- Beranda
- Stories from the Heart
GW BERTEMAN DENGAN KOLONG WEWE (CHAPTER 3 / FINAL CHAPTER)
...
TS
juraganpengki
GW BERTEMAN DENGAN KOLONG WEWE (CHAPTER 3 / FINAL CHAPTER)
GW BERTEMAN DENGAN KOLONG WEWE (CHAPTER 3 / FINAL CHAPTER)

Cool Cover By Agan Linbara (Thanks, Bree)..
Prolog
Setelah bangun dari ‘Mati Suri’ karena memutuskan untuk mencoba membunuh diri sendiri untuk melindungi Kitab Langit dan melenyapkan Bayu Ambar, gw kembali ke dunia nyata.. Kehidupan gw sedikit jauh berbeda, karena pengalaman ‘Mati Suri’ itu berefek langsung pada kelebihan yang gw miliki.. Gw masih sama Anggie, meski ujian atas cinta kami masih saja mendera.. Ada musuh baru, tentu saja.. Tapi ada juga sahabat baru yang muncul.. Karena ini akhir dari cerita kami berempat..
Kembalinya Anak Ibu...
Pengorbanan Pedang Jagat Samudera...
Cintai Aku Sewajarnya, Yank...
Matinya Seorang Saudara (Versi Gw/Bimo)
Berkumpul Kembali...
Keanehan Yang Mulai Muncul...
Sambutan Ketiga Saudara Ke Reinata...
Sabar???
Cukup! Tinggalin Aku Sendiri!!!
Siapa Kau???
Aku Ikutin Kemauan Kamu...
Keputusan Sepihak Yang Pahit...
Semua Beban Menjadi satu
Semua Beban Menjadi Satu (2)...
Serangkum Rindu Untuk Ayah...
Munculnya Penguasa Laut Utara...
Bertemunya Dua Penguasa...
Sebuah Kesepakatan...
Ibu Kenapa Yah???
Lu Kenapa, Ka???
Wanted Dead Or Alive.. ANTON!!!
Mo 'Perabotan' Lu Hancur Apa Tanggung Jawab???
It's The End Of Us...
Di Kerjain Ibu...
Ridho!!!
Kelewatan!!!
Munculnya Dua Penjaga Gerbang Kerajaan Laut...
Dewi Arum Kesuma VS Dewi Ayu Anjani
Datangnya Sosok Seorang Pemisah Dan Shock Therapy Buat Gw...
Kerajaan Jin...
Terkuaknya Semua Jawaban...
Maafin Gw, Bree...
Pengakuan Suluh...
Akhirnya Boleh Gondrong...
Pernikahan Kak Silvi Yang Seharusnya Membuat Gw Bahagia...
Pernikahan Kak Silvi Yang seharusnya Membuat Gw Bahagia (2)...
Tunggu Pembalasan Gw!!!...
Ni Mas Linduri dan Banas Ireng...
Dua Sosok Penyelamat Misterius...
Ada Apa Sama Ridho?...
Kesalahan Fatal...
Kembalinya Jin Penjaga Ridho dan Suluh...
Akibat Terlalu Ikut Campur...
Setiap Perbuatan Akan Mendapat Balasan...
Munculnya Viny Dan Sebuah Tantangan Bertarung...
Manusia Cabul...
Suara Penolong Misterius...
Bertemunya Kembali Sepasang Kekasih...
Terkuaknya Kebenaran...
Kabar Baik Ayu Dan Prasangka Sekar...
Kabar Baik Ayu Dan Prasangka Sekar (2)...
Jaket Dan Celana Jeans Robek Serta Sweater Hitam Kumal...
She's My True Love...
Dilema...
Pertengkaran Dengan Ibu...
Rambe Lantak...
Gendewa Panah Pramesti...
Akan Ku Balaskan Dendam Mu, Arum Kesuma!!!
Yang Hilang dan Yang Kembali...
Jawaban Ayu...
Mati Gw!!!
Aku Makin Sayang...
Nasihat Om Hendra...
Jera Mencuri...
Ajian Segoro Geni...
Pilihan Sulit...
Keputusasaan Anggie...
Kabar Baik dari Ridho dan Suluh...
Perjalanan Menuju Pembalasan Dendam...
Rawa Rontek...
Rawa Rontek 2 (Terbayarnya Dendam)...
Kedatangan Pak Sugi...
Orang Titipan...
Hukuman Paling Berat...
Tidurlah Di Pangkuan Ku...
Menjajal Kesaktian...
Menjajal Kesaktian (2)...
Pengakuan Mengejutkan Babeh Misar...
Pengajaran Ilmu Silat Betawi...
Di Kepret Babeh Misar Lagi...
Tasya...
Naga Caglak dan Bajing Item...
Misteri Sebuah Dendam...
Kekuatan Sejati Kitab Langit Bagian Matahari...
Perpisahan...
Tanah, Air, Api dan Setetes Darah dari Jantung Seorang Putera...
Tanah, Air, Api dan Setetes Darah dari Jantung Seorang Putera (2)...
Kembalinya Ibu...
Empat Bayangan Hitam...
Siapa Ni Mas Laras Rangkuti???
Dendam Seorang Sahabat...
Ini Keputusan Yang Harus Gw Ambil...
Semua Pengorbanan Ini Demi Ibu...
Rapuh...
Kabar Mengejutkan Sekar dan Sebuah Restu...
Siasat Braja Krama...
Munculnya Kitab Langit...
Si Pembuka Kitab langit dan Sosok Asli Pak Sugi...
Rencana Yang Matang...
Lamaran Pribadi...
Keingintahuan Anggie...
Perubahan Rencana...
Hampir Terjebak...
Kekecewaan Sekar...
Dua Syarat Reinata...
Aku Harap Kamu dan Anggie Bahagia, Mam...
Rahasia Sepasang Suami Isteri...
Menitipkan Amanah...
Berkumpulnya Para Pembela Kitab Langit...
Siasat Ki Purwagalih...
Raja Jin Raja Muslihat (Nyesek, Bree)...
Pertukaran Tawanan...
Perang Gaib PunTak Terelakkan...
Sang Penyelamat Dari Utara...
Pertempuran Awal Dua Penguasa Kerajaan Gaib...
Bertekuk Lututnya Sekutu Braja Krama...
Pertarungan Dua Putera (Gugurnya Satu Sahabat Gaib)...
Krama Raja...
Braja Krama Versus Krama Raja...
Raja Licik...
Aku Lah Sang Pembuka...
Siasat Krama Raja dan Bayu Ambar...
Terbukanya Semua Ilmu Terlarang...
Sebuah Pengecualian...
Sri Baduga Maharaja...
Hilangnya Sebuah Pengecualian...
Hilangnya Sebuah Pengecualian (2)...
