- Beranda
- Stories from the Heart
Yaudah 3: Kuliah Kerja Nyata?
...
TS
dasadharma10
Yaudah 3: Kuliah Kerja Nyata?
Selamat datang di thread ketiga yang merupakan lanjutan dari Yaudah Gue Mati Ajadan Yaudah 2: Challenge Accepted.
Sebelumnya, ijinkan gue buat memperkenalkan diri. Bagi pembaca setia kisah gue, pastinya kalian udah enggak asing dengan nama Muhdawi. Tapi bagi pembaca yang baru masuk ke thread ini, pastinya kalian asing dengan nama yang enggak biasa itu. Perkenalkan, nama lengkap gue Muhammad Danang Wijaya. Biasanya orang-orang manggil gue Dawi yang diambil dari singkatan nama gue Muhdawi. Kalian bisa panggil gue Dawi, atau kalo mau ikut-ikutan manggil gue Sawi juga enggak masalah. Gue orangnya idem, apa yang lo mau, kalo gue bisa, pasti gue usahakan. Anyway, langsung aja masuk lebih dalam ke thread ini. Sekali lagi gue ucapkan, selamat datang di thread ini.
Sebelumnya, ijinkan gue buat memperkenalkan diri. Bagi pembaca setia kisah gue, pastinya kalian udah enggak asing dengan nama Muhdawi. Tapi bagi pembaca yang baru masuk ke thread ini, pastinya kalian asing dengan nama yang enggak biasa itu. Perkenalkan, nama lengkap gue Muhammad Danang Wijaya. Biasanya orang-orang manggil gue Dawi yang diambil dari singkatan nama gue Muhdawi. Kalian bisa panggil gue Dawi, atau kalo mau ikut-ikutan manggil gue Sawi juga enggak masalah. Gue orangnya idem, apa yang lo mau, kalo gue bisa, pasti gue usahakan. Anyway, langsung aja masuk lebih dalam ke thread ini. Sekali lagi gue ucapkan, selamat datang di thread ini.
Quote:
Quote:
Spoiler for Sinopsis:
Spoiler for Index:
Diubah oleh dasadharma10 16-10-2018 23:34
andybtg dan 14 lainnya memberi reputasi
11
359.4K
1.3K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.6KAnggota
Tampilkan semua post
TS
dasadharma10
#585

Melly Melvia
PART 50
“Lo yakin kan kalo mbah Wito–”
“Mbah Wido,” potong Cassie. “Pake huruf d, bukan t.”
“Iya mbah Witdo, kan?” ulang gue. “Lo yakin kalo mbah Witdo–”
“Pake huruf de,” potongnya lagi. “dhe, deh, kalo orang jawa bilangnya dho.”
“Iya, gue paham,” kata gue. “Tdoh, kan? T yang mirip-mirip d?”
“Jenius,” timpal cewek di depan gue. “Bener-bener jenius, gue baru tau kalo ada huruf t yang mirip d. Ahli bahasa aja enggak sampai segitunya.”
“Ya… intinya mbah Wido enggak mati, kan?”
“Kenapa abang tanya ke aku?” tanya Cassie balik. “Kan yang meriksa mbah Wido cewek yang sekarang ada di depan abang.”
Gue tengok cewek di depan gue. Rasanya deja vu, udah berkali-kali dia menatap gue dengan pandangan ini. Tiga atau mungkin empat kali, atau bahkan lebih. Gue kurang yakin kalo gue sanggup menatap mata yang sama untuk yang kesekian kalinya.
“Eh, Cass?” panggil gue ketika Cassie beranjak dari duduknya. “Lo di sini aja–”
“Biarin dia pergi!” potong suara menyeramkan dari orang di depan gue. “Cassie, mandi sana!”
Pasrah, gue bener-bener pasrah ketika melihat Cassie keluar dari kamar cewek. Lagi-lagi gue harus berurusan dengan macan betina dengan sifat beruang ganas dipadu tabiat soang mengandung empat bulan yang enggak lahir-lahir. Kurang lebih semacam chimaeramon yang sadar kalo waktu lahir sempat kelilit usus buntu.
