Kaskus

Story

dragonfly1212Avatar border
TS
dragonfly1212
Hanya Kisah cinta seorang remaja dengan kupu-kupu malam
Quote:


Spoiler for Rules:


Quote:



PART 1


"Kak Keynal, cepetan dong!!" TOK. TOK. TOK. BUM. BUM. Suara ketukan pintu beserta gedoran dan suara cempreng nya membuatku bersunggut kesal.

Ya, seperti yang kalian dengar itu adalah suara adik aku, Nabilah. Seperti pagi-pagi sebelumnya, pagi ini aku kembali berebut kamar mandi dengan dia. Bukan tanpa sebab sih, dikarenakan kamar mandi di rumah ini hanya ada satu. Dan barang siapa yang bangun kesiangan akan menerima nasib seperti Nabilah.

"Iya, iya.. Bentaran napa, lagi sampoan gue," ujar ku cuek.

"Aelahh!
Kak. Jam berapa ini masih pagi juga pake sampo-sampoan, sok-sok bersih banget lo," aku terkekeh pelan mendengar apa yang Nabilah ucapkan. Dasar bocah.

"Suka-suka gue lah, cowok ganteng kek gua harus bersih plus wangi. Lu kayak gak tau aje gue kan jadi incaran banyak sama cewek disekolah." ucapku memang tak mau kalah dengan bocah ingusan ini.

"Aaaaaaa! Gue gak mau tau! Cepetan keluar lo kak!! Keburu telat gue." Protesnya yang kembali dihadiahi dengan gedoran ringan.

"Hahah! Iya, iya bawel."

Aku langsung mengguyur badan-badanku yang masih menempel sampo dan sabun. Setelah beberapa guyuran kurasa cukup, segera Kuambil handuk untuk meliliti tubuhku. Lalu muncul di balik daun pintu, mendapatkan adik Kesayanganku yang sukses memasang tampang bete.

"Jelek tau bibirnya manyun gitu,"

"Bodo!!"

Tanganku melayang mengacak rambut hitam lurusnya gemas, "Udah sana mandi. Bau!"

Seperti tadi yang dipanggil Nabilah, Namaku Keynal. Davin Keynal Putra. Saat iniaku duduk di bangku Tiga SMA di sebuah kota Jakarta pusat ini. Papa bekerja sebagai manager di kantor. Yah, bisa dibilang penghasilan bulanan papa sudah cukup dan cukup untuk membiayai jajan, dan kebutuhan sehari-hari. Tentu saja, aku orangnya termasuk orang yang tidak boros. Sebagian uang jajanku digunakan, dan sebagian banyaknya lagi kutabung, Yah, mungkin untuk masa depan (?)

Sedangkan Mama, yang kerjaannya tiap hari dirumah, urusin suami dan anak-anaknya.Kadang pergi ke komplek sebelah untuk gosip, kadang pergi ke pasar bersama ibu-ibu lainnya. apalagi kalau bukan sebagai ibu rumah tangga yang baik bagi kami(?)

Ya, oke. Abaikan saja. Bagiku, keluarga adalah sebuah anugerah yang Tuhan berikan untukku. Keluarga adalah segalanya. Salah satu harta paling berharga yang Tuhan berikan padaku.

Demi membahagiakan Mama dan Papa, aku akan melakukan yang terbaik yang bisa kulakukan. Termasuk pendidikan tentunya, karena kelak Papa pernah berucap akan menyerahkan jabatan berharga ini padaku.

Di sekolah aku cukup terkenal dengan segudang bakat yang aku punya. Beberapa kali mewakili sekolah untuk mengikuti perlombaan cerdas-cermat tingkat provinsi. Prestasi di bidang akademik juga membuat Papa dan Mama bangga. Dan Sekolah selalu memberikan ku beasiswa atas prestasiku.

