- Beranda
- Stories from the Heart
Aku, Dia, Dan Mereka (Horor , pengorbanan, Petualangan) INSPIRED BY TRUE STORY
...
TS
lemsbox
Aku, Dia, Dan Mereka (Horor , pengorbanan, Petualangan) INSPIRED BY TRUE STORY
Selamat malam semua. Perkenalkan aku Resa. Aku akan menceritakan sebuah kisah sederhana dari pengalaman hidup yang aku alami. Tak semuanya nyata karena ini terinspirasi dari kisahku sendiri. Mohon hargai semua aturan yang sudah dibuat. Aku tak akan bertele-tele menjabarkan.
Spoiler for Siapa aku?:
Spoiler for Daftar menu:
Diubah oleh lemsbox 11-02-2018 19:55
tabernacle69 memberi reputasi
-1
19.3K
104
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
lemsbox
#52
Bagian 7 : Aku mulai berlatih dengan teman-teman kakek itu
"Bercandamu nggak lucu ndi! Jangan nakut-nakutin aku gitu dong ah!" Apa maksudnya ini? Kenapa ada acara aku diincar oleh mahluk-mahluk itu? Aku tak punya senjata atau mustika yang diincar oleh mereka!!
"Aku tidak bercanda wahai anak muda. Semua ini kulakukan untuk menolongmu."
"Nolong apaan? Kalau nolong ya kamu disini lindungi aku. Atau kalau nggak, suruh pasukanmu yang paling kuat jagain aku!
"Apa kau ingin mengatakan bahwa kau memang lemah dan penakut. Kamu manusia sempurna yang Tuhan ciptakan. Jika kamu membutuhkan bantuan mahluk yang lebih rendah darimu. Berarti kamu juga lebih rendah dari bangsa jin! "
"Yaudah yaudah..... beri aku kekuatan buat nglawan mereka. Keris atau apa aja dh. Syukur-syukur aku diberi ilmu kanuragan."
"Haha... kamu sungguh tidak menyadari bahwa dari lahir kamu sudah jadi anak yang terpilih. Jika kamu mau, dengan senjatamu, kau bisa menguasai dunia ini."
"Beneran aku punya kekuatan seperti itu ndi?? Apa itu diwarisin dari kakek buyutku?? Seperti apa bentuk senjataku ndi? Aku nggak nyangka kalau aku adalah keturunan orang hebat."
Andi hanya tertawa kecil sambil gelengkan kepala. Apa maksudnya dia? Padahal dia tau kekuatanku. Awas kau Andi, nanti kujadikan bubur!
"Manusia memang selalu lupa dan selalu bergantung pada angan serta harapan. Kamu memang anak yang terpilih. Terpilih oleh Tuhan untuk terlahir ke bumi. Kekuatan dan senjata terhebatmu adalah hatimu sendiri. Dengan hatimu, kamu bisa jadi orang jahat ataupun baik. Kau harus sadari itu. Baiklah aku akan segera pergi. Kuatkan imanmu, tak akan ada pasukanku yang akan menolongmu, karena sudah ada yang menjagamu, dan Dia Maha Kuat. Dialah Tuhanmu.
Blaaaaasshhh...... sekejap saja dia tak terlihat lagi. Aku ditinggalkan setan tua itu dengan kehampaan. Haruskah ku caci dia lagi? Hatiku sakit rasanya. Seperti tercabik duri tajam. Lebih sakit dari putus sama mantan. Ini antara hidup dan matiku woooy! Bagaimana jika aku dibunuh oleh salah satu jin yang sedang mengincarku?? Ahh..... rasanya menyesal aku percaya kepada mahluk seperti itu. Yang ada kini masalahku bertambah! Dasar mahluk sialan! Sudah datangnya mirip jelangkung. Pergi juga dengan menyisakan harapan palsu. Aku yakin dia juga hanya membual tentang Icha. Ah tai kucing sama Icha. Dia juga sudah lama menghilang. Tak mungkin secara kebetulan aku bertemu Icha lagi! Memang semua hanya mimpi dan tetap mimpi!! Rusak lagi moodku di pagi ini!
