Kaskus

Story

juraganpengkiAvatar border
TS
juraganpengki
GW BERTEMAN DENGAN KOLONG WEWE (CHAPTER 3 / FINAL CHAPTER)
GW BERTEMAN DENGAN KOLONG WEWE (CHAPTER 3 / FINAL CHAPTER)

GW BERTEMAN DENGAN KOLONG WEWE (CHAPTER 3 / FINAL CHAPTER)
Cool Cover By Agan Linbara (Thanks, Bree)..

Prolog

Setelah bangun dari ‘Mati Suri’ karena memutuskan untuk mencoba membunuh diri sendiri untuk melindungi Kitab Langit dan melenyapkan Bayu Ambar, gw kembali ke dunia nyata.. Kehidupan gw sedikit jauh berbeda, karena pengalaman ‘Mati Suri’ itu berefek langsung pada kelebihan yang gw miliki.. Gw masih sama Anggie, meski ujian atas cinta kami masih saja mendera.. Ada musuh baru, tentu saja.. Tapi ada juga sahabat baru yang muncul.. Karena ini akhir dari cerita kami berempat..

Kembalinya Anak Ibu...
Pengorbanan Pedang Jagat Samudera...
Cintai Aku Sewajarnya, Yank...
Matinya Seorang Saudara (Versi Gw/Bimo)
Berkumpul Kembali...
Keanehan Yang Mulai Muncul...
Sambutan Ketiga Saudara Ke Reinata...
Sabar???
Cukup! Tinggalin Aku Sendiri!!!
Siapa Kau???
Aku Ikutin Kemauan Kamu...
Keputusan Sepihak Yang Pahit...
Semua Beban Menjadi satu
Semua Beban Menjadi Satu (2)...
Serangkum Rindu Untuk Ayah...
Munculnya Penguasa Laut Utara...
Bertemunya Dua Penguasa...
Sebuah Kesepakatan...
Ibu Kenapa Yah???
Lu Kenapa, Ka???
Wanted Dead Or Alive.. ANTON!!!
Mo 'Perabotan' Lu Hancur Apa Tanggung Jawab???
It's The End Of Us...
Di Kerjain Ibu...
Ridho!!!
Kelewatan!!!
Munculnya Dua Penjaga Gerbang Kerajaan Laut...
Dewi Arum Kesuma VS Dewi Ayu Anjani
Datangnya Sosok Seorang Pemisah Dan Shock Therapy Buat Gw...
Kerajaan Jin...
Terkuaknya Semua Jawaban...
Maafin Gw, Bree...
Pengakuan Suluh...
Akhirnya Boleh Gondrong...
Pernikahan Kak Silvi Yang Seharusnya Membuat Gw Bahagia...
Pernikahan Kak Silvi Yang seharusnya Membuat Gw Bahagia (2)...
Tunggu Pembalasan Gw!!!...
Ni Mas Linduri dan Banas Ireng...
Dua Sosok Penyelamat Misterius...
Ada Apa Sama Ridho?...
Kesalahan Fatal...
Kembalinya Jin Penjaga Ridho dan Suluh...
Akibat Terlalu Ikut Campur...
Setiap Perbuatan Akan Mendapat Balasan...
Munculnya Viny Dan Sebuah Tantangan Bertarung...
Manusia Cabul...
Suara Penolong Misterius...
Bertemunya Kembali Sepasang Kekasih...
Terkuaknya Kebenaran...
Kabar Baik Ayu Dan Prasangka Sekar...
Kabar Baik Ayu Dan Prasangka Sekar (2)...
Jaket Dan Celana Jeans Robek Serta Sweater Hitam Kumal...
She's My True Love...
Dilema...
Pertengkaran Dengan Ibu...
Rambe Lantak...
Gendewa Panah Pramesti...
Akan Ku Balaskan Dendam Mu, Arum Kesuma!!!
Yang Hilang dan Yang Kembali...
Jawaban Ayu...
Mati Gw!!!
Aku Makin Sayang...
Nasihat Om Hendra...
Jera Mencuri...
Ajian Segoro Geni...
Pilihan Sulit...
Keputusasaan Anggie...
Kabar Baik dari Ridho dan Suluh...
Perjalanan Menuju Pembalasan Dendam...
Rawa Rontek...
