- Beranda
- Stories from the Heart
Teror Hantu Kos Baru Pejaten (berdasar pengalaman nyata)
...
TS
pakdhegober
Teror Hantu Kos Baru Pejaten (berdasar pengalaman nyata)
Assalamualaikum, semoga agan dan aganwati semua sehat, punya pacar dan enggak kehabisan uang.
Agan pernah, diganggu jin atau sejenis makhluk astral lainnya. Kalau belum, Alhamdulillah. Bagi yang udah pernah, agan berarti nggak sendirian. Karena Ane kali ini mau berbagi cerita tentang pengalaman 7 tahun lalu di sebuah rumah kos di Pejaten, Jakarta Selatan. Sekadar overview, ane sudah lama mau nulis cerita ini, tapi banyak pertimbangan. Yang paling berat karena kos-kosan ini masih ada sampe sekarang. Setahu ane juga rame terus. Semoga kondisinya sudah lebih baik sekarang. Karena itu sebelum membaca ada beberapa rules ya, mohon dimaklumi.
1. Ini beneran cerita nyata gan? Iye ada benernye, tapi ane menulis cerita ini dengan metodologi prosa modern, ambil gampangnya novel. Jadi ane perlu nambahin bumbu buat dramatisasi. Kalau terpaksa dibikin komposisi, kira-kira 50:50 gan.
2. Kos gue juga Pejaten gan! Ini Pejaten sebelah mananya? Udeh ye nikmatin aje, jangan ganggu lapak rejeki orang. Jangan-jangan kos ente yang ane maksud lagi, berabe kan?
3. Gan bagusnya ada foto kali, supaya lebih kentara aslinya, bisa difoto gan? Yah entar ane usahain dah, pura2 nanya kamar kosong, tapi ane bakal ambil foto yang anglenya kelihatan susah ditebak ya. Lagi-lagi ini properti orang gan, mereka punya hak. Tapi entar insya allah ane usahain.
4. Kayanya ane ngerti deh tempatnya di mana, yang di jalan ini kan, sebelah ini kan? Udeh kalo ngerti simpen aja dalem hati.
5. Apdetnya kapan gan? Insya allah paling enggak seminggu sekali, antara malem jumat sampe malem minggu. kalo ada waktu banyak bisa dua kali.
6. Gan, kalo penampakan yang ini asli? suara yang itu juga asli apa rekayasa? Ya udah sih baca aja, ini bukan tayangan fact or fiction.
Nah, gitu aja sih rulesnya. semoga cerita ini menghibur dan bermanfaat. kalau ada kesamaan nama, mohon maaf ya. Buat penghuni kos yang kebetulan baca (soalnya kamarnya banyak banget gan sekarang) semoga gak sadar. Kalopun sadar, ane doain sekarang kondisinya udah nyaman sekarang.
Selamat membaca.
Last Update 13/3/2019
Bersambung....
Agan pernah, diganggu jin atau sejenis makhluk astral lainnya. Kalau belum, Alhamdulillah. Bagi yang udah pernah, agan berarti nggak sendirian. Karena Ane kali ini mau berbagi cerita tentang pengalaman 7 tahun lalu di sebuah rumah kos di Pejaten, Jakarta Selatan. Sekadar overview, ane sudah lama mau nulis cerita ini, tapi banyak pertimbangan. Yang paling berat karena kos-kosan ini masih ada sampe sekarang. Setahu ane juga rame terus. Semoga kondisinya sudah lebih baik sekarang. Karena itu sebelum membaca ada beberapa rules ya, mohon dimaklumi.
1. Ini beneran cerita nyata gan? Iye ada benernye, tapi ane menulis cerita ini dengan metodologi prosa modern, ambil gampangnya novel. Jadi ane perlu nambahin bumbu buat dramatisasi. Kalau terpaksa dibikin komposisi, kira-kira 50:50 gan.
2. Kos gue juga Pejaten gan! Ini Pejaten sebelah mananya? Udeh ye nikmatin aje, jangan ganggu lapak rejeki orang. Jangan-jangan kos ente yang ane maksud lagi, berabe kan?
3. Gan bagusnya ada foto kali, supaya lebih kentara aslinya, bisa difoto gan? Yah entar ane usahain dah, pura2 nanya kamar kosong, tapi ane bakal ambil foto yang anglenya kelihatan susah ditebak ya. Lagi-lagi ini properti orang gan, mereka punya hak. Tapi entar insya allah ane usahain.
