Kaskus

Story

juraganpengkiAvatar border
TS
juraganpengki
GW BERTEMAN DENGAN KOLONG WEWE (CHAPTER 3 / FINAL CHAPTER)
GW BERTEMAN DENGAN KOLONG WEWE (CHAPTER 3 / FINAL CHAPTER)

GW BERTEMAN DENGAN KOLONG WEWE (CHAPTER 3 / FINAL CHAPTER)
Cool Cover By Agan Linbara (Thanks, Bree)..

Prolog

Setelah bangun dari ‘Mati Suri’ karena memutuskan untuk mencoba membunuh diri sendiri untuk melindungi Kitab Langit dan melenyapkan Bayu Ambar, gw kembali ke dunia nyata.. Kehidupan gw sedikit jauh berbeda, karena pengalaman ‘Mati Suri’ itu berefek langsung pada kelebihan yang gw miliki.. Gw masih sama Anggie, meski ujian atas cinta kami masih saja mendera.. Ada musuh baru, tentu saja.. Tapi ada juga sahabat baru yang muncul.. Karena ini akhir dari cerita kami berempat..

Kembalinya Anak Ibu...
Pengorbanan Pedang Jagat Samudera...
Cintai Aku Sewajarnya, Yank...
Matinya Seorang Saudara (Versi Gw/Bimo)
Berkumpul Kembali...
Keanehan Yang Mulai Muncul...
Sambutan Ketiga Saudara Ke Reinata...
Sabar???
Cukup! Tinggalin Aku Sendiri!!!
Siapa Kau???
Aku Ikutin Kemauan Kamu...
Keputusan Sepihak Yang Pahit...
Semua Beban Menjadi satu
Semua Beban Menjadi Satu (2)...
Serangkum Rindu Untuk Ayah...
Munculnya Penguasa Laut Utara...
Bertemunya Dua Penguasa...
Sebuah Kesepakatan...
Ibu Kenapa Yah???
Lu Kenapa, Ka???
Wanted Dead Or Alive.. ANTON!!!
Mo 'Perabotan' Lu Hancur Apa Tanggung Jawab???
It's The End Of Us...
Di Kerjain Ibu...
Ridho!!!
Kelewatan!!!
Munculnya Dua Penjaga Gerbang Kerajaan Laut...
Dewi Arum Kesuma VS Dewi Ayu Anjani
Datangnya Sosok Seorang Pemisah Dan Shock Therapy Buat Gw...
Kerajaan Jin...
Terkuaknya Semua Jawaban...
Maafin Gw, Bree...
Pengakuan Suluh...
Akhirnya Boleh Gondrong...
Pernikahan Kak Silvi Yang Seharusnya Membuat Gw Bahagia...
Pernikahan Kak Silvi Yang seharusnya Membuat Gw Bahagia (2)...
Tunggu Pembalasan Gw!!!...
Ni Mas Linduri dan Banas Ireng...
Dua Sosok Penyelamat Misterius...
Ada Apa Sama Ridho?...
Kesalahan Fatal...
Kembalinya Jin Penjaga Ridho dan Suluh...
Akibat Terlalu Ikut Campur...
Setiap Perbuatan Akan Mendapat Balasan...
Munculnya Viny Dan Sebuah Tantangan Bertarung...
Manusia Cabul...
Suara Penolong Misterius...
Bertemunya Kembali Sepasang Kekasih...
Terkuaknya Kebenaran...
Kabar Baik Ayu Dan Prasangka Sekar...
Kabar Baik Ayu Dan Prasangka Sekar (2)...
Jaket Dan Celana Jeans Robek Serta Sweater Hitam Kumal...
She's My True Love...
Dilema...
Pertengkaran Dengan Ibu...
Rambe Lantak...
Gendewa Panah Pramesti...
Akan Ku Balaskan Dendam Mu, Arum Kesuma!!!
Yang Hilang dan Yang Kembali...
Jawaban Ayu...
Mati Gw!!!
Aku Makin Sayang...
Nasihat Om Hendra...
Jera Mencuri...
Ajian Segoro Geni...
Pilihan Sulit...
Keputusasaan Anggie...
Kabar Baik dari Ridho dan Suluh...
Perjalanan Menuju Pembalasan Dendam...
Rawa Rontek...
Rawa Rontek 2 (Terbayarnya Dendam)...
Kedatangan Pak Sugi...
Orang Titipan...
Hukuman Paling Berat...
Tidurlah Di Pangkuan Ku...
Menjajal Kesaktian...
Menjajal Kesaktian (2)...