Rawa Rontek 2 (Terbayarnya Dendam)...
Kedatangan Pak Sugi...
Orang Titipan...
Hukuman Paling Berat...
Tidurlah Di Pangkuan Ku...
Menjajal Kesaktian...
Menjajal Kesaktian (2)...
Pengakuan Mengejutkan Babeh Misar...
Pengajaran Ilmu Silat Betawi...
Di Kepret Babeh Misar Lagi...
Tasya...
Naga Caglak dan Bajing Item...
Misteri Sebuah Dendam...
Kekuatan Sejati Kitab Langit Bagian Matahari...
Perpisahan...
Tanah, Air, Api dan Setetes Darah dari Jantung Seorang Putera...
Tanah, Air, Api dan Setetes Darah dari Jantung Seorang Putera (2)...
Kembalinya Ibu...
Empat Bayangan Hitam...
Siapa Ni Mas Laras Rangkuti???
Dendam Seorang Sahabat...
Ini Keputusan Yang Harus Gw Ambil...
Semua Pengorbanan Ini Demi Ibu...
Rapuh...
Kabar Mengejutkan Sekar dan Sebuah Restu...
Siasat Braja Krama...
Munculnya Kitab Langit...
Si Pembuka Kitab langit dan Sosok Asli Pak Sugi...
Rencana Yang Matang...
Lamaran Pribadi...
Keingintahuan Anggie...
Perubahan Rencana...
Hampir Terjebak...
Kekecewaan Sekar...
Dua Syarat Reinata...
Aku Harap Kamu dan Anggie Bahagia, Mam...
Rahasia Sepasang Suami Isteri...
Menitipkan Amanah...
Berkumpulnya Para Pembela Kitab Langit...
Siasat Ki Purwagalih...
Raja Jin Raja Muslihat (Nyesek, Bree)...
Pertukaran Tawanan...
Perang Gaib PunTak Terelakkan...
Sang Penyelamat Dari Utara...
Pertempuran Awal Dua Penguasa Kerajaan Gaib...
Bertekuk Lututnya Sekutu Braja Krama...
Pertarungan Dua Putera (Gugurnya Satu Sahabat Gaib)...
Krama Raja...
Braja Krama Versus Krama Raja...
Raja Licik...
Aku Lah Sang Pembuka...
Siasat Krama Raja dan Bayu Ambar...
Terbukanya Semua Ilmu Terlarang...
Sebuah Pengecualian...
Sri Baduga Maharaja...
Hilangnya Sebuah Pengecualian...
Hilangnya Sebuah Pengecualian (2)...
Sebuah Pengorbanan...
Pahlawan...
Sumpah...
Ilmu Pamungkas yang Terlarang...
Kabar Yang Mengejutkan...
Pulang...
Pulang (2)...
Sedikit Kisah Rio Sebelum Kisah Ini Tamat...
Terhalang Sumpah...
Bantuan Sahabat Baik...
Bachelor Party...
Keturunan Lain Sang Prabu...
Pembalasan Dendam Singgih...
Sepenggal Kisah Nyi Mas Roro Suwastri...
Tawaran Yang Mengejutkan...
Lawan Atau Kawan???
Terkuaknya Silsilah...
Sebuah Kebenaran...
Sebuah Kebenaran (2)...
Bertemunya Dua Keturunan Sang Prabu...
Pertempuran Dua Hati...
Cinta Pertama VS Cinta Terakhir Jagat Tirta...
Pengakuan Bayu Barata...
Ki Larang dan Nyi Mas Galuh Pandita???
Prana Kusuma...
Kau Benar Keturunan Kami, Ngger...
Our Big Day...
Insiden...
Munculnya Para Tamu Tak Terduga...
Munculnya Para Tamu Tak Terduga (2)...
Dua Tamu Istimewa...
Semua Karena Cinta...
Keputusan Sekar Kencana...
Kena Gampar...
Bonyok!!!
RIBET!!!
Berdamai...
Keponakan Baru...
Malam Pertama dan Tiga Keanehan...
Ajian Warisan Para Leluhur (The Last Part/End Of All Chapters)

SIDE STORIES

Keturunan Yang Tersesat...
Keturunan Yang Tersesat (2)...