Sebuah Pengorbanan...
Pahlawan...
Sumpah...
Ilmu Pamungkas yang Terlarang...
Kabar Yang Mengejutkan...
Pulang...
Pulang (2)...
Sedikit Kisah Rio Sebelum Kisah Ini Tamat...
Terhalang Sumpah...
Bantuan Sahabat Baik...
Bachelor Party...
Keturunan Lain Sang Prabu...
Pembalasan Dendam Singgih...
Sepenggal Kisah Nyi Mas Roro Suwastri...
Tawaran Yang Mengejutkan...
Lawan Atau Kawan???
Terkuaknya Silsilah...
Sebuah Kebenaran...
Sebuah Kebenaran (2)...
Bertemunya Dua Keturunan Sang Prabu...
Pertempuran Dua Hati...
Cinta Pertama VS Cinta Terakhir Jagat Tirta...
Pengakuan Bayu Barata...
Ki Larang dan Nyi Mas Galuh Pandita???
Prana Kusuma...
Kau Benar Keturunan Kami, Ngger...
Our Big Day...
Insiden...
Munculnya Para Tamu Tak Terduga...
Munculnya Para Tamu Tak Terduga (2)...
Dua Tamu Istimewa...
Semua Karena Cinta...
Keputusan Sekar Kencana...
Kena Gampar...
Bonyok!!!
RIBET!!!
Berdamai...
Keponakan Baru...
Malam Pertama dan Tiga Keanehan...
Ajian Warisan Para Leluhur (The Last Part/End Of All Chapters)
SIDE STORIES
Keturunan Yang Tersesat...
Keturunan Yang Tersesat (2)...

Cool Cover By Agan Linbara (Thanks, Bree)..
Prolog
Setelah bangun dari ‘Mati Suri’ karena memutuskan untuk mencoba membunuh diri sendiri untuk melindungi Kitab Langit dan melenyapkan Bayu Ambar, gw kembali ke dunia nyata.. Kehidupan gw sedikit jauh berbeda, karena pengalaman ‘Mati Suri’ itu berefek langsung pada kelebihan yang gw miliki.. Gw masih sama Anggie, meski ujian atas cinta kami masih saja mendera.. Ada musuh baru, tentu saja.. Tapi ada juga sahabat baru yang muncul.. Karena ini akhir dari cerita kami berempat..
Kembalinya Anak Ibu...
Pengorbanan Pedang Jagat Samudera...
Cintai Aku Sewajarnya, Yank...
Matinya Seorang Saudara (Versi Gw/Bimo)
Berkumpul Kembali...
Keanehan Yang Mulai Muncul...
Sambutan Ketiga Saudara Ke Reinata...
Sabar???
Cukup! Tinggalin Aku Sendiri!!!
Siapa Kau???
Aku Ikutin Kemauan Kamu...
Keputusan Sepihak Yang Pahit...
Semua Beban Menjadi satu
Semua Beban Menjadi Satu (2)...
Serangkum Rindu Untuk Ayah...
Munculnya Penguasa Laut Utara...
Bertemunya Dua Penguasa...
Sebuah Kesepakatan...
Ibu Kenapa Yah???
Lu Kenapa, Ka???
Wanted Dead Or Alive.. ANTON!!!
Mo 'Perabotan' Lu Hancur Apa Tanggung Jawab???
It's The End Of Us...
Di Kerjain Ibu...
Ridho!!!
Kelewatan!!!
Munculnya Dua Penjaga Gerbang Kerajaan Laut...
Dewi Arum Kesuma VS Dewi Ayu Anjani
Datangnya Sosok Seorang Pemisah Dan Shock Therapy Buat Gw...
Kerajaan Jin...
Terkuaknya Semua Jawaban...
Maafin Gw, Bree...
Pengakuan Suluh...
Akhirnya Boleh Gondrong...
Pernikahan Kak Silvi Yang Seharusnya Membuat Gw Bahagia...
Pernikahan Kak Silvi Yang seharusnya Membuat Gw Bahagia (2)...
Tunggu Pembalasan Gw!!!...
Ni Mas Linduri dan Banas Ireng...
Dua Sosok Penyelamat Misterius...
Ada Apa Sama Ridho?...
Kesalahan Fatal...
Kembalinya Jin Penjaga Ridho dan Suluh...
Akibat Terlalu Ikut Campur...
Setiap Perbuatan Akan Mendapat Balasan...
Munculnya Viny Dan Sebuah Tantangan Bertarung...
Manusia Cabul...
Suara Penolong Misterius...
Bertemunya Kembali Sepasang Kekasih...
Terkuaknya Kebenaran...
Kabar Baik Ayu Dan Prasangka Sekar...
Kabar Baik Ayu Dan Prasangka Sekar (2)...
Jaket Dan Celana Jeans Robek Serta Sweater Hitam Kumal...
She's My True Love...
Dilema...
Pertengkaran Dengan Ibu...
Rambe Lantak...
Gendewa Panah Pramesti...
Akan Ku Balaskan Dendam Mu, Arum Kesuma!!!
Yang Hilang dan Yang Kembali...
Jawaban Ayu...
Mati Gw!!!
Aku Makin Sayang...
Nasihat Om Hendra...
Jera Mencuri...
Ajian Segoro Geni...
Pilihan Sulit...
Keputusasaan Anggie...
Kabar Baik dari Ridho dan Suluh...
Perjalanan Menuju Pembalasan Dendam...
Rawa Rontek...
Rawa Rontek 2 (Terbayarnya Dendam)...
Kedatangan Pak Sugi...
Orang Titipan...
Hukuman Paling Berat...
Tidurlah Di Pangkuan Ku...
Menjajal Kesaktian...
Menjajal Kesaktian (2)...
Pengakuan Mengejutkan Babeh Misar...
Pengajaran Ilmu Silat Betawi...
Di Kepret Babeh Misar Lagi...
Tasya...
Naga Caglak dan Bajing Item...
Misteri Sebuah Dendam...
Kekuatan Sejati Kitab Langit Bagian Matahari...
Perpisahan...
Tanah, Air, Api dan Setetes Darah dari Jantung Seorang Putera...
Tanah, Air, Api dan Setetes Darah dari Jantung Seorang Putera (2)...
Kembalinya Ibu...
Empat Bayangan Hitam...
Siapa Ni Mas Laras Rangkuti???
Dendam Seorang Sahabat...
Ini Keputusan Yang Harus Gw Ambil...
Semua Pengorbanan Ini Demi Ibu...
Rapuh...
Kabar Mengejutkan Sekar dan Sebuah Restu...
Siasat Braja Krama...
Munculnya Kitab Langit...
Si Pembuka Kitab langit dan Sosok Asli Pak Sugi...
Rencana Yang Matang...
