- Beranda
- Stories from the Heart
KABUT (Horror Story)
...
TS
endokrin
KABUT (Horror Story)
Tanpa basa-basi lagi bagi agan dan sista yang sudah pernah membaca dongeng-dongeng saya sebelumnya kali ini saya ingin mempersembahkan sebuah dongeng baru

Cerita saya sebelumnya bisa dibaca dibawah ini, tinggal diklik saja
Quote:
WARNING!!
Quote:
Saya mohon dengan sangat untuk tidak mengcopy paste cerita ini. semoga agan dan sista yang budiman bersikap bijaksana, dan mengerti bahwa betapa susahnya membuat cerita. Terima kasih
Quote:

Diubah oleh endokrin 19-05-2019 05:10
disturbing14 dan 30 lainnya memberi reputasi
29
621.1K
Kutip
2.2K
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.7KAnggota
Tampilkan semua post
TS
endokrin
#1294
Quote:
CHAPTER 12
“Sebaiknya kita malam ini tidur dulu, tidak mungkin melanjutkan perjalanan malam-malam, kondisi jalan yang licin akan membahayakan.” Kata Baim.
Keempat teman baru kami juga mendirikan tenda yang berjarak beberapa meter saja dari tenda kami bertiga. Kita mulai sedikit akrab walaupun pertemuan diawali dengan cerita yang mengerikan. Kami semua berkumpul mengelilingi api unggun, menghangatkan badan sambil menikmati teh panas yang dibuat oleh Baim.
“Apa kalian mahasiswa ?” Tanyaku pada mereka.
“Tidak kami sudah lulus dua tahun yang lalu.”
“Jadi kalian bekerja ?”
“Belum. Kalau kalian ?”
“Belum. kami baru saja lulus. Pendakian ini adalah bentuk perayaan kecil kami karena telah menerima ijazah.” Aku menjawab.
“Oh iya, daritadi kita belum berkenalan ?”
Setelah berkenalan barulah aku tahu dari nama mereka masing-masing. Tapi aku bukan tipe orang yang suka mengingat nama-nama orang yang baru dikenal. Jadi aku menamai mereka dengan sebutan didalam kepalaku dengan nama pria 1,2,3 dan satu lagi aku tidak menyebutnya dengan angka, karena dia memakai kacamata. Lebih mudah diingat jika aku memanggilnya pria berkacamata.
Kami berbincang banyak hal. Melupakan kejadian mengerikan yang tadi sore baru saja mereka ceritakan. Sampai akhirnya Baim menyuruhku untuk tidur, karena dia dari tadi terus melihat jam tangan mungkin hari sudah hampir tengah malam. Baim tidak mau kita bangun terlalu siang. Aku dan Baim masuk kedalam tenda. Sedangkakan keempat orang ini baru mulai memasak untuk makan malam.
Imron tampak sudah terlelap dalam tidurnya. Mungkin dia memang masuk angin dan kelelahan saat tadi sore mengeluh pusing. Sedangkan aku dan Baim disampingnya masih berbincang sambil menunggu rasa kantuk datang.
Entah berapa lama aku tertidur lelap, sampai akhirnya aku terbangun lagi karena merasa ada yang mengguncang-guncangkan tanganku. Saat tidur aku memang lupa menutup tenda.
“Iyah.” Saat aku membuka mata, si pria berkacamata sedang jongkok didepanku.
“Bisakah aku masuk ?”
“Disini sudah penuh. Bukankah kalian mendirikan dua tenda ?”
“Bukan. Aku datang bukan untuk menumpang tidur. Ada hal yang ingin aku bicarakan.”
Aku membangunkan Baim, karena tenda kami begitu sempit jika dipakai berbaring oleh tiga orang. Agar si pria berkacama bisa masuk, maka harus ada dua orang yang duduk. Baim sempat yang masih belum sadar, bertanya ada apa. aku menggelengkan kepala, tapi setelah melihat tamu kita diluar dia akhirnya bisa mengerti dan duduk disampingku dengan keadaan masih setengah sadar.
