- Beranda
- Stories from the Heart
Hanya Kisah cinta seorang remaja dengan kupu-kupu malam
...
TS
dragonfly1212
Hanya Kisah cinta seorang remaja dengan kupu-kupu malam
Quote:
Spoiler for Rules:
Quote:
PART 1
"Kak Keynal, cepetan dong!!" TOK. TOK. TOK. BUM. BUM. Suara ketukan pintu beserta gedoran dan suara cempreng nya membuatku bersunggut kesal.
Ya, seperti yang kalian dengar itu adalah suara adik aku, Nabilah. Seperti pagi-pagi sebelumnya, pagi ini aku kembali berebut kamar mandi dengan dia. Bukan tanpa sebab sih, dikarenakan kamar mandi di rumah ini hanya ada satu. Dan barang siapa yang bangun kesiangan akan menerima nasib seperti Nabilah.
"Iya, iya.. Bentaran napa, lagi sampoan gue," ujar ku cuek.
"Aelahh!
Kak. Jam berapa ini masih pagi juga pake sampo-sampoan, sok-sok bersih banget lo," aku terkekeh pelan mendengar apa yang Nabilah ucapkan. Dasar bocah.
"Suka-suka gue lah, cowok ganteng kek gua harus bersih plus wangi. Lu kayak gak tau aje gue kan jadi incaran banyak sama cewek disekolah." ucapku memang tak mau kalah dengan bocah ingusan ini.
"Aaaaaaa! Gue gak mau tau! Cepetan keluar lo kak!! Keburu telat gue." Protesnya yang kembali dihadiahi dengan gedoran ringan.
"Hahah! Iya, iya bawel."
Aku langsung mengguyur badan-badanku yang masih menempel sampo dan sabun. Setelah beberapa guyuran kurasa cukup, segera Kuambil handuk untuk meliliti tubuhku. Lalu muncul di balik daun pintu, mendapatkan adik Kesayanganku yang sukses memasang tampang bete.
"Jelek tau bibirnya manyun gitu,"
"Bodo!!"
Tanganku melayang mengacak rambut hitam lurusnya gemas, "Udah sana mandi. Bau!"
Seperti tadi yang dipanggil Nabilah, Namaku Keynal. Davin Keynal Putra. Saat iniaku duduk di bangku Tiga SMA di sebuah kota Jakarta pusat ini. Papa bekerja sebagai manager di kantor. Yah, bisa dibilang penghasilan bulanan papa sudah cukup dan cukup untuk membiayai jajan, dan kebutuhan sehari-hari. Tentu saja, aku orangnya termasuk orang yang tidak boros. Sebagian uang jajanku digunakan, dan sebagian banyaknya lagi kutabung, Yah, mungkin untuk masa depan (?)
Sedangkan Mama, yang kerjaannya tiap hari dirumah, urusin suami dan anak-anaknya.Kadang pergi ke komplek sebelah untuk gosip, kadang pergi ke pasar bersama ibu-ibu lainnya. apalagi kalau bukan sebagai ibu rumah tangga yang baik bagi kami(?)
Ya, oke. Abaikan saja. Bagiku, keluarga adalah sebuah anugerah yang Tuhan berikan untukku. Keluarga adalah segalanya. Salah satu harta paling berharga yang Tuhan berikan padaku.
Demi membahagiakan Mama dan Papa, aku akan melakukan yang terbaik yang bisa kulakukan. Termasuk pendidikan tentunya, karena kelak Papa pernah berucap akan menyerahkan jabatan berharga ini padaku.
Di sekolah aku cukup terkenal dengan segudang bakat yang aku punya. Beberapa kali mewakili sekolah untuk mengikuti perlombaan cerdas-cermat tingkat provinsi. Prestasi di bidang akademik juga membuat Papa dan Mama bangga. Dan Sekolah selalu memberikan ku beasiswa atas prestasiku.
Dan kata Mama, wajah ku gak jelek-jelek amat. Maka dari itu mama selalu menyarankanku untuk mengikuti beberapa ajang kontes model. Yah, gak papalah, untuk membahagiai Mama ku rela. Dan aku senang karena walau tak mendapat juara satu, tapi juara harapan juga sudah membuatku puas.Tapi, walau berwajah lumayan, teman-teman ku selalu bilang kalau aku orangnya terlalu polos karena gak begitu tahu soal Playboy.
Di sekolah. Saat jam istirahat..
Sebagai sesama cowok, bola adalah seperti liburan saat jam istirahat sekolah dengan pelajaran yang mumet di kepala. Mungkin akan banyak cowok yang setuju dengan pemikiran kita. Tapi buat cewek, mungkin mereka akan alergi melihat kita setelah jam istirahat sekolah, soalnya kita bakal masuk kelas dengan bau keringat yang bakal bikin parfum mahal mereka sia-sia.
"Anjritt!
Keren banget tadi operan lu, Nal. Gitu dong. Yang pas, jangan MEMBLE terus. Alias Melenceng membuat Ble'e. Hahah!" Sindir teman ku yang tak lain dan tak bukan bernama Farish. Farish dan aku adalah teman dekat semenjak awal aku memasuki SMA. Dia juga Sebangku denganku. Ya, kuakui dia ganteng, bahkan mungkin gantengan dia dari pada aku kali ya(?) Dan harus kuakui, sudah berapa kali dia gebet wanita-wanita cantik di Jakarta sejagat ini mungkin sudah tak bisa kuhitung dengan jari. Tapi, tenang aja, aku yakin dia tau batas kok. Ngomong-ngomong kami juga sebangku semenjak kelas dua.
