- Beranda
- Sejarah & Xenology
Kronologi Sejarah Sulawesi / Celebes (40.000 SM - 2018)
...
TS
maslazardi
Kronologi Sejarah Sulawesi / Celebes (40.000 SM - 2018)

Bismillahirrahmanirrahim...
Selamat malam, agan dan aganwati sekalian. Kembali lagi bersama ane dengan satu lagi video peta sejarah Indonesia!
Kali ini ane ingin berbagi peta sejarah Sulawesi dari tahun 40.000 SM - 2018. Dimulai dari munculnya kebudayaan maju pertama di Maros, timbulnya peradaban awal seperti Toraja dan Minahasa, hingga zaman kerajaan-kerajaan besar seperti Luwu, Buton, Ternate, Gowa-Tallo, dan Bone. Dilanjutkan dengan masa pendudukan Eropa dan Jepang, dan diakhiri dengan masa pemerintahan Republik Indonesia saat ini! 
Trit ini bisa dianggap sebagai lanjutan dari trit ini, ini, dan ini. Untuk sumber info, ane ambil dari kompilasi hikayat, kitab, pustaka kerajaan, kronik, naskah, buku sejarah, wiki, serta laporan peneliti dan berbagai blog/situs pecinta sejarah. Ane coba bikin seakurat yang ane bisa, jadi kalo agan nemu ada yang salah mohon dikoreksi ya!
(Catatan: Trit kali ini sedikit berbeda dari tiga trit sebelumnya, yakni dengan turut ditambahkannya sejarah pembentukan provinsi dari zaman Hindia Belanda, Jepang, hingga Indonesia; serta dibagi menjadi dua video yang berbeda)
Oke, langsung saja:
Quote:
Quote:
Kronologi:
Quote:
Spoiler for Sebelum Masehi:

- 40000 SM - Kebudayaan Leang-Leang (Maros-Pangkajene) muncul di Sulawesi Selatan.
- 7000 SM - Kebudayaan Muna muncul di Sulawesi Tenggara.
- 6000 SM - Kebudayaan Minahasa muncul di Sulawesi Utara.
- 5000 SM - Kebudayaan Moronene muncul di Sulawesi Tenggara. Kebudayaan Toala muncul menggantikan kebudayaan Leang-Leang.
- 3000 SM - Kebudayaan Toraja dan Topongko (Wotu) diperkirakan muncul di Sulawesi Selatan. Kebudayaan Pamona (Poso-Sigi) dan Banawa (Donggala-Parigi) muncul di Sulawesi Tengah. Kebudayaan Mandar muncul di Sulawesi Barat.
- 2000 SM - Kebudayaan Tolaki muncul di Sulawesi Tenggara, hidup berdampingan dengan masyarakat Moronene yang telah eksis sebelumnya.
Quote:
Spoiler for Abad 2-12:

- 200 - Arca Buddha Sampaga. Peradaban awal mulai berkembang di pesisir barat Mamuju, Sulawesi Barat. Agama Buddha diperkirakan turut serta menyebar, kemungkinan dibawa oleh wangsa Satawahana dari India, dilihat dari kemiripan antara arca Sampaga dengan arca peninggalan wangsa tersebut. Peradaban Padangguni diperkirakan muncul di Kendari, Sulawesi Tenggara. Kebudayaan Tolaiwoi dan Tounenapo muncul di Kolaka. Kebudayaan Topongko terpecah menjadi dua, Toluwu (Toliu) di pesisir dan Toriu di pedalaman.
- 400 - Teluk Gorontalo kuno lenyap akibat pendangkalan berkepanjangan. Akibatnya, manusia mulai menempati daratan baru bekas teluk purba tersebut. Kebudayaan maju pun muncul di daerah itu, yakni Pidodotiya di Limboto-Gorontalo dan Witohiya di Bone Bolango.
- 500 - Kebudayaan Pidodotiya dan Witohiya menggabungkan diri menjadi peradaban Suwawa. Ayudugiya menjadi pemimpin pertama peradaban tersebut. Kebudayaan Toala kemungkinan digantikan oleh Tougi (Bugis). Padangguni diperkirakan berkembang menjadi kerajaan. Di masa yang sama, kemungkinan tiga negeri Tolaki kuno lain turut muncul, yakni Wawolesea, Besulutu, dan Tambosupa.
- 600 - Kebudayaan Toluwu berkembang menjadi peradaban Luwu. Kebudayaan Loinang (Saluan-Togean) diperkirakan muncul di Sulawesi Timur. Toraja kemungkinan juga telah berkembang menjadi peradaban awal.
- 670 - Prasasti Pinawetengan. Minahasa berkembang menjadi peradaban, melalui musyawarah antara para anak-anak suku di Minahasa yang sepakat berdamai dan membentuk suatu peradaban awal berbentuk konfederasi suku (Pakasa'na).
- 700 - Suwawa berkembang menjadi kerajaan. Kebudayaan maju diperkirakan muncul di kepulauan Banggai.
- 800 - Kebudayaan Banggai berkembang menjadi peradaban awal.
- 900 - Melalui bantuan Kerajaan Sriwijaya, Luwu berkembang menjadi sebuah negara berbentuk Kedatuan. Batara Guru (putra sulung pangeran I Lapuangge Lebba' dari Luwu dengan putri Palinge' Mutia dari Sriwijaya) menobatkan diri sebagai penguasa pertamanya. Di bawah pemerintahannya, Luwu semakin mempererat hubungannya dengan Sriwijaya yang merupakan negara terkuat di Asia Tenggara kala itu. Para bangsawan Bugis dan Luwu memanggil kerajaan ini dengan julukan 'Senrijawa'. Kira-kira di masa yang sama, dua kerajaan lain kemungkinan turut muncul, bernama Wewang Nriwuk (di Makassar-Bugis) dan Tompotika (di Kolaka-Banggai). Namun keduanya dianggap sebagai kerajaan semi-mitologi, karena hanya disebutkan dalam naskah epos I La Galigo. Meskipun Tompotika masih eksis sebagai sebuah nama kerajaan yang berpusat di Bualemo (Banggai Darat), Sulawesi Timur hingga abad ke-16. Padangguni menaklukkan negeri-negeri Tolaki di sekitarnya, mempersatukan sebagian besar daratan Sulawesi Tenggara ke dalam kekuasaannya.