Diubah oleh juraganpengki 15-07-2018 20:23
uang500ratusAvatar border
devanpancaAvatar border
iskrimAvatar border
iskrim dan 132 lainnya memberi reputasi
127
2.1M
8K
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.7KThread52.2KAnggota
Tampilkan semua post
juraganpengkiAvatar border
TS
juraganpengki
#2143
She’s My True Love..

Kembali kami terdiam saat sebelumnya saling melirik satu sama lain, namun segera melempar pandangan kami lagi ke arah berbeda.. Hembusan angin sepoy-sepoy, membuat daun dipohon rindang yang ada dibelakang, terdengar saling bergesekan.. Suara beberapa pedagang jauh lebih lantang dibanding suara hati gw, yang terus berteriak mengingat kan diri sendiri untuk kembali fokus ke niat awal.. Entah kenapa perasaan gw jadi aneh begini.. Gw bingung sendiri mau mulai obrolan lagi dari mana?

Sesekali gw berdehem untuk membuat suasana yang terasa kaku agar sedikit mencair.. Namun, orang paling bodoh pun tahu jika hanya berdehem tanpa mengucap kata-kata, tidak akan mencairkan apapun.. Perlahan, gw menarik nafas dalam-dalam lalu mengeluarkannya perlahan.. Boleh percaya boleh tidak, gw sampai mengucap Basmallah dalam hati, sebelum memutuskan untuk membuka kalimat..

“Kepala kamu gimana, YankGie?” Tanya gw yang hampir saja keceplosan lagi, memanggil Anggie dengan panggilan kesayangan, seperti dahulu..

Gw mengepalkan telapak tangan kiri sambil memaki kebodohan diri sendiri yang hampir terjadi untuk kedua kali.. Kata Yank dan Gie yang gw lisankan barusan, sudah menandakan bahwa otak dan hati gw sempat tidak sinkron.. Gw harap, Anggie tidak membahas dua kata yang tanpa sengaja gw gabungkan tadi, meski telinga gw yang mendengar juga terasa janggal sekali..

“Alhamdulillah, ga ada masalah apa-apa.. Makasih yah udah nolongin aku waktu itu” Jawab Anggie yang membuat gw seketika bersyukur, bukan saja karena kepalanya tidak apa-apa, tapi jauh lebih bersyukur karena gadis itu tidak membahas apa yang sempat gw khawatirkan..

“Iya, santai aja, Gie.. Sebagai manusia, kita kan wajib saling tolong menolong” Jawab gw sambil mengerutkan dahi, saat menyadari kalimat yang barusan gw lisankan, kembali terdengar janggal..

“Lu ngomong apa sih, Mam? Omongan lu kek lagi ngisi soal PKn.. Segala tolong menolong di bawa-bawa.. Lu perlu rokok tuh, buruan bakar” Kata hati kecil gw, kembali menyalahkan lisan, lalu mengeluarkan sebungkus rokok dari dalam saku celana jeans belel..

Beberapa saat, gw yang masih duduk membelakangi Anggie, berusaha menyalakan korek gas, untuk membakar ujung sebatang rokok yang sudah terselip di bibir.. Awalnya, api susah sekali menyala karena terkena hembusan angin di danau.. Baru setelah gw menutupi atas korek dengan telapak tangan kanan, ujung rokok di mulut gw bisa terbakar.. Satu kepulan asap putih, gw keluarkan perlahan dari mulut dan langsung tersebar ke belakang..

“Mam.. Boleh aku minta kamu buat ga ngerokok? Kamu kan udah janji ga bakal ngerokok lagi di depan aku” Ucap Anggie dengan suara lirih dan membuat kedua mata gw membesar..

Sejenak, benak gw terbayang ke masa lalu, saat gadis itu meminta gw untuk berjanji mengurangi rokok dan tidak akan menghisap benda tersebut apabila sedang berada didekatnya.. Entah kenapa, saat mendengar kata JANJI dilisan kan oleh Anggie, benak gw juga teringat akan apa yang sudah dijanjikan gadis itu di masa silam, untuk perjuangkan cinta kami bersama.. Sebuah senyuman dingin tersungging dari mulut gw, disusul satu hisapan lagi yang gw tarik dari pangkal rokok..