Lamaran Pribadi...
Keingintahuan Anggie...
Perubahan Rencana...
Hampir Terjebak...
Kekecewaan Sekar...
Dua Syarat Reinata...
Aku Harap Kamu dan Anggie Bahagia, Mam...
Rahasia Sepasang Suami Isteri...
Menitipkan Amanah...
Berkumpulnya Para Pembela Kitab Langit...
Siasat Ki Purwagalih...
Raja Jin Raja Muslihat (Nyesek, Bree)...
Pertukaran Tawanan...
Perang Gaib PunTak Terelakkan...
Sang Penyelamat Dari Utara...
Pertempuran Awal Dua Penguasa Kerajaan Gaib...
Bertekuk Lututnya Sekutu Braja Krama...
Pertarungan Dua Putera (Gugurnya Satu Sahabat Gaib)...
Krama Raja...
Braja Krama Versus Krama Raja...
Raja Licik...
Aku Lah Sang Pembuka...
Siasat Krama Raja dan Bayu Ambar...
Terbukanya Semua Ilmu Terlarang...
Sebuah Pengecualian...
Sri Baduga Maharaja...
Hilangnya Sebuah Pengecualian...
Hilangnya Sebuah Pengecualian (2)...
Sebuah Pengorbanan...
Pahlawan...
Sumpah...
Ilmu Pamungkas yang Terlarang...
Kabar Yang Mengejutkan...
Pulang...
Pulang (2)...
Sedikit Kisah Rio Sebelum Kisah Ini Tamat...
Terhalang Sumpah...
Bantuan Sahabat Baik...
Bachelor Party...
Keturunan Lain Sang Prabu...
Pembalasan Dendam Singgih...
Sepenggal Kisah Nyi Mas Roro Suwastri...
Tawaran Yang Mengejutkan...
Lawan Atau Kawan???
Terkuaknya Silsilah...
Sebuah Kebenaran...
Sebuah Kebenaran (2)...
Bertemunya Dua Keturunan Sang Prabu...
Pertempuran Dua Hati...
Cinta Pertama VS Cinta Terakhir Jagat Tirta...
Pengakuan Bayu Barata...
Ki Larang dan Nyi Mas Galuh Pandita???
Prana Kusuma...
Kau Benar Keturunan Kami, Ngger...
Our Big Day...
Insiden...
Munculnya Para Tamu Tak Terduga...
Munculnya Para Tamu Tak Terduga (2)...
Dua Tamu Istimewa...
Semua Karena Cinta...
Keputusan Sekar Kencana...
Kena Gampar...
Bonyok!!!
RIBET!!!
Berdamai...
Keponakan Baru...
Malam Pertama dan Tiga Keanehan...
Ajian Warisan Para Leluhur (The Last Part/End Of All Chapters)
SIDE STORIES
Keturunan Yang Tersesat...
Keturunan Yang Tersesat (2)...
Diubah oleh juraganpengki 15-07-2018 20:23
iskrim dan 132 lainnya memberi reputasi
127
2.1M
8K
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
juraganpengki
#2314
Rambe Lantak..
Tak mau dijahili lebih lama, gw langsung memukulkan telapak tangan kiri yang sudah terisi Ajian Tapak Jagat ke arah depan.. Dengan niat untuk melenyapkan Jin jahil yang sedang mencoba menakuti gw..
Mandadak, pergelangan tangan kiri gw terasa di cengkram oleh sebuah tangan, bersamaan dengan kembali menyala nya lampu pijar..
“Kang Mas, apa yang kau lakukan?” Tanya Sekar yang ternyata adalah sosok yang sedang berdiri dihadapan gw..
Gw sendiri sempat tercengang untuk sesaat, begitu melihat sosok Jin Penjaga gw yang cantik itu menatap nanar sambil mencengkram pergelangan tangan gw..
“Mengapa kau ingin menyerangku, Kang Mas” Tanya Sekar lagi, seraya melepaskan cengkramannya..
Gw hanya bisa tersenyum konyol menyadari akan tindakan gw barusan yang hampir membuat Sekar celaka..
“Aku fikir ada Jin jahil yang mencoba menguji kesabaran ku, Sekar.. Aku minta maaf” Jawab gw sambil menggaruk kepala..
“Aku sengaja mengikuti mu diam-diam, sejak keluar dari luar rumah, Kang Mas.. Aku sempat heran melihat mu berjalan sendirian menuju hutan bambu ini.. Apa sebenarnya yang ingin kau lakukan?”
Tak segera menjawab pertanyaan Sekar, gw malah merogoh kantong celana dan sweater hitam..
“Yaelah, gw lupa bawa rokok” Gumam gw dengan suara lirih, lalu melirik ke arah Sekar yang nampak bingung melihat gw..
“Aku lapar.. Aku ingin mencari makanan.. Jika mengambil jalan lain cukup jauh.. Mau tidak mau untuk mempercepat waktu, aku harus melewati hutan bambu ini” Kata gw yang baru menjawab pertanyaan Sekar..
Sejenak, Sekar terdiam sambil mengulum senyuman manisnya yang khas.. Lalu, mengulurkan telapak tangan kirinya ke depan..
“Ikut aku, Kang Mas.. Aku akan membawa mu ke suatu tempat.. Aku ingin membicarakan suatu hal penting terkait Nyi Mas Galuh Pandita”
Gw mengerutkan dahi mendengar ajakan Sekar.. Tapi, mengingat suasana di rumah sedang tidak terasa nyaman, gw menganggukan kepala sambil mengulurkan tangan kiri..
“Baiklah, asal kau membawakan ku makanan setibanya disana, Sekar”
Sekar langsung tertawa mendengar jawaban gw barusan.. Lalu menganggukan kepala saat telapak tangan kami sudah menyatu.. Kedua mata gw terpejam begitu Sekar mulai merapalkan Ajian untuk berpindah tempat..
“Kang Mas, buka matamu.. Kita sudah sampai”
Gw membuka mata perlahan dan melihat sebuah hamparan tanah berumput sudah terbentang dihadapan.. Pohon-pohon cemara dan pinus yang tumbuh tinggi menjulang, nampak bergoyang-goyang batang serta daunnya karena terhembus angin dingin.. Jika diamati dengan baik-baik, sepertinya gw mengenali tempat ini..
“Kita berada di sebuah taman tepat di kaki Gunung Gede, Kang Mas” Ucapan Sekar membuat gw menganggukan kepala karena benar mengenali tempat ini..
Hembusan angin dingin yang menerpa, membuat gw terpaksa melipat kedua tangan di depan dada.. Tanah berumput yang gw injak tidak basah, menandakan jika hujan belum turun di sekitar daerah ini.. Ditambah cahaya Bulan yang nampak redup tertutup sebagian.. Perlahan, gw duduk dengan beralaskan sandal disusul Sekar yang juga duduk disebelah..
