Kaskus

Story

lemsboxAvatar border
TS
lemsbox
Aku, Dia, Dan Mereka (Horor , pengorbanan, Petualangan) INSPIRED BY TRUE STORY
Selamat malam semua. Perkenalkan aku Resa. Aku akan menceritakan sebuah kisah sederhana dari pengalaman hidup yang aku alami. Tak semuanya nyata karena ini terinspirasi dari kisahku sendiri. Mohon hargai semua aturan yang sudah dibuat. Aku tak akan bertele-tele menjabarkan.


Spoiler for Siapa aku?:

Spoiler for Daftar menu:
Diubah oleh lemsbox 11-02-2018 19:55
tabernacle69Avatar border
tabernacle69 memberi reputasi
-1
19.3K
104
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread52.8KAnggota
Tampilkan semua post
lemsboxAvatar border
TS
lemsbox
#43
Bagian 5 : Mari bernyanyi dan menari sampai kau mati!

Aku langsung mematung karna takut teriakanku membuat mereka marah atau terganggu. Aku nyengir menunjukan deretan gigiku yang kurang rata. Ternyata mereka juga membalas senyumanku sambil melambai padaku. Senangnya aku mereka tidak marah. Kusambut ajakan mereka. Aku terus berlari riang ke arah mereka. Yihaa.... sungguh ramai seperti taman hiburan. Aku mau tertawa bersama anak-anak kecil ini. Aku ingin bermain dengan anak-anak ini.

"Ayo dek, sini main sama kakak." Kataku saat melihat anak kecil yang lucu sedang kebingungan karna teman-temannya sibuk sendiri. Tapi kulihat dia sibuk juga. Lihat saja tangan kirinya memegang harum manis, sedangkan tangan kanannya menggenggam balon dengan seutas tali.

"Ayo sini sini. Maen sama kakak aja sini." Ajakku sambil kumainkan bahasa tubuh seolah akan menangkapnya.

"Haha.. haha.. haha.." lucunya si kecil ini. Dia berlari riang ke arahku.

Dia berhenti di depanku lalu menyerahkan balon padaku. Aku paham maksudnya, pasti tangannya kerepotan jadi butuh bantuanku. Baiklah langsung kuambil balon itu dengan kedua tanganku lalu aku tersenyum padanya.

Tak lama kemudian terjadi lagi.......!! Balon yang hampir ingin kudekap itu berubah menjadi kepala! Hanya sepotong kepala tanpa badan yang lainnya. Batok kepalanya terbelah sangat lebar hingga dapat kulihat otaknya yang dipenuhi oleh belatung yang masih hidup dan menggeliat di dalam tempurung kepalanya.

"Haha, ikutlah ke duniaku! Matilah kau anak dungu." Kepala itu berkata padaku.

Aku tak bisa bergerak sama sekali. Bukan karena takut tapi kini kakiku juga digelantungi oleh anak-anak kecil! Mereka seolah tak membiarkanku pergi! Aku tak bisa berbuat apa-apa lagi. Jika ini akhir hidupku, aku pasrahkan semua takdirku pada Tuhan pemilik semesta ini. Kupejamkan mataku karena pasrah dan takut, lalu pyaaar...........!!

Kepala itu meledak seolah dimasukan granat di dalamnya. Hancur lebur . Kulihat mata, telinga, dan segala media indra yang dia miliki hancur terbuyar terpisah kemana-mana. Semua orang-orang berhamburan kesana kemari. Berteriak histeris meronta-ronta. Jreeeetttt......... tubuhku ditarik sesuatu sangat kencang sekali! Entah siapa atau apa yang menarikku. Namun kini aku tepat berada di tengah-tengah pemakaman umum yang letaknya tak jauh dari padang bambu! Tubuhku langsung bergidik ngeri karna menyadari kini aku berada diantara ratusan batu nisan!

"Resaa........!!!"
"Resaaa.........!!!"