Lalu persiapan apa yang harus kulakukan untuk menghadapi mereka? Bodo amat, paling juga itu hanya gertak sambal saja untuk menakutiku. Mending aku tidur saja dan ber-andai bahwa ini mimpi lagi. Nanti aku juga terbangun di pagi lagi seperti kemarin. Baik, kuturuti apa maunya hatiku. Rebahkan tubuhku, pejamkan mataku, lalu aku tertidur..........
"Resa ayo bangun..... udah mau magrib, bangun nak. Kamu juga belum mandi kan."
"Haaah..... siapa kamu?! Siapa yang menyuruhmu kemari?! Aku punya teman yang sangat kuat! Pergi sekarang atau kupanggilkan dia!"
"Resa.... Resa... Resa.... ini ibu nak, kamu mimpi buruk yah?"
Astagaaaaa..... entah kerasukan setan apa aku ini. Mungkin juga karena ketakutan tanpa alasan. Aku mengira ibuku adalah jin. Saat tadi ibu menggoyangkan badanku untuk membangunkan. Hampir saja aku hantam dengan lenganku. Untung saja ibuku reflek langsung mundur.
"Kamu ini kenapa to sa? Masa ibu sendiri kamu sebut jin?
"Maafin aku bu. Tadi aku mimpi buruk bu." Kataku sambil membasuh peluh keringat yang menempel di dahiku.
"Ini karena kamu mau magrib malah masih tidur. Udah ayo bangun, mandi, sholat, habis itu makan bareng sama bapak. Bapak pulang tuh." Ucap ibu seraya pergi meninggalkanku.
Wahh ayah pulang. Rindu rasanya tak bertemu dengan ayahku. Kuceritakan ceuil cerita tentang pahlawan idolaku. Ayahku seorang pembalap, pembalap berpenumpang. Ya, dia adalah supir bus antar pulau. Seringnya 2 bulan sekali ayahku pulang setelah mengantarkan manusia yang rindu akan manusia lainnya. Rasanya aku akan banyak bercerita dengannya malam ini. Semangat hidupku kini bertambah 200% sekarang. Baiklah, sekarang waktunya mandi lalu bermunajat pada Pemilik jiwa ragaku! Hiyaaattt......
"Pak" ucapku pada pria gagah yang paling pantas untuk kurindukan ini. Aku langsung menyambar tangan ayahku dan menciumnya
Tak sering terjadi setelah aku beranjak dewasa. Ayahku langsung memelukku erat sembari mencium keningku. Kurasakan ada sedikit air mata yang membasahi lengan bajuku. Aku merasakan gejolak rindu yang begitu dahsyat pada pak tua ini. Pak tua yang giginya mulai berkurang satu demi satu. Pak tua yang jika tersenyum maka kelopak matanya akan menutup hampir sempurna. Pak tua yang tak pernah mengenal kata lelah demi menghidupi keluarganya. Pak tua yang kini telah kembali kepada Sang Robull alamin.
"Kamu sehat sa?" Tanya ayahku.
"Sehat dong pak, sekarang malah ibu kerajinan banget sampe siapin aku makan segala, kayak anak kecil deh haha." Celotehku.
"Mana nih oleh-oleh dari Palembangnya pak?" Tanyaku menyelidik, karena aku tau tiap ayahku pulang. Seringnya ayah membawakan oleh-oleh apapun itu.
"Tuh." Kata ayahku sambil memberi tanda dengan kepalanya.
Wow..... aku melihat ada karung yang nampaknya berisi penuh, entah apa isinya. Cepat-cepat saja aku menghambur ke arah karungnya. Aku tak sabar harta karun apa yang tersimpan di dalamnya.
"Waaaa...... empek-empek! Pesta empek-empek malam ini kita. Ayo bu, buruan digoreng buat cemilan makan malam kita!" Ternyata di dalamnya ada puluhan bungkus empek-empek Palembang!
Semua penghuni rumah terkekeh melihat kelakuanku yang mirip anak kecil. Mungkin jin-jin yang sedang mengincarku juga ikut tertawa.
Nyam... nyam.... nyam....
