- Beranda
- Stories from the Heart
Aku, Dia, Dan Mereka (Horor , pengorbanan, Petualangan) INSPIRED BY TRUE STORY
...
TS
lemsbox
Aku, Dia, Dan Mereka (Horor , pengorbanan, Petualangan) INSPIRED BY TRUE STORY
Selamat malam semua. Perkenalkan aku Resa. Aku akan menceritakan sebuah kisah sederhana dari pengalaman hidup yang aku alami. Tak semuanya nyata karena ini terinspirasi dari kisahku sendiri. Mohon hargai semua aturan yang sudah dibuat. Aku tak akan bertele-tele menjabarkan.
Spoiler for Siapa aku?:
Prolog
Beberapa tahun yang telah berlalu :
Aku hanya seorang biasa yang tak mempunyai kesaktian apapun. Aku bukan seperti mereka yang bisa melihat mahluk tak kasat mata dengan mudahnya. Aku hanya seorang biasa yang punya ketakutan biasa yang sama seperti orang biasanya. Aku takut gelap, aku takut tempat sepi (kecuali jika ingin mesum), aku takut gajiku dibayar terlambat, dan banyak ketakutan yang terlalu banyak. Aku bukan dukun atau indigo yang bisa memecahkan kasus gaib. Aku tak punya pasukan yang berwujud naga, peri, ular, monyet, babi, kadal, biawak, atau kecoa. Tapi aku pernah terpaut hati dengan wanita yang memiliki kemampuan seperti itu! Aku tak menyebut itu luar biasa karena aku terpaksa harus menjadi tak biasa lagi. Dengan mudahnya aku dapat melihat hal yang seharusnya tak terlihat! Bahkan bangkai-bangkai yang sudah terpendam di dalam tanah juga sering menyiksa pengelihatanku! Semua itu karena dia, dia yang terlanjur aku cintai, dia yang terlanjur membuatku ingin masuk ke dalam kehidupannya. Dia pernah membuat mataku tak hanya dua. Namun kini, setelah beberapa tahun dia menghilang. Aku tak sengaja membuka mataku yang lain lagi entah karena sebab apa. Dan dia kembali lagi ke pelukanku!!
Beberapa tahun yang telah berlalu :
Aku hanya seorang biasa yang tak mempunyai kesaktian apapun. Aku bukan seperti mereka yang bisa melihat mahluk tak kasat mata dengan mudahnya. Aku hanya seorang biasa yang punya ketakutan biasa yang sama seperti orang biasanya. Aku takut gelap, aku takut tempat sepi (kecuali jika ingin mesum), aku takut gajiku dibayar terlambat, dan banyak ketakutan yang terlalu banyak. Aku bukan dukun atau indigo yang bisa memecahkan kasus gaib. Aku tak punya pasukan yang berwujud naga, peri, ular, monyet, babi, kadal, biawak, atau kecoa. Tapi aku pernah terpaut hati dengan wanita yang memiliki kemampuan seperti itu! Aku tak menyebut itu luar biasa karena aku terpaksa harus menjadi tak biasa lagi. Dengan mudahnya aku dapat melihat hal yang seharusnya tak terlihat! Bahkan bangkai-bangkai yang sudah terpendam di dalam tanah juga sering menyiksa pengelihatanku! Semua itu karena dia, dia yang terlanjur aku cintai, dia yang terlanjur membuatku ingin masuk ke dalam kehidupannya. Dia pernah membuat mataku tak hanya dua. Namun kini, setelah beberapa tahun dia menghilang. Aku tak sengaja membuka mataku yang lain lagi entah karena sebab apa. Dan dia kembali lagi ke pelukanku!!
Spoiler for Daftar menu:
Diubah oleh lemsbox 11-02-2018 19:55
tabernacle69 memberi reputasi
-1
19.3K
Kutip
104
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.6KAnggota
Tampilkan semua post
TS
lemsbox
#35
Quote:
Bagian 3 : Banyak yang diluar nalarku
Sekitar pukul 5 sore akhirnya Ale dan yang lain pamit pulang. Aku memang merasakan keanehan sikap dan perilaku mereka. Tapi tak terlalu kupikirkan. Mungkin hanya karena perasaanku saja.
