Kaskus

Story

juraganpengkiAvatar border
TS
juraganpengki
GW BERTEMAN DENGAN KOLONG WEWE (CHAPTER 3 / FINAL CHAPTER)
GW BERTEMAN DENGAN KOLONG WEWE (CHAPTER 3 / FINAL CHAPTER)

GW BERTEMAN DENGAN KOLONG WEWE (CHAPTER 3 / FINAL CHAPTER)
Cool Cover By Agan Linbara (Thanks, Bree)..

Prolog

Setelah bangun dari ‘Mati Suri’ karena memutuskan untuk mencoba membunuh diri sendiri untuk melindungi Kitab Langit dan melenyapkan Bayu Ambar, gw kembali ke dunia nyata.. Kehidupan gw sedikit jauh berbeda, karena pengalaman ‘Mati Suri’ itu berefek langsung pada kelebihan yang gw miliki.. Gw masih sama Anggie, meski ujian atas cinta kami masih saja mendera.. Ada musuh baru, tentu saja.. Tapi ada juga sahabat baru yang muncul.. Karena ini akhir dari cerita kami berempat..

Kembalinya Anak Ibu...
Pengorbanan Pedang Jagat Samudera...
Cintai Aku Sewajarnya, Yank...
Matinya Seorang Saudara (Versi Gw/Bimo)
Berkumpul Kembali...
Keanehan Yang Mulai Muncul...
Sambutan Ketiga Saudara Ke Reinata...
Sabar???
Cukup! Tinggalin Aku Sendiri!!!
Siapa Kau???
Aku Ikutin Kemauan Kamu...
Keputusan Sepihak Yang Pahit...
Semua Beban Menjadi satu
Semua Beban Menjadi Satu (2)...
Serangkum Rindu Untuk Ayah...
Munculnya Penguasa Laut Utara...
Bertemunya Dua Penguasa...
Sebuah Kesepakatan...
Ibu Kenapa Yah???
Lu Kenapa, Ka???
Wanted Dead Or Alive.. ANTON!!!
Mo 'Perabotan' Lu Hancur Apa Tanggung Jawab???
It's The End Of Us...
Di Kerjain Ibu...
Ridho!!!
Kelewatan!!!
Munculnya Dua Penjaga Gerbang Kerajaan Laut...
Dewi Arum Kesuma VS Dewi Ayu Anjani
Datangnya Sosok Seorang Pemisah Dan Shock Therapy Buat Gw...
Kerajaan Jin...
Terkuaknya Semua Jawaban...
Maafin Gw, Bree...
Pengakuan Suluh...
Akhirnya Boleh Gondrong...
Pernikahan Kak Silvi Yang Seharusnya Membuat Gw Bahagia...
Pernikahan Kak Silvi Yang seharusnya Membuat Gw Bahagia (2)...
Tunggu Pembalasan Gw!!!...
Ni Mas Linduri dan Banas Ireng...
Dua Sosok Penyelamat Misterius...
Ada Apa Sama Ridho?...
Kesalahan Fatal...
Kembalinya Jin Penjaga Ridho dan Suluh...
Akibat Terlalu Ikut Campur...
Setiap Perbuatan Akan Mendapat Balasan...
Munculnya Viny Dan Sebuah Tantangan Bertarung...
Manusia Cabul...
Suara Penolong Misterius...
Bertemunya Kembali Sepasang Kekasih...
Terkuaknya Kebenaran...
Kabar Baik Ayu Dan Prasangka Sekar...
Kabar Baik Ayu Dan Prasangka Sekar (2)...
Jaket Dan Celana Jeans Robek Serta Sweater Hitam Kumal...
She's My True Love...
Dilema...
Pertengkaran Dengan Ibu...
Rambe Lantak...
Gendewa Panah Pramesti...
Akan Ku Balaskan Dendam Mu, Arum Kesuma!!!
Yang Hilang dan Yang Kembali...
Jawaban Ayu...
Mati Gw!!!
Aku Makin Sayang...
Nasihat Om Hendra...
Jera Mencuri...
Ajian Segoro Geni...
Pilihan Sulit...
Keputusasaan Anggie...
Kabar Baik dari Ridho dan Suluh...
Perjalanan Menuju Pembalasan Dendam...
Rawa Rontek...
