Kaskus

Story

beanilla93Avatar border
TS
beanilla93
Vanilla
Hai agan-sis semua.
Setelah sering jadi silent reader, kayanya asik juga kalau saya mencoba share cerita juga.

Cerita ini 'based on true story'. Tapi ya mungkin dengan sedikit modifikasi. hehehe

Tapi kalo cerita ini bukan selera agan-sis, atau agan-sis merasa ceritanya aneh,
And you feel like you can't stand to read it anymore silahkan cari cerita lain.
Nggak usah sumpah serapah ya.
Karna buat saya mereka yg sumpah serapah itu, pikirannya sempit, kosa katanya terbatas.
Bingung mau komentar apa, ujungnya malah ngata-ngatain emoticon-Lempar Bata

Comment, critics and question allowed ya emoticon-Big Kiss

Spoiler for Prolog:


Indeks :
Part 1. Prolog
Part 2. Selected memories

Part 3. MY hero
Part 4. His journey
Part 5. Restriction
Part 6. The results

Part 7. First year
Part 8. We're classmate!
Part 9. The class president
Part 10. Embarrassing youth - intermezzo
Part 11. Wrong thought?
Part 12. Boom!
Part 13. Aftereffects
Part 14. "Manner maketh man"
Part 15. Reunion
Part 16. Let it loose
Part 17. Those shoulders
Part 18. The sunrise
Part 19. Present
Part 20. Year 7th

Part 21. Tom and jerry
Part 22. Crown Prince
Part 23. Amnesia
Part 24. "Okay, let's do that"
Part 25. Jalan belakang(back street)
Part 26. The castle
Part 27. Story about a long night
Part 28. The storm
Part 29. War
Part 30. Gotcha!
Part 31. End

Part 32. Abege
Part 33. Story of nasi goreng
Part 34. The reason behind cold martabak
Part 35. He knew it(all the time!)
Part 36. The betrayal
Part 37. Revealing the truth
Diubah oleh beanilla93 16-03-2018 13:46
anasabilaAvatar border
chamelemonAvatar border
chamelemon dan anasabila memberi reputasi
2
20.2K
182
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.7KThread52.6KAnggota
Tampilkan semua post
beanilla93Avatar border
TS
beanilla93
#147
Part 33. JHS

“Saya juga nggak ngerti bu kenapa bisa lupa. Kayanya saya lupa nyatat.. Maaf bu...Maaf banget... Kalo boleh nanti siang saya kumpulkan bu.”

PLAK!




Nggak, aku nggak ditampar ko. Tenang aja.

Itu bunyi buku pelajaran yang beliau hentakkan ke meja. Aku pun mau nggak mau tersentak dan kaget. Gile aja coy, dihadapan beneran soalnya. Dan nggak ada ancang-ancang, tau-tau bunyi begitu. Gimana nggak kaget?

Kelas pun tiba-tiba jadi sunyi senyap. Dan aku yakin perhatian murid satu kelas sedang tertuju ke depan.

“Sengaja ya kamu nggak ngerjain?!!” bentaknya.

“Nggak bu. Saya nggak sengaja. Saya benar-benar lupa bu. Maaf...”
“Alahhh!!!! Alesan!! Saya tau ya kamu anak siapa!!!”
“....”

Aku diam saja karena omongan beliau ini arahnya sudah ke arah sesuatu yang nggak enak di dengar. Aku takut emosi kalo ngejawab.

“Mau sok kamu disini?! HAH?!”

“....”

“Palingan kamu bisa diterima disini juga karena Ayah kamu. Tapi di kelas saya, jangan mentang-mentang anak kepala dinas terus bisa seenaknya kamu!!!!”

Deg.

“Maaf bu. Saya rasa ibu nggak perlu bawa-bawa Ayah saya disini.”
“Ngelawan kamuu??!!”
“Saya nggak melawan bu. Saya cuma meluruskan. Permasalahan saya lupa mengerjakan PR ini murni kesalahan saya. Bukan karena jabatan Ayah saya. “
“Kamu-”

“Dari awal saya bisa bersekolah disini juga, saya memang masuk murni dengan nilai saya sendiri. Kalau ibu mau liat, besok saya bawakan ijazah saya. Ibu bisa liat nilai saya benar-benar memenuhi standar disini atau nggak.”

