- Beranda
- Stories from the Heart
Teror Hantu Kos Baru Pejaten (berdasar pengalaman nyata)
...
TS
pakdhegober
Teror Hantu Kos Baru Pejaten (berdasar pengalaman nyata)
Assalamualaikum, semoga agan dan aganwati semua sehat, punya pacar dan enggak kehabisan uang.
Agan pernah, diganggu jin atau sejenis makhluk astral lainnya. Kalau belum, Alhamdulillah. Bagi yang udah pernah, agan berarti nggak sendirian. Karena Ane kali ini mau berbagi cerita tentang pengalaman 7 tahun lalu di sebuah rumah kos di Pejaten, Jakarta Selatan. Sekadar overview, ane sudah lama mau nulis cerita ini, tapi banyak pertimbangan. Yang paling berat karena kos-kosan ini masih ada sampe sekarang. Setahu ane juga rame terus. Semoga kondisinya sudah lebih baik sekarang. Karena itu sebelum membaca ada beberapa rules ya, mohon dimaklumi.
1. Ini beneran cerita nyata gan? Iye ada benernye, tapi ane menulis cerita ini dengan metodologi prosa modern, ambil gampangnya novel. Jadi ane perlu nambahin bumbu buat dramatisasi. Kalau terpaksa dibikin komposisi, kira-kira 50:50 gan.
2. Kos gue juga Pejaten gan! Ini Pejaten sebelah mananya? Udeh ye nikmatin aje, jangan ganggu lapak rejeki orang. Jangan-jangan kos ente yang ane maksud lagi, berabe kan?
3. Gan bagusnya ada foto kali, supaya lebih kentara aslinya, bisa difoto gan? Yah entar ane usahain dah, pura2 nanya kamar kosong, tapi ane bakal ambil foto yang anglenya kelihatan susah ditebak ya. Lagi-lagi ini properti orang gan, mereka punya hak. Tapi entar insya allah ane usahain.
4. Kayanya ane ngerti deh tempatnya di mana, yang di jalan ini kan, sebelah ini kan? Udeh kalo ngerti simpen aja dalem hati.
5. Apdetnya kapan gan? Insya allah paling enggak seminggu sekali, antara malem jumat sampe malem minggu. kalo ada waktu banyak bisa dua kali.
6. Gan, kalo penampakan yang ini asli? suara yang itu juga asli apa rekayasa? Ya udah sih baca aja, ini bukan tayangan fact or fiction.
Nah, gitu aja sih rulesnya. semoga cerita ini menghibur dan bermanfaat. kalau ada kesamaan nama, mohon maaf ya. Buat penghuni kos yang kebetulan baca (soalnya kamarnya banyak banget gan sekarang) semoga gak sadar. Kalopun sadar, ane doain sekarang kondisinya udah nyaman sekarang.
Selamat membaca.
Last Update 13/3/2019
Bersambung....
Agan pernah, diganggu jin atau sejenis makhluk astral lainnya. Kalau belum, Alhamdulillah. Bagi yang udah pernah, agan berarti nggak sendirian. Karena Ane kali ini mau berbagi cerita tentang pengalaman 7 tahun lalu di sebuah rumah kos di Pejaten, Jakarta Selatan. Sekadar overview, ane sudah lama mau nulis cerita ini, tapi banyak pertimbangan. Yang paling berat karena kos-kosan ini masih ada sampe sekarang. Setahu ane juga rame terus. Semoga kondisinya sudah lebih baik sekarang. Karena itu sebelum membaca ada beberapa rules ya, mohon dimaklumi.
1. Ini beneran cerita nyata gan? Iye ada benernye, tapi ane menulis cerita ini dengan metodologi prosa modern, ambil gampangnya novel. Jadi ane perlu nambahin bumbu buat dramatisasi. Kalau terpaksa dibikin komposisi, kira-kira 50:50 gan.
2. Kos gue juga Pejaten gan! Ini Pejaten sebelah mananya? Udeh ye nikmatin aje, jangan ganggu lapak rejeki orang. Jangan-jangan kos ente yang ane maksud lagi, berabe kan?
3. Gan bagusnya ada foto kali, supaya lebih kentara aslinya, bisa difoto gan? Yah entar ane usahain dah, pura2 nanya kamar kosong, tapi ane bakal ambil foto yang anglenya kelihatan susah ditebak ya. Lagi-lagi ini properti orang gan, mereka punya hak. Tapi entar insya allah ane usahain.
4. Kayanya ane ngerti deh tempatnya di mana, yang di jalan ini kan, sebelah ini kan? Udeh kalo ngerti simpen aja dalem hati.
5. Apdetnya kapan gan? Insya allah paling enggak seminggu sekali, antara malem jumat sampe malem minggu. kalo ada waktu banyak bisa dua kali.
6. Gan, kalo penampakan yang ini asli? suara yang itu juga asli apa rekayasa? Ya udah sih baca aja, ini bukan tayangan fact or fiction.
Nah, gitu aja sih rulesnya. semoga cerita ini menghibur dan bermanfaat. kalau ada kesamaan nama, mohon maaf ya. Buat penghuni kos yang kebetulan baca (soalnya kamarnya banyak banget gan sekarang) semoga gak sadar. Kalopun sadar, ane doain sekarang kondisinya udah nyaman sekarang.
