- Beranda
- Stories from the Heart
Aku, Dia, Dan Mereka (Horor , pengorbanan, Petualangan) INSPIRED BY TRUE STORY
...
TS
lemsbox
Aku, Dia, Dan Mereka (Horor , pengorbanan, Petualangan) INSPIRED BY TRUE STORY
Selamat malam semua. Perkenalkan aku Resa. Aku akan menceritakan sebuah kisah sederhana dari pengalaman hidup yang aku alami. Tak semuanya nyata karena ini terinspirasi dari kisahku sendiri. Mohon hargai semua aturan yang sudah dibuat. Aku tak akan bertele-tele menjabarkan.
Spoiler for Siapa aku?:
Prolog
Beberapa tahun yang telah berlalu :
Aku hanya seorang biasa yang tak mempunyai kesaktian apapun. Aku bukan seperti mereka yang bisa melihat mahluk tak kasat mata dengan mudahnya. Aku hanya seorang biasa yang punya ketakutan biasa yang sama seperti orang biasanya. Aku takut gelap, aku takut tempat sepi (kecuali jika ingin mesum), aku takut gajiku dibayar terlambat, dan banyak ketakutan yang terlalu banyak. Aku bukan dukun atau indigo yang bisa memecahkan kasus gaib. Aku tak punya pasukan yang berwujud naga, peri, ular, monyet, babi, kadal, biawak, atau kecoa. Tapi aku pernah terpaut hati dengan wanita yang memiliki kemampuan seperti itu! Aku tak menyebut itu luar biasa karena aku terpaksa harus menjadi tak biasa lagi. Dengan mudahnya aku dapat melihat hal yang seharusnya tak terlihat! Bahkan bangkai-bangkai yang sudah terpendam di dalam tanah juga sering menyiksa pengelihatanku! Semua itu karena dia, dia yang terlanjur aku cintai, dia yang terlanjur membuatku ingin masuk ke dalam kehidupannya. Dia pernah membuat mataku tak hanya dua. Namun kini, setelah beberapa tahun dia menghilang. Aku tak sengaja membuka mataku yang lain lagi entah karena sebab apa. Dan dia kembali lagi ke pelukanku!!
Beberapa tahun yang telah berlalu :
Aku hanya seorang biasa yang tak mempunyai kesaktian apapun. Aku bukan seperti mereka yang bisa melihat mahluk tak kasat mata dengan mudahnya. Aku hanya seorang biasa yang punya ketakutan biasa yang sama seperti orang biasanya. Aku takut gelap, aku takut tempat sepi (kecuali jika ingin mesum), aku takut gajiku dibayar terlambat, dan banyak ketakutan yang terlalu banyak. Aku bukan dukun atau indigo yang bisa memecahkan kasus gaib. Aku tak punya pasukan yang berwujud naga, peri, ular, monyet, babi, kadal, biawak, atau kecoa. Tapi aku pernah terpaut hati dengan wanita yang memiliki kemampuan seperti itu! Aku tak menyebut itu luar biasa karena aku terpaksa harus menjadi tak biasa lagi. Dengan mudahnya aku dapat melihat hal yang seharusnya tak terlihat! Bahkan bangkai-bangkai yang sudah terpendam di dalam tanah juga sering menyiksa pengelihatanku! Semua itu karena dia, dia yang terlanjur aku cintai, dia yang terlanjur membuatku ingin masuk ke dalam kehidupannya. Dia pernah membuat mataku tak hanya dua. Namun kini, setelah beberapa tahun dia menghilang. Aku tak sengaja membuka mataku yang lain lagi entah karena sebab apa. Dan dia kembali lagi ke pelukanku!!