Dan kata Mama, wajah ku gak jelek-jelek amat. Maka dari itu mama selalu menyarankanku untuk mengikuti beberapa ajang kontes model. Yah, gak papalah, untuk membahagiai Mama ku rela. Dan aku senang karena walau tak mendapat juara satu, tapi juara harapan juga sudah membuatku puas.Tapi, walau berwajah lumayan, teman-teman ku selalu bilang kalau aku orangnya terlalu polos karena gak begitu tahu soal Playboy.

Di sekolah. Saat jam istirahat..

Sebagai sesama cowok, bola adalah seperti liburan saat jam istirahat sekolah dengan pelajaran yang mumet di kepala. Mungkin akan banyak cowok yang setuju dengan pemikiran kita. Tapi buat cewek, mungkin mereka akan alergi melihat kita setelah jam istirahat sekolah, soalnya kita bakal masuk kelas dengan bau keringat yang bakal bikin parfum mahal mereka sia-sia.

"Anjritt!
Keren banget tadi operan lu, Nal. Gitu dong. Yang pas, jangan MEMBLE terus. Alias Melenceng membuat Ble'e. Hahah!" Sindir teman ku yang tak lain dan tak bukan bernama Farish. Farish dan aku adalah teman dekat semenjak awal aku memasuki SMA. Dia juga Sebangku denganku. Ya, kuakui dia ganteng, bahkan mungkin gantengan dia dari pada aku kali ya(?) Dan harus kuakui, sudah berapa kali dia gebet wanita-wanita cantik di Jakarta sejagat ini mungkin sudah tak bisa kuhitung dengan jari. Tapi, tenang aja, aku yakin dia tau batas kok. Ngomong-ngomong kami juga sebangku semenjak kelas dua.

"Bisa aja lo cicak-cicak di dinding."

"Cicak? Apaan tuh? Gue buaya kaleee. Hahah!"

"Pala lo peang lah!" Ucapku santai sambil membuka tutup botol minumanku sambil meneguknya cepat.

"Eh, Nal. Nanti malam lo ada acara gak?"

Aku nampak berpikir-pikir sejenak untuk menjawab pertanyaannya."Ngak juga sih, gue palingan di rumah aja ngerjain tugas Biologi."

"Yah, orang sepintar kayak lu masih aja ngerjain tugas. Udah, jamin! Juara lagi semester depan. Tenang aja lagi."

"Sialan lu. Emangnya lu dukun bisa nentuin nasib gue?"

"Yah, maksud gue have fun lah sekali-kali. Gak bosan lu pacaran terus sama buku?"

"Maksud lu apaan?"

"Gini yah, Bro. Masa lu yang juara model Se-Jakarta ngak pernah ngegebet atau pacaran gitu sama cewe? Curiga gue,"

"Oh, Maksud lu gue homo gitu?" Potong ku cepat.

"Gue ngak bilang gitu ya, itu lu yang bilang sendiri."
Sial Farish! Paling pande dia kalau soal ngecengin aku. Tapi apa yang dikatakan Farish benar juga sih. Selama ini aku gak pernah kenal yang namanya punya pacar. Kalau kata Mama, pacaran itu tanggung jawab. Dan karena aku belum punya tanggung jawab, maka aku gak boleh pacaran sampai tanggung jawabku selesai yaitu lulus sekolah. Dan istilah having fun dari Farish baru kudengar sekarang. Walaupun secara akademik nilai Bahasa Inggris aku selalu sempurna.

"Emang lu mau ngajak gue ke mana? Cari pacar gitu, yah?!" Ucapku ngawur.

"Pengin tau atau pengin tau aja?"

"Cepetan, kampreeett!" Semprot ku tak sabar.

"Oke. Oke. Woles aja,
Bro. Malam ini gue mau ngajak lu ke suatu tempat yang gak bakalan lu Lupain dalam hidup lu!" Ucapnya mantap yang membuatku sedikit terlonjak sekaligus penasaran dia mau ngajak nya kemana?

"Ciyus lu?"

"Ho-oh. Beneran gue, Pret!"