“Sekar, kau bilang akan membawakan ku makanan?” Tanya gw sambil melirik ke arahnya..
Sekar sendiri membalas dengan senyuman kecil, lalu bangkit dari duduknya dan menganggukan kepala..
“Tunggulah sebentar, Kang Mas.. Aku akan membawakan mu makanan” Ucap Jin Penjaga gw sebelum menghilang..
Beberapa penampakan mahluk tinggi besar seperti genderuwo, terlihat berkerumun di sebuah pohon besar.. Tiap-tiap pasang mata mereka yang merah menyala, nampak sesekali memperhatikan ke arah gw.. Aura yang terpancar dari tiap sosok pun cukup kuat gw rasakan.. Tapi, gw tetap duduk santai tanpa mengeluarkan apapun, karena merasa tidak ada ancaman sama sekali dari mereka.. Mungkin mereka mengetahui siapa gw, karena daerah ini masih termasuk kawasan kekuasaan Raja Jin..
Tak berapa lama, Sekar kembali muncul membawa kantong plastik hitam.. Gw sempat tertawa dalam hati, melihat sosok Jin cantik berpakaian puteri kerajaan, sedang menenteng plastik.. Sebelum duduk, gw melihat Sekar sempat menoleh ke arah kerumunan mahluk tinggi besar.. Anehnya, mahluk-mahluk penghuni asli tempat ini langsung melesat pergi dengan cepat, seperti takut atau tidak mau mencampuri urusan kami..
“Bukalah makanan mu, Kang Mas” Ucap Sekar yang sudah kembali duduk bersimpuh di sebelah gw..
Karena merasa sudah sangat lapar, gw langsung membuka bungkusan makanan dan sebotol air mineral yang tergeletak di hadapan.. Pandangan mata gw berbinar melihat sebungkus nasi uduk bertabur bawang goreng, lengkap dengan sambal pecel dan ayam goreng berukuran cukup besar..
“Dimana kau membeli makanan ini, Sekar?” Tanya gw penasaran sebelum menyuap nasi ke dalam mulut..
“Aku membelinya cukup jauh, Kang Mas.. Itu pun aku harus menjelma menjadi gadis biasa dahulu.. Sudahlah, Kang Mas.. Lekas kau makan.. Aku tahu kau sudah sangat lapar”
Gw mangangguk dan bersiap untuk menyuap.. Entah mengapa, rasa nasi dan ayam gorengnya sangat lezat sekali.. Belum lagi sambal pecel yang juga tak kalah sedap.. Gw sampai menjilati ujung jari, karena baru kali ini merasakan pecel ayam yang paling lezat.. Sekar sesekali tersenyum manis melihat cara makan gw, yang mungkin lucu menurutnya..
“Mengapa tidak kau habiskan, Kang Mas?” Tanya Seka,r saat gw sedang meneguk air mineral dari botol dan menggunakan sisa airnya untuk mencuci tangan..
“Aku sudah kenyang, Sekar.. Terima kasih sudah membawakan ku makanan lezat tadi”
Sekar mengagguk perlahan, lalu melemparkan pandangan ke arah depan.. Untuk sesaat, gw melihat Sekar seperti sedang memperhatikan sesuatu yang berada jauh di depan.. Gw yang penasaran, juga melempar pandangan ke arah sama.. Namun tidak ada apapun disana, meski gw sudah menggunakan Ajian Tembus Pandang..
“Apa yang kau lihat, Sekar?” Tanya gw sambil menoleh ke arahnya..
Tanpa menjawab, Sekar melirik ke arah gw, lalu melemparkan senyuman manisnya kembali..
“Kang Mas, boleh aku tengok telapak tangan kanan mu? Aku mau melihat Kitab Langit Bagian Matahari” Tanya Sekar yang membuat gw mengerutkan dahi karena heran..
Mengapa Sekar tiba-tiba menanyakan Kitab Langit Bagian Matahari, yang tersimpan di telapak tangan gw?
“Aku hanya penasaran saja, Kang Mas?” Ucap Sekar lagi seperti sudah mengetahui isi kepala gw..
Gw mengangguk dan perlahan mengulurkan tangan kanan ke depan Sekar.. Jin penjaga gw itu, nampak memperhatikan luka yang masih belum kering benar di telapak tangan kanan.. Lalu, meniupkan nafasnya ke arah telapak tangan gw..
Lagi-lagi, gw mencium aroma busuk keluar dari mulut Sekar.. Entah mengapa, dalam hati gw mulai curiga dengan sosok Sekar yang saat ini sedang duduk bersimpuh di sebelah.. Gw juga sempat melihat pola gambar Matahari yang ada di telapak tangan kanan, mengeluarkan sinar redup, begitu tersapu hembusan nafas Sekar..
“Pegang tangan Jin Penjaga mu, Ngger” Ucap seorang wanita yang suaranya terdengar tak asing dalam batin gw..
Dengan cepat, gw memegang lengan kanan Sekar dengan telapak tangan kanan.. Seketika Jin Penjaga gw itu terpekik dan bangkit melayang menjauh.. Tatapan matanya menyorot tajam menatap gw untuk sesaat, sambil memegangi lengan kanannya..
Gw yang mulai menyadari ada sesuatu yang tidak benar terhadap Sekar, ikut bangkit dan memasang kuda-kuda untuk bersiaga..
“Kang Mas, mengapa kau melukai ku?” Tanya Sekar dengan tatapan mata berubah sendu..
“Jika kau benar Sekar, kau tidak akan terluka.. Siapa kau sebenarnya?
Sekar yang semula menatap sayu ke arah gw, perlahan menurunkan telapak tangan kiri yang menutupi bekas cengkraman tangan gw di lengan kanan.. Gw sempat melihat sebuah jejak luka bakar dengan pola matahari, ada di lengan kanannya..
Perlahan, sebuah senyuman dingin menyeringai tersungging di wajah Sekar, yang mulai menyentuh bagian tengah keningnya dengan jempol kiri yang terbalik..
Mendadak, tubuh Sekar seketika berubah menjadi sosok Jin laki-laki dengan wajah sangar dipenuhi cambang, memakai kain seperti rompi tak berkancing dan celana hitam berenda kuning.. Gw sempat tercengang untuk sesaat, lalu kembali menyiapkan Ajian Tapak Jagat di kedua telapak tangan..
“Hahaha!!! Kau cukup cerdik, anak muda.. Aku tidak mengangka kau akan membongkar Ajian Malih Sukma Raga ku, dengan melukai tanganku menggunakan Kitab Langit Bagian Matahari”
“Siapa kau? Berani nya menyamar menjadi Jin Penjaga ku” Bentak gw dengan suara berteriak..
