Kaskus

Story

dragonfly1212Avatar border
TS
dragonfly1212
Hanya Kisah cinta seorang remaja dengan kupu-kupu malam
Quote:


Spoiler for Rules:


Quote:



PART 1


"Kak Keynal, cepetan dong!!" TOK. TOK. TOK. BUM. BUM. Suara ketukan pintu beserta gedoran dan suara cempreng nya membuatku bersunggut kesal.

Ya, seperti yang kalian dengar itu adalah suara adik aku, Nabilah. Seperti pagi-pagi sebelumnya, pagi ini aku kembali berebut kamar mandi dengan dia. Bukan tanpa sebab sih, dikarenakan kamar mandi di rumah ini hanya ada satu. Dan barang siapa yang bangun kesiangan akan menerima nasib seperti Nabilah.

"Iya, iya.. Bentaran napa, lagi sampoan gue," ujar ku cuek.

"Aelahh!
Kak. Jam berapa ini masih pagi juga pake sampo-sampoan, sok-sok bersih banget lo," aku terkekeh pelan mendengar apa yang Nabilah ucapkan. Dasar bocah.

"Suka-suka gue lah, cowok ganteng kek gua harus bersih plus wangi. Lu kayak gak tau aje gue kan jadi incaran banyak sama cewek disekolah." ucapku memang tak mau kalah dengan bocah ingusan ini.

"Aaaaaaa! Gue gak mau tau! Cepetan keluar lo kak!! Keburu telat gue." Protesnya yang kembali dihadiahi dengan gedoran ringan.

"Hahah! Iya, iya bawel."

Aku langsung mengguyur badan-badanku yang masih menempel sampo dan sabun. Setelah beberapa guyuran kurasa cukup, segera Kuambil handuk untuk meliliti tubuhku. Lalu muncul di balik daun pintu, mendapatkan adik Kesayanganku yang sukses memasang tampang bete.

"Jelek tau bibirnya manyun gitu,"

"Bodo!!"

Tanganku melayang mengacak rambut hitam lurusnya gemas, "Udah sana mandi. Bau!"

Seperti tadi yang dipanggil Nabilah, Namaku Keynal. Davin Keynal Putra. Saat iniaku duduk di bangku Tiga SMA di sebuah kota Jakarta pusat ini. Papa bekerja sebagai manager di kantor. Yah, bisa dibilang penghasilan bulanan papa sudah cukup dan cukup untuk membiayai jajan, dan kebutuhan sehari-hari. Tentu saja, aku orangnya termasuk orang yang tidak boros. Sebagian uang jajanku digunakan, dan sebagian banyaknya lagi kutabung, Yah, mungkin untuk masa depan (?)

Sedangkan Mama, yang kerjaannya tiap hari dirumah, urusin suami dan anak-anaknya.Kadang pergi ke komplek sebelah untuk gosip, kadang pergi ke pasar bersama ibu-ibu lainnya. apalagi kalau bukan sebagai ibu rumah tangga yang baik bagi kami(?)

Ya, oke. Abaikan saja. Bagiku, keluarga adalah sebuah anugerah yang Tuhan berikan untukku. Keluarga adalah segalanya. Salah satu harta paling berharga yang Tuhan berikan padaku.

Demi membahagiakan Mama dan Papa, aku akan melakukan yang terbaik yang bisa kulakukan. Termasuk pendidikan tentunya, karena kelak Papa pernah berucap akan menyerahkan jabatan berharga ini padaku.

Di sekolah aku cukup terkenal dengan segudang bakat yang aku punya. Beberapa kali mewakili sekolah untuk mengikuti perlombaan cerdas-cermat tingkat provinsi. Prestasi di bidang akademik juga membuat Papa dan Mama bangga. Dan Sekolah selalu memberikan ku beasiswa atas prestasiku.

Dan kata Mama, wajah ku gak jelek-jelek amat. Maka dari itu mama selalu menyarankanku untuk mengikuti beberapa ajang kontes model. Yah, gak papalah, untuk membahagiai Mama ku rela. Dan aku senang karena walau tak mendapat juara satu, tapi juara harapan juga sudah membuatku puas.Tapi, walau berwajah lumayan, teman-teman ku selalu bilang kalau aku orangnya terlalu polos karena gak begitu tahu soal Playboy.