"Emangnya tempat apaan sih?" Tanya ku sok santai padahal penasaran banget.

"Ikut aja deh! Lu bakal seneng deh sama yang namanya bidadari...."
"Hmm," ini membuatku semakin penasaran ketika Farish mengucapkan kata 'Bidadari'.
"Kalo lu sampe bohong gue kurbanin lu ya?" Lanjutku.

"Udah, bawel lu. Ikut aja. Ntar malam gue jemput pake motor gue."

"Kalo bonyok gue ngelarang, gimana?" Pertanyaan bodoh sebenarnya.

"Lu tuh blo-on atau apaan sih. Masa pertanyaan gini lu tanyanya ke gue yang ngak pernah ranking. Ya, bilang aja lah lu mau kerja tugas kelompok. Susah amet lu."

"Eh! Awas kalo lu bohong ya. Kalau lu ngasihnya kuntilanak bukan bidadari gue bakal Blacklist lu dari daftar pertemanan gue. Karena lu udah bikin gue bohong sama bonyok gue buat pergi sama lu...."

Farish hanya tersenyum lebar membuatku semakin penasaran dengan ajakan dia. Begitulah persahabatan aku sama Farish. Aku sangat menghargai sahabat aku yang satu itu. Farish adalah sahabat yang asyik, yang selalu bisa mencairkan suasana dengan banyolan basinya, tapi tetap gurih di kuping ketika Farish yang mengucapkannya. Aku dan Farish sudah bersahabat dua tahun
lebih. Semenjak kami sama-sama terdaftar di SMA dan sejauh ini persahabatan kami berjalan awet, mulus, tanpa kendala. Farish juga
sering main ke rumah dan tentunya juga sudah akrab dengan kedua orangtua ku juga dengan Nabilah.Begitu juga sebaliknya, aku juga sering datang bahkan tak jarang nginap di rumahnya untuk mengerjakan tugas dari sekolah sekalian menghabiskan waktu nonkrong asyik.

***
Akhirnya malam pun tiba. Tepat pukul 19.00 WIB. Hari ini adalah hari Sabtu malam atau biasa orang-orang bilang malam minggu. Tiba-tiba terdengar suara motor di depan teras yang aku yakini itu adalah Farish.

Dengan penuh persiapan aku berjalan keluar dari rumah dengan membawa buku cetak beserta buku tulis untuk menjadi senjata kebohonganku sama Mama Papa.

Dan langsung Aku pergi dengan Farish dengan berboncengan, saat di tengah jalan tiba-tiba Farish berhenti. Dia mungkin bingung karena aku hanya diam sepanjang jalan.

"Lu kok diem aja sih, Nal? Kayaknya dosa banget ya lu boong sama bonyok lu?" Tanya Farish membuyarkan lamunanku.
"Jiaahh! Dia ngelamun. Mirip sapi ayan lu kalo ngelamun." sindirnya.

"Sialan lu ini gue bukan bengong. Tapi bingung aja sama lu. Katanya mau cari bidadari tapi kok jalannya gak jelas kek gini?"

"Sabar dong lu-nya. Tempatnya rahasia, sepi dan gak boleh ada orang yang tau.." ucapnya membuatku dahiku benar-benar berkerut.

"Bacot ah lu! Buruan cepat!" Ucapku tak mau memikirkannya lama-lama lagi soal tempat yang Farish maksud.

Aku dan Farish pun kembali jalan melewati jalanan kota yang dipenuhi lampu-lampu jalanan, beserta pemandangan laut yang terbentang indah dan masih bisa dilihat kasat oleh mata.

Akhirnya setelah tiga puluh menit berjalan, kita tiba di sebuah tempat yang berada di samping alun-alun kota. Aku melongo sambil mulutku membulat besar ketika melihat sepanjang jalan dipenuh dengan diskotik dan tempat-tempat karaoke. Farish berhenti di
salah satu tempat diskotek dan bar.