Selamat membaca.
Spoiler for Prolog:
Quote:
Last Update 13/3/2019
Bersambung....
Polling
Poll ini sudah ditutup. - 112 suara
Part bagusnya pake foto ilustrasi apa nggak?
Pake, biar makin ngefeel
42%
nggak usah, ane penakut
11%
terserah TS, yang penting gak kentang
47%
Diubah oleh pakdhegober 14-05-2022 11:55
bebyzha dan 141 lainnya memberi reputasi
128
1.2M
3.4K
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
pakdhegober
#1475
Part 38: Dekat
Ketukan pintu kamar memaksaku bangun selekasnya. Berjalan setengah sadar, kemudian tampak wajah Wina dengan alis yang pudar. Rautnya kurang enak pagi ini. Pintu ditahan dari luar seakan-akan ada yang ingin dikatakannya.
“Aku sama papa,” bisiknya dari dekat sekali.
Apa dia bilang?
Hoaa! Panik seketika. Mau ditaruh di mana wajah kusam ini. Gigi belum lagi putih, mata penuh tahi, celana kolor! Aku berlari di tempat sambil memikirkan cara keluar dari kamar ini. Setengah mati aku kalut, belakangan Wina malah membuka mulutnya lebar-lebar untuk tertawa.
Kehed!* Aku baru saja dikerjai.
“Papa sudah pulang,” katanya setelah puas membuat kegaduhan.
“Hmm.”
“Sok cool. Bukannya bersyukur papaku nggak jadi ke sini.”
“Hmm.”
Wina meninju lemah dadaku sekali. “Semalam aku datang ke hotelnya.”
“Syukurlah, biar enggak durhaka. Orang tua datang malah nginap di rumah teman.”
“Masa katanya, aku disuruh tunggu awal bulan aja.”
“Jadi niat kamu cuma minta jajan?”
Alih-alih mengiyakan, Wina memilih menyidak kamar ini. Aku tahu jawabannya pasti iya. Aku berlindung pada Allah dari mempunyai keturunan yang bertabiat semacam dia. Tetapi kemudian aku menyadari sifatku lebih buruk dari Wina.
“Kelihatannya sudah pada layu dan basi, kenapa belum diangkat?” Wina berkomentar setelah memeriksa sajian di atas lemari. Karena kekurangan tinggi badan, mau tidak mau ia melihatnya dengan naik ke meja rias dan kayu lemari.
“Apa yang basi?”
“Bubur itu.”
“Oh. Itu sengaja. Jinnya konon mengidap diabetes.”
“Maksud ngana? Sengaja makan bubur dingin supaya kadar gulanya rendah!?”
“Tapi kamu mungkin enggak percaya, dua malam ini kamar terasa adem betul.”
“Oh ya?”
“Rasain aja sendiri.”
“Kalau kata Moris, ini namanya jaga pelanggan.”
“Bisa juga. Supaya ketagihan nyajen, ya.”
“Pastilah. Setan begitu-begitu punya insting manggaleh* juga.”
“Kalau kata Moris juga, ini yang namanya voor 1.5.”
“Au ah! Aku mandi dulu ya, mau jalan sama Siska.”
Bukannya anak ini ujian, pikirku dengan wajah keheranan.
“Hari ini ujian terakhir, maghrib. Mau beli Onyx,” Wina menyungging genit.
“Lho, hapemu yang sekarang?”
“Tukar tambah lah.”
“Lho, uang dari mana?”
“Papa.”
“Ya Tuhan! Katanya....”
“Aku dikasih buat beli handphone, tapi uang jajan nggak.”
Kembali aku memanjat doa seperti yang tadi.
***
Begitu pagi menjajak siang aku turun dari kamar untuk memulai aktivitas. Sebelum Wina pergi telah kuserahkan flashdisk yang isinya dua bab skripsi public relations. Harapanku pasien segera menghadap dosen pembimbing dan pulang dengan sedikit coretan. Dengan begitu bayaran lebih cepat diterima.
“Vin, Alvin!” panggil Mbak Fani. Terburu-buru kedengarannya.
Reflek tubuhku berpaling sekaligus berdesir. Melihatnya seketika ingat kejadian ganjil semalam. Tetapi boleh jadi dalam beberapa saat lagi aku lupa jika berlama-lama mendalami sosoknya. Ibu muda ini masih berpiyama dengan rambut digelung. Begitu saja ia tetap berkilau.
“Jangan cerita pada siapapun tentang tadi malam!”
Aku diam bukan ingin mencerna kalimatnya, melainkan menunggu kelanjutannya.
“Termasuk sama Wina, please. Ini rahasia.”
“Oke.”
Dia menjurusi mataku, tampaknya sedang memastikan supaya aku tidak lari dari ucapanku. Hanya aku dan dia yang ada di ruangan ini.
“Sorry banget, Mbak. Sybillia gimana keadaannya?”