“Ga usah ngomongin janji, Gie.. Lu bakal kaget kalo gw sebutin janji yang pernah gw denger dari mulut lu” Ucap gw yang tak lagi menggunakan bahasa Aku/Kamu, sambil menatap nanar ke tengah danau..

Telinga gw sama sekali tidak mendengar jawaban apapun yang diberikan gadis itu untuk beberapa saat.. Keheningan diantara kami, terusik oleh suara teriakan beberapa anak kecil yang sedang bermain di sekitar danau.. Tapi, jauh lebih enak mendengar suara mereka bagi gw, daripada harus merasakan keheningan bercampur rasa getir di dalam hati..

“Aku minta maaf ga bisa penuhin janji ke kamu” Kata Anggie yang membuat gw kembali tersenyum dingin, lalu menghisap lagi rokok yang terselip di dua jari tangan kiri..

Gw menekuk kedua kaki dan melingkarkan dua lengan memeluk lutut, sambil terus menatap ke air danau yang nampak bergelombang kecil disapu angin..

“It’s okay! Gw ga pernah anggap serius janji-janji konyol orang lain” Jawab gw dengan kebohongan..

“No! It’s not okay! Kamu harusnya marah ke aku, yang gampang banget cemburu liat kamu dipeluk cewe lain, di hari Anniversary kita, Beb.. Kamu harusnya marah ke aku, yang udah sempet-sempetin bikin kue setelah belajar mati-matian sama Mamah, tapi malah aku kasih ke Ibu.. Kamu juga harusnya marahin aku, yang udah percaya omongan Suluh soal penyebab mati surinya kamu” Kata Anggie dengan suara sedikit tinggi, membuat gw seketika tercengang saat mendengar gadis itu sudah terisak..

Perasaan gw bercampur aduk mendengar Anggie yang masih terisak dibelakang.. Kalimatnya barusan, terasa menusuk tepat di relung hati.. Ingin sekali gw memeluknya dan mengatakan bahwa dada ini masih menerima segala keluh kesah dan isak tangisnya..

Tapi, gw hanya terdiam sambil menggenggam rokok yang masih menyala di tangan kiri.. Kedua mata gw terpejam menahan pedihnya panas bara diujung rokok, yang tergenggam.. Berharap sakitnya bisa menahan gw untuk tidak memeluk Anggie.. Namun, saat menyadari ada dua tetes airmata yang mengalir dari kedua belah indera penglihatan, saat itu juga gw sadar bahwa gw ga bisa melihat Anggie menangis..

Dengan cepat, gw menggeser posisi duduk ke belakang dan memeluk Anggie yang telah menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan.. Untuk beberapa saat, gadis itu menumpahkan tangisannya dalam pelukan gw.. Seiring munculnya rasa bersalah di batin ini, setelah mendengar ucapan Anggie.. Tiap kalimatnya tadi, seakan menjelaskan apa saja yang ia lewati selama ini, sekaligus menjawab segala pertanyaan gw..

‘Kamu jahat banget ke aku.. I really hate you so much” Ucap Anggie yang masih terisak sambil memukul pelan dada gw beberapa kali..

Yaa Rabb, gadis yang saat ini sedang menangis dalam pelukan hamba, ternyata sudah terluka akibat perbuatan hamba sendiri..

Perasaan gw yang semakin merasa bersalah, kembali membuat dua airmata gw jatuh di atas rambutnya.. Semakin erat gw memeluk Anggie dengan sebelah tangan kanan sedikit terangkat, dan mencium rambutnya yang basah oleh airmata gw sendiri.. Gw sama sekali tidak memperdulikan tatapan orang lain, yang saat ini mungkin memandang aneh ke arah kami..

“I’m so sorry, Yank.. Maafin aku” Ucap gw lirih di atas telinga gadis itu..