4. Kayanya ane ngerti deh tempatnya di mana, yang di jalan ini kan, sebelah ini kan? Udeh kalo ngerti simpen aja dalem hati.
5. Apdetnya kapan gan? Insya allah paling enggak seminggu sekali, antara malem jumat sampe malem minggu. kalo ada waktu banyak bisa dua kali.
6. Gan, kalo penampakan yang ini asli? suara yang itu juga asli apa rekayasa? Ya udah sih baca aja, ini bukan tayangan fact or fiction.
Nah, gitu aja sih rulesnya. semoga cerita ini menghibur dan bermanfaat. kalau ada kesamaan nama, mohon maaf ya. Buat penghuni kos yang kebetulan baca (soalnya kamarnya banyak banget gan sekarang) semoga gak sadar. Kalopun sadar, ane doain sekarang kondisinya udah nyaman sekarang.
Selamat membaca.
Spoiler for Prolog:
Quote:
Last Update 13/3/2019
Bersambung....
Polling
Poll ini sudah ditutup. - 112 suara
Part bagusnya pake foto ilustrasi apa nggak?
Pake, biar makin ngefeel
42%
nggak usah, ane penakut
11%
terserah TS, yang penting gak kentang
47%
Diubah oleh pakdhegober 14-05-2022 11:55
bebyzha dan 141 lainnya memberi reputasi
128
1.2M
3.4K
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.4KAnggota
Tampilkan semua post
TS
pakdhegober
#1431
Part 37: Sybillia dan Kesenangannya
“Saya nggak mau Pak Wi main-main dengan ini semua. Hentikan!”
Seandainya perkataan itu tak terdengar, niscaya aku sudah masuk ke dalam rumah. Suara Mbak Fani terucap agak tinggi dan menghalangiku masuk.
“Kalau saja kamu mengerti...”
“Mengerti apa? Biar apa saya mengerti!?”
“Saya ndak akan nyelakai kamu dan rumah ini, nduk.”
Terdiam sebentar. Mbak Fani dan Pak Wi pasti menyadari hanya diri mereka yang ada di dalam sana sehingga berbicara seperti itu
“Anakku panas tinggi tiap tengah malam...Tiga hari ini begitu,” ujar Mbak Fani dengan suara yang kini terpatah.
“Gusti Allah! Sybillia sakit, nduk?”
Kemudian tangisan sang perempuan tersingkap dari dalam. Lantas aku mendengar langkah Pak Wi. Sepertinya ia menghampiri Mbak Fani demi mengatakan sesuatu, tapi aku tak bisa menangkapnya kecuali tangisan yang terus menerus.
Sehingga berkata lagi,
“Simbah datang kembali ke kamarku.”
“Kamu ndak bohong, nduk?”
“Pak Wi, masa bodoh,” bicaranya menggeram dan ditekan, “Akan kusingkirkan makhluk itu dari kamarku. Dari rumahku!”
“Gusti pengeran!”
“Pak Wi punya janji pada Ibuku untuk nurut sama aku...Usir dia dari tempat ini!”
“Nduk, sadar...sadar! Dia yang menjaga rumah ini. Sabarlah sebentar. Banyak yang ingin jahat pada kamu.”
Tangisan yang terkadang mendesis-menggeram itu bertahan kian lama. Aku baru membuka pintu ketika suara dari dalam berhenti sepenuhnya.
“Eh, Mas Alvin. Kebetulan, ayo makan, makan! Ah, ini Mbak Asih yang masak dari rumah.”
Pak Wi menawarkan makan dengan amat ramah. Duduk mengelilingi meja makan, Mbak Fani sambil memangku putrinya, Mbak Asih, suaminya, dan Pak Wi. Tiap-tiap orang di situ tersenyum sumringah layaknya sedang mensyukuri nikmat Tuhan. Aku menatapi mereka dengan terheran-heran. Namun semakin ditatap, wajah-wajah itu kian bergembira.
Di antara makanan-makanan berat yang terhidang ada seloyang kue ulang tahun.
HAPPY BITHDAY SYBILLIA
2
“Sybillia ulang tahun?” tanyaku datar. Seandainya mereka tahu pedalaman hatiku. Bibirku menahan gemetar.
“Eh oom Alvin baru tahu ya. Ucapin selamat dong buat aku,” kata Mbak Fani riang mewakili putrinya dengan suara yang dibuat-buat seperti anak kecil.
