- Beranda
- Stories from the Heart
Mata Batin They Among Us Chapter 1 [End]
...
TS
roni.riyanto
Mata Batin They Among Us Chapter 1 [End]
SELAMAT DATANG DI THREAD HORROR ANE YANG SEDERHANA
![Mata Batin They Among Us Chapter 1 [End]](https://dl.kaskus.id/i.pinimg.com/736x/ac/9e/c8/ac9ec8d17096742f52ebfbdcc70fa7e7--dark-art-photography-creepy-photography.jpg)
Assalamualaikum wr.wb
Spoiler for Pembukaan:
![Mata Batin They Among Us Chapter 1 [End]](https://dl.kaskus.id/3.bp.blogspot.com/-ne_rDQngRD8/Vk1ychXHIHI/AAAAAAAAJFs/GTFL1J3f6Mw/s1600/hantu%2Bpocong%2Bmenyeramkan.jpg)
Quote:
imut ya gan 

Quote:
PROLOG
Quote:
Kamu percaya hantu?
Atau kamu pernah Bertemu dengan mereka ?
ini adalah Kisahku.
Namaku Roni seorang berusia dua puluh satu tahun yang berprofesi sebagai penulis.
berawal dari rasa penasaranku melihat dunia lain untuk bahan tulisan dibuku baruku.
aku nekat membuka mata batinku sendiri dengan mencoba banyak ritual.
hingga suatu hari mendapati diriku mulai dapat melihat keberadaan MEREKA.
Siapa sangka ternyata setelah aku membuka mata batinku masalah demi masalah muncul,
dan ternyata masalah tersebut mengancam keselamatanku dan adikku Sheril . .
Atau kamu pernah Bertemu dengan mereka ?
ini adalah Kisahku.
Namaku Roni seorang berusia dua puluh satu tahun yang berprofesi sebagai penulis.
berawal dari rasa penasaranku melihat dunia lain untuk bahan tulisan dibuku baruku.
aku nekat membuka mata batinku sendiri dengan mencoba banyak ritual.
hingga suatu hari mendapati diriku mulai dapat melihat keberadaan MEREKA.
Siapa sangka ternyata setelah aku membuka mata batinku masalah demi masalah muncul,
dan ternyata masalah tersebut mengancam keselamatanku dan adikku Sheril . .
Quote:
FAQ:
Q: cerita dan karakter disini nyata gan ?
A: alur dan karakter disini fiksi, namun semua kejadian mistisnya diangkat dari pengalaman nyata TS dan kawan2 TS.
Q: TS pernah bibuka mata batin ?
A: pernah
, namun sekarang sudah ditutup karena alasan risih, bukan takut 
Q: risih kenapa gan ?
A: risih karena dikit2 kaget,dikit2 mual dan risih pas mandi ditongrongin neng kunti.
Q: jadi ini cuma karangan gan ?
A: cerita utama memang dikarang, namun kejadian mistis yang dialami oleh karakter sepenuhnya nyata pernah dialami TS dan kerabat TS
tapi untuk keseimbangan cerita ane tambahin unsur Fiksi biar ceritanya lebih dapet
Q: kapan update nya gan ?
A: biasanya saya update jam 20.00-24.00 Karena TS sedang sekolah bahasa updatenya cuma bisa seminggu sekali gansis. Update tiap malam minggu
Q: cerita dan karakter disini nyata gan ?
A: alur dan karakter disini fiksi, namun semua kejadian mistisnya diangkat dari pengalaman nyata TS dan kawan2 TS.
Q: TS pernah bibuka mata batin ?
A: pernah
, namun sekarang sudah ditutup karena alasan risih, bukan takut 
Q: risih kenapa gan ?
A: risih karena dikit2 kaget,dikit2 mual dan risih pas mandi ditongrongin neng kunti.
Q: jadi ini cuma karangan gan ?
A: cerita utama memang dikarang, namun kejadian mistis yang dialami oleh karakter sepenuhnya nyata pernah dialami TS dan kerabat TS
tapi untuk keseimbangan cerita ane tambahin unsur Fiksi biar ceritanya lebih dapetQ: kapan update nya gan ?
A: biasanya saya update jam 20.00-24.00 Karena TS sedang sekolah bahasa updatenya cuma bisa seminggu sekali gansis. Update tiap malam minggu
Quote:
Kalau agan dimari suka cerita saya, mohon untuk
share gan dan juga komengnya 
yang udah iso boleh timpuk ane pake
share gan dan juga komengnya 
yang udah iso boleh timpuk ane pake

Selamat Membaca
Quote:
PENTING
Just Info untuk Thread ini ane akan buat tamat di chapter 1, untuk lanjutan ceritanya bisa dibaca nanti di chapter 2 yang akan di posting di thread baru segera.