Perempuan itu mendenguskan nafasnya cukup keras sebelum meninggalkanku tanpa kata. Dia pergi ke dapur lalu kembali dengan dua kaleng bir hitam. Kuturuti gerakannya duduk di kursi makan. Sekaleng miliknya disodorkan padaku. Ia sendiri langsung mereguknya sangat bersemangat.
“Aku mau tahu cerita semalam,” datar ucapannya, tapi keinginan itu tidak mungkin kutolak.
Maka kukisahkan kembali kejadian itu tanpa sedikit pun tambahan dan pengurangan. Mimik pada wajah oval itu sekali-kali tak bergeming ketika kata demi kata tertutur.
“Apakah kamu bisa dipercaya?” dia bertanya tetapi belakangan menjawab sendiri, “Kurasa enggak.”
Ia berdiri dengan tetap membelakangi kursi. Lenguhan keluar dari bibir delimanya yang tipis dan bersudut lancip. Wanita ini seperti tampak menyimpan penat.
Kemudian ia menggumam sendiri, “Aku akan menghadapi semuanya.”
“Apa yang terjadi pada Sybillia?” kuulangi lagi pertanyaan itu sekejap setelah Mbak Fani kembali mendarat di kursi.
“Kenapa begitu khawatir pada Sybillia?”
“Entahlah,” kataku ragu. Namun sepotong gambar yang samar mendadak jelas. “Tadi malam matanya pucat.”
Kerap kali aku meragukan penglihatanku dalam gelap. Namun setiap bayi selalu dilindungi kejujuran sehingga sedikit saja perubahan tampak nyata.
“Ada yang aneh pada Sybillia belakangan ini. Sebelum malam tadi, suhu badannya tinggi tiap tengah malam.”
Mbak Fani kemudian terdiam beberapa saat. Sedang aku sendiri merasa lebih perlu menunggu ceritanya hingga utuh.
“Aku pikir Sybillia bisa bicara dan berjalan lebih lambat dari anak-anak lain. Tapi satu bulan sebelum ulang tahunnya, tiba-tiba dia berkata ‘mama...mama’. How does it feel? Kamu enggak bakalan tahu kecuali aku sendiri yang merasakannya.”
“Tapi beberapa hari setelah itu Sybillia terserang panas. Itu aneh banget, Vin. Tengah malam dia selalu gelisah dan sering menangis. Tiba-tiba pagi harinya normal. Sebetulnya aku bukan orang yang suka berurusan dengan hal-hal di luar kepala. Cuma untuk anakku semata wayang, aku juga enggak boleh naif, kan?”
“Aku percaya ada yang salah di rumahku akhir-akhir ini. Kamu pikir aku diam aja dengan kehadiran kamu? Ada beberapa anak kos lainnya yang juga mengalami ketakutan seperti kamu.”
“Dua malam lalu aku terbangun kira-kira jam 2 malam. Sybillia bersuara dan tertawa enggak henti-henti. Tapi itu bukan suaranya. Terdengar seolah-olah bola bekel mengganjal kerongkongannya. Serak dan kasar. Aku juga beberapa kali menemukan Sybillia berusaha merangkak keluar dari kamar. Makanya aku selalu menutup pintu ruangan dan kamarku rapat-rapat.”
Batinku mengatakan, Mbak Fani sudah melakukan sebisanya tetapi tidak selalu berhasil. Malam tadi Sybillia dapat lolos dari penjagaan meski pintu terkunci dua kali.
Dengan kurang yakin aku akhirnya bersuara, “Sejak kapan ini terjadi?”
“Satu tahun belakangan.”
“Ya Tuhan! Aku salah sangka selama ini.”
“Menurutmu mamaku melahirkan dan membesarkanku di rumah berhantu?”
“Bukan begitu, sih.”
Dengan mudahnya Mbak Fani menyikut bagian rusuk kananku sambil membantah. Jujur saja, aku suka diperlakukan begini. Bahkan aku lupa mengaduh karena berharap ia melakukan hal urakan lainnya. Sayangnya itu tidak terjadi seketika.
“Mbak, boleh tahu, Pak Wi itu orang lama di sini?”
“Oh jelas. Pak Wi itu yang momong aku juga. Sebetulnya Pak Wi sudah berhenti tiga tahun lalu. Paling saat-saat tertentu dia datang. Tapi sudah 10 bulan ini dia kembali lagi. Kamu kelihatannya perhatian banget sama Pak Wi, ya?”
“Perhatian?”
“Yah, dalam arti negatif.”
“Aku akui, iya, mbak. Dan setelah ini aku bakal lebih sewot.”
“Loh, kenapa? Kamu belum kenal dia aja!”
“Karena kudengar sendiri Pak Wi pernah menggendong pemilik rumah ini.”
Skakmat! Sebuah sepakan terarah dan cukup bertenaga mengena pergelangan kakiku.
“Aduhh!”
“Dasar! Laki-laki di mana-mana sama aja.”
Beruntung, Mbak Fani masih menganggap ucapanku gurauan belaka. Memang itu yang kuharapkan!
“Tapi omong-omong, serangan yang barusan itu terlatih juga, ya.”
“Aku kan ikut thai boxing.”
Mampus! Aku berpaling dari pejurus Inkai kepada wanita tukang sepak. Ah, bagaimana ini ceritanya!