Di wajah jelita itu tiada seguris pun bekas kesedihan.
Masih dengan tak percaya aku menghampiri Sybillia. Ibunya memberikan anaknya supaya aku gendong. Maka kuucapkan selamat dan doa walaupun segalanya yang kudengar tadi masih membungkam nalar.
“Maaf oom nggak sempat siapkan kado,” kataku pada Sybillia yang belum mengerti.
“Nggak apa-apa kok oom, kan masih ada besok,” cetus biangnya, “Sekalian mamanya dikadoin juga boleh.”
Aku hanya membalas dengan senyum tanpa sempat berpikir apa-apa. Untuk kedua kali mereka mengajak bersantap. Kutolak baik-baik, sebab nafsu makan lenyap tak tahu ke mana.
***
Aku berusaha lepas ingatan atas pendengaran yang sulit dipercaya tadi. Tugas teramat penting malam ini, menyelesaikan bab II skripsi public relation. Kekurangan uang cukup membantu mengatasi tekanan. Dan ketika mulai duduk menghadap notebook, pikiranku dengan cepat terpusat pada karangan akademik.
Maka jam-jam kemudian energi tubuh ini habis menyusun paragraf-paragraf. Seperti kemarin, adrenalin akhir-akhirnya habis pada waktunya. Aku menyerah dan tertidur di meja.
Akan tetapi tidur dalam posisi yang tak wajar membuatku terjaga lebih cepat lagi. Jam 1 tengah malam. Aah, rasanya setengah copot tulang belakang.
Wina mengirim pesan. Katanya, ia menginap di rumah Siska. Kubalas untuk memintanya segera pulang. Aku juga mengatakan tidak lagi mengalami keanehan di kamarnya.
Sebaiknya aku pulang saja ke rumah. Wina tidak membalas teks dengan cepat seperti yang sebelumnya. Barangkali matanya sudah tertutup.
Segera berpindah dari kursi ke kasur. Hufft! Badan ini begitu loyo. Jendela belum lagi tertutup. Meski hanya beberapa hitungan langkah, tampaknya amat jauh dan melelahkan. Kini aku menjatuhkan badan ke kasur. Perasaanku sungguh merdeka.
Tetapi ketenanganku terusik bunyi lemparan buku. Dari bawah lemari asalnya. Aihh, kenapa penulis misterius itu masih eksis juga, batinku kesal. Awalnya kubiarkan tindakan itu, tapi lemparan berikutnya sangat menjengkelkan. Buku itu terlempar menyusuri bawah kasur sampai membentur dinding yang berlawanan dari lemari.
Dengan berat hati omong kosong ini harus diladeni. Brengseknya, aku tak menemukan tulisan apapun.
“MAU APA?” kataku.
“Nah, begitu! Aku juga mau sekali-sekali kamu yang memulai.”
“Bukannya golonganmu sudah diusir? Kenapa masih ada di sini?”
“Ooo bukan begitu. Pak tua itu hanya mengusir genie in person.”
“Bagaimana aku percaya?”
“Percaya saja, nak. Mustahil aku berbohong padamu.”
Ia baru saja menulis “Nak”. Apa-apaan ini!
“Karena itu kamu pribadi masih bisa datang ke sini...”
“Sejujurnya malam ini aku tidak sendiri. Ada 10.017 individu yang lain sedang bersamaku.”
“Banyak betul! Mereka semua di kamar Wina?”
“
”
“Seriuslah...”
“Tidak seperti yang kamu pikirkan. Aku hanya lewat sebentar, bukan sengaja pula.”
“Mau apa? Ehm, ke mana maksudku. Pengajian, tabligh akbar, istighosah, konser, rapat akbar, sweeping?”
“Sepertinya kamu sudah hilang kantuk. Ini hanya perjalanan rutin yang menyenangkan.”
Mungkin yang ia maksud adalah semacam group traveling, aku menebak sekenanya.
“Tentang Wina,” kini dia yang mengacarai.
“Ya, Wina kenapa? Aku belum memastikan kebenarannya.”
“Tidak perlu lagi. Wina sudah membuang tulisannya, juga tidak pernah berangan-angan kembali lagi pada bekasnya.”
“Karena dia sudah sebenar-benarnya mencintaiku? Lagipula aku lebih tampan ketimbang si itu, kan?”