Aku menepuk pundak Farish dengan bingung. "Eh, Rish. Kok kita malah ke sini sih? Ini kan tempat ngak bener. Gila lu ya?"

"Nah itu dia. Gue mau ngajak lu kesini. Ke salah satu diskotik. Kita ajib-ajib Bro!!" Serunya tampak bersemangat. Ugh, Sial!

"Waduh, parah. Lu ngak bener nih. Masak gue diajak ke tempat kek gini? Ogah ah gue!" Tolakku mentah-mentah. Pandanganku tak lepas dari pemandangan yang membuatku hampir muntah.

"Yaampun, Bro. Gak dosa kali. Kita cuma mampir kok terus cari bidadari disana. Gitu doang." katanya dengan nada santai.

"Eh lu yang bener aja. Sejak kapan tempat kek gini ada Bidadari? Yang ada malah cewek gak bener! Jadi itu loh maksudnya lu?"

"Iya, Bro. Jadi, gue mau cari cewek buat kencan. Ayolah ikut! Murah kok. Cuma dua ratus ribu."

"Ngak mau gue. Kalau gitu nyesel gue. Ogah amat. Masih perjaka kali gue, kagak mau.."

"Astaga, Bro. Kita jalan sejam gini masa harus sia-sia gara-gara lu batalin sih? Tega benar lu," Farish memasang wajah kecewa dan memelas.

Kami terdiam, saling memandang di depan tempat yang Farish katakan. Karena merasa tidak enak hati sama Farish, akhirnya aku memutuskan untuk menemani dia akan tetapi aku menolak untuk ikutan seperti dia yang ingin mencari teman kencan di diskotik yang dia inginkan.

"Jadi beneran nih lu mau nungguin gue disini aja? Gak mau masuk?"

"Iya, gue nunggu disini aja. Lagian disana ada warung. Gue duduk sana aja sambil minum teh botol.."

"Hmm, Yakin nih mau nungguin gue sendirian?" Tanyanya memastikan.

"Kalo lu masih ngebacot aja. Gue pulang nih ya!"

"Eh, jangan dong. Yaudah gue masuk dulu." Aku hanya mengangguk memandang punggungnya yang perlahan-lahan menghilang dari pandangan setelah memasuki pintu besar diskotik itu.

Dari luar tampak beberapa perempuan dengan pakaian seksi berdiri di depan pintu sambil menghisap rokok. Aku hanya geleng-gelang saja melihat cewek-cewek cantik kok, kelakuannya kayak gitu ya(?)

Spoiler for Index:


Thanks buat agan yunaito yang bantu bikinin index

Bacalah. Jika anda berkenan membacanya emoticon-Smilie
Polling
Poll ini sudah ditutup. - 17 suara
Perlu Ane Tamatin Gak Cerita Ini?
Perlu gan walau udah ketauan endingnya
82%
Gak usah gan, lo gak cocok nulis di sfth
18%
Diubah oleh dragonfly1212 21-02-2018 15:44
anasabilaAvatar border
tien212700Avatar border
tien212700 dan anasabila memberi reputasi
2
14.6K
66
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.7KThread52.6KAnggota
Tampilkan semua post
dragonfly1212Avatar border
TS
dragonfly1212
#1
Part 2
Sesuai apa yang aku katakan tadi. Aku duduk di Warung samping diskotik sambil memesan sebotol teh botol(?) Satu per satu tamu
berdatangan di diskotik itu. Beberapa perempuan yang tadinya berbaris menyambut tamu yang datang mulai menghilang dan menyisakan satu wanita yang tampak begitu kesal sambil melempar sepuntung rokoknya di lantai dan menginjaknya habis-habisan dengan hak tinggi yang ia pakai.

Dan apesnya, wanita itu menyadari bahwa dari tadi aku memandangnya. Dengan gugup, aku membuang muka dan lebih memilih memperhatikan teh botol yang sudah kosong isinya.

Wanita itu mendekat dengan langkah sepatu haknya yang terdengar menghentak di tanah. Aku duduk di bangku panjang yang digunakan ibu Warung untuk berdagang.

