- Beranda
- Stories from the Heart
Share Cerita Fiksi dan Fantasi, Manusia dari Bumi yang Lain
...
TS
dodydrogba
Share Cerita Fiksi dan Fantasi, Manusia dari Bumi yang Lain

Kisah romansa, bercampur fantasi dan sci fi yang berseting di Jawa pada era 9 masehi. Zarkan yang merupakan prajurit dari planet Valda harus mendarat ke bumi karena mesin pesawatnya rusak. Tak disangka - sangka ia mendapatkan nasib sial yaitu menjadi tawanan kerajaan setempat. Di saat yang bersamaan entah kenapa ia juga jatuh hati dengan sang putri raja. Bagaimana kelanjutannya,baca langsung di sini!
Chapter:
- Bab 1 Jatuhnya Sebuha Benda Misterius
Bab 2
Bab 3 part 1
Bab 3 part 2
Bab 3 part 3
Spoiler for Bab 1 Jatuhnya sebuah Benda Misterius:
Suara ringkikan kuda itu benar - benar Cumiikkan telinga, sepertinya seseorang sedang terburu - buru menghindar dari kejaran yang tak terlihat. Kuda itu berhenti, disusul penunggangnya yang ternyata seorang wanita berparas cantik turun menjejakkan kakinya di bumi. Wanita itu menoleh ke kanan dan ke kiri lalu melangkah pelan menuju pohon besar di tepi sungai. Sambil duduk dan menyandarkan punggungnya di pohon, ia mulai memainkan sulingnya. Iramanya yang indah menggambarkan perasaanya yang sedang gundah gulana. Jangkrik, burung, tupai dan serangga lainnya mungkin akan tenggelam dalam kesedihan ketika mendengarnya. Sambil menatap langit yang gelap, ia berharap sebuah bintang jatuh turun ke bumi, mengabulkan keinginannya agar masalah hidupnya cepat terbenam. Namun di sisi lain sinar bulan beserta cahaya - cahaya bintangnya yang bersinar itu membuat suasana malam jauh lebih indah. Ditambah silirnya angin yang berhembus, membuat keadaan jauh lebih sejuk untuk sekedar bersantai.
Sementara itu di luar bumi tepatnya di luar angkasa sana, sebuah pesawat tempur dari planet kerajaan Valda melaju kencang setelah sebelumnya keluar dari lorong lubang cacing. Pesawat itu ternyata menghindari kejaran pesawat tempur dari planet Dracon, sebuah planet yang dikuasai kerajaan Dracon yang ingin menguasai beberapa planet lain dengan kejam dan otoriter. Pesawat tempur Valda itu meliuk - liuk dengan lincah, mengecoh serangan bertubi - tubi dari pesawat tenpur Dracon. Pesawat tempur Dracon pun tak pantang menyerah, tembakan demi tembakan terus diluncurkan. Berharap sang pesawat musuh tumbang lalu lenyap di angkasa. Tapi sepertinya itu hanya sia - sia saja, pesawat tempur Valda itu melakukan manuver tajam ke atas dengan cepat. Membuat pilot pesawat tempur draconian terkejut mendadak. Pesawat temput Valda itu seolah menghilang dengan begitu cepat. Namun uniknya radar menangkap pesawat itu masih berada di area itu.
Radarnya tiba - tiba mendeteksi serangan yang akan datang, namun sayangnya pilot pesawat Dracon itu sama sekali tak merasakan kehadiran musuh. Ia kembali memastikan layar radarnya itu berfungsi dengan baik. Dan tak disangka - sangka sebuah ledakan dari bawah pesawat menggetarkan pesawat Dracon itu dan merusak mesinnya.
"Hahaha, rasakan serangan dari bawah ini. Itulah akibatnya jika kamu tak waspada pilot Dracon yang bodoh!!" pilot pesawat Valda girang karena tembakannya berhasil mengenai pesawat tempur Dracon itu.
Walau berlagak sombong, pilot Valda itu tak menyadari bahwa pesawat tempur Dracon yang mengambang di luar angkasa masih bisa mengeluarkan satu tembakan lagi.
"Akhirnya, misi ini selesai juga," radar miliknya tiba - tiba menyampaikan pesan peringatan, "Bahaya, terdeteksi serangan musuh!! Bahaya, terdeteksi serangan musuh!!"
"Serangan musuh?? Bukannya sudah hhh..." sebuah tembakan berhasil mengenai bagian belakang pesawatnya.
"Sialann, masih hidup rupanya!! Aku harus ...," radar kembali memberi peringatan, "Bahaya, sebagian mesin tak berfungsi. Bersiap untuk mendarat di planet terdekat."
"Tidakk!! Kenapa harus terjadi sekarang sih?? Oke, berikan planet terdekat sekarang juga!!" perintah pilot itu.
