Kaskus

Story

lemsboxAvatar border
TS
lemsbox
Aku, Dia, Dan Mereka (Horor , pengorbanan, Petualangan) INSPIRED BY TRUE STORY
Selamat malam semua. Perkenalkan aku Resa. Aku akan menceritakan sebuah kisah sederhana dari pengalaman hidup yang aku alami. Tak semuanya nyata karena ini terinspirasi dari kisahku sendiri. Mohon hargai semua aturan yang sudah dibuat. Aku tak akan bertele-tele menjabarkan.


Spoiler for Siapa aku?:

Spoiler for Daftar menu:
Diubah oleh lemsbox 11-02-2018 19:55
tabernacle69Avatar border
tabernacle69 memberi reputasi
-1
19.3K
104
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread52.9KAnggota
Tampilkan semua post
lemsboxAvatar border
TS
lemsbox
#57
Maaf gan telat banget updatenya. Kerja baru kelar



Bagian 8 : Kakek tua memang selalu membantu

Berdebar-debar jantungku, berdegup kencang seperti genderang mau perang. Sayangnya bukan sedang jatuh cinta atau ingin bercinta. Namun tak sabar menunggu adzan subuh berkumandang. Biar pagi menjelang dan hati kembali tenang. Mungkin seperti itulah cara menggambarkan perasaanku saat ini. Jika dipikir-pikir, sungguh merepotkan.

Jarum jam terus berlarian saling kejar, tak pernah lelah berputar dan tak tau kemana mereka akan terhenti. Ya, jarum jam itu melesat pasti meninggalkan angka 12.00. Aku masih membuka mataku selebar cakrawala. Menjadikan tv sebagai sumber keramaian biar aku tak merasa sepi menyendiri. Namun apa daya, aku seorang manusia yang kepayahan. Apalagi otakku sudah terlebih dulu lelah memikirkan hal mistis. Perlahan namun pasti, sorot mata mulai meredup. Hembusan kipas angin yang terus beputar, nyamannya tikar yang tergelar di depan tv, serta bantal sederhana ber-segi entahlah, kian merayuku untuk terlelap. Tidurlah wahai kau anak manusia..... pejamkan matamu.... masuklah ke dalam alam mimpimu.... biarkan damainya malam memelukmu bersama mimpi....

Was... wes.... wos...
Haha.... haha.... haha....
Tess... tess..... byuuurrr.....!!

Hahhhh..........?! Hosh... hosh... hosh....!! Astaga... aku mendengar lagi banyak suara orang berbicara, orang tertawa, air menetes! Mataku terbelatak lebar lagi seakan bola mata ini siap dicongkel keluar. Keringat dingin mengalir perlahan dari dahiku. Aku trauma dengan suara semacam itu, terlebih setelah mendengar ucapan kakek tua itu. Aku takut jika tiba-tiba rohku dibawa ke alam yang berbeda lagi. Ya Tuhan, aku harus berbuat apa lagi? Kepalaku berputar 90 derajat, mencari-cari sesuatu dalam kegelapan rumahku.

"Andi, dimana kamu? Tolong jaga aku biar aku tenang. Datanglah kemari, kamu adalah temanku." Entah mendapat intuisi dari mana, aku berbisik memanggil Andi. Padahal aku tak tau dimana dia sekarang.

Aku masih terduduk diatas tikar. Mataku mengawasi setiap sudut ruangan. Aku tetap waspada terhadap segala kemungkinan yang akan terjadi.

Tap... tap.... tap... tiba-tiba kudengar suara derap langkah dari arah warung depan. Tap.... tap.... tap.... benar itu suara langkah kaki! Tapi kaki siapa yang melangkah di dalam rumahku?? Tap.... tap.... tap.... langkahnya seolah berputar-putar di satu tempat! Ketakutanku kini muncul, aku tak tau apa yang akan terjadi setelah ini! Langsung kuselimuti seluruh tubuhku dari ujung hingga ujung.

Dugdugdug... dugdugdug...!! Astaga.... kini dia seolah berlarian!!
Dugggduggdug...........!! Hahahahahaha...!! Aku harus berbuat apa???? Aku takut dan aku sangat ketakutan!! Suara tawanya nyata terdengar! Nyaring dan keras!!!

Blaaak.... astaga itu suara pintu penghubung ruang tamu dan ruang depan yang tidak terkunci seperti terbuka!!! Wuus... wuss..... wuss...... ada hembusan angin yang masuk menyusup selimut yang menutupi tubuhku! Angin darimana ini?! Blaaak... blaaak.... jebreeet....!! Ya Tuhan!! Hampir saja reflekku ingin membuka selimutnya karena kaget mendengar suara benturan pintu yang keras!!

