- Beranda
- Stories from the Heart
Aku, Dia, Dan Mereka (Horor , pengorbanan, Petualangan) INSPIRED BY TRUE STORY
...
TS
lemsbox
Aku, Dia, Dan Mereka (Horor , pengorbanan, Petualangan) INSPIRED BY TRUE STORY
Selamat malam semua. Perkenalkan aku Resa. Aku akan menceritakan sebuah kisah sederhana dari pengalaman hidup yang aku alami. Tak semuanya nyata karena ini terinspirasi dari kisahku sendiri. Mohon hargai semua aturan yang sudah dibuat. Aku tak akan bertele-tele menjabarkan.
Spoiler for Siapa aku?:
Spoiler for Daftar menu:
Diubah oleh lemsbox 11-02-2018 19:55
tabernacle69 memberi reputasi
-1
19.3K
104
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
lemsbox
#38
Bagian 4 : Apakah aku keturunan seorang sakti?
Aku langsung membalikan posisi tidurku membelakangi pintu yang terbuka sedikit. Kutarik selimut secepatnya untuk menutup seluruh tubuh. Aku tak berani menduga-duga apapun yang terjadi selanjutnya. Dan aku mengutuk pikiran nakalku yang ketakutan namun masih berani bermain imajinasi dengan ketakutan selanjutnya. Tai.... tai.... tai....!! Aku mengutuk juga hari ini dengan segara keanehannya.
Wuss.... wuss... wuss....
Udara dingin berhembus menuju arahku. Udara yang sangat sangat dingin. Seperti udara yang keluar dari lemari pendingin! Mulutku komat kamit bukan berdoa namun menggigil ketakutan. Andai aku punya keberanian. Aku akan bangkit dan secepat kilat mengunci pintu kamarku. Namun sayangnya aku masih menjadi penakut!
Klinting.... klinting.. klinting...
Miawww.... miawww....
Sungguh ini suara kucing? Kenapa kucing sampai berani masuk ke kamarku? Terasa dia sedang mencium atau menjilati bagian tengkuk yang terlapisi selimut. Benar, kucing ini sedang menyentuh kepalaku. Syukurlah hanya kucing............ kuberanikan diri membuka selimut dengan harapan kucing itu lari dan aku langsung mengunci pintu. Sreett... haaaahhh??? Dimana kucingnya?? Aku tak melihat apapun di kamarku. Tak mungkin kucingnya menghilang begitu saja tanpa bersuara! Logikanya jika kucing memang kaget, dia akan berteriak sebelum berlari! Tadi aku benar merasakan sentuhan lidah kucing itu di kepalaku! Sial sungguh sialan! Kenapa semua membuatku takut? Astaga pintu.... aku harus cepat menutup pintu sebelum terjadi yang lebih menakutkan lagi! Aku bersiap untuk berdiri dan akan menutup pin.........
Bruaaaak............!!!!
Pintunya justru terbuka begitu saja dan membentur tembok dengan kerasnya! Aku langsung terlempar ke belakang bukan karena efek hempasan pintu namun karena reflek dari perasaan kagetku. Aku merangkak mundur menjauh dari pintu dan menuju ke pojok kamarku. Aku langsung meringkuk mendekap kedua dengkulku sambil menelusupkan kepalaku di dalamnya! Ya Tuhan.... apa lagi ini?? Kenapa banyak mahluk gaib yang ingin menggangguku??
"Satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh, delapan, sembilan, sepuluh...."
"Ayo.. ayo... Resa cepat temukan aku!"
Ini suara Andi? Ini suara Andi?! baik!! Jadi semua ini adalah ulah Andi?? Aku langsung mendongakkan kepalaku bukan karena berani. Tapi karena marah dan emosi. Bisa kau bayangkan bagaimana perasaanmu saat kau dipermainkan oleh anak kecil? Itulah yang aku rasakan saat ini! Aku tak perduli dia setan, demit, jin, atau baik semacam apa! Tapi yang kusadari dia adalah anak kecil yang sedang mempermainkanku!
