- Beranda
- Stories from the Heart
Aku, Dia, Dan Mereka (Horor , pengorbanan, Petualangan) INSPIRED BY TRUE STORY
...
TS
lemsbox
Aku, Dia, Dan Mereka (Horor , pengorbanan, Petualangan) INSPIRED BY TRUE STORY
Selamat malam semua. Perkenalkan aku Resa. Aku akan menceritakan sebuah kisah sederhana dari pengalaman hidup yang aku alami. Tak semuanya nyata karena ini terinspirasi dari kisahku sendiri. Mohon hargai semua aturan yang sudah dibuat. Aku tak akan bertele-tele menjabarkan.
Spoiler for Siapa aku?:
Spoiler for Daftar menu:
Diubah oleh lemsbox 11-02-2018 19:55
tabernacle69 memberi reputasi
-1
19.3K
104
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
lemsbox
#61
Bagian 9 : Bagaimana? Aku hebat kan?
"Dik, cepet keluarin motor. Kita bawa Resa ke puskesmas!" Perintah ayahku ke dika anaknya bu rom.
"Dek, ambilin anduk atau apapun buat nahan darahnya Resa!"
Ayahku memang superhero sejati. Dia selalu siap menghadapi situasi apapun. Sambil memapahku, ayah lepas bajunya dan ditempelkan ke lukaku.
"Pak Tri, bensin motornya habis! Aku ambil motorku dulu dirumah!" Ucap Dika yang sedang membuka tutup tangki motor.
"Kelamaan dik, udah tak gendonge aja! Ambilin bajuku dek, bajuku yang itu dibuang aja. Dik, tahan Resa bentar. Jangan lepasin handuknya yah! Aku pake baju dulu." Kata ayahku sambil mengganti handuk untuk menahan darahku yang terus mengalir dan melemparkan baju yang dipenuhi darah.
"Biar aku sama Dika aja yang ke puskesmas. Telpon Andre suruh kesini pagi-pagi! Kita berangkat dik!"
Mungkin jika kalian ada disini saat ini, kalian pasti akan mengeluarkan ponsel kalian masing-masing dan mengabadikan moment heroik yang terjadi di pagi buta. Sambil berlari, ayahku menggendongku di belakang, lalu diikuti oleh Dika yang menekan handuk di kepalaku! Jarak puskesmas tak begitu jauh dari rumahku, hanya sekitar 1 km kurang. Namun jika harus berlari, menggendong seseorang, dan kau dalam keadaan panik yang luar biasa, pasti jarak seperti itu sangat melelahkan. Lalu aku? Aku hanya terkulai lemas di punggung ayahku dan tetap sadar! Aku hanya tak berdaya melakukan apapun, namun aku melihat betul apa saja yang terjadi dan apa yang membuatku sampai histeris ketakutan.
"Pak... pak... tolong anak saya pak!" Ucap ayahku saat kami sampai di puskesmas.
"Dokternya mana? Ini anak saya bisa kehabisan darah!" Tanya ayahku saat merebahkan aku diatas ranjang.
Wajah ayahku penuh dengan kepanikan dan kecemasan. Aku hanya bisa menggerakan bola mataku ke kanan dan kiri. Sekalipun perih akibat goresan paku yang cukup dalam dan lebar. Tapi aku masih tertawa terkekeh. Apa aku sudah gila? Belum, aku masih sedikit waras. Lalu kenapa aku tertawa saat yang lainnya panik? Yang pertama karena belum ada satupun orang yang menanganiku saat ini. Di jam seperti ini tentunya tak ada dokter yang tersisa. Yang kedua yaitu dari mulai digendong ayahku sampai sekarang di atas ranjang, aku sudah melihat banyak sekali mahluk-mahluk gaib di sepanjang jalan. Ada yang duduk di pinggir jalan, dia tak hanya sekedar duduk, tapi dia korban kecelakaan. Kepalanya terpisah dari badannya, dan tubuhnya tepat berada disamping kepala itu. Ada pula yang tergantung oleh seutas tambang besar di pohon. Aku tak menemukan pocong, kuntilanak, atau hantu mainstream lainnya. Semua yang kutemui adalah korban kecelakaan, bunuh diri, atau di bunuh. Tak perlu kaget, di kampungku dulu, masih banyak ditemukan mayat-mayat korban pembunuhan. Dan kini saat aku sampai di pintu masuk puskesmas, aku sudah disambut tatapan sadis kera yang tingginya seperti manusia. Dua taring tajam yang dipenuhi liur kental menghiasi kedua bibirnya. Dia melompat-lompat kegirangan saat melihatku dibawa ke puskesmas. Mungkin dikira aku akan mati di tempat ini. Dan yang terakhir, saat aku diletakan diatas ranjang, tak lama kemudian para penjenguk berdatangan. Jumlahnya hampir memenuhi tiap jengkal ruangan puskesmas. Mereka melihatku, tersenyum padaku, dan berharap aku segera mati di tempat ini seperti mereka! Aku sama sekali tak takut dengan mereka. Karena aku sudah menyerah kalah. Jikalau ini saatnya aku mati, biarkan aku sekali lagi melihat senyum ayahku.