- 948 - Batara Lattu naik tahta sebagai Datu Luwu. Putranya, Sawerigading, mengadakan pengembaraan laut ke berbagai daerah di seluruh Nusantara, bahkan juga dipercaya telah mengunjungi Kekaisaran Cina.. Padangguni berganti nama menjadi Konawe. Ratu Wekoila dilantik sebagai penguasa pertamanya dengan gelar Mokole I. Ia menempatkan ibukota kerajaannya di Unaaha.
- 1000 - Luwu mulai memasuki masa kejayaannya, dimana wilayah kekuasaannya sejak tahun ini diperkirakan telah meliputi sebagian besar Sulawesi, menaungi tanah Poso, Banawa, Mamuju, Bugis, Kolaka, Bungku, Morowali, dan Moronene. Kerajaan Siang diperkirakan berdiri di Pangkajene, menguasai tanah Makassar serta kepulauan Pangkajene dan Selayar. Perjanjian Bocco Tallu. Pembentukan tiga kerajaan di Lita' Mandar, yakni Allu', Sendana, dan Taramanuq menjadi sebuah persekutuan yang bersatu.
- 1019 - Ketomundoan Buko dan Bulagi berdiri di pulau Peling, Banggai Kepulauan. Tumba Pande dilantik sebagai Tomundo (Raja) pertama di Bulagi.
- 1100 - Kemungkinan sejak tahun ini wilayah kekuasaan Siang telah mencapai daerah pesisir Barru di utara Pangkajene. Kerajaan ini pun mulai memasuki masa kejayaannya. Serangkaian kerajaan kecil muncul di Sulawesi Timur, yakni di Banggai Darat (Motiandok, Balalowa, Gori-Gori), Banggai Kepulauan (Bongganan, serta Sisipan, Lipotomundo, Kadupadang, Salaup, Peling; bersatu menjadi Persekutuan Liang-Peling), dan Banggai Laut (Babolau, Kokini, Katapean, Singgolok; bersatu menjadi Persekutuan Tano Bolukan). Kerajaan Tabulahan diperkirakan berdiri di Mandar. Peradaban Wawuno Liwu (Delapan Kampung) diperkirakan muncul di pulau Muna.
- 1178 - Negeri-negeri di Banggai dipersatukan menjadi koloni dari Kerajaan Kediri dari Jawa, berdasarkan buku catatan Lingwai Taita dan Zhu Fan Zhi dari syahbandar Dinasti Sung Cina, yang berisi laporan mengenai negeri-negeri di Asia Tenggara saat itu. Dalam kedua buku tersebut, Banggai dikenal dengan julukan 'P'ing-ya-yi'.
- 1200 - Lasattung Pogi mendirikan Kedatuan Cina Pammana di Wajo. Kekaraengan Bantaeng berdiri di ujung selatan Sulawesi Selatan. Serangkaian kerajaan kecil diperkirakan muncul di pulau Buton (Butuni/Butung), yakni Todanga, Batauga, Wabula, dan Kamaru. Perjanjian Sibunoang. Pembaharuan perjanjian Bocco Tallu sebagai pengingat dan pegangan bagi rakyat dan pemimpin ketiga kerajaan Mandar yang bersekutu.
Quote:
Spoiler for Abad 13:

- 1220 - Kerajaan Banawa Lama (Pujananti) diperkirakan berdiri di Donggala, Sulawesi Tengah.
- 1222 - Negeri-negeri di Banggai berganti menjadi koloni Kerajaan Tumapel (Singhasari), setelah pusat Kediri di Jawa Timur jatuh ke tangan Ken Arok, penguasa Tumapel.
- 1235 - Karaeng Mangkasara mendirikan Kekaraengan Tallo di Makassar. Ia naik tahta dengan gelar Makkadae Daeng Manrangka Karaeng Mangkasara Somba Tallo I. Ia melepaskan diri dari hegemoni Siang, kemudian mengadakan ekspansi wilayah ke sepanjang pesisir Takalar dan Jeneponto, serta kepulauan Selayar dan Pangkajene.
- 1236 - Mia Patamiana (Empat Manusia Awal), konon merupakan sekelompok bangsawan Melayu asal Johor, Pasai, dan Pariaman bernama Sipanjonga, Simalui, Sitamanajo, dan Sijawangkati, tiba di Buton. Mereka mendirikan suatu konfederasi empat wilayah (Patalimbona) bernama negeri Wolio. Kekuasaannya terbentang dari Muna bagian selatan hingga ujung timur Buton di Baluwu, dengan Bau-Bau sebagai pusat pemerintahannya.
- 1254 - Tumapel berganti nama menjadi Singhasari.
- 1268 - Datu Simpurusiang naik tahta di Luwu.