Kali ini aku mendengar teriakan memanggil namaku. Tapi entah dari mana. Yang jelas aku tak berani lagi bergeming ataupun berlari menyambut suara itu. Aku meringkuk ketakutan sambil berlindung disamping batu nisan. Aku takut aku akan dibawa ke alam yang berbeda lagi! Aku menyerah atas semua ini! Biarkan aku kembali ke hidupku yang dulu!!

"Itu Resa disitu!! Iya itu Resa!! Ayo semua ke arahnya!"

Jantungku tak karuan rasanya saat mendengar teriakan itu. Aku tak berani melihat ataupun mengintip. Kubenamkan sekalian wajahku ke dalam gundukan tanah yang belum terlalu kering ini!!

"Nak ini ibu nak! Kamu kenapa pergi ninggalin rumah nak. Ayo cepet semua bantu bopong anakku!" Suaranya mirip ibuku tapi aku tak mau tertipu lagi!

"Lepasin aku, huwaaaa!! Minggir kalian semua iblis!!" Dengan kekuatan yang tersisa, aku meronta sejadi-jadinya saat ada tangan yang menyentuhku! Aku berontak dan langsung berlari masuk ke padang bambu lagi.

"Ayo cepet kejar Resa! Aku nggak mau anakku terluka lagi!"

Aku terus berlari sekuat tenaga menyusuri padang bambu. Aku tak tau ke arah mana aku berlari. Aku juga tak bisa melihat dengan jelas karna langit gelap tanpa terlihat sinar rembulan menerangi. Aku terus berlari! Cruass.... arggghhh.....!! Kakiku sakit!! Aku seperti menginjak sesuatu yang menyakitkanku. Aku berhenti untuk melihat kakiku. Namun gelapnya suasana sangat tidak membantu pengelihatanku. Kuraba-raba kakiku tanpa perlu kulihat. Aaaaarrggh.... aku mengeram kesakitan saat jariku menyentu telapak kakiku. Seperti ada air yang menempel di kakiku namun kental. Kakiku pasti robek! Tapi aku tak bisa berbuat apa-apa karna tak mampu melihat. Dari arah belakang aku seperti melihat cahaya yang bergerak walau masih jauh dariku. Itu pasti antek-antek iblis keparat! Kupaksakan berdiri dan mencoba berlari walau terpincang-pincang. Alas kaki yang kugunakan kini hilang entah kemana. Aku paksakan berlari menjauh sebisa mungkin jangan sampai mereka menemukanku lagi......

Byaaarr...... kubuka mataku dan lagi-lagi!! Lagi-lagi aku masih tertidur diatas tempat tidurku!! Tadi mimpi, dan sebelumnya juga mimpi! Kini aku benar-benar tau bahwa kejadian-kejadian aneh yang kualami itu adalah mimpi! Kutenangkan dulu fikiranku sejenak. Pelan-pelan kurangkai ingatanku yang tersisa satu persatu. Dimulai dari terakhir aku terbangun dari tidurku. Kenapa aku bisa sampai rumah? Padahal aku sangat sadar kalau tidak ada minuman beralkohol apapun di warnet kala itu. Tapi kenapa kemarin Ale mengatakan aku mabuk CIU? Terlebih saat aku lihat bagaimana Ale bersikap padaku. Aku kenal betul siapa Ale. Tak mungkin dia se-lebay itu saat bertemu aku. Lalu 3 orang asing yang mengaku pelanggan setia warnetku. Mana mungkin aku sampai lupa wajah itu-itu saja yang sering mendekam dan bersarang di warnetku. Tapi sejatinya yang sangat mengganggu pikiranku adalah, apa yang sebenarnya terjadi setelah aku sampai warnet?? Oh iya..... harus kupastikan 1 hal lagi. Aku lalu bangkit dan menuju jendela. Kubuka jendela dan kulihat keadaan sekeliling. Benar ternyata, abu vulkanik sudah tak menghiasi lagi. Ada yang tak beres. Tak mungkin rasanya aku tidur hanya satu malam saja jika kenyataanya seperti ini. Tapi berapa lama aku tidur, dan kenapa aku sampai tertidur lama? Adakah alasan yang menguatkan semua ini! Kulihat ke arah jam. Waktu menunjukan pukul 6 pagi. Aku bangkit bersegera menuju kamar mandi di lantai bawah. Perutku keroncongan juga ternyata.