"Bisa aja lo cicak-cicak di dinding."
"Cicak? Apaan tuh? Gue buaya kaleee. Hahah!"
"Pala lo peang lah!" Ucapku santai sambil membuka tutup botol minumanku sambil meneguknya cepat.
"Eh, Nal. Nanti malam lo ada acara gak?"
Aku nampak berpikir-pikir sejenak untuk menjawab pertanyaannya."Ngak juga sih, gue palingan di rumah aja ngerjain tugas Biologi."
"Yah, orang sepintar kayak lu masih aja ngerjain tugas. Udah, jamin! Juara lagi semester depan. Tenang aja lagi."
"Sialan lu. Emangnya lu dukun bisa nentuin nasib gue?"
"Yah, maksud gue have fun lah sekali-kali. Gak bosan lu pacaran terus sama buku?"
"Maksud lu apaan?"
"Gini yah, Bro. Masa lu yang juara model Se-Jakarta ngak pernah ngegebet atau pacaran gitu sama cewe? Curiga gue,"
"Oh, Maksud lu gue homo gitu?" Potong ku cepat.
"Gue ngak bilang gitu ya, itu lu yang bilang sendiri."
Sial Farish! Paling pande dia kalau soal ngecengin aku. Tapi apa yang dikatakan Farish benar juga sih. Selama ini aku gak pernah kenal yang namanya punya pacar. Kalau kata Mama, pacaran itu tanggung jawab. Dan karena aku belum punya tanggung jawab, maka aku gak boleh pacaran sampai tanggung jawabku selesai yaitu lulus sekolah. Dan istilah having fun dari Farish baru kudengar sekarang. Walaupun secara akademik nilai Bahasa Inggris aku selalu sempurna.
"Emang lu mau ngajak gue ke mana? Cari pacar gitu, yah?!" Ucapku ngawur.
"Pengin tau atau pengin tau aja?"
"Cepetan, kampreeett!" Semprot ku tak sabar.
"Oke. Oke. Woles aja,
Bro. Malam ini gue mau ngajak lu ke suatu tempat yang gak bakalan lu Lupain dalam hidup lu!" Ucapnya mantap yang membuatku sedikit terlonjak sekaligus penasaran dia mau ngajak nya kemana?
"Ciyus lu?"
"Ho-oh. Beneran gue, Pret!"
"Emangnya tempat apaan sih?" Tanya ku sok santai padahal penasaran banget.
"Ikut aja deh! Lu bakal seneng deh sama yang namanya bidadari...."
"Hmm," ini membuatku semakin penasaran ketika Farish mengucapkan kata 'Bidadari'.
"Kalo lu sampe bohong gue kurbanin lu ya?" Lanjutku.
"Udah, bawel lu. Ikut aja. Ntar malam gue jemput pake motor gue."
"Kalo bonyok gue ngelarang, gimana?" Pertanyaan bodoh sebenarnya.
"Lu tuh blo-on atau apaan sih. Masa pertanyaan gini lu tanyanya ke gue yang ngak pernah ranking. Ya, bilang aja lah lu mau kerja tugas kelompok. Susah amet lu."
"Eh! Awas kalo lu bohong ya. Kalau lu ngasihnya kuntilanak bukan bidadari gue bakal Blacklist lu dari daftar pertemanan gue. Karena lu udah bikin gue bohong sama bonyok gue buat pergi sama lu...."
Farish hanya tersenyum lebar membuatku semakin penasaran dengan ajakan dia. Begitulah persahabatan aku sama Farish. Aku sangat menghargai sahabat aku yang satu itu. Farish adalah sahabat yang asyik, yang selalu bisa mencairkan suasana dengan banyolan basinya, tapi tetap gurih di kuping ketika Farish yang mengucapkannya. Aku dan Farish sudah bersahabat dua tahun
lebih. Semenjak kami sama-sama terdaftar di SMA dan sejauh ini persahabatan kami berjalan awet, mulus, tanpa kendala. Farish juga
sering main ke rumah dan tentunya juga sudah akrab dengan kedua orangtua ku juga dengan Nabilah.Begitu juga sebaliknya, aku juga sering datang bahkan tak jarang nginap di rumahnya untuk mengerjakan tugas dari sekolah sekalian menghabiskan waktu nonkrong asyik.
***
Akhirnya malam pun tiba. Tepat pukul 19.00 WIB. Hari ini adalah hari Sabtu malam atau biasa orang-orang bilang malam minggu. Tiba-tiba terdengar suara motor di depan teras yang aku yakini itu adalah Farish.
Dengan penuh persiapan aku berjalan keluar dari rumah dengan membawa buku cetak beserta buku tulis untuk menjadi senjata kebohonganku sama Mama Papa.
Dan langsung Aku pergi dengan Farish dengan berboncengan, saat di tengah jalan tiba-tiba Farish berhenti. Dia mungkin bingung karena aku hanya diam sepanjang jalan.