Rawa Rontek 2 (Terbayarnya Dendam)...
Kedatangan Pak Sugi...
Orang Titipan...
Hukuman Paling Berat...
Tidurlah Di Pangkuan Ku...
Menjajal Kesaktian...
Menjajal Kesaktian (2)...
Pengakuan Mengejutkan Babeh Misar...
Pengajaran Ilmu Silat Betawi...
Di Kepret Babeh Misar Lagi...
Tasya...
Naga Caglak dan Bajing Item...
Misteri Sebuah Dendam...
Kekuatan Sejati Kitab Langit Bagian Matahari...
Perpisahan...
Tanah, Air, Api dan Setetes Darah dari Jantung Seorang Putera...
Tanah, Air, Api dan Setetes Darah dari Jantung Seorang Putera (2)...
Kembalinya Ibu...
Empat Bayangan Hitam...
Siapa Ni Mas Laras Rangkuti???
Dendam Seorang Sahabat...
Ini Keputusan Yang Harus Gw Ambil...
Semua Pengorbanan Ini Demi Ibu...
Rapuh...
Kabar Mengejutkan Sekar dan Sebuah Restu...
Siasat Braja Krama...
Munculnya Kitab Langit...
Si Pembuka Kitab langit dan Sosok Asli Pak Sugi...
Rencana Yang Matang...
Lamaran Pribadi...
Keingintahuan Anggie...
Perubahan Rencana...
Hampir Terjebak...
Kekecewaan Sekar...
Dua Syarat Reinata...
Aku Harap Kamu dan Anggie Bahagia, Mam...
Rahasia Sepasang Suami Isteri...
Menitipkan Amanah...
Berkumpulnya Para Pembela Kitab Langit...
Siasat Ki Purwagalih...
Raja Jin Raja Muslihat (Nyesek, Bree)...
Pertukaran Tawanan...
Perang Gaib PunTak Terelakkan...
Sang Penyelamat Dari Utara...
Pertempuran Awal Dua Penguasa Kerajaan Gaib...
Bertekuk Lututnya Sekutu Braja Krama...
Pertarungan Dua Putera (Gugurnya Satu Sahabat Gaib)...
Krama Raja...
Braja Krama Versus Krama Raja...
Raja Licik...
Aku Lah Sang Pembuka...
Siasat Krama Raja dan Bayu Ambar...
Terbukanya Semua Ilmu Terlarang...
Sebuah Pengecualian...
Sri Baduga Maharaja...
Hilangnya Sebuah Pengecualian...
Hilangnya Sebuah Pengecualian (2)...
Sebuah Pengorbanan...
Pahlawan...
Sumpah...
Ilmu Pamungkas yang Terlarang...
Kabar Yang Mengejutkan...
Pulang...
Pulang (2)...
Sedikit Kisah Rio Sebelum Kisah Ini Tamat...
Terhalang Sumpah...
Bantuan Sahabat Baik...
Bachelor Party...
Keturunan Lain Sang Prabu...
Pembalasan Dendam Singgih...
Sepenggal Kisah Nyi Mas Roro Suwastri...
Tawaran Yang Mengejutkan...
Lawan Atau Kawan???
Terkuaknya Silsilah...
Sebuah Kebenaran...
Sebuah Kebenaran (2)...
Bertemunya Dua Keturunan Sang Prabu...
Pertempuran Dua Hati...
Cinta Pertama VS Cinta Terakhir Jagat Tirta...
Pengakuan Bayu Barata...
Ki Larang dan Nyi Mas Galuh Pandita???
Prana Kusuma...
Kau Benar Keturunan Kami, Ngger...
Our Big Day...
Insiden...
Munculnya Para Tamu Tak Terduga...
Munculnya Para Tamu Tak Terduga (2)...
Dua Tamu Istimewa...
Semua Karena Cinta...
Keputusan Sekar Kencana...
Kena Gampar...
Bonyok!!!
RIBET!!!
Berdamai...
Keponakan Baru...
Malam Pertama dan Tiga Keanehan...
Ajian Warisan Para Leluhur (The Last Part/End Of All Chapters)

SIDE STORIES

Keturunan Yang Tersesat...
Keturunan Yang Tersesat (2)...