- 1293 - Negeri-negeri di Banggai berganti menjadi bawahan Kerajaan Majapahit, setelah Singhasari hancur akibat pemberontakan Kediri dan serangan bangsa Mongol. Dalam perang melawan Majapahit, pasukan Mongol mengalami kekalahan dan terpaksa mundur kembali ke kota Khanbaliq (pusat pemerintahan Kekaisaran Yuan-Mongol di Tiongkok). Namun, satu armada Mongol pimpinan Panglima Kau Hsing (Gao Xing) justru berlayar ke arah timur. Armada ini mendarat di pulau Buton. Di sini, Kau Hsing mendirikan sebuah kerajaan bernama Tobe-Tobe, dan menobatkan dirinya sebagai penguasa dengan nama Dungku Cangia. Datu Anakaji naik tahta di Luwu.
- 1295 - Kerajaan Tampungan Lawo berdiri di Sangihe, Sulawesi Utara. Didirikan oleh seorang bangsawan Sangil asal Cotabato, Mindanao bernama Gumansalangi, kekuasannya terbentang dari Mindanao Selatan, Sarangani, Talaud, Mahengateng, Sitaro, dan pulau-pulau sekitarnya, dengan Sangihe sebagai pusatnya. Gumansalangi mengangkat dirinya sebagai Kulano (Raja) dan menjalin hubungan diplomatik dengan Kerajaan Gapi (Ternate/Taranati) di Maluku Utara.
- 1300 - La Paukke, seorang pangeran Cina Pammana mendirikan Kerajaan Cinnotabi sebagai bawahan Cina. Kerajaan Mekongga dan Soppeng diperkirakan berdiri, melepaskan diri dari Luwu. Kawasan Moronene kemungkinan juga turut lepas dari Luwu. Peradaban Minahasa melebarkan pengaruhnya ke daerah Mongondow di barat. Suatu konfederasi bernama Bate Salapang (Sembilang Kasuwiang) diperkirakan muncul di Butta Mangkasara, merupakan cikal bakal dari Kekaraengan Gowa. Kerajaan Buayan berdiri di Mindanao, lepas dari Tampungan Lawo.
Quote:
Spoiler for Abad 14:

- 1320 - Kekaraengan Gowa berdiri di Butta Mangkasara, sebagai hasil musyawarah dari para pemimpin Bate Salapang. Ratu Tomanurung Baine dilantik sebagai penguasa pertamanya, yang kemudian menikah dengan seorang bangsawan Bajau asal Bantaeng bernama Karaeng Bayo. Sang Karaeng tiba di Gowa bersama Lakipadada, sahabatnya yang kemudian pergi ke pedalaman Toraja, dimana ia diangkat sebagai salah seorang pemimpin di sana. Raja Mooduto naik tahta di Suwawa, setelah menyingkirkan kakaknya, Pulumoduyon. Sang kakak yang kecewa pun merantau ke timur. Di sana, ia mendirikan sebuah kerajaan bernama Bolaang Mongondow, yang di kemudian hari mendatangkan malapetaka bagi Suwawa.
- 1326 - Kerajaan Bone berdiri di Tana Ugi (Bugis). Kerajaan Limboto muncul di Gorontalo, melepaskan diri dari Suwawa.
- 1330 - Datu Tampa Balusu naik tahta di Luwu. Kerajaan Atinggola, Kaidipang, dan Bintauna berdiri di Sulawesi Utara, memerdekakan diri dari Suwawa.
- 1332 - Para penguasa Melayu di Wolio, bersama dengan Dungku Cangia dan para pemimpin lokal lain di pulau Buton, bersatu membentuk sebuah kerajaan bernama Buton. Ratu Wa Kaa Kaa dilantik sebagai penguasa pertama negeri tersebut. Kemungkinan kepulauan Wakatobi (Tukangbesi) telah diintegrasikan ke dalam kekuasaan Buton sejak tahun ini.
- 1338 - Ratu Wa Kaa Kaa menikah dengan Sibatara, seorang pangeran Jawa yang konon merupakan putra dari Raden Wijaya, pendiri Kerajaan Majapahit. Keduanya pun bersama-sama memerintah Kerajaan Buton, secara tak langsung telah menempatkan negeri tersebut ke dalam lingkup pengaruh Majapahit.
- 1345 - Tumasalangga Baraya naik tahta sebagai Karaeng Gowa II.
- 1350 - Raja Mooduto menikah dengan Putri Rawe, seorang putri Bugis asal Luwu yang merantau ke Sinandaha di kawasan dataran tinggi Bangio. Pernikahan ini menjadi awal asimilasi antara suku Suwawa dan Bugis. Raja Mooduto menghadiahkan tanah Tinonggihia di Suwawa Selatan kepada istrinya. Di sini, sang Putri mendirikan kerajaan mandiri bernama Bone-Suwawa.
- 1355 - Kulano Melintangnusa naik tahta di Tampungan Lawo.
- 1357 - Majapahit mengadakan ekspedisi ke Indonesia Timur, mendirikan koloni di wilayah-wilayah tersebut. Dengan armada berjumlah sekitar 3000 orang prajurit di bawah pimpinan Laksamana Nala, kerajaan ini berhasil menundukkan Selayar, Sumbawa, dan Flores. Majapahit lalu menjadikan kerajaan Bantaeng dan Makassar (Tallo) sebagai negara bawahannya. Kerajaan ini juga menjalin hubungan diplomatik dengan Kedatuan Luwu, ditandai dengan pernikahan seorang putri Jawa dengan seorang pangeran Luwu. Keduanya juga menjalin hubungan dagang yang saling menguntungkan, dimana Luwu yang terkenal dengan komoditas besi dan keris, menjadi pemasok utama kedua barang tersebut kepada Majapahit yang membutuhkannya dalam jumlah besar.
- 1365 - Datu Tanra Balusu naik tahta di Luwu. Kepulauan Sitaro, Sangihe, dan Talaud diperkirakan jatuh ke tangan Majapahit, yang menyatukan ketiga kepulauan tersebut menjadi sebuah koloni bernama Udamakatraya. Hal ini kemungkinan membuat Tampungan Lawo, yang beribukota di Sangihe, memindahkan pusat pemerintahannya ke Mindanao.