Pengakuan Mengejutkan Babeh Misar...
Pengajaran Ilmu Silat Betawi...
Di Kepret Babeh Misar Lagi...
Tasya...
Naga Caglak dan Bajing Item...
Misteri Sebuah Dendam...
Kekuatan Sejati Kitab Langit Bagian Matahari...
Perpisahan...
Tanah, Air, Api dan Setetes Darah dari Jantung Seorang Putera...
Tanah, Air, Api dan Setetes Darah dari Jantung Seorang Putera (2)...
Kembalinya Ibu...
Empat Bayangan Hitam...
Siapa Ni Mas Laras Rangkuti???
Dendam Seorang Sahabat...
Ini Keputusan Yang Harus Gw Ambil...
Semua Pengorbanan Ini Demi Ibu...
Rapuh...
Kabar Mengejutkan Sekar dan Sebuah Restu...
Siasat Braja Krama...
Munculnya Kitab Langit...
Si Pembuka Kitab langit dan Sosok Asli Pak Sugi...
Rencana Yang Matang...
Lamaran Pribadi...
Keingintahuan Anggie...
Perubahan Rencana...
Hampir Terjebak...
Kekecewaan Sekar...
Dua Syarat Reinata...
Aku Harap Kamu dan Anggie Bahagia, Mam...
Rahasia Sepasang Suami Isteri...
Menitipkan Amanah...
Berkumpulnya Para Pembela Kitab Langit...
Siasat Ki Purwagalih...
Raja Jin Raja Muslihat (Nyesek, Bree)...
Pertukaran Tawanan...
Perang Gaib PunTak Terelakkan...
Sang Penyelamat Dari Utara...
Pertempuran Awal Dua Penguasa Kerajaan Gaib...
Bertekuk Lututnya Sekutu Braja Krama...
Pertarungan Dua Putera (Gugurnya Satu Sahabat Gaib)...
Krama Raja...
Braja Krama Versus Krama Raja...
Raja Licik...
Aku Lah Sang Pembuka...
Siasat Krama Raja dan Bayu Ambar...
Terbukanya Semua Ilmu Terlarang...
Sebuah Pengecualian...
Sri Baduga Maharaja...
Hilangnya Sebuah Pengecualian...
Hilangnya Sebuah Pengecualian (2)...
Sebuah Pengorbanan...
Pahlawan...
Sumpah...
Ilmu Pamungkas yang Terlarang...
Kabar Yang Mengejutkan...
Pulang...
Pulang (2)...
Sedikit Kisah Rio Sebelum Kisah Ini Tamat...
Terhalang Sumpah...
Bantuan Sahabat Baik...
Bachelor Party...
Keturunan Lain Sang Prabu...
Pembalasan Dendam Singgih...
Sepenggal Kisah Nyi Mas Roro Suwastri...
Tawaran Yang Mengejutkan...
Lawan Atau Kawan???
Terkuaknya Silsilah...
Sebuah Kebenaran...
Sebuah Kebenaran (2)...
Bertemunya Dua Keturunan Sang Prabu...
Pertempuran Dua Hati...
Cinta Pertama VS Cinta Terakhir Jagat Tirta...
Pengakuan Bayu Barata...
Ki Larang dan Nyi Mas Galuh Pandita???
Prana Kusuma...
Kau Benar Keturunan Kami, Ngger...
Our Big Day...
Insiden...
Munculnya Para Tamu Tak Terduga...
Munculnya Para Tamu Tak Terduga (2)...
Dua Tamu Istimewa...
Semua Karena Cinta...
Keputusan Sekar Kencana...
Kena Gampar...
Bonyok!!!
RIBET!!!
Berdamai...
Keponakan Baru...
Malam Pertama dan Tiga Keanehan...
Ajian Warisan Para Leluhur (The Last Part/End Of All Chapters)

SIDE STORIES

Keturunan Yang Tersesat...
Keturunan Yang Tersesat (2)...

Diubah oleh juraganpengki 15-07-2018 20:23
uang500ratusAvatar border
devanpancaAvatar border
iskrimAvatar border
iskrim dan 132 lainnya memberi reputasi
127
2.1M
8K
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread52.8KAnggota
Tampilkan semua post
juraganpengkiAvatar border
TS
juraganpengki
#2392

Akan Ku Balaskan Dendammu, Arum Kesuma!!!

