Kaskus

Story

lemsboxAvatar border
TS
lemsbox
Aku, Dia, Dan Mereka (Horor , pengorbanan, Petualangan) INSPIRED BY TRUE STORY
Selamat malam semua. Perkenalkan aku Resa. Aku akan menceritakan sebuah kisah sederhana dari pengalaman hidup yang aku alami. Tak semuanya nyata karena ini terinspirasi dari kisahku sendiri. Mohon hargai semua aturan yang sudah dibuat. Aku tak akan bertele-tele menjabarkan.


Spoiler for Siapa aku?:

Spoiler for Daftar menu:
Diubah oleh lemsbox 11-02-2018 19:55
tabernacle69Avatar border
tabernacle69 memberi reputasi
-1
19.4K
104
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
33KThread54.6KAnggota
Tampilkan semua post
lemsboxAvatar border
TS
lemsbox
#65
Bagian 10 : Sore yang syahdu

Mataku sepertinya sudah pada titik nadir. Tak ada alasan juga untukku tetap terjaga. Toh ini sudah pagi, para demit amit-amit juga sudah berganti tugas ronda. Hoooammmb.... sudahlah, lebih baik aku segera tidur saja!

"Kamu mau ngapain naek keatas nak?"

"Ya tidur dong bu, masa mau nyopot genteng sih?"

"Udah tidur di kamar bawah aja. Nanti kamu pusing naik turun tangga loh."

"Santai aja bu, aku udah sehat kok gara-gara makan empek-empek tadi."

"Dasar kamu ini susah dikasih tau!"

Aku langsung masuk kamar. Tak perlu ritual apapun untuk tidur karna memang sudah lelah.


Dimana lagi aku ini?? Kenapa semuanya jadi putih? Bahkan pohon juga berwarna putih. Tapi.... tunggu dulu. Aku tak asing dengan keadaan ini. Ini jelas bukan salju! Ini lebih mirip dengan abu..... ABU VULKANIK!!
Ini abu dari letusan gunung berapi! Coba kulihat sekeliling dulu. Ini adalah terminal kota Sukaseni! Aku tak salah lagi ini adalah terminal yang dekat rumah Bagas! Lalu apa maksudnya aku berada disini? Misteri apa lagi yang harus kupecahkan??

Bruuuuuuuuuummmmm................

Suara apa itu? Suaranya menggema keras sekali? Seperti suara motor namun aku tak melihat motornya. Oh itu dia motornya. Lebih baik aku menepi daripada ditabrak. Mungkin pengendaranya sedang mabuk. Nekat sekali dia menggendarai motor dengan kencang di keadaan seperti ini, bisa mati konyol!

Wuuuuuuuuuuzzzz........!! Motornya melewatiku dengan sangat kencang. Terus kuperhatikan laju motornya. Kenapa dia mengendarai makin ke tengah?! Astaga.... ada pembatas jalan yang tertutup abu vulkanik! Dia bisa menabrak jika terus melaju ke tengah! Aku harus mengejarnya!

"Woi awas...!!"
"WOOOII AWAAAAS.......!"

Percuma saja, dia sudah terlalu jauh!

BRUUUAAAAK.......!! DUUUUMMMMM...!!
BUUUGG.........!!

Aku jadi saksi tunggal! Aku melihat dengan mata kepalaku! Pengendara motor itu membentur pembatas jalan, lalu dia terlempar lurus menghantam rambu lalu lintas yang tertanam diatas pembatas jalan! Aku langsung kesana, pasti tak akan ada yang menolong karena suasananya sangat sunyi! Gila.... motornya sudah tak berwujud lagi, bahkan rambu lalu lintasnya sampai bengkok akibat membentur korban! Loh...... dimana dia? Harusnya dia jatuh dibawah rambunya. Itu dia... dia ternyata terlempar kesamping! Aku menghampiri dan coba membawa dia ke tepi!

"TOLOOONG!!" pekikku keras meminta bantuan karena korban tak bergerak sedikitpun saat kucoba menariknya! Padahal dia tak bertubuh terlalu besar dan kugunakan seluruh tenagaku.

"TABRAAKAAAN.....!"

Saat aku kesulitan mengevakuasi korban, kudengar suara teriakan dari belakangku. Syukurlah ada warga yang melihat ini! Tak lama kemudian berdatangan warga sekitar menyelamatkan korban. Aku agak menjauh karena menyadari bantuanku tak terlalu dibutuhkan. Kulihat lagi rambu yang bengkok. Dasyat sekali benturannya. Tiang yang terlihat kokoh saja sampai seperti itu! Eeehh........ apa itu?? Aku seperti melihat ada benda yang tergeletak di tengah jalan.