- 1369 - Majapahit meninggalkan Udamakatraya, yang kemudian direbut kembali oleh Tampungan Lawo.
- 1370 - Kerajaan Suppa, Sawitto, Alitta (cikal bakal federasi Ajatappareng) dan Sidenreng (cikal bakal federasi Massenrempulu) berdiri di Pinrang, Sulawesi Selatan, melepaskan diri dari Luwu. Karaeng Puang Loe Lembang naik tahta di Gowa.
- 1371 - Kerajaan Muna dan Tiworo berdiri di pulau Muna, dimana Muna menjadi penguasa selat Muna, Muna Tengah, dan Buton Utara, sementara Tiworo menguasai selat Tiworo dan Muna Utara.
- 1380 - Kerajaan Buol berdiri di Sulawesi Tengah, memerdekakan diri dari Suwawa.
- 1385 - Matanotingga mendirikan Kerajaan Gorontalo (Hulontalo), merdeka dari Suwawa.
- 1392 - Arumpone Matasilompoe (Manurungnge ri Matajang) naik tahta di Bone.
- 1395 - Karaeng Tuniata Tanri naik tahta di Gowa.
- 1399 - Kerajaan Wajo berdiri di Sulawesi Selatan, menggantikan kedudukan Cinnotabi, dan kemungkinan masih tetap menjadi bawahan Cina Pammana. La Tenribali diangkat sebagai penguasa pertamanya dengan gelar Batara Wajo. Kerajaan Bowontehu (Bawontehu/Babontehu) berdiri di Manado, Sulawesi Utara. Negeri ini berhasil menguasai Toli-Toli dan menjadikan Buol sebagai bawahannya.
- 1400 - Punu' Mokodoludut naik tahta di Bolaang Mongondow. Kerajaan Bungku (Tombuku/Tobungku) diperkirakan berdiri di Sulawesi Timur. Marhum Sangiang Kinambuka dinobatkan sebagai penguasa pertama negeri tersebut. Kerajaan Passokkorang diperkirakan muncul di Polewali Mandar, Sulawesi Barat. Kerajaan Tampungan Lawo di Sangihe terpecah menjadi dua negara, yakni Sahabe (Lumango) di utara, dan Manuwo (Salurang) di selatan. Sahabe dan Manuwo hidup berdampingan hingga lebih dari 100 tahun kemudian.
Lanjutnya di bawah gan!

kurnhyalcantara memberi reputasi
1
34.8K
Kutip
106
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Sejarah & Xenology
6.5KThread•11.6KAnggota
Tampilkan semua post
TS
maslazardi
#4
Masih gan! 
![kaskus-image]()
![kaskus-image]()

Quote:
Spoiler for Abad 18:

- 1704 - Datu La Onro Topalaguna (Petta Matinroe ri Langkanae') naik tahta di Luwu.
- 1705 - Abdul Gani (Mbumbu doi Kota) naik tahta di Banggai.
- 1706 - Datu Luwu menikah dengan Batari Tungke (Sultana Fatimah Petta Matinroe ri Langkanae'), yang kemudian membantunya dalam mengatur pemerintahan kedatuan Luwu.
- 1709 - Perang Tondano I. Pemberontakan rakyat Minahasa terhadap kompeni VOC yang memaksakan monopoli perdagangan beras. La Pareppa Tosappe (Tuminanga ri Sombaopu) naik tahta di Gowa.
- 1711 - Perang Tondano I berakhir. Pasukan VOC berhasil memadamkan pemberontakan Minahasa. Sultan Sirajuddin (Tuminanga ri Pasi/I Mappaura'ngi) naik tahta di Gowa. Puang Tomessu Gelar Arajang Taunai dari Mandar mendirikan Kerajaan Kasimbar di Parigi Moutong.
- 1713 - Arung Matoa La Salewangeng To Tenrirua naik tahta di Wajo.
- 1714 - Arumpone La Patau wafat. Putrinya, Batari Toja Daeng Talaga Arung Timurung (Sultana Zainab/Matinroe ri Tipuluna) naik tahta menggantikannya. La Maddukkelleng, seorang pangeran Bugis keponakan Arung Matoa Wajo, memulai pengembaraannya ke barat. Bersama sejumlah pengikutnya (termasuk 8 orang bangsawan lain: La Maohang Daeng Mangkona, La Pallawa Daeng Marowa, Puana Dekke, La Siaraje, Daeng Manambung, La Manja Daeng Lebbi, La Sawedi Daeng Sagala, dan La Manrappi Daeng Punggawa), ia mengunjungi Kesultanan Johor, tempat ia bertemu saudaranya, Daeng Matekko yang telah menjadi seorang saudagar kaya. Rombongan bangsawan Bugis perantau ini pun menetap di Johor selama 12 tahun.
- 1715 - Batari Tojang (Sultana Zaenab Matinroe ri Tippulue') naik tahta di Luwu.
- 1726 - La Maddukkelleng dan pengikutnya tiba di Kesultanan Paser di Kalimantan Timur. Ia menikah dengan putri penguasa negeri itu, Sultan Aji Muhammad Alamsyah, dan kemudian dinobatkan sebagai penguasa Paser menggantikan sang Sultan. Sebelumnya, La Mohang Daeng Mangkona telah mendirikan kota Samarinda di perbatasan Paser-Kutai yang tunduk dibawah pemerintahan Kesultanan Kutai Kartanegara.
- 1728 - Abu Kasim (Mbumbu doi Bacan) naik tahta di Banggai.