Dewi Arum Kesuma nampak terlempar kebelakang ke arah sebuah pohon besar.. Melihat hal itu, dengan menggunakan Ajian Lari Cepat, gw berlari ke arah Dewi Arum Kesuma dan melompat untuk menangkap tubuhnya, sebelum menghantam pohon..

Karena tenaga dalam sudah terkuras hampir setengahnya, kecepatan lari gw pun berkurang.. Meski dapat menangkap dan memeluk tubuh Dewi Arum Kesuma, namun tubuh gw terus ikut terdorong ke belakang.. Sayangnya, tidak cukup waktu bagi gw untuk bisa menghindari hantaman dengan pohon besar..

BRAKKK!!!

“AARRGH”

Suara teriakan gw yang menahan sakit saat punggung menghantam pohon dengan sangat keras, terdengar menggema di tempat itu.. Tubuh Dewi Arum Kesuma juga sempat terjatuh dari pelukan gw dan berguling-guling di tanah.. Dan gw sendiri sudah jatuh terjerembab persis di depan pohon..’

Gw merasakan sakit luar biasa di sekujur tubuh, terutama dari bagian punggung dan kepala yang barusan menghantam pohon.. Rasa-rasanya sebagian tulang belakang gw telah hancur.. Rasa sesak di dada pun membuat gw seperti kehilangan nafas untuk beberapa saat.. Hingga akhirnya terbatuk-batuk mengeluarkan cairan berbau amis, dengan wajah masih berada diatas tanah..

Perlahan, gw membuka kedua mata.. Awalnya, hanya kegelapan malam yang terlihat.. Namun, pandangan mata gw sedikit demi sedikit berubah samar dan menangkap bayangan seseorang berpakaian kuning, nampak tergeletak diatas tanah, beberapa tombak di hadapan.. Benak gw langsung teringat akan Dewi Arum Kesuma.. Sosok seseorang yang sedang tergelatak dihadapan gw pasti dirinya..

Gw kembali memejamkan mata, mencoba mengumpulkan tenaga.. Dengan susah payah, gw berhasil membalikkan posisi kedua telapak tangan yang mulanya menghadap ke atas langit, sekarang sudah menempel ditanah.. Ya! Gw sedang berusaha untuk menyerap tenaga dari hawa murni bumi.. Karena hanya itu satu-satunya cara yang bisa gw lakukan..

“Aku tahu, kau tidak mungkin mati semudah itu, anak muda! Tapi, aku beri kau kesempatan untuk memulihkan tenaga.. Meski hal itu mustahil, karena kesaktian mu jauh dari kata sempurna..”

Ucapan Rambe Lantak terdengar jelas dikedua telinga gw, bersamaan dengan mulai masuk nya hawa sejuk dari tanah ke talapak tangan dan langsung berubah menghangat saat menyebar ke seluruh tubuh..

Sayup-sayup, gw mendengar alunan Seruling nan merdu tapi dengan nada menyayat hati, yang gw yakin berasal dari arah Rambe Lantak.. Entah apa yang dilakukan Jin itu, tapi sosoknya tidak meneruskan untuk menyerang dan malah asyik meniup seruling.. Seolah, seperti benar-benar menunggu tenaga gw pulih..

Setelah merasa tenaga sudah sedikit terisi, meski belum sempurna, gw mencoba menggerakkan kedua tangan dan menumpu badan untuk bangkit.. Semua gigi gw bergemeratak menahan rasa sakit yang kembali terbit dari bagian punggung.. Keringat dingin mulai mengucur dari dahi, begitu kedua lutut tertekuk dan menimbulkan rasa nyeri teramat sangat dari tulang pinggul..

“HOSH.. HOSH..”

Suara nafas gw terdengar memburu, saat posisi tubuh telah berhasil berdiri meski dengan kedua kaki bergetar.. Gw sempat menyeka darah merah yang mengalir dari hidung dan sela bibir.. Tatapan mata gw nanar memandang ke arah sosok gadis berpakaian kuning yang masih tergeletak tak sadarkan diri.. Selangkah demi selangkah menyeret kaki kanan, gw mulai mendekat dengan tertatih-tatih ke sosok Dewi Arum Kesuma..

Pandangan gw sempat terlempar ke sosok Rambe Lantak yang nampak sedang santai, duduk bersandar di atas cabang besar sebuah pohon.. Jin berambut panjang acak-acakan itu, melirik gw untuk sesaat sambil tersenyum dingin, lalu kembali hanyut dalam tiupan Serulingnya..