Rasanya perut tak akan ada kenyangnya saat bermusuhan dengan empek-empek. Mereka selalu berkata "lagi.. lagi.. lagi..!" Kehangatan terus terjalin di keluarga sederhana ini. Setidaknya hal ini sangat manjur membuatku melupakan seluruh masalah. Bisa kusebut "KELUARGA ADALAH CANDU YANG SEBENARNYA!"
Malampun mulai meninggi, rembulan juga mulai lelah untuk terus berpijar. Terkadang awan menutupi wajahnya. Mungkin saat itu rembulan sedang menguap dan dia malu untuk terlihat. Jadi meminta awan untuk menutupnya.
"Dah bapak tak tidur duluan yah nak. Kalian jangan pada begadang." Seru ayah pada adik dan aku yang sedang asik nge-mil sambil melihat tayangan di televisi.
"Iya pak." Jawab kami serempak.
Satu persatu keluargaku meninggalkan ruang tamu. Mereka menuju sarangnya masing-masing untuk melakukan hibernasi, lalu aku? Aku masih sibuk menyaksikan acara sambil tertawa walau semua itu hanyalah..... sandiwara!!!!!
Sandiwara yang kulakukan untuk membohongi hatiku. Pelan nan pasti, kepingan memori tentang kakek tua tadi kembali tersusun rapi di otakku. Kengerian-kengerian yang sejatinya belum hadir, mulai membangkitkan bulu romaku! Aku mulai parno, merasakan hawa pembunuh ada di sekelilingku! Aku takut mataku terpejam, karena bisa saja salah satu prajurit jin menusukku dengan panahnya demi kenaikan pangkat. Sedikit-sedikit aku celingak celinguk. Mencari dan waspada pada yang tak ada. Entah sudah berapa lama aku dalam mode ketakutan melebihi tingkat dewa. Stasiun televisi satu persatu hening. Mereka mungkin juga lelah menemaniku. Andai saat ini ada youtube. Mungkin dia yang kujadikan budak ketakutanku, walau berbuah tangisan kuota yang terkikis mb demi mb. Kenapa aku makin meracau??
Deng... deng... deng.....
Ya Tuhan.... aku terkejut hampir kencing di celana ketika mendengar denting dari jam tua yang terletak di belakangku. Aku tak berani menoleh karena aku tau sekarang sudah pukul berapa. 00.00 sebuah bulatan sakral yang kata kebanyakan orang adalah waktu dimana para mahluk lain dunia bergeliat menyerbu dunia.
"Bercandamu nggak lucu ndi! Jangan nakut-nakutin aku gitu dong ah!" Apa maksudnya ini? Kenapa ada acara aku diincar oleh mahluk-mahluk itu? Aku tak punya senjata atau mustika yang diincar oleh mereka!!
"Aku tidak bercanda wahai anak muda. Semua ini kulakukan untuk menolongmu."
"Nolong apaan? Kalau nolong ya kamu disini lindungi aku. Atau kalau nggak, suruh pasukanmu yang paling kuat jagain aku!
"Apa kau ingin mengatakan bahwa kau memang lemah dan penakut. Kamu manusia sempurna yang Tuhan ciptakan. Jika kamu membutuhkan bantuan mahluk yang lebih rendah darimu. Berarti kamu juga lebih rendah dari bangsa jin! "
"Yaudah yaudah..... beri aku kekuatan buat nglawan mereka. Keris atau apa aja dh. Syukur-syukur aku diberi ilmu kanuragan."
"Haha... kamu sungguh tidak menyadari bahwa dari lahir kamu sudah jadi anak yang terpilih. Jika kamu mau, dengan senjatamu, kau bisa menguasai dunia ini."
"Beneran aku punya kekuatan seperti itu ndi?? Apa itu diwarisin dari kakek buyutku?? Seperti apa bentuk senjataku ndi? Aku nggak nyangka kalau aku adalah keturunan orang hebat."
Andi hanya tertawa kecil sambil gelengkan kepala. Apa maksudnya dia? Padahal dia tau kekuatanku. Awas kau Andi, nanti kujadikan bubur!