“....”

“Terserah ibu mau ngatain saya pakai kata-kata paling kasar sekalipun, saya terima aja. Karena posisinya saya memang salah. Saya minta maaf. Dan saya sudah bilang kalau saya benar-benar lupa dan nggak sengaja. Tapi maaf, saya mohon ibu nggak usah bawa-bawa Ayah saya. Yang sekolah di sini saya, beliau nggak tau apa-apa.”

Aku mengatakan semua kalimat itu dengan wajah tegas tanpa rasa takut sekalipun.

“...Nggak ada kesempatan kedua buat kamu! Karena PR nggak kamu kerjakan, ya nilai PR kamu bolong satu! Nanti jangan diulangi!” ucapnya yang kemudian berlalu keluar kelas dengan cepat. Meninggalkan aku yang masih berdiri tegas menatap arah depanku tempat dia tadinya berdiri.

Seriously, aku bisa anteng kalo orang ngata-ngatain atau marahin aku sesuka mereka, kalau memang posisinya aku salah. Tapi harus banget kah kira-kira, bawa-bawa keluarga apalagi orang tua yang nggak tau apa-apa? Tujuannya apa? Toh disitu aku sekolah sendiri. Ayah cuman nganterin sampe gerbang sekolah, terus jemput lagi kalo udah pulang sekolah. Mana Ayah tau aku gimana-gimana di sekolah. Emang Ayah di kantor ngendaliin aku yang disekolah pake remot?

Makanya aku paling males dikenal karena titel orang tua. Pengennya malah nggak ada yang tau. Tapi entah kenapa bisa banyak guru yang tau. Kesebar pas pada rumpi pagi-pagi kali ye.

Di angkatan ku waktu itu, juga ada anak walikota yang masuk di sekolah yang sama. Kebetulannya dulu aku juga satu SD sama dia, dan emang temenan juga. Tapi kalo dia emang tanpa perlu diumumkan juga semuanya pada kenal, soalnya dia sering banget ngekor bapaknya di tiap acara resmi macam upacara atau perayaan kota. Jadi mukanya udah familiar.

“Good afternoon stud-. Loh, Vanilla. Kamu ngapain berdiri disitu” tanya Ma’am Dara yang rupanya sudah memasuki kelas.

Aku pun tersentak dan cuma ngeliat ke arah Ma’am Dara sambil nyengir-nyengir.

“Eh Ma’am Dara. Ngejar nyamuk tadi Ma’am, kesel abis gigit main kabur aja dia. Hehehe”
“Ckckc ada-ada aja you ini. Back to your seat please. Now.”
“Ay yay Ma’am!” sahutku sambil kabur kembali ke tempat duduk.

Baru saja meletakkan pantat, perhatian ketiga temanku langsung tertuju ke satu arah yang sama: Aku.

“Gilaaaaa. Keren banget lo Vannn. Bisa-bisanya lo skak mat Ibu Dahlia kaya tadi.” ujar Beth sambil nyengir dengan mata berbinar.
“Iya Van, gue pikir lo bakal diem aja sampe kelar. “ timpal Nindya.

“Kalo dia ngomelin gue, gue masih kalem. Tapi kalo dia bawa-bawa Ayah, gue nggak bakal diem.” sahutku.

“Elah nih anak malah berpantun. Ahaha!” cablak Beth sambil menjitak kepalaku.
“Sakit woy!” sautku sambil mengelus kepala yang tadi dijitak Beth.

Itu anak kalo jitak suka nggak kira-kira. Badannya itu gede, jari-jarinya udah kaya finger nugget pas di penggorengan. Gede. Gimana nggak sakit. Dan saat aku sudah akan melancarkan serangan balasan.

“Attention class! Can we start our lesson now? Stop talking to each other because todays lessons is writing, not speaking. Okay?” ujar Ma’am Dara dari depan memaksa kami semua untuk menghadap depan.

“Okay Ma’am...” sahut kami kompak.

Aku pun hanya memajukan badan dan membisikkan kalimat “Awas lo istirahat!” pada Beth yang duduk didepanku. Karena revenge mission nya di abbort paksa sama Ma’am Dara nan cantik jelita.

“Vanilla!” tegur Ma’am Dara.
“Sorry Ma’am. Just want to stretch my back sedikit.” Sautku.