“Silahkan masuk. Memang tidak bisakah kita berbicara diluar ?”
“Tidak bisa. Ini sangat penting.”
“Ketiga temanku itu gila.” Katanya dengan suara pelan.
Aku dan Baim saling berpandangan. Aku merasa sedikit kaget, tapi Baim tampaknya masih ngantuk sehingga tidak peduli dengan ucapan si pria berkacamata. Aku mulai berpikir bahwa si pria berkacamata-lah yang gila, dia bangunkan kami berdua malam-malam hanya untuk bergosip.
“Apa maksudmu ?”
“Bisakah kamu berbicara pelan-pelan saja. Ini adalah sebuah rahasia yang aku akan beritahukan kepada kalian. Aku ingin kalian menjadi saksi, bila nanti kita sampai dibawah. Aku tidak bisa mengadu sendirian.” Si pria berkacamata mulai terlihat tegang. Bahkan aku bisa melihat jidatnya berkeringat.
“Apa, aku tidak mengerti ?”
“Aku mohon, berbisik atau pelan-pelan saja bicaranya. Aku akan menceritakannya, kalian akan mengerti nanti. tapi dengarkan dulu aku sampai beres.”
Aku mengangguk, walaupun sebenarnya tidak peduli dengan apa yang akan dibicarakan si pria berkacamata. Baim terlihat menguap, namun kali ini tampak dia sudah sepenuhnya terbangun.
“Aku yakin semua bencana yang sedang kita alami ini, semuanya pasti berhubungan dengan apa yang aku lakukan bersama teman-temanku. Tapi sumpah ketiga orang itulah yang memulai, aku hanya mengikuti mereka.”
“Apa yang kamu bicarakan ?” Baim mulai tertarik.
“Aku sudah menduga bahwa kejadian seperti ini akan terjadi. Tapi aku sudah putus asa, aku tidak bisa menolaknya. Tapi sekarang aku menyesalinya, aku sangat ketakutan.”
Aku masih belum mengerti karea si pria berkacamata berbicara terburu-buru. Sambil sesekali kepalanya menengok keluar tenda, mungkin untuk memastikan teman-temannya masih terlelap.
“Kami datang kesini bukan cuma untuk mendaki.” Si pria berkaca mata menekan kalimatnya, sehingga bagiku dia terlihat sangat tegang.
“Jadi ?”
“Kami berdelapan dulu satu kampus, tergabung dalam UKM yang didirikan oleh salah satu dari teman kami. Klub kami mungkin dipandang sebelah mata, karena kegiatannya membahas dunia mistis. Jarang sekali anak muda yang tertarik dengan dunia gaib sekarang ini bukan ? pikiran mereka sudah kandung modern dan berpikiran realistis. Padahal realisitis hanya masalah sudut pandang saja. Setiap minggu UKM kita menerbitkan bulletin yang berisil artikel-artikel seputar dunia mistis. Tapi kami tidak membahas legenda urban tentang setan-setan yang muncul dirumah kosong atau penampakan hantu dalam foto maupun video.”
“Jadi kalian semacam ghostbuster ?” Baim nyeletuk memotong pembicaraan si pria berkacamata.
Si pria berkacamata tampak kesal dengan celetukan Baim. Ekspresinya terlihat datar saat melihat kami berdua. Dia meminta kami untuk mendengarkan lagi ceritanya. Kata dia jika kami tidak mendengar ceritanya, aku dan Baim tidak akan mengerti kenapa dia menganggap ketiga temannya gila.
“Kami mengangkat dunia mistis lokal yang selama ini masih dipercayai masyarat daerah ataupun pesisir. Aku dulu bergabung bukan karena tertarik melihat dari sudut pandang dunia gaibnya tapi karena kebudayaannya. Waluapun UKM yang kami jalankan dulu tidak pernah mendapat respon yang baik dari kalangan kampus, tapi setelah kami lulus justru Klub yang kami dirikan itu kini berubah menjadi bakal mata pencaharian kami. Aku dan teman-temanku sedang membuat majalah. Ada investor yang mau mendanai kegiatan kami.”