Terima Kasih
INDEX PART
Kesan Pertama (pengenalan bagi Roni )
1. Dunia lain
2. Buka Mata Batin
3. Penghuni Rumah
4. Hantu Penglaris
5. Hantu Anak Kecil
Sisipan sekilas Linda
POPI
6. Hantu Siswi
7. Hantu Penunggu Sekolah
8. Dijilat Hantu /
9. Hantu Toilet
SHERIL
10. Hantu Toilet 2
Biografi Karakter
11. Jurig Kincir 1..
12. Jurig Kincir 2 ..
Sisipan Real Story si Bray
13. Jurig Kincir (Sheril)
LINDA
14. Uyut Catam
15. Rumah Linda
16. Saingan Linda (Sheril)
17. Kematian Linda
GALIH
18. Kemah di Curug 18 Januari 2018
19. Sesajen 19 Januari 2018
20. Sesajen part Dua 20 Januari 2018
21. Sesajen part Tiga 21 Januari 2018
22. Buntelan kecil 27 Januari 2018
Cerpen Cheesecake
23. buntelan kecil dua 7 Februari 2018
24. Wanita ? 11 Februari 2018
25. Wanita Dua 24 Februari 2018
AYU
26. Kemah lagi 10 Maret 2018
27. Sareupna 17 Maret 2018
28. Bingung 24 Maret 2018
SHERIL (2)
29.Mimpi (Sheril) 26 Maret 2018
30. Rumah Anggi (Sheril) 31 Maret 2018
31. Siapa? (Sheril) 15 April 2018
RONI1. Dunia lain
2. Buka Mata Batin
3. Penghuni Rumah
4. Hantu Penglaris
5. Hantu Anak Kecil
Sisipan sekilas Linda
POPI
6. Hantu Siswi
7. Hantu Penunggu Sekolah
8. Dijilat Hantu /
9. Hantu Toilet
SHERIL
10. Hantu Toilet 2
Biografi Karakter
11. Jurig Kincir 1..
12. Jurig Kincir 2 ..
Sisipan Real Story si Bray
13. Jurig Kincir (Sheril)
LINDA
14. Uyut Catam
15. Rumah Linda
16. Saingan Linda (Sheril)
17. Kematian Linda
GALIH
18. Kemah di Curug 18 Januari 2018
19. Sesajen 19 Januari 2018
20. Sesajen part Dua 20 Januari 2018
21. Sesajen part Tiga 21 Januari 2018
22. Buntelan kecil 27 Januari 2018
Cerpen Cheesecake
23. buntelan kecil dua 7 Februari 2018
24. Wanita ? 11 Februari 2018
25. Wanita Dua 24 Februari 2018
AYU
26. Kemah lagi 10 Maret 2018
27. Sareupna 17 Maret 2018
28. Bingung 24 Maret 2018
SHERIL (2)
29.Mimpi (Sheril) 26 Maret 2018
30. Rumah Anggi (Sheril) 31 Maret 2018
31. Siapa? (Sheril) 15 April 2018
32. Ikan? 22 April 2018
33. Bayangan 29 April 2018
34. Masa Lalu 7 mei 2018
35. HATI 16 Mei 2018 ( Late Post)
36. Kakak 7 Juli 2018(Sheril)
37. Kakak-2 14 Agustus 2018(Sheril)
38. Perjalanan 3 Oktober 2018(Sheril)
BEGINNING
39. Permulaan 27 Oktober 2018(Sheril)
Teaser Chapter 2
Selamat pagi/siang/malam gansis yang suka mampir ke Thread ini, ane cuma mau bilang maaf karena ane baka vacum di dunia perinternetan untuk waktu yang bakalan lama. sebenernya udah ada lanjutan chapter 2 cuma ane ngerasa sangsi buat postingnya karena belum selesai 100%. jadi buat agan dan sista yang nunggu kelanjutannya harus berlapang dada karena ane mau vacum karena suatu alasan.
Terimakasih
Salam Kentang
Polling
Poll ini sudah ditutup. - 80 suara
Gimana Ceritanya Gan ?
Bagus Ceritanya Serem.
65%
Lumayan Seram,
28%
Boring Gan .
8%
Diubah oleh roni.riyanto 10-01-2019 16:41
sulkhan1981 dan 9 lainnya memberi reputasi
8
307.2K
Kutip
1.7K
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
roni.riyanto
#974
Quote:
Aku mendengar suara perempuan, suara yang kukenal yaitu suara istri Galih. Aku menoleh kearahnya dan ternyata benar, namun dia tidak sendiri , dia bersama seorang Gadis muda yang sangat cantik.
Part 23
“Roni?” ujar gadis itu dengan nada terkejut.
Aku juga merasa terkejut kenapa gadis ini bisa mengenaliku, namun perasaan terkejut itu terjawab ketika aku memperhatikan lebih seksama bahwasannya gadis ini tak lain adalah Popi. Dia terlihat berbeda karena menggunakan pakaian dress one piece dan juga role make up yang natural, aku sampai tidak ngeuh itu adalah Popi.
“Popi? Kamu ngapain disini?”
Popi tidak menjawab, dia malah bersembunyi dibalik badan istri Galih. Wajahnha terlihat tersipu malu saat dia sadar aku mengenalinya.
“Kalian udah saling kenal?” ujar Istri Galih.
Aku tidak menjawab dan Popi masih bersembunyi dibalik badan istri Galih, kami berdua malah menjadi canggung, padahal beberapa hari yang lalu kami sangat dekat ketika ada acara disekolah.
“Eh mbak, iya udah saling kenal.. “
“Kok manggil mbak sih, kan kita seumuran Ron, jangan-jangan kamu lupa nama aku yah?” ujar istri Galih.
“Eh maaf mbak saya lupa” jawabku sambil menggaruk kepalaku.
“Nama saya Ratna, padahal gampang diinget Loh namanya . kaya judul film “
“Oh iya mbak Ratna”
“Ya ampun itu udah pake Mbak Lagi” keluh Ratna sambil menggelengkan kepala.