"Baiklah, planet terdekat tak jauh dari sini ialah planet Terra. Apakah Anda ingin mendarat ke sana?" radar itu memberi saran.
"Iya, tentu saja. Aku butuh waktu buat memperbaiki pesawat ini," jawab pilot itu sambil menatap gambar bentuk planet Terra.
"Baiklah, bersiap untuk mendarat, kencangkan pengaman Anda, kita akan sampai beberapa meter lagi," pesawat itu dengan sisa - sisa tenaganya akhirnya meluncur menuju bumi.
Pesawat itu mulai menembus atmosfer bumi, terus bergerak ke bawah menuju pulau Jawa abad sembilan masehi. Pemandangan aneh nan indah itu menarik perhatian seseorang yang sedang memainkan alunan lagu. Ia pun terpaksa berhenti, menyempatkan waktu sempitnya memandangi momen yang ia harapkan muncul tersebut. Seseorang itu tak lain dan tak bukan adalah seorang wanita cantik yang bersender di sebuah pohon.
"Aku tak menyangka, dewa mendengar permintaan ku. Apakah mungkin dewa menunjukan kehadirannya melalui bintang jatuh itu? Entahlah, aku hanya berharap masalah yang menimpaku dan kerajaan ku segera selesai agar semakin tak merugikan semua rakyat," pinta wanita itu dalam hati.
Setelah diperhatikan lebih lama, ada yang janggal dari bintang jatuh itu. Semakin lama, jaraknya semakin mendekat ke arahnya. Sesaat ia menjadi panik, beranjak dari tempatnya lalu melarikan diri sambil berteriak kencang. Teriakan tersebut menarik perhatian orang - orang misterius lainnya yang berada di sekitar hutan tepi sungai itu. Mereka seperti mengintai gerak - gerik dari wanita cantik itu entah apa tujuannya. Mereka ternyata juga tertarik dengan benda misterius yang jatuh ke bumi itu. Di dalam benda itu sendiri, sesosok manusia yang berkulit sawo matang tengah mempersiapkan sesuatu sebelum pesawatnya jatuh ke bumi. Irama alarm yang keras saling bersahut - sahutan dari dalam kokpit, mengurangi konsentrasi sang pilot itu sendiri. Walau begitu ia tetap siaga sambil terus mengendalikan kemudi.
"Alvan, apa kamu sudah mempersiapkan semuanya?" pilot itu mengecek layar komputer di depannya.
"Proses analisa budaya, bahasa, geografis, teknologi, masih dalam proses," jawab AI dari planet Valda itu.
Artificial Intelegence Alvan merupakan sebuah sistem program pintar yang dibuat oleh kerajaan Valda yang terintegrasi ke semua perangkat keras teknologi canggih milik kerajaan tersebut. Berkat benda itu, beberapa prajurit kerajaan Valda bisa beradaptasi di sebuah planet yang berbeda karakteristiknya. Salah satu kemampuannya ialah dapat membuat penggunanya memahami dan berbicara bahasa asing yang tak ia ketahui sebelumnya. Kemampuan lainnya ialah bisa sebagai mekanisme pertahanan, medis dan lain sebagainya.
"Bumi semakin dekat, bersiaplah untuk kemungkinan terburuk," Alvan memperingatkan.
"Duuuurrrghhhhh" pesawat tempur itu akhirnya jatuh tepat di tepi sungai tersebut, hentakan kuatnya menimbulkan kawah besar di sekitarnya.
"Fuuuhhhh!!! Hampir saja aku kehilangan nyawa lagi," pilot itu merasa bersyukur.
"Teknologi Valda tak memungkinkan kamu untuk mati begitu saja, seragam yang kamu kenakan sangat kuat untuk menjagamu dari kemungkinan buruk lainnya," Alvan menjelaskan dengan penuh sarkasme.
"Oh iya, harusnya kamu tak perlu mengingatkan ku soal ini tadi," sindir pilot itu.
"Proses penyimpanan sudah selesai, gelang pintar ini sudah bisa kamu pakai tuan Zarkan," layar komputer di depannya tiba - tiba terbuka, lalu keluar sebuah gelang canggih yang terbuat dari besi.
"Baguslah, aku sudah merasa nyaman sekarang. Kalau boleh tahu, aku sedang berada di mana Alvan?" Zarkan penasaran.
"Kita sedang berada di planet Terra, namun penduduk lokal menyebutnya bumi. Tak jauh dari sini terdapat kerajaan besar yang bernama kerajaan Triwulan. Berbeda dengan planet Valda yang hanya ada satu kerajaan, planet ini mempunyai lebih dari satu kerajaan. Di pulau ini terdapat kerajaan lain, baik besar ataupun kecil. Dan uniknya udara di sini sama - sama berunsur oksigen, mirip dengan planet Valda," Alvan menjelaskan.