"Apa maumu hei mahluk hina!! Aku lebih sempurna darimu! Aku tidak takut padamu! Dan jangan pernah permainkan aku!! Tampakan dirimu sekarang juga!!" Sungguh ajaib. Aku seperti mendapat kekuatan dari nenek moyangku yang bukan pelaut ataupun seorang sakti.
Nafasku tersengal setelah puas meluapkan cacianku. Tiba-tiba kulihat kepala Andi mendongok dari pintu kamarku yang terbuka. Dia memperlihatkan raut wajah anak kecil yang sedih. Aku yakin ini adalah triknya dan aku tak ingin terkecoh!
"Apa maumu dariku sebenarnya??" Hardikku dengan mata melotot.
Dia diam, wajahnya masih terlihat sedih seperti anak kecil yang akan menangis.
"Kenapa diem? Apa kamu jadi gagu? Aku nggak takut sama kamu! Cepat pargi dari hadapanku setan!" Kuluapkan emosiku dan kuperlihatkan ketidaksenanganku akan kehadiranya dengan harapan dia hilang seperti yang terjadi tadi sore.
Dia diam memandangiku. Lalu dia melemparkan sesuatu ke arahku.
Klinting...
Aku sempat hampir melompat karena kaget. Aku takut jika tiba-tiba dia ingin melukaiku dengan apapun. Kuperhatikan benda yang dia lemparkan kearahku. Lohh.... ini seperti gelang yang biasa di kalungkan di leher binatang peliharaan? Dan aku sepertinya aku pernah dengar suara gelang ini??
"Aku nolong kamu, tadi ada mahluk usil yang akan mencelakakan kamu! Aku berkelahi sama dia dan berhasil kubunuh mahluk jahat itu."
Aku masih ragu dan tak begitu saja percaya. Aku memperhatikan gelangnya dan mulai mencerna dengan logika. Tadi aku memang mendengar suara seperti bunyi gemrincing gelang kaki. Apakah suaranya berasal dari gelang ini. Kuberanikan diri untuk memungut gelangnya.
"Ini mahluk yang mau ganggu kamu."
Jeduuaaak....!!
Astagaaaaa...........!! Aku terhentak begitu saja dan terlempar ke sudut dinding belakangku saat tiba-tiba saja sosok Andi tepat berada di depanku dan memperlihatkan bangkai kucing yang perutnya sudah tercabik dan bersimbah darah. Bahkan bau amis langsung menyeruak ke penciumanku, mau muntah rasanya! Kepalaku semakin terasa berat dan pandanganku mulai buyar. Rasanya aku sudah tak sanggup lagi untuk berlagak kuat menghadapi semua ketakutanku.
Bruuuugggg.................!!
Astagfirulloh...............!! haah... haah... haah....
Syukurlah...... ternyata hanya mimpi saja. Kupastikan pintu kamarku masih terkunci rapat, benar ternyata. Mimpi yang sangat menyeramkan. Kulihat jam ternyata masih pukul 5 pagi. Masih terlalu dini dari biasanya aku terbangun, namun tak apalah. Setidaknya aku pernah merasakan indahnya bangun pagi. Oh iya, sepertinya aku juga jarang merasakan sejuknya udara pagi. Tak ada salahnya kalau aku jalan-jalan sendiri mengelilingi kampungku. Yap..... tak perlu terlalu lama berfikir. Cukup bergegas bangkit dan cuci muka! Sraaaak...... krincing........
Haaahhh......... apa yang kutendang barusan?? Mataku langsung tertuju ke arah akhir suara benda yang tak sengaja kutendang. Astaga.... itu gelang yang ada dalam mimpiku!! Segera kuambil dan kuperhatikan lebih seksama, benar ini gelang yang dilemparkan Andi!!
Braaak..... krincing.... krincing......
Gelang laknat!! Langsung kubuka jendela kamarku dan kubuang gelangnya entah kemana. Ternyata ini nyata! Semua yang terjadi bukan sebuah mimpi. Ah sudahlah, aku tak mau memikirkan semua! Yang penting sekarang tak ada satupun mahluk keparat yang menggangguku. Lebih baik aku segera jalan-jalan biar otakku mendapat asupan udara segar!