"Lu kok diem aja sih, Nal? Kayaknya dosa banget ya lu boong sama bonyok lu?" Tanya Farish membuyarkan lamunanku.
"Jiaahh! Dia ngelamun. Mirip sapi ayan lu kalo ngelamun." sindirnya.
"Sialan lu ini gue bukan bengong. Tapi bingung aja sama lu. Katanya mau cari bidadari tapi kok jalannya gak jelas kek gini?"
"Sabar dong lu-nya. Tempatnya rahasia, sepi dan gak boleh ada orang yang tau.." ucapnya membuatku dahiku benar-benar berkerut.
"Bacot ah lu! Buruan cepat!" Ucapku tak mau memikirkannya lama-lama lagi soal tempat yang Farish maksud.
Aku dan Farish pun kembali jalan melewati jalanan kota yang dipenuhi lampu-lampu jalanan, beserta pemandangan laut yang terbentang indah dan masih bisa dilihat kasat oleh mata.
Akhirnya setelah tiga puluh menit berjalan, kita tiba di sebuah tempat yang berada di samping alun-alun kota. Aku melongo sambil mulutku membulat besar ketika melihat sepanjang jalan dipenuh dengan diskotik dan tempat-tempat karaoke. Farish berhenti di
salah satu tempat diskotek dan bar.
Aku menepuk pundak Farish dengan bingung. "Eh, Rish. Kok kita malah ke sini sih? Ini kan tempat ngak bener. Gila lu ya?"
"Nah itu dia. Gue mau ngajak lu kesini. Ke salah satu diskotik. Kita ajib-ajib Bro!!" Serunya tampak bersemangat. Ugh, Sial!
"Waduh, parah. Lu ngak bener nih. Masak gue diajak ke tempat kek gini? Ogah ah gue!" Tolakku mentah-mentah. Pandanganku tak lepas dari pemandangan yang membuatku hampir muntah.
"Yaampun, Bro. Gak dosa kali. Kita cuma mampir kok terus cari bidadari disana. Gitu doang." katanya dengan nada santai.
"Eh lu yang bener aja. Sejak kapan tempat kek gini ada Bidadari? Yang ada malah cewek gak bener! Jadi itu loh maksudnya lu?"
"Iya, Bro. Jadi, gue mau cari cewek buat kencan. Ayolah ikut! Murah kok. Cuma dua ratus ribu."
"Ngak mau gue. Kalau gitu nyesel gue. Ogah amat. Masih perjaka kali gue, kagak mau.."
"Astaga, Bro. Kita jalan sejam gini masa harus sia-sia gara-gara lu batalin sih? Tega benar lu," Farish memasang wajah kecewa dan memelas.
Kami terdiam, saling memandang di depan tempat yang Farish katakan. Karena merasa tidak enak hati sama Farish, akhirnya aku memutuskan untuk menemani dia akan tetapi aku menolak untuk ikutan seperti dia yang ingin mencari teman kencan di diskotik yang dia inginkan.
"Jadi beneran nih lu mau nungguin gue disini aja? Gak mau masuk?"
"Iya, gue nunggu disini aja. Lagian disana ada warung. Gue duduk sana aja sambil minum teh botol.."
"Hmm, Yakin nih mau nungguin gue sendirian?" Tanyanya memastikan.
"Kalo lu masih ngebacot aja. Gue pulang nih ya!"
"Eh, jangan dong. Yaudah gue masuk dulu." Aku hanya mengangguk memandang punggungnya yang perlahan-lahan menghilang dari pandangan setelah memasuki pintu besar diskotik itu.
Dari luar tampak beberapa perempuan dengan pakaian seksi berdiri di depan pintu sambil menghisap rokok. Aku hanya geleng-gelang saja melihat cewek-cewek cantik kok, kelakuannya kayak gitu ya(?)
Spoiler for Index:
Thanks buat agan yunaito yang bantu bikinin index
Bacalah. Jika anda berkenan membacanya

Polling
Poll ini sudah ditutup. - 17 suara
Perlu Ane Tamatin Gak Cerita Ini?
Perlu gan walau udah ketauan endingnya
82%
Gak usah gan, lo gak cocok nulis di sfth
18%
Diubah oleh dragonfly1212 21-02-2018 15:44
tien212700 dan anasabila memberi reputasi
2
14.6K
66
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
dragonfly1212
#37
Part 8
Ibu itu memperhatikanku, "Ngak tau juga sih, Mas. Sekitar jam enam atau jam tujuh dia udah ada disini. Kenapa? Mas kayaknya butuh banget cari dia."
"Gak juga kok, Bu. Cuma pengen tau aja." jawabku berbohong. "Oh, Yaudah ya Bu. Makasih ya. Mau jalan-jalan lagi." jawabku sembari mengembalikan botol minuman.
Setelah mengetahui bahwa Ve tidak ada di diskotik. Selanjutnya aku yakin, dia sedang ada di rumahnya.
Aku memarkirkan motorku tepat di depan sebuah gang yang dulu pernah aku lewati saat mengantar Ve pulang. Walau aku tak tau dimana letak rumahnya, sebab saat mengantarnya pulang dia hanya menyuruhku untuk berhenti di gang saja.
