Kaskus

Story

dasadharma10Avatar border
TS
dasadharma10
Yaudah 3: Kuliah Kerja Nyata?
Selamat datang di thread ketiga yang merupakan lanjutan dari Yaudah Gue Mati Ajadan Yaudah 2: Challenge Accepted.

Sebelumnya, ijinkan gue buat memperkenalkan diri. Bagi pembaca setia kisah gue, pastinya kalian udah enggak asing dengan nama Muhdawi. Tapi bagi pembaca yang baru masuk ke thread ini, pastinya kalian asing dengan nama yang enggak biasa itu. Perkenalkan, nama lengkap gue Muhammad Danang Wijaya. Biasanya orang-orang manggil gue Dawi yang diambil dari singkatan nama gue Muhdawi. Kalian bisa panggil gue Dawi, atau kalo mau ikut-ikutan manggil gue Sawi juga enggak masalah. Gue orangnya idem, apa yang lo mau, kalo gue bisa, pasti gue usahakan. Anyway, langsung aja masuk lebih dalam ke thread ini. Sekali lagi gue ucapkan, selamat datang di thread ini.

Quote:


Quote:


Spoiler for Sinopsis:


Spoiler for Index:
Diubah oleh dasadharma10 16-10-2018 23:34
pulaukapokAvatar border
genji32Avatar border
andybtgAvatar border
andybtg dan 14 lainnya memberi reputasi
11
359.3K
1.3K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.7KThread52.2KAnggota
Tampilkan semua post
dasadharma10Avatar border
TS
dasadharma10
#575
PART 49

Sesampainya di rumah pak Slamet, warga udah pada rame banget. Gue sama Cassie enggak kebagian duduk di dalam rumah, kita berdua cuma duduk di kursi plastik di pelataran depan rumah pak Slamet. Meski cuma dari luar kita masih bisa mendengar dengan jelas dan melihat beberapa warga dan anak KKN yang ikut serta dalam rapat.

Dari kejauhan, gue lihat Melly menggerak-gerakkan tangannya ke arah Cassie. Sebagian orang bakal mikir kalo Melly itu hyper active, kelebihan gizi, atau habis makan kekenyangan. Tapi buat orang yang paham bahasa isyarat, pasti paham apa yang dia lakukan.

“Mati?” gumam gue. “S-siapa yang mati?”
“Abang paham?” tanya Cassie heran. “Abang tau apa maksud mbak Melly?”
“Enggak terlalu sih,” jawab gue. “Dulu pernah belajar bahasa isyarat, tapi enggak sejago Melly.”
“Oh…,” tangkap Cassie manggut-manggut.
“Terus yang barusan maksudnya apa, Cass?” tanya gue balik. “Kok ada isyarat mati?”
“Kata mbak Melly, ‘Bilangin ke sebelahmu, semua masalah ini gara-gara dia, siap-siap mati habis ini.’ ”

Gue cek sebelah kiri Cassie. Ada kakek-kakek tua renta ikutan rapat sambil batuk-batuk meregang nyawa. Kalo dilihat dari fisiknya, emang bener perkiraan Melly kalo enggak lama lagi bakal mati. Paling nanti kepleset di kamar mandi, atau mungkin keinjek-injek waktu bubaran rapat, atau bahkan, nanti abis ini dia bakal mati jantungan karena tiba-tiba ada peserta rapat yang bikin kerusuhan dan si kakek kena sambit sendalnya.

“Iya kayaknya dia habis ini mati, sih” komentar gue.
“Bukan dia,” kata Cassie pelan. “Yang dimaksud mbak Melly itu abang.”
“Gue?” tanya gue meyakinkan. “E-emang gue salah apaan?”
“Gatau, tanya aja nanti sama mbak Melly.”

Kan... gue bilang juga apa. Yang dimaksud Melly bukan kakek itu, tapi gue. Sebentar lagi Melly bakal menyatakan perang dan melemparkan sendalnya ke kepala gue. Saat ini, gue yakin satu tangannya di bawah meja udah siap sama sendalnya. Gue udah bisa bayangin gimana tiap-tiap detik kejadiannya abis ini. Gue bisa merasaka aura Melly, betapa bencinya dia sama gue.

Udah jadi semacam kebiasaan emang ini anak-anak. Tiap ditinggal bentar aja pasti ada aja kelakuan yang menimbulkan masalah dan ujung-ujungnya satu unit yang nanggung. Contohnya rumah pak Maif, emang si Luther enggak belajar apa dari kejadian yang udah-udah?