Diubah oleh juraganpengki 15-07-2018 20:23
uang500ratusAvatar border
devanpancaAvatar border
iskrimAvatar border
iskrim dan 132 lainnya memberi reputasi
127
2.1M
8K
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread52.9KAnggota
Tampilkan semua post
juraganpengkiAvatar border
TS
juraganpengki
#2220

Dilema...

Anggie nampak terdiam dan memandang nanar ke arah danau, setelah mendengarkan penuturan gw soal Ayu.. Tangan kanannya pun di tarik dari genggaman gw yang hendak menyematkan cincin, kemudian dilingkarkan diatas pahanya.. Gw juga terdiam, menatap cincin emas yang tidak jadi tersemat dijari manis Anggie..

Tentang, Ayu.. Tak ada satupun yang gw tutupi perihal gadis itu, saat menceritakannya ke Anggie.. Meski sekarang Anggie mendiamkan gw dan terus menatap ke arah danau..

“Yank, kamu marah?” Tanya gw mencoba memulai pembicaraan kembali..

Anggie tertunduk untuk sesaat, lalu menoleh ke arah gw.. Kedua mata gadis itu, nampak sedikit berkaca-kaca, meski kemudian sebuah senyuman yang terasa sangat dipaksakan, tersungging di wajah Anggie.. Beberapa kali Anggie menggelengkan kepalanya sambil menundukkan wajah kembali..

“Aku ga tau harus marah apa engga.. Tapi, aku jujur kasihan sama cewe yang kamu tembak.. Sekarang, dia pasti lagi nyiapin kalimat terbaiknya buat jawab kamu” Ucap Anggie seraya menatap gw untuk sejenak, lalu tertunduk lagi..

“Tapi aku ga sengaja, Yank.. Aku kek ngeliat muka kamu pas nembak Ayu.. Bahkan, aku..”

“Beb, stop!” Sambar Anggie yang langsung memotong kalimat gw barusan..

Gw mengerutkan dahi karena bingung dengan maksud gadis itu, yang tidak membiarkan gw menyudahi kalimat.. Dengan penuh tanda tanya, gw terdiam menunggu Anggie menjelaskan maksudnya..

“Buat cewe, ditembak sama orang yang disukai, bahagia nya itu luar biasa, Beb.. Aku yakin, kalo Ayu ga malu, dia pasti langsung jawab Iya, tanpa harus nunggu besok.. Dan Ayu juga pasti lagi berbunga-bunga perasaannya sekarang.. Apa kamu mo bikin hatinya hancur dengan bilang kamu ga sengaja nembak? Tega banget kamu kalo kek gitu, Beb” Ucap Anggie dengan kedua mata kembali berkaca-kaca..

Gw kembali terdiam mendengar kalimat Anggie.. Dalam hati, gw membenarkan apa yang sudah ia ucapkan.. Gw juga menyalahi diri sendiri, telah membuat semua yang awalnya baik berubah semrawut lagi..

“Iya.. Aku akuin aku salah, Yank.. Tapi, aku bingung harus gimana? Aku sama sekali ga ada rasa sama Ayu.. Aku sayangnya sama kamu” Kata gw dengan nada memelas..

Anggie terlihat menyeka kedua matanya yang mulai basah sambil terus tertunduk.. Semua memang salah gw! Gw yang udah bikin berantakan.. Perlahan, gw menarik tangan Anggie dan menggenggam jarinya dengan telapak tangan kiri..

“Yank, please kamu jangan berubah gara-gara masalah ini” Kata gw dengan nada suara lirih, sambil terus menatap Anggie yang wajahnya masih saja tertunduk..