Spoiler for Daftar menu:
Diubah oleh lemsbox 11-02-2018 19:55
tabernacle69 memberi reputasi
-1
19.3K
Kutip
104
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.7KAnggota
Tampilkan semua post
TS
lemsbox
#25
Spoiler for 2:
Bagian 2 : Baru bangun dari tidur
Hoaammmbbb............. uuhh nikmat sekali tidurku ini. Kubuka mataku dan kuhirup sejenak udara yang cukup pengap di warnet ini. Anak-anak pasti masih jadi bangkai sekarang. Lebih baik aku segera bangkit dan cuci muka. Looh........?? Ini bukan warnet! Ini kamar, dan ini..........?? Ini kamar ibuku! Sejak kapan aku melakukan teleport ke kamar ibuku? Apa mungkin aku jadi pejalan tidur? Ah tidak mungkin, jarak rumah ke warnetku saja hampir 1km. Belum pula jalannya harus berkelok-kelok?? Bisa sakit otakku jika memikirkan hal ini terus. Mending aku bangun dan segera mandi untuk bekerja. Uuuhh...... kenapa punggung kananku sakit sekali? Rasanya seperti tertindih batu yang sangat besar. Mungkin ini efek dari salah posisi tidur. Aku berjalan meninggalkan ranjang, lalu kulihat jam yang tertempel di dinding kamar ibuku.
"Hahh, udah jam 2 siang?? Bisa rugi nih gak buka warnet!" Aku berkata sendiri karna melihat waktu hampir beranjak ke sore. Aku berlari menuju kamar mandi, saat melintasi ruang tamu. Kulihat ada ibuku dan 3 orang asik yang sibuk mengobrol di depan. Aku hentikan lariku sambil berfikir lagi. Oh mungkin itu orang yang sedang makan di warung dan ngobrol sama ibu. Kudengar mereka berkata "hujan abu". Hujan abu?? Astagaaaa.....!! Kenapa aku bisa lupa? Semalam kan gunung api meletus dan terjadi hujan abu. Pantas saja sekarang aku dirumah. Warnet kan libur, karena sekolah juga libur (warnet yang kujaga berada tepat di depan SMA). Berarti aku tak perlu buru-buru lagi. Ternyata efek tidur kali ini cukup fantastis. Tidak hanya membuat punggungku sakit, tapi membuatku lupa segalanya.
Ku urungkan untuk terburu-buru melakukan aktifitasku. Aku melangkah pelan ke belakang (kamar mandi) kulihat anak tangga yang sejajar dengan pandanganku. Kulayangkan pandang ke ujung anak tangga. Pyaaarrrr...... tiba-tiba kudengar suara seperti gelas terjatuh dari lantai atas. Entah karena reflek atau apa. Aku segera berlari menaiki tangga untuk memastikan yang terjadi. Walau pundakku masih pegal, tapi kupaksa untuk berlari hingga sampai di lantai 2. Aku tak melihat satupun barang pecah belah yang berserakan di lantai. Meja kosong melompong tanpa hiasan gelas dan piring. Aku masuk ke kamarku yang berada sebelah utara anak tangga. Kamarku juga kosong. Lalu aku berpindah ke 2 kamar lain. Tapi tak juga aku temukan apapun yang terjatuh disana.
"Aneh, padahal aku tadi denger banget suara gelas pecah??" Gumamku sendiri.
Aku lupakan sejenak, mungkin tadi aku salah dengar. Aku segera keluar dari kamar kosong menuju ke kamarku yang bersebelahan.
"Kamu bodoh! Hahaha.... hahaha... hahaha... hahaha...." aku mendengar suara dari arah kamarku!
Suara siapa itu? Segera saja aku menutup pintu kamar kosong untuk menuju kamarku. Dug... dug... dug... lagi-lagi aku mendengar suara langkah kaki dan itu dari kamarku!! Aku menoleh ke kanan arah pintu kamarku yang terbuka dan tap.. tap... tap... kulihat anak kecil yang tak asing lagi. Dia berlari menuju arah jemuran yang tepatnya berhadapan dengan kamarku. Iya benar, itu Andi! Aku tak mungkin lupa dengan wajah teman kecilku itu! Bahkan aku juga ingat baju terakhir yang dia gunakan sebelum dia pergi meninggalkan Andi, taukah kalian siapa itu Andi? Dia adalah ALMARHUM teman kecilku dulu. Dia juga teman bermainku dalam segala kenakalan anak-anak. Seperti mencuri mangga, mencuri uang ibu, dan mencuri celana dalam tetangga! Namun na'asnya di siang yang kelabu puluhan taun yang lalu. Si Andi kecil bermain sepeda bersamaku. Dia begitu ceria layaknya anak yang tak kenal bahaya. Dia begitu bersemangat kejar-kejaran sepeda bersamaku dan braaaak........!! Andi dan sepedanya tertabrak pick up berwarna hitam! Andi yang terjatuh, tertindih sepeda dan berada tepat di depan ban mobil sebelah kiri. Tak mungkin mobil terhenti sekejap (kecuali ada Ultraman yang turun dari langit dan menghentikan mobilnya) crassshhhh........ tubuh Andi langsung sukses terlindas mobil dengan indahnya. Tubuh mungilnya hancur terkoyak, terlebih dia juga tertindih sepeda. Mobil terhenti beberapa meter setelah melindas Andi. Tubuhnya terbelah terbagi dua. Wajah Andi sama sekali tak terluka, namun kini sudah dipenuhi oleh darah yang menyembur dari mulut, hidung, dan telinga. Mungkin karena tekanan dari ban mobil itu. Bahkan jari-jari sepeda Andi, ada banyak yang menancap dalam di potongan tubuh Andi. Aku tak menangis, aku tak berteriak melihat Andi mati terkapar seperti itu. Kulemparkan sepedaku dan aku berjalan menuju jasad Andi. Kubersihkan muka Andi yang sudah bau amis dan bersimbah darah. Dan kukatakan..