"Besok paling aku buka warnet lagi le. Gak enak sama bos kalau libur kelamaan." Jawabku sambil mengantar mereka keluar rumah.
Mereka ber-empat langsung melihatku serempak dengan tatapan yang kusebut "jangan!"
"Santai aja sa, warnet libur panjang kok. Kan pc nya lagi dibenerin sama mas Ari gara-gara ngadat semua." Kata Ale.
"Hah...?? Sejak kapan? Kok aku gak dikasih tau ama si bos?
"Eh itu....... oh iya pas semalem kamu balik kan komputernya rusak semua. Emang kamu lupa semalem kita ngapain aja? Nah ini nih yang bener, efek CIU nya belum ilang di otak kamu sa."
Terlihat Ale cukup lama berpikir untuk menjawab pertanyaanku tadi. Tapi sudahlah, aku tak mau menahan mereka terlalu lama lagi. Kepalaku juga sudah terasa cukup berat untuk mengingat semua. Mungkin benar kata Ale. Aku terlalu banyak minum CIU semalam. Walau aku yakin kalau tak kulihat minuman keras merk apapun.
Mereka pergi dan aku masuk lagi. Mumpung libur kerjaku entah berapa lama. Ku nikmati saja indahnya cuti dadakan ini. Mentari sebentar lagi terganti. Rembulan malu-malu datang mengganti. Mungkin lebih baik segera bersihkan diri. Agar pikiran dan raga ini jadi segar kembali. Ah puisi pencitraan yang tak penting. Aku segera menuju ke kamar mandi. Tapi dari tadi tak kujumpai adik dan budeku. Hanya ibuku seorang yang kutemui. Eh masih ada Andi walau cuma sekejap saja.
"Adek sama bude kemana bu? Kok gak keliatan?." Tanyaku pada ibu yang sedang merapikan meja ruang tamu.
"Oh mereka lagi ke tempat kakakmu. Kangen sama si Maya kali."
"Aku juga sama bu, lama gak liat si anak bawel itu." Jawabku.
"Besok juga kakakmu kesini sama Maya kok."
Senang rasanya dengar keponakanku yang bawel mau datang kerumah. Ah segera mandi saja mumpung belum adzan magrib. Byuurr.... byuur.... aku mulai membasahi tubuhku dengan gayung. Cukup 10 menit mandi. Kini aku langsung menuju kamarku diatas untuk mengambil baju. Memang hanya aku yang tidur di atas. Padahal ada 2 kamar kosong lainya. Kakakku sudah tak menempati kamar atas setelah menikah. Adikku tak berani kusuruh tidur di kamar kosong, katanya terlalu seram. Dia lebih memilih tidur di kamar bawah. Tap.. tap.. tap... aku berjalan menuju kamarku. Memang kuakui masih ada sedikit perasaan takut karena kejadian tadi. Tapi tak mungkin juga membiarkan kamarku kosong begitu saja. Cekleek... kubuka pintu kamarku yang tertutup, padahal tadi masih terbuka. Mungkin ibuku yang menutupnya. "Wah....... keren amat kamarku? Kenapa jadi bersih dan wangi gini?" Gumamku. Sampai bantal dan guling tertata di tempat yang semestinya. Tak ada pakaian kotor yang berceceran lagi. Padahal biasanya selalu ada pemandangan minimal kolor yang nyangkut diatas monitor pc. Menang banyak hari ini! Libur panjang dan kamarku rapi. Langsung kututup pintu dan kubuka lemari plastik. Kulihat baju tertata rapi plus sudah disetrika. Sungguh surga kecil yang indah.
Kini sudah rapi dengan pakaian lengkap. Aku mau menggunakan me time sejenak untuk berlagu dengan gitarku. Jreng.... syalalalala... kunyanyikan bait demi bait lagu kesukaanku. Walau pundakku masih pegal. Hal ini tak menyurutkan semangatku bernyanyi.
