Kaskus

Story

vayu.vayuAvatar border
TS
vayu.vayu
DI JALAN SEORANG BADJINGAN
Quote:


untuk yang mau baca puisi-puisi dan cerpen gw, silahkan melipir ke mari cuk :



Sebelumnya, kepada sepuh-sepuh yang mbaurekso di tempat keramat bernama SFTH ini, ijinkan saya yang laknat ini membuka trit yang sebelumnya pernah ada lalu musnah entah karena ceritanya terlalu vulgar macam cerita eny arrow, atau karena ada pembaca yang menolak menjadi dewasa, atau karena saya yang lancang melanggar aturan di alam ini. Yang pasti saya yakin, waktu itu, bukan Cuma saya yang melanggar peraturan di forum kita yang termehek-mehek ini. Muehehehe

Setelah cukup lama di bujuk dan menimbang nimbang, akhirnya saya putuskan untuk menuliskannya lagi di sini, karena saya masih terikat janji dengan para pembaca anying itu untuk menyelsaikannya, maka saya pikir, saya akan menyelsaikannya di tempat dimana ceita ini di mulai. dengan judul yang di ubah setelah saya mendapatkan wangsit beberapa malam yang lalu.

Dan dengan segala kerendahan diri yang serendah-rendahnya, maka ijinkanlah saya untuk kembali di sisi kalian, bukan sebagai penulis dan pembaca, namun sebagai seorang kawan lama.

Namun sebelum saya melanjutkan, kiranya, ada beberapa poin yang harus saya garis bawahi, agar perlakuan semena-mena tempo hari itu tidak perlu terulang lagi dan tidak ada yang kecewa, baik saya yang berbulan-bulan terpaksa mengingat lagi rentet kejadian di masa lalu, atau anda semua yang kecewa lantaran tegang yang tanggung kepalang.

Berikut ini bagian-bagian yang perlu di garis bawahi :

Quote:


Dan sekali lagi saya ucapkan terimakasih sebanyak-banyaknya, dan mari kawan, kita beranying-anying ke tepian. Behahaha.
Salam hangat- dari sesorang yang bangga di panggil badjingan. emoticon-Malu (S)
emoticon-Malu (S)
Diubah oleh vayu.vayu 18-04-2020 15:23
aeronyxAvatar border
samsung66Avatar border
jokokembarloroAvatar border
jokokembarloro dan 44 lainnya memberi reputasi
39
418.9K
1.5K
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread53.3KAnggota
Tampilkan semua post
vayu.vayuAvatar border
TS
vayu.vayu
#186
pertemuan kembali





Hari ini adalah hari terakhir gw bebas untuk keluyuran, karena besok gw sudah harus masuk sekolah. Hari ini juga hari pertama dimana gw melihat bapak lagi setelah 6 hari yang lalu. ia sibuk mengurusi keperluan warung milik salah satu kenalannya yang bakal bapak kelola.

Kawan bapak, punya lokasi yang sangat strategis, dan cukup modal. lalu bapak yang punya track record di dunia perwarung nasian akhirnya di ajak bekerja sama dengan sistem bagi hasil. Emak tentu ikut, keahliannya mengawinkan bahan-bahan masakan dan bumbu dapur tak bisa di anggap remeh. Apalagi tenaganya, itu yang paling penting.

Bertahun-tahun gw hidup di samping emak, tak pernah sekalipun gw mendengar ia mengucapkan kata –capek-. Seakan kata itu adalah kata-kata terkutuk yang akan membawa kesialan jika ia ucapkan. Dan tanpa kata-kata itu, emak, bagi gw pribadi, adalah mahkluk paling perkasa di muka bumi.

…..

“dek, bangun.. terus mandi.. aernya udah mateng.. buruan!” bapak berteriak dari arah kamar mandi.

Mendengar teriakan bapak, mimpi-mimpi gw seketika pecah berkeping-keping dan berhamburan keluar kamar. Gw langsung bangkit berdiri, mengambil handuk dan lekas melesat masuk ke kamar mandi.

Asal kalian tahu, suara bapak adalah suara paling mengerikan yang pernah gw dengarkan. Nadanya tidak pernah tinggi, selalu saja rendah, datar, namun dingin membunuh. Serius, buat gw, suara bapak lebih mengerikan di bandingkan genderang peperangan di antara dua kubu yang siap mati dalam kemenangan, maupun dalam kekalahan.