Cuci muka lalu aku mau cari makan yang tersisa di meja makan pikirku. Tap... tap... tap... kuturuni anak tangga dan langsung cepat-cepat membersihkan wajah. Dari arah bagian warung depan, kulihat ibuku sedang membersihkan warung. Pastinya sudah ada masakan yang siap saji jika warung mau dibuka. Aku menuju ruang makan yang berada di belakang ruang tamu. Nampaknya perutku sudah benar-benar tak mau tau dengan alasanku. Yang dia perlu saat ini adalah makan dan makan. Aku berjalan sambil terus memperhatikan ibuku di depan yang sibuk membersihkan warung. Blaaaaak........... pintu kamar terbuka dan kulihat ibuku keluar dari kamar. Hah..........??? Aku melongo karena kini aku berhadapan dengan ibuku! Lalu.. lalu yang disana siapa? Kataku sambil menengok ke arah warung. Dan alangkah kagetnya aku tak melihat sosok yang kukira ibuku di warung. Ibu ikut keheranan melihat aku yang kebingungan tanpa mengeluarkan suara apapun.

"Bude dimana bu??" Tanyaku memastikan.

"Bude ya udah ke pasar dari jam 5 tadi kayak biasanya. Ada apa sih sa, kamu kok keliatan bingung gitu?" Selidik ibuku.

"Terus yang tadi bersihin warung siapa bu? Barusan aku liat ada orang yang beresin warung, kukira itu ibu. Tapi ternyata ibu baru keluar dari kamar. Makanya aku terus tanya bude." Kataku yang mulai merasa parno.

"Ah ngawur kamu. Orang alat buat bersih-bersihnya juga masih di dapur belum tak bawa ke depan kok. Budemu juga udah gak dirumah jam segini." Jawab ibuku tenang.

"Sumpah bu, barusan aku liat jelas." Jawabku lagi membela diri.

"Kamu mulai bisa liat kayak gitu lagi nak?" Tanya ibuku.

"Hah, mulai bisa? Maksudnya bu??"

"Dulu pas ada Icha, kamu juga bisa liat kayak gitu kan? Dah gak usah takut, itu paling mbah buyutmu yang lagi pengen jenguk cucunya." Kata ibuku sambil tersenyum lalu pergi ke dapur.

ICHA........... Icha....... nama yang tak asing bagiku. Ada sedikit ingatan yang muncul ketika ibu menyebut nama itu. Sambil mengambil makanan, aku lalu membawa ke ruang tamu. Aku mau makan dan nonton acara televisi sekalian. Di otaku masih berputar-putar tentang nama ibu. Mungkin pekerja yang berada di otaku sedang sibuk mencari file berjudul "Icha". Kuambil remote lalu kulihat acara. Ternyata ada berita tentang Icha disitu. Ah ngawur, mana mungkin seperti itu. Gara-gara nama Icha, aku malah kian ngelantur. Sudahlah nanti juga kuingat siapa Icha itu. Wah... pas sekali ini, acara musik. Jadi rindu rasanya ingin nge-band lagi.
Ohh iyaa.......! Aku ingat siapa Icha itu!