Akhirnya aku jadi kesusahan untuk mencari tepatnya dimana rumah dia. Akhirnya aku tanya sama beberapa orang di sekitar gang, beruntungnya mereka mengenal Ve danmemberitahu dimana letak rumah Ve.
Aku berjalan dan tiba di bagian depan rumahnya yang tampak tak terurus, memberikan kesan kalau pemilik rumah tersebut bukan orang yang berada.
Aku menyeret kakiku untuk masuk, pelan. Rumah ini tidak ada pagar, apalagi bel. Aku mengetuk pintu sambil mengucapkan salam. Beberapa menit kemudian muncul laki-laki paruh baya dari dalam rumah. Hmm, mungkin dia bokapnya Ve?
"Cari siapa, mas?" Tanyanya sopan setelah sampai di depan dan berhadapan denganku.
"Maaf, Pak. Benar ini rumahnya Ve?" Tanyaku sopan.
Laki-laki tersebut menatapku dari ujung kepala sampai ujung kaki, "Kamu siapanya, ya? Ada perlu apa cari Ve?" Tanyanya.
"Saya temannya Ve, Pak. Perkenalkan saya Keynal."
Laki-laki berjambang itu tidak menjawab. Dia justru duduk di kursi bambu yang terletak di teras rumahnya.
"Duduk dulu, Mas." ujarnya. Aku pun mengikuti instruksinya.
"Kalau boleh tau, bapak ini Ayahnya Ve?" Tanyaku.
"Ya, saya Ayahnya Ve. Ve pernah bercerita tentang Mas." ujarnya membuatku kaget. Apa saja yang diceritakan Ve tentangku ke keluarganya? Aku bertanya-tanya.
"Kalau boleh tau, Ve nya kemana ya Pak?" Tanyaku sekali lagi.
Ayahnya Ve menarik nafas panjang. Wajahnya mendadak menjadi murung. "Ve lagi keluar sama ibunya buat cek kesehatan di puskesmas."
"Keadaan Ibu Ve sudah membaik, Pak?" Tanyaku lagi.
Laki-laki itu tampak kesulitan menjawab pertanyaanku, "Karena kami lagi kekurangan uang jadi tidak maksimal, ini aja kita sampai ngutang ke tetangga baru bisa ke Puskesmas."
"Begitu ya, Pak?"
"Mas Keynal, bapak boleh pinjem uang dulu untuk belikan obat ibu Ve? Soalnya bapak ada kenalan yang bilang obatnya bagus.." Kata Ayah Ve tanpa basa-basi.
Entah kenapa aku terenyuh, "Kira-kira kurang berapa lagi, Pak?"
"Tiga ratus ribu, Mas." jawabnya pelan.
Aku merongoh saku celanaku. Jumlah yang disebutkan oleh Ayah Ve kebetulan ada di dompet ku.
"Kira-kira Ve pulangnya jam berapa ya, Pak?"
"Mungkin agak malam, Mas. Soalnya Ve mesti cari pinjaman dulu sama keluarga Ibunya yang rumahnya jauh dari tempat ini."
"Oh, kalau begitu saya pamit aja ya, Pak. Nanti kalau Ve pulang sampaikan salam saya buat Ve, sama Ibu juga ya." kataku sembari menyerahkan uang yang tadi disebutkan oleh Ayah Ve.
"Terima kasih Mas Keynal. Apa gak mau menunggu sebentar lagi sambil minum kopi?" Tanyanya menawarkan.
"Aduh, ngak usah, Pak. Ngerepotin aja, saya juga ada janji sama teman malam ini, ngak enak kalau telat. Titip salam aja semoga ibu Ve cepat sembuh."
"Iya Mas Keynal. Nanti saya sampaikan. Terima kasih ya.."
"Sama-sama Pak. Saya pamit dulu.."
Ayah Ve mengantarku sampai depan gang dengan senyum lebar. Aku bersyukur, walaupun tidak bisa bertemu dengan Ve, setidaknya aku bisa membantu dia dengan cara lain.
Setelah hari itu..
Hari-hariku dirumah aku habiskan dengan bermalas-malasan di kamar. Seperti bermain game Dota, membaca artikel-artikel kesehatan lainnya dan juga membaca komik favoritku.
Tiba-tiba Ponselku berdering pertanda ada pesan masuk. Ujung bibirku tertarik ketika mendapat SMS dari Ve. Aku senang karena Ve berubah pikiran. Ve mengajakku untuk bertemu di tempat biasa. Mall dekat pantai.
Sesuai kesepakatan kami semalam, aku datang bertemu Ve kembali. Tapi yang membuatku aneh, dia langsung berbicara dengan nada emosi tanpa basa-basi lagi.
"Aku gak suka cara kamu kek gini, Nal!"
"Maksud kamu?"
"Kenapa kamu ngasih uang ke Ayah aku?!"
"Kenapa, Ve? Bukannya kamu butuh banget uang itu buat biaya obat ibu kamu?"
"Tau apa kamu tentang aku? Aku udah bilang ke kamu, kalau uang kamu akan aku balikin
secepatnya. Tapi kamu malah nambahin utang baru." ucapnya dengan nafas memburu.
"Aku ikhlas bantu kamu, Ve. Aku ngak pamrih..."
