- Beranda
- Stories from the Heart
#SFTH Challenge : Tiga Hati Tiga Cerita
...
TS
sadako88
#SFTH Challenge : Tiga Hati Tiga Cerita

Code:
Disclaimer: Cerita ini hanya fiktif belaka. Kesamaan nama dan peristiwa hanya kebetulan yang tidak disengaja

Chapter 1. Pertemuan
Quote:
ZAHRA
"Ma? Aku lapar..."
Sentuhan tangan Reza, anakku yang baru berumur 7 tahun menyadarkanku dari lamunan. Aku menyeka mataku dan menjawab "Iya sayang, nanti kita makan dulu ya..." Aku membelai rambut Reza dan air mataku kembali mengalir. "Jangan nangis, Ma..." Reza mengusap air mataku, "Aku sayang mama...." Aku memeluk anakku dan tanpa bisa dibendung lagi kembali terisak-isak.
Masih segar dalam ingatanku kata-kata kasar suamiku ketika ia melemparkan baju-bajuku keluar dan mengusirku. Semua itu hanya karena aku bertanya siapa gerangan foto wanita yang tersimpan di HP nya. Dia menyebutku tak tahu sopan santun karena mengusik privasinya. Benar, aku memang salah telah membuka HP nya, namun apakah kesalahan kecilku itu sebanding dengan apa yang telah dilakukannya?
Aku selalu salah di matanya. Susah payah aku memasak makanan kesukaannya tapi dia selalu bilang tidak enak dan tidak mau memakannya. Dia selalu mengkritik penampilanku yang lusuh tapi tidak pernah memberi uang lebih sekedar untuk membeli lipstik. Dan sekarang dia berselingkuh, dan tetap aku yang salah...
Sakit sekali rasanya saat aku melihat foto-foto itu. Foto suamiku dengan wanita lain tanpa busana. Pantas saja selama ini dia sering sekali pergi ke luar kota dengan alasan dinas kantor. Ternyata diam-diam dia asyik masyuk dengan wanita lain. Habis sudah kesabaranku selama ini. Jika dia memang menginginkan wanita itu biarlah aku yang mengalah... Aku yang akan pergi. Aku membawa Reza bersamaku karena aku tidak sudi anakku mempunyai ibu tiri wanita jala*ng seperti itu.
"Bu... Maaf, kita sudah sampai..." Supir taksi berkata padaku dan aku baru sadar aku sudah sampai di tujuanku, Bandara Syamsudin Noor. "Iya pak..." Aku menenangkan diri dan segera turun dari taksi dengan pikiran yang tidak fokus.
"BU.... AWASSSS!!!"
"MAMAAAA....!!!"
BRUUUAAAKKK......!!!!
Quote:
AMANDA
Kacau. Kacau. Kenapa jadi begini? Wanita itu tiba-tiba keluar dari taksi di depan dan berjalan begitu saja ke tengah jalan. Aduh mbak, kalau mau bunuh diri jangan bikin orang lain repot dong! Kalau sudah begini kacau semuanya. Tak ada kartu identitas di tubuh wanita itu. Dia tidak membawa dompet. Di tasnya pun tidak ditemukan. Hanya baju-baju yang dimasukkan sembarangan. Seolah-olah dia pergi meninggalkan rumah terburu-buru. Anak lelakinya menangis tak henti-henti dan tampak bingung. Dia tidak mau menjawab siapa namanya, dimana rumahnya.
Mau tidak mau karena aku berada di dalam taksi yang menabrak wanita itu, aku pun terpaksa harus terlibat. Sialnya supir taksi yang kunaiki malah kabur! Sekarang aku terjebak di Rumah Sakit dengan mayat berlumuran darah, anak kecil yang terus menangis histeris, dan tatapan menuduh para perawat. Hancur sudah semua rencanaku jauh-jauh datang ke kota ini!