"Sssstttt...... diammm!!"
Seketika aku berhenti bernyanyi. Apa aku tak salah dengar? Siapa yang menyuruhku diam? Tak ada siapapun diatas kecuali aku. Andai itu keluargaku, mustahi aku tak menyadari suara langkah mereka di lantai atas. Dan seumur hidup mereka tak pernah menyuruhku diam saat sedang bermain gitar!
"Sini... sini....."
Kutajamkan lagi pendengaranku, aku mendengar lagi suara misterius itu. Aku tak bisa tinggal diam. Aku segera membuka pintu untuk mencari sumber suaranya. Tak ada siapapun di luar kamarku. Aneh, sudah jelas aku mendengar suara itu.
"Kamu sudah besar yah sa?"
Weitss... aku dengar lagi suara itu!! Dimana sumber suara itu?? Aku celingak celinguk menatap segala sisi di ruanganku hingga ke atap. Ya mungkin saja siluman kampret sedang ingin menjahiliku.
"Kamu mau kemana sa? Temenin aku aja sini!"
Langsung saja tengkukku terasa berat. Bulu romaku berdiri serempak menandakan aku sedang merinding. Pundakku kian terasa berat saat itu. Aku sudah bisa memastikan bahwa sumber suaranya dari belakang alias kamarku! Kupejamkan mataku dan perlahan aku membalikan badanku menghadap kamarku.
"Kamu ngapain merem?? Kamu nggak perlu takut sama aku. Aku Andi temenmu yang dulu. Aku pengen mainan lagi sama kamu kayak dulu."
Jantungku bekerja lebih cepat dari biasanya. Aku masih belum berani membuka mataku. Aku tau dia ini pasti mahluk negeri sebrang!
"Buka matamu sa, aku janji nggak bakal nakutin kamu. Kalau kamu ketakutan, aku akan pergi kok."
Wah dia termasuk demit yang cukup banyak memberiku pilihan. Tapi mau alasan apapun, dia pasti tetap menyeramkan! Lebih baik ku kadalin saja dia. Siapa tau dia tepati janjinya. Kubuka mataku barang nol koma sekian detik, lalu aku bakal histeris ketakutan dan cling dia menghilang, rencana yang cukup nekat tapi kalau tidak kulakukan kamarku nanti akan dijajah dia! Jangan harap itu terjadi siluman landak! Byarr... kubuka mataku perlahan seperti di sinetron dan.... hahh, apa aku tak salah lihat??
Itu... itu Andi...!! Aku masih ingat wajahnya, senyumnya, dan bajunya.... astaga, itu baju Power Ranger yang dia pakai saat kecelakaan!
Aku benar-benar tidak takut melihat sosok teman kecilku yang seharusnya sudah di alam lain. Dia duduk bersila sambil menatapku layaknya tatapan anak kecil yang imut. Tangannya melambai mengajakku untuk mendekat padanya. Tak ada yang menyeramkan sama sekali. Seperti saat dia masih bermain denganku. Ada rindu menyeruak di hatiku saat itu. Namun aku sadar, kami sudah berada di dunia yang berbeda.
"Kamu nggak perlu takut sama aku. Aku temenmu, aku kesini buat penuhin keinginanmu dulu. Kamu masih inget kan??" Tanyanya polos
Aku masih tak berani menjawab apapun ucapannya. Aku hanya mencoba mendekat perlahan. Sungguh perlahan seperti maling yang sedang mengendap-endap. Ini butuh nyali extra ketimbang harus berhadapan dengan Presiden.
"Ayo duduk disampingku, kenapa kamu masih takut. Aku tak akan menakutimu, percayalah."
"Enggak!! Kamu bukan manusia, kamu itu sudah mati!! Kamu pasti akan membuatku celaka!!" Mungkin aku tak mau berlama-lama membiarkan dia menggangguku, jadi ku kumpulkan keberanianku untuk mengusirnya.