“Haha! Kecilkanlah sedikit kepalamu. Kekasihnya yang dulu itu sudah punya yang baru lagi. Wina merasa amat kecil, dan satu-satunya cara yang masuk akal untuk membesarkan hatinya adalah dengan belajar menerimamu.”
Aku sungguh membenci jawaban itu. Namun boleh jadi dia benar dan bisa menjadi teman konsultasi yang baik.
Penulis itu melanjutkan lagi,
“Bagaimana sekarang, aman, kan?”
“Kau tahu banyak. Di mana bersembunyi dia sekarang?”
“Tidak di mana-mana. Dia hanya terikat pada perjanjiannya.”
“Syukurlah. Sementara bisa tenang sambil mencari-cari tempat baru.”
“Jangan terlalu cepat senang. Kamu juga punya bagian dalam perjanjian itu.”
“Ooo tidak bisa! Urusan itu sudah kulimpahkan pada Pak Wi.”
“Naifnya dirimu. Betul yang diucapkan qorinmu (1) itu ”
“Hah, memang qorin itu betul-betul ada? Siapa dia?”
“Ah sudahlah. Pesanku, jangan mudah percaya pada siapa pun. Jangan berurusan terlalu jauh dengan kami. Sebab banyak dari kami berperangai licik dan senang menguasai manusia. Omong-omong, Wina betul ingin pindah?”
“Kau takut kehilangan teman bicara, ya?”
“Dasar naif! Mudah saja mencari kalian. Sekadar saran, carilah rumah yang bersebelahan dengan sebuah pohon mangga. Kalian akan mendapati sebuah kamar yang kosong dan menentramkan.”
“Di mana itu?” aku menulisnya pada halaman terakhir. Namun setelah kututup dan kubuka lagi berulang-ulang ia tak membalas. Kalau pun membalas, ia tak dapat melakukannya lantaran kertas habis kecuali sisa halaman terakhir.
Di mana rumah yang dimaksud itu, pikirku kebingungan sambil terus membolak-balik sampul belakang binder. Terlambat kuketahui, ada balasan lagi. Panjang.
“Letaknya di sisi utara rumah ini. Kalau takdir bertemu itu akan menjadi milik Wina. Pemiliknya wanita renta yang sudah putus asa sebab terlalu sering dimadu. Di rumah itu juga ada penghuni yang tidak bisa kamu lihat. Hanya mengusili, tidak sampai berbuat jahat.”
“Kuberitahu lagi, periksalah kertas-kertas yang ada di sekitar ruangan wanita yang kamu ingin main mata dengannya. Suka atau tidak kamu akan menelusup ke sana seperti pencuri. Tetapi lebih baik demikian jika kamu benar-benar ingin tahu. Namun jika kamu mencemaskan akibatnya, jangan lakukan.”
“Belilah kertas kosong dalam jumlah cukup.”
Tulisan-tulisan itu telah meninggalkanku senyum-senyum seorang diri. Semoga penulisnya adalah sosok yang baik hati. Kututup buku catatan perkuliahan itu untuk bersegera tidur. Segelas kosong hendak kuisi air minum, sayangnya isi galon habis. Dengan terpaksa aku harus ke dapur.
Jalanku diatur cepat kecuali setelah sampai di bibir atas tangga. Aku menahan diri sebentar. Ragu menyelinap dengan cepat. Terngiang suara bayi sepertinya tengah diluputi gelak tawa dan kesenangan. Aku mendengarnya bersimpang siur dengan bunyi-bunyi lain yang lebih jelas di malam hari.
Itu Sybillia. Demi Tuhan! Tapi anak bayi itu urung terlihat oleh mataku.
Persetan dengan ngeri atau perasaan sebagainya. Ini bukan suatu hal yang boleh dipermainkan. Bagaimana jika bayi itu lolos dari jangkauan ibunya. Sybillia mulai bisa berjalan dan ia bisa saja celaka apabila dibiarkan begini.
Maka aku menuruni tangga lebih cepat lagi. Tawa riang Sybillia bertambah jelas. Di bawah meja!
Remang menutupi ruangan bawah berkat cahaya warna susu dari atap koridor. Pak Wi tidak kelihatan di ranjang yang biasa ia duduki untuk menonton televisi. Dan suara Sybillia kian nyata.
Tanganku menopang pada sandaran kursi. Kemudian dengan begitu kubuat badanku merunduk. Memeriksa bagian bawah meja makan.
“Bila, Sybillia...Nak..” Aku lekas memanggilnya setelah sungguh-sungguh melihatnya.