- 1733 - Seorang panglima Bugis-Paser dibawah perintah La Maddukkelleng melancarkan penyerangan terhadap Banjarmasin dan Tanah Bumbu. Pasukannya berhasil menduduki Tanah Bumbu, namun gagal di Banjarmasin.
- 1734 - Puana Dekke, salah satu pengikut La Maddukkelleng mendirikan Kerajaan Pagatan di Tanah Kusan sebagai bawahan Paser.
- 1735 - Sultan Najamuddin (I Manrabbia) naik tahta di Gowa, namun belum sampai setahun tahtanya direbut kembali oleh Sultan Sirajuddin, yang juga mengalami hal yang sama karena dengan segera tahta direbut oleh Sultan Abdul Khair (I Mallawagau). Sultan Kutai, Aji Muhammad Idris menikah dengan putri penguasa Paser, La Maddukkelleng, membuat negerinya menjadi bawahan kesultanan tersebut.
- 1736 - Perang kemerdekaan Wajo dimulai. La Maddukkelleng kembali ke Wajo untuk membantu membebaskan negerinya dari pendudukan Bone yang telah berlangsung selama lebih dari 50 tahun. Ia kembali bersama para pengikutnya, Sultan Aji Muhammad Idris dan pasukannya dari Kutai, serta beberapa bantuan prajurit Melayu dari Johor dan persenjataan dari kompeni EIC Inggris. Ia membawa armada perahu bintak yang dibagi menjadi dua grup: pasukan laut pimpinan La Banna To Assa, serta pasukan darat pimpinan Puana Pabbola dan Cambang Balolo, terdiri atas suku Bugis, Paser, Kutai, Makassar, Bugis-Pagatan, dan sejumlah orang Melayu. Pemerintahan Paser diserahkan kembali kepada penguasa lokal. Kutai, Tanah Bumbu, Pagatan, dan Pulau Laut pun turut terlepas dari pengaruh negeri itu. Sesampainya di Wajo, La Maddukkelleng langsung diangkat sebagai Arung Matoa Wajo.
- 1737 - Wajo berhasil merdeka kembali, setelah pertempuran sengit antara pasukan Bone-VOC melawan pasukan Wajo. La Maddukkelleng kemudian lanjut merebut sejumlah daerah kekuasaan Bone di utara, seperti Duri, Enrekang, Massepe, dan Sawitto. Di tahun yang sama, federasi Agangnionjo (persatuan Tanete-Soppeng-Barru-Sidenreng) juga turut memberontak. Penguasanya, La Tenrioddang (Matinroe ri Musuna) menduduki kota Watampone dan mengkudeta Arumpone Bone Batari Toja. La Tenrioddang mengangkat dirinya sebagai Arumpone, membuat Bone berada di bawah kekuasaan Agangnionjo. Batari Toja mengungsi ke Makassar, meminta perlindungan pada VOC. Sementara sebagian bangsawan Bone lain mengungsi ke Tosora, meminta perlindungan pada Wajo. Kesultanan Gowa, yang telah menjadi bawahan Bone selama 67 tahun mengambil kesempatan untuk memerdekakan diri. Luwu, Tallu Lembangna, dan negeri-negeri Mandar juga turut lepas dari Bone. Daeng Bone (Apone) mendirikan Kerajaan Toli-Toli di Sulawesi Tengah.
- 1738 - Kudeta kembali melanda Bone. Arung Matoa Wajo mengirim pasukan untuk menggempur Watampone lalu menuntut La Tenrioddang untuk turun dari tahta, memaksanya kembali ke Tanete. La Maddukkelleng kemudian mengangkat I Danradatu (putri Bugis yang merupakan salah satu bangsawan Bone yang mengungsi ke Wajo) sebagai Arumpone Bone. Kerajaan Bone pun terbebas dari penguasaan Agangnionjo, namun secara tidak langsung telah jatuh ke dalam pengaruh Wajo.
- 1739 - Dipimpin langsung oleh La Maddukkelleng, armada Wajo menggempur kota Makassar, pusat pemerintahan VOC Belanda di Sulawesi Selatan. Sebelumnya, Wajo telah beraliansi dengan Kesultanan Gowa, yang turut mengirim pasukan dibawah pimpinan langsung Mangkubuminya, Karaeng Bontolangkasa. Namun pasukan aliansi ini gagal merebut Makassar, malah kemudian dapat dipukul mundur oleh armada gabungan VOC-Bone. Pasukan Belanda bahkan terus melaju ke Gowa dan berhasil menduduki negeri tersebut. Tetapi sebelumnya Gowa telah berhasil merebut kembali Pangkajene dan Maros. La Maddukkelleng dan sisa pasukannya mundur kembali ke Wajo. La Tenrioddang kembali menyerang Watampone, namun dapat dipukul mundur oleh pasukan Wajo yang berjaga di sana.
- 1740 - Konflik Wajo-Gowa dengan Agangnionjo dan VOC-Bone berakhir. Batari Toja berhasil mendapatkan kembali tahtanya sebagai Arumpone Bone melalui bantuan VOC, sementara Gowa menjadi bawahan VOC, dan wilayah Cenrana di bagian utara Bone diserahkan kepada Wajo. Opu Daeng Menambun, seorang bangsawan perantau Bugis dilantik menjadi penguasa Kesultanan Mempawah di Kalimantan Barat. Ia mempelopori kebijakan mendatangkan pekerja Cina untuk menambang emas yang banyak terdapat di kawasan barat laut pulau Borneo, yang kemudian turut diikuti oleh dua kesultanan Melayu lainnya, Sambas dan Brunei.
- 1741 - Penguasa Banggai dan Bungku mulai mengadakan pertemuan rahasia untuk merencanakan pemberontakan melawan kekuasaan Ternate dan VOC.