"Baiklah kalau itu maumu sa. Tapi aku akan terus mengawasimu. Aku akan menjagamu karna kamu temenku, hehe."
Dia berucap seperti itu lalu dengan mudahnya dia mengilang dari hadapanku saat mataku berkedip. Terjadi lagi merinding moment untuk sesaat.
Allohu akbar, allohu akbar.......... bersyukur terdengar kumandang adzan dari masjid yang jaraknya tak begitu jauh. Ketakutanku segera tergantikan oleh rasa nyaman. Mungkin ini juga teguran Tuhan agar aku segera menjalankan sholat. Sudah cukup lama juga aku berada di jalan yang berkelok. Bergegas menuruni anak tangga untuk berwudhu dan melaksanakan sholat ke masjid. Namun sebelum aku sempat melangkahkan kakiku keluar rumah.
"Kamu mau kemana nak?" Tanya ibuku yang terkesan terburu mengejarku.
"Ke masjid bu, aku pengen sholat nih." Jawabku sambil membuka pintu.
"Di rumah aja yuk mas. Tar mas Resa jadi imamnya." Tiba-tiba adikku menyusul dari belakang ibuku.
"Beneran mau jamaah ni? Yaudah deh ayok." Aku tak jadi meninggalkan rumah dan melakukan sholat dirumah bersama keluarga.
Selesai sholat, kusempatkan waktu sejenak untuk berkumpul dengan keluargaku. Memang sejujurnya aku banyak merasakan keanehan dari sikap keluargaku dan teman-temanku tadi. Aku merasa berbeda dan cukup risih. Namun setiap kucoba mengingat apa yang terjadi di malam kepulanganku. Seakan semua ingatan hilang begitu saja dan berlanjut dengan kepalaku seperti diremas.
"Aku naik dulu bu, kayaknya aku udah mulai ngantuk nih."
"Tidur bareng ibu aja nak, biar rame yah." Bujuk ibuku.
"Enggak lah bu, masa udah segede ini aku tidur sama ibu sih."
"Yaudah... yaudah... sana kamu tidur diatas. Jangan begadang yah nak."
Semakin dan semakin membuatku risih! Aku hanya mengangguk dan bergegas menuju kamar. Haaahhh.... aku sedikit menghela nafas saat mengingat semua kejadian ganjil yang kualami hari ini. Tap... baru satu langkah aku menaiki anak tangga. Aku kembali merasa sedikit takut saat pandangan kuarahkan ke atas. Memang tak ada penerangan lagi selain kamarku. Tapi sekali lagi, lantai atas itu wilayahku dan aku sangat terbiasa dengan keadaan seperti itu. Sempat ada keraguan namun segera kutepis. Cepat-cepat aku berjalan menuju kamarku. Jebreeet.. kututup pintu kamarku cukup keras. Sudah kurasakan sedikin rasa nyaman saat berada di kamarku. Langsung saja kurebahkan diriku diatas kasur sederhana. Kulihat langit-langit terasa berbeda dan menyeramkan. Aku berandai-andai ada mahluk seram yang mengintaiku dari atas. Sungguh ketakutan yang merepotkan. Kumiringkan tidurku ke arah kanan. Lambat laun aku juga mulai merasakan kantuk. Padahal tadi aku terbangun siang dan kini waktu masih menunjukan pukul 8.30. Kupejamkan mataku saja, biar kuturuti segala keinginan tubuhku ini.
Tess.... tess... tes...
Wuss... wuss... wuss....
Tap... tap... tap...
Sreek... sreek.. sreek...
Suara apa ini?? Belum lama aku menikmati mata terpejam dengan segala keheningannya. Namun segera saja aku mendengar bermacam jenis suara dengan SANGAT JELAS!! Aku mendengar suara air yang menetes, aku mendengar suara angin yang mendesir, aku mendengar banyak derap langkah manusia, dan yang terakhir aku mendengar suara langkah seperti diseret dan begitu berat! Aku merasakan itu sambil tetap kupejamkan mataku, dengan kata lain aku memaksa tidur.