"Manusia memang selalu lupa dan selalu bergantung pada angan serta harapan. Kamu memang anak yang terpilih. Terpilih oleh Tuhan untuk terlahir ke bumi. Kekuatan dan senjata terhebatmu adalah hatimu sendiri. Dengan hatimu, kamu bisa jadi orang jahat ataupun baik. Kau harus sadari itu. Baiklah aku akan segera pergi. Kuatkan imanmu, tak akan ada pasukanku yang akan menolongmu, karena sudah ada yang menjagamu, dan Dia Maha Kuat. Dialah Tuhanmu.
Blaaaaasshhh...... sekejap saja dia tak terlihat lagi. Aku ditinggalkan setan tua itu dengan kehampaan. Haruskah ku caci dia lagi? Hatiku sakit rasanya. Seperti tercabik duri tajam. Lebih sakit dari putus sama mantan. Ini antara hidup dan matiku woooy! Bagaimana jika aku dibunuh oleh salah satu jin yang sedang mengincarku?? Ahh..... rasanya menyesal aku percaya kepada mahluk seperti itu. Yang ada kini masalahku bertambah! Dasar mahluk sialan! Sudah datangnya mirip jelangkung. Pergi juga dengan menyisakan harapan palsu. Aku yakin dia juga hanya membual tentang Icha. Ah tai kucing sama Icha. Dia juga sudah lama menghilang. Tak mungkin secara kebetulan aku bertemu Icha lagi! Memang semua hanya mimpi dan tetap mimpi!! Rusak lagi moodku di pagi ini!
Lalu persiapan apa yang harus kulakukan untuk menghadapi mereka? Bodo amat, paling juga itu hanya gertak sambal saja untuk menakutiku. Mending aku tidur saja dan ber-andai bahwa ini mimpi lagi. Nanti aku juga terbangun di pagi lagi seperti kemarin. Baik, kuturuti apa maunya hatiku. Rebahkan tubuhku, pejamkan mataku, lalu aku tertidur..........
"Resa ayo bangun..... udah mau magrib, bangun nak. Kamu juga belum mandi kan."
"Haaah..... siapa kamu?! Siapa yang menyuruhmu kemari?! Aku punya teman yang sangat kuat! Pergi sekarang atau kupanggilkan dia!"
"Resa.... Resa... Resa.... ini ibu nak, kamu mimpi buruk yah?"
Astagaaaaa..... entah kerasukan setan apa aku ini. Mungkin juga karena ketakutan tanpa alasan. Aku mengira ibuku adalah jin. Saat tadi ibu menggoyangkan badanku untuk membangunkan. Hampir saja aku hantam dengan lenganku. Untung saja ibuku reflek langsung mundur.
"Kamu ini kenapa to sa? Masa ibu sendiri kamu sebut jin?
"Maafin aku bu. Tadi aku mimpi buruk bu." Kataku sambil membasuh peluh keringat yang menempel di dahiku.
"Ini karena kamu mau magrib malah masih tidur. Udah ayo bangun, mandi, sholat, habis itu makan bareng sama bapak. Bapak pulang tuh." Ucap ibu seraya pergi meninggalkanku.
Wahh ayah pulang. Rindu rasanya tak bertemu dengan ayahku. Kuceritakan ceuil cerita tentang pahlawan idolaku. Ayahku seorang pembalap, pembalap berpenumpang. Ya, dia adalah supir bus antar pulau. Seringnya 2 bulan sekali ayahku pulang setelah mengantarkan manusia yang rindu akan manusia lainnya. Rasanya aku akan banyak bercerita dengannya malam ini. Semangat hidupku kini bertambah 200% sekarang. Baiklah, sekarang waktunya mandi lalu bermunajat pada Pemilik jiwa ragaku! Hiyaaattt......