Sejenak, laki-laki itu menyibak rambut panjangnya yang acak-acakan menutupi sebagian wajah.. Lalu menyunggingkan senyuman..
“Aku Rambe Lantak, yang pernah meniru wujudmu dan membebaskan tahanan Kerajaan Laut Utara untuk memecah belah dua kerajaan gaib” Ucap laki-laki berbadan tegap itu..
Kedua mata gw terbelalak, seiring tiap gigi bergemeratak menahan emosi, setelah mendengar jawabannya..
“Jadi kau yang telah merusak nama baik ku, setan!” Bentak gw lagi dan dibalas tawa terbahak-bahak Jin yang bernama Rambe Lantak..
“Ya.. Ya.. Aku akui itu.. Aku telah mematai mu sejak kabar tewasnya Raja Siluman tersebar.. Aku tahu keluarga mu, teman-teman mu, bahkan aku tahu, Anggie.. Gadis yang paling kau cintai dengan sepenuh hati, diantara beberapa gadis cantik yang ada disekitarmu, anak muda”
Sorot mata gw semakin tajam menatap Rambe Lantak, begitu ia menyebut nama Anggie.. Itu berarti ucapannya barusan memang benar, bahwa sudah lama ia mematai kehidupan gw..
“Jangan pernah kau mengganggu orang-orang yang ada didekat ku, Rambe Lantak.. Jika itu sampai terjadi, aku bersumpah akan melenyapkan mu dengan tangan ku sendiri” Ancam gw dnegan suara lirih namun mengandung emosi tinggi..
Lagi-lagi, kalimat yang meluncur dari lisan gw hanya di balas tawa kerasnya..
“Harus ku akui, anak muda.. Dari sekian banyak sosok yang pernah aku tiru, kau salah satu kesukaan ku.. Bagaimana tidak, dengan mewarisi ketampanan Jagat Tirta, aku bisa dengan mudah nya meraba dan mencium Jin Penjaga Kerajaan Laut Utara.. Aah, aku bahkan masih ingat betapa manisnya bibir Dewi Arum Kesuma.. Mungkin, nanti aku akan melakukan hal sama dengan anak gadis kekasih mu, Anggie”
“BANGSA*!!!”
Teriak gw yang sudah tak sanggup menahan emosi, dengan melesat cepat ke arahnya sambil mengayunkan telapak tangan berisi Ajian Tapak Jagat.. Tapi, dengan mudah Rambe Lantak berkelit kesamping untuk menghindar..
Menyadari serangan yang gagal, gw ikut melompat ke samping masih dengan mengarahkan Ajian Tapak Jagat di telapak tangan kanan ke dadanya.. Rambe Lantak menangkis serangan gw menggunakan sikut, sambil melompat dan melayangkan tendangan dari kaki kanannya ke arah wajah gw..
Melihat serangan datang, gw langsung berbalik untuk menghindar, meski rasa sakit di lengan mulai terasa sejak benturan dengan sikut Rambe Lantak.. Tak menunggu lama, giliran Jin yang menguasai Ilmu Malih Sukma Raga itu, yang melayangkan serangan balasan..
Beberapa jurus tangan kosong masih sempat gw hindari atau gw tangkis, berupa pukulan dan tendangan dari Rambe Lantak.. Hingga, satu jotosannya tepat mengenai ulu hati, dan membuat gw jatuh terjengkang ke belakang..
Gw berusaha untuk bangkit, namun rasa sakit di ulu hati membuat dada gw sesak..
“Kau pikir, dengan ilmu kanuragan seujung jari kelingking, kau mampu menunaikan sumpah mu untuk melenyapkan ku?” Tanya Rambe Lantak dengan disusul senyuman mengejeknya..
“Hanya mengandalkan Tapak Jagat di tingkat pertengahan, tidak akan sanggup kau melukai ku.. Bahkan memutus rambut ku saja, kau tak kan mampu” Ucap Rambe Lantak lagi kembali meremehkan..
Gw yang masih tergeletak di atas tanah berumput, mencoba untuk bangkit kembali dengan perlahan-lahan.. Lalu, menatap wajah Rambe Lantak lekat-lekat..
“Jangan banyak cakap.. Kita buktikan saja sekarang” Ucap gw dengan suara lirih sambil menyalurkan tenaga dalam penuh di Ajian Tapak Jagat, dan membuat kedua telapak tangan gw semakin terlihat terang diselimuti sinar putih..
Rampak Lantak untuk sejenak mengulum senyuman meremehkan, lalu secepat kilat melesat.. Gw yang sudah siap, menyongsong serangannya dengan tangan kanan teracung ke depan, sementara tangan kiri menekuk dipinggang..
Jin yang mengenakan rompi dan celana hitam berenda kuning itu, menyabetkan tangan nya ke arah kepala gw.. Dengan cepat, gw tangkis sabetan tangannya menggunakan punggung lengan kiri.. Disusul telapak tangan gw yang mengarah cepat ke dada Rambe Lantak..
Secepat kilat, Jin berambut panjang itu mencengkram pergelangan tangan kanan gw dan memutarnya.. Tak mau pergelangan tangan kanan gw patah, gw segera berbalik dengan posisi tubuh sedikit merunduk, mengikuti putaran Rambe Lantak, lalu menyundulkan kepala ke arah perutnya..
DUG!!
Sundulan kepala gw berhasil mengenai perut Rambe Lantak, dan membuatnya sedikit terdorong ke belakang, sekaligus melemahkan cengkraman.. Kesempatan emas ini, gw gunakan untuk memutar posisi pergelangan tangan kanan yang masih tercengkram, ke atas dan berbalik mencengkram pergelangan tangan lawan..
“AARRGGH”
Suara teriakan kesakitan Rambe Lantak terdengar saat telapak tangan kanan gw, yang tersimpan Kitab Langit Bagian Matahari, kembali menyentuh kulitnya.. Dengan cepat, Jin itu berusaha menarik tangannya, dari cengkraman gw sambil melayangkan tendangan..
Sayangnya, gerakan gw terlalu lambat untuk menangkis atau menghindar.. Dan..
BUKK!!!
Tendangan Rambe Lantak tepat bersarang dipinggang, membuat gw terlempar kesamping hingga jatuh terguling-guling tiga kali.. Melihat posisi gw sedang tidak siap, Rambe Lantak seketika melompat tinggi, lalu turun dengan cepat ke arah gw, sambil meluruskan kaki kananya yang nampak diselimuti sinar merah..
Gw yang mencoba untuk berdiri kembali, berniat menggunakan Ajian Tapak Jagat untuk menangkap tendangan Jin itu, namun rasa sakit dipinggang membuat gw jatuh berlutut.. Menyadari keadaan tidak begitu menguntungkan, gw hendak memanggil nama Sekar di dalam hati..