Untuk beberapa lama, kami terhanyut dalam tangisan masing-masing.. Hingga akhirnya Anggie meminta gw untuk melepaskan pelukan, saat dirinya sudah bisa menguasai emosi.. Beberapa helai tissue di keluarkan gadis itu untuk menyeka airmatanya.. Sebagian digunakan dengan telaten, untuk menyeka sisa airmata di kedua mata gw..

“Kita coba bicara dari hati ke hati yah, Yank.. Kamu boleh koq ngomong apa aja yang kamu ga suka.. Aku juga bakal ngomong sama.. Aku capek kita ribut terus.. Hubungan aku dari awal ga pernah main-main ke kamu.. Kita open minded aja yah” Ucap gw Anggie dengan penuh ketulusan dan di balas anggukan kepala gadis itu..

“Kamu kenapa ga kasih aku kesempatan buat jelasin semua, Yank?” Tanya gw, seraya menarik dan langsung menggenggam telapak tangan gadis itu dengan tangan kiri..

Anggie terdiam sambil menatap wajah gw lekat-lekat, lalu menundukkan wajahnya perlahan..

“Kamu ga tau gimana hancur nya aku waktu itu, Beb.. Satu sisi, aku lagi bahagia banget pas tau kamu bangun dari Mati Suri, dua hari sebelum Anniversary kita.. Buat ngerayain Anniv, aku bela-bela in belajar bikin kue sama Mamah.. Tapi pas aku datang bawa kue bikinan aku sendiri, aku shock liat kamu lagi dipeluk cewe lain..” Ucapan Anggie terhenti seiring dua airmata kembali menetes dan jatuh di atas lengan jaket jeansnya..

Gw mengangkat wajah gadis itu dengan lembut, lalu menyeka jejak airmata di pipinya.. Anggie tersenyum manis, kemudian menarik nafas dalam-dalam dan mengeluarkannya perlahan.. Dalam hati, gw ga bisa membayangkan apa yang terjadi pada Anggie dialami oleh gw..

“Tapi, yang paling bikin aku kecewa banget sama kamu.. Pas Suluh datang dan ga sengaja dia ceritain sebab kamu Mati Suri bukan karena tersenggol motor.. Saat itu, aku ngerasa di tipu mentah-mentah sama kamu, dan akhirnya aku mutusin buat mengakhiri hubungan kita, meski tanpa kata putus” Kata Anggie lagi yang membuat gw sedikit merasa tidak enak hati..

“Aku minta maaf soal itu, Yank.. Tapi, kamu tahu sendiri kehidupan aku kek gimana.. Bukan aku yang pilih untuk punya kelebihan, Yank”

“Iya, aku tahu! Kita juga pernah bahas soal ini dulu.. Tapi kalo sampe menjurus ke arah kematian gimana, Beb? Mo sampe kapan kamu bergelut sama hal-hal diluar nalar kek gitu?.. Dulu kamu koma, belom lama Mati Suri.. Aku ga mau hal yang lebih jauh dari itu terjadi.. I can’t handle that” Kata Anggie dengan nada suara sedikit naik..

Gw kembali tertegun mendengar apa yang sudah dilisankan oleh Anggie.. Sebenarnya, gw sempat terpancing emosi mendengar kalimat gadis itu.. Tapi, yang ia ucapkan memang benar.. Lagi pula, gw yang mengajak dia untuk ngomong dari hati ke hati awalnya..

“Aku bangga kamu punya kelebihan yang ga dimiliki banyak orang.. Tapi, Beb, we are living in a real life.. Kita hidup di dunia nyata.. Aku ga mau waktu kamu banyak tersita buat urusan gaib.. Aku mau kamu fokus menata masa depan” Kata Anggie lagi yang membuat gw menatap wajah cantiknya dalam-dalam..

“Kalo kamu sayang sama aku.. Kalo kamu mau wujudkan janji kamu ke aku, kurangi segala macam hal yang berbau gaib.. Aku ga minta kamu untuk menjauh seketika dari dunia itu, tapi setidaknya kamu pikirin aku juga.. That’s all I want from you” Ucap Anggie sambil memegangi kedua pipi gw..