"Pak" ucapku pada pria gagah yang paling pantas untuk kurindukan ini. Aku langsung menyambar tangan ayahku dan menciumnya
Tak sering terjadi setelah aku beranjak dewasa. Ayahku langsung memelukku erat sembari mencium keningku. Kurasakan ada sedikit air mata yang membasahi lengan bajuku. Aku merasakan gejolak rindu yang begitu dahsyat pada pak tua ini. Pak tua yang giginya mulai berkurang satu demi satu. Pak tua yang jika tersenyum maka kelopak matanya akan menutup hampir sempurna. Pak tua yang tak pernah mengenal kata lelah demi menghidupi keluarganya. Pak tua yang kini telah kembali kepada Sang Robull alamin.
"Kamu sehat sa?" Tanya ayahku.
"Sehat dong pak, sekarang malah ibu kerajinan banget sampe siapin aku makan segala, kayak anak kecil deh haha." Celotehku.
"Mana nih oleh-oleh dari Palembangnya pak?" Tanyaku menyelidik, karena aku tau tiap ayahku pulang. Seringnya ayah membawakan oleh-oleh apapun itu.
"Tuh." Kata ayahku sambil memberi tanda dengan kepalanya.
Wow..... aku melihat ada karung yang nampaknya berisi penuh, entah apa isinya. Cepat-cepat saja aku menghambur ke arah karungnya. Aku tak sabar harta karun apa yang tersimpan di dalamnya.
"Waaaa...... empek-empek! Pesta empek-empek malam ini kita. Ayo bu, buruan digoreng buat cemilan makan malam kita!" Ternyata di dalamnya ada puluhan bungkus empek-empek Palembang!
Semua penghuni rumah terkekeh melihat kelakuanku yang mirip anak kecil. Mungkin jin-jin yang sedang mengincarku juga ikut tertawa.
Nyam... nyam.... nyam....
Rasanya perut tak akan ada kenyangnya saat bermusuhan dengan empek-empek. Mereka selalu berkata "lagi.. lagi.. lagi..!" Kehangatan terus terjalin di keluarga sederhana ini. Setidaknya hal ini sangat manjur membuatku melupakan seluruh masalah. Bisa kusebut "KELUARGA ADALAH CANDU YANG SEBENARNYA!"
Malampun mulai meninggi, rembulan juga mulai lelah untuk terus berpijar. Terkadang awan menutupi wajahnya. Mungkin saat itu rembulan sedang menguap dan dia malu untuk terlihat. Jadi meminta awan untuk menutupnya.
"Dah bapak tak tidur duluan yah nak. Kalian jangan pada begadang." Seru ayah pada adik dan aku yang sedang asik nge-mil sambil melihat tayangan di televisi.
"Iya pak." Jawab kami serempak.
Satu persatu keluargaku meninggalkan ruang tamu. Mereka menuju sarangnya masing-masing untuk melakukan hibernasi, lalu aku? Aku masih sibuk menyaksikan acara sambil tertawa walau semua itu hanyalah..... sandiwara!!!!!
Sandiwara yang kulakukan untuk membohongi hatiku. Pelan nan pasti, kepingan memori tentang kakek tua tadi kembali tersusun rapi di otakku. Kengerian-kengerian yang sejatinya belum hadir, mulai membangkitkan bulu romaku! Aku mulai parno, merasakan hawa pembunuh ada di sekelilingku! Aku takut mataku terpejam, karena bisa saja salah satu prajurit jin menusukku dengan panahnya demi kenaikan pangkat. Sedikit-sedikit aku celingak celinguk. Mencari dan waspada pada yang tak ada. Entah sudah berapa lama aku dalam mode ketakutan melebihi tingkat dewa. Stasiun televisi satu persatu hening. Mereka mungkin juga lelah menemaniku. Andai saat ini ada youtube. Mungkin dia yang kujadikan budak ketakutanku, walau berbuah tangisan kuota yang terkikis mb demi mb. Kenapa aku makin meracau??
Deng... deng... deng.....
Ya Tuhan.... aku terkejut hampir kencing di celana ketika mendengar denting dari jam tua yang terletak di belakangku. Aku tak berani menoleh karena aku tau sekarang sudah pukul berapa. 00.00 sebuah bulatan sakral yang kata kebanyakan orang adalah waktu dimana para mahluk lain dunia bergeliat menyerbu dunia.
itkgid memberi reputasi
1