“Aku juga dulu pernah ikut Jet Kune Do.”
“Terus kenapa? Mau ngetes?”
Aku tertawa renyah dibuat-buat, sebenarnya untuk menambal nyali kempes. Kenapa wanita-wanita zaman sekarang begini mengerikan!?
“Skip, skip, aku ngalah! Enggak mungkin aku melawan pemilik rumah.”
“Kamu kalah, bukan ngalah, oke?”
Tiada daya dan upaya untuk menghalau ancamannya. Mbak Fani menyimpul senyum bersirat kemenangan. Dan lagi-lagi aku suka diperlakukan begini.
Kemudian obrolan yang menyenangkan ini berputar lagi dan lagi sehingga sampai pada pokok yang sebenarnya.
“Mbak Fani pernah cari tahu penyebabnya?”
Lawan bicaraku menggeleng cepat. Namun ia menerangkan seperti berikut,
“Kuulang ya, Vin, enggak sekali-kali deh aku mau berurusan sama hal-hal begini. Cuma...yah, oke, aku percaya gaib itu ada. Karena itu aku bermohon-mohon supaya Pak Wi kembali lagi ke rumah ini. He’s fuckin’ expert on this case.”
“Tapi Pak Wi berulang-ulang berkata padaku, ‘Nduk, jangan sembunyikan apa yang sebenarnya kamu punya. Saya ini hanya sahaya di rumah ini yang terus menua. Banyak yang ndak kamu sadari’.”
“Kamu ngerti, kan? Seolah-olah dia berpesan, Fani, kamu sebenarnya punya aura supra! So what!?”
Demi Tuhan aku tak mengira Mbak Fani bercerita banyak. Dan ceritanya masih bersambung.
“Yang kamu lihat, aku hidup sendirian sekarang. Enggak tahu akan sampai kapan sendiri. Lonely, all of day lonely.”
“God always alone,” sahutku sembarangan.
Ia menarik napas panjang dan menahannya lalu menghembuskan bebannya hingga tersapu udara. Matanya menarawang ke langit ruangan. Dua bola yang bulat lagi lebar itu tampak bening tetapi sedikit lagi akan berembun.
“Kalaupun masih ada teman hidupku, satu-satunya dialah Sybillia.”
Akhir-akhirnya beban itu tak kuasa lagi ditanggungnya. Mbak Fani membiarkan perasaannya menitik. Beberapa waktu lamanya aku mendengar keheningan dari isak-isak kecil.
“Barangkali Mbak Fani lupa,” tidak sepenuhnya aku mempercayai suaraku, tujuannya hanya menghibur, “Masih ada lagi teman yang begitu setia.”
Wanita pualam yang sedang muram itu tahu-tahu berpaling menatapku. Mata itu meneguhkan bahwa pemiliknya ingin mendengar jawaban pasti.
Lantas aku melirik Unyil dan menunjuknya di bawah layar televisi. Ia sedang berselonjor sambil mengibasi ekor.
Wof wof wof!! Salak dari moncong itu seketika memecah keheningan. Unyil berlari mendekat, meloncat dan langsung mendarat di pangkuan puannya. Selintas senyum yang amat menghangatkan berkembang dari bibir delima itu.
“Kamu benar, Vin. Aku masih punya teman.”
Unyil berkelat-kelit manja dalam belaian. Sesekali kaki depannya menggapai pahaku. Dulu tampaknya anjing ini menjengkelkan. Namun sekarang ini aku harus bersikap manis padanya
“Dia mau berkenalan, nih, Vin.”
Kumiringkan kursi, dan begitu pula yang telah dilakukan Mbak Fani sebelum ini. Dalam beberapa saat saja seekor yang mungil itu sudah berpindah ke pangkuanku.
Aku tidak berpengalaman dengan anjing sehingga waktuku bersama unyil diwarnai kikuk. Ia banyak mengendus, untungnya tidak mencakar atau lebih menakutkan lagi, menggigit.
Mbak Fani kelihatan menyenangi pemandangan ini. Kami ganti berganti mengelus unyil sehingga tanpa sengaja maupun disengaja telapak tangan kami rajin bersentuhan. Akhirnya anjing itu turun dengan kemauannnya sendiri, kembali berselonjor di tempatnya yang tadi.
“Jadi mulai sekarang aku punya teman baru di rumah ini,” ujarku.
“Eh, kalian kan memang sudah seharusnya akrab. Aku ingat kamu pernah memberi unyil makan.”
“Oh iya, aku baru lagi ingat,” kataku pura-pura luput. “Kalau gitu Mbak Fani masih punya teman selain Sybillia dan anjing itu.”
Matanya terbuka lebih lebar, membuat aku tak boleh berhenti memandanginya seperti menakjubi sebuah lukisan paling ternama. Mbak Fani lalu membuat dirinya makin dekat kepadaku sebelum lutut kami membatasi kedekatan itu.
“Ya, aku punya cukup teman. Aku enggak sendiri.”
“Ya.”
“Yakin cuma berteman?”
Tiga kata yang ringkas. Tiga kata saja sudah manjur membuat peredaran darah dan persendianku morat-marit. Jika kukatakan aku tak berpengalaman dengan anjing, maka yang sedang terjadi baru-baru ini tak bisa lagi kujelaskan.