Suara tarikan nafas gadis itu, terdengar sangat berat.. Lalu dihembuskan nya perlahan, seiring wajahnya yang terangkat dan menatap gw dengan penuh arti.. Kembali gadis itu mengulum senyuman yang dipaksakan, dan membalas erat genggaman tangan gw.. Lalu, telapak tangan kanan Anggie membelai wajah gw dengan lembut..

“Kamu lebih baik selesain dulu masalah sama cewe yang namanya Ayu, Beb.. Aku janji bakal nunggu, sampe masalah kamu kelar.. Cincinnya kamu simpen aja dulu yah” Ucap Anggie, lalu mengecup dua telunjuk jari manis dan jari tengahnya, kemudian dua jari itu ditempelkan di bibir gw..

Gw sempat merasa getir didalam hati, mendengar permintaan Anggie soal cincin yang seharusnya sudah kembali tersemat di jari manisnya.. Namun, gw juga harus menerima apa yang ia sarankan.. Gw berjanji dalam hati, gw akan membenahi apa yang sudah gw buat berantakan..

Perlahan, gadis itu berdiri sambil merapikan jaket serta rambutnya.. Gw juga ikut bangkit sambil memasukkan cincin ke dalam saku celana jeans dan menoleh ke arah samping, saat mendengar suara dua orang berbicara sedang mendekat.. Darren dan istrinya, Kak Amelia, nampak melempar senyuman hangat ke gw, lalu mengulurkan tangan..

Gw menjabat hangat uluran tangan Darren dan Kak Amelia, sementara Anggie langsung merangkul lengan gadis manis berambut sedikit ikal yang merupakan Kakak Ipar nya itu..

“Akhirnya, tugas penyamaran aku selesai, honey” Ucap Darren ke arah istrinya, dan di balas senyuman manis dari Kak Amelia..

“Kalian sudah balikan?” Tanya Darren dengan polosnya dan membuat gw sedikit kikuk, lalu melirik ke arah Anggie..

“Ga jadi, Kak.. Imam nya keburu punya cewe lain” Celetuk Anggie yang membuat kedua mata gw membesar..

Darren seketika melotot menatap gw..

“Bo’ong, Kak.. Gw ga punya cewe lagi” Sanggah gw dengan wajah sedikit memucat, sambil berkali-kali menggoyang-goyangkan telapak tangan kiri..

Baik Anggie dan Kak Amelia terdengar tertawa bersamaan, melihat gw yang sempat dibuat kikuk.. Sementara, Darren sendiri langsung merangkulkan lengannya ke bahu gw dan mengajak berjalan sedikit menjauh dari dua wanita yang disayanginya itu..

“Denger, Mam.. Gw yakin Anggie udah cerita soal siapa gw.. Yang perlu lu tau, meski Anggie bukan saudara kandung gw, tapi gw udah janji buat jagain dia.. Dan, gw bakal bikin menyesal orang yang nekat buat mainin perasaan Anggie, ga perduli siapa orangnya” Kata Darren dengan nada tegas tapi tak terdengar mengancam..

“Iya, Kak.. Gw juga punya ade cewe.. Gw ngerti perasaan lu, Kak.. Hubungan gw ke Anggie, ga main-main, Kak.. Inshaa Allah, gw ga bikin Anggie kecewa” Jawab gw dengan nada mantap..

“Good! Gw suka cowo gentle kek lu.. Ga salah ade gw milih lu, Mam” Ucap Darren, disusul senyumannya sambil menepuk bahu gw beberapa kali..

Gw juga tersenyum dan menganggukan kepala, lalu berjalan kembali bersama Darren ke arah Anggie dan Kak Amelia.. Melihat gw sudah mendekat, Anggie melepas pelukannya dari lengan Kak Amelia, kemudian berjalan menyongsong kedatangan gw dan menggenggam tangan kiri ini.. Sementara, Darren sempat menggoda Anggie sebentar dan mempercepat langkah menuju istrinya..

“Kamu bawa kendaraan ga? Kalo ga bawa, ikut balik bareng kita aja yah, Beb” Tanya Anggie, sambil terus menemani gw berjalan dengan tetap menggenggam tangan kiri gw..