Anak dua tahun itu duduk bersila tak sempurna dalam posisi membelakangi. Ia tak hirau, meneruskan tertawanya sambil terkadang menepuk-nepuk pipinya seorang.
Pada saat inilah perasaan bergidik menjalar detik demi detik. Hanya saja keyakinanku bulat, bayi itu bukan siapa-siapa melainkan bayi yang beberapa jam lalu baru disyukuri hari kelahirannya. Lantas aku melihat tiada pilihan selain mengamankan Sybillia secepatnya.
Dua buah kursi kucabut agar mendapat ruang. Berjongkok pelan-pelan lalu mengelus kepala anak itu seraya memanggil namanya sekali lagi. Ia tak menggubris. Jujur saja, pikiranku sempat dikuasai ragu saat hendak membalikkan dan menarik badan mungil itu.
Namun akhirnya keraguan itu terkalahkan. Tubuh ringan itu berbalik arah. Hitam pekat wajahnya, dan sepasang mata yang jujur itu segera sirna kebinarannya. Gelak tawa terhenti. Kuteliti wajah itu dengan sebuah gurisan telunjuk. Membekas rupanya, seperti arang.
Aku bersumpah dalam diri, pasti ini berkaitan dengan segala yang telah kualami.
Segera saat itu juga bayi Sybillia kukeluarkan dari bawah meja. Namun yang mengherankan, tenagaku sama sekali tak mampu menggeser tubuh seringan itu. Seperti ada yang menahannya dari sisi berlawanan. Kemudian—biasanya jarang terpikir—kurapal beberapa ayat yang kupercaya dapat mengusir gangguan jin.
Beberapa saat setelah perapalan, meja makan gaduh bagai ada yang melompat-lompat di atas. Aku tak berhenti merapal meski seluruh pori-pori terbuka dan bulu-bulu halus nyaris tercerabut dari akarnya.
Tiba-tiba secara ajaib bayi Sybillia begitu ringan. Kini ia dalam dekapanku. Tiba-tiba pula ia menangis kejar!
Dar dar dar! Pintu kamar Mbak Fani kugedor sejadi-jadinya sampai ia terbangun. Hanya sebentar pintu kayu itu terbentang lebar. Mbak Fani muncul bersama wajah dipenuhi kepanikan.
“Sybillia?? Ya Allah, Nak!! Ini kenapa, Vin?”
Segera kuserahkan bayi itu kepada yang lebih berhak.
“Aku menemukannya di bawah meja.”
(1) Dalam Islam dikenal jin pendamping manusia yang menyertai setiap manusia dari hidup hingga mati. Istilah qorin mengutip keterangan Al-Quran dan hadits (ucapan) Nabi Muhammad (Shollallahu alaihi Wasallam). Terdapat juga doktrin yang menyatakan, penampakan jin dalam bentuk tertentu menyerupai seseorang yang hidup atau pernah hidup merupakan perbuatan qorin.
“Saya nggak mau Pak Wi main-main dengan ini semua. Hentikan!”
Seandainya perkataan itu tak terdengar, niscaya aku sudah masuk ke dalam rumah. Suara Mbak Fani terucap agak tinggi dan menghalangiku masuk.
“Kalau saja kamu mengerti...”
“Mengerti apa? Biar apa saya mengerti!?”
“Saya ndak akan nyelakai kamu dan rumah ini, nduk.”
Terdiam sebentar. Mbak Fani dan Pak Wi pasti menyadari hanya diri mereka yang ada di dalam sana sehingga berbicara seperti itu
“Anakku panas tinggi tiap tengah malam...Tiga hari ini begitu,” ujar Mbak Fani dengan suara yang kini terpatah.
“Gusti Allah! Sybillia sakit, nduk?”
Kemudian tangisan sang perempuan tersingkap dari dalam. Lantas aku mendengar langkah Pak Wi. Sepertinya ia menghampiri Mbak Fani demi mengatakan sesuatu, tapi aku tak bisa menangkapnya kecuali tangisan yang terus menerus.
Sehingga berkata lagi,
“Simbah datang kembali ke kamarku.”
“Kamu ndak bohong, nduk?”
“Pak Wi, masa bodoh,” bicaranya menggeram dan ditekan, “Akan kusingkirkan makhluk itu dari kamarku. Dari rumahku!”
“Gusti pengeran!”
“Pak Wi punya janji pada Ibuku untuk nurut sama aku...Usir dia dari tempat ini!”