“Mungkin factor wajah kali mah makanya keliatan tua” celetuk Galih.
“Apa Ayah bilang?” Ratna berkata dengan memasang wajah senyum jahat dan berjalan kearah Galih dengan Popi masih bersembunyi dibalik badannya.
Galih terlihat panic namun tetap berusaha tenang dengan menyeruput teh manisnya, Yana dan Ipin hanya terdiam saja, mungkin mereka merasakan aura kekuatan seorang istri yang sedang marah. Sesekali Popi mengarahkan pandangannya kepadaku dengan tangan masih memagangi baju Ratna.
“Eh enggak kok mah, becanda mah becanda elah masa gitu aja marah” Ujar Galih dengan ekspresi memohon.
Ratna tidak menghiraukan ucapan Galih dan tetap memasang wajah jahatnya dan tak lama menjewer kuping Galih.
“Ampun mah ampun elah baperan amat mamah nih ah”
“Bukan baperan pah, tapi udah kodrat”
Kami semua hanya bisa melihat Galih meringis kesakitan bak seorang anak yang dihukum oleh ibunya, Ratna terus menjewer Galih untuk beberapa belas detik. Aku,Yana dan Ipin mulai bergidik sendiri jika membayangkan kelak memiliki istri yang galaknya seperti istri Galih.
“Ya udah yah para cowok kami para cewek mau masuk kedalem dulu istirahat, yang cowok juga jangan begadang besok kan berangkat Pagi” ujar Ratna mengingatkan.
Kemudian dia masuk kedalam rumah bersama Popi yang masih mengintil dibelakang badan Ratna, aku heran kenapa Popi bisa semalu itu, padahal beberapa hari yang lalu dia terlihat sangat friendly.
“Woy Ron nape lu, ngeliat tuh cewek ampe segitunya. Naksir ya Lu?” Tanya Galih yang sedang memegangi telinganya.
“Iya bang, abang suka ya sama mbak Popi?” Yana ikut menimpali.
“Wajar sih Mbak Popi kan cantik, lembut pula gak kayak Mbak Ratna” Bahkan Ipin yang notabene adik Ratna sependapat jika Popi cantik.
Mereka semua memandangiku dengan mata penuh kecurigaan, dan juga terlihat mereka sepertinya sangat ingin mengetahui ada hubungan apakah antara Aku dan Popi.
“Eh enggak kok, kita baru aja kenal beberapa hari kemaren. Kebetulan Popi itu guru yang ngajar di SMA adek gue”
Tidak ada respon berarti dari mereka saat mendengar jawabanku, yang ada mereka malah semakin memasang wajah penasaran dan mata yang semakin mendelik.
“Ah yang bener gak ada apa-apa lu sama Popi, kok Popi kaya malu sama takut gitu ngeliat elu. Abis elu apain dia Ron?”
Galih bertanya dengan nada curiga dan matanya yang terlihat makin mendelik. Yana dan Ipin pun demikian, mata mereka menatapku seolah-olah aku sudah melakukan hal yang tidak-tidak terhadap Popi.
“Gue kagak ngapa-ngapain kok sama dia ..Suer,,” aku mencoba menjelaskan.
Mereka semua memberikan Respon tak berarti, mereka menatapku dengan tatapan seperti menyalahkan. Dan kampretnya aku malah memasang ekspresi seolah aku memang melakukan hal yang aneh terhadap Popi.
“Kampret, napa gue malah ngerasa kaya yang bersalah gini. Padahal gue gak ngapa-ngapain” ujarku dalam hati.
Ditengah suasana seperti ini aku mencoba mengingat-ngingat semua kejadian yang kualami bersama Popi, aku khawatir aku melakukan kesalahan yang tidak aku sadari. Karena biasanya tanpa sadar wanita akan merasa disakiti lelaki meskipun si lelaki tidak merasa melakukan apa-apa.
“HHAHAHAH”
Tiba-tiba mereka bertiga tertawa bersamaan dan terlihat sangat puas melihat ekspresiku yang sedang kebingungan, dan sekarang aku menjadi bingung sungguhan karena mereka tiba-tiba tertawa.
“Anjir lucu banget Ron muke lu ,,harusnya lu liat dah” Galih tertawa dengan keras.
“Iya bang lucu banget harusnya abang liat tadi” Yana menimpali.
Setelah suasana menjadi cukup tenang, dan kami semua tidak bercanda lagi tentang kenapa Popi, kami mulai mengobrol ngalor ngidul sambil bercerita apa saja yang kami alami setelah dua tahun tidak bertemu.
“Yan sekarang lu kerja apaan?” tanyaku kepada Yana.
“Saya sekarang Cuma bantu orangtua aja bang disawah, lagi jenuh aja sekarang bang makanya saya ikutan camping bareng bang Galih” jawabnya.
Aku melihat kearah Ipin, pemuda yang dulu ketika kemah membuat Galih marah karena dia yang malah merepotkan Pak RW.
“Kalo kamu sekarang ngapain Pin?”
“Saya kerja dipabrik deket rumah bang yang ada diperbatasan desa, tadi abang liat kan pas mau kesini tadi?”
Aku mencoba mengingat-ngingat dan memang benar ada satu pabrik tekstil yang cukup besar, dan lokasinya sangat mencolok karena bersebelahan dengan kebun dan pemakaman umum.
“Terus besok kamu gak kerja?” tanyaku kepadanya.