Beruntunglah aku punya salah satu benak yang senantiasa oportunis. Maka benak yang suka mencari-cari celah dan licin dan penuh tipu daya itu berbisik, “Ini sudah lewat setengah jalan. Sebentar lagi akan tibalah di pesisir. Bersikaplah anggun seperti pohon nyiur. Sebab sesekali ia membiarkan pelepah dan belungkangnya patah tertiup angin asalkan batangnya tetap kokoh.”
Maka dengan cepat berhasil kusatukan diriku yang nyaris pecah berkeping-keping.
“Ya. Aku juga akan menemani kamu mencari tahu penyebabnya.”
“Alvin...”
“Aku sarankan Mbak Fani jangan menghalangiku.”
“Alvin, ini bukan permainan. Kamu enggak pernah tahu akibatnya.”
“Hidup itu semuanya permainan, Kak.”
“Aisshh!!”
“Ssstt,” desisku seraya memasang telunjuk.
Kepala Mbak Fani menggeleng berulang kali tanda gusar.
“Bahkan kamu enggak punya pengalaman, Alvin.”
“Siapa bilang?”
“Demi Tuhan aku menyesal cerita sama kamu!”
“Aku sudah mengalami banyak hal di sini. Apa itu belum cukup pengalaman?”
“Cukup, cukup! Enggak usah bahas ini lagi!”
Mbak Fani berdiri dan meninggalkan kursinya dengan kasar. Aku lebih cepat lagi menguncinya. Pergelangan tangannya mengeras dan berusaha lepas, tetapi pada akhirnya melemah sehingga aku tak segan menariknya kembali duduk.
“Sudah kubilang, kan, jangan menghalangiku.”
“Astaga! Kerasnya kepala anak ini. Apa sih alasan kamu sampai begini?”
Aku diam sejenak lantas menatapnya lurus dan tajam dengan tiada berkejap sekalipun.
“Because a man need no reason,” ucapku dengan suara pelan namun tegak.
Perempuan itu diam hingga cukup lama. Namun begitu dia mengakhiri kediamannya, di luar persangkaan, Mbak Fani merebut kedua telapak tanganku kemudian menggenggamnya hingga seakan-akan tiada lagi akan terlepas. Perlakuan itu ditutupnya dengan lirih, “Thank you.”
Di luar persangkaan pula, kuloloskan salah segenggam tanganku dari genggamannya. Keberanianku telah datang untuk membelainya dari ubun-ubun kepala sampai berhenti di pundaknya.
Tiada kata terucap dari bibir ini. Hanya dalam hati aku membisikkan alasan sesungguhnya melakukan ini untuk diriku seorang.
Kamu.
*Umpatan dalam Sunda, dapat diartikan sialan, brengsek, ngehek lu dan sebagainya
bersambung...
Ketukan pintu kamar memaksaku bangun selekasnya. Berjalan setengah sadar, kemudian tampak wajah Wina dengan alis yang pudar. Rautnya kurang enak pagi ini. Pintu ditahan dari luar seakan-akan ada yang ingin dikatakannya.
“Aku sama papa,” bisiknya dari dekat sekali.
Apa dia bilang?
Hoaa! Panik seketika. Mau ditaruh di mana wajah kusam ini. Gigi belum lagi putih, mata penuh tahi, celana kolor! Aku berlari di tempat sambil memikirkan cara keluar dari kamar ini. Setengah mati aku kalut, belakangan Wina malah membuka mulutnya lebar-lebar untuk tertawa.
Kehed!* Aku baru saja dikerjai.
“Papa sudah pulang,” katanya setelah puas membuat kegaduhan.
“Hmm.”
“Sok cool. Bukannya bersyukur papaku nggak jadi ke sini.”
“Hmm.”
Wina meninju lemah dadaku sekali. “Semalam aku datang ke hotelnya.”
“Syukurlah, biar enggak durhaka. Orang tua datang malah nginap di rumah teman.”
“Masa katanya, aku disuruh tunggu awal bulan aja.”
“Jadi niat kamu cuma minta jajan?”
Alih-alih mengiyakan, Wina memilih menyidak kamar ini. Aku tahu jawabannya pasti iya. Aku berlindung pada Allah dari mempunyai keturunan yang bertabiat semacam dia. Tetapi kemudian aku menyadari sifatku lebih buruk dari Wina.
“Kelihatannya sudah pada layu dan basi, kenapa belum diangkat?” Wina berkomentar setelah memeriksa sajian di atas lemari. Karena kekurangan tinggi badan, mau tidak mau ia melihatnya dengan naik ke meja rias dan kayu lemari.
“Apa yang basi?”
“Bubur itu.”
“Oh. Itu sengaja. Jinnya konon mengidap diabetes.”
“Maksud ngana? Sengaja makan bubur dingin supaya kadar gulanya rendah!?”
“Tapi kamu mungkin enggak percaya, dua malam ini kamar terasa adem betul.”
“Oh ya?”
“Rasain aja sendiri.”
“Kalau kata Moris, ini namanya jaga pelanggan.”