"Wow, benarkah, planet ini benar - benar menarik. Lalu butuh berapa lama buat kamu untuk memperbaiki pesawat ini?" Zarkan kembali bertanya.
"Nah itulah masalahnya?" jawab Alvan dengan gugup.
"Masalah?" Zarkan menggaruk kepalanya.
"Aku minta maaf Zarkan, tapi pesawat ini butuh lebih satu hari untuk memperbaiki perangkat lunaknya, sistemnya rusak ketika ditembak tadi, aku pun juga merasakan sedikit kerusakan di dalam sistem ku. Sedangkan untuk perangkat kerasnya, sepertinya kita tak punya pilihan lain yaitu mengirim pesan bantuan ke pangkalan terdekat. Peralatan yang ada tak cukup untuk memperbaiki pesawat ini, Revalda," Alvan menyarankan.
"Tidak ... tidak, ini benar - benar mimpi buruk buat ku. Sepertinya aku harus menunggu lama di planet asing ini," Zarkan merasa sedikit jengkel akan kondisinya.
"Jangan mengeluh Zarkan, prajurit Valda yang lain sudah pernah mengalami hal yang sama. Mereka berubah menjadi prajurit sangat tangguh setelahnya," Alvan menasehati.
"Iya - iya, cukup dengan basa - basi nasehat mu itu Alvan. Aku akan pergi keluar dari pesawat ini," bosan dengan ocehan Alvan yang bertubi - tubi, Zarkan mulai mengenakan gelang canggih itu.
"Tunggu apa kamu yakin ..." ketika Alvan ingin memastikan keadaan, Zarkan tiba - tiba membuka kap kokpit pilot yang terletak di bagian atas pesawat, "Dasar bocah sialan!"
Ia terdiam sejenak, merasakan kesejukan di dekat hutan belantara itu. Dari beberapa planet, baru planet ini yang membuatnya terkesan begitu cepat.
"Kamu benar Alvan, tempat ini benar - benar sejuk, gunungnya besar, pohonnya yang rimbun dan rindang membuat hutan menjadi semakin indah. Membuat ku menjadi rindu dengan planet asal ku," Zarkan menghirup udara malam sambil berdiri di punggung pesawat.
Selang beberapa detik, gelang Zarkan menyala. Alvan telah selesai melakukan proses pemindahan dari pesawat menuju gelang yang dikenakan oleh Zarkan itu.
"Sebaiknya kita tetap waspada, kita tak tahu apakah penduduk di sini baik atau buruk atau mungkin lebih parah yang kita duga?" Alvan mengingatkan.
Dan peringatan itu benar adanya, kedua manusia misterius yang ternyata pengawal rahasia kerajaan Triwulan mendatangi Zarkan dari dalam hutan dengan tatapan penuh amarah dan rasa curiga. Mereka berteriak dan berkata sesuatu, gelang Zarkan mulai melakukan alih bahasa untuk menyesuaikan keadaan sekitar.
"Alvan, siapa mereka itu?"
"Itu yang kuperingatkan tadi, sepertinya pengawal kerajaan."
"Benarkah? Mungkin kita bisa meminta bantuan kepada mereka?"
"Tapi kita tak tahu apakah mereka baik atau jahat, Zarkan."
"Aku harap mereka bisa diajak kerja sama."
Dua pengawal kerajaan dengan pakaian prajurit khas Jawa kuno itu berhenti di dekat benda asing itu. Setelah itu mereka mengeluarkan sebilah pedang sambil menunjuk ke arah Zarkan. Tak cukup sampai situ, mereka membentak Zarkan untuk turun dan menyerahkan diri kepada mereka.
"Hei kamu yang di sana, turun dan berlututlah!!" teriak salah satu pengawal itu.
"Ya, kamu mata - mata kerajaan lain bukan. Ikutilah perintah kami atau kami akan melakukan tindakan tegas kepada mu," pengawal lainnya ikut memperingatkan.
Zarkan yang baru saja turun ke bumi tentu tak mudah paham dengan maksud mereka. Maka ia pun mencoba menjelaskan dengan senyuman penuh keramahan agar tak dianggap sebagai pihak yang ingin cari perkara.
"Tenang kawan - kawan sekalian, sebelumnya saya perkenalkan diri saya dulu. Nama ku Zarkan, aku dari planet Valda dan aku datang ke sini dengan damai."
Pengawal itu bukannya luluh malah saling menatap satu sama lain dengan penuh curiga. Mereka malah semakin tak paham dengan apa yang dibicarakan pemuda asing dan aneh itu. Malah mereka mengira pria itu malah meremehkan kehadiran mereka itu.