“W-what?” tanya gue ragu. “Boleh gue keluar sekarang?”
“Boleh gue keluar sekarang?” ulangnya. “Kayaknya lo lebih tau jawabannya, deh.”
“Ah… itu artinya belum?” ucap gue penuh hati-hati. “Soalnya kalo di jawaban gue harusnya udah boleh keluar–”
“Ya Tuhan!” seru Melly tiba-tiba setengah teriak. “Gue enggak habis pikir ya sama lo, Wi.”
Salah, gue salah, gue salah lagi! Enggak seharusnya gue ngomong asal-asalan sewaktu gue dihakimi, harusnya gue lebih kalem, dan mungin harusnya lebih pasif.
“Cowok dengan rahang yang keren, rambut ikal berantakan,” ucap Melly menatap gue. “Hidung mancung dan bibir tebal yang menarik. Ditambah lagi lesung pipit waktu senyum. Gue rasa itu udah paling sempurna dari cowok nyata yang pernah gue temui!”
Ah… dia lagi ngomongin gue?
“Tapi begitu gue tau sifatnya! Tau kelakuannya!” lanjut Melly dengan nada yang entah kenapa mulai meninggi. “Gue kecewa berat!”
“L-lo ngomongin siapa, sih? Gue?”
“Brad Pitt!” jawabnya ketus. “Gue ngomongin Brad Pitt!”
Emang Brad Pitt pernah ke Indonesia? Kok keren?
“Ya sifatnya enggak jelek-jelek bangetlah. Dia peduli sama orang lain, itu nilai plus,” lanjut Melly masih menerawang. “Tapi kelakuannya yang kadang enggak dipikir dulu itu lho! Betein banget!”
“Ya emang orang ganteng begitu,” timpal gue. “Tapi di akhir dia dapet Angelina Jollie.”
Melly menatap gue tajam, “Kok bisa ya lo masih berani ngomong sama gue?”
Salah, Wi. Lo enggak seharunya nanggepin dia. Cewek cuma butuh didenger, bukan dijawab. Ya meski kadang cewek butuh jawaban juga. Itu kan yang sebenernya bikin cewek itu ribet.
“Ah… oke,” gumam gue pelan.
“Sekarang jelasin ke gue!” tembak Melly tiba-tiba. “Gimana ceritanya sendal lo bisa ada di tangan mbah Wito yang kejang-kejang!”
“Namanya Wido, Mell,” sambung gue. “Pake d, bukan pake t. Lebih ke Wido, bukan Wito–”
“Gue enggak peduli!” potong Melly makin ketus. “Jelasin!”
“I-iya, gue jelasin. Gue pasti bakal jelasin semuanya, tapi lo harus tenang dulu.” Gue beri aba-aba Melly buat tarik napas, “Hembuskan dengan perlahan. Ini demi kemaslahatan bersama, lo harus tenang.”
“Gue udah tenang!” bentaknya menepis tangan gue. “Tiap orang punya versi tenang tersendiri!”
Gue cerita? Iya. Gue cerita panjang lebar soal penyebab gimana gue hampir bunuh orang dengan sebuah sandal jepit. Sebuah tragedi yang ironis, mungkin lebih tepatnya tragedi ironis. Atau mungkin ironi yang jadi sebuah tragedi.
“Malam itu, sewaktu pertama kalinya Cassie tidur di pos ronda, anak-anak pada debat soal proker unit. Seperti biasanya, Bull lebih milih sesuatu yang normal, dia ngusulin buat benerin pos ronda atau bikin sesuatu yang berfaedah. Begitu juga dengan gue dan Yansa, kita berdua juga memilih buat ngadain suatu program yang normal. Gue usul buat ngadain malam pentas seni, sedangkan si Yansa, dia lebih milih nambahin usulan gue buat ngadain pentas seni anak-anak. Gue masih inget banget waktu itu dia ngajakin buat latih anak-anak desa buat bikin drama yang memukau.