Entah apa yang telah terjadi dengan gw, dimasa genting seperti ini seharusnya gw memanggil Sekar atau Raja Jin.. Tapi, benak gw sama sekali tidak memikirkan akan sosok-sosok penolong itu..Yang ada didalam benak gw sekarang, adalah melihat keadaan Dewi Arum Kesuma, itu saja..

Setibanya di sisi kiri Dewi Arum Kesuma, gw langsung menjatuhkan diri duduk bersimpuh.. Kedua mata gw terbelalak, melihat wajah Dewi Arum Kesuma sudah seputih kapas dengan kedua mata menutup.. Luka hangus terbakar sebesar kepala bayi, nampak terjejak dan mengepulkan asap tipis di bagian atas dada nya.. Darah segar berwarna hitam terlihat mengalir kembali dari sela bibir Dewi Arum Kesuma yang sedikit terbuka..

Perasaan gw hancur sekali melihat keadaan Dewi Arum Kesuma yang mengenaskan.. Apa yang sudah dilakukannya? Mengapa dia rela mengorbankan diri demi gw?

Dengan sangat hati-hati dan sambil menggigit lidah untuk menahan rasa sakit, gw mengangkat tubuh bagian atas Jin cantik Penjaga Gerbang Kerajaan Laut Utara itu perlahan-lahan, dan menyanggah kepalanya menggunakan lengan kiri..

“Arum Kesuma.. Buka matamu.. Aku mohon buka matamu” Ucap gw lirih dengan suara dipenuhi kecemasan, sambil membersihkan beberapa helai daun kering yang masih menempel di wajah cantiknya..

Untuk beberapa saat, tidak ada reaksi apapun dari Dewi Arum Kesuma.. Kedua matanya masih terpejam dan darah hitam yang ada di sela bibirnya terus saja mengalir.. Tubuh Jin Penjaga Gerbang Kerajaan Laut Utara itu pun, tetap terkulai lemah meski sudah tersandar di lengan kiri gw..

“Yaa Rabb, apa yang harus aku lakukan?” Tanya gw setengah putus asa, dengan kedua mata mulai berkaca-kaca sambil membersihkan pipi putihnya yang terkena darah dari telapak tangan kanan gw..

Tapi, Perlahan Dewi Arum Kesuma membuka matanya dengan sangat lemah.. Seketika, gw mengucap syukur Alhamdulillah, diiringi sebuah senyuman dan menyeka air mata yang sudah mengembang di kedua pelupuk mata..

“Kau telah sadar, Arum Kesuma” Ucap gw sambil tersenyum lega..

“Ka..kang...” Ucap Dewi Arum Kesuma dengan suara terdengar samar..

“Kau tahu, anak muda.. Tidak pernah ada yang selamat dari serangan Seruling Wesi Ireng milikku.. Aku beri kau waktu sekali lagi.. Kali ini untuk salam perpisahan dengan Dewi Arum Kesuma, sebelum maut menjemput nya..” Ucap Rambe Lantak, saat sudah kembali menapak diatas tanah, dengan kedua mata yang menyorot tajam..

Gw tertegun menggemeratakkan gigi mendengar ucapan Rambe Lantak.. Lalu, menatap kembali ke arah Dewi Arum Kesuma.. Gadis itu terlihat mengangkat telapak tangan kanan sedikit demi sedikit, dan menempelkannya dipipi gw..

“Kakang..” Kembali Dewi Arum Kesuma berucap lirih, dengan wajah seperti sedang menahan rasa sakit teramat sangat, sambil terus membelai pipi gw..

“Sudah, Arum Kesuma.. Kau jangan banyak bicara.. Aku akan memanggil Raja Jin untuk mengobati mu”:Ucap gw yang tiba-tiba teringat akan Raja Jin..

Tapi, ucapan gw barusan dibalas dengan gelengan kepala pelan dan senyuman manis dari bibir Dewi Arum Kesuma yang masih terjejaki darah hitam..

Perlahan, gw memejamkan kedua mata dan berniat menyebut nama asli Penguasa Gaib Tanah Pasundan di dalam hati.. Gw berniat mengucapkan nama beliau dengan penuh perasaan dan sangat berharap akan kedatangannya.. Namun, segala niat tersebut terpaksa gw urungkan, saat mendengar suara batuk Dewi Arum Kesuma..