Hahahaha...... hahahaha..... hahahaha.....!! Suara tawa itu lagi! Suaranya begitu keras dan lantang! Menggema ke seluruh ruangan! Tapi kenapa orang-orang dirumahku tak ada yang bangun?! Apa telinga mereka tak mendengar?? Aku tak berani bergerak sedikitpun, aku tak berani membuka selimutku, aku tak berani menjadi pemberani!

Dugdug.. dugdug.. dugdug... dugdug.... suara langkah kaki lagi!!

1 menit...............
2 menit...............
3 menit...............
4 menit...............
5 menit...............

Semua kembali hening, semua kembali sunyi. Apakah dia sudah pergi? Tak ada suara apapun lagi. Mungkinkah dia sudah pergi. Tolong, siapapun beritahu aku jika dia sudah pergi! Benar..... nampaknya dia sudah pergi menghilang. Tak ada suara apapun lagi. Aku sudah tak tahan seperti ini terus. Panas, pengap, nafasku juga susah diatur! Bismillah, lebih baik kubuka saja selimut yang menutupi wajahku. 1..... 2.... 3......
Sreet....

Waaaaaa...... haha.... haha..... haha.... hahahahahaha.....!!

"HUWAAAAA..... TOLONG!!!!!!!!!!!!"

Blaaak....!!

"Resa.. Resa....! Kamu kenapa nak?? Kamu mimpi buruk lagi?? Hei.... hei.... ini ibu sama bapak...... sadar.. sadar.. jangan takut lagi.

Hah... hah.... hah.... hah.........

"Nak ini ibu nak..... kamu mimpi apa sampai triak kenceng kayak gitu? Ibu ambilin minum dulu yah, biar bapak jagain kamu. Udah gak usah takut. Ada bapak, bude, sama adek disini, lepasin dulu tangan ibu. Ibu mau ambilin minum buat kamu."

"Jangan pergi!!! Jangan ada yang pergi dari sini!! Nanti aku mati dibunuh jin-jin jahat itu! Hah.... hah.... hah.... hah......"

"Iya iya... ibu, bapak, adek, sama bude gak ada yang pergi. Semua disini jagain kamu yah. Tapi kamu harus tenang, jangan triak-triak lagi. Gak ada yang mau bunuh kamu kok."

"Ada!! Kata Andi ada banyak yang mengincar nyawaku!!"

"Istigfar nak, istigfar.... Andi udah lama meninggal. Dia nggak akan kembali lagi."

"Tadi aku bicara sama Andi diatas!! Jangan lepasin tanganku bu! Jangan ada yang tidur! Jagain aku jangan sampai dibunuh mereka!"

"Iya Resa iya. Ini bapak sama yang lain jagain kamu nak. Udah itu tangan kamu jangan kenceng-kenceng. Kasian tangan ibumu udah merah tuh. Sekarang kamu gak usah takut. Semuanya nemenin, dan jagain kamu kok."

"Hah???" Aku baru menyadari jika tanganku mencengkrang erat lengan ibuku sampai memerah. Langsung kulepaskan tangan ibu.

Keluargaku kini duduk mengitariku. Mereka memperhatikanku yang masih dalam kepanikan dan ketakutan. Aku seperti orang linglung yang kebingungan melihat manusia. Lampu memang sudah dinyalakan adiku. Tapi aku tetap merasa tak tenang. Aku masih mengingat jelas apa yang barusaja kulihat! Mungkin sampai matipun aku tak akan melupakannya.

"Nak jangan ngelamun nak. Ibu boleh ambilin kamu minum?" Kata ibuku mengagetkan lamunanku.

"Hah..??" Sahutku karena kaget lalu kuanggukan kepala.

"Dek ambilin handuk, masmu kringetan nih!" Perintah ayahku.

"Kamu tadi mimpi apa sa? Kok sampai triak kenceng banget gitu? Tetangga pada denger loh." Kata ayahku dan kujawab dengan menggelengkan kepala sambil melamun.

Took...........
Took...........
Took...........

"Nah kan? Itu tetangga pasti denger suara kamu sa. Bentar bapak bukain pintunya dulu sambil minta maaf."

"Jangan pak...! Jangan dibukain! Itu pasti jin yang mau bunuh aku! Bapak sama yang lain tetap disini! Ibu mana pak, Buuu..... ibu cepet kesini! Dia datang lagi bu!" Aku mencegah ayahku yang berniat membukakan pintu dan berteriak memanggil ibuku.

Dug.... dug... dug....

"Ada apa nak, iya ini ibu dateng." Ibuku berlari tergopoh sambil membawa teh hangat untukku.

"Ini loh, Resa takut dikira orang yang ketuk-ketuk itu setan. Itu bu rom loh sa. Kamu gak denger suaranya?"

Tok...
Tok...
Tok...

"Mbak rin.... mbak rin...?"

Hah.... siapa yang sebenarnya mengigau? Aku atau ayahku? Ternyata sedari tadi bu Romlah tetangga belakang rumahku mengetuk pintu sambil memanggil nama ibuku terus menerus. Apa hanya aku saja yang mendengar 3x ketukan dan tak ada suara apapun???