“Bisa juga. Supaya ketagihan nyajen, ya.”
“Pastilah. Setan begitu-begitu punya insting manggaleh* juga.”
“Kalau kata Moris juga, ini yang namanya voor 1.5.”
“Au ah! Aku mandi dulu ya, mau jalan sama Siska.”
Bukannya anak ini ujian, pikirku dengan wajah keheranan.
“Hari ini ujian terakhir, maghrib. Mau beli Onyx,” Wina menyungging genit.
“Lho, hapemu yang sekarang?”
“Tukar tambah lah.”
“Lho, uang dari mana?”
“Papa.”
“Ya Tuhan! Katanya....”
“Aku dikasih buat beli handphone, tapi uang jajan nggak.”
Kembali aku memanjat doa seperti yang tadi.
***
Begitu pagi menjajak siang aku turun dari kamar untuk memulai aktivitas. Sebelum Wina pergi telah kuserahkan flashdisk yang isinya dua bab skripsi public relations. Harapanku pasien segera menghadap dosen pembimbing dan pulang dengan sedikit coretan. Dengan begitu bayaran lebih cepat diterima.
“Vin, Alvin!” panggil Mbak Fani. Terburu-buru kedengarannya.
Reflek tubuhku berpaling sekaligus berdesir. Melihatnya seketika ingat kejadian ganjil semalam. Tetapi boleh jadi dalam beberapa saat lagi aku lupa jika berlama-lama mendalami sosoknya. Ibu muda ini masih berpiyama dengan rambut digelung. Begitu saja ia tetap berkilau.
“Jangan cerita pada siapapun tentang tadi malam!”
Aku diam bukan ingin mencerna kalimatnya, melainkan menunggu kelanjutannya.
“Termasuk sama Wina, please. Ini rahasia.”
“Oke.”
Dia menjurusi mataku, tampaknya sedang memastikan supaya aku tidak lari dari ucapanku. Hanya aku dan dia yang ada di ruangan ini.
“Sorry banget, Mbak. Sybillia gimana keadaannya?”
Perempuan itu mendenguskan nafasnya cukup keras sebelum meninggalkanku tanpa kata. Dia pergi ke dapur lalu kembali dengan dua kaleng bir hitam. Kuturuti gerakannya duduk di kursi makan. Sekaleng miliknya disodorkan padaku. Ia sendiri langsung mereguknya sangat bersemangat.
“Aku mau tahu cerita semalam,” datar ucapannya, tapi keinginan itu tidak mungkin kutolak.
Maka kukisahkan kembali kejadian itu tanpa sedikit pun tambahan dan pengurangan. Mimik pada wajah oval itu sekali-kali tak bergeming ketika kata demi kata tertutur.
“Apakah kamu bisa dipercaya?” dia bertanya tetapi belakangan menjawab sendiri, “Kurasa enggak.”
Ia berdiri dengan tetap membelakangi kursi. Lenguhan keluar dari bibir delimanya yang tipis dan bersudut lancip. Wanita ini seperti tampak menyimpan penat.
Kemudian ia menggumam sendiri, “Aku akan menghadapi semuanya.”
“Apa yang terjadi pada Sybillia?” kuulangi lagi pertanyaan itu sekejap setelah Mbak Fani kembali mendarat di kursi.
“Kenapa begitu khawatir pada Sybillia?”
“Entahlah,” kataku ragu. Namun sepotong gambar yang samar mendadak jelas. “Tadi malam matanya pucat.”
Kerap kali aku meragukan penglihatanku dalam gelap. Namun setiap bayi selalu dilindungi kejujuran sehingga sedikit saja perubahan tampak nyata.
“Ada yang aneh pada Sybillia belakangan ini. Sebelum malam tadi, suhu badannya tinggi tiap tengah malam.”
Mbak Fani kemudian terdiam beberapa saat. Sedang aku sendiri merasa lebih perlu menunggu ceritanya hingga utuh.
“Aku pikir Sybillia bisa bicara dan berjalan lebih lambat dari anak-anak lain. Tapi satu bulan sebelum ulang tahunnya, tiba-tiba dia berkata ‘mama...mama’. How does it feel? Kamu enggak bakalan tahu kecuali aku sendiri yang merasakannya.”
“Tapi beberapa hari setelah itu Sybillia terserang panas. Itu aneh banget, Vin. Tengah malam dia selalu gelisah dan sering menangis. Tiba-tiba pagi harinya normal. Sebetulnya aku bukan orang yang suka berurusan dengan hal-hal di luar kepala. Cuma untuk anakku semata wayang, aku juga enggak boleh naif, kan?”
“Aku percaya ada yang salah di rumahku akhir-akhir ini. Kamu pikir aku diam aja dengan kehadiran kamu? Ada beberapa anak kos lainnya yang juga mengalami ketakutan seperti kamu.”
“Dua malam lalu aku terbangun kira-kira jam 2 malam. Sybillia bersuara dan tertawa enggak henti-henti. Tapi itu bukan suaranya. Terdengar seolah-olah bola bekel mengganjal kerongkongannya. Serak dan kasar. Aku juga beberapa kali menemukan Sybillia berusaha merangkak keluar dari kamar. Makanya aku selalu menutup pintu ruangan dan kamarku rapat-rapat.”