Aku kembali mencari-cari dompet atau HP wanita itu di tasnya. Dan oh... Ini dia! Ternyata HP nya ada di balik lipatan baju. Ada 30 missedcall dan 10 sms yang belum dibaca. Aku bukan tipe wanita yang suka kepo dengan kehidupan orang lain, tapi kali ini mau ga mau aku harus melakukannya.
Semua missedcall berasal dari seseorang bernama "Ayah" kupikir mungkin "Ayah" ini ayah si wanita atau mungkin juga suaminya. Semua sms juga berasal dari Ayah. Aku baca sekilas isinya
"Maafkan aku"
"Kamu dimana? Cepat pulang!"
"Aku masih mencintaimu... Pulanglah!"
Jadi, sepertinya Ayah ini adalah suami si wanita... Aku menyentuh tombol "call"
"Nomor yang anda tuju sedang sibuk atau berada di luar jangkauan... Cobalah beberapa saat lagi"
Aduh sial banget si ayah ini. Istri ketabrak malah ga bisa dihubungi! Aku pun mencoba mengirim sms,
"Pak, istri Bapak tertabrak mobil, sekarang ada di RS Ratu Juleha di dekat Bandara Syamsudin Noor. Segera ke sini ya Pak!"
Dalam semua kekacauan aku sampai lupa menghubungi mas Pras. Aku mengambil HP ku dalam tas dan menelepon... Namun lagi-lagi suara operator yang menjawab. Sial! Kemana para pria ketika kami membutuhkan mereka?! Aku terduduk lemas. Tanpa terasa air mataku mengalir. Aku jauh-jauh datang ke kota ini karena ingin bertemu dengannya. Tapi baru beberapa langkah keluar dari bandara malah ada insiden ini!
Mas Pras... Yang kukenal dari Facebook. Mas Pras yang ganteng dan romantis. Mas Pras yang pandai merayu, Mas Pras yang ah.... begitu pandai menggetarkan perasaanku, sanggup membangkitkan gairahku, membutakan mataku. Membuatku rela menanggalkan busanaku satu demi satu di depannya. Mas Pras benar-benar membuatku tergila-gila. Mas Pras datang menemuiku beberapa kali di kotaku dan kami bercinta di hotel...
Dari awal aku tahu dia sudah punya anak istri. Tapi yah bukan salahku kan kalau dia tidak bahagia dengan istrinya. Mas Pras yang mengejarku, bukan aku yang mengejar dia. Namun yang membuatku kesal dia selalu mengelak saat aku meminta kejelasan status. Akhirnya aku diam-diam berangkat ke kotanya karena aku ingin memberinya kejutan. Aku sangat mencintai Mas Pras dan ingin sekali bertemu dengannya... Aku juga ingin meminta kejelasan tentang status kami. Mas Pras bilang dia sudah tidak mencintai istrinya dan aku ingin memintanya untuk menceraikan istrinya dan menikahiku...
Sentuhan tangan anak kecil itu menyadarkanku dari lamunan. "A...A...A...yah...." Dia berkata tersendat-sendat. Aku membelai rambutnya. "Tante sudah sms ayah kamu sebentar lagi dia datang" Anak itu mengangguk. Kasihan, anak sekecil itu harus kehilangan ibunya.
"Dokter saya dengar ada kecelakaan di depan bandara dan korbannya dibawa kesini. Saya yakin itu istri saya. Dimana dia sekarang dok?" Aku mendengar seseorang berkata dari luar. Akhirnya ayah anak itu datang. Si anak laki-laki berlari dan memeluk ayahnya mereka menangis tersedu-sedu. Kasihan ayah dan anak itu tentu berat sekali kehilangan istri dan ibu dengan cara seperti ini. Mereka bergegas menghampiri tempat pembaringan si wanita dan kembali menangis.
"Zahra, maafkan aku Ra... Maafkan aku! Jangan pergi! Aku masih mencintaimu, maafkan aku Ra! Zahraa...!!!"