“Besok saya udah cuti bang 4 hari, sayang kalo gak dipake entarnya hangus cutinya”
Yang terjadi selanjutnya adalah kami bermain kartu remi sambil melepas kangen setelah sekian lama tidak bertemu. Galih dan Yana tidak banyak berubah, namun Ipinlah yang terlihat berbeda, sekarang dia kelihatan tidak penakut lagi, berdasarkan penuturannya dia mengaku pernah mengikuti semacam perkumpulan ilmu kebatinan.
“Eh Lih lu kenal sama Popi dah lama?” tanyaku sambil membagikan kartu remi.
“Udah satu tahun lebihan lah, semenjak nikah aja dia suka main kesini kadang nginep. Emang kenapa?”
“Hah nginep?” aku bertanya dengan wajah masam.
“Gak usah khawatir, gue lebih sayang sama nyawa gue daripada harus nekat nidurin Popi. Mau digorok ama Bini gue ntar,,, hiiiii” ujar Galih sambil bergidik.
Kami semua tertawa mendengar Galih berkata demikian, karena jika dilihat dari wajahnya sangatlah tidak cocok Galih menjadi suami takut istri.
“Lih emang si Popi suka malu gitu ya kalo diajak ngomong?” lanjutku.
‘“Maksudnya gimana Ron? Kaya tadi gitu ngumpet?”
Aku menjawab hanya dengan anggukan saja.
“Si Popi itu orangnya emang pemalu sama pendiem, gak banyak omong pula. Tapi dia baik sih sejauh yang gue tau mah”
“Pemalu sama pendiem apaan, lu kagak tau aja dia udah ngelakuin apa aja ke gue, hmmm tapi bener juga sih tadi malunya Popi keliatan natural kayak bukan akting. Kenapa dia gitu ya? Apa dia punya kepribadian ganda?” gumamku dalam hati.
“Emangnya kenapa bang kayaknya penasaran banget sama mbak Popi?” ujar Ipin.
“Eh gak apa-apa kok Pin, aneh aja Popi kemaren-kemaren mah gak malu-malu kayak gitu”
Ipin tidak merespon dan hanya memandangiku saja,begitu juga dengan Yana dan Galih. Kami melanjutkan permainan, memang yah dasar laki-laki, Bukannya istirahat buat persiapan besok malah begadang main remi. Aku merasa sedikit aneh dengan malam ini, aku tidak melihat sosok Ghaib apapun dikawasan rumah Galih, apakah mata batinku tertutup lagi?
“Ciek….ciek…ciek !!”
Terdengar suara anak ayam dari arah halaman pinggir rumah Galih, disana terdapat pohon beringing yang cukup besar. Aku mencoba mengengok kearah sana namun belum terlihat apa-apa, aku menjadi khawatir apa mata batinku tertutup untuk kedua kalinya.
“Ciek…ciek…”
Suara anak ayam tersebut kembali terdengar bahkan semakin jelas, kulihat Teman-temanku bersikap santai saja seolah tidak ada apa-apa. Aku tanpa sadar terus memandangi pohon beringin tempat suara itu berasal.
“Udah Ron gak usah dicari tuh anak ayam gak bakalan ketemu, mana ada anak ayam jam segini keliaran, udah jam setengah satu ini Ron” ujar Galih santai.
“Iya bang udah biarin aja..udah biasa itu “ timpal Ipin dan Yana tidak berkomentar.
Akupun tau bahwa ini bukanlah suara anak ayam sungguhan, aku pernah mendengar jika suara “PITIK” atau anak ayam pada malam hari adalah salah satu pertanda akan kehadiran makhluk bernama kuntilanak.
“Huuuuuhuhuuuuu…huuuuuhuhuhuhu”
Kini suara anak ayam berganti menjadi suara perempuan menangis, aku melihat dengan jelas Yana dan Galih badannya untuk beberapa detik bergidik, sepertinya bukan aku saja yang mendengar.
Tiba-tiba aku merasakan sensasi merinding dan merasa seperti ada yang memperhatikanku dari jauh, dan benar saja ketika aku melihat kearah Pohon beringin disana berdiri sesosok wanita bergaun putih berambut panjang sedang menatap kearahku, dan kuntilanak yang kulihat ini matanya menyala berwarna oranye.
Untuk beberapa belas detik aku dan maklhuk itu memandang satu sama lain, mungkin karena aku melihat kearah Pohon dengan waktu yang cukup lama sampai-sampai sat tiba giliranku membuang kartu, aku malah tertegun mematung.
“Bang napa diem bang? Liat apaan?” Yana bertanya dengan wajah khawatir.
“Eh gak apa-apa kok Yan” jawabku pelan.
Aku belum memberitahu kepada Galih dkk perihal aku memliliki mata batin, aku merasa mungkin untuk saat ini sebaiknya aku jangan dulu memberitahu mereka.
“Udahan yuk ah besok pagi kan berangkat kita, jangan begadang”
Galih berkata dengan wajah seperti merasa ngeri namun berusaha tetap tenang, begitupun dengan Yana. Mereka berduapun masuk kedalam rumah menyisakan aku dan Ipin dan juga miss kunkun tentunya.
“Huuuhuhuhu…huuuuuhuhuhu”
Suara tangis tersebut terdengar semakin pilu, aku yakin jika kalian medengarnya langsuns pasti akan merinding dengan seketika. Aku terus menatap kearah kuntilanak tersebut yang menangis dengan mata melotot marah kearahku, bingung kan nangis tapi kelihatan marah?