Taap.. tapp... taap.... aku menuruni tangga dan langsung menuju kamar mandi. Byur... byur... byur... tak perlu lama-lama aku cuci muka. Yang penting sekarang tak ada tai di mataku! Kulihat ruang tamu masih sepi. Mungkin semua masih terlelap dalam rangkul lelah. Aku terus berjalan menuju pintu depan. Cekreek.... kubuka pintu lalu kubiarkan saja sedikit terbuka. Jika aku kunci, nanti ibuku tak bisa membuka warung. Ahh segar sekali menghirup udara pagi ini. Langit masih nampak muram karna tertutup awan gelap yang tak mendung. Baiklah aku ingin menuju sawah, sudah lama aku tak bermain ke sawah di pagi seperti ini. Jalan yang kulalui memang cukup sepi, karena melewati rimbunya pohon bambu dan juga melewati pemakaman umum. Memang menyeramkan. Tapi sekarang sudah pagi kawanku, demit keparatpun pasti sudah lelah karna begadang. Huuh..... rasanya memang segar sekali udara pagi. Apalagi di desa, udaranya masih bersih tanpa terkontaminasi oleh asap kendaran. Tunggu...... ada yang aneh!! Sungguh ini tak masuk akal! Aku tidak sedang gila atau mengigau! Kini aku sadar sesadar sadarnya!
Aku baru menyadari jika abu yang memenuhi kampungku sudah banyak sirna! Memang masih ada sisa yang tercecer bercampur tanah. Namun jalanan dan pepohonan sudah tak berwarna kelabu! Ini sungguh mustahil dan tak mungkin terjadi. Oke, aku samasekali tak mengingkari kuasa Tuhan. Apapun bisa terjadi jika Dia berkehendak. Namun andai itu terjadi, pasti ada sebab yang menjadikan semua abu yang tadinya setebal 5cm lebih, jadi hilang entah kemana dalam hitungan tak lebih dari 2 hari! Adakah angin puting beliung atau hujan bandang yang menggenangkan abunya menuju laut? Aku samasekali tidak merasakan apapun kemarin! Gila...!! Kenapa di pagi yang menyejukkan ini, aku harus memikirkan hal-hal yang tak masuk akal. Sebenarnya siapa aku ini? Apakah aku titisan dewa atau pendekar yang harus memecahkan sebuah keruwetan misteri? Tidak..... aku cuma penjaga warnet yang kebetulan bisa bermain bass! Perduli setan dengan semua ini, tak penting untukku dan aku tak mau lagi memikirkan ini. Aku langsung berjalan cepat menuju sawah setelah barusan aku hanya terdiam, memperhatikan tanah, sambil berfikir! Aku berjalan lebih cepat dengan wajah bersungut-sungut. Aku bukan marah pada angin, awan, mentari, atau bahkan kuda yang bermain catur. Aku mengutuk dan akan terus mengutuk apa yang sedang terjadi padaku! Kau tau seperti apa wajah kakek tua yang ngedumel karena sandalnya tertukar di acara kenduri pak Rt? Seperti itulah wajahku sekarang. Kini aku memasuki area pohon bambu yang berjejer di samping kanan kiriku. Mereka bergoyang-goyang diterpa angin. Seolah sedang melakukan tarian yang mengejek padaku.
"Dasar bambu bodoh!! Kupangkas kau nanti, biar jadi botak kepalamu!" Mungkin aku memang sudah hilang akal, bahkan bambu-pun tak luput kujadikan pelampiasan amarahku.
Bla... bla... bla... bla.....
Bla... bla... bla... bla....
Samar-semar kudengar suara riuh ramai orang berkata-kata. Dari mana asalnya? Bukankah disini hanya ada hamparan pohon bambu yang menjulang saling tindih?
Bla... bla... hahahaha.....