“Buset, kok perhatian amat beliau ama gue yak? Udah ketutup Beth yang gedong ini masih ngeliat aja gue ngapain. “ bisikku pada Nindya pelan yang cuma direspon dengan senyuman oleh nya.

---

Teeettt...Teeettt...Teeettt... – bunyi bel yang menandakan dimulainya istirahat kedua.

Kelas dan sekolah pun mulai riuh sama siswa-siswi SMP Dahlia yang udah dilanda kebosenan setengah mampus karena jam udah pada kebayang jam pulang sekolah yang sudah dekat.

Aku pun langsung ngetekkin Beth sambil jalan buat melaksanakan misi yang tertunda. Walaupun sebenarnya bodinya lebih gede daripada aku. Aku pun melancarkan jitakan kombo di kepala Beth. Yang aku yakin cuma berasa kaya gelitikan aja, soalnya jariku kecil-kecil lantaran badanku yang masih under weight waktu itu. Nyatanya Beth cuma ketawa-ketawa dan kayanya malah menikmati. Mungkin pas kepalanya lagi gatel, aku jadinya malah bantu garukin.

Ma’am Dara masih membereskan peralatan ngajarnya waktu kami lewat di depan meja guru dan bilang,
“Misi Ma’am...”

Waktu baru beberapa langkah melewati meja guru. Langkah kami terhenti karena Ma’am Dara memanggil salah satu di antara kami.
“You turun bareng Ma’am aja, Ma’am mau minta tolong.”

Sosok yang dipanggil pun cuma bisa senyum paksa sambil merelakan teman-temannya pergi lebih dulu menunaikan 15 minutes of happiness di kantin sekolah. Sosok tersebut cuma manyun sambil membayangkan betapa garingnya kulit martabak kantin yang istirahat pertama tadi sudah ia lewatkan. Betapa gurihnya isian daging featuring telur dan daun bawang di dalamnya. Uap yang keluar ketika martabak itu dipotek menggunakan sendok yang menandakan betapa freshnya itu makanan baru diangkat dari penggorengan.

“Vanilla, ayok kita sambil jalan.” tegur Ma’am Dara yang membuyarkan lamunanku tentang martabak.

Yeah, sosok yang tidak beruntung itu adalah aku. emoticon-Nohope

Btw itu ngiler beneran tadi pas nulis deskripsi martabak waktu smp. Jadi kangen :’)

Aku pun berjalan mengiringi Ma’am Dara di lorong kelas.

“Jadi gini, Ma’am mau minta tolong sama kamu bisa Vanilla?” ucap Ma’am Dara memecah keheningan.

“Minta tolong apa Ma’am?”
“Jadi Ma’am mau jualan nasi goreng. Kamu bendahara kelas kan?”

Lah, apa hubungannya bendahara sama jualan nasi goreng?

“Iya Ma’am saya bendahara. Cuma masih belum ngerti, hubungannya sama Ma’am jualan nasi goreng apa ya Ma’am?”
“Nanti setiap pagi saya titip ke kelas kamu sekian kotak, kamu jagain, terus kelolain uangnya ya? Nanti Ma’am kasih free buat kamu satu kotak setiap harinya. Gimana? Mau kan?”

Disahutin ‘mau banget.’, jadinya boong. Disahutin ‘mmm gimana ya Ma’am?Lemme think about it.’ takut dicubit. Disahutin ‘saya sih NO.’ takut nilai Bahasa Inggris bakal konstan jeleknya sampe kenaikan kelas.

“Mmm... Bisa aja sih Ma’am.” sahutku.

Jawaban yang bagus kan? Ada kata ‘mmm...’ dan ‘sih’ yang menandakan kalo aku sebenarnya keberatan. Tapi aku juga nggak menolak dengan frontal dengan menyelipkan kata ‘bisa aja’ disana. Semoga Ma’am Dara ngerti dan membatalkan permintaannya.

“Great! Mulai besok ya! ” sahutnya

emoticon-Nohope

“Ay yay Ma’am.” sahutku (pura-pura) ceria.

“Ya udah, thankyou Vanilla. Have a good lunch~” sahutnya sambil mencubit pelan pipiku lalu berbelok menuju ruang guru.