Entah kenapa air mataku tiba-tiba ikut mengalir. Kedukaan si ayah terasa begitu nyata. Entah apa yang telah dilakukan si ayah pada istrinya yang bernama Zahra itu, yang pasti sepertinya dia sangat menyesal...
Aku mendekati pria itu.
"Mas, mohon maaf... Saya yang tadi kirim sms, ini HP istri mas, maaf saya lancang.... Dan juga taksi saya tadi yang menabrak istri mas. Tapi sungguh supir taksi saya tidak sengaja. Istri mas tiba-tiba nyelonong ke jalan dan... Dan.... M..mma... MAS PRAS??!"
Pria itu mengangkat wajahnya. Dan sekarang aku bisa melihat jelas tahi lalat di atas bibirnya, bekas luka di pipi kirinya yang takkan salah lagi.
HP Zahra yang kupegang terjatuh dengan suara keras ke lantai....
Quote:
PRASETYO
"A...aaa..manda??!!"
Brakk. HP Zahra pecah berkeping-keping di lantai.
Lalu hening.
Ya Tuhan. Apa maksud semua ini. Istriku terbujur kaku di hadapanku, dan di sebelahnya wanita yang selama setengah tahun ini kusimpan-simpan sebagai WIL berdiri menatapku dengan wajah sepucat mayat. Ya itu Amanda. Wanita yang telah mengalihkan duniaku.
Aku mencintai Amanda, tapi aku juga masih mencintai Zahra istriku.
Amanda yang muda, cantik, seksi begitu menggoda naluriku sebagai lelaki. Tapi aku tidak pernah ingin menceraikan istriku demi dia. Wajar bukan sebagai lelaki merasa bosan makan sayur asam dan sekali-kali ingin makan ikan?
Di sisi lain Zahra adalah ibu dari anakku. Aku tidak mungkin meninggalkan dia. Tapi sekarang dia telah pergi sebelum aku sempat meminta maaf... Tanganku terasa basah, lengket, aku menunduk dan kulihat tanganku berlumuran darah istriku.
Ya Tuhan apa yang telah kulakukan???
***
Original story by Sadako88
Ilustrasi oleh Google
Diubah oleh sadako88 17-02-2018 16:16
anasabila memberi reputasi
1
7.9K
Kutip
75
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.7KAnggota
Tampilkan semua post
TS
sadako88
#40
Chapter 3. Sahabat Selamanya

Quote:
ZAHRA (7 thn)
"Mamaaa....!!!" Aku menghambur ke pelukan ibuku sambil menangis.
"Loh kenapa sayang? Kenapa kamu nangis?"
"Pras nakal ma! Dia mau cium Rara!"
"Terus?"
"Dia bilang Rara cantik. Terus dia bilang mau jilat pipi Rara, tapi lidahnya warna biru..."
"Kok bisa lidahnya warna biru?"
"Iya dia abis makan permen jagoan neon itu ma!"
Aku terus menangis terisak sementara mamaku tertawa geli.
"Raraaaaa.... !! Raraaaaa.... Uy Raraaa...!!!"
"Nah itu sepertinya suara Pras?"
Mama berjalan ke pintu depan dan aku mengikuti dari belakang. Menyembunyikan wajahku di balik badan ibuku.
"Sini... Sini....!"
Pras mengacungkan dua permen jagoan neon sambil nyengir.
"Ini buat Rara, jangan nangis dong! Ayo main bola lagi! Ayooo....!!!" Pras menjulurkan tangannya kepadaku.
Aku menatap ibuku dan dia mengangguk sambil tersenyum.
"Ayooo...." Aku berlari sambil merebut kedua permen itu dari tangan Pras.
"Raraaa... Satu satu dong itu permenkuuu....!"
"Hahaha... Sini... Sini kejar...."
***
Quote:
PRASETYO (17 thn)
Aku memasang headset di kepalaku sebelum menaikkan lagi volume suara film yang sedang kuputar di komputerku. Siap melakukan 'ritual'.. Namun tiba-tiba..