“Nduk, sadar...sadar! Dia yang menjaga rumah ini. Sabarlah sebentar. Banyak yang ingin jahat pada kamu.”
Tangisan yang terkadang mendesis-menggeram itu bertahan kian lama. Aku baru membuka pintu ketika suara dari dalam berhenti sepenuhnya.
“Eh, Mas Alvin. Kebetulan, ayo makan, makan! Ah, ini Mbak Asih yang masak dari rumah.”
Pak Wi menawarkan makan dengan amat ramah. Duduk mengelilingi meja makan, Mbak Fani sambil memangku putrinya, Mbak Asih, suaminya, dan Pak Wi. Tiap-tiap orang di situ tersenyum sumringah layaknya sedang mensyukuri nikmat Tuhan. Aku menatapi mereka dengan terheran-heran. Namun semakin ditatap, wajah-wajah itu kian bergembira.
Di antara makanan-makanan berat yang terhidang ada seloyang kue ulang tahun.
HAPPY BITHDAY SYBILLIA
2
“Sybillia ulang tahun?” tanyaku datar. Seandainya mereka tahu pedalaman hatiku. Bibirku menahan gemetar.
“Eh oom Alvin baru tahu ya. Ucapin selamat dong buat aku,” kata Mbak Fani riang mewakili putrinya dengan suara yang dibuat-buat seperti anak kecil.
Di wajah jelita itu tiada seguris pun bekas kesedihan.
Masih dengan tak percaya aku menghampiri Sybillia. Ibunya memberikan anaknya supaya aku gendong. Maka kuucapkan selamat dan doa walaupun segalanya yang kudengar tadi masih membungkam nalar.
“Maaf oom nggak sempat siapkan kado,” kataku pada Sybillia yang belum mengerti.
“Nggak apa-apa kok oom, kan masih ada besok,” cetus biangnya, “Sekalian mamanya dikadoin juga boleh.”
Aku hanya membalas dengan senyum tanpa sempat berpikir apa-apa. Untuk kedua kali mereka mengajak bersantap. Kutolak baik-baik, sebab nafsu makan lenyap tak tahu ke mana.
***
Aku berusaha lepas ingatan atas pendengaran yang sulit dipercaya tadi. Tugas teramat penting malam ini, menyelesaikan bab II skripsi public relation. Kekurangan uang cukup membantu mengatasi tekanan. Dan ketika mulai duduk menghadap notebook, pikiranku dengan cepat terpusat pada karangan akademik.
Maka jam-jam kemudian energi tubuh ini habis menyusun paragraf-paragraf. Seperti kemarin, adrenalin akhir-akhirnya habis pada waktunya. Aku menyerah dan tertidur di meja.
Akan tetapi tidur dalam posisi yang tak wajar membuatku terjaga lebih cepat lagi. Jam 1 tengah malam. Aah, rasanya setengah copot tulang belakang.
Wina mengirim pesan. Katanya, ia menginap di rumah Siska. Kubalas untuk memintanya segera pulang. Aku juga mengatakan tidak lagi mengalami keanehan di kamarnya.
Sebaiknya aku pulang saja ke rumah. Wina tidak membalas teks dengan cepat seperti yang sebelumnya. Barangkali matanya sudah tertutup.
Segera berpindah dari kursi ke kasur. Hufft! Badan ini begitu loyo. Jendela belum lagi tertutup. Meski hanya beberapa hitungan langkah, tampaknya amat jauh dan melelahkan. Kini aku menjatuhkan badan ke kasur. Perasaanku sungguh merdeka.
Tetapi ketenanganku terusik bunyi lemparan buku. Dari bawah lemari asalnya. Aihh, kenapa penulis misterius itu masih eksis juga, batinku kesal. Awalnya kubiarkan tindakan itu, tapi lemparan berikutnya sangat menjengkelkan. Buku itu terlempar menyusuri bawah kasur sampai membentur dinding yang berlawanan dari lemari.
Dengan berat hati omong kosong ini harus diladeni. Brengseknya, aku tak menemukan tulisan apapun.
“MAU APA?” kataku.
“Nah, begitu! Aku juga mau sekali-sekali kamu yang memulai.”
“Bukannya golonganmu sudah diusir? Kenapa masih ada di sini?”
“Ooo bukan begitu. Pak tua itu hanya mengusir genie in person.”
“Bagaimana aku percaya?”