Tapi, tiba-tiba dari arah utara, melesat sebuah sinar perak dengan sangat cepat ke arah Rambe Lantak.. Jin laki-laki berambut panjang acak-acakan itu, sempat melihat datangnya serangan berbahaya yang mengincarnya.. Entah karena takut atau apa , Rambe Lantak membatalkan serangan ke arah gw, dan malah berputar diudara untuk menghindari serangan sinar perak..
TARRR!!!
Suara letupan sinar perak yang menyambar sebuah pohon pinus berukuran dua pelukan tangan orang dewasa, terdengar cukup keras.. Seperti bunyi ledakan petasan.. Gw juga sempat tercengang melihat bagian tengah pohon itu terbakar dan perlahan-lahan patah, lalu tumbang diatas tanah..
“Kakang, kau tidak apa-apa?” Tanya seorang wanita dari samping..
“Arum Kesuma” Kata gw menyebut nama sosok Jin cantik yang sudah berada tepat di sebelah..
“Apa yang kau lakukan disini?” Tanya gw dengan wajah heran menatap Dewi Arum Kesuma, sambil melirik ke arah tiga ujung Trisula Peraknya yang masih memendarkan sinar keperakan..
“Membalaskan dendamku, Kakang” Jawab Dewi Arum Kesuma seraya berdiri perlahan, dengan kedua mata indahnya yang menyorot tajam menatap Rambe Lantak..
Tak mau dijahili lebih lama, gw langsung memukulkan telapak tangan kiri yang sudah terisi Ajian Tapak Jagat ke arah depan.. Dengan niat untuk melenyapkan Jin jahil yang sedang mencoba menakuti gw..
Mandadak, pergelangan tangan kiri gw terasa di cengkram oleh sebuah tangan, bersamaan dengan kembali menyala nya lampu pijar..
“Kang Mas, apa yang kau lakukan?” Tanya Sekar yang ternyata adalah sosok yang sedang berdiri dihadapan gw..
Gw sendiri sempat tercengang untuk sesaat, begitu melihat sosok Jin Penjaga gw yang cantik itu menatap nanar sambil mencengkram pergelangan tangan gw..
“Mengapa kau ingin menyerangku, Kang Mas” Tanya Sekar lagi, seraya melepaskan cengkramannya..
Gw hanya bisa tersenyum konyol menyadari akan tindakan gw barusan yang hampir membuat Sekar celaka..
“Aku fikir ada Jin jahil yang mencoba menguji kesabaran ku, Sekar.. Aku minta maaf” Jawab gw sambil menggaruk kepala..
“Aku sengaja mengikuti mu diam-diam, sejak keluar dari luar rumah, Kang Mas.. Aku sempat heran melihat mu berjalan sendirian menuju hutan bambu ini.. Apa sebenarnya yang ingin kau lakukan?”
Tak segera menjawab pertanyaan Sekar, gw malah merogoh kantong celana dan sweater hitam..
“Yaelah, gw lupa bawa rokok” Gumam gw dengan suara lirih, lalu melirik ke arah Sekar yang nampak bingung melihat gw..
“Aku lapar.. Aku ingin mencari makanan.. Jika mengambil jalan lain cukup jauh.. Mau tidak mau untuk mempercepat waktu, aku harus melewati hutan bambu ini” Kata gw yang baru menjawab pertanyaan Sekar..
Sejenak, Sekar terdiam sambil mengulum senyuman manisnya yang khas.. Lalu, mengulurkan telapak tangan kirinya ke depan..
“Ikut aku, Kang Mas.. Aku akan membawa mu ke suatu tempat.. Aku ingin membicarakan suatu hal penting terkait Nyi Mas Galuh Pandita”
Gw mengerutkan dahi mendengar ajakan Sekar.. Tapi, mengingat suasana di rumah sedang tidak terasa nyaman, gw menganggukan kepala sambil mengulurkan tangan kiri..
“Baiklah, asal kau membawakan ku makanan setibanya disana, Sekar”
Sekar langsung tertawa mendengar jawaban gw barusan.. Lalu menganggukan kepala saat telapak tangan kami sudah menyatu.. Kedua mata gw terpejam begitu Sekar mulai merapalkan Ajian untuk berpindah tempat..
“Kang Mas, buka matamu.. Kita sudah sampai”
Gw membuka mata perlahan dan melihat sebuah hamparan tanah berumput sudah terbentang dihadapan.. Pohon-pohon cemara dan pinus yang tumbuh tinggi menjulang, nampak bergoyang-goyang batang serta daunnya karena terhembus angin dingin.. Jika diamati dengan baik-baik, sepertinya gw mengenali tempat ini..
“Kita berada di sebuah taman tepat di kaki Gunung Gede, Kang Mas” Ucapan Sekar membuat gw menganggukan kepala karena benar mengenali tempat ini..
Hembusan angin dingin yang menerpa, membuat gw terpaksa melipat kedua tangan di depan dada.. Tanah berumput yang gw injak tidak basah, menandakan jika hujan belum turun di sekitar daerah ini.. Ditambah cahaya Bulan yang nampak redup tertutup sebagian.. Perlahan, gw duduk dengan beralaskan sandal disusul Sekar yang juga duduk disebelah..
“Sekar, kau bilang akan membawakan ku makanan?” Tanya gw sambil melirik ke arahnya..
Sekar sendiri membalas dengan senyuman kecil, lalu bangkit dari duduknya dan menganggukan kepala..
“Tunggulah sebentar, Kang Mas.. Aku akan membawakan mu makanan” Ucap Jin Penjaga gw sebelum menghilang..
Beberapa penampakan mahluk tinggi besar seperti genderuwo, terlihat berkerumun di sebuah pohon besar.. Tiap-tiap pasang mata mereka yang merah menyala, nampak sesekali memperhatikan ke arah gw.. Aura yang terpancar dari tiap sosok pun cukup kuat gw rasakan.. Tapi, gw tetap duduk santai tanpa mengeluarkan apapun, karena merasa tidak ada ancaman sama sekali dari mereka.. Mungkin mereka mengetahui siapa gw, karena daerah ini masih termasuk kawasan kekuasaan Raja Jin..
Tak berapa lama, Sekar kembali muncul membawa kantong plastik hitam.. Gw sempat tertawa dalam hati, melihat sosok Jin cantik berpakaian puteri kerajaan, sedang menenteng plastik.. Sebelum duduk, gw melihat Sekar sempat menoleh ke arah kerumunan mahluk tinggi besar.. Anehnya, mahluk-mahluk penghuni asli tempat ini langsung melesat pergi dengan cepat, seperti takut atau tidak mau mencampuri urusan kami..