"Nak, dengerin bapak yah. Setelah ini kamu harus kuat nahan sakit. Barusan bapak dikasih tau sama perawatnya. Mereka kehabisan stock obat penghilang rasa sakit. Semua dokter terdekat sudah dihubungi, tapi gak ada satupun yang respon. Mereka nggak bisa nunggu lagi. Kalau kamu nggak segera ditangani, kamu bisa kehabisan darah." Aku hanya mengedipkan mataku sambil tersenyum ke ayahku yang menandakan aku setuju.
Sialan..... mungkin ucapan setan tua itu benar. Saking sempurna rencana dan kerjasama para jin keparat untuk menghilangkan nyawaku. Bahkan obat biuspun sampai habis! Hah... yasudahlah. Terserah mereka mau apakan tubuhku ini. Toh aku juga sudah tak merasakan apapun. Sang perawat segera mengambil apapun itu untuk bersiap menyiksaku.
Jleeeebbb..............
GgGGrrrrrhhh........................!!!!
Saat kepalaku ditusuk oleh jarum, segala kesadaranku mulai datang. Kini rasa sakit luar biasa yang aku rasakan! Terlebih saat benang mulai meliuk-liuk melewati kulitku!
"Ditahan nak, kalau kamu gak tahan, kamu gigit jari lengen bapak buat ngalihin rasa sakit kamu."
Tak terasa air mataku menetes saat ayahku berkata seperti itu. Tak akan sampai hati aku melakukannya. Bisa terkoyak habis kulit ayahku jika kugigit.
"Pak tolong dipegang yang kuat anaknya. Kalau dia gerak terus, prosesnya bisa lebih lama!"
Kau pikir kau siapa menyuruhku untuk tetap diam? Kau bisa mengatakan seperti itu karna kau tidak di posisiku saat ini! Coba saja kalau kepalamu yang ku robek, kuambil daramu sebanyak-banyaknya, lalu kujahit kepalamu dengan perlahan saat kau masih sadar dan bisa merasakan sakit! Dan taukah kau hei perawat bodoh, saat ini aku ditertawakan oleh banyak sekali mahluk hina! Mereka tertawa melihatku menderita!
"Sudah selesai yah mas. Sekarang mas istirahat dulu. Sebentar lagi saya akan menghubungi rumah sakit umum. Nanti kamu akan dijemput ambulan. Kamu kehabisan banyak darah. Pak, anaknya ditemani dulu yah. Saya akan hubungi rumah sakit sekarang."
Sungguh mudah sekali dia berkata seperti itu? Kenapa tadi tak kau lakukan? Apa kau memang ingin membuatku tersiksa? Oh iya aku lupa, kalau aku tidak disiksa dulu, mungkin aku sudah mati duluan.
"Pak, ambulannya sudah hampir tiba."
Seeeeetttt.......
Dengan tenagaku yang tersisa, aku langsung duduk dan bersiap untuk bangkit ketika mendengar ambulan akan datang.
"Pak, ayo pulang. Aku udah sembuh kok." Ajakku sambil tersenyum.
"Jangan nekat sa!" Seru ayahku.
"Udah jangan kelamaan disini pak. Apa bapak pengen aku buka jahitanya lagi biar aku pingsan?" Ancamku sambil tanganku kuletakan diatas bekas jahitan.
Ayahku dan Dika hanya melongo melihat ulahku sudah seperti preman kampung. Tapi mereka sudah tak bisa menahanku lagi. Aku berjalan meski sedikit sempoyongan. Ayah dan Dika coba membantuku, namun langsung ku tepis.