“Aku tadi dianter Ridho, Yank.. Udah janji ntar dia jemput lagi disini.. Kamu balik aja sama Darren dan istrinya.. Aku mo nunggu Ridho, dia udah dijalan keknya” Jawab gw disusul sebuah senyuman untuk Anggie..

“Ya udah, aku balik bareng mereka deh.. Nanti, kalo udah sampe rumah, aku telpon kamu dan jangan lupa, selesain masalah kamu sama cewe itu” Ucap Anggie sambil mencubit pinggang gw..

Aneh, cubitan Anggie kali ini meski masih terasa sakit, tapi malah membuat gw tersenyum senang.. Sudah lama sekali gw tidak merasakan cubitan tangannya di pinggang..

Sempat melambaikan tangan untuk sesaat, gw terus menatap Anggie yang kembali menggandeng lengan Kak Amelia, saat mereka bertiga sudah berjalan meninggalkan gw sendiri.. Gw melirik jam di tangan kanan, sudah hampir setengah lima.. Menyadari belum menunaikan kewajiban Shalat Ashar, gw segera mencari mushola terdekat..

Sebatang rokok yang sudah menyala, menjadi teman gw melewati masa menunggu Ridho.. Selepas Shalat Ashar tadi, gw sempat menelponnya agar segera menjemput, dan dia bilang oke.. Mungkin sudah 15 menitan gw menunggu Ridho, dengan duduk di atas balai bambu kecil milik seorang pedagang es kelapa.. Alas tikar yang sempat gw duduki, sudah di ambil penyewanya, mungkin merasa sudah tak ada lagi yang menduduki..

Segelas kopi susu panas, sudah tersisa setengah.. Sebagai pelengkap rokok yang sudah menyala.. Menurut gw, masa paling enak buat gw sebagai seorang perokok ada dua.. Pertama, saat ngopi dan yang kedua sehabis makan.. Berasa kek digebukin orang sekampung, kalo habis makan ga ada rokok.. Padahal ga tahu itu cuma sugesti doank.. Tapi, kenapa ga enak ya, Gan?

Hp yang ada disaku jeans belel gw terdengar berdering.. Gw langsung mengangkat begitu melihat panggilan dari Ridho..

“Lu di sebelah mana, Bree?” Tanya Ridho tanpa salam apapun sebelumnya..

“Lu jalan lurus aja, nanti ada dua belokan lu ambil kanan.. Gw di warung yang ada dibelokan sebelah kiri”

Ridho terdiam mendengar penjelasan gw yang sengaja mengecohnya..

“Ntar dulu deh.. Koq gw bingung ya, Bree”

“Hahaha.. Udah jalan lurus aja, nanti juga gw liat lu, Bree..” Kata gw setelah mentertawai Ridho, lalu mengakhiri panggilan..

Tidak beberapa lama, gw bertepuk tangan satu kali saat melihat Ridho sedang celingak celinguk persis anak hilang.. Sambil menggaruk kepala, Ridho mempercepat jalannya menghampiri gw..

“Lu mo ngopi ga? Gw yang traktir”” Tawar gw ke Ridho, sambil senyum-senyum penuh arti..

“Njiir! Lu dah baekan yah sama Anggie? Pake segala mo traktir gw” Tanya Ridho yang membuat gw makin sumringah..

“Gw males ngopi, Bree.. Gw pengennya makan.. Laper, gw”

“Yeeh, disini adanya cuma mie rebus.. Ga jual lauk pauk, ya kan pak” Kata gw seraya bertanya ke bapak si empunya warung, dan dibalas anggukan kepala beliau..

“Males ah, kalo mie rebus.. Lambung gw akrab nya sama nasi n ayam goreng kalo ga sate sama sop kambing juga boleh”

Telapak tangan kiri gw langsung meninju bahu Ridho, setelah mendengar gurauannya barusan.. Lalu, membakar kembali sebatang rokok dan meneguk kopi yang mulai hangat..