Sreeek..... sreek.... sreeekkk.....
Makin jelas lagi suara langkah berat itu dan........ dan langkahnya seperti mengarah ke arahku! Ini tidak benar! Sudah cukup keanehan untukku malam ini! Aku tak mau ada keanehan lagi!
Sreeek.... sreek..... SREEEK......!!
Astagaaa.....!! Suaranya benar mengarah ke kamarku. Bulu kudukku juga langsung berdiri! Ya Tuhan, kenapa lagi ini?? Kali ini aku sungguh ketakutan!! Suara langkahnya kini terhenti. Seperti terhenti tepat di depan kamarku, namun aku tak mau men-sugesti itu adalah benar!
Duggg... duggg... duggg....
Duggg... duggg... duggg....
Kini ada suara lain lagi yang kudengar. Suaranya mirip seperti benda yang dibenturkan ke pintu kamarku! Kubuka sedikit mataku dan langsung kupandang arah pintu yang kebetulan berhadapan dengan posisi tidurku.
Duggg... duggg... duggg....
Terdengar lagi dan sangat jelas sekali aku melihat pintu kamarku bergerak seakan ada yang memaksa untuk membukanya! Aku ingin berteriak sejadinya namun hanya suara parau tak jelas yang bisa kukeluarkan! Tapi syukurlah pintu tadi sudah ku kunci??? Cekreek............ kini terjadilah hal yang sangat membuatku ketakutan setengah mati!!! Ini nyata dan ini bukan film horor yang ketakutanya dibuat-buat! Pintunya perlahan terbuka tanpa bergerak gagang pintunya sedikitpun. Ternyata aku lupa, pintunya belum ku kunci dan aku tak mau lagi merumuskan logika kenapa pintunya terbuka tanpa digerakan sedikitpun gagangnya!
Sekitar pukul 5 sore akhirnya Ale dan yang lain pamit pulang. Aku memang merasakan keanehan sikap dan perilaku mereka. Tapi tak terlalu kupikirkan. Mungkin hanya karena perasaanku saja.
"Besok paling aku buka warnet lagi le. Gak enak sama bos kalau libur kelamaan." Jawabku sambil mengantar mereka keluar rumah.
Mereka ber-empat langsung melihatku serempak dengan tatapan yang kusebut "jangan!"
"Santai aja sa, warnet libur panjang kok. Kan pc nya lagi dibenerin sama mas Ari gara-gara ngadat semua." Kata Ale.
"Hah...?? Sejak kapan? Kok aku gak dikasih tau ama si bos?
"Eh itu....... oh iya pas semalem kamu balik kan komputernya rusak semua. Emang kamu lupa semalem kita ngapain aja? Nah ini nih yang bener, efek CIU nya belum ilang di otak kamu sa."
Terlihat Ale cukup lama berpikir untuk menjawab pertanyaanku tadi. Tapi sudahlah, aku tak mau menahan mereka terlalu lama lagi. Kepalaku juga sudah terasa cukup berat untuk mengingat semua. Mungkin benar kata Ale. Aku terlalu banyak minum CIU semalam. Walau aku yakin kalau tak kulihat minuman keras merk apapun.
Mereka pergi dan aku masuk lagi. Mumpung libur kerjaku entah berapa lama. Ku nikmati saja indahnya cuti dadakan ini. Mentari sebentar lagi terganti. Rembulan malu-malu datang mengganti. Mungkin lebih baik segera bersihkan diri. Agar pikiran dan raga ini jadi segar kembali. Ah puisi pencitraan yang tak penting. Aku segera menuju ke kamar mandi. Tapi dari tadi tak kujumpai adik dan budeku. Hanya ibuku seorang yang kutemui. Eh masih ada Andi walau cuma sekejap saja.
"Adek sama bude kemana bu? Kok gak keliatan?." Tanyaku pada ibu yang sedang merapikan meja ruang tamu.