"Kamu gapapa kan ndi? Yuk kita lanjutin naek sepeda lagi." Kataku sambil tersenyum.
"Dek.... jangan kesitu!!" Terdengar teriakan dari pengemudi mobil pick upnya. Dia berlari dan menyambarku menjauhkan dari jasad Andi. Dia memelukku kencang karena aku berontak dan menangis.
"Aku mau main sama Andi, huwaaaa!" Tangisanku histeris dan disambung teriakan histeris yang menyayat hati dari arah belakangku. Itu suara dari keluarga Andi yang disusul dengan kerumunan warga di lokasi kejadian.
Selepas itu terjadi, ibuku sering sekali mewanti-wantiku untuk tidak bermain di jalan besar. Aku sering berceloteh tanpa dosa kepada ibuku..
"Bu, aku pengen main lagi sama Andi. Kapan aku ketemu Andi lagi?" Tanyaku polos.
"Udah-udah jangan dipikirin. Andi udah meninggal, dia sekarang udah berada di alam yang berbeda sama kita nak. Kamu gak boleh main sama Andi lagi." Kata ibu sambil memelukku erat dan mulai menitikkan air mata.
Dialah Andi yang baru saja aku lihat berlari meninggalkan kamarku. Dia memakai baju Power Ranger yang berwarna kuning lengkap dengan celana pendeknya, dan itulah baju terakhir yang dia gunakan. Dia sempat menoleh ke arahku sambil menjulurkan lidah dan tertawa terbahak. Aku diam mematung melihat pemandangan tersebut. Jelas terasa ketakutan saat aku tau yang kulihat adalah sosok anak yang sudah mati! Aku tak berani melanjutkan "infestigasi gelas pecah" lagi. Sudah jelas lantai atas kosong. Lebih baik aku turun saja. Dengan kaki yang cukup lemas, aku perlahan menuruni anak tangga. 1 langkah, 2 langkah, 3 langkah sambil kepalaku menunduk melihat anak tangga.
"Resaaaa.......!! Kamu ngapain diatas?? Ayo sini turun, itu ada temen-temenmu dateng maen. Kamu udah bangun dari tadi to?" Ternyata ada ibuku yang sedang membuat minuman di dapur.
Ibu langsung menghampiriku dan menuntunku perlahan menuruni tangga. Mirip seperti orang jompo yang dituntun anaknya!
"Kamu ngapain diatas nak?? Udah makan belum? Ibu masakin masakan kesukaanmu yah."
Ada apa dengan ibuku ini? Kenapa memperlakukanku seperti balita? Tapi aku tak memperdulikan itu, fikiranku masih sibuk dengan kejadian barusan.
"Bu, barusan aku liat Andi!" Kataku saat kami berhenti di dapur.
"Hah? Andi siapa nak? Andi temenmu di warnet? Ibu kan gak kenal, terus ngapain dia di atas coba? Kamu ini loh ada-ada aja! Dah ni bawa minuman buat temen-temenmu sana. Nanti ibu anter minuman dan makananmu sekalian!" Perintah ibuku.
"Andi anaknya bude Marni, yang dulu kelindes mobil." Jawabku tanpa expresi sambil membawa nampan berisi 4 gelas teh panas.