"HEI...... ADA SATU LAGI!" Teriak warga

Satu lagi? Astaga, ternyata dia tak sendirian mengendarai motornya! Bagaimana bisa aku tak menyadarinya? Padahal tadi aku melihatnya melewatiku dan aku hanya melihat 1 orang?! Berarti bukan orang baju putih yang membentur rambu, melainkan korban satunya lagi! Aku berlari kesana untuk melihat keadaannya. Baru dua langkah saja, tiba-tiba tubuhku ditarik sesuatu yang sangat kuat!!

Byaaaaaaar...............
Aku terbangun dari tidurku. Kepalaku masih terasa linu gara-gara jahitnya. Aku tak mengerti apa maksud mimpiku tadi. Kenapa aku harus melihat mimpi itu? Kulihat ke arah jendela, senja mulai terlihat. Warna jingga memantul indah dari kaca jendelaku. Aku termenung sebentar. Apakah nanti aku akan bertemu kejadian aneh lagi seperti semalam? Dan dengan keadaanku yang seperti ini, apa aku bisa menghadapinya. Baru satu malam saja aku sudah mendapat jahitan sepanjang 10cm, apalagi dua malam? Mana lagi yang harus dijahit? Ahh.... bisa benar-benar mati aku ini! Tolong berhenti dulu membayangkan hal yang belum terjadi wahai otak. Hargailah pemilik raga ini yang kepalanya hampir pecah gara-gara kau! Sudahlah, lebih baik kita duduk di teras sambil menikmati indahnya senja! Aduh... duh... aku sampai lupa. Aku ini kan anak band, kenapa aku tak bernyanyi saja untuk relaxasi otak? Gara-gara jadwal mistisku yang sibuk sampai lupa sama diri sendiri.

Jreeng...... syalalala.......
Plook.....

Lagu pertama selesai sudah. Memang suaraku ini sangat merdu, buktinya ada burung yang menyempatkan membuang tai diatas tanganku, sialan kau burung! Nampaknya sebentar lagi adzan magrib akan datang. Kini aku dilanda dilema hebat, antara mandi dan tidak. Tadi pagi, berkat gayaku yang sok keren, alhasil nyeri di kepalaku tak hilang sampai sekarang dan bekas jahitannya seperti akan bernanah!

"Makanya jadi anak itu jangan suka gaya-gayaan!"

"Bang....!! Astagaa.......! Heh pak tua, bisa nggak sih datengnya pake permisi?!" Gila saja si Andi ini, tiba-tiba ikut nongkrong di sampingku.

"Haha, aku lelah habis melakukan perjalanan jauh. Enak juga melihat senja di sore hari."

"Buseett..... gaya lu udah kayak abis pulang umroh aja! Emang kamu perginya naek bus? Orang tinggal cling terus sampe juga, pake lelah!"

"Haha, sebetulnya aku tidak menghilang. Namun aku membuatmu tak bisa melihatku."

"Apa katamu aja deh. Nih liat, gara-gara kamu gak disini, kepalaku jadi dapet tato permanen! Kamu gak tau sih gimana kerennya aku semalem. Jin-jin yang dateng pada tak usir!" Kataku sambil memperlihatkan kepalaku.

"Aku melihat semua yang terjadi semalam. Dan apa yang kau lakukan itu sungguh...."

"Keren kan..?? Iya dong, aku gitu loh. Emang semalem kamu nyuruh pasukanmu dateng?"

"Sungguh bodoh. Jika itu keren, kamu tak mungkin mendapat luka seperti itu. Semua jin disini adalah pasukanku, jadi mereka yang mengabarkan padaku tentang kondisimu. Termasuk kuda besar yang menyapamu."

"Wuih..... serius coy? Kudanya keren banget loh, gueede! Ah nyapa apaan, mukanya aja kayak ngejek gitu."

"Kamu juga tak akan mengerti bahasa binatang. Di ujianmu semalam, kamu masih belum tau maksud dari pesanku."

"Ujian apaan, cobaan nah iya! Gimana mau maksud kalo aku diserang kayak gitu?!"

"Nanti aku akan memberitahumu jika sudah waktunya."

"Ah bokis banget kamu, nanti mulu. Nanti nunggu aku mati?"

"Ah kampret ni orang tua, diajakin curhat malah udah ilang aja!"

Pleek...........

"Huus..... Resa kok ngomong sendiri sih sa? Tar dikira orang sinting loh haha.

Astaga... tangan siapa yang menyentuh pundaku ini? Aku tak asing dengan suaranya!

"Resa gimana kabarnya?"

"Ihhh Resaaa....... ditanyain malah diem aja sih?! Tadi ngobrol sama Andi lancar!"

Gleeek........ mengalir keringat dinginku saat ada sosok lain yang duduk disampingku! Aku tak menyadari kapan dia datang, aku samasekali tak bisa merasakan chakranya! Aku samasekali tak berani menoleh ataupun mengarahkan bola mataku kesamping, namun aku tau seperti apa perwujudan mahluk ini! Ilusi macam apa ini?