"Oh mereka lagi ke tempat kakakmu. Kangen sama si Maya kali."
"Aku juga sama bu, lama gak liat si anak bawel itu." Jawabku.
"Besok juga kakakmu kesini sama Maya kok."
Senang rasanya dengar keponakanku yang bawel mau datang kerumah. Ah segera mandi saja mumpung belum adzan magrib. Byuurr.... byuur.... aku mulai membasahi tubuhku dengan gayung. Cukup 10 menit mandi. Kini aku langsung menuju kamarku diatas untuk mengambil baju. Memang hanya aku yang tidur di atas. Padahal ada 2 kamar kosong lainya. Kakakku sudah tak menempati kamar atas setelah menikah. Adikku tak berani kusuruh tidur di kamar kosong, katanya terlalu seram. Dia lebih memilih tidur di kamar bawah. Tap.. tap.. tap... aku berjalan menuju kamarku. Memang kuakui masih ada sedikit perasaan takut karena kejadian tadi. Tapi tak mungkin juga membiarkan kamarku kosong begitu saja. Cekleek... kubuka pintu kamarku yang tertutup, padahal tadi masih terbuka. Mungkin ibuku yang menutupnya. "Wah....... keren amat kamarku? Kenapa jadi bersih dan wangi gini?" Gumamku. Sampai bantal dan guling tertata di tempat yang semestinya. Tak ada pakaian kotor yang berceceran lagi. Padahal biasanya selalu ada pemandangan minimal kolor yang nyangkut diatas monitor pc. Menang banyak hari ini! Libur panjang dan kamarku rapi. Langsung kututup pintu dan kubuka lemari plastik. Kulihat baju tertata rapi plus sudah disetrika. Sungguh surga kecil yang indah.
Kini sudah rapi dengan pakaian lengkap. Aku mau menggunakan me time sejenak untuk berlagu dengan gitarku. Jreng.... syalalalala... kunyanyikan bait demi bait lagu kesukaanku. Walau pundakku masih pegal. Hal ini tak menyurutkan semangatku bernyanyi.
"Sssstttt...... diammm!!"
Seketika aku berhenti bernyanyi. Apa aku tak salah dengar? Siapa yang menyuruhku diam? Tak ada siapapun diatas kecuali aku. Andai itu keluargaku, mustahi aku tak menyadari suara langkah mereka di lantai atas. Dan seumur hidup mereka tak pernah menyuruhku diam saat sedang bermain gitar!
"Sini... sini....."
Kutajamkan lagi pendengaranku, aku mendengar lagi suara misterius itu. Aku tak bisa tinggal diam. Aku segera membuka pintu untuk mencari sumber suaranya. Tak ada siapapun di luar kamarku. Aneh, sudah jelas aku mendengar suara itu.
"Kamu sudah besar yah sa?"
Weitss... aku dengar lagi suara itu!! Dimana sumber suara itu?? Aku celingak celinguk menatap segala sisi di ruanganku hingga ke atap. Ya mungkin saja siluman kampret sedang ingin menjahiliku.
"Kamu mau kemana sa? Temenin aku aja sini!"
Langsung saja tengkukku terasa berat. Bulu romaku berdiri serempak menandakan aku sedang merinding. Pundakku kian terasa berat saat itu. Aku sudah bisa memastikan bahwa sumber suaranya dari belakang alias kamarku! Kupejamkan mataku dan perlahan aku membalikan badanku menghadap kamarku.
"Kamu ngapain merem?? Kamu nggak perlu takut sama aku. Aku Andi temenmu yang dulu. Aku pengen mainan lagi sama kamu kayak dulu."
Jantungku bekerja lebih cepat dari biasanya. Aku masih belum berani membuka mataku. Aku tau dia ini pasti mahluk negeri sebrang!
"Buka matamu sa, aku janji nggak bakal nakutin kamu. Kalau kamu ketakutan, aku akan pergi kok."