“Tapi Luther! Dia mulai bikin ulah. Lo tau sendiri kan kalo diantara kita bersepuluh dia yang paling nyentrik? Lo paham kan kalo pemikiran dia tentang seni itu lebih dari yang lain? Entah dia dapet wangsit darimana, tiba-tiba dia usul buat ngadain acara dangdut gede-gedean.”
“Wangsit buat ngadain acara dangdut?” gumam Melly percaya.
“Semacam bisikan gaib gitulah, lo tau sendiri kan si Luther orangnya kayak gimana. Dia itu selalu niat soal apapun, bahkan sampai ke hal-hal yang enggak penting pun dia juga niat. Tapi untungnya, ada gue dan Yansa di situ. Sementara si Bull milih idem, gue dan Yansa menolak ide Luther mati-matian. Diskusi itu berjalan lancar, sampai akhirnya, gue kelepasan bilang kalo gue pernah usul soal dangdut dan lo bilang enggak mau ngadain dangdut karena lo benci banget sama yang namanya dangdut dan kurang paham sama dangdut.”
“Serius?” kata Melly. “Lo segitunya.”
“Ya, bener-bener serius,” jawab gue. “Ya orang terdesak kan beda-beda, Mell.”
“Lo enggak tau kalo sebenernya gue suka banget sama dangdut? Apalagi kalo dikoploin, ‘sayang~ opo koe krungu~” Melly manggut-manggut terbawa suasana, “Jaran goyang dikoploin, kimcil kepolen dikoploin, atau bojo galak dikoploin.”
“Ah… ternyata lo tau banyak ya,” komentar gue coba menggiring topik. “Lo cinta budaya juga–”
“Cut the shit!” potong Melly tiba-tiba. “Gue tau bener gimana kejadian yang sebenernya.”
“Ke-kejadian yang sebenernya? M-maksud lo gimana, ya?” Gue coba lari dari tatapan matanya, “Ah… mungkin kurang air putih ya gue jadi enggak paham sama apa yang lo maksud–”
“Daritadi gue cuma nge-test lo buat ngomong jujur,” potongnya lagi. “Bukannya minta maaf, tapi malah bikin alasan yang bahkan anak kecil bakalan sadar kalo dibohongin.”
Kampret! Dia ternyata udah tau semuanya dan selama ini gue cuma di-tes doang. Duh! Mati gaya seutuhnya gue.
“I-iya,” kata gue lagi. “Jadi gini–”
“Lo hampir kepojok gara-gara Luther curiga sama Cassie, kan? Terus enggak sengaja lo kelepasan ngomong kalo kalian deket karena soal proker dangdut berseberangan pikiran sama gue, kan? Sementara lo lagi jalan keluar sama Yansa dan Cassie, ternyata si Luther niat buat ngadain rapat satu desa demi proker unit. Begitu lo sadar bulu ketek lo terancam kalo gue sampai tau itu semua, lo mulai panik sampai-sampai lempar Luther pake sendal jepit tapi mental malah kena mbah Wito.” Melly menatap gue tajam, “Ya, kan?”
“I-iya, sih.” Gue tertunduk lemas, “Tapi kalo boleh jujur enggak sepenuhnya bener.”
“Enggak sepenuhnya bener?” tanya Melly. “Maksudnya?”
“Ada dua hal yang salah,” lanjut gue. “Yang pertama, gue takut lo cabutin bulu kaki gue, bukan bulu ketek gue. Dan yang kedua, gue enggak sengaja nimpuk mbah Wido, maksud gue, namanya mbah Wido, bukan Wito.”
“You are the dumbest smart person i’ve ever met.”
Diubah oleh dasadharma10 03-02-2018 22:52
JabLai cOY dan pulaukapok memberi reputasi
2