“Jadi kalian kesini dalam rangka ?”
“Ini adalah ekpedisi pertama kami untuk bahan majalah edisi pertama yang akan kami terbitkan. Si investor meminta kami untuk mengulas tentang legenda gunung ini.”
“Legenda macam apa ?” Aku mulai penasaran. Kelihatannya si pria berkacamata sedang tidak bermain-main.
“Haruskah aku menceritakannya disini ? Apa kalian pernah mendengar mitos, jika sebaiknya jangan membicarakan hal-hal seperti itu saat ditempatnya.”
“Tapi bukankah kamu bilang legenda ? jadi itu hanya sekedar dongeng kan bukan kejadian mistis atau apapun ?” Aku semakin pensaran.
“Awalnya aku mengira itu sebuah legenda. Tapi setelah melihat dengan mata kepalaku sendiri aku jadi ragu dengan keyakinanku.”
Si pria berkacamata tampak berkeringat. Padahal cuaca sangat dingin, Baim memberinya satu gelas air. Sebaiknya memang tidak dipaksa, kata Baim. Baim langsung bertanya apa tujuan dia menceritakan semua ini kepada kami berdua.
“Aku ingin kalian mengajak aku untuk turun tanpa sepengetahuan ketiga temanku itu.”
“Kenapa ?”
“Apakah kalian tahu. Kami berempat kesini bukan berencana untuk turun. Kami sedang mengejar sesuatu. Kami melihat makhluk ini turun, jadi kami berencana mencarinya.”
Aku mulai mengerti dengan arah pembicaraan si pria berkacamata. Aku jadi teringat makhluk yang aku lihat saat diatas. Apa makhluk itu yang diatas aku lihat, aku ingin bertanya tapi sebaiknya sekarang aku berpura-pura untuk tidak mengetahui apapun dulu.
“Tapi apakah cerita temanmu itu tentang kematian empat orang temanmu yang lain itu nyata ?”
“Iyah itu memang nyata. Tapi aku yakin kesialan itu akibat apa yang sudah kita lakukan. Bahkan sekarang mayat mereka tidak ditemukan bukan ?”
“Apakah kamu juga tahu, bahwa teman wanita kami juga hilang ?” Baim menepuk pundaku. Aku terlanjut memberi tahu si pria berkacamata yang kini tampak kaget.
“Apakah teman kalian juga jatuh ?”
“Tidak. Teman kami hilang begitu saja.” Baim menjawab.
Si pria berkacamata tampak memukul-mukul kepalanya sambil terus berucap “Sudah kuduga..sudah kuduga”. Baim mengingatkan apakah dia baik baik saja.
“Maaf kalau sedang panik aku selalu bersikap seperti ini. Jadi sebaiknya mari kita pergi saja sekarang. secepatnya.”
“Tapi apakah kamu tidak khawatir dengan ketiga temanmu itu ? kamu ingin meninggalkan mereka, apakah itu tidak terdengar jahat ?”
“Sudah kubilang mereka itu gila. Mereka tidak akan mau pulang bersama kita. Mereka akan selalu memaksaku untuk mengikutinya. Mereka masih penasaran dengan makhluk yang mereka cari. Mereka tidak akan peduli dengan keselamatan temannya. Ayo kita pergi saja sekarang.”
Tiba-tiba terdengar suara dari tenda sebelah. Lampu tenda tersebut kini menyala. Nama si pria berkacamata sedang dipanggil-panggil temannya. Kami bertiga saling bertatapan dan tidak bergerak sama sekali, nafas kami tertahan. Baim mematikan lampu gantung, sehingga sekarang didalam tenda kami gelap gulita.
Bersambung.....
Jangan lupa like, comen, share and subcribe
twiratmoko dan 11 lainnya memberi reputasi
12
Kutip
Balas
Tutup