Wah dia termasuk demit yang cukup banyak memberiku pilihan. Tapi mau alasan apapun, dia pasti tetap menyeramkan! Lebih baik ku kadalin saja dia. Siapa tau dia tepati janjinya. Kubuka mataku barang nol koma sekian detik, lalu aku bakal histeris ketakutan dan cling dia menghilang, rencana yang cukup nekat tapi kalau tidak kulakukan kamarku nanti akan dijajah dia! Jangan harap itu terjadi siluman landak! Byarr... kubuka mataku perlahan seperti di sinetron dan.... hahh, apa aku tak salah lihat??
Itu... itu Andi...!! Aku masih ingat wajahnya, senyumnya, dan bajunya.... astaga, itu baju Power Ranger yang dia pakai saat kecelakaan!
Aku benar-benar tidak takut melihat sosok teman kecilku yang seharusnya sudah di alam lain. Dia duduk bersila sambil menatapku layaknya tatapan anak kecil yang imut. Tangannya melambai mengajakku untuk mendekat padanya. Tak ada yang menyeramkan sama sekali. Seperti saat dia masih bermain denganku. Ada rindu menyeruak di hatiku saat itu. Namun aku sadar, kami sudah berada di dunia yang berbeda.
"Kamu nggak perlu takut sama aku. Aku temenmu, aku kesini buat penuhin keinginanmu dulu. Kamu masih inget kan??" Tanyanya polos
Aku masih tak berani menjawab apapun ucapannya. Aku hanya mencoba mendekat perlahan. Sungguh perlahan seperti maling yang sedang mengendap-endap. Ini butuh nyali extra ketimbang harus berhadapan dengan Presiden.
"Ayo duduk disampingku, kenapa kamu masih takut. Aku tak akan menakutimu, percayalah."
"Enggak!! Kamu bukan manusia, kamu itu sudah mati!! Kamu pasti akan membuatku celaka!!" Mungkin aku tak mau berlama-lama membiarkan dia menggangguku, jadi ku kumpulkan keberanianku untuk mengusirnya.
"Baiklah kalau itu maumu sa. Tapi aku akan terus mengawasimu. Aku akan menjagamu karna kamu temenku, hehe."
Dia berucap seperti itu lalu dengan mudahnya dia mengilang dari hadapanku saat mataku berkedip. Terjadi lagi merinding moment untuk sesaat.
Allohu akbar, allohu akbar.......... bersyukur terdengar kumandang adzan dari masjid yang jaraknya tak begitu jauh. Ketakutanku segera tergantikan oleh rasa nyaman. Mungkin ini juga teguran Tuhan agar aku segera menjalankan sholat. Sudah cukup lama juga aku berada di jalan yang berkelok. Bergegas menuruni anak tangga untuk berwudhu dan melaksanakan sholat ke masjid. Namun sebelum aku sempat melangkahkan kakiku keluar rumah.
"Kamu mau kemana nak?" Tanya ibuku yang terkesan terburu mengejarku.
"Ke masjid bu, aku pengen sholat nih." Jawabku sambil membuka pintu.
"Di rumah aja yuk mas. Tar mas Resa jadi imamnya." Tiba-tiba adikku menyusul dari belakang ibuku.
"Beneran mau jamaah ni? Yaudah deh ayok." Aku tak jadi meninggalkan rumah dan melakukan sholat dirumah bersama keluarga.
Selesai sholat, kusempatkan waktu sejenak untuk berkumpul dengan keluargaku. Memang sejujurnya aku banyak merasakan keanehan dari sikap keluargaku dan teman-temanku tadi. Aku merasa berbeda dan cukup risih. Namun setiap kucoba mengingat apa yang terjadi di malam kepulanganku. Seakan semua ingatan hilang begitu saja dan berlanjut dengan kepalaku seperti diremas.
"Aku naik dulu bu, kayaknya aku udah mulai ngantuk nih."
"Tidur bareng ibu aja nak, biar rame yah." Bujuk ibuku.
"Enggak lah bu, masa udah segede ini aku tidur sama ibu sih."
