- Beranda
- Stories from the Heart
KABUT (Horror Story)
...
TS
endokrin
KABUT (Horror Story)
Tanpa basa-basi lagi bagi agan dan sista yang sudah pernah membaca dongeng-dongeng saya sebelumnya kali ini saya ingin mempersembahkan sebuah dongeng baru

Cerita saya sebelumnya bisa dibaca dibawah ini, tinggal diklik saja
Quote:
WARNING!!
Quote:
Saya mohon dengan sangat untuk tidak mengcopy paste cerita ini. semoga agan dan sista yang budiman bersikap bijaksana, dan mengerti bahwa betapa susahnya membuat cerita. Terima kasih
Quote:

Diubah oleh endokrin 19-05-2019 05:10
disturbing14 dan 30 lainnya memberi reputasi
29
620K
Kutip
2.2K
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
endokrin
#1321
Quote:
CHAPTER 13
“Kalian bersiap-siaplah, kemasi semua barang. Aku akan kembali ke tenda agar mereka tidak curiga.” Bisik si pria berkacamata.
“Kenapa aku harus turun malam ini ? kami berdua tidak ada hubungannya dengan kalian bukan ?”
“Tidak maukah kalian menolongku ? mereka tidak akan turun. Mereka akan mencari makhluk itu. jika siang nanti aku pamit pada mereka untuk turun bersama kalian, teman-temanku akan mencurigaiku. Projek yang kami jalani ini sangat rahasia.”
“Tapi bukankah kalian kehilangan teman ? seharunya kalian cepat-cepat turun dan membuat laporan.”
“Itu memang benar. Tapi sebelum medapatkan foto makhluk itu, mereka tidak akan turun. Mereka tidak akan menceritakan kejadian sebelum teman kami tewas. Mereka tidak akan mau turun bersama kita. Mereka Cuma berpura-pura untuk turun, padahal mereka sedang berkeliling.”
“Aku mohon. Aku tidak berani kalau harus turun malam-malam sendirian.” Lanjut si pria berkacamata.
“Bagaimana Im ?”
“Aku sedang bingung. Tapi apa salahnya kita membantu orang, lagian kita juga harus cepat-cepat turun sebelum terjadi sesuatu dengan Hesti.”
“Baik kalau begitu. Tunggu aku dijalur bawah. Aku akan menyusul.”
Si pria berkacamata keluar tenda, dia berjalan mengendap-ngendap. Tidak begitu lama terdengar dia bercakap-cakap dengan temannya. Mungkin si pria berkacamata sedang memberi alasan kenapa dia meninggalkan tenda.
“Kenapa kita harus menolong dia Im ? kita baru kenal tadi sore dengannya.”
“Rupanya dari pendakian ini kamu belum bejalar apapun. ini namanya solidaritas. Lagian aku merasa kasian. Tidak kah kamu melihat raut ketakutan di wajahnya ?”
Setelah tenda si pria berkaca mata terlihat gelap kembali. Aku membangunkan Imron, sedangkan Baim mengemasi barang-barang.
“Ada apa ?”
“Apa tubuhmu sudah terasa lebih baik ? kita akan turun sekarang.”
“Ini masih malam.”
“Nanti aku jelaskan dijalan. Tapi sekarang kita harus cepat turun.”
Untunglah Imron tidak banyak bertanya, dia langsung bangun dan menuruti perintahku untuk bersiap-siap. Aku merasa kasian padanya, kelihatannya Imron masih terlihat lemas.
Imron duduk bersandar pada batang pohon. Aku dan Baim membongkar tenda. Kami berdua berusaha sebisa mungkin agar tidak membuat suara yang bisa mengundang perhatian. Setelah semua barang masuk kedalam ransel, kami langsung turun.
Udara dingin terasa sampai ke tulang. Tidak peduli walaupun jaket yang dikenakan sudah sangat tebal tapi hawa dingin tetap terasa dipunggung dan dada. Kondisi jalanan basah, beberapa bagian berlumpur. Sehingga kalau kurang hati-hati bisa tergelincir.
Aku sedikit kesulitan karena saat berjalan harus menyeimbangkan badan hanya dengan satu tangan. Imron menyorotkan senter dari belakang agar aku bisa melihat kedepan. Baim didepan membuka jalan, menutupi bagian yang licin dengan tanah ataupun batu agar aku tidak sulit untuk melewatinya.