Di sekolah. Saat jam istirahat..

Sebagai sesama cowok, bola adalah seperti liburan saat jam istirahat sekolah dengan pelajaran yang mumet di kepala. Mungkin akan banyak cowok yang setuju dengan pemikiran kita. Tapi buat cewek, mungkin mereka akan alergi melihat kita setelah jam istirahat sekolah, soalnya kita bakal masuk kelas dengan bau keringat yang bakal bikin parfum mahal mereka sia-sia.

"Anjritt!
Keren banget tadi operan lu, Nal. Gitu dong. Yang pas, jangan MEMBLE terus. Alias Melenceng membuat Ble'e. Hahah!" Sindir teman ku yang tak lain dan tak bukan bernama Farish. Farish dan aku adalah teman dekat semenjak awal aku memasuki SMA. Dia juga Sebangku denganku. Ya, kuakui dia ganteng, bahkan mungkin gantengan dia dari pada aku kali ya(?) Dan harus kuakui, sudah berapa kali dia gebet wanita-wanita cantik di Jakarta sejagat ini mungkin sudah tak bisa kuhitung dengan jari. Tapi, tenang aja, aku yakin dia tau batas kok. Ngomong-ngomong kami juga sebangku semenjak kelas dua.

"Bisa aja lo cicak-cicak di dinding."

"Cicak? Apaan tuh? Gue buaya kaleee. Hahah!"

"Pala lo peang lah!" Ucapku santai sambil membuka tutup botol minumanku sambil meneguknya cepat.

"Eh, Nal. Nanti malam lo ada acara gak?"

Aku nampak berpikir-pikir sejenak untuk menjawab pertanyaannya."Ngak juga sih, gue palingan di rumah aja ngerjain tugas Biologi."

"Yah, orang sepintar kayak lu masih aja ngerjain tugas. Udah, jamin! Juara lagi semester depan. Tenang aja lagi."

"Sialan lu. Emangnya lu dukun bisa nentuin nasib gue?"

"Yah, maksud gue have fun lah sekali-kali. Gak bosan lu pacaran terus sama buku?"

"Maksud lu apaan?"

"Gini yah, Bro. Masa lu yang juara model Se-Jakarta ngak pernah ngegebet atau pacaran gitu sama cewe? Curiga gue,"

"Oh, Maksud lu gue homo gitu?" Potong ku cepat.

"Gue ngak bilang gitu ya, itu lu yang bilang sendiri."
Sial Farish! Paling pande dia kalau soal ngecengin aku. Tapi apa yang dikatakan Farish benar juga sih. Selama ini aku gak pernah kenal yang namanya punya pacar. Kalau kata Mama, pacaran itu tanggung jawab. Dan karena aku belum punya tanggung jawab, maka aku gak boleh pacaran sampai tanggung jawabku selesai yaitu lulus sekolah. Dan istilah having fun dari Farish baru kudengar sekarang. Walaupun secara akademik nilai Bahasa Inggris aku selalu sempurna.

"Emang lu mau ngajak gue ke mana? Cari pacar gitu, yah?!" Ucapku ngawur.

"Pengin tau atau pengin tau aja?"

"Cepetan, kampreeett!" Semprot ku tak sabar.

"Oke. Oke. Woles aja,
Bro. Malam ini gue mau ngajak lu ke suatu tempat yang gak bakalan lu Lupain dalam hidup lu!" Ucapnya mantap yang membuatku sedikit terlonjak sekaligus penasaran dia mau ngajak nya kemana?

"Ciyus lu?"

"Ho-oh. Beneran gue, Pret!"

"Emangnya tempat apaan sih?" Tanya ku sok santai padahal penasaran banget.

"Ikut aja deh! Lu bakal seneng deh sama yang namanya bidadari...."
"Hmm," ini membuatku semakin penasaran ketika Farish mengucapkan kata 'Bidadari'.
"Kalo lu sampe bohong gue kurbanin lu ya?" Lanjutku.

"Udah, bawel lu. Ikut aja. Ntar malam gue jemput pake motor gue."

"Kalo bonyok gue ngelarang, gimana?" Pertanyaan bodoh sebenarnya.