- 1742 - Sultan Abdul Kudus (I Maappibabasa) naik tahta di Gowa.
- 1748 - Datu We Tenri Leleang (Matinroe ri Soreang) naik tahta di Luwu.
- 1752 - Mulana Muhammad Nurdin naik tahta di Toli-Toli.
- 1753 - Sultan Fakhruddin (Amas Madina Batara Gowa) naik tahta di Gowa. Raja Kabudo (Mbumbu doi Mendono) naik tahta di Banggai.
- 1754 - La Maddukkelleng turun tahta di Wajo. La Mad'danaca dilantik sebagai Arung Matoa yang baru menggantikannya.
- 1758 - La Passaung naik tahta di Wajo.
- 1760 - Datu Tosibengngareng naik tahta di Luwu.
- 1761 - Opu Daeng Menambun wafat di Mempawah. La Mappajung naik tahta di Wajo.
- 1762 - Pertempuran kembali pecah antara Bone dan Wajo, dimana Bone menuntut agar Wajo mengembalikan Cenrana kepadanya.
- 1763 - Penaklukan Cenrana berakhir. Bone berhasil merebut kembali daerah itu dari tangan Wajo.
- 1765 - La Maddukkelleng wafat di Wajo. We Tenri Leleang dinobatkan kembali sebagai Datu Luwu.
- 1767 - Sultan Gowa Fakhruddin, yang sedang berada di Bima untuk menenangkan diri dari kegundahan akibat intimidasi politik VOC di Gowa, ditangkap dan diasingkan ke Srilanka. Ia dituduh bersekongkol dengan kompeni EIC Inggris untuk merencanakan pemberontakan melawan VOC. Di Srilanka, salah seorang putra sang Sultan, Karaeng Sangunglo, mengabdi pada Kerajaan Kandy (yang menguasai bagian timur pulau itu) dan turut berperan dalam mempertahankan negara tersebut dari serangan Belanda dan Inggris. Sementara empat putranya yang lain justru mengabdi pada kekaisaran Inggris, yang tengah melancarkan invasi besar-besaran terhadap India. Tahta Kesultanan Gowa kemudian diisi oleh I Mallisujawa (Tuminanga ri Tompobalang). La Malliungeng naik tahta di Wajo.
- 1768 - Raja Ansyara (Mbumbu doi Padongko) naik tahta di Banggai.
- 1770 - Parigi, Kasimbar, dan Buol takluk pada VOC. Penguasa Buol, Sultan Pondu berusaha memberontak namun tertangkap dan dijatuhi hukuman mati dengan cara yang keji, dimana ia diikat pada dua ekor kuda yang lalu disuruh berlari ke arah yang berlawanan, sehingga badan sang Sultan terbelah dua. Sultan Zainuddin (Tuminanga ri Mattanging/I Temmassongeng) naik tahta di Gowa. Pilewiti, seorang bangsawan Kaili Sausu mendirikan Kerajaan Tojo. Kekuasaannya terbentang dari Pandiri di Poso hingga Ulubongka di Tojo Una-Una.
- 1771 - Magallatu, seorang bangsawan Parigi mendirikan Kerajaan Moutong sebagai bawahan Kasimbar (dan VOC).
- 1772 - Tumente naik tahta di Toli-Toli.
- 1773 - Mandaria (Mbumbu doi Dinadat) naik tahta di Banggai.
- 1778 - Moutong menaklukkan Kasimbar. Datu La Tenri Peppang (Daeng Pali') naik tahta di Luwu. I Manawari Karaeng Bontolangkasa naik tahta di Gowa.
- 1780 - Kesultanan Tidore di Maluku Utara menjadi bawahan kompeni VOC.
- 1787 - Melalui perantaraan Kerajaan Kendahe, VOC bersedia menyerahkan Sarangani kepada Maguindanao. Kekuasaan Belanda di Filipina pun lenyap.
- 1793 - Salmon Muda Pontoh mendirikan Kerajaan Bolaang Itang di Bolaang Mongondow.
- 1795 - La Mallalengeng naik tahta di Wajo.
- 1796 - Pue Nggari (Siralangi) mendirikan Kerajaan Palu di Donggala.
- 1797 - Dibawah Sultan Nuku, Tidore berhasil memerdekakan diri dari VOC.
- 1800 - Pembubaran VOC. Koloni mereka di Nusantara diambil alih oleh pemerintah Belanda (Republik Batavia/Bataafsche), yang kala itu tengah menjadi bawahan Republik Prancis pimpinan Napoleon Bonaparte. Hindia Belanda pun secara tidak langsung jatuh ke tangan Prancis. Jamalul Alam Bantilan naik tahta di Toli-Toli. Tampere mendirikan Kerajaan Kulawi di Sigi.
Quote:
Spoiler for Abad 19 - Part 1:

- 1801 - Inggris, yang sedang bermusuhan dengan Prancis dan Belanda serta beraliansi dengan Tidore, mengirim pasukan dari kompeni EIC dan sekutunya (Tidore) untuk menggempur dan merebut kekuasaan Belanda di Maluku, termasuk Ternate.
- 1804 - EIC Inggris menyerahkan kembali wilayah yang didudukinya di Maluku kepada Belanda.
- 1805 - I Dato Labungulili naik tahta di Palu. Sultan Nuku wafat di Tidore.
- 1806 - Belanda menyerang Tidore dan berhasil merebut benteng-bentengnya. Armada Belanda juga berhasil menduduki dan membumihanguskan Soasio, ibukota kesultanan tersebut. Namun penguasanya, Zainal Abidin berhasil lolos ke Halmahera Timur dan mendirikan pemerintahan darurat di sana.