“Dari titik ini….” Cassie mengeluarkan hape lalu diam-diam memoto Melly, “Gue tau kalo abang itu keren.”
“Keren?” tanya gue. “Maksudnya?”
“Iya, keren,” lanjut Cassie. “Enggak semua orang itu bisa bahasa isyarat. Bahkan kebanyakan orang Indonesia pasti bakalan mikir kalo orang yang pake bahasa isyarat itu difabel.”
“Oh….”
“Tapi abang itu beda, suka sama hal-hal kecil yang jarang orang lain suka.”
“I-iya gitu kali, ya?”

Mau tau rahasia gue tentang bahasa isyarat? Ini adalah hasil dari kebanyakan menyontek. Sewaktu SMA, temen sekelas gue ada yang pendengarannya kurang. Bukan budeg, tapi kurang bisa mendengar. Nah… karena tiap mau nyontek musti teriak-teriak mulu, gue jadi kepikiran buat ngajakin dia buat belajar bahasa isyarat.

Kenapa enggak pake kode jari aja kalo cuma mau nyontek? Kode jari? Itu cuma berlaku di pilihan ganda. Kalo dapet ujian jawab singkat atau esay, lo mau gimana?

Ya mungkin terdengar kayak sedikit eksploitasi bahasa isyarat. Tapi, ini berguna banget. Gue bisa mencotek dengan leluasa tanpa khawatir tertangkap pengawas. Meski belakangan gue sadar, waktu yang gue habiskan buat belajar bahasa isyarat seharusnya bisa gue pake buat belajar dengan lebih baik.

“Abang kenapa, deh? Kok tiba-tiba cemberut gitu?” tanya Cassie membuyarkan lamunan gue. “Mikir masalah mati, ya?”
“Eh … enggak, kok.”
“Tenang aja, mbak Melly enggak sesadis itu, kok,” lanjut Cassie pelan. “Enggak dibunuh beneran, kok. Paling cuma dicabutin bulu kakinya doang.”
Dicabutin bulu kakinya doang?! Itu masih sakit, Cassie! Gila aja dia bisa bilang ‘doang’ padahal bulu kaki gue yang terancam. Lebih lagi, bisa-bisanya dia suruh gue buat tenang. Mana bisa gue tenang sementara bulu kaki gue menderita?! Mereka pikir gue apaan? Ayam potong? Bahkan ayam potong yang dicabutin juga bulu pahanya, mereka enggak punya bulu kaki!

Belum jadi gue mengungkapkan perasaan gue, terdengar gebrakan meja kenceng banget di dekat gue tepatnya di balik tembok depan gue. Kayaknya ada beberapa warga yang ikutan voting enggak terima kalo pilihannya dikalahkan atau sebagainya.

“Sontoloyo!” teriaknya. “Dangdut is the music of my country!”
“Hidup dangdut!” seru peserta rapat yang lain sambil mengepalkan tangannya di udara. “Hidup dangdut!”
“Wayang kulit pancen budaya bangsa! Edukasine kentel!” teriak bapak-bapak tadi yang ternyata berperawakan sangar. “Tapi dangdut! Enggak ada salahnya seneng-seneng sama budaya kita sendiri!”
“Inggih mas Winto, inggih mas Suter,” kata pak Slamet mencoba menenangkan. “Inggih dangdut, leres dangdut–”
“Hidup dangdut!” seru suara cowok kompor yang tadi lagi. “Hidup Via Valen! Hidup Nela Kharisma! Dangdut budaya Indonesia!”

Gila emang warga sini, demi dangdut sampai segininya. Warga sini ternyata antusias banget kalo soal dangdut. Apalagi kalo disuruh teriak-teriak demo soal dangdut, beuh! jauh lebih bersemangat dari yang dukung politisi maju pilpres.

Khawatir? Enggak, gue enggak bakal khawatir. Asal yang mulai isu dangdut ini warga, Melly pasti luluh dan idem aja. Tapi kalo semisal anak-anak unit yang minta, bisa dibabat habis kepala kita. Apalagi kalo yang minta Luther dengan cara maksa sampai bawa-bawa nama gue sebagai tameng, seratus persen yakin nama gue bakal dicoret dari anggota unit. Susah sebulan iya, dapet nilai KKNnya enggak. Pedih.

Tunggu, terus kalo emang masalah program kerja dangdut itu permintaan warga, si Melly ngapain repot-repot mau nyabutin bulu kaki gue? Kan anak-anak unit enggak pada minta yang aneh-aneh dan bawa-bawa nama gue di depan dia, masa iya dia mau cabutin bulu kaki gue demi hobi? Kok jadi berasa ada yang ganjil gini, ya?

