Kami memilih pulang ke kampung kelahiranku, suatu kota kabupaten disulawesi tengah untuk menghabiskan waktu bersama sampai akhir waktu. Disini kami membangun rumah serta usaha bersama, usaha kafe serta rumah sarang walet.
Sumber foto : anonim
Bertahun-tahun kami hidup damai dan tenang, tak terasa usia kesayanganku raia sudah menginjak 9 tahun, sementara rayyan berusia 3 tahun.
Malam itu, cuaca malam kurang baik, mendung menghitam menyelimuti langit malam, hujan mulai rintik dan angin menderu dengan kencangnya disertai gemuruh guntur. Dan saya baru saja mengantar rayyan yang nginap dirumah iparku untuk malam ini.
Dukk, dukk dukkk...pintu rumah kami digedor keras..
Ainu pun terburu-buru melongok ke jendela melihat siapa yang menggedor pintu jam 10 malam.
Oh bapakk..
Ainu membuka pintu.
Beliau masuk ke rumah dengan berjalan gontai, mabuk berat.
Aii...ai..ainuu minta dulu uangmu, 3,5 juta saja!
Ayahnya ainu agak membentak meminta diberi duit.
Ayah ainu yang adalah ayah mertuaku datang tiba-tiba langsung meminta uang
Papa mabok lagii ini, uang untuk maen judi pa?!
Iyaa,.. papa sudah kalah tadi masih ngutang 3 juta! Sementara 5 nya (limaratusribu rupiah) buat tambah beli minuman (minuman alkohol)..
Tidak bisa pa! sudah waktunya berhenti, ingat papa sudah tua sudah punya 2 cucu lagi!
Tidak akan saya kasih pa, tidak akan! Ainu mencoba mengingatkan papanya..
Mendengar keributan saya langsung keluar dari ruang tengah untuk melihat apa yang terjadi...
Bang**ttt, tidak turuti mauku..beliau berteriak marah.
Bugghh, beggh, degg, krkkh.. .ayahnya ainu mnjadi kalap dan memukul serta menginjak.. .sampai darah mngucur dipipi serta tangan dan trdengar suara retak dipelipis mata ainu.
Ainu terkapar dilantai, sudah tidak karuan lagi..
Melihat itu saya emosi seperti hilang kendali diri, sebab orang yang saya kasihi diperlakukan lebih buruk dari bi****ng, ku ambil sebelah kiri sepatu high heels warisan ibunya ainu yang tersimpan dirak sepatu tak jauh dariku, dan..
Stukkk.. .sol highheels nya tepat kutancapkan di m*ta kanan dari sosok yang sebenarnya sangat saya sayangi dan hormati ini, sampai menembus ot*knya.
Dan beliau pun rubuh dan wafat seketika.
Saya langsung kaget dan cemas sekaligus emosi serta gelisah,
Aahhh.. .papaaa.. .tegaa kamu tega yah! ainu yang terbangun dari pingsannya langsung berteriak histeris, lalu mencakarku..
Aku yang masih dalam kondisi tak terkontrol malah melepaskan amarahku kepada ainu.. .menjadi gelap mata, kuhantamkan kepa**nya ke tembok berkali-kali, suara berderak kembali terdengar disertai dar*h yang mengucur dan memancar dibajuku. dan ainu luruh jatuh terkapar lagi.. .putriku raia, muncul tiba-tiba didekatku malah mengigit paha, kakiku. Dan kuambil tali bekas jemuran rusak yang rencananya akan kuperbaiki besok, lalu tali itu kupilin dan kuikat ke le*ernya dan talinya ku ikat di lampu, sampai kehilangan nafas.. .malam ini bak kesetanan saya menghabisi orang-orang yang sangat kucintai didunia hingga akhirat ini.
Sumber foto : anonim
Melihat semua ini saya gemetaran lalu mengambil minyak tanah dan membakar rumah indah kami rumah tempat kami berbagi suka duka sebagai keluarga yang utuh.
Lalu kuberlari seakan dikejar maut, hingga diatas bukit yang tak jauh dari rumahku, kuberhenti dan berdiri melihat rumahku dilalap api yang besar, menyala-nyala dan berpijar.
Kumenangis sejadi-jadinya, dan bertanya-tanya mengapa sifat emosiku tidak bisa terkendali
Malam itu menjadi malam yang tidak bisa terlupakan hingga akhir hayatku sekalipun.. .menjadi lelaki paling berd*sa, terk*tuk dan paling b***sat, dan kuhilang kesadaran(pingsan) saking sedihnya.
Esoknya, semua kejadian itu dianggap kecelakaan disertai perampokan. Ayah mertua yang tak jelas lagi jas*dnya dikira sebagai perampok. Berdasar alibi ternyata ayah mertua seharusnya malam itu berada diluar kota sebab tiga hari lalu meninggalkan kota ini, tetapi tidak tahu mengapa beliau balik kembali dikota ini malam itu, sehingga beliau dianggap dikeluar kota. Apalagi saksimata keberadaan beliau yaitu para teman ngumpulnya disaat kedatangan beliau hingga berjudi malam itu dalam keadaan mabuk, kesadaran mereka hilang jadi tidak bisa dijadikan saksi.
Seharusnya saya menyerahkan diri kepada pihak berwajib serta menjelaskan kejadiannya. tetapi karena mengingat saya telah menjadi orangtua tunggal dan satu-satunya keluarga terdekat bagi putraku rayyan yang masih berusia 3 tahun, maka saya berfikir untuk membesarkan rayyan sendiri dan membawanya ke kaltim. Mengingat ayahku telah pindah dari sulawesi tengah dan menetap dibalikpapan kaltim. Jadi setidaknya kami bisa berkumpul lagi dengan keluargaku.
Tiga tahun berselang saya menginjakkan kaki lagi disulawesi tengah disalahsatu kabupaten kotanya. Karena diserahi tanggungjawab untuk mewarisi dan tinggal dirumah warisan nenek buyutku. Sementara rayyan kutitipkan sementara dengan orangtuaku/kakek neneknya.
Begitulah ceritanya dri.. .saya menjelaskan permasalahan dan peristiwa 3 tahun lalu, dengan rasa sedih dan sesal yang mendalam..
Buugghh!..
Tendangan andri bersarang diwajahku, dan saya terlempar beberapa meter dan terjatuh, hingga hidungku patah serta gigiku copot beberapa biji. Terduduk dan berdarah-darah.
Kamu memang paling berd*sa, terk*tuk dan paling b***sat! Andri memakiku sepuasnya dengan emosinya.
Nak raia.. .ainuu.. .pantass saja kau dihantui al!
Tapi mau tidak mau rahasia ini harus disimpan demi rayyan..tapi suatu saat kau harus mengakuinya!
Andri terlihat sedih dalam murkanya.
Iya dri.. ...iyaaa...
sejak peristiwa itu hidupku tak tenang lagi.. .selalu dikejar perasaan dosa, bersalah, sedih dan takut