panjang begini, Mam.. Jangan-jangan, ini..” Kata Reinata sambil menatap heran ke arah gw yang nampak tegang..
Melihat wajah gw yang tegang menatap ke arah jalan, Reinata berhenti menekan-nekan ade gw dengan jarinya, kemudian menurunkan pandangan ke arah celana gw yang nampak mengembung ke atas.. Lalu...
“IMAM!!!” Teriak Reinata sambil berusaha menarik tangannya keluar dari dalam kantong..
Karena tangan Reinata sempat tersangkut dalam kantong, mau tidak mau badan gw ikut bergeser ke kiri dan membuat jalan mobil yang kami kendarai oleng ke samping.. Beberapa kendaraan dibelakang kami yang mungkin terkejut, langsung membunyikan klakson.. Gw segera menguasai mobil saat tangan gadis itu berhasil keluar.. Lalu membunyikan klakson dan mengeluarkan tangan untuk meminta maaf ke pengendara lain..
Sementara, Reinata nampak terdiam seraya menatap kearah luar jendela sampingnya.. Suasana diantara kami langsung terasa sangat kaku, karena tak satu pun dari kami mau membuka suara.. Dalam hati, sebenarnya gw beberapa kali menertawai kejadian tadi.. Entah bagaimana dengan Reinata dan apa yang gadis itu pikirkan saat ini.. Yang gw yakin, kejadian barusan tidak akan pernah bisa dia lupakan..
Perlahan, gw menepikan mobil ke sebelah kiri.. Reinata terlihat menoleh dan memandang gw dengan tatapan heran..
“Kamu mo ngapain berhenti, Mam?” Tanya Reinata yang akhirnya mau membuka suara..
“Mo ambil Hp.. Biar kejadian kek tadi ga terulang lagi” Jawab gw seraya menaikkan tubuh sedikit dari atas jok, dan mengambil Hp dari dalam kantong dengan mudah..
“Nih, tolong chargerin yah Rei” Pinta gw sambil menyodorkan Hp dan menatap wajah gadis itu yang masih memerah..
“Ga mau.. Kamu sendiri juga bisa, kan lagi ga nyetir.. Lagian aku udah illfeel” Gerutu Reinata dengan menekuk wajah dan melipat kedua tangan di dadanya..
“Ngaku Illfeel, tapi tadi sempet mencet-mencet juga” Celetuk gw dengan suara pelan, sembari memegang kemudi bersiap melajukan mobil kembali..
“IMAAAAM!!!”
Teriakan Reinata yang ternyata mendengar celetukan lirih gw barusan, seketika cumiakkan telinga.. Beberapa kali pinggang gw menjadi sasaran empuk cubitannya.. Beberapa kali juga gw berteriak kesakitan sambil diselingi tawa..
Setelah puas membuat pinggang gw memerah, Reinata kembali terdiam dan menekuk mukanya karena masih sebal.. Sementara, gw mulai mencolokkan kabel penghubung Power Bank ke Hp, sambil sesekali mengusap-usap pinggang yang terasa menyisakan panas perih..
Setiba nya di rumah sakit sekitar pukul setengah sembilan malam, gw segera berjalan menuju ke meja informasi bersama Reinata untuk menanyakan tentang di ruang apa Ibu dirawat.. Sebenarnya, gw dan Reinata sama-sama melihat banyak penampakan Jin jahil.. Bahkan, gadis itu sempat meminta izin untuk memeluk lengan gw karena takut..
Gw yang sangat mengerti akan hal itu, mengizinkan Reinata untuk memeluk lengan dan terus berjalan ke meja Informasi.. Seorang laki-laki yang menjaga meja informasi, mengatakan bahwa Ibu gw dirawat di ruang Anggrek kelas VIP.. Tanpa banyak basa-basi, gw dan Reinata langsung meneruskan langkah ke ruangan yang juga telah diberitahukan letaknya oleh petugas tadi..
Saat melewati koridor, Reinata semakin erat memeluk lengan gw karena beberapa penampakan yang menyerupai pasien rumah sakit ini, berusaha mendekati kami.. Tapi, saat gw meminta Pedang Jagat Samudera untuk mengeluarkan hawa nya dari bahu, semua Jin Jahil yang mencoba mengganggu kami pun menjauh..
Gw sempat bertanya ke seorang perawat, tentang letak kamar dengan nomer yang diberikan petugas pemberi informasi tadi.. Perawat tersebut menjawab bahwa ruang rawat inap Anggek dengan nomer yang barusan gw sebutkan, ada nya tepat di ujung koridor..
“Cepetan jalannya, Mam.. Aku ga mau Jin-jin jahil tadi ikutin kita lagi” Pinta Reinata dengan wajah takut..
Gw menganggukan wajah dan mempercepat langkah kaki, masih dengan lengan kanan di gandeng gadis itu.. Saat hampir tiba di ujung koridor, gw melihat Tante Septi dan Om Rudi sedang duduk di sebuah bangku putih.. Sementara, seorang gadis yang tidak gw ketahui siapa, sedang berdiri membelakangi..
Tante Septi yang melihat kedatangan gw bersama Reinata, segera bangkit dari bangku sambil memanggil nama gw, dan membuat gadis tadi juga membalikkan badan..
“Anggie” Ucap gw dengan kedua mata membesar, karena terkejut saat melihat siapa gerangan gadis yang sedari tadi berdiri membelakangi..
Bersamaan dengan itu, pintu ruang rawat yang persis ada di sebelah Om Rudi terbuka dari dalam, disusul keluarnya seorang gadis lain..
“Ayu” Ucap gw melihat puterinya Pak Sugi, yang baru saja keluar dari balik pintu..
“Mati gw!”
dodolgarut134 dan 13 lainnya memberi reputasi
14