“Bukalah makanan mu, Kang Mas” Ucap Sekar yang sudah kembali duduk bersimpuh di sebelah gw..
Karena merasa sudah sangat lapar, gw langsung membuka bungkusan makanan dan sebotol air mineral yang tergeletak di hadapan.. Pandangan mata gw berbinar melihat sebungkus nasi uduk bertabur bawang goreng, lengkap dengan sambal pecel dan ayam goreng berukuran cukup besar..
“Dimana kau membeli makanan ini, Sekar?” Tanya gw penasaran sebelum menyuap nasi ke dalam mulut..
“Aku membelinya cukup jauh, Kang Mas.. Itu pun aku harus menjelma menjadi gadis biasa dahulu.. Sudahlah, Kang Mas.. Lekas kau makan.. Aku tahu kau sudah sangat lapar”
Gw mangangguk dan bersiap untuk menyuap.. Entah mengapa, rasa nasi dan ayam gorengnya sangat lezat sekali.. Belum lagi sambal pecel yang juga tak kalah sedap.. Gw sampai menjilati ujung jari, karena baru kali ini merasakan pecel ayam yang paling lezat.. Sekar sesekali tersenyum manis melihat cara makan gw, yang mungkin lucu menurutnya..
“Mengapa tidak kau habiskan, Kang Mas?” Tanya Seka,r saat gw sedang meneguk air mineral dari botol dan menggunakan sisa airnya untuk mencuci tangan..
“Aku sudah kenyang, Sekar.. Terima kasih sudah membawakan ku makanan lezat tadi”
Sekar mengagguk perlahan, lalu melemparkan pandangan ke arah depan.. Untuk sesaat, gw melihat Sekar seperti sedang memperhatikan sesuatu yang berada jauh di depan.. Gw yang penasaran, juga melempar pandangan ke arah sama.. Namun tidak ada apapun disana, meski gw sudah menggunakan Ajian Tembus Pandang..
“Apa yang kau lihat, Sekar?” Tanya gw sambil menoleh ke arahnya..
Tanpa menjawab, Sekar melirik ke arah gw, lalu melemparkan senyuman manisnya kembali..
“Kang Mas, boleh aku tengok telapak tangan kanan mu? Aku mau melihat Kitab Langit Bagian Matahari” Tanya Sekar yang membuat gw mengerutkan dahi karena heran..
Mengapa Sekar tiba-tiba menanyakan Kitab Langit Bagian Matahari, yang tersimpan di telapak tangan gw?
“Aku hanya penasaran saja, Kang Mas?” Ucap Sekar lagi seperti sudah mengetahui isi kepala gw..
Gw mengangguk dan perlahan mengulurkan tangan kanan ke depan Sekar.. Jin penjaga gw itu, nampak memperhatikan luka yang masih belum kering benar di telapak tangan kanan.. Lalu, meniupkan nafasnya ke arah telapak tangan gw..
Lagi-lagi, gw mencium aroma busuk keluar dari mulut Sekar.. Entah mengapa, dalam hati gw mulai curiga dengan sosok Sekar yang saat ini sedang duduk bersimpuh di sebelah.. Gw juga sempat melihat pola gambar Matahari yang ada di telapak tangan kanan, mengeluarkan sinar redup, begitu tersapu hembusan nafas Sekar..
“Pegang tangan Jin Penjaga mu, Ngger” Ucap seorang wanita yang suaranya terdengar tak asing dalam batin gw..
Dengan cepat, gw memegang lengan kanan Sekar dengan telapak tangan kanan.. Seketika Jin Penjaga gw itu terpekik dan bangkit melayang menjauh.. Tatapan matanya menyorot tajam menatap gw untuk sesaat, sambil memegangi lengan kanannya..
Gw yang mulai menyadari ada sesuatu yang tidak benar terhadap Sekar, ikut bangkit dan memasang kuda-kuda untuk bersiaga..
“Kang Mas, mengapa kau melukai ku?” Tanya Sekar dengan tatapan mata berubah sendu..
“Jika kau benar Sekar, kau tidak akan terluka.. Siapa kau sebenarnya?
Sekar yang semula menatap sayu ke arah gw, perlahan menurunkan telapak tangan kiri yang menutupi bekas cengkraman tangan gw di lengan kanan.. Gw sempat melihat sebuah jejak luka bakar dengan pola matahari, ada di lengan kanannya..
Perlahan, sebuah senyuman dingin menyeringai tersungging di wajah Sekar, yang mulai menyentuh bagian tengah keningnya dengan jempol kiri yang terbalik..
Mendadak, tubuh Sekar seketika berubah menjadi sosok Jin laki-laki dengan wajah sangar dipenuhi cambang, memakai kain seperti rompi tak berkancing dan celana hitam berenda kuning.. Gw sempat tercengang untuk sesaat, lalu kembali menyiapkan Ajian Tapak Jagat di kedua telapak tangan..
“Hahaha!!! Kau cukup cerdik, anak muda.. Aku tidak mengangka kau akan membongkar Ajian Malih Sukma Raga ku, dengan melukai tanganku menggunakan Kitab Langit Bagian Matahari”
“Siapa kau? Berani nya menyamar menjadi Jin Penjaga ku” Bentak gw dengan suara berteriak..
Sejenak, laki-laki itu menyibak rambut panjangnya yang acak-acakan menutupi sebagian wajah.. Lalu menyunggingkan senyuman..
“Aku Rambe Lantak, yang pernah meniru wujudmu dan membebaskan tahanan Kerajaan Laut Utara untuk memecah belah dua kerajaan gaib” Ucap laki-laki berbadan tegap itu..
Kedua mata gw terbelalak, seiring tiap gigi bergemeratak menahan emosi, setelah mendengar jawabannya..
“Jadi kau yang telah merusak nama baik ku, setan!” Bentak gw lagi dan dibalas tawa terbahak-bahak Jin yang bernama Rambe Lantak..
“Ya.. Ya.. Aku akui itu.. Aku telah mematai mu sejak kabar tewasnya Raja Siluman tersebar.. Aku tahu keluarga mu, teman-teman mu, bahkan aku tahu, Anggie.. Gadis yang paling kau cintai dengan sepenuh hati, diantara beberapa gadis cantik yang ada disekitarmu, anak muda”
Sorot mata gw semakin tajam menatap Rambe Lantak, begitu ia menyebut nama Anggie.. Itu berarti ucapannya barusan memang benar, bahwa sudah lama ia mematai kehidupan gw..
“Jangan pernah kau mengganggu orang-orang yang ada didekat ku, Rambe Lantak.. Jika itu sampai terjadi, aku bersumpah akan melenyapkan mu dengan tangan ku sendiri” Ancam gw dnegan suara lirih namun mengandung emosi tinggi..