Ibuku nampak terkejut mendengar ucapanku barusan, tapi ibu tak bersuara apa-apa. Matanya hanya berkaca-kaca sambil mengusap rambutku dan tersenyum.
"Dah sana bawa dulu." Jawab ibuku sambil tersenyum.
Yasudahlah, lupakan itu. Ternyata efek tidurku sungguh berkepanjangan. Serasa merubah hidupku. Kubawa saja minuman ke ruang tamu. Pikiranku belum terlepas dari ingatan Andi tadi. Sesampainya aku di ruang tamu, kulihat Ale teman akrabku dan 3 orang asing yang belum pernah kutemui sebelumnya. 2 wanita, dan 1 lelaki.
"Loh le, tumben kesini? Terus ini siapa? Kok aku gak pernah liat, temen-temenmu?" Jawabku sambil meletakan nampan dan membagikan gelas ke masing-masing tamu.
Entah aku yang merasa. Atau mereka yang aneh. Kenapa tiba-tiba pandangan mereka tertuju padaku?? Dan tatapan itu bukan tatapan "say hello" tapi lebih ke tatapan empati.
"Ni ngapain pada ngeliatin doang? Diminum itu loh. Kamu juga le, kayak orang kurang waras sih?" Tanyaku heran.
Tanpa aba-aba, Ale langsung berdiri dan menghampiriku. Dia langsung memeluk dan menciumku dengan senyuman.
"Hehh....! Ini apa-apaan sih? Malu diliatin temen-temenmu kalo kita homo loh, kita kan udah putus le. Terima dong kenyataan ini." Kelakarku dan disambut tawa lepas mereka.
"Sini duduk sampingku sini sa! Udah lama aku gak ngobrol kayak gini sama kamu!" Kata Ale sambil menepuk ruang kosong di sofa.
"Tadi pagi kamu sarapan apa sih le? Nape kayak lagi mabok minyak angin?" Kataku sambil duduk disamping Ale.
"Mabok janda aku sa! Kagak lah, aku sehat dong. Gimana kondisi kam... eh." Terkesan Ale tak mau melanjutkan ucapannya entah kenapa.
"Kondisi apaan le? Asli kayaknya efek michin terlalu berlebihan ni." Selidikku.
"Enggak, maksudnya gimana rasanya liburan sekarang? Kan kamu jarang nutup warnet. Ada banjir setinggi atap rumah aja masih buka."
"Oalah, kirain apa, jelas dong. Sininya kan profesional coy. Mau banjir atau gempa bumi mah tetep buka. Kecuali mati listrik, neraka kecil tuh haha." Kataku.
Bla... bla... bla... obrolan hangat terus berlanjut dengan kelakarku dan Ale. Ternyata ketiga orang asing ini adalah pelanggan setia warnetku dan bersekolah di SMA depan warnet. Aku sampai lupa wajah mereka. Padahal mereka adalah pelanggan setia yang menyokong per-ekonomianku. Sungguh, ini pasti lanjutan efek tidurku yang aneh.
"Duh kayaknya lagi asik ngrumpi nih. Ibu boleh ikut gabung gak?" Tiba-tiba ibuku dateng membawakan minum dan makananku. Tanpa rasa canggung, ibuku menyuruhku makan di hadapan teman-temanku.
"Astaga bu..... aku bukan balita loh. Masa aku disuruh makan gitu? Mana di depan temen-temenku pula.
"Hehe, kan ibu kangen sama kamu nak. Yaudah lanjutin ngobrolnya. Jangan lupa dimakan tuh." Jawab ibuku dan lagi-lagi ibu mengusap rambutku seperti anak kecil.
"Iya bu." Jawabku dengan nada kesal dan malu.
"Mungkin ibumu ngomong kangen karna kamu jarang pulang sa. Kan kamu kerja di warnet gak pernah pulang. Udah kayak jadi tkw, haha." Ucap Ale mencairkan suasana.
Cukup masuk akal juga sih. Seringnya aku pulang seminggu sekali bahkan lebih. Padahal jarak rumah dan warnet cukup ditempuh tak sampai 15 menit dengan jalan kaki.
