- Beranda
- Stories from the Heart
Semesta Berkonspirasi: Sebuah Serpihan Kehidupan
...
TS
Blankon.djawa
Semesta Berkonspirasi: Sebuah Serpihan Kehidupan
Quote:
Quote:
Diubah oleh Blankon.djawa 10-02-2018 08:29
anasabila memberi reputasi
1
1.4K
12
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
Blankon.djawa
#6
Chapter 3: Separated Ways
“aku ingin kita udahan” hanya itu pesan Putri kirim kepadaku. Aku membalas apakah dia yakin ingin seperti ini dan Putri membalas dia sudah memikirkan ini dengan mantab.
“aku besok ke kostmu mengembalikan semua barang yang aku pinjam dari kamu” aku tidak tahu harus membalas apalagi, hanya aku baca dan aku melempar handphoneku ke kasur. Aku merebahkan diri ke kasur, mencoba untuk tidur saja namun tidak bisa. Aku terlalu gelisah. Aku masih memikirkan kejadian yang barusan, bagaimana mungkin hal seperti itu bisa terjadi? Apakah yang tadi ini nyata? Kepalaku sampai pusing membayangkannya.
“mungkin dia masih emosi, mungkin kalo aku menjelaskan baik-baik, dia mungkin masih mau kembali denganku” aku membalikkan badanku menghadap langit-langit kamarku, mencoba merangkai kata yang benar untuk menjelaskan apa yang terjadi.
“aku harus bilang apa?” aku tidak bisa menemukan kata-kata yang tepat.
Aku memandang kosong langit-langit kamarku. Aku tidak mengerti apa yang ada di pikiran Putri sampai dia mengatakan hal tadi. Apakah memang aku terlalu sibuk? Aku sudah berusaha meluangkan waktuku di sela-sela kesibukanku. Namun, kenapa bisa seperti ini? Aku memang kadang tidak bisa memahami jalan pikiran Putri, ya itu umum sih perempuan susah dimengerti tapi apa ya segininya juga? Aku kembali membalikkan tubuhku, berusaha untuk tidur.
...
Matahari sudah terlihat bersinar terang dari balik gorden, aku hanya duduk di meja belajar menatap kosong ke arah tembok. sudah jam 9.30 pagi dan aku belum tidur semalaman. Aku beranjak ke kamar mandi, menyalakan kran shower dan aku biarkan air mengalir dari kepala ke kaki. Aku masih tidak tahu apa yang harus aku katakan kepada Putri nanti, akupun tidak bisa membayangkan apa yang terjadi nanti. Aku mematikan kran shower, memakai handuk dan menatap cermin di kamar mandi, ada kantung mata kecil di kedua mataku. Aku tidak menangis, munkin karena tidak tidur.
Aku mengenakan pakaianku, kemudian berbaring di kasur. Aku berusaha tetap terjaga, kalo aku ketiduran tidak lucu rasanya. Aku hanya bermain-main handphoneku walau hanya masuk ke menu, keluar lagi, buka menu lagi, keluar lagi. Putri chat bahwa dia sudah perjalanan ke kostku sekitar 20 menit yang lalu dan harusnya tidak lama lagi dia akan tiba.
Benar saja, ada seseorang yang mengetuk pintu kamarku, jika itu orang lain pasti ada suara Luki yang memberitahu siapa yang datang, namun kalau tidak ada suara siapa-siapa bisa dipastikan itu Putri. Aku bangun, berjalan menuju pintu, aku merai gagang pintu dengan ragu-ragu, aku tidak tahu bagaimana ekspresi muka Putri dibalik pintu ini, aku hanya terdiam memegang gagang pintu. Sekali lagi pintu diketuk, aku bulatkan tekatku dan membuka pintu kamarku.
Si gadis bersweater merah, membawah sebuah paper bag coklat cukup besar, berdiri di hadapanku, masih dengan senyum manisnya yang biasanya, seolah-olah tidak ada yang terjadi malam tadi. Aku mempersilahkan Putri masuk, dia menaruh paper bag di meja kemudian duduk di bawah dan akupun duduk dihadapannya. Tetap seperti biasanya, dia menceritakan hal unik yang dia temui selama perjalanan dari rumahnya sampai kostku.