Lagi-lagi kudengar banyak suara manusia berceloteh. Seperti sedang ada acara entah apa itu. Ada juga yang tertawa terpingkal-pingkal seperti sedang menonton ketoprak dengan lakon "Jaka Tarub Yang Tertukar". Eh... benar juga, suaranya ada di sebelah kiriku, tepat di dalam rerimbunan pohon bambu. Walau aku sedikit ragu untuk memastikan apa yang sedang terjadi. Namun rasa penasaranku tetap memenangkan sayembara . Perlahan aku menelusuri rimbunan pohon bambu, terus masuk kedalam dan lebih dalam lagi. Entah berapa lama aku berjalan menyusuri padang bambu ini. Pantas memang kusebut padang karena begitu lebat dan terasa sangat jauh jalan yang kulalui ini. Seumur hidupku sampai aku yang sudah hafal nama-nama bintang bokep Japanese, aku belum pernah tau di kampungku ada padang bambu seluas ini. Sungguh aku hafal tempat ini karena dulu waktu kecil aku adalah raja petak umpet yang selalu sukses bersembunyi di tempat ini. Tak pernah sekalipun aku tersesat. Bahkan almarhum Andi yang dulu jadi rivalku adu jangkrik. Pernah menangis hingga tersedak tenggorokannya karena tak tau jalan pulang setelah mencariku disini! Belum sampai juga aku pada sumber suara ramai itu. Tapi langkahku sudah tak ingin kembali keluar. Gendang telingaku seakan tergoda dari suara-suara yang terjadi disana. Ada suara tawa lepas, ada suara gunjingan pada seseorang, ada nyaring-nyaring suara wanita berlagu mendayu-dayu. Sungguh aku terpikat dengan suaranya. Pasti dia wanita anggun yang mempesona. Mataku membabi buta ingin memaksa berlari mendatangi keramaian itu. Agar terlampiaskan birahinya untuk melihat.
Wawawa.. wawawa.. wawawa...
Hahaha... hahaha...
Was.. wes.. wos...
Ah suaranya makin jelas terdengar. Aku senang, aku bahagia. Sebentar lagi aku pasti sampai! Hei.... aku melihatnya...... aku melihat ada anak-anak kecil berlarian di bawah rimbunan pohon bambu! Ada juga ramai orang-orang yang sibuk dengan hajatnya masing-masing. Aku tak salah lagi, sumber keramaiannya pasti disana. Aku tak sabar ingin menikmati cantiknya paras sang penyanyi dan teduhnya suara yang melantunkan lagu itu.
"Aku ikut!! Aku ingin melihat apa yang ada di dalam sana!" Aku berteriak kencang kegirangan karena tak sabar ingin melihatnya.
Seketika saja setelah mendengar teriakanku. Semua orang entah tua, muda, atau anak kecil semua serempak menoleh dan menatap ke arahku yang sedang berlari tergesa!
Aku langsung membalikan posisi tidurku membelakangi pintu yang terbuka sedikit. Kutarik selimut secepatnya untuk menutup seluruh tubuh. Aku tak berani menduga-duga apapun yang terjadi selanjutnya. Dan aku mengutuk pikiran nakalku yang ketakutan namun masih berani bermain imajinasi dengan ketakutan selanjutnya. Tai.... tai.... tai....!! Aku mengutuk juga hari ini dengan segara keanehannya.
Wuss.... wuss... wuss....
Udara dingin berhembus menuju arahku. Udara yang sangat sangat dingin. Seperti udara yang keluar dari lemari pendingin! Mulutku komat kamit bukan berdoa namun menggigil ketakutan. Andai aku punya keberanian. Aku akan bangkit dan secepat kilat mengunci pintu kamarku. Namun sayangnya aku masih menjadi penakut!
Klinting.... klinting.. klinting...
Miawww.... miawww....
Sungguh ini suara kucing? Kenapa kucing sampai berani masuk ke kamarku? Terasa dia sedang mencium atau menjilati bagian tengkuk yang terlapisi selimut. Benar, kucing ini sedang menyentuh kepalaku. Syukurlah hanya kucing............ kuberanikan diri membuka selimut dengan harapan kucing itu lari dan aku langsung mengunci pintu. Sreett... haaaahhh??? Dimana kucingnya?? Aku tak melihat apapun di kamarku. Tak mungkin kucingnya menghilang begitu saja tanpa bersuara! Logikanya jika kucing memang kaget, dia akan berteriak sebelum berlari! Tadi aku benar merasakan sentuhan lidah kucing itu di kepalaku! Sial sungguh sialan! Kenapa semua membuatku takut? Astaga pintu.... aku harus cepat menutup pintu sebelum terjadi yang lebih menakutkan lagi! Aku bersiap untuk berdiri dan akan menutup pin.........