"Loh........ kamu tidak boleh jalan dulu mas!!
"Minggir kau anjing! Masih kurang puas liat aku tersiksa?! Minggir!! Aku mau pulang! Besok aku datang ke sini buat bayar biaya jahitan kelas pemulamu! Kalau ada yang brani nglarang aku pulang. Aku bakal tusuk kalian pakai ini!" Haha, gayaku memang sok keren.
Taukah kalian apa yang kupamerkan pada petugas puskesmas? Itu adalah obeng yang aku masukan di celanaku! Aku mengambilnya tadi saat aku masih di rumahku. Tadinya akan kujadikan senjata untuk berhadapan dengan mahluk yang mengancamku. Namun sayangnya aku malah lupa, dan baru ingat lagi saat kepalaku sedang dijadikan bahan prakarya perawat tolol itu!
Aku berjalan layaknya jagoan. Walau terseok-seok seperti zombie. Namun aku tak mengizinkan ayah ataupun Dika membantuku. Ternyata tak hanya kuntilanak yang hobi tertawa tanpa tujuan. Nyatanya mahluk satu ini juga tertawa saat melihatku sempoyongan. Entah mahluk peliharaan siapa namun dia sepertinya suka nongkrong di bawah pohon jambu depan SMP. Kuda, ya dia berwujud kuda. Namun badannya lebih besar dari kuda yang paling besar yang pernah tercatat sejarah. Dia berdiri gagah sambil terus menatapku. Ringkihan kuda itu benar-benar seperti mengejekku! Namun entah kenapa, dari awal aku melihat mahluk-mahluk ini, tak ada satupun yang terlihat ingin menyerangku. Mungkin sekara chakra kyubi ekor 12ku sudah keluar. Jadi mereka segan untuk menggangguku.
Took.... took.... took....
Blaaaak........
"Loh?? Kenapa Resa udah pulang? Kamu gimana sih mas? Masa Resa jalan sendiri?! Emang dia gak dirawat sekalian disana??" Haduhh... ibuku langsung menyerang ayahku dengan pertanyaanya.
"Udah bu jangan marah-marah dulu. Aku yang minta pulang, aku juga yang gak mau dituntun jalan sama ayah."
"Aduh kamu ini nak! Yaudah bantu Resa masuk mas!"
"Udah gak usah bu. Gak usah pada repot bantuin aku. Dah semuanya masuk aja. Itu Dika sama bu rom udah dibikinin minum belum?"
Kami semua duduk di ruang tamu. Tentu saja mata mereka tertuju padaku.
"Bajumu dibuka dulu nak, ibu mau bersihin darah yang masih nempel di badanmu. Petugas puskesmasnya gimana sih? Pasien kok diginiin?!" Kata ibuku sambil ngedumel. Aku setuju sama kamu bu, hehe.
"Bukan gitu dek, tadi Resa tuh......"
Akhirnya ayahku menceritakan tentang kejadian keren yang aku lakukan di puskesmas. Ibuku hanya mengelus dada saat mendengar penjelasan dari ayahku.
"Bu, aku mau mandi lah. Badanku amis banget nih. Kayak habis makan orang haha."
"Huss! Kamu ngomongnya ngawur. Gak usah mandi. Ibu lagi rebus air. Nanti dibasuh pake handuk terus dikasih antiseptik aja."
"Gak ah males bu. Aku mandi pake air dingin aja biar seger." Jawabku sambil berjalan ke kamar mandi.
Kloontang....! Hampir aku lupa, kulempar saja obeng yang aku bawa tadi. Nanti dikira tukang servis tv. Mereka keheranan melihat benda yang kulemparkan ke atas meja. Dan mau tak mau ayahku menceritakan bagian yang dibuang dalam kisah kepremananku.
Byuuuuuuuurrrrr.............!!
"ASUUUUU.....!!"
dap.. dap... dap.. dap...
"Ada apa nak? Kepalamu sakit kan? Itu jahitanya masih belum kering! Cepet keluar dikeringin aja, gak usah mandi!" Paksa ibuku.
"Enggak kok bu, udah gak krasa. Tadi cuma kaget, airnya dingin banget."