Ridho nampak tertegun dan menatap kosong ke arah air danau yang mulai beriak terkena tetesan hujan gerimis.. Sekilas, gw memperhatikan saudara gw itu yang sepertinya sedang memikirkan sesuatu..

“Lu mikirin apa sih, Bree? Masalah lu sama Suluh belom kelar?”

Ridho menjawab pertanyaan gw barusan hanya dengan gelengan kepala, lalu kembali termenung menatap ke danau..

“Dua jam lebih, gw nunggu Suluh keluar dari dalam rumah.. Nyokapnya yang kebetulan lagi ada, sempet bingung ngeliat perubahan Suluh.. Dia murung terus kek ga ada semangat kata nyokapnya, Bree.. Dia juga nanya kalo hubungan gw berdua lagi ada masalah atau engga.. Gw bilang iya, terus dia minta masalah gw sama Suluh harus segera diselesaikan” Kata Ridho menjelaskan kejadian yang dialaminya di rumah Suluh..

“Terus, Bree?”

“Ya, gimana gw mo selesain masalah kalo Suluhnya juga ga mo nemuin gw, Bree?”

Gw tertegun mendengar balasan Ridho dengan nada suara sedikit naik barusan.. Lalu, menghisap rokok kembali dan menghembuskan asap putihnya ke atas..

“Gini, deh.. Nanti gw coba ngomong ke Suluh.. Tapi, lu jangan pake jealous ke gw kek yang udah-udah”

Wajah Ridho yang semula nampak murung, seketika menatap gw dengan kedua mata berbinar..

“Beneran ya, Bree.. Gw janji ga bakalan jealous ke lu, Bree.. Asal gw bisa baikan sama Suluh” Ucap Ridho sembari memegangi lengan kanan gw..

Merasa risih, langsung gw tarik lengan kanan dari pegangan Ridho dan menggeser duduk menjauh darinya..

“Lu sih enak, udah balikan sama Anggie.. Nah gw, masih dirundung duka.. Betapa malangnya diri hamba Ya Allah..”

Gw ngakak melihat aksi Ridho yang sedang mengangkat kedua tangannya sambil menatap ke atas.. Tiba-tiba, Hp gw kembali berdering dari dalam saku celana jeans.. Ada sebuah pesan WA yang masuk dan gw lihat pengirimnya adalah Ibu.. Tanpa banyak berfikir, gw langsung membuka pesan beliau..

“Kamu dimana, Bang.. Cepet pulang.. Ada hal serius yang ibu mau omongin ke kamu” Begitu isi pesan dari Ibu..

Kening gw seketika berkerut, seiring banyak pertanyaan muncul didalam benak.. Pandangan gw menatap kosong ke arah danau, memikirkan apa yang kira-kira akan di bicarakan oleh Ibu.. Apa mungkin beliau sudah tahu, kalo tadi gw nembak Ayu? Haduuh! Makin runyam aja nih masalah..

Mendadak, Ridho yang tanpa gw sadari sudah duduk disamping, merebut Hp dari tangan gw dan membaca pesan dari Ibu..

“Gw kirain WA dari Anggie, taunya Ib.. Tapi koq, lu bengong gitu dapet WA dari nyokap, Bree? Tanya Ridho penasaran..

Gw segera bangkit dari tempat duduk dan mengambil Hp kembali dari tangan Ridho..

“Anterin gw balik dulu, Bree.. Ntar gw ceritain di mobil” Ucap gw sambil berjalan melewatinya..

Sambil merokok, gw pelan-pelan menceritakan semua ke Ridho saat sudah berada di dalam mobilnya yang mulai melaju meninggalkan area danau.. Dari mulai siapa Ayu dan bagaimana sosok gadis itu dimata Ibu, hingga tindakan bodoh yang tanpa sengaja gw lakukan ke Ayu dengan menembaknya..

Beberapa kali raut wajah Ridho berubah-ubah.. Dari terkejut, ketawa, sampai terheran-heran..