“Percaya saja, nak. Mustahil aku berbohong padamu.”
Ia baru saja menulis “Nak”. Apa-apaan ini!
“Karena itu kamu pribadi masih bisa datang ke sini...”
“Sejujurnya malam ini aku tidak sendiri. Ada 10.017 individu yang lain sedang bersamaku.”
“Banyak betul! Mereka semua di kamar Wina?”
“
”“Seriuslah...”
“Tidak seperti yang kamu pikirkan. Aku hanya lewat sebentar, bukan sengaja pula.”
“Mau apa? Ehm, ke mana maksudku. Pengajian, tabligh akbar, istighosah, konser, rapat akbar, sweeping?”
“Sepertinya kamu sudah hilang kantuk. Ini hanya perjalanan rutin yang menyenangkan.”
Mungkin yang ia maksud adalah semacam group traveling, aku menebak sekenanya.
“Tentang Wina,” kini dia yang mengacarai.
“Ya, Wina kenapa? Aku belum memastikan kebenarannya.”
“Tidak perlu lagi. Wina sudah membuang tulisannya, juga tidak pernah berangan-angan kembali lagi pada bekasnya.”
“Karena dia sudah sebenar-benarnya mencintaiku? Lagipula aku lebih tampan ketimbang si itu, kan?”
“Haha! Kecilkanlah sedikit kepalamu. Kekasihnya yang dulu itu sudah punya yang baru lagi. Wina merasa amat kecil, dan satu-satunya cara yang masuk akal untuk membesarkan hatinya adalah dengan belajar menerimamu.”
Aku sungguh membenci jawaban itu. Namun boleh jadi dia benar dan bisa menjadi teman konsultasi yang baik.
Penulis itu melanjutkan lagi,
“Bagaimana sekarang, aman, kan?”
“Kau tahu banyak. Di mana bersembunyi dia sekarang?”
“Tidak di mana-mana. Dia hanya terikat pada perjanjiannya.”
“Syukurlah. Sementara bisa tenang sambil mencari-cari tempat baru.”
“Jangan terlalu cepat senang. Kamu juga punya bagian dalam perjanjian itu.”
“Ooo tidak bisa! Urusan itu sudah kulimpahkan pada Pak Wi.”
“Naifnya dirimu. Betul yang diucapkan qorinmu (1) itu ”
“Hah, memang qorin itu betul-betul ada? Siapa dia?”
“Ah sudahlah. Pesanku, jangan mudah percaya pada siapa pun. Jangan berurusan terlalu jauh dengan kami. Sebab banyak dari kami berperangai licik dan senang menguasai manusia. Omong-omong, Wina betul ingin pindah?”
“Kau takut kehilangan teman bicara, ya?”
“Dasar naif! Mudah saja mencari kalian. Sekadar saran, carilah rumah yang bersebelahan dengan sebuah pohon mangga. Kalian akan mendapati sebuah kamar yang kosong dan menentramkan.”
“Di mana itu?” aku menulisnya pada halaman terakhir. Namun setelah kututup dan kubuka lagi berulang-ulang ia tak membalas. Kalau pun membalas, ia tak dapat melakukannya lantaran kertas habis kecuali sisa halaman terakhir.
Di mana rumah yang dimaksud itu, pikirku kebingungan sambil terus membolak-balik sampul belakang binder. Terlambat kuketahui, ada balasan lagi. Panjang.
“Letaknya di sisi utara rumah ini. Kalau takdir bertemu itu akan menjadi milik Wina. Pemiliknya wanita renta yang sudah putus asa sebab terlalu sering dimadu. Di rumah itu juga ada penghuni yang tidak bisa kamu lihat. Hanya mengusili, tidak sampai berbuat jahat.”
“Kuberitahu lagi, periksalah kertas-kertas yang ada di sekitar ruangan wanita yang kamu ingin main mata dengannya. Suka atau tidak kamu akan menelusup ke sana seperti pencuri. Tetapi lebih baik demikian jika kamu benar-benar ingin tahu. Namun jika kamu mencemaskan akibatnya, jangan lakukan.”
“Belilah kertas kosong dalam jumlah cukup.”
Tulisan-tulisan itu telah meninggalkanku senyum-senyum seorang diri. Semoga penulisnya adalah sosok yang baik hati. Kututup buku catatan perkuliahan itu untuk bersegera tidur. Segelas kosong hendak kuisi air minum, sayangnya isi galon habis. Dengan terpaksa aku harus ke dapur.