Setelah kami turun beberapa meter dari tempat mendirikan tenda tadi. Kami bertiga mencari tempat yang landai untuk beristirahat sambil menunggu si pria berkacamata. Baim menyalakan lampu tenda, sehingga keadaan disekitar menjadi terang.
“Kita menunggu siapa ?” Tanya Imron.
“Nanti juga kamu tahu setelah dia datang.”
Baim menyalakan satu batang rokok. Imron menyandarkan tubuhnya pada pohon kemudian memejamkan mata. Aku terus menyorotkan senter kearah jalan yang telah kami lewati tadi. Untuk memberi tanda seandainya si pria berkacamata datang dan sedang mencari keberadaan kami.
Suasana sangat sepi. Tidak terdengar suara apapun, baik serangga ataupun suara angin yang biasanya menggoyangkan dahan pohon. Anehnya suasana seperti ini bukan membuatku takut, tapi membuatku tenang. Aku seperti berada diruang hampa.
Terdengar suara langkah kaki yang terburu-buru, bayangan hitam nampak diatas. Si pria berkacamata sedang berdiri sambil memegang senter ditangannya. Dia tidak membawa apapun, kecuali jaket yang melekat ditubuhnya.
“Maaf membuat kalian menunggu lama. Apa kita langsung berangkat sekarang ?”
“Kenapa kamu tidak membawa ransel atau air mineral, perajalanan kita tidak sebentar.”
“Kalau aku mengemasi barang-barang, teman-temanku akan terbangun. Maafkan aku.”
“Kenapa dia ikut dengan kita ?” Tanya Imron.
“Akan aku ceritakan sambil kita jalan.”
Aku sempat menawarkan si pria berkacamata untuk beristirahat, tapi dia menolak. Rupanya dia sangat ingin cepat-cepat sampai dibawah. Kami berempat melanjutkan perjalanan. Baim memimpin didepan, Si pria berkacamata berjalan paling belakang. Karena jalur tidak terlalu curam, saat berjalan kita sambil berbincang.
“Apakah aku boleh bertanya, apa maksudmu dengan projek rahasia yang sedang kamu lakukan bersama teman-temanmu itu ?”
“Sebenarnya tahun lalu kami juga datang kesini. Dengan maksud yang sama, mencari makhluk itu. awalnya kami mengira akan mudah atau biasa saja. kami meminta ijin pada kuncen gunung ini agar bisa melihat makhluk itu, kami melakukannya semata-mata hanya untuk menghormati warga setempat saja dengan diwakili kuncennya. Tapi yang kami terima bukannya sikap ramah, tapi dia mengusir kami. Aku tidak mengerti kenapa dia melakukan itu pada awalnya.”
“Maksudmu dengan makhluk itu apa ?”
“Sebaiknya kita tidak boleh menyebutkan namanya. Menurut cerita yang kudengar, telinga yang dimiliki makhluk ini sangat tajam, bahkan seluruh gunung ini ada dalam jangkauan pendengarannya. Mungkin saja saat kita berbicara sekarang dia mendengar tapi tidak mengerti dengan apa yang kita ucapkan. Jika kita menyebut namanya, konon dia akan datang, karena merasa itu sebuah panggilan.”
“Apa kamu mencoba menakut-nakuti kita ?” Imron tidak mengerti dengan ucapan si pria berkacamata. Dia tidak tahu tentang apapun yang aku dan Baim dengar saat ditenda dari si pria berkacamata.
“Kamu boleh percaya atau tidak. Tapi aku tidak mau menyebutkan namanya. Kalian belum pernah melihatnya jadi tidak mengerti dengan rasa takutku.”
Baim menghentikan langkah kakinya, dia berbalik kepadaku.
“Apakah sama dengan makhluk yang kamu bicarakan Pan ? Hitam dan berisik ?”
“Apa kalian melihatnya ?” Si pria berkacamata mendengar ucapan Baim.
“Sejujurnya aku melihatnya. Tapi aku tidak yakin makhluk yang kamu bicarakan sama dengan makhluk yang aku lihat. Aku hanya melihat sekelebat. Sebenarnya apa itu ? apakah itu binatang ?” Jawabku.
“Hey, kalian sedang membicarakan apa ? bisakah untuk tidak membicarakan hal-hal menyeramkan sekarang.” Imron melihatku kemudian menatap si pria berkacamata, dari wajahnya dia terlihat kesal.