Kedua mata gw yang sudah terbuka kembali, membesar seketika melihat cairan hitam membasahi mulut Jin Penjaga Gerbang Kerajaan Laut Utara tersebut.. Dengan menggunakan punggung telapak tangan kanan, gw membersihkan daerah sekitar mulut Dewi Arum Kusuma yang tertutupi darah hitam..

“Ti..dak.. Ka..kang.. Wak..tu ku.. Ham..pir tib..a..” Ucap Dewi Arum Kesuma dengan suara terputus-putus, dan membuat gw membuka mata, sambil menggelengkan kepala..

“Tidak! Tidak! Kau akan pulih, Arum Kesuma.. Penguasa Gaib Tanah Pasundan akan segera tiba untuk menolongmu ” Bantah gw dengan kedua mata mulai kembali berkaca-kaca..

“Ka..kang.. Seper..ti.. yang ku kata..kan.. du..lu... A..ku akan me..nebus kesa..lahan pa..da.. mu” Kata Dewi Arum Kesuma masih dengan suara terputus-putus..

Gw tertegun mengingat kalimat terakhir yang ia ucapkan saat kesalah fahaman antara kami telah usai, beberapa waktu lalu.. Saat itu, sebelum pergi bersama Raden Jaka Wastra, Dewi Arum Kesuma memang berkata akan menebus kesalahfahaman.. Tapi, seharusnya tidak dengan cara seperti ini..

“Kau tidak punya kesalahan apapun, Arum Kesuma.. Aku mohon, jangan berkata seperti itu” Kata gw dengan dua titik airmata yang mengalir di pipi dan jatuh tepat di hidung gadis tersebut..

Dewi Arum Kesuma nampak tersenyum kembali dengan tatapan mata sayu.. Lalu, telapak tangannya yang masih memegangi pipi gw, perlahan bergerak dan menyeka airmata ini..

“Kau me..nangis un..tukku.. kak..ang.. Apa..kah.. Kau.. men..cinta..i ku?”

Gw seketika mengepalkan telapak tangan kiri dan menggigit bibir sendiri, begitu mendengar pertanyaan Dewi Arum Kesuma yang membuat hati gw terasa perih..

“Ya, Arum Kesuma.. Aku mencintai mu.. Bertahan lah untuk ku, Arum Kesuma..” Jawab gw sambil mengecup dahinya dengan penuh perasaan..

Kedua mata gw terpejam saat mengecup kening Dewi Arum Kesuma, dan kembali dua tetes airmata mengalir.. Kali ini, dua air bening tersebut jatuh menetes didahi gadis itu.. Lalu, gw kembali menarik wajah dan menatap Dewi Arum Kesuma dengan penuh kasih..

Untuk sesaat, Dewi Arum Kesuma menyunggingkan senyuman paling manis yang belum pernah gw lihat sebelumnya.. Setetes airmata kebahagiaan jatuh mengalir dari pelupuk mata indah Jin itu.. Kemudian, perlahan-lahan, kedua mata Dewi Arum Kesuma mulai tertutup rapat, bersamaan dengan telapak tangannya yang memegangi pipi ini, jatuh terkulai diatas tanah..

Kedua mata gw terbelalak seketika, melihat sosok Dewi Arum Kesuma sudah tak lagi bergerak.. Telapak tangan kanan gw yang masih meneteskan darah merah, membelai wajah pucat Jin yang mengaku sangat mencintai gw itu.. Bibir gw bergetar bersamaan dengan jatuhnya lagi beberapa tetes airmata..

“ Buka matamu, Arum Kesuma.. Aku mohon, bukalah matamu” Ucap gw dengan suara lirih bergetar sambil terus membelai wajahnya..

“EYAAANG!!! TOLONG AKU, EYAAANG!!!” Teriak gw sekencang mungkin memanggil Raja Jin Penguasa Gaib Tanah Pasundan, berharap beliau mau menyelamatkan sosok cantik Dewi Arum Kesuma..

Tak ada reaksi sama sekali dari sosok cantik yang masih terkulai di pangkuan gw itu.. Sontak, gw langsung memeluk tubuh yang sudah tak lagi bernyawa tersebut dengan sangat erat dan menumpahkan tangisan di kepalanya..

Beberapa kali, gw mengecup kening Dewi Arum Kesuma, sambil berharap ada keajaiban yang terjadi.. Tapi tetap saja, kedua mata indah sosok cantik yang kini berwajah sangat pucat itu terpejam..