Bruaaaak............!!!!
Pintunya justru terbuka begitu saja dan membentur tembok dengan kerasnya! Aku langsung terlempar ke belakang bukan karena efek hempasan pintu namun karena reflek dari perasaan kagetku. Aku merangkak mundur menjauh dari pintu dan menuju ke pojok kamarku. Aku langsung meringkuk mendekap kedua dengkulku sambil menelusupkan kepalaku di dalamnya! Ya Tuhan.... apa lagi ini?? Kenapa banyak mahluk gaib yang ingin menggangguku??
"Satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh, delapan, sembilan, sepuluh...."
"Ayo.. ayo... Resa cepat temukan aku!"
Ini suara Andi? Ini suara Andi?! baik!! Jadi semua ini adalah ulah Andi?? Aku langsung mendongakkan kepalaku bukan karena berani. Tapi karena marah dan emosi. Bisa kau bayangkan bagaimana perasaanmu saat kau dipermainkan oleh anak kecil? Itulah yang aku rasakan saat ini! Aku tak perduli dia setan, demit, jin, atau baik semacam apa! Tapi yang kusadari dia adalah anak kecil yang sedang mempermainkanku!
"Apa maumu hei mahluk hina!! Aku lebih sempurna darimu! Aku tidak takut padamu! Dan jangan pernah permainkan aku!! Tampakan dirimu sekarang juga!!" Sungguh ajaib. Aku seperti mendapat kekuatan dari nenek moyangku yang bukan pelaut ataupun seorang sakti.
Nafasku tersengal setelah puas meluapkan cacianku. Tiba-tiba kulihat kepala Andi mendongok dari pintu kamarku yang terbuka. Dia memperlihatkan raut wajah anak kecil yang sedih. Aku yakin ini adalah triknya dan aku tak ingin terkecoh!
"Apa maumu dariku sebenarnya??" Hardikku dengan mata melotot.
Dia diam, wajahnya masih terlihat sedih seperti anak kecil yang akan menangis.
"Kenapa diem? Apa kamu jadi gagu? Aku nggak takut sama kamu! Cepat pargi dari hadapanku setan!" Kuluapkan emosiku dan kuperlihatkan ketidaksenanganku akan kehadiranya dengan harapan dia hilang seperti yang terjadi tadi sore.
Dia diam memandangiku. Lalu dia melemparkan sesuatu ke arahku.
Klinting...
Aku sempat hampir melompat karena kaget. Aku takut jika tiba-tiba dia ingin melukaiku dengan apapun. Kuperhatikan benda yang dia lemparkan kearahku. Lohh.... ini seperti gelang yang biasa di kalungkan di leher binatang peliharaan? Dan aku sepertinya aku pernah dengar suara gelang ini??
"Aku nolong kamu, tadi ada mahluk usil yang akan mencelakakan kamu! Aku berkelahi sama dia dan berhasil kubunuh mahluk jahat itu."
Aku masih ragu dan tak begitu saja percaya. Aku memperhatikan gelangnya dan mulai mencerna dengan logika. Tadi aku memang mendengar suara seperti bunyi gemrincing gelang kaki. Apakah suaranya berasal dari gelang ini. Kuberanikan diri untuk memungut gelangnya.
"Ini mahluk yang mau ganggu kamu."
Jeduuaaak....!!
Astagaaaaa...........!! Aku terhentak begitu saja dan terlempar ke sudut dinding belakangku saat tiba-tiba saja sosok Andi tepat berada di depanku dan memperlihatkan bangkai kucing yang perutnya sudah tercabik dan bersimbah darah. Bahkan bau amis langsung menyeruak ke penciumanku, mau muntah rasanya! Kepalaku semakin terasa berat dan pandanganku mulai buyar. Rasanya aku sudah tak sanggup lagi untuk berlagak kuat menghadapi semua ketakutanku.