“Aku tidak tahu harus menyebutnya binatang atau dedemit. Tapi makhluk itu yang menjaga gunung ini. Kedatangannya selalu diawali dengan turunnya kabut.” Si pria berkacamata tampaknya tidak peduli dengan peringatan Imron.
“Sebenarnya apa yang telah kalian lakukan ?”
“Kami memancingnya keluar. Agar bisa mengambil gambarnya.”
“Memancing ?”
“Iyah. Saat tahun lalu kami diusir oleh sang kuncen. Tahun ini kami kembali, mungkin mereka lupa bahwa tahun kemarin kami pernah datang kesini. Kali ini aku dan teman-temanku tidak meminta izin.”
Dibalik kacamatanya air mata mengalir. dia seperti menahan tangisan sehingga pipinya terlihat merah. Aku dan Baim saling bertatapan tidak mengerti apa yang sebenarnya dialami si pria berkacamata.
“Asal kalian tahu, aku tidak terlalu yakin teman wanitaku terkena hipotermia. Aku rasa dia syok melihat makhluk itu. dia yang pertama melihatnya. Setelah itu selama perjalanan keatas dia selalu terlihat murung. Dia bilang kepadaku saat sedang menggigil kedinginan, dia bisa melihat wujud utuhnya, bahkan dia saling bertatapan dengan mata makhluk itu.” Si pria berkacamata menyeka air matanya.
“Lalu saat melihatnya kenapa kamu tidak memotretnya ? bukankah itu tujuan kalian ?”
“Teman wanitaku yang meninggal, dia yang memegang kamera. Dia bahkan tidak sempat menyalakan kamera. Kamu kira dia akan mengambil gambar saat tubuhnya tidak bisa bergerak karena ketakutan ?”
“Lalu kenapa ketiga temanmu yang masih hidup itu masih penasaran, kalau sudah tahu makhluk itu menyeramkan ?”
“Mereka tidak melihatnya. Mereka tidak percaya dengan apa yang aku ucapkan. Hanya aku dan keempat temanku yang meninggal itu yang melihatnya.”
“Sebentar..sebentar.” Baim kembali berbalik sehingga langkahku dibelakangnya terhenti.
“Apakah ada yang aneh. Ketiga temanmu meninggal saat melihat makhluk itu ? dan jasad mereka tidak bisa ditemukan. Hilang begitu saja ?” Baim menatap si pria berkacamata.
“Aku lupa memberitahumu. Saat kamu melihat makhluk itu, jangan pernah kalian saling bertatapan. Hanya itu yang aku tahu berdasakan literatur yang aku baca mengenai makhluk itu. aku tidak tahu apa akibatnya.”
“Adakah kemungkinan, kalau ada orang yang bertatapan dengan matanya, maka dia akan hilang ?” Baim bergumam.
“ Temanku bukan hilang, dia meninggal. Masuk kedalam jurang.”
“Tapi bukankah mayatnya tidak ditemukan bukan ?”
“Apakah ini ada hubungannya dengan hilangnya Hesti ?” Imron tampaknya mulai mengerti dengan arah pembicaraan Baim.
Aku, Baim dan Imron saling bertatapan. Mejatuhkan ransel, kemudian duduk diatas tanah yang basah. Imrom menundukan kepala dia tampak sedang berpikir. Baim mengambil satu batang rokok dari saku jaketnya, wajahnya masih tampak bengong ketika menyalakan korek. Si pria berkacamata melihat kami bertiga dengan heran.
“Kabut sangat tebal selama kami melakukan pendakian. Bukankah kamu bilang bahwa kabut adalah pertanda makhluk itu sedang ada disekitar kita ?” Kataku pada si pria berkacamata.
“Mungkinkah Hesti melihatnya ? mungkin dia melihat matanya. Tapi kenapa dia tidak memberitahukannya kepada kita ?” Kata Imron.
“Aku yang salah. aku yang memberitahu kalian untuk tidak membicarakan kejadian ganjil saat pendakian karena akan menggagu.” Baim menghisap rokok kreteknya.
“Jadi apa yang harus kita lakukan sekarang ?”
Bersambung.....
Jangan lupa like, comen, share and subcribe
Diubah oleh endokrin 06-02-2018 01:28
twiratmoko dan 12 lainnya memberi reputasi
13
Kutip
Balas
Tutup