Padahal memang sangat sakit sekali rasanya! Kalau kalian penasaran dengan rasanya, coba deh kalian codetin kepala kalian terus dijahit, tapi jangan pakai penghilang rasa sakit atau sejenisnya, nah terus buat finishingnya, kalian guyur deh pakai air. Akhirnya kumandang adzan mulai terdengar. Bu rom dan Dika pamit pulang. Aku tak ikut mengantar mereka ke pintu depan. Aku sibuk melahap empek-empek favoritku!
"Dik, cepet keluarin motor. Kita bawa Resa ke puskesmas!" Perintah ayahku ke dika anaknya bu rom.
"Dek, ambilin anduk atau apapun buat nahan darahnya Resa!"
Ayahku memang superhero sejati. Dia selalu siap menghadapi situasi apapun. Sambil memapahku, ayah lepas bajunya dan ditempelkan ke lukaku.
"Pak Tri, bensin motornya habis! Aku ambil motorku dulu dirumah!" Ucap Dika yang sedang membuka tutup tangki motor.
"Kelamaan dik, udah tak gendonge aja! Ambilin bajuku dek, bajuku yang itu dibuang aja. Dik, tahan Resa bentar. Jangan lepasin handuknya yah! Aku pake baju dulu." Kata ayahku sambil mengganti handuk untuk menahan darahku yang terus mengalir dan melemparkan baju yang dipenuhi darah.
"Biar aku sama Dika aja yang ke puskesmas. Telpon Andre suruh kesini pagi-pagi! Kita berangkat dik!"
Mungkin jika kalian ada disini saat ini, kalian pasti akan mengeluarkan ponsel kalian masing-masing dan mengabadikan moment heroik yang terjadi di pagi buta. Sambil berlari, ayahku menggendongku di belakang, lalu diikuti oleh Dika yang menekan handuk di kepalaku! Jarak puskesmas tak begitu jauh dari rumahku, hanya sekitar 1 km kurang. Namun jika harus berlari, menggendong seseorang, dan kau dalam keadaan panik yang luar biasa, pasti jarak seperti itu sangat melelahkan. Lalu aku? Aku hanya terkulai lemas di punggung ayahku dan tetap sadar! Aku hanya tak berdaya melakukan apapun, namun aku melihat betul apa saja yang terjadi dan apa yang membuatku sampai histeris ketakutan.
"Pak... pak... tolong anak saya pak!" Ucap ayahku saat kami sampai di puskesmas.
"Dokternya mana? Ini anak saya bisa kehabisan darah!" Tanya ayahku saat merebahkan aku diatas ranjang.
Wajah ayahku penuh dengan kepanikan dan kecemasan. Aku hanya bisa menggerakan bola mataku ke kanan dan kiri. Sekalipun perih akibat goresan paku yang cukup dalam dan lebar. Tapi aku masih tertawa terkekeh. Apa aku sudah gila? Belum, aku masih sedikit waras. Lalu kenapa aku tertawa saat yang lainnya panik? Yang pertama karena belum ada satupun orang yang menanganiku saat ini. Di jam seperti ini tentunya tak ada dokter yang tersisa. Yang kedua yaitu dari mulai digendong ayahku sampai sekarang di atas ranjang, aku sudah melihat banyak sekali mahluk-mahluk gaib di sepanjang jalan. Ada yang duduk di pinggir jalan, dia tak hanya sekedar duduk, tapi dia korban kecelakaan. Kepalanya terpisah dari badannya, dan tubuhnya tepat berada disamping kepala itu. Ada pula yang tergantung oleh seutas tambang besar di pohon. Aku tak menemukan pocong, kuntilanak, atau hantu mainstream lainnya. Semua yang kutemui adalah korban kecelakaan, bunuh diri, atau di bunuh. Tak perlu kaget, di kampungku dulu, masih banyak ditemukan mayat-mayat korban pembunuhan. Dan kini saat aku sampai di pintu masuk puskesmas, aku sudah disambut tatapan sadis kera yang tingginya seperti manusia. Dua taring tajam yang dipenuhi liur kental menghiasi kedua bibirnya. Dia melompat-lompat kegirangan saat melihatku dibawa ke puskesmas. Mungkin dikira aku akan mati di tempat ini. Dan yang terakhir, saat aku diletakan diatas ranjang, tak lama kemudian para penjenguk berdatangan. Jumlahnya hampir memenuhi tiap jengkal ruangan puskesmas. Mereka melihatku, tersenyum padaku, dan berharap aku segera mati di tempat ini seperti mereka! Aku sama sekali tak takut dengan mereka. Karena aku sudah menyerah kalah. Jikalau ini saatnya aku mati, biarkan aku sekali lagi melihat senyum ayahku.