Bruuuugggg.................!!
Astagfirulloh...............!! haah... haah... haah....
Syukurlah...... ternyata hanya mimpi saja. Kupastikan pintu kamarku masih terkunci rapat, benar ternyata. Mimpi yang sangat menyeramkan. Kulihat jam ternyata masih pukul 5 pagi. Masih terlalu dini dari biasanya aku terbangun, namun tak apalah. Setidaknya aku pernah merasakan indahnya bangun pagi. Oh iya, sepertinya aku juga jarang merasakan sejuknya udara pagi. Tak ada salahnya kalau aku jalan-jalan sendiri mengelilingi kampungku. Yap..... tak perlu terlalu lama berfikir. Cukup bergegas bangkit dan cuci muka! Sraaaak...... krincing........
Haaahhh......... apa yang kutendang barusan?? Mataku langsung tertuju ke arah akhir suara benda yang tak sengaja kutendang. Astaga.... itu gelang yang ada dalam mimpiku!! Segera kuambil dan kuperhatikan lebih seksama, benar ini gelang yang dilemparkan Andi!!
Braaak..... krincing.... krincing......
Gelang laknat!! Langsung kubuka jendela kamarku dan kubuang gelangnya entah kemana. Ternyata ini nyata! Semua yang terjadi bukan sebuah mimpi. Ah sudahlah, aku tak mau memikirkan semua! Yang penting sekarang tak ada satupun mahluk keparat yang menggangguku. Lebih baik aku segera jalan-jalan biar otakku mendapat asupan udara segar!
Taap.. tapp... taap.... aku menuruni tangga dan langsung menuju kamar mandi. Byur... byur... byur... tak perlu lama-lama aku cuci muka. Yang penting sekarang tak ada tai di mataku! Kulihat ruang tamu masih sepi. Mungkin semua masih terlelap dalam rangkul lelah. Aku terus berjalan menuju pintu depan. Cekreek.... kubuka pintu lalu kubiarkan saja sedikit terbuka. Jika aku kunci, nanti ibuku tak bisa membuka warung. Ahh segar sekali menghirup udara pagi ini. Langit masih nampak muram karna tertutup awan gelap yang tak mendung. Baiklah aku ingin menuju sawah, sudah lama aku tak bermain ke sawah di pagi seperti ini. Jalan yang kulalui memang cukup sepi, karena melewati rimbunya pohon bambu dan juga melewati pemakaman umum. Memang menyeramkan. Tapi sekarang sudah pagi kawanku, demit keparatpun pasti sudah lelah karna begadang. Huuh..... rasanya memang segar sekali udara pagi. Apalagi di desa, udaranya masih bersih tanpa terkontaminasi oleh asap kendaran. Tunggu...... ada yang aneh!! Sungguh ini tak masuk akal! Aku tidak sedang gila atau mengigau! Kini aku sadar sesadar sadarnya!
Aku baru menyadari jika abu yang memenuhi kampungku sudah banyak sirna! Memang masih ada sisa yang tercecer bercampur tanah. Namun jalanan dan pepohonan sudah tak berwarna kelabu! Ini sungguh mustahil dan tak mungkin terjadi. Oke, aku samasekali tak mengingkari kuasa Tuhan. Apapun bisa terjadi jika Dia berkehendak. Namun andai itu terjadi, pasti ada sebab yang menjadikan semua abu yang tadinya setebal 5cm lebih, jadi hilang entah kemana dalam hitungan tak lebih dari 2 hari! Adakah angin puting beliung atau hujan bandang yang menggenangkan abunya menuju laut? Aku samasekali tidak merasakan apapun kemarin! Gila...!! Kenapa di pagi yang menyejukkan ini, aku harus memikirkan hal-hal yang tak masuk akal. Sebenarnya siapa aku ini? Apakah aku titisan dewa atau pendekar yang harus memecahkan sebuah keruwetan misteri? Tidak..... aku cuma penjaga warnet yang kebetulan bisa bermain bass! Perduli setan dengan semua ini, tak penting untukku dan aku tak mau lagi memikirkan ini. Aku langsung berjalan cepat menuju sawah setelah barusan aku hanya terdiam, memperhatikan tanah, sambil berfikir! Aku berjalan lebih cepat dengan wajah bersungut-sungut. Aku bukan marah pada angin, awan, mentari, atau bahkan kuda yang bermain catur. Aku mengutuk dan akan terus mengutuk apa yang sedang terjadi padaku! Kau tau seperti apa wajah kakek tua yang ngedumel karena sandalnya tertukar di acara kenduri pak Rt? Seperti itulah wajahku sekarang. Kini aku memasuki area pohon bambu yang berjejer di samping kanan kiriku. Mereka bergoyang-goyang diterpa angin. Seolah sedang melakukan tarian yang mengejek padaku.