Di dalam kamar mandi, asap pekat mengepul. Persis seperti sedang kebakaran hutan. Aaroma dari kepulan asap itu, menyesakkan, tidak hanya dada, namun kepala. Gw benar-benar pusing di buatnya. Setelah gw selidiki dari mana asal muasal asap pekat ini, akhirnya gw menemukan satu-satunya barang yang masuk sebagai tersangka.

Adadlah sebatang rokok yang linting manual tangan. Persis lintingan ganja, hanya saja dengan ukuran yang lebih besar. Besarnya kira-kira hampir seukuran jari telunjuk gw. dan gw, tak perlu menimbang dua kali untuk hal-hal semacam ini.

Gw raih lintingan yang tergelatk di sudut bak mandi, tinggal setengah lagi, namun gw rasa lebih dari cukup untuk mengawali suatu pagi. Dan betapa beruntungnya gw , karena di belakang lintingan yang baru saja gw ambil, tergelwtk juga sebuah korek. Tuhan sungguh maha mengetahui segala kebutuhan umatnya. Hahaha

CREEKKK, CREEEKK

Korek menyala.

SSSSHHHH, FIIUUUHHH

Hisapan pertama, adalah hisapan yang hampir membuat dada gw meletus. Setengah modyar gw menahan diri agar tidak terbatuk.

SSSHHHHH, FUUUIIIHHHH

Hisapan kedua dan hisapan-hisapan seterusnya,adalah hisapan yang membawa gw terbang mengawang ke langit ke tujuh. Nyaris keluar dari gugusan galaksi milky way yang kita tinggali. Dan dengan perasaan maha ajib itu, gw pun mandi

“dek,mandi lama amat?” bapak mengetuk pintu.

“ini udah beres pak!” gw menyahut sambil menggosokkan handuk ke permukaan badan. Lalu berikutnya berjalan menuju pintu. gw ulurkan satu tangan, meraba-raba dan mencari gagang pintu, dan tidak ketemu. Anying.

Butuh waktu beberapa menit untuk akhirnya gw bisa meraih gagang pintu dan membukanya. Maka setelah itu, keluarlah gw dari kamar mandi dengan langkah gontai, meraba arah langkah yang berikutnya.

Bapak yang mungkin merasa curiga dengan gw yang sempoyongan, langsung berlari ke kamar mandi, beberapa detik kemudian ia keluar lagi dengan satu teriakan ke arah gw yang masih meraba jalan.

“dek lintingan klembakmenyan bapak di kamar mandi kamu apain hah?” dengan murka, bapak menarik tangan gw. jujur, kalau saja dalam keadaan waras dan sadar, gw sudah akan gemetar seharian jika mengahadapi bapak yang sedang begini. Namun, ini lain cerita, karena kesadaran gw sedang asik bertamsaya ke luar angkasa sana.

‘wah… enak itu pak, joss lah asli pak, enak pak!!” itu, adalah kata-kata terakhir yang gw ingat, karena bapak kemudian menarik gw untuk kembali ke kamar mandi, dan tanpa rasa belas kasihan, mengguyur gw dengan satu ember penuh air dingin.

Setelah gw di pakaikan baju oleh emak, untuk tiga jam berikutnya gw harus mendengarkan khotbah bapak. Dan selama khotbah berjam-jam itu, sungguh tak ada satupun kata-kata bapak yang masuk ke telinga. Kesadaran gw masihlah belum semuanya kembali. Sial, ini gara-gara lintingan klembak menyan sialan. Anying.

Setelah agak siang dan gw mulai berangsur-angsur sadar. Bapak mengajak gw keluar. Entahlah, gw punya firasat kalau bapak akan membawa gw ke tukang rukiah atau hal-hal semacam itu.

“pak ini mau kemana?” gw bertanya di antara jeda langkah yang ada.\

“kamu besok sekolah kan? yaudah ikut aja!”