"Tapi kamu gak tau, Nal!! Ayah aku udah ngebohongin kamu!" Suara Ve meninggi.
"Maksud kamu?"
"Dia sebenarnya bukan Ayah aku. Dia Ayah tiri yang nikah in nyokap aku waktu ayah kandungku meninggal. Dia itu sebenarnya pemabuk dan penjudi, uang yang kamu kasih dipakai buat judi. Jadi kamu udah salah banget ngasih dia uang..." ucapnya yang mulai memelan. Ve mendongak dan menatap langit yang bertaburan bintang.
"Jadi.. kamu kok bisa tau kalau aku ngasih uang ke dia?"
Ve terdiam. Matanya tak lepas dari langit luas. Menatap kerlap-kerlip bintang satu persatu. "Aku.. capek, Nal. Hidup kayak gini.." Ve tiba-tiba menangis.
"Kamu yang sabar ya, semua pasti ada hikmahnya." kataku menyabarkan.
Kemudian sorot mata Ve menatapku, "Thanks ya, Nal. Kamu udah banyak bantuin aku. Tapi setelah ini, tolong jangan lakukan itu lagi. Aku gak mau nambah utang budi lagi. Ayah aku, bisanya cuma nambah masalah setiap dia punya uang. Uang kamu bikin dia ngutang karena kalah judi. Dia cerita dapet uang dari kamu sampai minta aku minjem lagi. Itu kan gila!"
"Maafin aku ya. Aku gak tau jadi kayak gini.."
"Sudahlah. Semoga ini menjadi yang terakhir."
"Kalau aku tau dia bohong juga gak akan aku bantu kok! Ini jadi pelajaran aku buat gak bodoh lagi percaya sama dia. Tap semua aku lakuin emang untuk bantuin kamu. Ini bukan masalah hutang budi, tapi masalah hubungan kita."
kita?" Tanyanya bingung.
"Maksudnya hubungan persahabatan kita. Yang namanya teman harus saling membantu kan?" Aku tiba-tiba menjadi gugup sendiri.
Ve terdiam kemudian membuang nafas panjangnya. "Aku harus kerja lagi, Nal. Kamu sebaiknya pulang. Aku harus cari uang. Ini aja tujuan aku ketemu sama kamu buat ingetin kamu supaya gak bantu aku lagi.." Ve bangkit dari duduknya dan melangkah pergi.
"Iya, Ve. Hati-hati ya.." kataku walau sebenarnya tak rela.
Tiba-tiba langkah Ve terhenti dan terbatuk dengan memegang sambil meremas pelan dadanya.
"Kamu sakit? Ayo ke dokter. Udah minum obat belum?"
"Ngak papa, Nal. Ini cuma batuk ringan. Aku pulang dulu." sambil tersenyum dia berucap demikian.
"Aku anter!" Ucapku spontan.
"Gak usah, Nal. Aku naik angkot aja."
Akhirnya aku hanya terdiam kembali.
Ve menghentikan langkahnya dan berbalik menatapku sejenak. Sekali lagi dia tersenyum manis lalu mengangguk pelan sambil berlalu. Dan menghilang dari kegelapan malam. Entah mengapa, setelah melihat dia hari ini, aku malah merasa menambah masalah dalam kehidupan dia. Tapi aku yakin, kelak dia kan mengerti bahwa aku benar-benar tulus membantu dia.
Sepanjang malam usai pertemuan itu, rasa bersalah malah membuatku semakin bersemangat untuk membantu Ve.
Sekolah lagi libur tengah semester. Dan pagi ini aku bangun lebih awal dari biasanya.
Segala rencana untuk membantu Ve telah aku pikirkan semalaman. Aku harus mencarikan pekerjaan yang layak buat Ve. Ve harus! Harus meninggalkan pekerjaannya di tempat hiburan malam. Jadi liburan beberapa hari ini akan aku lakukan untuk mencari pekerjaan untuk Ve.
Setelah putar-putar banyak tempat. Dan.. ternyata mencari pekerjaan tidak semudah yang aku kira. Apalagi mencari pekerjaan untukku. Sudah banyak mall yang aku masuki satu persatu, dan beberapa mall yang aku datangi tidak membuka lowongan juga.
Aku akan carikan pekerjaan apapun buat dia asal tidak menjadi wanita malam, aku akan ambil pekerjaan itu buat Ve. Menjadi pramuniaga, Waiter di Cafe, tapi tidak satupun yang lagi membutuhkan tenaga tambahan.
Aku hampir putus asa. Tapi bayangan wajah Ve selalu muncul dalam pikiranku. Keadaan keluarga Ve yang prihatin dan keinginan tulus untuk melepaskan Ve dari masa kelamnya. Membuat aku kembali bersemangat.
Lelah. Berputar-putar di tengah kondisi kota yang panas membuat keringat ku mulai bercucuran. Aku memasuki sebuah mall dan berniat untuk mencuci muka di toilet.
Melewati sebuah koridor, aku menemukan iklan lowongan pekerjaan yang tertempel di dinding.
Dibutuhkan karyawan:
-Wanita
-Usia 18 - 27 tahun
-Bisa kerja shift.
Mataku berbinar, keringat yang tadi bercucuran segera kulap sambil memasang wajah layaknya anak kecil yang baru dikasih permen lollipop.