"Pras... ! Woy! Bukaaa!"
Sial
"Apa sih Ra?"
Aku membuka pintu setelah cepat-cepat mematikan komputer.
"Ngapain sih lo? Siang-siang ngadem di kamar? Nonton bokep yah?"
"Ye... Kagak lah. Ada apa sih?"
"Mau curhaatttt..."
"Yaelah. Curhat lagi curhat lagi. Kenapa lagi tuh si Freddie?"
Rara naik ke tempat tidurku dan berbaring telentang. Mulut mungilnya mulai nyerocos menceritakan bagaimana kelakuan Freddie pacarnya.
Diam-diam aku curi-curi pandang memandangi tubuh sahabatku sejak kecil ini. Dari kecil dia memang sudah cantik, dan di usia 17 tahun Zahra telah menjadi gadis yang sangat mempesona. Ada getaran-getaran aneh dalam otakku. Dorongan-dorongan yang tak bisa kupahami. Bisikan-bisikan yang seolah mengarahkanku untuk menyentuh Zahra. Melakukan seperti apa yang dilakukan orang-orang di film yang aku download diam-diam dari internet... Melakukan apa yang kulakukan pada Zahra dalam mimpi basah pertamaku 4 tahun lalu....
"Pras...? Pras! Halloooww!"
Aku tersentak kaget
"Apaan sih berisik"
Zahra berkacak pinggang.
"Gue dari tadi ngomong lo ga dengerin?" Zahra mendecakkan bibirnya gemas.
"Ra. Gue ngantuk. Udah sana pulang!"
"Oh jadi lo ngusir gue?"
"Iya. Udah sana!"
Aku menarik tubuh Rara dan mendorongnya keluar kamar. Setelah sekian menit Rara ngomel-ngomel di luar akhirnya aku bisa mendengar suara langkah kakinya menjauh.
Aku cepat-cepat menyalakan komputerku lagi.
.....
.....
"Zahra... Zahra... Emmm.... Zahraaa....!"
Sial.
Kenapa aku jadi begini???
Quote:
ZAHRA (17 thn)
Aku tahu berbohong pada ortu itu tidak baik. Tapi kalau ga bohong aku tidak akan diizinkan pergi ke berdua saja dengan Pras, sahabatku. Sudahlah. Aku ingin bersenang-senang. Aku stress setelah Freddie berselingkuh dengan temanku sendiri. Padahal aku sudah pernah memberinya first kiss ku tapi dia malah meminta lebih! Dasar laki-laki, dikasih hati minta jantung... Lalu dengan mudahnya berpaling pada yang lain!
Pras pendengar yang baik. Dia membiarkan aku nyerocos sementara dia diam. Entah melamun atau mengantuk. Bodo amat yg penting dia mau mendengarkan.
Hari ini kami pergi berdua naik motor ke arah perbukitan di luar kota. Tempatnya jauh. Namun pemandangannya sangat indah.
"Kok jadi mendung gini ya Ra?"
"Iya nih... Gapapa deh... Ayo terus..."
"Lu yakin nanti hujan loh"
"Gapapa..."
Pras memarkirkan motornya di tepi jalan setelah kami tiba di puncak bukit. Aku melangkah menuju sisi bukit. Di bawah terhampar pepohonan dan semak belukar. Hijau sejauh mata memandang. Namun di kejauhan kulihat awan gelap yang semakin mendekat. perpaduan warna alami yang sungguh menakjubkan.
"Aaarrghhhh...!!Freddie....!!! Aku benci kamuuuu...!"Aku berteriak sekeras-kerasnya. Pras menepuk pundakku dan meremasnya. Lalu tangannya turun mencari dan menggenggam jemariku.
"Gue boleh ikut berteriak?"
"Boleh. Lo ada unek-unek apa?"
Pras menghela nafas dalam-dalam.
"Zahraaa.....!!! Aku sayang sama kamuu....!!!"