"Nak, dengerin bapak yah. Setelah ini kamu harus kuat nahan sakit. Barusan bapak dikasih tau sama perawatnya. Mereka kehabisan stock obat penghilang rasa sakit. Semua dokter terdekat sudah dihubungi, tapi gak ada satupun yang respon. Mereka nggak bisa nunggu lagi. Kalau kamu nggak segera ditangani, kamu bisa kehabisan darah." Aku hanya mengedipkan mataku sambil tersenyum ke ayahku yang menandakan aku setuju.
Sialan..... mungkin ucapan setan tua itu benar. Saking sempurna rencana dan kerjasama para jin keparat untuk menghilangkan nyawaku. Bahkan obat biuspun sampai habis! Hah... yasudahlah. Terserah mereka mau apakan tubuhku ini. Toh aku juga sudah tak merasakan apapun. Sang perawat segera mengambil apapun itu untuk bersiap menyiksaku.
Jleeeebbb..............
GgGGrrrrrhhh........................!!!!
Saat kepalaku ditusuk oleh jarum, segala kesadaranku mulai datang. Kini rasa sakit luar biasa yang aku rasakan! Terlebih saat benang mulai meliuk-liuk melewati kulitku!
"Ditahan nak, kalau kamu gak tahan, kamu gigit jari lengen bapak buat ngalihin rasa sakit kamu."
Tak terasa air mataku menetes saat ayahku berkata seperti itu. Tak akan sampai hati aku melakukannya. Bisa terkoyak habis kulit ayahku jika kugigit.
"Pak tolong dipegang yang kuat anaknya. Kalau dia gerak terus, prosesnya bisa lebih lama!"
Kau pikir kau siapa menyuruhku untuk tetap diam? Kau bisa mengatakan seperti itu karna kau tidak di posisiku saat ini! Coba saja kalau kepalamu yang ku robek, kuambil daramu sebanyak-banyaknya, lalu kujahit kepalamu dengan perlahan saat kau masih sadar dan bisa merasakan sakit! Dan taukah kau hei perawat bodoh, saat ini aku ditertawakan oleh banyak sekali mahluk hina! Mereka tertawa melihatku menderita!
"Sudah selesai yah mas. Sekarang mas istirahat dulu. Sebentar lagi saya akan menghubungi rumah sakit umum. Nanti kamu akan dijemput ambulan. Kamu kehabisan banyak darah. Pak, anaknya ditemani dulu yah. Saya akan hubungi rumah sakit sekarang."
Sungguh mudah sekali dia berkata seperti itu? Kenapa tadi tak kau lakukan? Apa kau memang ingin membuatku tersiksa? Oh iya aku lupa, kalau aku tidak disiksa dulu, mungkin aku sudah mati duluan.
"Pak, ambulannya sudah hampir tiba."
Seeeeetttt.......
Dengan tenagaku yang tersisa, aku langsung duduk dan bersiap untuk bangkit ketika mendengar ambulan akan datang.
"Pak, ayo pulang. Aku udah sembuh kok." Ajakku sambil tersenyum.
"Jangan nekat sa!" Seru ayahku.
"Udah jangan kelamaan disini pak. Apa bapak pengen aku buka jahitanya lagi biar aku pingsan?" Ancamku sambil tanganku kuletakan diatas bekas jahitan.
Ayahku dan Dika hanya melongo melihat ulahku sudah seperti preman kampung. Tapi mereka sudah tak bisa menahanku lagi. Aku berjalan meski sedikit sempoyongan. Ayah dan Dika coba membantuku, namun langsung ku tepis.
"Loh........ kamu tidak boleh jalan dulu mas!!
"Minggir kau anjing! Masih kurang puas liat aku tersiksa?! Minggir!! Aku mau pulang! Besok aku datang ke sini buat bayar biaya jahitan kelas pemulamu! Kalau ada yang brani nglarang aku pulang. Aku bakal tusuk kalian pakai ini!" Haha, gayaku memang sok keren.