Hoaammmbbb............. uuhh nikmat sekali tidurku ini. Kubuka mataku dan kuhirup sejenak udara yang cukup pengap di warnet ini. Anak-anak pasti masih jadi bangkai sekarang. Lebih baik aku segera bangkit dan cuci muka. Looh........?? Ini bukan warnet! Ini kamar, dan ini..........?? Ini kamar ibuku! Sejak kapan aku melakukan teleport ke kamar ibuku? Apa mungkin aku jadi pejalan tidur? Ah tidak mungkin, jarak rumah ke warnetku saja hampir 1km. Belum pula jalannya harus berkelok-kelok?? Bisa sakit otakku jika memikirkan hal ini terus. Mending aku bangun dan segera mandi untuk bekerja. Uuuhh...... kenapa punggung kananku sakit sekali? Rasanya seperti tertindih batu yang sangat besar. Mungkin ini efek dari salah posisi tidur. Aku berjalan meninggalkan ranjang, lalu kulihat jam yang tertempel di dinding kamar ibuku.
"Hahh, udah jam 2 siang?? Bisa rugi nih gak buka warnet!" Aku berkata sendiri karna melihat waktu hampir beranjak ke sore. Aku berlari menuju kamar mandi, saat melintasi ruang tamu. Kulihat ada ibuku dan 3 orang asik yang sibuk mengobrol di depan. Aku hentikan lariku sambil berfikir lagi. Oh mungkin itu orang yang sedang makan di warung dan ngobrol sama ibu. Kudengar mereka berkata "hujan abu". Hujan abu?? Astagaaaa.....!! Kenapa aku bisa lupa? Semalam kan gunung api meletus dan terjadi hujan abu. Pantas saja sekarang aku dirumah. Warnet kan libur, karena sekolah juga libur (warnet yang kujaga berada tepat di depan SMA). Berarti aku tak perlu buru-buru lagi. Ternyata efek tidur kali ini cukup fantastis. Tidak hanya membuat punggungku sakit, tapi membuatku lupa segalanya.
Ku urungkan untuk terburu-buru melakukan aktifitasku. Aku melangkah pelan ke belakang (kamar mandi) kulihat anak tangga yang sejajar dengan pandanganku. Kulayangkan pandang ke ujung anak tangga. Pyaaarrrr...... tiba-tiba kudengar suara seperti gelas terjatuh dari lantai atas. Entah karena reflek atau apa. Aku segera berlari menaiki tangga untuk memastikan yang terjadi. Walau pundakku masih pegal, tapi kupaksa untuk berlari hingga sampai di lantai 2. Aku tak melihat satupun barang pecah belah yang berserakan di lantai. Meja kosong melompong tanpa hiasan gelas dan piring. Aku masuk ke kamarku yang berada sebelah utara anak tangga. Kamarku juga kosong. Lalu aku berpindah ke 2 kamar lain. Tapi tak juga aku temukan apapun yang terjatuh disana.
"Aneh, padahal aku tadi denger banget suara gelas pecah??" Gumamku sendiri.
Aku lupakan sejenak, mungkin tadi aku salah dengar. Aku segera keluar dari kamar kosong menuju ke kamarku yang bersebelahan.
"Kamu bodoh! Hahaha.... hahaha... hahaha... hahaha...." aku mendengar suara dari arah kamarku!
Suara siapa itu? Segera saja aku menutup pintu kamar kosong untuk menuju kamarku. Dug... dug... dug... lagi-lagi aku mendengar suara langkah kaki dan itu dari kamarku!! Aku menoleh ke kanan arah pintu kamarku yang terbuka dan tap.. tap... tap... kulihat anak kecil yang tak asing lagi. Dia berlari menuju arah jemuran yang tepatnya berhadapan dengan kamarku. Iya benar, itu Andi! Aku tak mungkin lupa dengan wajah teman kecilku itu! Bahkan aku juga ingat baju terakhir yang dia gunakan sebelum dia pergi meninggalkan Andi, taukah kalian siapa itu Andi? Dia adalah ALMARHUM teman kecilku dulu. Dia juga teman bermainku dalam segala kenakalan anak-anak. Seperti mencuri mangga, mencuri uang ibu, dan mencuri celana dalam tetangga! Namun na'asnya di siang yang kelabu puluhan taun yang lalu. Si Andi kecil bermain sepeda bersamaku. Dia begitu ceria layaknya anak yang tak kenal bahaya. Dia begitu bersemangat kejar-kejaran sepeda bersamaku dan braaaak........!! Andi dan sepedanya tertabrak pick up berwarna hitam! Andi yang terjatuh, tertindih sepeda dan berada tepat di depan ban mobil sebelah kiri. Tak mungkin mobil terhenti sekejap (kecuali ada Ultraman yang turun dari langit dan menghentikan mobilnya) crassshhhh........ tubuh Andi langsung sukses terlindas mobil dengan indahnya. Tubuh mungilnya hancur terkoyak, terlebih dia juga tertindih sepeda. Mobil terhenti beberapa meter setelah melindas Andi. Tubuhnya terbelah terbagi dua. Wajah Andi sama sekali tak terluka, namun kini sudah dipenuhi oleh darah yang menyembur dari mulut, hidung, dan telinga. Mungkin karena tekanan dari ban mobil itu. Bahkan jari-jari sepeda Andi, ada banyak yang menancap dalam di potongan tubuh Andi. Aku tak menangis, aku tak berteriak melihat Andi mati terkapar seperti itu. Kulemparkan sepedaku dan aku berjalan menuju jasad Andi. Kubersihkan muka Andi yang sudah bau amis dan bersimbah darah. Dan kukatakan..