Tiba-tiba dia berhenti dan langsung mendaratkan bokongnya di sampingku. Sambil terus memperhatikanku, dia tersenyum manis. Ya tuhan, apa ini? Bahkan senyumnya semanis teh yang biasa ku minum. Aku berani taruhan demi apapun.

Hati ku berdebar kencang. Jantungku berpacu dengan cepat kala aku balik memandangnya sambil melempar senyumku balik. Dia terlihat begitu cantik, wajahnya mempesona, rambutnya dibiarkan tergerai indah, kulitnya putih mulus dan senyumnya manis.Dan tidak ada yang bisa aku bayangkan, baru kali ini aku duduk dengan seorang wanita yang sebenarnya cantik akan tetapi ia adalah seorang wanita penggoda.

Wanita itu masih belum berhenti menatapku. Mungkin seperti tatapan mengintimidasi ku. Aku menghilangkan salah tingkah ku dengan terus mengisap sedotan di teh botol yang isinya sebenarnya sudah kosong melompong.Sepertinya kalau dia tau aku sedang gugup, apalagi melihat kelakuan ku yang seperti bocah ingusan.

"Boleh minta rokok?" Tanyanya berani dan tiba-tiba.

"Aduh.. aku ngak ngerokok." ucapku sambil menggaruk tengkukku yang tidak gatal.

"Oh, zaman gini ternyata masih ada cowok yang ngak ngerokok.." kata dia sambil menggunakan jari telunjuknya memukul pelan dagunya. Seperti orang tampak berpikir."Terus ngapain disini? Kok ngak ikutan masuk ke dalam? Bukannya tadi kamu sama teman kamu berdua yang agak ganteng itu ya?" Suaranya mengalun halus, Merdu. Tapi satu yang masih ku pertanyakan. Kenapa wanita seperti dia seperti ini? Maksudku kelakuannya yang sungguh tak wajar kulihat sebagaiseorang wanita.Kenapa aku sebut wanita? Dari raut wajahnya, sepertinya dia lebih tua 2-3 tahun umurnya dariku. Tapi masih terlihat sangat cantik, tak lepas dari perkataan Farish tadi. Kali ini aku benar-benar melihat paras bidadari miliknya disini.

"Oh.. Iya. Kita berdua. Cuma aku ngak masuk," ucapku gugup.

"Hmm, aneh juga. Biasanya cowok kalau kesini kan pasti ada maunya. Jadi kamu ke sini ngapain, sih?"

"Ya, cuma nganterin temen aja.." kataku melempar senyum miring.

Wanita itu seperti kehabisan kata-kata karena melihat aku menjawab dengan gugup. Dia semakin mendekatkan jarak tubuh dia ke aku. Hmm... Mungkin melakukan tujuannya.

"Mas, kalau Mas sama aku aja gimana?" Tanyanya dengan nada menggoda dan berbisik.

"Hah..!!!" Jelas aku sangat kaget dengan penawarannya.

"Iya, Mas. Sama aku aja dari pada disini ngak jelas. Yuk!" Dia menarik pelan tanganku yang bebas.

"Aduh.. Mbak. Ngak deh, beneran aku ngak bisa.." jawabku kembali gugup.

"Aku kasih diskon deh.. Gimana? Ayolah mau ya.." katanya merujukku lagi. Wanita itu semakin mendekatkan tubuhnya padaku bahkan sampai menyentuhku.

Merasakan sentuhan halus darinya membuatku semakin gugup dan bangkit berdiri. Wanita itu tau aku berusaha menghindar darinya. Wajahnya yang manis tiba-tiba berubah jadi kesal dan terlihat sangat... Lucu(?) karena dia mengembangkan kedua
pipinya yang mochi itu.

"Sue amat sih hari ini. Gak ada yang mau sama aku." Gumamnya kesal dan aku bisa mendengarnya.