Jalanku diatur cepat kecuali setelah sampai di bibir atas tangga. Aku menahan diri sebentar. Ragu menyelinap dengan cepat. Terngiang suara bayi sepertinya tengah diluputi gelak tawa dan kesenangan. Aku mendengarnya bersimpang siur dengan bunyi-bunyi lain yang lebih jelas di malam hari.
Itu Sybillia. Demi Tuhan! Tapi anak bayi itu urung terlihat oleh mataku.
Persetan dengan ngeri atau perasaan sebagainya. Ini bukan suatu hal yang boleh dipermainkan. Bagaimana jika bayi itu lolos dari jangkauan ibunya. Sybillia mulai bisa berjalan dan ia bisa saja celaka apabila dibiarkan begini.
Maka aku menuruni tangga lebih cepat lagi. Tawa riang Sybillia bertambah jelas. Di bawah meja!
Remang menutupi ruangan bawah berkat cahaya warna susu dari atap koridor. Pak Wi tidak kelihatan di ranjang yang biasa ia duduki untuk menonton televisi. Dan suara Sybillia kian nyata.
Tanganku menopang pada sandaran kursi. Kemudian dengan begitu kubuat badanku merunduk. Memeriksa bagian bawah meja makan.
“Bila, Sybillia...Nak..” Aku lekas memanggilnya setelah sungguh-sungguh melihatnya.
Anak dua tahun itu duduk bersila tak sempurna dalam posisi membelakangi. Ia tak hirau, meneruskan tertawanya sambil terkadang menepuk-nepuk pipinya seorang.
Pada saat inilah perasaan bergidik menjalar detik demi detik. Hanya saja keyakinanku bulat, bayi itu bukan siapa-siapa melainkan bayi yang beberapa jam lalu baru disyukuri hari kelahirannya. Lantas aku melihat tiada pilihan selain mengamankan Sybillia secepatnya.
Dua buah kursi kucabut agar mendapat ruang. Berjongkok pelan-pelan lalu mengelus kepala anak itu seraya memanggil namanya sekali lagi. Ia tak menggubris. Jujur saja, pikiranku sempat dikuasai ragu saat hendak membalikkan dan menarik badan mungil itu.
Namun akhirnya keraguan itu terkalahkan. Tubuh ringan itu berbalik arah. Hitam pekat wajahnya, dan sepasang mata yang jujur itu segera sirna kebinarannya. Gelak tawa terhenti. Kuteliti wajah itu dengan sebuah gurisan telunjuk. Membekas rupanya, seperti arang.
Aku bersumpah dalam diri, pasti ini berkaitan dengan segala yang telah kualami.
Segera saat itu juga bayi Sybillia kukeluarkan dari bawah meja. Namun yang mengherankan, tenagaku sama sekali tak mampu menggeser tubuh seringan itu. Seperti ada yang menahannya dari sisi berlawanan. Kemudian—biasanya jarang terpikir—kurapal beberapa ayat yang kupercaya dapat mengusir gangguan jin.
Beberapa saat setelah perapalan, meja makan gaduh bagai ada yang melompat-lompat di atas. Aku tak berhenti merapal meski seluruh pori-pori terbuka dan bulu-bulu halus nyaris tercerabut dari akarnya.
Tiba-tiba secara ajaib bayi Sybillia begitu ringan. Kini ia dalam dekapanku. Tiba-tiba pula ia menangis kejar!
Dar dar dar! Pintu kamar Mbak Fani kugedor sejadi-jadinya sampai ia terbangun. Hanya sebentar pintu kayu itu terbentang lebar. Mbak Fani muncul bersama wajah dipenuhi kepanikan.
“Sybillia?? Ya Allah, Nak!! Ini kenapa, Vin?”
Segera kuserahkan bayi itu kepada yang lebih berhak.
“Aku menemukannya di bawah meja.”
(1) Dalam Islam dikenal jin pendamping manusia yang menyertai setiap manusia dari hidup hingga mati. Istilah qorin mengutip keterangan Al-Quran dan hadits (ucapan) Nabi Muhammad (Shollallahu alaihi Wasallam). Terdapat juga doktrin yang menyatakan, penampakan jin dalam bentuk tertentu menyerupai seseorang yang hidup atau pernah hidup merupakan perbuatan qorin.
Diubah oleh pakdhegober 15-08-2019 18:39
bebyzha dan 7 lainnya memberi reputasi
8