"Lu tuh blo-on atau apaan sih. Masa pertanyaan gini lu tanyanya ke gue yang ngak pernah ranking. Ya, bilang aja lah lu mau kerja tugas kelompok. Susah amet lu."

"Eh! Awas kalo lu bohong ya. Kalau lu ngasihnya kuntilanak bukan bidadari gue bakal Blacklist lu dari daftar pertemanan gue. Karena lu udah bikin gue bohong sama bonyok gue buat pergi sama lu...."

Farish hanya tersenyum lebar membuatku semakin penasaran dengan ajakan dia. Begitulah persahabatan aku sama Farish. Aku sangat menghargai sahabat aku yang satu itu. Farish adalah sahabat yang asyik, yang selalu bisa mencairkan suasana dengan banyolan basinya, tapi tetap gurih di kuping ketika Farish yang mengucapkannya. Aku dan Farish sudah bersahabat dua tahun
lebih. Semenjak kami sama-sama terdaftar di SMA dan sejauh ini persahabatan kami berjalan awet, mulus, tanpa kendala. Farish juga
sering main ke rumah dan tentunya juga sudah akrab dengan kedua orangtua ku juga dengan Nabilah.Begitu juga sebaliknya, aku juga sering datang bahkan tak jarang nginap di rumahnya untuk mengerjakan tugas dari sekolah sekalian menghabiskan waktu nonkrong asyik.

***
Akhirnya malam pun tiba. Tepat pukul 19.00 WIB. Hari ini adalah hari Sabtu malam atau biasa orang-orang bilang malam minggu. Tiba-tiba terdengar suara motor di depan teras yang aku yakini itu adalah Farish.

Dengan penuh persiapan aku berjalan keluar dari rumah dengan membawa buku cetak beserta buku tulis untuk menjadi senjata kebohonganku sama Mama Papa.

Dan langsung Aku pergi dengan Farish dengan berboncengan, saat di tengah jalan tiba-tiba Farish berhenti. Dia mungkin bingung karena aku hanya diam sepanjang jalan.

"Lu kok diem aja sih, Nal? Kayaknya dosa banget ya lu boong sama bonyok lu?" Tanya Farish membuyarkan lamunanku.
"Jiaahh! Dia ngelamun. Mirip sapi ayan lu kalo ngelamun." sindirnya.

"Sialan lu ini gue bukan bengong. Tapi bingung aja sama lu. Katanya mau cari bidadari tapi kok jalannya gak jelas kek gini?"

"Sabar dong lu-nya. Tempatnya rahasia, sepi dan gak boleh ada orang yang tau.." ucapnya membuatku dahiku benar-benar berkerut.

"Bacot ah lu! Buruan cepat!" Ucapku tak mau memikirkannya lama-lama lagi soal tempat yang Farish maksud.

Aku dan Farish pun kembali jalan melewati jalanan kota yang dipenuhi lampu-lampu jalanan, beserta pemandangan laut yang terbentang indah dan masih bisa dilihat kasat oleh mata.

Akhirnya setelah tiga puluh menit berjalan, kita tiba di sebuah tempat yang berada di samping alun-alun kota. Aku melongo sambil mulutku membulat besar ketika melihat sepanjang jalan dipenuh dengan diskotik dan tempat-tempat karaoke. Farish berhenti di
salah satu tempat diskotek dan bar.

Aku menepuk pundak Farish dengan bingung. "Eh, Rish. Kok kita malah ke sini sih? Ini kan tempat ngak bener. Gila lu ya?"

"Nah itu dia. Gue mau ngajak lu kesini. Ke salah satu diskotik. Kita ajib-ajib Bro!!" Serunya tampak bersemangat. Ugh, Sial!

"Waduh, parah. Lu ngak bener nih. Masak gue diajak ke tempat kek gini? Ogah ah gue!" Tolakku mentah-mentah. Pandanganku tak lepas dari pemandangan yang membuatku hampir muntah.

"Yaampun, Bro. Gak dosa kali. Kita cuma mampir kok terus cari bidadari disana. Gitu doang." katanya dengan nada santai.

"Eh lu yang bener aja. Sejak kapan tempat kek gini ada Bidadari? Yang ada malah cewek gak bener! Jadi itu loh maksudnya lu?"