Lagi-lagi, kalimat yang meluncur dari lisan gw hanya di balas tawa kerasnya..
“Harus ku akui, anak muda.. Dari sekian banyak sosok yang pernah aku tiru, kau salah satu kesukaan ku.. Bagaimana tidak, dengan mewarisi ketampanan Jagat Tirta, aku bisa dengan mudah nya meraba dan mencium Jin Penjaga Kerajaan Laut Utara.. Aah, aku bahkan masih ingat betapa manisnya bibir Dewi Arum Kesuma.. Mungkin, nanti aku akan melakukan hal sama dengan anak gadis kekasih mu, Anggie”
“BANGSA*!!!”
Teriak gw yang sudah tak sanggup menahan emosi, dengan melesat cepat ke arahnya sambil mengayunkan telapak tangan berisi Ajian Tapak Jagat.. Tapi, dengan mudah Rambe Lantak berkelit kesamping untuk menghindar..
Menyadari serangan yang gagal, gw ikut melompat ke samping masih dengan mengarahkan Ajian Tapak Jagat di telapak tangan kanan ke dadanya.. Rambe Lantak menangkis serangan gw menggunakan sikut, sambil melompat dan melayangkan tendangan dari kaki kanannya ke arah wajah gw..
Melihat serangan datang, gw langsung berbalik untuk menghindar, meski rasa sakit di lengan mulai terasa sejak benturan dengan sikut Rambe Lantak.. Tak menunggu lama, giliran Jin yang menguasai Ilmu Malih Sukma Raga itu, yang melayangkan serangan balasan..
Beberapa jurus tangan kosong masih sempat gw hindari atau gw tangkis, berupa pukulan dan tendangan dari Rambe Lantak.. Hingga, satu jotosannya tepat mengenai ulu hati, dan membuat gw jatuh terjengkang ke belakang..
Gw berusaha untuk bangkit, namun rasa sakit di ulu hati membuat dada gw sesak..
“Kau pikir, dengan ilmu kanuragan seujung jari kelingking, kau mampu menunaikan sumpah mu untuk melenyapkan ku?” Tanya Rambe Lantak dengan disusul senyuman mengejeknya..
“Hanya mengandalkan Tapak Jagat di tingkat pertengahan, tidak akan sanggup kau melukai ku.. Bahkan memutus rambut ku saja, kau tak kan mampu” Ucap Rambe Lantak lagi kembali meremehkan..
Gw yang masih tergeletak di atas tanah berumput, mencoba untuk bangkit kembali dengan perlahan-lahan.. Lalu, menatap wajah Rambe Lantak lekat-lekat..
“Jangan banyak cakap.. Kita buktikan saja sekarang” Ucap gw dengan suara lirih sambil menyalurkan tenaga dalam penuh di Ajian Tapak Jagat, dan membuat kedua telapak tangan gw semakin terlihat terang diselimuti sinar putih..
Rampak Lantak untuk sejenak mengulum senyuman meremehkan, lalu secepat kilat melesat.. Gw yang sudah siap, menyongsong serangannya dengan tangan kanan teracung ke depan, sementara tangan kiri menekuk dipinggang..
Jin yang mengenakan rompi dan celana hitam berenda kuning itu, menyabetkan tangan nya ke arah kepala gw.. Dengan cepat, gw tangkis sabetan tangannya menggunakan punggung lengan kiri.. Disusul telapak tangan gw yang mengarah cepat ke dada Rambe Lantak..
Secepat kilat, Jin berambut panjang itu mencengkram pergelangan tangan kanan gw dan memutarnya.. Tak mau pergelangan tangan kanan gw patah, gw segera berbalik dengan posisi tubuh sedikit merunduk, mengikuti putaran Rambe Lantak, lalu menyundulkan kepala ke arah perutnya..
DUG!!
Sundulan kepala gw berhasil mengenai perut Rambe Lantak, dan membuatnya sedikit terdorong ke belakang, sekaligus melemahkan cengkraman.. Kesempatan emas ini, gw gunakan untuk memutar posisi pergelangan tangan kanan yang masih tercengkram, ke atas dan berbalik mencengkram pergelangan tangan lawan..
“AARRGGH”
Suara teriakan kesakitan Rambe Lantak terdengar saat telapak tangan kanan gw, yang tersimpan Kitab Langit Bagian Matahari, kembali menyentuh kulitnya.. Dengan cepat, Jin itu berusaha menarik tangannya, dari cengkraman gw sambil melayangkan tendangan..
Sayangnya, gerakan gw terlalu lambat untuk menangkis atau menghindar.. Dan..
BUKK!!!
Tendangan Rambe Lantak tepat bersarang dipinggang, membuat gw terlempar kesamping hingga jatuh terguling-guling tiga kali.. Melihat posisi gw sedang tidak siap, Rambe Lantak seketika melompat tinggi, lalu turun dengan cepat ke arah gw, sambil meluruskan kaki kananya yang nampak diselimuti sinar merah..
Gw yang mencoba untuk berdiri kembali, berniat menggunakan Ajian Tapak Jagat untuk menangkap tendangan Jin itu, namun rasa sakit dipinggang membuat gw jatuh berlutut.. Menyadari keadaan tidak begitu menguntungkan, gw hendak memanggil nama Sekar di dalam hati..
Tapi, tiba-tiba dari arah utara, melesat sebuah sinar perak dengan sangat cepat ke arah Rambe Lantak.. Jin laki-laki berambut panjang acak-acakan itu, sempat melihat datangnya serangan berbahaya yang mengincarnya.. Entah karena takut atau apa , Rambe Lantak membatalkan serangan ke arah gw, dan malah berputar diudara untuk menghindari serangan sinar perak..
TARRR!!!
Suara letupan sinar perak yang menyambar sebuah pohon pinus berukuran dua pelukan tangan orang dewasa, terdengar cukup keras.. Seperti bunyi ledakan petasan.. Gw juga sempat tercengang melihat bagian tengah pohon itu terbakar dan perlahan-lahan patah, lalu tumbang diatas tanah..
“Kakang, kau tidak apa-apa?” Tanya seorang wanita dari samping..
“Arum Kesuma” Kata gw menyebut nama sosok Jin cantik yang sudah berada tepat di sebelah..
“Apa yang kau lakukan disini?” Tanya gw dengan wajah heran menatap Dewi Arum Kesuma, sambil melirik ke arah tiga ujung Trisula Peraknya yang masih memendarkan sinar keperakan..
“Membalaskan dendamku, Kakang” Jawab Dewi Arum Kesuma seraya berdiri perlahan, dengan kedua mata indahnya yang menyorot tajam menatap Rambe Lantak..
Diubah oleh juraganpengki 07-02-2018 22:05
sampeuk dan 13 lainnya memberi reputasi
14