“Udah bang jangan diliatin terus dianya, yuk ah masuk” Ujar Ipin seraya berdiri dari posisi sila.
“Kamu bisa ngeliat Pin?”
“Enggak bang, Cuma aku pernah liat dia beberapa kali nampakin diri ke aku udah yuk ah masuk”
“Itu motor gimana belum pada dimasukkin Pin?”
“Gak apa-apa bang kan pagernya udah dkunci tadi sama bang Galih, udah kita masuk aja didalem ngobrolnya”
Aku menuruti perkataan Ipin yang kupikir sudah bijak dan tidak penakut seperti dua tahun lalu, kami berdua masuk meninggalkan kuntilanak tersebut. Sambil berjalan aku terus menatap kearah kuntilanak tersebut yang terlihat masih memelototiku.
Didalam rumah aku melihat diruangan tengah sudah tertata rapi kasur lantai, mungkin Ratna yang menyiapkan. Galih dan Yana tampak sudah tidur pulas terdengar dari suara ngorok mereka, sementara Ipin menggulingkan badannya dikasur lantai disamping Yana.
“Pin kamar Mandinya dimana ya? Saya baru pertama kali masuk kedalem rumah soalnya, dulu main Cuma dluar” ujarku karena merasa ingin kencing.
“Lurus aja bang terus nanti belok kiri, keliatan dapur terus ada pintu plastic itu kamar mandinya bang !”
Sesuai dengan arahan Ipin aku mulai berjalan kekamar mandi sesuai arahan dari Ipin, aku berjalan lurus hingga akhirnya aku berbelok kerah kiri. Ketika berbelok aku melihat ada kain hitam legam seperti tertiup angina, sontak aku heran karena aku sangat yakin tidak ada angina yang berhembus didalam ruangan ini.
Aku menghentikan langakah kakiku, batinku berkata ini bukanlah kain biasa karena kain ini keberadaannya tidak jelas apa fungsinya. Kulangkahkan kaki perlahan mendekati kain tersebut, dan ternyata benar dugaanku kain ini bukan kain biasa karena aku melihat dengan jelas kain ini mundur menjauhiku.
Ketika aku mempercepat langkah kakiku, kain hitam itu melesat dan menjauh dari pandangan hingga tak terlihat lagi. Ini adalah kali pertama aku melihat sosok ghaib yang tidak berwujud makhluk hidup, hanya berupa kain. Memang aku pernah mendengat cerita hantu lulung samak ( hantu tikar) yang biasanya ada di danau dan menenggelamkan korbannya.
Aku melanjutkan langkahku karena kantung kemihku sudah terasa meluap-luap karena menahan terlalu lama, dan dengan cepat aku menunaikan panggilan alamku.
“Rep….”
Tiba-tiba listrik mati, dikamar mandi sangat gelap tidak terlihat apa-apa. Aku mencoba merogoh sakuku mencari HP untuk kujadikan senter, namun aku ingat HP ku disimpan diteras ketika bermain kartu.
“Duh ceroboh banget dah gue”
Tiba-tiba aku merasakan bagian perutku hangat, dan sungguh aku terkejut melihat fenomena yang kualami saat ini. Dibalik jaket fleece ku terpancar cahaya putih, aku sempat ragu untuk mengeluarkan benda bercahaya yang ada disaku jaket. Namun aku memberanikan diri untuk mengeluarkannya.
Aku kaget bukan main karena yang bercahaya adalah buntelan yang diberikan oleh nenek dicurug, dan yang paling membuatku terkejut selain karena benda ini bercahaya. Aku juga heran kenapa buntelan ini ada didalam saku jaketku? Padahal aku sangat yakin sebelum berangkat aku memasukannuya kedalam ranselku.
Cahaya yang dipancarkan buntelan ini cukup terang, aneh sekali cahaya terpancar dari sebuah buntelan yang terbuat dari kain. Aku sangat terkesima dengan fenomena yang kulihat sekarang ini, sangat aneh menurutku.
Akhirnya aku menggunakan cahaya dari buntelan ini sebagai alat penerangan, aku berjalan kearah ruangan tengah untuk bergabung dengan yang lainnya
“Brug..!!!”
Terdengar suara benda jatuh diatas atap dengan keras, aku merasa kaget sampai-sampai buntelan yang kupegang terjatuh.
“ANJING PERGI LU .... JANGAN GANGGU GUE ”
Aku mendengar umpatan kasar dari suara yang sangat familiar, yaitu suara Popi.
BERSAMBUNG
Part 23
“Roni?” ujar gadis itu dengan nada terkejut.
Aku juga merasa terkejut kenapa gadis ini bisa mengenaliku, namun perasaan terkejut itu terjawab ketika aku memperhatikan lebih seksama bahwasannya gadis ini tak lain adalah Popi. Dia terlihat berbeda karena menggunakan pakaian dress one piece dan juga role make up yang natural, aku sampai tidak ngeuh itu adalah Popi.
“Popi? Kamu ngapain disini?”
Popi tidak menjawab, dia malah bersembunyi dibalik badan istri Galih. Wajahnha terlihat tersipu malu saat dia sadar aku mengenalinya.
“Kalian udah saling kenal?” ujar Istri Galih.