Aku berusaha mencairkan suasana, perlahan aku kembali duduk disampingnya. Namun kali ini aku menjaga jarak darinya. "Lho kok bisa? Mbak kan cantik.." ucapku jujur.

Dia menatapku dengan sorot mata tajam. Kemudian menghela nafas panjang dan membuangnya.

"Namanya juga jualan, kadang laku kadang gak laku. Apes banget gue hari ini." dia kemudian mengacak rambutnya kesal. Tapi.. kok tetap cantik ya(?)

Melihat suasana hati dia yang begitu kesal. Akhirnya terlintas di pikiranku untuk menawarkan sesuatu.

"Mbak, mau minum teh botol?" Tanya ku dan dia sedikit heran.

"Boleh." jawabnya pendek.

Akhirnya aku memesan satu teh botol dan menyerahkan padanya. "Ini mbak, minum dulu." ujar ku enteng dan tak segugup tadi lagi.

"Makasih.." katanya sambil meminum teh botolnya kemudian berbicara sendiri lagi.
"Mana banyak masalah lagi.. Aduh, stress deh gue.."

"Ada masalah apa sih, Mbak?" Tanyaku berani.
Kemudian dia menatapku dari ujung kepala sampai ujung kaki.

"Kamu umur berapa, sih?"

"Masih 17 tahun, Mbak."

"Astaga masih berondong. Belum tau dong dunia orang dewasa." ledek dia.

"Kata siapa? Yaelah, Mbak. Yang namanya masalah ngak berondong, anak-anak sampai dewasa semua juga ngerasain. Ngak mandang umur, kok." ucapku tak mau menyerah.

Dia melihatku dan memandangku seakan pandai merangkai kata-kata yang membuatnya terkesima.

"Kayaknya kamu benar-benar beda ya sama cowok yang datang ke sini? Biasanya mereka cuma mau cari kesenangan aja tanpa mau peduli apa masalah yang terjadi sama siapa saja." Aku tersenyum lebar mendengar pujian dari dia.

"Ngak semua cowok kayak gitu kok, Mbak. Pasti ada kok yang baik. Ya, namanya juga kehidupan." sepertinya dia setuju dengan pernyataanku dan langsung menjelaskan masalah dia.

"Mungkin aja. Aku lagi butuh duit.." ucapnya singkat sambil menunduk.

"Maaf. Kalau boleh tau, butuh duit buat apa, Mbak?" Tanyaku penasaran.

Dan seperti kisah yang tak pernah berakhir uang selalu jadi masalah. Aku mengerti bahwa itu adalah permasalahkan klasik setiap orang yang membutuhkan duit untuk menyelesaikan sumber masalah. Kalau dia ngak butuh duit ngak mungkin juga dia ada disini buat bekerja.

"Ya, nasib jadi orang miskin. Tiba-tiba nyokapku kena penyakit. Ada benjolan di perut dia yang makin hari makin besar. Kemarin udah bawa ke Puskesmas sih, kata orang Puskesmas sih tumor ringan dan butuh operasi. Tau sendiri negar kita, apa-apa butuh duit. Nyokap mesti cepat-cepat dioperasi makanya aku butuh duit. Malah minggu ini lagi apes, ngak ada pelanggan sama sekali.."
jelas wanita itu yang belum aku tahu namanya panjang lebar. Sedangkan aku hanya mengangguk-anggukan saja kepalaku.

Mendengar nada bicaranya yang ceplas-ceplos entah kenapa aku jadi merasa iba dan merasa dia tidak sedang bercanda. Apalagi mengarang cerita kalau aku membantu dia.

"Kalau boleh tau, Nama Mbak siapa ya?" Dia menatapku sejenak.

"Veranda, panggil aja Ve. Kamu?" Tanyanya balik. Jujur aku tertegun mendengar namanya yang secantik orangnya sendiri.

"Aku Keynal."