"Hei, kamu jangan main - main ya!! Turunlah atau pedang ini akan menancap ke jantung mu," bentak salah satu pengawal itu.
Situasi yang malah semakin memanas itu semakin membuat Zarkan kebingungan. Maka ia pun meminta bantuan Alvan untuk mempersiapkan senjata khusus dari gelangnya itu untuk menghindari segala kemungkinan terburuk yang akan datang nantinya.
"Aku rasa mereka malah semakin marah ya."
"Tentu saja Zarkan, mereka mengira kamu bercanda, dan mungkin menuduh mu mata - mata kerajaan lain."
"Kalau begitu Alvan, bisakah kamu memasang mode senjata energi beam untuk saat ini?"
"Maaf Revalda, gelang ini ternyata tenaganya hampir habis, jadi tak bisa menggunakan senjata dengan daya kuat seperti itu."
"Hah??? Kenapa kamu baru kasih tahu sekarang?"
"Karena kamu tak bertanya, tapi untuk mode pengecoh sepertinya masih bisa."
"Mode pengecoh? Maksud mu kita kabur gitu?"
"Ya, tak ada cara lain selain cara itu."
Gelang milik Zarkan tiba - tiba mengeluarkan sinar biru terang benderang berukuran kecil yang menyilaukan mata. Dengan cepat helm tempur muncul menutupi mukanya dari arah leher belakang. Dua prajurit kerajaan itu kebingungan melihatnya. Beberapa detik kemudian sinar itu membesar lalu meluas, membuat pandangan para prajurit kabur hingga kepala pun menjadi pusing. Kelengahan prajurit itu dimanfaatkan dengan baik oleh Zarkan untuk melarikan diri ke dalam hutan.
Ia terus berlari kencang, helm tempurnya pun kembali tak digunakan.
"Alvan, apa yang kita lakukan setelah ini dan kita harus berlari ke mana?"
Berbeda seperti biasanya, Alvan kali ini tak menggubris pertanyaanya. Tentu hal ini membuat Zarkan menjadi kesal terutama di situasi seperti ini.
"Alvan, kamu dengar aku kan, Alvan!!!"
Ia menatap gelangnya, tampak sinar lingkaran mulai berwarna hijau. Pertanda Alvan sedang dalam mode tidur karena energi yang mulai habis.
"Bagus, di saat seperti ini malah dalam mode tidur! Apa boleh buat, aku harus bertahan hidup dengan insting ku untuk saat ini."
Walau ia berhasil melarikan diri, namun satu hal yang pasti ia masih belum beradaptasi dengan lingkungan bumi walau keadaan planetnya sedikit mirip. Maka ia pun mulai merasakan kelelahan, nafas menjadi terengah - engah, jantungnya mulai berdegup kencang. Ia capek sekaligus was - was terhadap keadaan yang ia hadapi. Sesekali menoleh ke belakang untuk mengawasi prajurit tadi, sayangnya hal tersebut malah membuatnya semakin lengah apalagi berlari di antara pepohonan yang rimbun di tengah gelapnya malam yang pekat. Tanpa disadari, sebuah pukulan gada besi menerjang kepalanya entah dari mana asalnya.
"Duuunnngggg!!!"
Ia jatuh tersungkur ke tanah, matanya mulai berkunang - kunang, rasanya dunia ini seperti berputar, tak lama kemudian bayangan gelap mulai menutupi keseluruhan pandangannya. Ia pun pingsan seketika di hutan tersebut, ditemani oleh Alvan yang sedang dalam mode tidur.
Diubah oleh dodydrogba 25-03-2018 13:00
anasabila memberi reputasi
1
3.1K
Kutip
17
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.6KAnggota
Tampilkan semua post
TS
dodydrogba
#5
Spoiler for Bab 2 Bersama Orang Asing di Planet yang Asing:
Bab 2 Bersama Orang Asing di Planet yang Asing

Cahaya pagi menyeruak ke seantero langit, menenggelamkan kelam malam yang penuh derita. Sinarnya menusuk kulit, menghangatkan jiwa - jiwa yang sedang terlelap salah satunya adalah Zarkan. Setelah terkena pukulan kuat hingga tak sadarkan diri, Zarkan kini mulai membuka matanya. Goncangan - goncangan aneh dalam tidurnya itu berhasil menyadarkannya dari mimpi yang tak kunjung usai. Mimpi buruk yang selalu menghantuinya yaitu ketika para pasukan Dracon menyerang desanya dan membunuh para warga, salah satunya adalah ibu tercintanya. Ia sudah kembali bangun walau dalam keadaan setengah sadar dan belum sepenuhnya pulih.