Aku tidak menjawab dan Popi masih bersembunyi dibalik badan istri Galih, kami berdua malah menjadi canggung, padahal beberapa hari yang lalu kami sangat dekat ketika ada acara disekolah.
“Eh mbak, iya udah saling kenal.. “
“Kok manggil mbak sih, kan kita seumuran Ron, jangan-jangan kamu lupa nama aku yah?” ujar istri Galih.
“Eh maaf mbak saya lupa” jawabku sambil menggaruk kepalaku.
“Nama saya Ratna, padahal gampang diinget Loh namanya . kaya judul film “
“Oh iya mbak Ratna”
“Ya ampun itu udah pake Mbak Lagi” keluh Ratna sambil menggelengkan kepala.
“Mungkin factor wajah kali mah makanya keliatan tua” celetuk Galih.
“Apa Ayah bilang?” Ratna berkata dengan memasang wajah senyum jahat dan berjalan kearah Galih dengan Popi masih bersembunyi dibalik badannya.
Galih terlihat panic namun tetap berusaha tenang dengan menyeruput teh manisnya, Yana dan Ipin hanya terdiam saja, mungkin mereka merasakan aura kekuatan seorang istri yang sedang marah. Sesekali Popi mengarahkan pandangannya kepadaku dengan tangan masih memagangi baju Ratna.
“Eh enggak kok mah, becanda mah becanda elah masa gitu aja marah” Ujar Galih dengan ekspresi memohon.
Ratna tidak menghiraukan ucapan Galih dan tetap memasang wajah jahatnya dan tak lama menjewer kuping Galih.
“Ampun mah ampun elah baperan amat mamah nih ah”
“Bukan baperan pah, tapi udah kodrat”
Kami semua hanya bisa melihat Galih meringis kesakitan bak seorang anak yang dihukum oleh ibunya, Ratna terus menjewer Galih untuk beberapa belas detik. Aku,Yana dan Ipin mulai bergidik sendiri jika membayangkan kelak memiliki istri yang galaknya seperti istri Galih.
“Ya udah yah para cowok kami para cewek mau masuk kedalem dulu istirahat, yang cowok juga jangan begadang besok kan berangkat Pagi” ujar Ratna mengingatkan.
Kemudian dia masuk kedalam rumah bersama Popi yang masih mengintil dibelakang badan Ratna, aku heran kenapa Popi bisa semalu itu, padahal beberapa hari yang lalu dia terlihat sangat friendly.
“Woy Ron nape lu, ngeliat tuh cewek ampe segitunya. Naksir ya Lu?” Tanya Galih yang sedang memegangi telinganya.
“Iya bang, abang suka ya sama mbak Popi?” Yana ikut menimpali.
“Wajar sih Mbak Popi kan cantik, lembut pula gak kayak Mbak Ratna” Bahkan Ipin yang notabene adik Ratna sependapat jika Popi cantik.
Mereka semua memandangiku dengan mata penuh kecurigaan, dan juga terlihat mereka sepertinya sangat ingin mengetahui ada hubungan apakah antara Aku dan Popi.
“Eh enggak kok, kita baru aja kenal beberapa hari kemaren. Kebetulan Popi itu guru yang ngajar di SMA adek gue”
Tidak ada respon berarti dari mereka saat mendengar jawabanku, yang ada mereka malah semakin memasang wajah penasaran dan mata yang semakin mendelik.
“Ah yang bener gak ada apa-apa lu sama Popi, kok Popi kaya malu sama takut gitu ngeliat elu. Abis elu apain dia Ron?”
Galih bertanya dengan nada curiga dan matanya yang terlihat makin mendelik. Yana dan Ipin pun demikian, mata mereka menatapku seolah-olah aku sudah melakukan hal yang tidak-tidak terhadap Popi.
“Gue kagak ngapa-ngapain kok sama dia ..Suer,,” aku mencoba menjelaskan.
Mereka semua memberikan Respon tak berarti, mereka menatapku dengan tatapan seperti menyalahkan. Dan kampretnya aku malah memasang ekspresi seolah aku memang melakukan hal yang aneh terhadap Popi.
“Kampret, napa gue malah ngerasa kaya yang bersalah gini. Padahal gue gak ngapa-ngapain” ujarku dalam hati.
Ditengah suasana seperti ini aku mencoba mengingat-ngingat semua kejadian yang kualami bersama Popi, aku khawatir aku melakukan kesalahan yang tidak aku sadari. Karena biasanya tanpa sadar wanita akan merasa disakiti lelaki meskipun si lelaki tidak merasa melakukan apa-apa.
“HHAHAHAH”
Tiba-tiba mereka bertiga tertawa bersamaan dan terlihat sangat puas melihat ekspresiku yang sedang kebingungan, dan sekarang aku menjadi bingung sungguhan karena mereka tiba-tiba tertawa.
“Anjir lucu banget Ron muke lu ,,harusnya lu liat dah” Galih tertawa dengan keras.
“Iya bang lucu banget harusnya abang liat tadi” Yana menimpali.
Setelah suasana menjadi cukup tenang, dan kami semua tidak bercanda lagi tentang kenapa Popi, kami mulai mengobrol ngalor ngidul sambil bercerita apa saja yang kami alami setelah dua tahun tidak bertemu.
“Yan sekarang lu kerja apaan?” tanyaku kepada Yana.
“Saya sekarang Cuma bantu orangtua aja bang disawah, lagi jenuh aja sekarang bang makanya saya ikutan camping bareng bang Galih” jawabnya.