Bapak terus berjalan sambil menuntun gw yang bingung dan ketakutan. Namun tidak ada pilihan lain selain pasrah pada perjalan yang entah akan membawa gw kemana ini. Setelah cukup lama berjalan, berhentilah bapak di depan sebuah rumah yang cukup mewah. Ada kolamikan di halaman, ada mobil, dan ada, he anyiinnngg, itu kan sugeng yang tempo hari gw gebugin… apa maksudnya ini pak? Gw mencoba mencerna kejadian ganjil ini di dalam hati.

“dek, bapak enten teng omah ra?” bapak menanyai sugeng dan mengajak gw memasuki halaman rumah ini melewati pagar teralis yang sudah terbuka setengahnya. Tanyanya tadi berarti “dek, bapak ada di rumah gak?”

“oh, bapak? Enten pak, sekedap nggeh!!” “oh bapak? Ada apa, sebentar ya!” sugeng menimpali sambil melirik sinis ke arah gw, lalu segera masuk ke dalam rumah.

Tak berselang lama, keluarlah seorang pria berbadan tegap, dengan rambut gondrong menyetuh bahu. Yang ia kenakan hanyalah selembar kaos oblong dan celana jeans panjang pudar yang sobek-sobek. Kulitnya, bahkan lebih hitam dari kulit bapak dan malika.

Rokok yang entah sejak kapan terselip di bibirnya, ia ambil lalu ia apitkan di sela kedua jari tangan kirinya. Matanya melotot, memberikan tatapan yang lebih mengerikan dari tatapan seseorang yang tengah kerasukan dan minta makan beling.

“badjingaaaaaaaannnn!!!” si gondrong itu berteriak. Dan percayalah, suaranya menggelegar dan gw yakin di saat yang sama, salju di puncak gunung everst pasti longsor. Dan jujur, gw ketakutan.

Tapi bapak malah melangkah maju dengan satu senyuman membusung dari bibirnya. Begitupun si gondrong yang melangkah menghampiri bapak. Gw hanya melongo menyaksikan kejadian ini. Dalam batin gw berteriak panik, bapak bakal berkelahi, bapak bakal berkelahi dan kalah mengenaskan. Dan gw, akan menyeret bapak yang pingsan sampai kerumah.

Tapi yang berikutnya terjadi sungguh jauh dari apa yang barusaja gw bayangkan. Mereka berdua berjabat tangan, kemudian saling jatuh dalam pelukan. Sebuah pelukan yang menegaskan bahwa, ada sebuah ikatan yang kuat di antara mereka berdua.

Bapak menepuk pundak lelaki yang baru saja di peluknya itu. Begitu pun sebaliknya. Dan hening. Lama mereka hanya saling menghunuskan tatap mata. sampai akhirnya tawa mereka berdua meledak. Mengguncang tubuh gw yang berdiri di belakang bapak. Anying, pak, apa-apaan ini?

“badjingan koe kus, temenan sido pindah rene to koe?” si gondrong merangkul bapak, sambil mempersilahkan untuk masuk ke rumahnya. tanyanya tadi berarti “bajingan kamu kus, beneran jadi pindah ke sini kamu?”

Bapak hanya mengangguk, mengiyakan apa yang baru saja di tanyakan kepadanya. Senyumnya meleleh, seupa lahar di puncak gunung berapi yang tengah erupsi. Ada kegairahan di wajahnya, kegairahan yang juga hadir bersama sebuah perasaan lega. Entah lega karena bapak telah kembali tanah lahirnya dengan sempurna, atau sebuah kelegaan karena ia, pada akhirnya kembali bisa bercengrama dengan orang-orang yang ia anggap berarti dalam masa kehidupannya yang lalu. dulu, gw belumlah paham dengan hal-hal semacam itu. Jadi gw hanya melangkah, mengekor bapak yang berangkulan.

“wah urip mu jan wis penak yo.” “hidup mu udah enak yo.” Bapak berdehem, memandangi setip sudut rumah bercat semu krerm yang teduh, dengan perabotan-perabotannya yang bisa di masukkan dalam golongan barang mewah.

“yo biasa aja lah kus..” Lelaki yang merangkul bapak tersenyum. sebuah senyum kebanggaan sekaligus sebuah senyum yang penuh dengan kerendahan.