- 1807 - Pemerintah Belanda dibawah Prancis mengangkat Herman Willem Daendels sebagai Gubernur Jenderal Hindia Belanda pertama. Perang Tondano II. Masyarakat Minahasa kembali melancarkan perlawanan terhadap Belanda, dimana mereka memprotes kebijakan Gubernur Jenderal Daendels yang berniat merekrut 2000 pria Minahasa untuk dijadikan pasukan Hindia Belanda yang akan menjaga pulau Jawa dari ancaman serangan Inggris.
- 1808 - Puncak perang Tondano II. Pasukan Belanda menggempur pusat pertahanan Minahasa di Minawanua hingga perkampungan tersebut hampir musnah sepenuhnya. Saat pasukan Belanda mulai mengendurkan serangannya, sekonyong-konyong secara serentak laskar Minahasa pimpinan para ukung menyerang para serdadu Belanda dengan membabi buta. Pasukan Belanda pun mulai kewalahan. Konon, laskar Minahasa juga berhasil menenggelamkan salah satu kapal perang Belanda di danau Tondano.
- 1809 - Perang Tondano II berakhir. Melalui bantuan sejumlah prajurit Minahasa yang membelot, pasukan Belanda berhasul memukul mundur laskar Minahasa hingga benteng terakhir mereka di Moraya. Pertempuran habis-habisan pun pecah, dan berakhir dengan jatuhnya benteng Moraya dan hampir seluruh penghuninya. Minahasa pun sepenuhnya takluk pada Belanda, yang kemudian mendirikan pemerintahan langsung di sana. Raja Atondeng (Mbumbu doi Galela) naik tahta di Banggai.
- 1810 - Armada Inggris menggempur Manado dan berhasil mendudukinya, memaksa orang-orang Belanda mundur untuk sementara dari kawasan tersebut. Di tahun yang sama, Inggris juga berhasil merebut kembali Maluku dari Prancis-Belanda. Datu We Tenri Awaru naik tahta di Luwu. Kerajaan Arangkaa dan Salibabu berdiri di Talaud.
- 1811 - Kapitulasi Tuntang. Pusat pemerintahan Belanda di Jawa ditaklukkan Inggris. Seluruh koloninya di Indonesia yang tersisa pun turut jatuh ke tangan Inggris.
- 1812 - Yusuf Malatuang Syaful Mulk naik tahta di Toli-Toli.
- 1814 - Bone menyerang pos-pos Inggris di Sulawesi Selatan. Akibatnya, Thomas Stamford Raffles, Letnan Gubernur Hindia Inggris yang berpusat di Jawa, mengirim armada pimpinan Miles Nightingall untuk menggempur negara tersebut. Istana Bone dibakar habis hingga rata dengan tanah. Arumpone Bone pun terpaksa mengaku takluk, sehingga Bone pun menjadi bawahan Inggris. Pihak Inggris juga mendirikan pemerintahan langsung di Pangkajene dan Maros.
- 1815 - Erupsi gunung Tambora di Sumbawa. Malasigi Bulupalo naik tahta di Palu.
- 1816 - Penyerahan kembali koloni Hindia Timur dari Inggris kepada Belanda. Belanda secara resmi kembali menjadi penguasa di Hindia Belanda. Van der Capellen dilantik sebagai Gubernur Jenderal Hindia Belanda ketiga. Sebelumnya, Bone telah memberontak dan kembali menyerang pos-pos Inggris di Sulawesi Selatan, kali ini berhasil merebut Pangkajene, Maros, Bantaeng, dan Bulukumba. Karaeng Lembang Parang (Tuminanga ri Katangka) naik tahta di Gowa.
- 1821 - Raja Tadja (Mbumbu doi Sau) naik tahta di Banggai. La Manang naik tahta di Wajo.
- 1823 - Arumpone Aru Datu (I Maneng Paduka Sri Ratu Sultana Salima Rajiatuddin) naik tahta di Bone.
- 1824 - Perang Bone I. Belanda mengumumkan perang terhadap Bone dalam rangka merebut kembali wilayahnya yang telah diduduki kerajaan Bugis tersebut. Van der Capellen mengirim dua brigade pasukan pimpinan Hubert de Stuers dan Buys. Mereka berhasil menduduki Pangkajene dan Tanete, serta menangkap Arumpone Aru Datu. Armada Belanda pun lanjut menggempur Suppa dan pusat Kerajaan Bone itu sendiri, Watampone, namun mendapat perlawanan keras dari pasukan dan rakyat Bone yang telah bersatu menentang kolonialisme Belanda. Suatu pertempuran sengit menyebabkan pihak Belanda kehilangan sepertiga pasukannya, memaksa de Stuers dan sisa tentaranya mundur.
- 1825 - Perang Bone II. Belanda kembali mendeklarasikan perang terhadap Bone. Dengan armada yang lebih besar dibawah pimpinan Jozef van Geen, mereka berhasil menaklukkan Bantaeng dan Bulukumba, merebut benteng-benteng Bugis di kedua daerah itu. Pasukan Bone mundur dan bertahan di Maros, namun kemudian dikalahkan telak oleh Belanda. Pasukan Belanda terus merangsek maju hingga akhirnya berhasil menaklukkan Watampone. Bone pun takluk dan terpaksa menjadi bawahan Hindia Belanda. Datu La Oddang Pero naik tahta di Luwu. La Oddanriu (Tuminanga ri Suangga) naik tahta di Gowa.