Aku melihat kearah Ipin, pemuda yang dulu ketika kemah membuat Galih marah karena dia yang malah merepotkan Pak RW.
“Kalo kamu sekarang ngapain Pin?”
“Saya kerja dipabrik deket rumah bang yang ada diperbatasan desa, tadi abang liat kan pas mau kesini tadi?”
Aku mencoba mengingat-ngingat dan memang benar ada satu pabrik tekstil yang cukup besar, dan lokasinya sangat mencolok karena bersebelahan dengan kebun dan pemakaman umum.
“Terus besok kamu gak kerja?” tanyaku kepadanya.
“Besok saya udah cuti bang 4 hari, sayang kalo gak dipake entarnya hangus cutinya”
Yang terjadi selanjutnya adalah kami bermain kartu remi sambil melepas kangen setelah sekian lama tidak bertemu. Galih dan Yana tidak banyak berubah, namun Ipinlah yang terlihat berbeda, sekarang dia kelihatan tidak penakut lagi, berdasarkan penuturannya dia mengaku pernah mengikuti semacam perkumpulan ilmu kebatinan.
“Eh Lih lu kenal sama Popi dah lama?” tanyaku sambil membagikan kartu remi.
“Udah satu tahun lebihan lah, semenjak nikah aja dia suka main kesini kadang nginep. Emang kenapa?”
“Hah nginep?” aku bertanya dengan wajah masam.
“Gak usah khawatir, gue lebih sayang sama nyawa gue daripada harus nekat nidurin Popi. Mau digorok ama Bini gue ntar,,, hiiiii” ujar Galih sambil bergidik.
Kami semua tertawa mendengar Galih berkata demikian, karena jika dilihat dari wajahnya sangatlah tidak cocok Galih menjadi suami takut istri.
“Lih emang si Popi suka malu gitu ya kalo diajak ngomong?” lanjutku.
‘“Maksudnya gimana Ron? Kaya tadi gitu ngumpet?”
Aku menjawab hanya dengan anggukan saja.
“Si Popi itu orangnya emang pemalu sama pendiem, gak banyak omong pula. Tapi dia baik sih sejauh yang gue tau mah”
“Pemalu sama pendiem apaan, lu kagak tau aja dia udah ngelakuin apa aja ke gue, hmmm tapi bener juga sih tadi malunya Popi keliatan natural kayak bukan akting. Kenapa dia gitu ya? Apa dia punya kepribadian ganda?” gumamku dalam hati.
“Emangnya kenapa bang kayaknya penasaran banget sama mbak Popi?” ujar Ipin.
“Eh gak apa-apa kok Pin, aneh aja Popi kemaren-kemaren mah gak malu-malu kayak gitu”
Ipin tidak merespon dan hanya memandangiku saja,begitu juga dengan Yana dan Galih. Kami melanjutkan permainan, memang yah dasar laki-laki, Bukannya istirahat buat persiapan besok malah begadang main remi. Aku merasa sedikit aneh dengan malam ini, aku tidak melihat sosok Ghaib apapun dikawasan rumah Galih, apakah mata batinku tertutup lagi?
“Ciek….ciek…ciek !!”
Terdengar suara anak ayam dari arah halaman pinggir rumah Galih, disana terdapat pohon beringing yang cukup besar. Aku mencoba mengengok kearah sana namun belum terlihat apa-apa, aku menjadi khawatir apa mata batinku tertutup untuk kedua kalinya.
“Ciek…ciek…”
Suara anak ayam tersebut kembali terdengar bahkan semakin jelas, kulihat Teman-temanku bersikap santai saja seolah tidak ada apa-apa. Aku tanpa sadar terus memandangi pohon beringin tempat suara itu berasal.
“Udah Ron gak usah dicari tuh anak ayam gak bakalan ketemu, mana ada anak ayam jam segini keliaran, udah jam setengah satu ini Ron” ujar Galih santai.
“Iya bang udah biarin aja..udah biasa itu “ timpal Ipin dan Yana tidak berkomentar.
Akupun tau bahwa ini bukanlah suara anak ayam sungguhan, aku pernah mendengar jika suara “PITIK” atau anak ayam pada malam hari adalah salah satu pertanda akan kehadiran makhluk bernama kuntilanak.
“Huuuuuhuhuuuuu…huuuuuhuhuhuhu”
Kini suara anak ayam berganti menjadi suara perempuan menangis, aku melihat dengan jelas Yana dan Galih badannya untuk beberapa detik bergidik, sepertinya bukan aku saja yang mendengar.
Tiba-tiba aku merasakan sensasi merinding dan merasa seperti ada yang memperhatikanku dari jauh, dan benar saja ketika aku melihat kearah Pohon beringin disana berdiri sesosok wanita bergaun putih berambut panjang sedang menatap kearahku, dan kuntilanak yang kulihat ini matanya menyala berwarna oranye.
Untuk beberapa belas detik aku dan maklhuk itu memandang satu sama lain, mungkin karena aku melihat kearah Pohon dengan waktu yang cukup lama sampai-sampai sat tiba giliranku membuang kartu, aku malah tertegun mematung.
“Bang napa diem bang? Liat apaan?” Yana bertanya dengan wajah khawatir.
“Eh gak apa-apa kok Yan” jawabku pelan.
Aku belum memberitahu kepada Galih dkk perihal aku memliliki mata batin, aku merasa mungkin untuk saat ini sebaiknya aku jangan dulu memberitahu mereka.