“kui mau anakmu yo? Sopo kae jenenge? Sugeng?” “itu tadi anak mu yo? Siapa itu namanya? Sugeng?” bapak melempar tanya, sesaat kemudian kami bertiga mengambil duduk di sofa empuk di ruang tamu.

“iya kui mau anakku, sugeng.” Lelaki itu tersenyum lagi, kali ini senyumnya melebar, melebihi senyumnya yang tadi. untuk beberapa saat, ia melirik ke arah gw dengan sorot mata yang tak terdefinisikan.

“kie anakku sing nomer loro, kayane seumuran karo anakmu yo..” “ini anak ku yang nomer dua, kayaknya seumuran sama anakmu yo.” Lalu bapak menoel pundak gw yang tengah menyimak kata-katanya sejak tadi. “dek, ini namanya om Tyo, temen bapak dari kecil! Hahaha” lanjutnya dengan akhir sebuah tawa yang mantap, seakan ia tengah memperkenalkan seorang pahlawan kemerdekaan macam bung karno yang ia kenal secara pribadi.

“hmmm ..” gw hanya mengangguk sambil melirik om tyo yang masih tersenyum lebar, seakan ia baru saja mendengar namanya yang di lantunkan dengan speaker sebagai pemenang lotre yang nilainya ratusan juta rupiah.

“yo saumuran lah nek karo anakmu kus, wis kelas papat saiki.” “ya seumuran lah kalau sama anakmu kus, sudah kelas empat sekarang.” Om tyo mengangguk, kali ini ia menatap gw dengan penuh kegairahan, seakan yang sedang ia pandangi adalah sebuh guci cina berusia puluhan abad. “oh iya kus, anak mu jagoan, hahahaha” lanjutnya, dengan akhir sebuah tawa yang mengguncang dinding rumahnya sendiri.

Ternyata, bapak memiliki niat yang sangat mulia. Tujuannya mengajak gw kesini, tidak hanya untuk ia bereuni secara utuh dengan om Tyo, namun ia ingin mengenalkan gw kepada sugeng, dengan harapan gw dan sugeng bisa menjalin sebuah persahabatan seperti bapak dan om tyo. Tapi mohon maaf pak, anak mu sudah berkenalan dengan cara yang, yah, sebutlah, tidak lazim, namun pantas untuk di kenang. Hahahaha

“jagoan gimana yo?” bapak bertanya heran, kedua ujung alisnya nyaris bertemu.

“kemarinya, sugeng pulang pagi-pagi di anter si mbah dalam keadaan babak belur. Si mbah bilang habis berantem sama anakmu kus. Hahahaha” om tyo tertawa-tawa sambil menjelaskan kepada bapak tentang kejadian nahas pagi itu, pagi dimana sugeng menabrak gw, pagi dimana getuk dan tempe kemul seplastik yang gw beli, berceceran di atas jalan. anying.

Entah persahabatan macam apa yang terjalin di antara bapak dan om tyo. Namun setelah lama mendengarkan obrolan mereka, barulah gw paham bahwa mereka berdua adalah karib sejak SD, sahabat, tidak hanya di kehidupan sehari-hari, namun juga di dalam sebuah arena dimana kita menamainya, judi.

“mat, denger mat, bapak mu itu dulu sama om pernah kegrebeg waktu main remi, di giring ke kantor, besoknya di sidang, eh ternyata yang nyidang temen main remi juga. Hahahaha siangnya bapak sama om udah di lepasin. Hahaha” dengan semangat yang luhur, om Tyo menceritakan cuilan kecil kisah yang pernah ia jalani dengan bapak. lalu cuilan kisahnya itu, di sambut gelak tawa bapak.

Gw dan sugeng yang kini duduk bersebelahan hanya saling menatap heran, menyaksikan bapakkami melepas kangen, memuarakan kerinduan akan kenangan yang masing-masing mereka simpan.

Dan untuk sekali lagi, gw kembali takjub dengan dunia anak-anak. Karena sejak kunjungan gw ke rumahnya, gw dan sugeng menjadi akrab. Meneruskan garis persahabatan yang di wariskan bapak kami berdua. entahlah. Kadang hidup itu aneh. Tuhan juga, tapi katanya, nikmati saja.
daniadi123
kadalbuntingzzz
japraha47
japraha47 dan 7 lainnya memberi reputasi
8
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.