Batinku mengatakan, Mbak Fani sudah melakukan sebisanya tetapi tidak selalu berhasil. Malam tadi Sybillia dapat lolos dari penjagaan meski pintu terkunci dua kali.
Dengan kurang yakin aku akhirnya bersuara, “Sejak kapan ini terjadi?”
“Satu tahun belakangan.”
“Ya Tuhan! Aku salah sangka selama ini.”
“Menurutmu mamaku melahirkan dan membesarkanku di rumah berhantu?”
“Bukan begitu, sih.”
Dengan mudahnya Mbak Fani menyikut bagian rusuk kananku sambil membantah. Jujur saja, aku suka diperlakukan begini. Bahkan aku lupa mengaduh karena berharap ia melakukan hal urakan lainnya. Sayangnya itu tidak terjadi seketika.
“Mbak, boleh tahu, Pak Wi itu orang lama di sini?”
“Oh jelas. Pak Wi itu yang momong aku juga. Sebetulnya Pak Wi sudah berhenti tiga tahun lalu. Paling saat-saat tertentu dia datang. Tapi sudah 10 bulan ini dia kembali lagi. Kamu kelihatannya perhatian banget sama Pak Wi, ya?”
“Perhatian?”
“Yah, dalam arti negatif.”
“Aku akui, iya, mbak. Dan setelah ini aku bakal lebih sewot.”
“Loh, kenapa? Kamu belum kenal dia aja!”
“Karena kudengar sendiri Pak Wi pernah menggendong pemilik rumah ini.”
Skakmat! Sebuah sepakan terarah dan cukup bertenaga mengena pergelangan kakiku.
“Aduhh!”
“Dasar! Laki-laki di mana-mana sama aja.”
Beruntung, Mbak Fani masih menganggap ucapanku gurauan belaka. Memang itu yang kuharapkan!
“Tapi omong-omong, serangan yang barusan itu terlatih juga, ya.”
“Aku kan ikut thai boxing.”
Mampus! Aku berpaling dari pejurus Inkai kepada wanita tukang sepak. Ah, bagaimana ini ceritanya!
“Aku juga dulu pernah ikut Jet Kune Do.”
“Terus kenapa? Mau ngetes?”
Aku tertawa renyah dibuat-buat, sebenarnya untuk menambal nyali kempes. Kenapa wanita-wanita zaman sekarang begini mengerikan!?
“Skip, skip, aku ngalah! Enggak mungkin aku melawan pemilik rumah.”
“Kamu kalah, bukan ngalah, oke?”
Tiada daya dan upaya untuk menghalau ancamannya. Mbak Fani menyimpul senyum bersirat kemenangan. Dan lagi-lagi aku suka diperlakukan begini.
Kemudian obrolan yang menyenangkan ini berputar lagi dan lagi sehingga sampai pada pokok yang sebenarnya.
“Mbak Fani pernah cari tahu penyebabnya?”
Lawan bicaraku menggeleng cepat. Namun ia menerangkan seperti berikut,
“Kuulang ya, Vin, enggak sekali-kali deh aku mau berurusan sama hal-hal begini. Cuma...yah, oke, aku percaya gaib itu ada. Karena itu aku bermohon-mohon supaya Pak Wi kembali lagi ke rumah ini. He’s fuckin’ expert on this case.”
“Tapi Pak Wi berulang-ulang berkata padaku, ‘Nduk, jangan sembunyikan apa yang sebenarnya kamu punya. Saya ini hanya sahaya di rumah ini yang terus menua. Banyak yang ndak kamu sadari’.”
“Kamu ngerti, kan? Seolah-olah dia berpesan, Fani, kamu sebenarnya punya aura supra! So what!?”
Demi Tuhan aku tak mengira Mbak Fani bercerita banyak. Dan ceritanya masih bersambung.
“Yang kamu lihat, aku hidup sendirian sekarang. Enggak tahu akan sampai kapan sendiri. Lonely, all of day lonely.”
“God always alone,” sahutku sembarangan.
Ia menarik napas panjang dan menahannya lalu menghembuskan bebannya hingga tersapu udara. Matanya menarawang ke langit ruangan. Dua bola yang bulat lagi lebar itu tampak bening tetapi sedikit lagi akan berembun.
“Kalaupun masih ada teman hidupku, satu-satunya dialah Sybillia.”
Akhir-akhirnya beban itu tak kuasa lagi ditanggungnya. Mbak Fani membiarkan perasaannya menitik. Beberapa waktu lamanya aku mendengar keheningan dari isak-isak kecil.
“Barangkali Mbak Fani lupa,” tidak sepenuhnya aku mempercayai suaraku, tujuannya hanya menghibur, “Masih ada lagi teman yang begitu setia.”
Wanita pualam yang sedang muram itu tahu-tahu berpaling menatapku. Mata itu meneguhkan bahwa pemiliknya ingin mendengar jawaban pasti.
Lantas aku melirik Unyil dan menunjuknya di bawah layar televisi. Ia sedang berselonjor sambil mengibasi ekor.