Aku tertegun. Aku berusaha melepaskan tanganku tapi Pras malah menggenggamnya lebih erat.
"Pras...."
"Ssssttt...." Pras menempelkan telunjuknya di bibirku.
"Selama ini aku selalu mendengarkan kamu bicara. Sekarang dengarkan aku yang bicara...."
Pras merengkuh wajahku dalam kedua tangannya.
"Zahra Amalia Putri, aku sayang sama kamu,aku cinta sama kamu...."
"Aku...."
Aku menatap Pras bingung. Pras menatap mataku dalam-dalam hingga aku merasa jengah... Jemarinya menyentuh daguku dan mengangkat wajahku mendekati wajahnya. Entah kenapa tiba-tiba jantungku berdegup kencang. Ada sesuatu yang lain yang kulihat dari sosok Pras. Anak kecil buluk teman bermain bolaku waktu kecil itu kini telah tumbuh menjadi pemuda tanggung yang gagah dan tegap. Sesuatu yang baru kusadari sekarang.
Aku tersengat ketika kurasakan Pras menciumku. Lidahnya membelai bibirku lembut, dan aku tekejut menyadari aku menyukainya... Dan menikmatinya. Ciumannya sangat berbeda dengan ciuman Freddie yang tergesa-gesa, bernafsu,dan brutal. Pras sangat lembut tapi juga kuat dan dominan...
Tiba-tiba hujan turun dengan deras. Kami saling menjauh dan salah tingkah.
"Ayo Ra..." Pras menarik tanganku menuju motor yang diparkirnya di pinggir jalan. Namun beberapa puluh meter kemudian angin menjadi sangat kencang dan tak mungkin kami melanjutkan perjalanan.
"Ra, kita berhenti di gubuk itu dulu ya!!" Pras berteriak kepadaku.
"Iyaa...!!" Aku balas teriakannya.
***
"Ra... Dingin banget..." Pras mendekatkan tubuhnya padaku dan meletakkan dagunya di bahuku.
"Apa sih...." Aku berusaha menghindar karena sentuhan Pras yang seperti itu membuatku merasakan sesuatu yang aneh yang tak pernah kurasakan sebelumnya. Tapi Pras tak bergeming dan bertahan di posisi itu. Kami sama-sama terdiam dan melihat hujan dan angin yg semakin deras di luar gubuk....
"Tutup saja pintunya Ra..."
Pras menjauh dariku dan duduk pada dipan kayu yang cukup lebar, satu-satunya benda yang ada di gubuk kecil itu. Ada sedikit kekecewaan menyeruak ketika ia menjauh... Hangat tubuhnya ternyata membuatku merasa nyaman.
Pintu kayu itu sedikit berderit ketika aku menutupnya. Aku bahkan menguncinya. Pras tersenyum dan menepuk-nepuk dipan di sebelahnya.
"Sini Ra..." Ajaknya lembut.
Aku mendekat dan duduk di sebelahnya. Pras menggengam tanganku meremasnya. Aku membalasnya. Lalu ia menarik tubuhku dan menciumku lagi. Dan kali ini aku membalasnya tanpa ragu. Aku merasakan tangannya turun dan Pras menatapku dalam-dalam...
"Boleh?" Aku ragu.
Sempat terlintas bayangan ortuku, nasihat-nasihat mereka tentang menjaga kehormatan seorang perempuan, dosa yang mengancam dan semua ceramah yang pernah kudengar... Namun semua bayangan itu seolah sirna ketika aku rasakan sentuhan lembut Pras di bagian sensitifku. Hanya menyentuh. Dia menatapku lagi, meminta persetujuanku. Aku tahu dia tidak akan memaksa. Dia bukan Freddie. Pras benar-benar menyayangi dan menghormatiku....
Entah setan darimana yang merasukiku, aku mengangguk. Memberinya izin penuh....
***
Diubah oleh sadako88 05-02-2018 04:47
0
Kutip
Balas