Gw sendiri terdiam memikirkan kalimat demi kalimat yang barusan dilisankan oleh gadis itu.. Semua permintaannya sangat masuk akal, dan tidak neko-neko sama sekali.. Sebuah senyuman manis tersungging di wajah gw, lalu dengan tangan kiri, gw pegang telapak tangan kiri Anggie yang masih ada dipipi gw, kemudian menciumnya..

“Oke!. Mulai saat ini, aku janji bakal sedikit membatasi diri untuk urusan gaib.. Bener yang kamu bilang tadi, aku ga bisa menjauh sekaligus dari dunia itu.. Tapi, aku bakal berusaha jaga diri semampu aku, buat kamu.. Gimana, deal?” Tanya gw setelah menjelaskan pandangan gw sendiri, sambil mengacungkan jari kelingking..

Awalnya, Anggie terlihat agak enggan menuruti permintaan gw.. Terlihat sekali dari wajahnya yang sempat cemberut.. Tapi, akhirnya ia menganggukan kepala, setelah menarik nafas dalam-dalam.. Lalu, mengaitkan jari kelingkingnya ke kelingking kiri gw..

“Jadi, kita balikan nih, Yank?” Tanya gw setengah bercanda, sambil menaikkan kedua mata beberapa kali..

“Emangnya kita putus yah? Kamu kan yang bikin masalah”

“Iya, tapi kamu yang gantungin aku” Sambar gw seraya memencet hidung bangir gadis itu..

Anggie tertawa lepas, dan membuat gw tertegun menatapnya.. God! Rasanya bahagia banget bisa melihat gadis yang gw cintai, bisa tertawa lepas seperti ini.. Menyadari dirinya sedang menjadi bahan tatapan gw, Anggie langsung berniat membalas untuk memencet hidung gw dengan tangannya.. Tapi, dengan cepat gw menghindar dan tertawa melihat gadis itu cemberut karena gagal melakukan aksi balas dendam..

Tiba-tiba, Anggie mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya dan menyodorkan sebuah benda ke depan gw.. Kedua mata gw membesar begitu melihat cincin emas ada di ujung ibu jari dan jari telunjuk gadis itu.. Sesaat, gw menatap wajah Anggie yang tersenyum manis..

“Aku sempat copotin cincin pemberian kamu dan hampir membuangnya saat aku lagi down.. Tapi, aku sadar bahwa aku cuma mau kamu jadi orang pertama sekaligus terakhir, yang menyematkan cincin di jari manis aku” Ucap Anggie disertai senyumannya yang masih terhias diwajah..

Perlahan, gw mengambil cincin di tangan gadis itu.. Cincin yang gw beli dari sisa gaji, saat masih bekerja sebagai tenaga honorer.. Cincin yang malah gw berikan untuk meminang Anggie, saat masih tinggal di apartemennya, setelah resepsi pertunangan kami berantakan..

Dengan hati-hati, gw berniat memasukkan cincin emas 24 karat itu ke jari manisnya menggunakan tangan kiri.. Mendadak, gw teringat sosok Darren, yang sekaligus membuat gw menghentikan niat untuk menyematkan cincin.. Lalu, menatap wajah Anggie dengan penuh tanda tanya..

“Siapa Darren?” Tanya gw yang membuat Anggie nampak terkejut untuk sesaat, kemudian malah tertawa kecil..

“Kenapa nanyain Darren? Kamu cemburu yah, Beb? Huh! Baru lihat cowo laen cium kening aku aja udah jealous.. Coba jadi aku, udah berapa kali lihat kamu dipeluk cewe.. Sampe pernah ciuman sama cewe lain di depan aku.. Kamu tuh harusnya bersyukur punya cewe tangguh kek aku, Beb”

Gw menarik nafas dalam-dalam mendengar jawaban Anggie yang terasa sedikit menyentil rasa ego.. Tanpa memberikan jawaban apapun ke gadis itu, gw membalikkan tubuh dan hendak memasukkan cincin ke dalam saku celana.. Tapi, dengan cepat Anggie menarik wajah gw dan menatap penuh arti..

“Maaf yah, Beb.. Aku keceplosan.. Kan kamu sendiri yang bilang, kalo aku bebas ngomongin yang aku ga suka.. Jangan ngambek yah, My Prince Charming.. Btw, Darren itu kakak tiri aku, Beb” Ucap Anggie yang membuat gw cukup tercengang..