Namun tiba - tiba ada suatu hal yang mengusik pikirannya, di manakah ia berada sekarang. Ia menyadari bahwa tempat yang ia duduki sekarang sepertinya tak asing buatnya, sebuah penjara dengan dua roda yang terbuat dari kayu yang kuat yang ditarik oleh dua ekor kuda dengan seorang pak kusir di depannya, sedangkan di samping kiri, kanan dan belakangnya terdapat beberapa prajurit yang mengawal ke manapun mereka pergi. Sementara di depan terdapat seorang prajurit yang sedang menunggangi kuda yang beda dengan lainnya, sepertinya pemimpin mereka. Pakaiannya memakai baju zirah yang terbuat dari logam yang kuat, di bagian bawah leher, pinggang kiri dan kanan terdapat ukiran unik khas jawa kuno dengan helm perang ala wayang orang dan jubah berbulu yang menutupi tubuh bagian belakang. Zarkan pun kini mengerti kenapa dari tadi serasa merasakan goncangan hebat yang terus - menerus karena ia menaiki kereta penjara yang ditarik oleh dua ekor kuda. Selain itu, Kendaraan tersebut sebenarnya mengingatkan pada moda transportasi kuno di planetnya.
Tak cukup sampai di situ, ia melihat tiga orang aneh lain yang menatapnya dengan penuh rasa curiga. Mereka berdandan bak prajurit hebat, ditambah terdapat luka lebam dan goresan di sekujur tubuhnya layaknya baru saja kembali dari perang. Keadaan mereka mungkin tak jauh beda dengan dirinya ditambah tangan dan kaki juga terikat oleh rantai besi. Tapi, gerangan apa yang membuat mereka masuk ke penjara sama seperti Zarkan. Sepertinya Zarkan masih belum bisa memikirkan terlalu jauh karena yang ada di benak kepalanya adalah bagaimana kembali ke planetnya dengan selamat.
Zarkan sudah kembali pulih walau belum sepenuhnya karena kepalanya masih sedikit sakit. Ia duduk bersandar sisi ujung belakang penjara tersebut, menatap keheranan tiga orang misterius itu yang terus berbisik satu sama lain yang berada di pojokan depan. Mereka seperti baru pertama kali melihat mahluk aneh di dalam hidupnya. Zarkan sendiri tentu sangat was - was mengingat ia orang asing yang terdampar di planet antah - berantah, di mana dia akan dicap orang asing yang mungkin berbahaya dan perlu secepatnya ditangkap. Mau tak mau ia pun harus beradaptasi dengan keadaan sekitar dan tak membuat heboh ataupun memancing perhatian yang lainnya. Beberapa saat kemudian salah satu dari mereka yang mata kirinya tertutup oleh kain coklat, rambutnya yang urakan, berbeda dengan para prajurit di luar yang diikat di atas kepala. Lalu tangan dan kaki yang seolah seperti di perban karena luka, dan memakai jubah kain berwarna biru yang terdapat robekan di sisi bawahnya.
Orang asing itu pun memberanikan diri dan bertanya kepada Zarkan pada saat itu juga, "Hai anak muda, tenang kamu tak perlu takut dengan kami. Kamu tidak apa - apa kan?"
Setelah mengetahui maksud dari orang asing itu, rasa was - was dari dalam dirinya sedikit demi sedikit mulai menghilang. Firasatnya mengatakan mereka bukan orang jahat seperti yang ia kira sebelumnya.
"Aaaa..kku tidak apa - apa, hanya sedikit sakit di kepala tapi aku yakin sesaat lagi pasti akan menghilang. Terima kasih sudah bertanya pak eee..."
"Oh baguslah, panggil saja aku Rogo, sedangkan wanita kekar itu Srikandi, kemampuan memanahnya memang hebat seperti Srikandi. Nah yang badannya tinggi dan kekar dengan kuncung bagian atas belakang kepalanya itu namanya Bima. Dan kalau boleh kami tahu siapakah nama mu, anak muda?"
"Nama ku Zarkan..."
Baru menjawab namanya, baik Rogo, Bima dan Srikandi langsung saling menatap satu sama lain, seperti merasa ada yang janggal akan hal tersebut.
"Zarkan?? Nama macam apa itu, seumur - umur aku belum pernah menemui orang dengan nama aneh seperti itu di pulau ini," Bima tersenyum kecut.
"Kamu bukan berasal dari sini ya sepertinya?" Rogo menambahkan.
"Aku yakin anak ini pasti dari dunia siluman, dunia mereka memang aneh, suka menyamar jadi manusia dengan penampilan yang pula," Srikandi menimpali mereka.
"Oh.. ayolah jangan bawa - bawa siluman lagi Srikandi," Rogo merasa risih akan ucapan Srikandi.
Srikandi hanya membalasnya dengan membuang muka ke samping sementara Bima kembali menanyakan suatu hal kepadanya.