"Iya, Bro. Jadi, gue mau cari cewek buat kencan. Ayolah ikut! Murah kok. Cuma dua ratus ribu."

"Ngak mau gue. Kalau gitu nyesel gue. Ogah amat. Masih perjaka kali gue, kagak mau.."

"Astaga, Bro. Kita jalan sejam gini masa harus sia-sia gara-gara lu batalin sih? Tega benar lu," Farish memasang wajah kecewa dan memelas.

Kami terdiam, saling memandang di depan tempat yang Farish katakan. Karena merasa tidak enak hati sama Farish, akhirnya aku memutuskan untuk menemani dia akan tetapi aku menolak untuk ikutan seperti dia yang ingin mencari teman kencan di diskotik yang dia inginkan.

"Jadi beneran nih lu mau nungguin gue disini aja? Gak mau masuk?"

"Iya, gue nunggu disini aja. Lagian disana ada warung. Gue duduk sana aja sambil minum teh botol.."

"Hmm, Yakin nih mau nungguin gue sendirian?" Tanyanya memastikan.

"Kalo lu masih ngebacot aja. Gue pulang nih ya!"

"Eh, jangan dong. Yaudah gue masuk dulu." Aku hanya mengangguk memandang punggungnya yang perlahan-lahan menghilang dari pandangan setelah memasuki pintu besar diskotik itu.

Dari luar tampak beberapa perempuan dengan pakaian seksi berdiri di depan pintu sambil menghisap rokok. Aku hanya geleng-gelang saja melihat cewek-cewek cantik kok, kelakuannya kayak gitu ya(?)

Spoiler for Index:


Thanks buat agan yunaito yang bantu bikinin index

Bacalah. Jika anda berkenan membacanya emoticon-Smilie
Polling
Poll ini sudah ditutup. - 17 suara
Perlu Ane Tamatin Gak Cerita Ini?
Perlu gan walau udah ketauan endingnya
82%
Gak usah gan, lo gak cocok nulis di sfth
18%
Diubah oleh dragonfly1212 21-02-2018 15:44
anasabilaAvatar border
tien212700Avatar border
tien212700 dan anasabila memberi reputasi
2
14.6K
66
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread52.8KAnggota
Tampilkan semua post
dragonfly1212Avatar border
TS
dragonfly1212
#2
Part 3

Sudah satu bulan aku menyisihkan uang jajanku buat Veranda. Memang sebagai anak laki-laki yang berasal dari keluarga cukup mampu, uang jajanku sebulan bisa kugunakan untuk membeli Gadget seri terbaru.

Aku kumpulkan dan kembali menghitung nominal yang disebutkan Veranda waktu itu. Ada sekitar dua jutaan. Berarti selebihnya lagi bisa Veranda gunakan untuk keperluan lainnya.

Aku meraih Ponsel dan mulai mendial nomor Veranda.

"Hallo, siapa nih?"terdengar suara cewek yang sangat ku kenal di seberang sana.

"Ya, Hallo. Ini aku Keynal, yang hari itu sempat ngobrol sama kamu di depan diskotik.."

"Oh, kamu. Si berondong. Kenapa?" Tanggapnya pelan.

"Ehmm.. Aku mau nepatin janji aku nih. Kamu dimana?"

"Aku lagi di rumah aja kok, nemenin Nyokap." Ucapnya yang semakin memelan.

"Kita.. Bisa ketemuan gak?" Tanyaku selanjutnya.

"Kamu serius mau ketemu sama aku buat nepatin janji kamu?" Katanya dengan suara tak yakinnya.

"Iya, Beneran kok. Kalau gak percaya kita ketemu aja biar si berondong ini mau nunjukkin buktinya."

"Mau ketemu di mana?"

Aku mengajaknya ketemuan di salah satu mall di kota Jakarta.

"Hmm, gak bisa di tempat lain aja, Nal? Aku gak pernah loh ke mall. Itu kan tempat elite.."

"Aku mau ajak ketemuan lho, Ve. Bukan ngajak shopping. Udah nanti kamu datang ya. Aku tunggu."