Tiba-tiba dia terdiam setelah mengetahui namaku. Wajahnya tampak menahan rada sedih seumur hidup. Jujur, sebelumnya aku belum pernah melihat cewek sesedih itu, akhirnya aku jadi merasa serba salah.

"Kalau Mbak Ve beneran butuh duit aku bisa bantu tapi ngak banyak. Emangnya kira-kira butuh berapa sih buat biaya operasi nyokap Mbak Ve nya?"

Dia menatapku dengan tatapan yang tak yakin."Panggil Ve aja. Aku ngak suka dipanggil Mbak, kesannya jadi tua, lagian umur kita cuma beda tiga tahun.." katanya sambil menyeruput teh botol yang dari tadi dia genggam.

Aku tersenyum dan bisa menebak umur dia dua puluh tahun. "Oke, Ve."

"Kamu kan masih 17 tahun, mau dapat dari mana kekurangan aku 1,5 juta?" Sedikit terlonjak kaget akunya.

"Oh, Jadi kurangnya 1,5 juta? Tenang aja, Ve. Kalau segitu aku ada kok. Tapi gak bisa sekarang karena gak bawa uangnya. Kalau besok gimana?" Ucapku jujur dan ikhlas. Tapi yang membuatku bingung, dia malah tertawa kecil.

"Kamu jangan bercanda, Nal. Uang 1,5 juta itu ngak sedikit" Dia menunduk dan menatap ujung sepatunya.
"Aku sih udah sering digombalin sama pelanggan tapi kalau baru digombalin sama berondong baru kali ini." Ledeknya kembali.

"Sumpah. Aku ngak ngegombal, Ve." kataku sambil mengangkat jari telunjuk dan tengah sehingga membentuk huruf V ke langit. Karena tidak ingin dibilang berbohong pun akhirnya aku menggunakan cara lain.

"Gini deh. Nomor Handphone kamu berapa? Besok aku hubungin kamu buat ngasih uangnya. Tapi ngak disini ya, di tempat lain aja."

"Kamu serius?" Dia membulatkan kedua bola matanya. Rupanya Veranda juga percaya dengan kesungguhan ku.

Aku mengangguk tiga kali.

"Terserah kamu aja, mau dimana aja asal ngak gombal aku ladenin kok" tantang dia.

Aku merobek selembar kertas dari buku yang aku bawa sebagai alasan untuk bohong sama bonyok tentang belajar bersama dan memberikan pulpen untuk menuliskan nama dan nomor teleponnya.

Setelah selesai ia menyerahkan selembar kertas itu ke aku kembali.

"Ingat ya, Keynal. Aku ini bukan orang baik. Jadi pikir-pikir aja kalau mau bantu aku. Lagian aku ngak maksa, kok."

"Aku juga bukan orang baik dan bukan juga orang yang jahat. Kita hanya ditakdirkan di tempat yang salah dan ditakdirkan untuk mengenal dengan baik atau buruknya kita."

Dia terdiam. Menyimak kata-kataku yang baru saja keluar dari bibirku sendiri.

Tiba-tiba Farish keluar dari diskotik dan muncul diantara kami. Dia melihat Ve. Dan melihat Farish muncul akhirnya Ve pamit sama aku.

"Oke deh, Nal. Aku pamit dulu, doakan aja semoga ada yang bisa kasih aku hal lain selain kamu hari ini. Terima kasih udah ajak ngobrol dan teh botolnya."

"Iya, Ve. Sama-sama." jawabku melempar senyum.

Ve pun membalas membalas senyuman terakhirnya malam ini dan dari senyum itu aku tahu, dia pasti
berharap aku membantu dan kembali lagi untuk menolong dia. Sedangkan kecoa kesambet ini memandangku penuh arti dan tersenyum.

"Cantik tuh, Bro. Gak mau lu?"

"Lu udah gila ya? Gue masih waras dan punya agama, udah, ini terakhir kali gue nemenin lu kesini. Lain kali jangan ajak-ajak gue kesini lagi, ya!"