"Jadi Serakan kenapa kamu bisa berada di sini, apakah kamu ikut memberontak juga?"
Mendengar hal itu sebenarnya ingin sekali Zarkan meluapkan rasa kesalnya namun karena ia tahu kali ini ia berhadapan dengan orang tak dikenal yang mungkin jauh lebih hebat dari dirinya, maka ia pun menjelaskan dengan penuh kesabaran.
"Eee...namaku Zarkan, dan aku memang berasal dari luar tempat ini. Tempat yang sangat jauh lebih tepatnya. Dan aku tak tahu dengan apa yang kalian maksud dengan pemberontakan itu."
"Sudah kuduga sebelumnya, pantas saja kamu seperti dari daerah sini, bahkan aku belum pernah menemukan orang berpakaian seperti kamu dari luar pulau sana."
Pernyataan Zarkan benar - benar membuat rasa penasaran mereka meningkat, salah satunya adalah Rogo. Pakaian yang dikenakan Zarkan benar - benar memanjakan mata, ia seperti belum pernah melihat setelan atas dan bawah menyatu seperti itu. Sedangkan Srikandi masih nampak tak peduli dengan orang aneh itu.
"Nah benarkan, dia bukan dari dunia siluman. Jadi kau benar - benar belum pernah berada di sini ya. Pantas saja kamu ditangkap, pihak kerajaan mungkin menganggap kamu orang asing yang berbahaya apalagi di masa - masa seperti ini," Rogo menerangkan.
"Masa - masa seperti ini?" Revalda terlihat bingung.
"Kamu bertanya soal pemberontakan kan? Kamu sedang tidak beruntung, di daerah ini sedang terjadi pemberontakan antara sebagian kerajaan - kerajaan kecil melawan kerajaan - kerajaan penindas. Kami adalah perwakilan panglima perang terkuat dari kerajaan kami, yaitu kerajaan ku, Watu Gajah, kerajaannya Rogo, Sukma Wijaya, dan kerajaannya Srikandi, Dewi Rahayu," jelas Bima sambil menatap telapak tangannya yang berlumur darah kering.
"Jadi kalian semua ditangkap karena melawan para kerajaan - kerajaan penindas itu?" Revalda merasa tak percaya.
"Lebih tepatnya kami ditangkap karena kalah perang melawan mereka, para pasukan kerajaan Rawana Durja yang menguasai beberapa kerajaan di pulau ini dengan kejam dan tak kenal ampun. Pasukan mereka yang sulit mati karena ajian ilmu sakti benar - benar menyulitkan padukan kami," Rogo meluapkan kekesalannya.
Zarkan tiba - tiba diam termenung, ia teringat para prajurit pemberontak di kerajaanya yang pernah mengalami hal yang sama yaitu menjadi eksperimen prajurit super di mana benar - benar menyulitkan para prajurit kerajaan menggagalkan kudeta tersebut dan untung saja bisa ditangani. Karena ia merasa asing di planet antah berantah itu, kini ia tak tahu mau dibawa kemana dia dan ketiga orang lainnya.
"Begitu rupanya, lalu jika boleh tahu, kita ini akan dibawa ke mana?"
Pertanyaan menjengkelkan itu sepertinya ditanggapi sinis oleh Srikandi, entah kenapa yang tadinya diam menjadi tertarik untuk terlibat.
"Tentu saja bukan ke Rawana Durja tapi ke pusat dari kerajaan Triwulan yang berada di benteng Jatayu, merepotkan saja sih."
"Kalau begitu maaf jika aku benar - benar menyusahkan kalian."
Interaksi di antara keduanya mengundang perhatian Rogo yang walau terlihat gagah dan hebat namun memang suka bercanda.
"Sudah gak perlu dipikirkan, dia memang ngambek karena pernah ditolak cintanya sama pria asing, hihihihi."
Bukannya menjadi tenang, ucapan Rogo sebenarnya malah membuat Srikandi malah naik pitam pasalnya bukan hal tersebut yang menjadi perhatiannya. Namun sebisa mungkin ia menahan amarahnya karena jika kegaduhan terjadi bukan tak mungkin mereka semua langsung dieksekusi mati.
"Tutup mulutmu Rogo, jika ada panah akan kuhunus benda itu ke dada mu," Srikandi menatap Rogo dengan penuh amarah.
"Wiiii seremm, jangan ngambek dong, entar jadi gak cantik lagi hihihi," Rogo hanya membalas dengan sindiran.
"Bukan itu yang membuat ku jengkel, akan ku jelaskan kepada mu kenapa aku muram dari tadi. Jika kamu tahu kerajaan Triwulan adalah kerajaan terbesar selain Rawana Durja. Namun sayang mereka terlalu pengecut sehingga harus tunduk kepada raja dari kerajaan Rawana Durja itu. Padahal mereka punya pasukan besar yang dijumlahkan setara dengan pasukan kerajaan kami jika digabung," Srikandi meremas - remas tangannya.