Aku sampai merasa yang tadi malam itu jangan-jangan Cuma mimpi, tapi sepertinya nyata. Putri berdiri, mengambil paper bag yang ada di meja dan dia keluarkan satu-satu barang yang ada di dalamnya. Dua buah novel Jostein Gaarder, sebuah buku karya dosenku yang temanya seksologi jawa, sebuah wireless charger, tiga buah kaos dan barang-barang kecil lainnya yang memang dia pinjam. aku tidak melihat dia membawa barang yang aku berikan sebagai hadiah seperti jam tangan atau tas selempang yang biasa dia pakai itu, ada sedikit kelegaan di hati karena dia tetap menyimpan barang yang aku berikan. Aku benar-benar tidak mengerti apa yang terjadi.
“tadi malam itu.. kita benar-benar ketemu tidak sih?” Putri tersenyum kecil.
“ya beneran lah” aku semakin bingung, aku tidak mengerti harus berkata apa.
“jadi.. anu.. ini semua beneran?” Putri menatap mukaku yang sepertinya kebingungnan, dia mengangguk.
“kamu yakin? Kita masih bisa perbaiki beberapa hal. Jadi ya.. gitu.. kamu masih mau jalan sama aku?” dia berpikir sebentar, ada sedikit kebimbangan disitu dan aku berharap jawaban yang terbaik dari Putri.
“maaf. Aku sudah mantab dengan keputusanku” aku hanya terdiam. Jadi sudah selesai seperti ini ya, hanya itu yang terlintas di pikiranku.
“kamu belum makan kan? Makan dulu yuk, mau soto atau bubur ayam?” tanya Putri, aku hanya mengambil jaket dan mengambil kunci motor.
Rasanya aneh. Biasanya kami pergi berdua satu kendaraan entah naik motorku, motor dia atau mobilku. Namun berkendara naik motor sendiri-sendiri ini agak aneh menurutku. Kami tiba di warung soto, aku duduk duluan dan Putri duduk dihadapanku. Aneh rasanya karena biasanya kami duduk bersebelahan. Aku masih tidak mengerti ini nyata atau mimpi.
“jadi rasanya seperti ini ya?” tiba-tiba aku berbicara sendiri
“apa?”
“kita ini, sekarang Cuma temen. Kayaknya tidak ada yang berbeda tapi kok ada yang aneh” Putri hanya tersenyum kecil. Aku menatap matanya dan aku yakin ada sesuatu disana.
“aku juga tidak bisa membayangkan” hanya itu yang Putri ucapkan.
Kami selesai makan, aneh juga rasanya karena kami membayar sendiri-sendiri karena biasanya aku yang bayar. Aku tidak tahu apa yang akan aku lakukan setelah ini, tapi rasanya aku ingin belanja.
“kamu mau kemana habis ini?” tanya Putri.
“mungkin ke Ambarukmo Plaza” jawabku.
“sekalian bareng aja, aku mau belanja disana juga”
kami pun naik motor beriringan menuju Ambarukmo Plaza, masih dengan perasaan yang aneh. Kami masuk ke parkiran motor bawah tanah, aku memarkirkan motorku di dekat pintu masuk semetara putri sedikit masuk ke dalam yang agak sepi. Aku melihat sepertinya dia menungguku sehingga aku datang menghampirinya. Kini dia memiliki ekspresi seakan menahan sesuatu. Kami hanya saling menatap satu sama lain.
“jadi, sudah sampai disini saja?” Putri terdiam, lalu dia menunduk.
Tubuhnya bergetar perlahan, aku menatap kosong ke arahnya. Dia kembali menatapku, matanya memerah, kantung matanya membesar. Aku juga merasakan sesuatu ingin keluar dari mataku. Aku memajukan tanganku berusaha meraihnya, namun putri membalikkan badannya dan dia berlari menjauhiku. Aku hanya berdiri terdiam disitu, menyeka mataku dan berjalan perlahan menuju pintu masuk mall.
0