“Waktumu telah habis! Seperti yang aku katakan.. Tidak ada yang selamat dari Seruling Wesi Ireng ku, anak manusia.. Sekarang, giliran mu untuk menyusul pujaan hati ke neraka” Teriak Rambe Lantak, seraya menempelkan Seruling Wesi Ireng dimulutnya kembali..

DEG...

Baru sedetik mendengar ucapan Rambe Lantak, jantung gw terasa berhenti.. Lalu, perlahan-lahan hawa panas yang aneh kembali muncul disana dan terus merambat ke seluruh tubuh, mendidihkan darah yang mengalir ditiap pembuluhnya..

Wajah gw yang sempat terbenam di kepala Dewi Arum Kesuma, terangkat dan menatap Rambe Lantak dengan tajam.. Sambil mengepalkan telapak tangan kiri yang menyanggah tubuh Dewi Arum Kesuma, gw mendekatkan kepala dan berbisik ditelinga nya..

“Aku bersumpah akan membalaskan dendam mu, Arum Kesuma” Bisik gw lirih dan mulai merebahkan jasad Dewi Arum Kesuma di atas tanah berumput, lalu menyeka sisa air mata yang masih basah di pelupuk matanya..

Entah mendapat kekuatan dari mana, gw bangkit tanpa merasakan sakit sama sekali.. Pandangan mata gw menatap sekali lagi ke sosok cantik yang sudah tergeletak di hadapan.. Sosok cantikdari lain alam yang pernah mengungkapkan perasaan nya ke gw.. Sosok cantik yang kini terbujur kaku dengan senyuman manis diwajahnya yang pucat..

Pandangan mata gw kembali terlempar ke arah Rambe Lantak yang mulai bersiap meniupkan alunan Tembang Kematian dari Seruling Wesi Ireng.. Jantung gw terasa semakin panas, saat melangkahkan kedua kaki ke arah Jin hitam yang telah menghilangkan nyawa Dewi Arum Kesuma.. Kedua telapak tangan yang sudah terisi seluruh tenaga dalam di Ajian Tapak Jagat, mulai membuka dan diliputi sinar putih terang..

Mendadak, hawa panas dijantung gw terasa makin memuncak.. Langkah kaki gw sempat terhenti begitu merasakan dada kian terbakar.. Gw jatuh berlutut sambil menaikkan telapak tangan kanan hendak memegang jantung..

DREEETT!!!

Seperti tersengat aliran listrik, tubuh gw jatuh terkejang menghantam tanah dengan sendirinya, saat telapak tangan kanan menyentuh jantung.. Bersamaan dengan itu, sesuatu terasa merobek dada kiri gw dari dalam, seperti ingin keluar dari jantung.. Gw sempat berteriak kesakitan, sambil berguling-guling tak tentu arah.. Hingga akhirnya gw merasa setengah kesadaran hilang..

Tiba-tiba, tubuh gw terasa terangkat sendiri beberapa tombak ke atas dengan posisi menghadap langit.. Kepala gw yang seharusnya terkulai menatap ke bawah, terasa seperti ada yang menyanggah hingga menghadap lurus ke angkasa.. Kedua bola mata gw yang diselimuti cahaya putih, menatap nanar ke arah langit.. Suara erangan lirih, sesekali masih keluar dari mulut dan terdengar samar ditelinga sendiri..

Mendadak..

“AARRGGHHH!!!”

Sekali lagi gw berteriak kencang hingga menggema kembali di seantero tempat, bersamaan dengan rasa sakit teramat sangat dari dada kiri yang terasa terbelah.. Gw sempat melihat satu sinar putih nampak keluar dari arah jantung dan terus melesat menembus angkasa.. Samar-samar, gw mendengar suara petir menyambar dan merasa seseorang menangkap tubuh gw yang meluncur jatuh ke bawah..

“Istirahat lah, Ngger.. Kami yang akan meneruskan” Ucap seorang laki-laki bermahkota emas yang wajahnya nampak samar dipandangan mata gw..

Sayup-sayup, gw mendengar suara derap langkah kaki kuda dan lecutan cambuk yang mencetar, disusul suara ringkikan.. Pandangan mata gw yang hampir menutup, sempat melihat sebuah kereta kencana yang berkilauan melayang turun dari angkasa..
jenggalasunyi
sampeuk
dodolgarut134
dodolgarut134 dan 16 lainnya memberi reputasi
17
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.