"Jadi maksud mu mereka juga tunduk begitu?" tanya Zarkan.
"Lebih tepatnya kalah dengan mudah, mereka kalah dengan serangan bisu atau serangan diam - diam. Ketika malam hari saat penjagaan lengah, prajurit terbaik Rawana Durja berhasil menyelinap ke pusat kerajaan itu, melumpuhkan penjagaan strategis di tempat itu. Lalu raja Rawana Durja tiba - tiba muncul dan mengancam raja Wibisana, raja dari kerajaan Triwulan. Ia lalu memberikan kesempatan hidup dengan syarat sang putri mahkota harus menikahinya. Sang putri yang tak tega tentu terpaksa siap melakukan apapun demi ayahnya. Sedangkan adiknya hanya diam ketakutan dan tak berkutik melihat mayat ibunya yang terbujur kaku setelah dibunuh duluan," sahut Bima dengan muka yang lebih serius dari sebelumnya.
"Hmm aku tak tahu kekalahanya setragis itu," Zarkan lalu diam membisu, dalam hati Ia juga merasa iba dengan tragedi itu karena mengingatkan pada masa lalunya.
Tak terasa perjalanan sudah semakin dekat, Rogo memberi kode bahwa benteng besar itu sudah di depan mata.
"Hei kalian, sepertinya kita hampir sampai. Bentengnya masih terlihat besar dan bagus rupanya," Rogo terpukau akan kemegahan benteng Jatayu.
"Tentu saja, benteng terkuat yang pernah ada. Sayang, bisa dilumpuhkan dalam waktu singkat," Bima menatap tajam benteng itu.
Kalau dilihat - lihat, benteng itu memang terlihat kuat, megah dan indah. Lebarnya membentang panjang dari timur ke barat. Tingginya setara pohon cemara yang sudah tumbuh besar. Terbuat dari material yang sama untuk membuat candi pada umumnya, sehingga membuatnya kokoh. Tak cukup sampai di situ bagian pintu besinya lalu sekitar dindingnya terlihat ukiran motif sayap yang melambangkan Jatayu, hewan legendaris yang indah tapi juga sakti mandraguna. Mungkin itu alasannya kenapa diberi nama Jatayu karena benteng tersebut tak ingin dikenal hanya sebatas luarnya yang cantik namun juga kuat dari dalamnya.
Perjalanan mereka akhirnya berakhir di depan gerbang benteng kerajaan Triwulan itu. Pria gagah yang berada paling depan kemudian menuruni kudanya, lalu mengetuk ke salah satu bagian pintu yang berbentuk persegi panjang. Suaranya menggema, sepertinya pintu itupun terbuat dari besi yang bagus. Setelah mendengar ketukan itu, sontak prajurit penjaga menggeser bagian yang berbentuk persegi panjang tersebut, sebuah pemandangan sempit di depan pintu terlihat jelas. Prajurit itu tiba - tiba terperangah karena yang ia lihat adalah sang penerus tahta raja yang baru saja pulang dari tugasnya yaitu mengawal para tahanan pemberontak yang sehari sebelumnya melakukan perlawanan.
"Bisa tolong bukakan gerbang ini!!" perintah sang pangeran.
"Siapp pangeran!!!" prajurit itu menjawab dengan tegas.
Pintu gerbang itu dibuka oleh para prajurit dari dalam, di saat yang sama suara trompet yang sangat keras menggema ke seluruh penjuru kerajaan termasuk mereka para warga biasa yang sedang melakukan aktifitasnya dan juga yang berada di istana yang tak lain dan tak bukan adalah putri raja, Kahiyang bersama ayahanda tercintanya itu.
"Pangeran telah tiba!!! Semuanya segera bersiap di posisi masing - masing," perintah salah satu prajurit yang merupakan pemimpin dari satuan prajurit penjaga benteng.
Seketika para prajurit yang menggunakan baju zirah bersenjatakan tombak dan tameng itu berlalu lalang dengan cepat, berbaris dan berjejer rapi, memberikan jalanan lebar dan lapang buat sang pangeran nanti. Mereka semua dalam posisi siap siaga demi kelancaran dan kenyamanan dari putra penerus kerajaan itu.