- 1826 - Du Bus dilantik sebagai Gubernur Jenderal Hindia Belanda. Pemberontakan Tobungku. Kerajaan Bungku memberontak terhadap Ternate dan Belanda akibat pungutan upeti yang telah lama membebani rakyat negeri tersebut. Sultan Ternate mengirim armada berjumlah ribuan tentara pimpinan Kapita Laut Abu Muhammad untuk memadamkannya, namun mereka dapat dipukul mundur oleh pasukan Bungku. Ternate pun meminta bantuan Belanda, yang segera mengirim armada pimpinan Letnan G. Lockemeijer, yang sukses menundukkan para pemberontak Tobungku. Sultan Abdul Kadir Mohammad Aidid (Tuminanga ri Kakuasanna/I Kumala) naik tahta di Gowa. Daelangi naik tahta di Palu.
- 1827 - Raja Laota (Mbumbu doi Tenebak) naik tahta di Banggai.
- 1830 - Van den Bosch dilantik sebagai Gubernur Jenderal Hindia Belanda. Ia mulai menerapkan cultuur stelsel dan membentuk KNIL, kesatuan tentara resmi Hindia Belanda.
- 1835 - Yololembah naik tahta di Palu.
- 1839 - Bungku kembali memberontak, namun dapat segera dipadamkan oleh Ternate. La Padengngeng naik tahta di Wajo.
- 1840 - Bungku untuk ketiga kalinya kembali memberontak. Kali ini dimotori oleh seorang Daeng Makaka, seorang pangeran Bugis yang menobatkan dirinya sebagai penguasa Bungku pasca mengkudeta Bukungku, raja Bungku sebelumnya yang pro-Ternate. Namun, pemberontakan ini juga berakhir dengan kegagalan. Armada Ternate terlalu kuat untuk para pemberontak Tobungku. Sultan Ternate kemudian mengangkat kembali Bukungku sebagai penguasa Bungku, sementara Daeng Makaka berhasil meloloskan diri dan baru tertangkap 8 tahun kemudian.
- 1842 - Perang Tobelo. Menyusul Bungku, kali ini giliran Kerajaan Banggai yang melancarkan pemberontakan terhadap Ternate dan Belanda. Konflik fisik dan senjata pun mulai terjadi di jazirah Sulawesi Timur antara orang Banggai dengan orang Ternate.
- 1846 - Pong Tiku lahir di Pangala'. Pasukan Ternate di Banggai bersekutu dengan tiga armada bajak laut Tobelo (salah satu dari 3 kelompok perompak paling ditakuti di Nusantara kala itu, bersama dengan lanun Mindanao dan Iban) yang tengah singgah di negeri tersebut. Kedudukan laskar Banggai pun mulai terdesak akibat kehadiran para perompak Tobelo tersebut.
- 1847 - Raja Laota dan pengikutnya tertangkap setelah terus dipukul mundur oleh armada Ternate-Tobelo. Kedudukannya pun digantikan oleh Raja Agama (Mbumbu doi Bugis) yang melanjutkan perjuangan pendahulunya untuk terus melancarkan perlawanan terhadap hegemoni Ternate dan Belanda. Melalui bantuan orang-orang Bugis, Raja Agama sukses mengusir kembali armada Ternate yang ada di Banggai. Perang pun masih terus berlanjut hingga 5 tahun kemudian.
- 1850 - Lamakaraka naik tahta di Palu.
- 1852 - Perang Tobelo berakhir. Armada Kesultanan Ternate dan bajak laut Tobelo kembali berhasil memukul mundur laskar Banggai. Raja Agama berhasil meloloskan diri ke Tojo, lalu ke Bone, tempat dirinya wafat. Kerajaan Banggai pun kembali takluk pada Ternate. Tatu Tonga (Mbumbu doi Jere) kemudian dilantik sebagai penguasa Banggai yang baru.
- 1854 - Datu Patipatau (Abdul Karim Toapanyompa) naik tahta di Luwu. La Pawellangi Pajumperoe naik tahta di Wajo.
- 1856 - Petta La Sinrang lahir di Sawitto. Kelak, ia dikenal sebagai seorang pemimpin pemberani yang arif, bijaksana, anti-kolonail, dan gencar menyebarkan agama Islam di Tanah Pinrang.
- 1858 - Bantilan Syaifuddin naik tahta di Toli-Toli. Ia menandatangani perjanjian dengan Belanda yang menetapkan kerajaannya menjadi bagian dari Hindia Belanda. Toli-Toli pun takluk pada Belanda. Raja Soak (Mbumbu doi Banggai) naik tahta di Banggai.
- 1859 - La Cincing Akil Ali naik tahta di Wajo.
- 1862 - Mamuju takluk pada Belanda.
- 1867 - Abdul Hamid Bantilan naik tahta di Toli-Toli.
- 1868 - Maili (Mangge Risa) naik tahta di Palu.
- 1870 - Raja Haji Nurdin (Mbumbu doi Labasuma) naik tahta di Banggai.
- 1880 - Tabukan dan Manganitu menandatangani korte verklaring (perjanjian plakat pendek) dengan Hindia Belanda. Datu We Addi Luwu naik tahta di Luwu.
- 1882 - Raja Haji Abdul Azis naik tahta di Banggai. Dibawahnya, Banggai kembali melancarkan perlawanan terhadap Hindia Belanda. Ia berhasil mengusir paksa para utusan dan pejabat Ternate dan Belanda dari Kerajaan Banggai, membuat Hindia Belanda kehilangan kontrol atas negeri tersebut. Kerajaan Banggai pun, untuk sementara, berhasil merdeka kembali menjadi negara mandiri.
- 1883 - Datu Iskandar Opu Daeng Pali' naik tahta di Luwu.
- 1885 - La Koro Arung Padali naik tahta di Wajo.
- 1887 - Perang Kopi meletus di Tana Toraja.
- 1888 - Wajo takluk pada Belanda. Negeri-negeri bawahannya di barat, yakni federasi Massenrempulu dan Ajatappareng, mendapatkan kembali kemerdekaannya. Jodjokodi naik tahta di Palu.
0
Kutip
Balas