"Kamu gapapa kan ndi? Yuk kita lanjutin naek sepeda lagi." Kataku sambil tersenyum.
"Dek.... jangan kesitu!!" Terdengar teriakan dari pengemudi mobil pick upnya. Dia berlari dan menyambarku menjauhkan dari jasad Andi. Dia memelukku kencang karena aku berontak dan menangis.
"Aku mau main sama Andi, huwaaaa!" Tangisanku histeris dan disambung teriakan histeris yang menyayat hati dari arah belakangku. Itu suara dari keluarga Andi yang disusul dengan kerumunan warga di lokasi kejadian.
Selepas itu terjadi, ibuku sering sekali mewanti-wantiku untuk tidak bermain di jalan besar. Aku sering berceloteh tanpa dosa kepada ibuku..
"Bu, aku pengen main lagi sama Andi. Kapan aku ketemu Andi lagi?" Tanyaku polos.
"Udah-udah jangan dipikirin. Andi udah meninggal, dia sekarang udah berada di alam yang berbeda sama kita nak. Kamu gak boleh main sama Andi lagi." Kata ibu sambil memelukku erat dan mulai menitikkan air mata.
Dialah Andi yang baru saja aku lihat berlari meninggalkan kamarku. Dia memakai baju Power Ranger yang berwarna kuning lengkap dengan celana pendeknya, dan itulah baju terakhir yang dia gunakan. Dia sempat menoleh ke arahku sambil menjulurkan lidah dan tertawa terbahak. Aku diam mematung melihat pemandangan tersebut. Jelas terasa ketakutan saat aku tau yang kulihat adalah sosok anak yang sudah mati! Aku tak berani melanjutkan "infestigasi gelas pecah" lagi. Sudah jelas lantai atas kosong. Lebih baik aku turun saja. Dengan kaki yang cukup lemas, aku perlahan menuruni anak tangga. 1 langkah, 2 langkah, 3 langkah sambil kepalaku menunduk melihat anak tangga.
"Resaaaa.......!! Kamu ngapain diatas?? Ayo sini turun, itu ada temen-temenmu dateng maen. Kamu udah bangun dari tadi to?" Ternyata ada ibuku yang sedang membuat minuman di dapur.
Ibu langsung menghampiriku dan menuntunku perlahan menuruni tangga. Mirip seperti orang jompo yang dituntun anaknya!
"Kamu ngapain diatas nak?? Udah makan belum? Ibu masakin masakan kesukaanmu yah."
Ada apa dengan ibuku ini? Kenapa memperlakukanku seperti balita? Tapi aku tak memperdulikan itu, fikiranku masih sibuk dengan kejadian barusan.
"Bu, barusan aku liat Andi!" Kataku saat kami berhenti di dapur.
"Hah? Andi siapa nak? Andi temenmu di warnet? Ibu kan gak kenal, terus ngapain dia di atas coba? Kamu ini loh ada-ada aja! Dah ni bawa minuman buat temen-temenmu sana. Nanti ibu anter minuman dan makananmu sekalian!" Perintah ibuku.
"Andi anaknya bude Marni, yang dulu kelindes mobil." Jawabku tanpa expresi sambil membawa nampan berisi 4 gelas teh panas.