Sang pangeran telah kembali ke kudanya, bersiap melangkah masuk menuju istana indahnya itu. Di temani Dwipa yang merupakan prajurit yang membawahi satuan prajurit penjaga benteng tersebut mereka berjalan pelan dan mulai memasuki benteng itu. Seperti biasa sang pangeran terksima dengan prajurit - prajuritnya yang selalu sigap ketika ia datang. Tak hanya itu, ia juga bangga para prajuritnya yang telah menerima latihan fisik yang berat itu telah menjadi prajurit tangguh yang tak hanya sekedar mengandalkan penampilan fisik semata. Ia melihat satu persatu prajuritnya saling berdiri tegap dan menundukkan kepalanya ketika ia lewat, tanda bahwa mereka masih menaruh hormat kepadanya.
Zarkan dan para tahanan lain sepertinya tak mau banyak tingkah di benteng tersebut. Tak seperti sebelumnya, mereka cukup kalem untuk kali ini. Mungkin karena tak ingin menimbulkan gerak - gerik yang mencurigakan. Kereta penjara mereka naiki terus berjalan lurus ke depan hingga bertemu satu pintu gerbang lagi yang tak sebesar yang berada di depan. Kedua penjaga yang berada di gerbang itu dengan tanggap membuka pintu gerbang itu. Dan kini para tahanan yang berada di kereta penjara malah terperangah lalu terpukau akan apa yang mereka lihat. Sebuah pemandangan indah perkotaan, perumahan penduduk serta istana besar dari kerajaan Triwulan hadir di depan mata mereka. Pada saat itu warga yang sempat melakukan aktifitasnya seperti berdagang, membeli barang, bercengkrama menjadi berhenti seketika ketika sang pangeran tiba. Mereka berlutut, menghormati sang pangeran yang rupawan dan gagah perkasa. Di kota itu terdapat sebuah kolam ikan luas berbentuk segi empat dengan patung jatayu di tengahnya. Beberapa bangunan tertentu seperti candi atau patung arca lainnya dibuat menggunakan batu andesit sementara rumah penduduk dibuat dengan rangkaian pondasi kayu yang digabung dengan semacam batuan batu bata merah serta atap yang ditutupi genteng tanah liat. Terdapat taman luas yang indah gapura megah di sisi timur dan sisi barat terdapat semacam bangunan luas untuk tempat latihan para prajurit.
Sementara itu entah kenapa mereka pergi lurus ke depan, ke arah istana besar dengan relief kisah awal berdirinya kerajaan tersebut beserta raja kerajaan Triwulan dari masa ke masa tertempel di dinding pembatas istana itu. Gerbang dilapisi emas yang mengkilap sudah mulai nampak tapi sekali lagi mereka dibuat bingung oleh arah perjalanan yang dipimpin oleh sang pangeran itu. Bagaimana tidak, ketika hampir sampai di depan istana mereka malah berbelok ke arah kanan, melalui jalan besar dari sebelumnya yang terbuat dari batu andesit. Melihat hal ini dengan sekejap Bima mendapat firasat buruk, ia yakin ada yang tak beres dengan hal ini. Dan akhirnya ia teringat sesuatu hal yang mungkin bisa mengancam jiwa mereka para tahanan kerajaan Triwulan itu.
"Oh tidak!!" kata Bima.
"Apa maksudmu Bima?" Rogo bingung.
"Aku merasa kita semua akan mati setelah ini," ujar Bima dengan nada sedikit ketakutan.
"Tapi bagaimana bisa, kita tak tahu kita akan dibawa ke mana bukan?" Rogo tak yakin akan ucapan Bima.
"Sebaiknya kalian perlu tahu bahwa di kerajaan ini para penduduknya mempunyai kebiasaan yang unik yaitu menonton atraksi pertarungan sengit para ksatria baik dari dalam kerajaan atau luar kerajaan," Bima berusaha meyakinkan lainnya.
Zarkan yang terkejut akan perkataan Bima menjadi khawatir akan masa depan hidupnya. Bahkan ia tak yakin bisa kembali ke planetnya dengan selamat.
"Maksudmu kita akan saling bertarung begitu?" Zarkan mencoba mengurangi rasa penasarannya.
"Tidak!!! Kita akan bertarung dengan ksatria dari kerajaan Rawana Durja yang terkenal kuat mengingat kerajaan ini sudah dikuasai oleh mereka. Mata - mata kerajaan ku pernah bilang kalau ksatria itu bertubuh tinggi, besar dan kuat. Kalau salah satu dari kita bisa mengalahkannya maka kita bisa diberi ampunan, namun jika tidak..." Bima terdiam sesaat.
"Kita semua akan mati bukan!!!" Srikandi tiba - tiba menjawab dengan nada serius.
Keadaan tiba - tiba menjadi hening seketika, mereka akan meratapi nasib mereka di arena pertarungan nanti. Belum lagi kondisi mereka yang masih kelelahan. Hidup ataupun mati kini berada ditangan mereka sendiri.
Diubah oleh dodydrogba 17-03-2018 10:58
0
Kutip
Balas