"Icha...... ini beneran kamu chaaa?" Tanyaku dengan mulut bergetar dan tatapan kosong lurus ke depan.

Pleeek...... tangannya lalu menepuk tanganku. Ini adalah moment paling menyeramkan yang pernah kualami. Aku seperti membeku!

Dia menggenggam daguku halus dan menohkan kepalaku ke arahnya!!!

"Makanya liat muka Icha dong! Daritadi diajak ngobrol malah bengong liatin genteng mulu! Sebel ah!"

Ya Tuhan....... dia Icha yang selama ini kucari. Dia Icha yang selalu kurindukan. Dia Icha yang tak pernah berhenti kusayangi!! Aku sudah tak tahan lagi, aku ingin memeluknya!

"Astaga Resa....... kamu bikin Icha kaget sih."

Tess..... tess.... tess.....

"Resaaa..............! Dahi kamu berdarah!! Lepas dulu, Icha mau ambil kain buat bersihin darah kamu.

Haha... ternyata aku begitu bernafsu sekali untuk memeluk Icha, sampai aku tak sadar jahitannya tergores antingnya. Aku bohong jika tak sakit. Tapi kehadiranya disini sudah menyembuhkan segala lukaku saat ini dan seterusnya.

"Diemmm...... biarin aku peluk kamu bentar aja! Kamu gak tau gimana rasanya jadi aku!"

"Iya Resa, Icha ngerti. Tapi ini darah kamu makin banyak ngalirnya!" Tanpa basa basi Icha langsung saja melepaskan pelukanku dan menarikku. Dia membawaku masuk ke kamar, lalu dia turun.

Belum pernah aku se-bahagia ini. Aku tak mengira jika hari ini adalah saatnya. Icha nyata ada disampingku, Icha nyata dapat kusentuh!

Tap... tap... tap....

"Sini buka baju dulu, bajunya jadi kena darah kan. Dari dulu Resa tuh ngeyel dibilangin! Tuh kan jaitanya jadi lepas kan! Abis ini kita ke rumah sakit!" Kata Icha sambil membantuku melepas pakain.

Aku kembali jadi anak kecil lagi saat bersama dia. Apapun yang dia perintahkan, apapun yang dia suruh, selalu aku penuhi. Tak ada yang berubah samasekali dari Icha, cantik parasnya, teduh tatapnya, putih kulitnya, dan perhatianya.

"Aduh.. duh..!"

"Huu baru gitu aja udah sakit, tadi gaya-gayaan sok kuat!" Kata Icha sambil mencubit pinggangku.

"duh... sakit tau, cubitan kamu masih kayak dulu yah."

"Masih lah, apa pengen lebih kenceng lagi?" Ledek Icha.

"Ampun-ampun, iya deh aku nggak sok-sok'an lagi. Kan sekarang ada kamu."

"Udah ntar aja gombalnya. Sekarang kita siap-siap ke rumah sakit yuk."

Yap... setelah proses pembersihan selesai, aku dan Icha bersiap untuk berangkat ke puskesmas. Semoga saja aku tidak bertemu perawat abal-abal lagi! Sebenarnya banyak hal yang ingin kutanyakan pada Andi. Namun dia memang jelangkung sejati, jadi aku tak bisa mengharapkan kehadiranya kapanpun.

"Loh kamu kenapa lagi nak?" Tanya ibuku.

"Ni jaitannya kebuka lagi. Orang yang nanganin aku tukang sol sepatu sih."

"Ya ampun, yaudah ibu panggilin mantri yah."

"Dah gak usah, ni aku mau ke puskesmas sama Icha."

"Oooh... sama Icha? Yaudah gak usah mampir kemana-mana lagi. Langsung pulang loh!"

"Iya bu... aku pamit ya."

Akhirnya aku bisa merasakan lagi indahnya senja bersama orang yang kucintai. Kupandangi terus wajah Icha. Tak ada bosan-bosanya aku. Parasnya selalu memberiku damai.

"Selama Icha pergi, Resa udah berapa kali pacaran?" Tanya Icha, aku hanya menggeleng.

"Masa sih? Terus Lita, Fira, Anis, Dinar tuh gimana?" Oh iya aku sampai lupa, Icha tau apa yang kufikirkan.

"Iya aku ngaku deh. Aku pernah deket sama mereka. Niatku buat pelampiasan. Tapi makin aku buka hati, aku makin gak bisa melupakan kamu." Akhirnya aku tak bisa berkilah lagi.

"Haha, Resa gak bisa bohongin Icha. Sekalipun Icha jauh, Icha masih bisa masuk ke mimpi Resa."

Dasar supergirl, seakan dia bisa mengendalikan semua langkah hidupku. Tapi aku tak pernah keberatan, karena jiwa raga ini memang kuberikan pada yang kucinta, yaitu dia, iya dia bukan kamu.
itkgid
itkgid memberi reputasi
1
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.