Ibuku nampak terkejut mendengar ucapanku barusan, tapi ibu tak bersuara apa-apa. Matanya hanya berkaca-kaca sambil mengusap rambutku dan tersenyum.
"Dah sana bawa dulu." Jawab ibuku sambil tersenyum.
Yasudahlah, lupakan itu. Ternyata efek tidurku sungguh berkepanjangan. Serasa merubah hidupku. Kubawa saja minuman ke ruang tamu. Pikiranku belum terlepas dari ingatan Andi tadi. Sesampainya aku di ruang tamu, kulihat Ale teman akrabku dan 3 orang asing yang belum pernah kutemui sebelumnya. 2 wanita, dan 1 lelaki.
"Loh le, tumben kesini? Terus ini siapa? Kok aku gak pernah liat, temen-temenmu?" Jawabku sambil meletakan nampan dan membagikan gelas ke masing-masing tamu.
Entah aku yang merasa. Atau mereka yang aneh. Kenapa tiba-tiba pandangan mereka tertuju padaku?? Dan tatapan itu bukan tatapan "say hello" tapi lebih ke tatapan empati.
"Ni ngapain pada ngeliatin doang? Diminum itu loh. Kamu juga le, kayak orang kurang waras sih?" Tanyaku heran.
Tanpa aba-aba, Ale langsung berdiri dan menghampiriku. Dia langsung memeluk dan menciumku dengan senyuman.
"Hehh....! Ini apa-apaan sih? Malu diliatin temen-temenmu kalo kita homo loh, kita kan udah putus le. Terima dong kenyataan ini." Kelakarku dan disambut tawa lepas mereka.
"Sini duduk sampingku sini sa! Udah lama aku gak ngobrol kayak gini sama kamu!" Kata Ale sambil menepuk ruang kosong di sofa.
"Tadi pagi kamu sarapan apa sih le? Nape kayak lagi mabok minyak angin?" Kataku sambil duduk disamping Ale.
"Mabok janda aku sa! Kagak lah, aku sehat dong. Gimana kondisi kam... eh." Terkesan Ale tak mau melanjutkan ucapannya entah kenapa.
"Kondisi apaan le? Asli kayaknya efek michin terlalu berlebihan ni." Selidikku.
"Enggak, maksudnya gimana rasanya liburan sekarang? Kan kamu jarang nutup warnet. Ada banjir setinggi atap rumah aja masih buka."
"Oalah, kirain apa, jelas dong. Sininya kan profesional coy. Mau banjir atau gempa bumi mah tetep buka. Kecuali mati listrik, neraka kecil tuh haha." Kataku.
Bla... bla... bla... obrolan hangat terus berlanjut dengan kelakarku dan Ale. Ternyata ketiga orang asing ini adalah pelanggan setia warnetku dan bersekolah di SMA depan warnet. Aku sampai lupa wajah mereka. Padahal mereka adalah pelanggan setia yang menyokong per-ekonomianku. Sungguh, ini pasti lanjutan efek tidurku yang aneh.
"Duh kayaknya lagi asik ngrumpi nih. Ibu boleh ikut gabung gak?" Tiba-tiba ibuku dateng membawakan minum dan makananku. Tanpa rasa canggung, ibuku menyuruhku makan di hadapan teman-temanku.
"Astaga bu..... aku bukan balita loh. Masa aku disuruh makan gitu? Mana di depan temen-temenku pula.
"Hehe, kan ibu kangen sama kamu nak. Yaudah lanjutin ngobrolnya. Jangan lupa dimakan tuh." Jawab ibuku dan lagi-lagi ibu mengusap rambutku seperti anak kecil.
"Iya bu." Jawabku dengan nada kesal dan malu.
"Mungkin ibumu ngomong kangen karna kamu jarang pulang sa. Kan kamu kerja di warnet gak pernah pulang. Udah kayak jadi tkw, haha." Ucap Ale mencairkan suasana.
Cukup masuk akal juga sih. Seringnya aku pulang seminggu sekali bahkan lebih. Padahal jarak rumah dan warnet cukup ditempuh tak sampai 15 menit dengan jalan kaki.
Diubah oleh lemsbox 03-02-2018 21:15
itkgid memberi reputasi
1
Kutip
Balas