Icha..... dia adalah sosok gadis yang selalu kurindukan. Dia yang pernah membuatku merasakan indahnya jatuh cinta. Dia yang pernah membuatku merasakan hebatnya sebuah rasa memiliki dan menjaga. Dia memang bukan gadis biasa. Tak hanya aku yang merasakan itu. Namun semua orang yang pernah bertemu dengannya akan berkata demikian. Ya, dia juga yang pernah membuat mataku jadi 3. Dia yang mengenalkanku dengan dunia tak kasat mata. Namun dia menghilang begitu. Tak ada secuil kabar ataupun berita tentangnya. Hanya menyisakan segumpal rindu dan harus yang melekat di relung hatiku. Memang banyak tanda yang mungkin dia berikan padaku setelah dia pergi mengilang. Dulu aku masih bisa merasakan nyata kedatangannya di alam mimpi. Mungkin itu juga alasan kenapa dia tak menutup kembali mata ketigaku setelah dia menghilang. Namun berjalannya waktu dan aku yang memang tak mempunyai bakat akan hal itu, membuat hidupku senyaman di pelukan sang bunda. Aku masih ingat sekali saat aku bisa dengan mudah melihat mereka. Mungkin seperti kata pepatah, ilmu yang tak diasah maka akan menjadi tumpul. Entah pepatah milik siapa itu. Lambat laun aku juga tak lagi merasakan hal yang berbau gaib tanpa aku mencongkel mata ketigaku. Hidupku kembali normal tanpa rasa takut.

Apa yang ibu katakan bisa saja terjadi. Logikanya, aku memang tak pernah menghilangkan mata ketigaku dengan cara apapun. Jadi sejatinya mata itu sebenarnya masih ada dalam diriku, walau entah dia terpasang di bagian mana dalam tubuhku. Bisa saja di pantat, atau betisku. Terlebih lagi saat kemarin aku bertemu dengan keganjilan-keganjilan yang tak mungkin ku nalar. Ahhh....! Tidak, aku tetap yakin semua ini adalah ulah orang terdekatku! Biar nanti saja kupikirkan setelah makan. IQ ku pasti akan bertambah setelah aku makan. Nyam.. nyam.. nyam... aku makan mirip orang barbar yang kelaparan setelah perang. Selesai makan langsung kubawa piring ke tempat cuci. Tap.....

"Kamu mau istirahat lagi nak?" Seru ibuku

"Iya bu, aku udah ngantuk. Tak naik dulu." Jawabku.

"Yaudah pelan-pelan naiknya."

Cekreeek....... aku masuk ke kamarku dan sangat kebetulan seperti di sinetron. Mataku mengarah pada monitorku. Biasanya terhias kolor atau kancutku diatasnya. Namun kini aku melihat gelang yang ada di dalam mimpiku!! Kuambil gelang yang tergeletak diatas monitor.

Krincing.... krincing.....

Kugoyang-goyangkan dan bunyinya sama seperti dalam mimpiku! Lagi-lagi aku dipermainkan oleh pikiranku sendiri. Lalu mana yang harus kuanggap mimpi? Semua rancu dan membingungkan. Semua nampak terasa nyata bagiku. Aku duduk di atas alas tidurku sambil menarik nafas dalam-dalam. Kuperhatikan gelangnya, aku berharap menemukan jawaban dari semua misteri ini. Pikiranku sudah sangat buntu, bantu aku Tuhan. Aku lantas merebahkan diriku dan berharap tidur dan bermimpi indah. Aku menantikan mimpi indah...

Tunggu.....!! Rasa-rasanya aku pernah bertemu seorang gadis yang tak asing buatku. Kuingat dulu, kapan aku memimpikan itu. Oh iya..... aku bermimpi kemarin saat tidur di warnet. Icha.. dia yang ada di mimpiku adalah Icha!! Apakah semua kejadian ini terkait dengan Icha? Apakah aku bisa melihat sesuatu yang tak terlihat karna mata ketigaku terbuka lagi?

Fiuhh.... "andai kamu dateng cha, kamu pasti bisa bantu aku!" Ucapku sambil mataku menerawang jauh.

"Aku akan bantu kamu"

"Hahh..??" Aku kaget mendengar suara. Langsung aku duduk dan celingak celinguk melihat kanan kiri.

"Siapa kamu? Tampakan wujudmu jika kau berani! Aku tidak takut lagi pada siapapun kau!" Teriakku.

"Aku Andi temanmu."

"Astaga...!"
itkgid
itkgid memberi reputasi
1
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.