Taukah kalian apa yang kupamerkan pada petugas puskesmas? Itu adalah obeng yang aku masukan di celanaku! Aku mengambilnya tadi saat aku masih di rumahku. Tadinya akan kujadikan senjata untuk berhadapan dengan mahluk yang mengancamku. Namun sayangnya aku malah lupa, dan baru ingat lagi saat kepalaku sedang dijadikan bahan prakarya perawat tolol itu!
Aku berjalan layaknya jagoan. Walau terseok-seok seperti zombie. Namun aku tak mengizinkan ayah ataupun Dika membantuku. Ternyata tak hanya kuntilanak yang hobi tertawa tanpa tujuan. Nyatanya mahluk satu ini juga tertawa saat melihatku sempoyongan. Entah mahluk peliharaan siapa namun dia sepertinya suka nongkrong di bawah pohon jambu depan SMP. Kuda, ya dia berwujud kuda. Namun badannya lebih besar dari kuda yang paling besar yang pernah tercatat sejarah. Dia berdiri gagah sambil terus menatapku. Ringkihan kuda itu benar-benar seperti mengejekku! Namun entah kenapa, dari awal aku melihat mahluk-mahluk ini, tak ada satupun yang terlihat ingin menyerangku. Mungkin sekara chakra kyubi ekor 12ku sudah keluar. Jadi mereka segan untuk menggangguku.
Took.... took.... took....
Blaaaak........
"Loh?? Kenapa Resa udah pulang? Kamu gimana sih mas? Masa Resa jalan sendiri?! Emang dia gak dirawat sekalian disana??" Haduhh... ibuku langsung menyerang ayahku dengan pertanyaanya.
"Udah bu jangan marah-marah dulu. Aku yang minta pulang, aku juga yang gak mau dituntun jalan sama ayah."
"Aduh kamu ini nak! Yaudah bantu Resa masuk mas!"
"Udah gak usah bu. Gak usah pada repot bantuin aku. Dah semuanya masuk aja. Itu Dika sama bu rom udah dibikinin minum belum?"
Kami semua duduk di ruang tamu. Tentu saja mata mereka tertuju padaku.
"Bajumu dibuka dulu nak, ibu mau bersihin darah yang masih nempel di badanmu. Petugas puskesmasnya gimana sih? Pasien kok diginiin?!" Kata ibuku sambil ngedumel. Aku setuju sama kamu bu, hehe.
"Bukan gitu dek, tadi Resa tuh......"
Akhirnya ayahku menceritakan tentang kejadian keren yang aku lakukan di puskesmas. Ibuku hanya mengelus dada saat mendengar penjelasan dari ayahku.
"Bu, aku mau mandi lah. Badanku amis banget nih. Kayak habis makan orang haha."
"Huss! Kamu ngomongnya ngawur. Gak usah mandi. Ibu lagi rebus air. Nanti dibasuh pake handuk terus dikasih antiseptik aja."
"Gak ah males bu. Aku mandi pake air dingin aja biar seger." Jawabku sambil berjalan ke kamar mandi.
Kloontang....! Hampir aku lupa, kulempar saja obeng yang aku bawa tadi. Nanti dikira tukang servis tv. Mereka keheranan melihat benda yang kulemparkan ke atas meja. Dan mau tak mau ayahku menceritakan bagian yang dibuang dalam kisah kepremananku.
Byuuuuuuuurrrrr.............!!
"ASUUUUU.....!!"
dap.. dap... dap.. dap...
"Ada apa nak? Kepalamu sakit kan? Itu jahitanya masih belum kering! Cepet keluar dikeringin aja, gak usah mandi!" Paksa ibuku.
"Enggak kok bu, udah gak krasa. Tadi cuma kaget, airnya dingin banget."
Padahal memang sangat sakit sekali rasanya! Kalau kalian penasaran dengan rasanya, coba deh kalian codetin kepala kalian terus dijahit, tapi jangan pakai penghilang rasa sakit atau sejenisnya, nah terus buat finishingnya, kalian guyur deh pakai air. Akhirnya kumandang adzan mulai terdengar. Bu rom dan Dika pamit pulang. Aku tak ikut mengantar mereka ke pintu depan. Aku sibuk melahap empek-empek favoritku!
itkgid memberi reputasi
1