Aku tidak melanjutkan untuk membaca persyaratannya lagi. Yang terpenting, Ve harus mendapatkanpekerjaan ini. Dengan cekatan aku mencatat alamat yang tertera di iklan tersebut. Aku membatalkan niatku ke toilet tadi.Mendapat pekerjaan buat Ve jauh lebih penting dari pada harus membersihkan mukaku di toilet.
Aku memacu motorku di tengah terik yang menyinari kota Jakarta. Di depan sebuah toko pakaian, aku memarkirkan motor. Setelah memastikan alamat yang aku catat dengan spanduk besar yang terpasang di depan toko baju wanita yang cukup besar,aku masuk dan langsung menghubungi pemiliknya.
"Selamat siang, Mbak. Tadi saya lagi baca iklan di dinding kalau toko ini lagi butuh karyawan ya?" Tanyaku langsung to the point.
"Iya, Mas. Tapi kami mencari karyawan perempuan." jawab perempuan manager toko itu sambil memperhatikan penampilan ku. Hmm, mungkin dia mengiri pekerjaan ini buat aku.
"Gini, Mbak. Saya lagi cari pekerjaan buat seseorang. Dia perempuan kok. Apakah lowongannya masih kosong, Mbak?"
"Masih kok, Mas. Kalah boleh tau pekerjaannya buat siapanya Mas ya?"
"Buat pacar saya, Mbak." jawabku refleks.
"Oh, kalau begitu. Mas datang lagi aja besok sama pacar Mas sekalian." terang perempuan itu sambil tersenyum menggoda. Yah, mungkin dia heran ada cowok yang bela-belain cari pekerjaan buat pacarnya.
"Benar ya, Mbak. Kalau bisa jangan terima yang lain dulu. Biar besok saya datang sama pacar saya." jawabku antusias.
"Iya, Mas. Tenang aja kok..."
"Makasih ya, Mbak. Besok saya datang lagi." Kataku pamit kemudian pergi dari tempat itu.
Dan aku pulang dengan perasaan girang luar biasa. Aku sudah tidak sabar untuk mengabarkan hal ini pada Ve. Pasti Ve akan senang sekali.
Ibu itu memperhatikanku, "Ngak tau juga sih, Mas. Sekitar jam enam atau jam tujuh dia udah ada disini. Kenapa? Mas kayaknya butuh banget cari dia."
"Gak juga kok, Bu. Cuma pengen tau aja." jawabku berbohong. "Oh, Yaudah ya Bu. Makasih ya. Mau jalan-jalan lagi." jawabku sembari mengembalikan botol minuman.
Setelah mengetahui bahwa Ve tidak ada di diskotik. Selanjutnya aku yakin, dia sedang ada di rumahnya.
Aku memarkirkan motorku tepat di depan sebuah gang yang dulu pernah aku lewati saat mengantar Ve pulang. Walau aku tak tau dimana letak rumahnya, sebab saat mengantarnya pulang dia hanya menyuruhku untuk berhenti di gang saja.
Akhirnya aku jadi kesusahan untuk mencari tepatnya dimana rumah dia. Akhirnya aku tanya sama beberapa orang di sekitar gang, beruntungnya mereka mengenal Ve danmemberitahu dimana letak rumah Ve.
Aku berjalan dan tiba di bagian depan rumahnya yang tampak tak terurus, memberikan kesan kalau pemilik rumah tersebut bukan orang yang berada.
Aku menyeret kakiku untuk masuk, pelan. Rumah ini tidak ada pagar, apalagi bel. Aku mengetuk pintu sambil mengucapkan salam. Beberapa menit kemudian muncul laki-laki paruh baya dari dalam rumah. Hmm, mungkin dia bokapnya Ve?
"Cari siapa, mas?" Tanyanya sopan setelah sampai di depan dan berhadapan denganku.
"Maaf, Pak. Benar ini rumahnya Ve?" Tanyaku sopan.
Laki-laki tersebut menatapku dari ujung kepala sampai ujung kaki, "Kamu siapanya, ya? Ada perlu apa cari Ve?" Tanyanya.
"Saya temannya Ve, Pak. Perkenalkan saya Keynal."
Laki-laki berjambang itu tidak menjawab. Dia justru duduk di kursi bambu yang terletak di teras rumahnya.
"Duduk dulu, Mas." ujarnya. Aku pun mengikuti instruksinya.
"Kalau boleh tau, bapak ini Ayahnya Ve?" Tanyaku.
"Ya, saya Ayahnya Ve. Ve pernah bercerita tentang Mas." ujarnya membuatku kaget. Apa saja yang diceritakan Ve tentangku ke keluarganya? Aku bertanya-tanya.
"Kalau boleh tau, Ve nya kemana ya Pak?" Tanyaku sekali lagi.
Ayahnya Ve menarik nafas panjang. Wajahnya mendadak menjadi murung. "Ve lagi keluar sama ibunya buat cek kesehatan di puskesmas."
"Keadaan Ibu Ve sudah membaik, Pak?" Tanyaku lagi.
Laki-laki itu tampak kesulitan menjawab pertanyaanku, "Karena kami lagi kekurangan uang jadi tidak maksimal, ini aja kita sampai ngutang ke tetangga baru bisa ke Puskesmas."