Akhirnya sesuai kesepakatan Aku dan Veranda untuk ketemuan di salah satu food court. Kali ini dia datang dengan tidak mengenakan busana seksi seperti dulu yang aku lihat. Dia lebih tertutup dan tampak sederhana dengan make-up yang tidak berlebihan, bahkan terlihat lebih cantik alami.

Awalnya saat kulihat Veranda, dia sedikit risih. Mungkin karena kebiasaan seharinya jarang sekali pergi ke mall sehingga merasa tempat itu terlalu asing. Tapi perlahan, saat ku traktir ia untuk makan dan mengobrol ringan, ia mulai tidak canggung.

Selesai makan siang, Aku mengajak Veranda ke pantai. Kebetulan lokasi mall dekat dengan bibir pantai.

"Kamu ngajakin aku kesini mau ngapain sih, Nal? Mau make aku atau mau ngajak jalan aku atau..?" Tanya Veranda ketika kita sudah duduk menghadap laut lepas.

"Coba tebak!" Ucapku sedikit bersemangat.

"Dua-duanya juga boleh, aku udah lama gak jalan sama cowok." jawabnya ringan tanpa beban.

"Emangnya kamu gak punya pacar?" Tiba-tiba aku melontarkan sebuah pertanyaan yang sebenarnya aku sendiri merasa aneh kenapa harus bertanya seperti itu.

"Dulu pernah. Terakhir pacaran juga apes, cowok itu dimana-mana sama aja! Sama-sama brengsek! Maunya cuma tidur doang sama aku. Ketika keinginan bejatnya tercapai. Aku dicampakkan seperti ngak ada gunanya." Ve bercerita dengan nafas memburu. Matanya berpendar. "Aku udah mati rasa sama cinta, Nal. Cinta itu brengsek kalau beneran ada juga cuma di sinetron." katanya selanjutnya.

"Kamu kayaknya dendam banget ya sama makhluk yang namanya cowok?" Ve menatapku sejenak, kemudian terdiam.

"Maaf kalau pertanyaan aku bikin kamu marah." aku merasa tidak enak hati melihat perubahan sikap Ve yang tiba-tiba terdiam.

Ve menarik nafas panjang, lalu melemparkan pandangannya ke laut lepas.
"Ngapain minta maaf, Nal? Itu bukan salah kamu kok. Emang usah nasib aku terlahir dari keluarga miskin, melarat, hina, dan.. kata orang.. pramuria." air mata tangis tak bisa dibendung Ve lagi. Itu jatuh begitu saja saat ia mengeluarkan kalimat terakhir yang aku dengar. Dia buru-buru menyeka air matanya.

"Kok kamu nangis?" Tanyaku.

"pramuria..
yaa, aku sudah biasa Denger kata itu setiap kali orang-orang sok suci ketika berpapasan dengan aku. Mereka hanya melihat satu sisi dari pekerjaan aku aja. Mereka ngak pernah mau tau kalau kata-kata itu sakit banget buat aku, Nal. Asal kamu tau aja. Aku gak pernah mau kerja kayak gini. Jadi pramuria itu bukan impian aku. Tapi buat apa mimpi tinggi-tinggi sementara ada perut-perut kelaparan yang harus aku kasih makan. Dan sekarang ada ibuku yang harus segera ditolong." Nafas Ve kembali memburu.

Aku jadi serba salah dengan keadaan Ve sekarang.

"Ve, jangan nangis dong. Aku ngajakin kamu kesini bukan buat bikin kamu nangis. Aku cuma buat ngasihin ini kok." kataku sambil menyodorkan sebuah amplop kecil.

"Ini apaan, Nal?" Tanyanya masih belum menerima amplop yang kusodorkan padanya.

"Itu bukti kalau aku bukan berondong yang bisanya cuma ngegombal. Kamu pakai aja dulu ya buat operasi ibu kamu."

Akhirnya Ve menerima amplop tersebut walau dengan ragu. "Kamu ngapain sih mau Bantuin aku, Nal? Aku ini bukan siapa-siapa kamu. Aku hanya orang lain yang secara ngak sengaja kamu temuin di tempat ngak baik. Kamu ngak akan nyesel?"

Aku terdiam dan menarik nafas dalam.

Diubah oleh dragonfly1212 09-02-2018 14:11
0
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.