Perlahan, gadis itu mulai menceritakan bahwa Mamahnya Anggie hampir memaafkan Papahnya atas perbuatan laki-laki itu, yang sudah sengaja merusak pertunangan kami.. Mereka memutuskan untuk kembali bersama.. Tapi, masalah lain muncul saat seorang pemuda bernama Darren, datang menemui Mamahnya Anggie dan mengaku sebagai putera Papahnya..

Tentu saja keluarga Anggie tidak langsung percaya.. Dan Papahnya terus mengelak dan menolak mengakui Darren, meski pemuda itu membawa bukti selembar Photo usang yang menampilkan sosok seorang wanita cantik sedang menggendong anak laki-laki, bersama Papahnya Anggie.. Akhirnya, dilakukan lah test DNA dan hasilnya membenarkan bahwa Darren adalah putera kandung Papahnya Anggie..

“Awalnya, aku juga ga suka sama Darren, Beb.. Tapi, jujur Darren yang selalu nemenin aku pas lagi down gara-gara kamu.. Perhatiannya sebagai seorang kakak, bikin aku tenang.. Aku sengaja minta dia pura-pura jadi cowok aku yang baru di acaranya Silvi.. Karena waktu itu, aku bener-bener ga mau kamu sampe deketin aku lagi” Kata Anggie yang sesekali wajahnya tertunduk..

“Tapi, pas denger kamu nyanyi lagu yang bikin aku berasa pedih.. Aku ga kuat dan cuma bisa lari sambil nangis.. Terus, pas aku lagi nangis, tiba-tiba ada mahluk gede tinggi dan item banget ngeliatin aku.. Iiih, amit-amit, Beb.. Aku ga mo ingetin itu lagi”

Gw tersenyum mendengar kelanjutan penjelasan Anggie, sekaligus teringat akan sosok Banas Ireng yang berhasil gw lenyapkan dengan tangan gw sendiri..

“Satu lagi, Beb.. Darren itu baru dua bulan yang lalu nikah.. Yang kamu lihat tadi itu isterinya, Kak Amelia” Ucap Anggie dan mengakhiri penjelasannya dengan seulas senyuman manis..

Mendengar penuturan gadis itu, gw hanya menggut-manggut saja, berusaha mencermati tiap kalimat yang dituturkannya.. Karena merasa misteri Darren yang sempat membuat gw mengepalkan kedua tangan, ketika melihat ia mengecup kening Anggie di Rumah Sakit telah terjawab, gw kembali meneruskan niat untuk menyematkan cincin kembali di ujung jari manis gadis itu..

Tapi, baru saja cincin tersebut masuk sedikit diujung jari manisnya, Anggie menarik tangan dan langsung menyilangkan kedua nya di dada..

“Cewe yang nemenin kamu jadi Pagar Bagus di nikahan Silvi, siapa???” Tanya Anggie sambil memasang muka angker..

GLEK..

Gw menelan ludah mendengarnya menanyakan sosok Ayu.. Shit! Gw juga baru ingat kalo gw udah nembak gadis itu tanpa sengaja.. Aduh! Gimana nih? Kalo gw jujur, pasti Anggie bakalan marah lagi, dan gw ga mau itu kembali terjadi..

“Ayu itu cuma temen Tk aku, Yank.. Tapi..” Ucapan gw sempat terhenti untuk sesaat..

Sebuah tarikan nafas dalam-dalam gw ambil, lalu satu kalimat di susul kalimat yang lain mulai terlisan kan dari mulut gw, yang menjelaskan siapa sosok Ayu sebenarnya.. Padahal, gw bisa saja berbohong ke Anggie soal Ayu.. Namun, lagi-lagi hati kecil gw menolak untuk memulai hubungan kami yang baru saja kembali indah, dengan didasari kebohongan.. Tentang bagaimana reaksi Anggie nanti, biarlah itu jadi tantangan tersendiri buat gw..


jenggalasunyi
sampeuk
dodolgarut134
dodolgarut134 dan 14 lainnya memberi reputasi
15
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.