“Gila emang itu orang,” komentar Cassie. “Berani banget.”
“Iya, kan? Keren ya ternyata bapak-bapak sama pemuda di sini,” komentar gue. “Kalo ngomong di depan umum berapi-api, kayak terkoordinir gitu.”
“Demi dangdut sampai segitunya dia, Bang,” komentar Cassie lagi.
“Mantap kan berarti?”
Cassie manggut-manggut, “Si Luther emang berani orangnya.”
“Iya, si Luther emang pemberani.”

Tunggu, Luther?! Kok jadi bawa-bawa Luther?

“Ah…, Cass,” kata gue pelan. “Kok jadi Luther?”
“Iya, Luther,” kata Cassie santai. “Itu yang koordinir bapak-bapak itu si Luther, kan? Dari suaranya aja udah kelihatan banget kalo dia lagi berapi-api. Pake teriak ‘Hidup dangdut’ segala. Kalo soal niat kayaknya dia yang nomor satu di unit kita deh, Bang.”

Nomor satu dalam niat! Siapa lagi kalo bukan si kampret Luther?!

Gue segera beranjak dari dari kursi gue dan mencoba masuk ke dalam kerumunan. Dengan usaha yang lebih, gue berhasil memasukkan kepala gue ke dalam rumah. Sewaktu gue tengok ke arah suara peserta rapat yang paling histeris, bener aja ada Luther lagi teriak-teriak sambil angkat sendal.

“Kami mau dangdut!” serunya penuh api. “Jalankan proker dangdut!”
“Mas Suter! Sabar mas Suter!” kata pak Slamet. “Dangdut mas Suter!”

Bangke! Gue kirain yang teriak-teriak dari tadi tuh murni cuma warga desa, ternyata si kampret ikutan. Mana suaranya paling kenceng lagi. Ini kalo si Melly tau kalo asal muasal proker dangdut dari gue bisa mampus gue.

“Luth!”panggil gue dengan suara pelan. “Luther! Lo ngapain, sih?!”

Dengan penuh percaya diri, Luther menengok ke arah gue dan kemudian mengacungkan jempol ke depan muka gue.

“BAPAK-BAPAK DAN IBU-IBU SEKALIAN!” seru Luther dengan suara yang enggak tanggung-tanggung. “PENCETUS IDE DANGDUTAN KITA SUDAH DATANG!”

Mampus! Luther bakal sebutin nama gue didepan Melly! Gimanapun caranya gue harus bisa bubarin rapat ini–

“MAS…!” seru Luther dengan penuh penghayatan. “DA–”

Gue gapai sendal jepit yang gue pake, lalu dengan akurasi dan juga perttimbangan yang sangat matang, gue arahkan ke muka Luther. Dengan satu tarikan napas, gue sambit muka Luther.

Sayangnya, Luther sadar akan bahaya. Udah kayak punya spider sense, dia bisa berkelit dari sambitan gue. Dia menghindari sendal gue dengan kecepatan kilat. Mukanya selamat, sendal gue kena jendela di sampingnya lalu mental ke luar rumah.

Dengan ketegangan yang intens, gue bisa merasakan deru napas tiap orang di dalam ruangan. Tarikan demi tarikan, hembusan demi hembusan. Bahkan kebingungan Luther akan gue yang tiba-tiba lempar sendal juga bisa gue rasakan.

“Mbah Wido sakaratul maut!” seru suara dari luar rumah. “Mbah Wido sakaratul maut!”
Pandangan gue teralihkan, fokus gue menuju luar rumah. Terlihat orang-orang mulai mengepung kakek-kakek yang tadi duduk di sebelah gue dan Cassie.
“Kenapa ini, Cass?!” tanya gue menghampiri mereka. “Kakek ini kenapa?”
“Kayaknya jantungan deh, Bang,” jelas Cassie. “Tadi enggak lama setelah abang masuk, kakek ini kelihatan susah napas gitu. Belum jadi dia berdiri megangin dada, dia kayak kaget waktu dilempar barang.”
“Dilempar barang?” tanya gue. “Dilempar pake apaan? Kok kurang ajar banget itu orang?!”
“Kayaknya sendal deh, Bang.” Cassie menunjuk sendal yang cuma sebelah berada dipangkuan kakek-kakek itu, “Eh! Sendalnya mirip punya abang!”

Mampus! Itu sendal gue! Kenapa sendal gue bisa ada di situ?!
pulaukapok
JabLai cOY
JabLai cOY dan pulaukapok memberi reputasi
2
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.