“Reaksi Anggie pas lu cerita soal Ayu cuma gitu aja, Bree? Dia ga neken lu supaya ngeralat tembakan ke Ayu?” Tanya Ridho sambil sesekali melirik ke arah gw, meski tetap fokus ke jalan..

“Ga, Bree.. Awalnya gw sangka juga gitu.. Tapi, Anggie cuma nyuruh gw selesain masalah ke Ayu, Bree..”

“Terus, kalo si Ayu nerima tembakan lu gimana? Masa lu mo duain Anggie, Bree?”

Mendengar pertanyaan Ridho barusan, gw langsung terdiam.. Benak gw membenarkan ucapan Ridho.. Kemungkinan Ayu menerima tembakan gw, pasti ada..

“Ya, mao kaga mao, gw harus jelasin ke Ayu, Bree”

“Lu bilang, nyokap seneng banget sama Ayu.. Kalo nyokap tau, lu balikan ke Anggie, gimana? Terus, kalo gw liat WA nyokap yang mo ngomong serius ke lu, kek nya dia udah tau lu nembak Ayu, Bree” Kata Ridho lagi yang membuat gw kembali terdiam memikirkan ucapannya..

Ridho sesekali melirik gw yang masih belum memberikan tanggapan atas pendangannya 15 menit yang lalu.. Meski gw terdiam, tapi pikiran gw tetap berputar mencoba mencari solusi dari tiap masalah atau kemungkinan pahit yang akan timbul.. Hingga, tanpa terasa akhirnya gw dan Ridho sudah tiba di depan pintu pagar rumah gw..
Melihat pintu pagar sudah terbuka lebar, Ridho perlahan memasukkan mobilnya ke dalam dan berhenti di depan teras.. Gw sempat menghela nafas untuk bersiap mendengarkan apa yang akan dibicarakan Ibu nanti.. Dari dalam rumah, gw melihat Ibu tergopoh-gopoh keluar dari dalam dan berdiri dengan senyuman sumringah yang terlukis di wajahnya..

GLEK..

Gw menelan ludah sendiri, melihat Ibu yang nampak sangat bahagia menyambut kepulangan gw bersama Ridho, meski tidak menghampiri kami..

“Nyokap lu kek nya bahagia banget, Bree.. Dia tau bakal dapat mantu idamannya kali yak?”

“Diem lu, Nyet! Bukannya bikin gw tenang, yang ada malah parnoin gw” Sambar gw langsung ke kalimat Ridho, sambil membuka pintu mobil dan mulai turun..

“Dho, mampir dulu sini..” Kata Ibu dengan sangat ramahnya, dan membuat gw malah makin gelisah..

“Ga usah, Bu.. Saya mo langsung pulang aja, bentar lagi magrib soalnya.. Imam aja Bu, yang disuruh makan.. Dia lagi jatuh cinta tuh” Sahut Ridho dengan suara keras dan disambut tawa renyah Ibu, namun membuat gw langsung menarik kerah kausnya..

“Njiir lu! Buruan balik, Gih!” Bentak gw dengan kedua mata melotot..

Ridho seketika tertawa keras melihat reaksi gw barusan, lalu mulai menyalakan mesin mobilnya kembali..

“Poligami aja, Bree.. Poligami.. Hahaha” Ucap Ridho yang langsung menjalankan mobilnya sedikit cepat..

Gw sempat menendang ban samping mobilnya Ridho, sesudah ia mengejek barusan.. Lalu, kembali gw memutar badan menghadap Ibu.. Masih dengan senyuman sangat bahagia nan sumringah, Ibu merentangkan kedua tangannya, menantikan diri gw untuk dipeluk..

Lagi-lagi, gw menelan ludah dan mengulum senyuman yang sengaja gw paksakan tersungging untuk Ibu.. Satu tarikan nafas dalam-dalam gw ambil dan mengeluarkannya dengan perlahan.. Gw mencoba menguasai keadaan, sambil mulai berucap dalam hati..

“Bismillah”..
jenggalasunyi
sampeuk
dodolgarut134
dodolgarut134 dan 12 lainnya memberi reputasi
13
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.