"Udah kamu minum dulu. Bapak cuma bukain pintu bentar kok, ini ditemenin ibu yah." Kata ayahku.

Akhirnya aku melepaskan tangan ayahku.

"Ni diminum dulu nak tehnya." Kata ibuku sambil menyodorkan gelas.

Aku mengambil gelas tanpa melihat ibuku. Mataku terlalu sibuk mengawasi pintu penghubung ke warung karena takut yang bersama ayahku bukan manusia. Gleek... gleek.... gleek....

"HAAAAA......????????"

Pyaaaar.....!! Darah yang ada di gelas mengalir dari gelas yang kulempar!

Dap... dap... dap.... dap....

"Ada apa dek????"

"Resa kenapa itu mbak?"

"Astagfirulloh.. aku juga kaget mas. Resa minum teh langsung triak lalu gelasnya dilempar ke lantai. Bentar tak ambil lap dulu."

"Nak... kamu ke...?"

"JANGAN MENDEKAT!! Kalian kan yang bikin aku gini?! Ibu bilang bikin teh untukku? Itu darah bu!! Coba kalian lihat semua!" Sudah gila semua orang di rumah!

Mata meereka langsung tertuju pada gelas yang ku lempar, dan.....

"Ya Tuhan dek! Darah siapa ini? Kenapa bisa ada darah disini??" Tanya ayahku keheranan

Semua orang disini menyaksikan bahwa aku tidak sedang halusinasi. Mereka juga melihat ada darah kental yang memenuhi lantai!

"Sumpah mas, aku tadi bikin teh. Mana mungkin aku ngasih minum darah ke anak sendiri?!" Kata ibuku panik.

"La terus ini darah siapa mbak?" Selidik bu Romlah.

"Aku nggak tau mbak rom. Pas tak bawa kesini ya masih teh. Tanya tuh Nuna sama mbak har. Mereka juga liat Resa megang gelas teh." Kata ibuku yang masih panik sambil menunjuk ke arah bude dan adikku lalu disambut anggukan mereka membenarkan perkataan ibuku.

Suasana pagi yang sangat mencekam. Aku tak tau siapa yang bersandiwara disini. Yang jelas aku adalah korban. Semua orang yang ada dirumah kian panik. Mereka masih berdebat soal darah itu. Bude dan adikku akhirnya membersihkan darah yang tumpah sambil memungut pecahan gelas yang berserakan. Aku? Aku sendiri tetap meringkuk di samping lemari televisi. Mencoba berlindung dan tak ingin ada orang yang mendekatiku. Suasana makin tenang setelah tak ada lagi yang terjadi. Kini seolah terjadi dua kubu yang berbeda dimana aku tetap sendiri, sedang keluargaku dan bu rom sibuk berbisik ria. Entah apa yang mereka katakan, mungkin sedang mencari cara untuk membunuhku. Aku tetap mengawasi mereka yang bercakap di ruang makan.

Kuperhatikan dengan seksama bu rom. Dia terlihat berbeda dari biasanya. Bukan penampilannya namun gerak geriknya. Kulihat dia sering menggaruk kakinya, kadang punggungnya, kadang juga tangannya Teep............ listrik tiba-tiba padam. Ruangan gelap gulita. Aku semakin panik dan makin susah mengatur nafas!

"WAAAA...!! WAAAA....!" Aku berteriak histeris karena sudah tak tahan menghadapi semua ini!

"Resa!"

Jreeep... listrik menyala lagi. Keluargaku yang panik karna mendengar teriakan langsung mendatangiku setelah listriknya nyala.

"I..... i.... itu........!!" Kataku sambil menunjuk ke arah bu rom yang sedang ke arahku.

Ketakutanku memuncak. Aku harus pergi dari rumah ini secepatnya. Aku mencoba bangkit dari samping televisi.

Duaaaak......!! Cruuushhh....

"Aaaarrrrggghh......!" Aku mengeram kesakitan. Aku lupa jika tepat diatasku ada meja kaca tempat menaruh telepon rumah. Saat aku terburu bangkit untuk lari, aku tersandung kaki meja, hampir aku terjatuh namun langsung disambut siku yang menopang kaca dan malangnya ada 1 paku yang mencuat keluar dan menggores dahi kiri atasku.

Bruug....... aku kehilangan keseimbangan dan jatuh tersungkur ke tikar. Darah langsung mengucur deras lewat sobekan yang ada dikepalaku. Semua kian panik dan berteriak memanggil namaku berkali-kali. Aku langsung dibopok ayah dan anaknya bu rom. Aku tersenyum sinis sembari dipapah. Dalam hatiku berkata

"Inikah keberanian yang kau maksud ndi? Aku sudah melewatinya
itkgid
itkgid memberi reputasi
1
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.