"Yaudah... yaudah... sana kamu tidur diatas. Jangan begadang yah nak."
Semakin dan semakin membuatku risih! Aku hanya mengangguk dan bergegas menuju kamar. Haaahhh.... aku sedikit menghela nafas saat mengingat semua kejadian ganjil yang kualami hari ini. Tap... baru satu langkah aku menaiki anak tangga. Aku kembali merasa sedikit takut saat pandangan kuarahkan ke atas. Memang tak ada penerangan lagi selain kamarku. Tapi sekali lagi, lantai atas itu wilayahku dan aku sangat terbiasa dengan keadaan seperti itu. Sempat ada keraguan namun segera kutepis. Cepat-cepat aku berjalan menuju kamarku. Jebreeet.. kututup pintu kamarku cukup keras. Sudah kurasakan sedikin rasa nyaman saat berada di kamarku. Langsung saja kurebahkan diriku diatas kasur sederhana. Kulihat langit-langit terasa berbeda dan menyeramkan. Aku berandai-andai ada mahluk seram yang mengintaiku dari atas. Sungguh ketakutan yang merepotkan. Kumiringkan tidurku ke arah kanan. Lambat laun aku juga mulai merasakan kantuk. Padahal tadi aku terbangun siang dan kini waktu masih menunjukan pukul 8.30. Kupejamkan mataku saja, biar kuturuti segala keinginan tubuhku ini.
Tess.... tess... tes...
Wuss... wuss... wuss....
Tap... tap... tap...
Sreek... sreek.. sreek...
Suara apa ini?? Belum lama aku menikmati mata terpejam dengan segala keheningannya. Namun segera saja aku mendengar bermacam jenis suara dengan SANGAT JELAS!! Aku mendengar suara air yang menetes, aku mendengar suara angin yang mendesir, aku mendengar banyak derap langkah manusia, dan yang terakhir aku mendengar suara langkah seperti diseret dan begitu berat! Aku merasakan itu sambil tetap kupejamkan mataku, dengan kata lain aku memaksa tidur.
Sreeek..... sreek.... sreeekkk.....
Makin jelas lagi suara langkah berat itu dan........ dan langkahnya seperti mengarah ke arahku! Ini tidak benar! Sudah cukup keanehan untukku malam ini! Aku tak mau ada keanehan lagi!
Sreeek.... sreek..... SREEEK......!!
Astagaaa.....!! Suaranya benar mengarah ke kamarku. Bulu kudukku juga langsung berdiri! Ya Tuhan, kenapa lagi ini?? Kali ini aku sungguh ketakutan!! Suara langkahnya kini terhenti. Seperti terhenti tepat di depan kamarku, namun aku tak mau men-sugesti itu adalah benar!
Duggg... duggg... duggg....
Duggg... duggg... duggg....
Kini ada suara lain lagi yang kudengar. Suaranya mirip seperti benda yang dibenturkan ke pintu kamarku! Kubuka sedikit mataku dan langsung kupandang arah pintu yang kebetulan berhadapan dengan posisi tidurku.
Duggg... duggg... duggg....
Terdengar lagi dan sangat jelas sekali aku melihat pintu kamarku bergerak seakan ada yang memaksa untuk membukanya! Aku ingin berteriak sejadinya namun hanya suara parau tak jelas yang bisa kukeluarkan! Tapi syukurlah pintu tadi sudah ku kunci??? Cekreek............ kini terjadilah hal yang sangat membuatku ketakutan setengah mati!!! Ini nyata dan ini bukan film horor yang ketakutanya dibuat-buat! Pintunya perlahan terbuka tanpa bergerak gagang pintunya sedikitpun. Ternyata aku lupa, pintunya belum ku kunci dan aku tak mau lagi merumuskan logika kenapa pintunya terbuka tanpa digerakan sedikitpun gagangnya!
Diubah oleh lemsbox 04-02-2018 19:05
itkgid memberi reputasi
1
Kutip
Balas