"Iya, iya.. Marah mulu nih bocah seharian. Mau balik gak? Udah jam 9 malam nih."

"Gue bayar teh botol dulu." Lalu aku keluarkan uang selembar dua puluh ribuan ke ibu penjaga Warung tersebut.

"Mas, tadi si Veranda itu ngomong apa-apa aja?" Tiba-tiba ibu penjaga Warung itu bertanya. Membuatku bingung.

"Oh.. Ngak banyak sih, Bu. Cuma cerita kalau dia ada masalah aja."Ibu itu kemudian menghela nafas. Membuatku alisku menyatu heran.

"Iya, kasihan dia, Mas. Cantik-cantik kok kerja di tempat kayak gini. Dia itu udah lama ngak dapat pelanggan, ibu aja kasihan sama dia, malah ibunya lagi sakit."
"Jadi, beneran ya Bu, ibunya lagi sakit?"
"Begitulah, Mas," ucap ibu itu sambil membereskan botol-botol.
Saat aku mau angkat kaki. Tiba-tiba bayangan Veranda kembali terlintas di benak aku. Kenapa perempuan secantik Veranda tidak ada yang tertarik sama dia sama sekali?
"Bu, maaf. Mau nanya.
Kenapa orang secantik Veranda ngak ada pelanggan, yah? Padahal
teman-temannya yang biasa aja malah ada yang mau."
Ibu itu berbisik dan mendekatkan bibirnya di telingaku. "Dengar-dengar dia itu kena penyakit sifilis, Mas." Aku beneran kaget dengan penuturan ibu itu.

"Hah? Penyakit apaan itu, Bu?" Tanyaku penasaran.

"Kayaknya penyakit kelamin gitu deh. Makanya banyak pelanggan yang takut sama dia. Yah, ibu juga kurang tau sih."

Entah penyakit apa yang disebut oleh ibu penjaga Warung itu. Akan tetapi aku bisa menilai bahwa penyakit itu yang membuat pelanggan jauh dari Veranda.

Setelah itu aku dan Farish pergi meninggalkan tempat itu. Farish mengantarkan ku sampai ke rumah. Sepanjang perjalanan aku terus kepikiran sama Veranda. Tanpa alasan yang jelas bayangan wajahnya dan kata-katanya membuatku begitu ingin membuktikan aku enggak bohong untuk membantu dia.

Veranda adalah perempuan yang cantik, dia mengalami hal yang berat dalam hidupnya sampai harus bekerja seperti demikian.
Aku melangkah ke lemari bajuku. Mengambil celengan berbentuk ayam jantanku yang selalu kugunakan untuk menabung uang jajanku. Tadinya uang itu akan aku gunakan untuk membeli PlayStation 3 impianku. Namun saat kepikiran Veranda, keinginan ku Kuurungkan begitu saja.
Dengan satu bantingan, celengan itu pecah. Aku menghitung uang yang telah terkumpul selama 1 bulan terakhir ini. Satu jutaan. Masih kurang lima ratus ribuan untuk membantu Veranda. Uang jajanku separuhnya lagi kuberikan untuk untuk Mama simpan supaya lebih aman. Dan sisanya inilah.

Yang terpenting sekarang, aku telah menyimpan nomor Veranda. Sehingga kalau sudah terkumpul semua, aku bisa langsung mengabarkan dia.

Perkiraanku, uang untuk membantu Veranda kira-kira ku kumpulkan sekitar seminggu lagi.

Dan entah dorongan dari mana, aku sampai begitu semangatnya mengumpulkan uang jajanku buat membantu Veranda. Sampai di sekolah pun aku berusaha untuk menghemat mati-matian demi dia.

Entah apa karena harga diri tidak ingin dibilang berondong tukang bohong atau janji palsu mengecewakan seseorang perempuan, akhirnya aku bertekad untuk membuktikan semuanya ke Veranda.

Itulah janji Aku dalam hati.
Diubah oleh dragonfly1212 09-02-2018 13:43
0
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.