Wof wof wof!! Salak dari moncong itu seketika memecah keheningan. Unyil berlari mendekat, meloncat dan langsung mendarat di pangkuan puannya. Selintas senyum yang amat menghangatkan berkembang dari bibir delima itu.
“Kamu benar, Vin. Aku masih punya teman.”
Unyil berkelat-kelit manja dalam belaian. Sesekali kaki depannya menggapai pahaku. Dulu tampaknya anjing ini menjengkelkan. Namun sekarang ini aku harus bersikap manis padanya
“Dia mau berkenalan, nih, Vin.”
Kumiringkan kursi, dan begitu pula yang telah dilakukan Mbak Fani sebelum ini. Dalam beberapa saat saja seekor yang mungil itu sudah berpindah ke pangkuanku.
Aku tidak berpengalaman dengan anjing sehingga waktuku bersama unyil diwarnai kikuk. Ia banyak mengendus, untungnya tidak mencakar atau lebih menakutkan lagi, menggigit.
Mbak Fani kelihatan menyenangi pemandangan ini. Kami ganti berganti mengelus unyil sehingga tanpa sengaja maupun disengaja telapak tangan kami rajin bersentuhan. Akhirnya anjing itu turun dengan kemauannnya sendiri, kembali berselonjor di tempatnya yang tadi.
“Jadi mulai sekarang aku punya teman baru di rumah ini,” ujarku.
“Eh, kalian kan memang sudah seharusnya akrab. Aku ingat kamu pernah memberi unyil makan.”
“Oh iya, aku baru lagi ingat,” kataku pura-pura luput. “Kalau gitu Mbak Fani masih punya teman selain Sybillia dan anjing itu.”
Matanya terbuka lebih lebar, membuat aku tak boleh berhenti memandanginya seperti menakjubi sebuah lukisan paling ternama. Mbak Fani lalu membuat dirinya makin dekat kepadaku sebelum lutut kami membatasi kedekatan itu.
“Ya, aku punya cukup teman. Aku enggak sendiri.”
“Ya.”
“Yakin cuma berteman?”
Tiga kata yang ringkas. Tiga kata saja sudah manjur membuat peredaran darah dan persendianku morat-marit. Jika kukatakan aku tak berpengalaman dengan anjing, maka yang sedang terjadi baru-baru ini tak bisa lagi kujelaskan.
Beruntunglah aku punya salah satu benak yang senantiasa oportunis. Maka benak yang suka mencari-cari celah dan licin dan penuh tipu daya itu berbisik, “Ini sudah lewat setengah jalan. Sebentar lagi akan tibalah di pesisir. Bersikaplah anggun seperti pohon nyiur. Sebab sesekali ia membiarkan pelepah dan belungkangnya patah tertiup angin asalkan batangnya tetap kokoh.”
Maka dengan cepat berhasil kusatukan diriku yang nyaris pecah berkeping-keping.
“Ya. Aku juga akan menemani kamu mencari tahu penyebabnya.”
“Alvin...”
“Aku sarankan Mbak Fani jangan menghalangiku.”
“Alvin, ini bukan permainan. Kamu enggak pernah tahu akibatnya.”
“Hidup itu semuanya permainan, Kak.”
“Aisshh!!”
“Ssstt,” desisku seraya memasang telunjuk.
Kepala Mbak Fani menggeleng berulang kali tanda gusar.
“Bahkan kamu enggak punya pengalaman, Alvin.”
“Siapa bilang?”
“Demi Tuhan aku menyesal cerita sama kamu!”
“Aku sudah mengalami banyak hal di sini. Apa itu belum cukup pengalaman?”
“Cukup, cukup! Enggak usah bahas ini lagi!”
Mbak Fani berdiri dan meninggalkan kursinya dengan kasar. Aku lebih cepat lagi menguncinya. Pergelangan tangannya mengeras dan berusaha lepas, tetapi pada akhirnya melemah sehingga aku tak segan menariknya kembali duduk.
“Sudah kubilang, kan, jangan menghalangiku.”
“Astaga! Kerasnya kepala anak ini. Apa sih alasan kamu sampai begini?”
Aku diam sejenak lantas menatapnya lurus dan tajam dengan tiada berkejap sekalipun.
“Because a man need no reason,” ucapku dengan suara pelan namun tegak.
Perempuan itu diam hingga cukup lama. Namun begitu dia mengakhiri kediamannya, di luar persangkaan, Mbak Fani merebut kedua telapak tanganku kemudian menggenggamnya hingga seakan-akan tiada lagi akan terlepas. Perlakuan itu ditutupnya dengan lirih, “Thank you.”
Di luar persangkaan pula, kuloloskan salah segenggam tanganku dari genggamannya. Keberanianku telah datang untuk membelainya dari ubun-ubun kepala sampai berhenti di pundaknya.
Tiada kata terucap dari bibir ini. Hanya dalam hati aku membisikkan alasan sesungguhnya melakukan ini untuk diriku seorang.
Kamu.
*Umpatan dalam Sunda, dapat diartikan sialan, brengsek, ngehek lu dan sebagainya
bersambung...
Diubah oleh pakdhegober 15-08-2019 18:41
bebyzha dan 8 lainnya memberi reputasi
9