"Dasar bambu bodoh!! Kupangkas kau nanti, biar jadi botak kepalamu!" Mungkin aku memang sudah hilang akal, bahkan bambu-pun tak luput kujadikan pelampiasan amarahku.
Bla... bla... bla... bla.....
Bla... bla... bla... bla....
Samar-semar kudengar suara riuh ramai orang berkata-kata. Dari mana asalnya? Bukankah disini hanya ada hamparan pohon bambu yang menjulang saling tindih?
Bla... bla... hahahaha.....
Lagi-lagi kudengar banyak suara manusia berceloteh. Seperti sedang ada acara entah apa itu. Ada juga yang tertawa terpingkal-pingkal seperti sedang menonton ketoprak dengan lakon "Jaka Tarub Yang Tertukar". Eh... benar juga, suaranya ada di sebelah kiriku, tepat di dalam rerimbunan pohon bambu. Walau aku sedikit ragu untuk memastikan apa yang sedang terjadi. Namun rasa penasaranku tetap memenangkan sayembara . Perlahan aku menelusuri rimbunan pohon bambu, terus masuk kedalam dan lebih dalam lagi. Entah berapa lama aku berjalan menyusuri padang bambu ini. Pantas memang kusebut padang karena begitu lebat dan terasa sangat jauh jalan yang kulalui ini. Seumur hidupku sampai aku yang sudah hafal nama-nama bintang bokep Japanese, aku belum pernah tau di kampungku ada padang bambu seluas ini. Sungguh aku hafal tempat ini karena dulu waktu kecil aku adalah raja petak umpet yang selalu sukses bersembunyi di tempat ini. Tak pernah sekalipun aku tersesat. Bahkan almarhum Andi yang dulu jadi rivalku adu jangkrik. Pernah menangis hingga tersedak tenggorokannya karena tak tau jalan pulang setelah mencariku disini! Belum sampai juga aku pada sumber suara ramai itu. Tapi langkahku sudah tak ingin kembali keluar. Gendang telingaku seakan tergoda dari suara-suara yang terjadi disana. Ada suara tawa lepas, ada suara gunjingan pada seseorang, ada nyaring-nyaring suara wanita berlagu mendayu-dayu. Sungguh aku terpikat dengan suaranya. Pasti dia wanita anggun yang mempesona. Mataku membabi buta ingin memaksa berlari mendatangi keramaian itu. Agar terlampiaskan birahinya untuk melihat.
Wawawa.. wawawa.. wawawa...
Hahaha... hahaha...
Was.. wes.. wos...
Ah suaranya makin jelas terdengar. Aku senang, aku bahagia. Sebentar lagi aku pasti sampai! Hei.... aku melihatnya...... aku melihat ada anak-anak kecil berlarian di bawah rimbunan pohon bambu! Ada juga ramai orang-orang yang sibuk dengan hajatnya masing-masing. Aku tak salah lagi, sumber keramaiannya pasti disana. Aku tak sabar ingin menikmati cantiknya paras sang penyanyi dan teduhnya suara yang melantunkan lagu itu.
"Aku ikut!! Aku ingin melihat apa yang ada di dalam sana!" Aku berteriak kencang kegirangan karena tak sabar ingin melihatnya.
Seketika saja setelah mendengar teriakanku. Semua orang entah tua, muda, atau anak kecil semua serempak menoleh dan menatap ke arahku yang sedang berlari tergesa!
itkgid memberi reputasi
1