"Begitu ya, Pak?"
"Mas Keynal, bapak boleh pinjem uang dulu untuk belikan obat ibu Ve? Soalnya bapak ada kenalan yang bilang obatnya bagus.." Kata Ayah Ve tanpa basa-basi.
Entah kenapa aku terenyuh, "Kira-kira kurang berapa lagi, Pak?"
"Tiga ratus ribu, Mas." jawabnya pelan.
Aku merongoh saku celanaku. Jumlah yang disebutkan oleh Ayah Ve kebetulan ada di dompet ku.
"Kira-kira Ve pulangnya jam berapa ya, Pak?"
"Mungkin agak malam, Mas. Soalnya Ve mesti cari pinjaman dulu sama keluarga Ibunya yang rumahnya jauh dari tempat ini."
"Oh, kalau begitu saya pamit aja ya, Pak. Nanti kalau Ve pulang sampaikan salam saya buat Ve, sama Ibu juga ya." kataku sembari menyerahkan uang yang tadi disebutkan oleh Ayah Ve.
"Terima kasih Mas Keynal. Apa gak mau menunggu sebentar lagi sambil minum kopi?" Tanyanya menawarkan.
"Aduh, ngak usah, Pak. Ngerepotin aja, saya juga ada janji sama teman malam ini, ngak enak kalau telat. Titip salam aja semoga ibu Ve cepat sembuh."
"Iya Mas Keynal. Nanti saya sampaikan. Terima kasih ya.."
"Sama-sama Pak. Saya pamit dulu.."
Ayah Ve mengantarku sampai depan gang dengan senyum lebar. Aku bersyukur, walaupun tidak bisa bertemu dengan Ve, setidaknya aku bisa membantu dia dengan cara lain.
Setelah hari itu..
Hari-hariku dirumah aku habiskan dengan bermalas-malasan di kamar. Seperti bermain game Dota, membaca artikel-artikel kesehatan lainnya dan juga membaca komik favoritku.
Tiba-tiba Ponselku berdering pertanda ada pesan masuk. Ujung bibirku tertarik ketika mendapat SMS dari Ve. Aku senang karena Ve berubah pikiran. Ve mengajakku untuk bertemu di tempat biasa. Mall dekat pantai.
Sesuai kesepakatan kami semalam, aku datang bertemu Ve kembali. Tapi yang membuatku aneh, dia langsung berbicara dengan nada emosi tanpa basa-basi lagi.
"Aku gak suka cara kamu kek gini, Nal!"
"Maksud kamu?"
"Kenapa kamu ngasih uang ke Ayah aku?!"
"Kenapa, Ve? Bukannya kamu butuh banget uang itu buat biaya obat ibu kamu?"
"Tau apa kamu tentang aku? Aku udah bilang ke kamu, kalau uang kamu akan aku balikin
secepatnya. Tapi kamu malah nambahin utang baru." ucapnya dengan nafas memburu.
"Aku ikhlas bantu kamu, Ve. Aku ngak pamrih..."
"Tapi kamu gak tau, Nal!! Ayah aku udah ngebohongin kamu!" Suara Ve meninggi.
"Maksud kamu?"
"Dia sebenarnya bukan Ayah aku. Dia Ayah tiri yang nikah in nyokap aku waktu ayah kandungku meninggal. Dia itu sebenarnya pemabuk dan penjudi, uang yang kamu kasih dipakai buat judi. Jadi kamu udah salah banget ngasih dia uang..." ucapnya yang mulai memelan. Ve mendongak dan menatap langit yang bertaburan bintang.
"Jadi.. kamu kok bisa tau kalau aku ngasih uang ke dia?"
Ve terdiam. Matanya tak lepas dari langit luas. Menatap kerlap-kerlip bintang satu persatu. "Aku.. capek, Nal. Hidup kayak gini.." Ve tiba-tiba menangis.
"Kamu yang sabar ya, semua pasti ada hikmahnya." kataku menyabarkan.
Kemudian sorot mata Ve menatapku, "Thanks ya, Nal. Kamu udah banyak bantuin aku. Tapi setelah ini, tolong jangan lakukan itu lagi. Aku gak mau nambah utang budi lagi. Ayah aku, bisanya cuma nambah masalah setiap dia punya uang. Uang kamu bikin dia ngutang karena kalah judi. Dia cerita dapet uang dari kamu sampai minta aku minjem lagi. Itu kan gila!"
"Maafin aku ya. Aku gak tau jadi kayak gini.."
"Sudahlah. Semoga ini menjadi yang terakhir."
"Kalau aku tau dia bohong juga gak akan aku bantu kok! Ini jadi pelajaran aku buat gak bodoh lagi percaya sama dia. Tap semua aku lakuin emang untuk bantuin kamu. Ini bukan masalah hutang budi, tapi masalah hubungan kita."
kita?" Tanyanya bingung.
"Maksudnya hubungan persahabatan kita. Yang namanya teman harus saling membantu kan?" Aku tiba-tiba menjadi gugup sendiri.
Ve terdiam kemudian membuang nafas panjangnya. "Aku harus kerja lagi, Nal. Kamu sebaiknya pulang. Aku harus cari uang. Ini aja tujuan aku ketemu sama kamu buat ingetin kamu supaya gak bantu aku lagi.." Ve bangkit dari duduknya dan melangkah pergi.