“Udahan yuk ah besok pagi kan berangkat kita, jangan begadang”
Galih berkata dengan wajah seperti merasa ngeri namun berusaha tetap tenang, begitupun dengan Yana. Mereka berduapun masuk kedalam rumah menyisakan aku dan Ipin dan juga miss kunkun tentunya.
“Huuuhuhuhu…huuuuuhuhuhu”
Suara tangis tersebut terdengar semakin pilu, aku yakin jika kalian medengarnya langsuns pasti akan merinding dengan seketika. Aku terus menatap kearah kuntilanak tersebut yang menangis dengan mata melotot marah kearahku, bingung kan nangis tapi kelihatan marah?
“Udah bang jangan diliatin terus dianya, yuk ah masuk” Ujar Ipin seraya berdiri dari posisi sila.
“Kamu bisa ngeliat Pin?”
“Enggak bang, Cuma aku pernah liat dia beberapa kali nampakin diri ke aku udah yuk ah masuk”
“Itu motor gimana belum pada dimasukkin Pin?”
“Gak apa-apa bang kan pagernya udah dkunci tadi sama bang Galih, udah kita masuk aja didalem ngobrolnya”
Aku menuruti perkataan Ipin yang kupikir sudah bijak dan tidak penakut seperti dua tahun lalu, kami berdua masuk meninggalkan kuntilanak tersebut. Sambil berjalan aku terus menatap kearah kuntilanak tersebut yang terlihat masih memelototiku.
Didalam rumah aku melihat diruangan tengah sudah tertata rapi kasur lantai, mungkin Ratna yang menyiapkan. Galih dan Yana tampak sudah tidur pulas terdengar dari suara ngorok mereka, sementara Ipin menggulingkan badannya dikasur lantai disamping Yana.
“Pin kamar Mandinya dimana ya? Saya baru pertama kali masuk kedalem rumah soalnya, dulu main Cuma dluar” ujarku karena merasa ingin kencing.
“Lurus aja bang terus nanti belok kiri, keliatan dapur terus ada pintu plastic itu kamar mandinya bang !”
Sesuai dengan arahan Ipin aku mulai berjalan kekamar mandi sesuai arahan dari Ipin, aku berjalan lurus hingga akhirnya aku berbelok kerah kiri. Ketika berbelok aku melihat ada kain hitam legam seperti tertiup angina, sontak aku heran karena aku sangat yakin tidak ada angina yang berhembus didalam ruangan ini.
Aku menghentikan langakah kakiku, batinku berkata ini bukanlah kain biasa karena kain ini keberadaannya tidak jelas apa fungsinya. Kulangkahkan kaki perlahan mendekati kain tersebut, dan ternyata benar dugaanku kain ini bukan kain biasa karena aku melihat dengan jelas kain ini mundur menjauhiku.
Ketika aku mempercepat langkah kakiku, kain hitam itu melesat dan menjauh dari pandangan hingga tak terlihat lagi. Ini adalah kali pertama aku melihat sosok ghaib yang tidak berwujud makhluk hidup, hanya berupa kain. Memang aku pernah mendengat cerita hantu lulung samak ( hantu tikar) yang biasanya ada di danau dan menenggelamkan korbannya.
Aku melanjutkan langkahku karena kantung kemihku sudah terasa meluap-luap karena menahan terlalu lama, dan dengan cepat aku menunaikan panggilan alamku.
“Rep….”
Tiba-tiba listrik mati, dikamar mandi sangat gelap tidak terlihat apa-apa. Aku mencoba merogoh sakuku mencari HP untuk kujadikan senter, namun aku ingat HP ku disimpan diteras ketika bermain kartu.
“Duh ceroboh banget dah gue”
Tiba-tiba aku merasakan bagian perutku hangat, dan sungguh aku terkejut melihat fenomena yang kualami saat ini. Dibalik jaket fleece ku terpancar cahaya putih, aku sempat ragu untuk mengeluarkan benda bercahaya yang ada disaku jaket. Namun aku memberanikan diri untuk mengeluarkannya.
Aku kaget bukan main karena yang bercahaya adalah buntelan yang diberikan oleh nenek dicurug, dan yang paling membuatku terkejut selain karena benda ini bercahaya. Aku juga heran kenapa buntelan ini ada didalam saku jaketku? Padahal aku sangat yakin sebelum berangkat aku memasukannuya kedalam ranselku.
Cahaya yang dipancarkan buntelan ini cukup terang, aneh sekali cahaya terpancar dari sebuah buntelan yang terbuat dari kain. Aku sangat terkesima dengan fenomena yang kulihat sekarang ini, sangat aneh menurutku.
Akhirnya aku menggunakan cahaya dari buntelan ini sebagai alat penerangan, aku berjalan kearah ruangan tengah untuk bergabung dengan yang lainnya
“Brug..!!!”
Terdengar suara benda jatuh diatas atap dengan keras, aku merasa kaget sampai-sampai buntelan yang kupegang terjatuh.
“ANJING PERGI LU .... JANGAN GANGGU GUE ”
Aku mendengar umpatan kasar dari suara yang sangat familiar, yaitu suara Popi.
BERSAMBUNG
maaf ane telat ngasih updatennya
Diubah oleh roni.riyanto 08-02-2018 18:34
sulkhan1981 memberi reputasi
2
Kutip
Balas