"Iya, Ve. Hati-hati ya.." kataku walau sebenarnya tak rela.
Tiba-tiba langkah Ve terhenti dan terbatuk dengan memegang sambil meremas pelan dadanya.
"Kamu sakit? Ayo ke dokter. Udah minum obat belum?"
"Ngak papa, Nal. Ini cuma batuk ringan. Aku pulang dulu." sambil tersenyum dia berucap demikian.
"Aku anter!" Ucapku spontan.
"Gak usah, Nal. Aku naik angkot aja."
Akhirnya aku hanya terdiam kembali.
Ve menghentikan langkahnya dan berbalik menatapku sejenak. Sekali lagi dia tersenyum manis lalu mengangguk pelan sambil berlalu. Dan menghilang dari kegelapan malam. Entah mengapa, setelah melihat dia hari ini, aku malah merasa menambah masalah dalam kehidupan dia. Tapi aku yakin, kelak dia kan mengerti bahwa aku benar-benar tulus membantu dia.
Sepanjang malam usai pertemuan itu, rasa bersalah malah membuatku semakin bersemangat untuk membantu Ve.
Sekolah lagi libur tengah semester. Dan pagi ini aku bangun lebih awal dari biasanya.
Segala rencana untuk membantu Ve telah aku pikirkan semalaman. Aku harus mencarikan pekerjaan yang layak buat Ve. Ve harus! Harus meninggalkan pekerjaannya di tempat hiburan malam. Jadi liburan beberapa hari ini akan aku lakukan untuk mencari pekerjaan untuk Ve.
Setelah putar-putar banyak tempat. Dan.. ternyata mencari pekerjaan tidak semudah yang aku kira. Apalagi mencari pekerjaan untukku. Sudah banyak mall yang aku masuki satu persatu, dan beberapa mall yang aku datangi tidak membuka lowongan juga.
Aku akan carikan pekerjaan apapun buat dia asal tidak menjadi wanita malam, aku akan ambil pekerjaan itu buat Ve. Menjadi pramuniaga, Waiter di Cafe, tapi tidak satupun yang lagi membutuhkan tenaga tambahan.
Aku hampir putus asa. Tapi bayangan wajah Ve selalu muncul dalam pikiranku. Keadaan keluarga Ve yang prihatin dan keinginan tulus untuk melepaskan Ve dari masa kelamnya. Membuat aku kembali bersemangat.
Lelah. Berputar-putar di tengah kondisi kota yang panas membuat keringat ku mulai bercucuran. Aku memasuki sebuah mall dan berniat untuk mencuci muka di toilet.
Melewati sebuah koridor, aku menemukan iklan lowongan pekerjaan yang tertempel di dinding.
Dibutuhkan karyawan:
-Wanita
-Usia 18 - 27 tahun
-Bisa kerja shift.
Mataku berbinar, keringat yang tadi bercucuran segera kulap sambil memasang wajah layaknya anak kecil yang baru dikasih permen lollipop.
Aku tidak melanjutkan untuk membaca persyaratannya lagi. Yang terpenting, Ve harus mendapatkanpekerjaan ini. Dengan cekatan aku mencatat alamat yang tertera di iklan tersebut. Aku membatalkan niatku ke toilet tadi.Mendapat pekerjaan buat Ve jauh lebih penting dari pada harus membersihkan mukaku di toilet.
Aku memacu motorku di tengah terik yang menyinari kota Jakarta. Di depan sebuah toko pakaian, aku memarkirkan motor. Setelah memastikan alamat yang aku catat dengan spanduk besar yang terpasang di depan toko baju wanita yang cukup besar,aku masuk dan langsung menghubungi pemiliknya.
"Selamat siang, Mbak. Tadi saya lagi baca iklan di dinding kalau toko ini lagi butuh karyawan ya?" Tanyaku langsung to the point.
"Iya, Mas. Tapi kami mencari karyawan perempuan." jawab perempuan manager toko itu sambil memperhatikan penampilan ku. Hmm, mungkin dia mengiri pekerjaan ini buat aku.
"Gini, Mbak. Saya lagi cari pekerjaan buat seseorang. Dia perempuan kok. Apakah lowongannya masih kosong, Mbak?"
"Masih kok, Mas. Kalah boleh tau pekerjaannya buat siapanya Mas ya?"
"Buat pacar saya, Mbak." jawabku refleks.
"Oh, kalau begitu. Mas datang lagi aja besok sama pacar Mas sekalian." terang perempuan itu sambil tersenyum menggoda. Yah, mungkin dia heran ada cowok yang bela-belain cari pekerjaan buat pacarnya.
"Benar ya, Mbak. Kalau bisa jangan terima yang lain dulu. Biar besok saya datang sama pacar saya." jawabku antusias.
"Iya, Mas. Tenang aja kok..."
"Makasih ya, Mbak. Besok saya datang lagi." Kataku pamit kemudian pergi dari tempat itu.
Dan aku pulang dengan perasaan girang luar biasa. Aku sudah tidak sabar untuk mengabarkan hal ini pada Ve. Pasti Ve akan senang sekali.
0