Aku pun hanya mengehembuskan nafas pelan dan dengan gontai berjalan menyusul ketiga temanku di kantin sekolah.

Sesampainya di kantin, aku melihat Nindya yang menunjuk ke arahku, yang lalu diikuti dengan gerakan melambai heboh yang-sebenarnya-tidak-diperlukan, yang dilakukan oleh Beth. Aku pun berjalan ke arah mereka, dan menampilkan senyum paksa ketika tiba di hadapan mereka.

Beruntung saat itu, ada dia yang aku damba-dambakan tergeletak di atas meja itu, di atas piring, di sebelah es milo yang tidak kalah berkilau.

“Wahhhhhhh~~~” seruku dengan mata berbinar.
Aku pun langsung mengambil posisi di sebelah Beth, dan tanpa ba bi bu langsung menyendok lalu menyuap martabak yang sangat menggairahkan itu. Makanan enak pamali dibiarin dingin. Nggak lupa ku seruput juga es milo setelah menghabiskan satu suapan martabak. Biar dia nggak jeles sama martabak.

“Santai Van... Istirahat masih lama.” ucap Nindya di depanku.
Aku pun nyengir sambil tetap melanjutkan makanku. Hanya saja tempo ngunyahnya kuturunkan, karena aku yakin sebentar lagi 3 makhluk di hadapan dan disampingku ini pasti mengajukan sebuah pertanyaan.

“Dimintain tolong apa sama Ma’am Dara?” tanya mereka kompak.

Aku pun mengangkat gelas es milo ke hadapan mereka yang maksudnya adalah : “Minum dulu ya geng.”. Mereka pun cuma ngangguk dan menanti dengan sabar.

“Jadi mulai besok, setiap pagi Ma’am Dara bakal naroh nasi goreng jualannya di kelas. Dan gue diminta buat kelola dan jagain duit hasil jualannya.” sahutku to the point.

Respon mereka? Cuma bertukar pandang satu sama lain, dan beberapa saat kemudian...

“Wuahahahahaha!!!”

Ketawa berjamaah mereka. Sialan betul. Satu kantin ini dan kantin-kantin sebelahnya langsung melihat ke arah kami.

“Apa yang lucu sih?” gumamku sambil melanjutkan makan martabak dan membiarkan mereka ngakak.

“Pfffttt...Gini deh, kita tuker posisi. Lo punya temen, yang nggak suka diperlakukan beda sama guru A karena jabatan Ayahnya. Tapi guru B justru masa bodo sama jabatan Ayah nya, dan malah disuruh jualan. Ngerasa lucu nggak sih lo? Kayak. Kok hidup dia tu begitu bangetttt gitu? Whahaha” tanya Beth padaku yang masih ngakak dengan lebar kaya kuda nil.

Aku melihat ke arah Beth dan mengerutkan keningku.

Bener juga sih. Di satu sisi aku nggak mau diistimewakan ataupun didzalimi gara-gara siapa Ayah. Dan Ma’am Dara melakukan itu, karena dia nggak peduli aku anak siapa tetep aja disuruh di jualan. Tapi ya tetap aja berat disuruh dateng lebih pagi, terus tiap istirahat mesti mlipir dulu buat ngumpulin duit ke beliau. Iya lah, aku nggak pengen bikin martabak ku menunggu terlalu lama. emoticon-Frown

“Kalau gue jadi lo, justru prihatin gue. Kan temen lagi susah.“ sahutku.

“Nah sama, kita juga prihatin makanya ketawa. Ahahaha” sahutnya lagi.

Sialan kuadrat. Prihatin tapi diketawain. Persahabatan sesungguhnya ya begini nih. Demen liat temen susah.

“Berarti jawaban dari pertanyaan lo tadi di kelas udah kejawab ya Van? Hahaha” ucap Nindya.

Aku pun mengerutkan kening sambil menatap Nindya.

“Pertanyaan apaan Nin?”

“Kan tadi di kelas lo bingung, kok Ma’am Dara bisa perhatian banget sama lo lagi ngapain, padahal lo kan ketutupan badan Beth yang gede. Hahaha” saut Nindya sambil nunjuk ke arah Beth.

Beth yang ngerasa namanya dicatut pun melotot ke arah ku. Set dah Nindya, kalimat pendukung nya kan nggak usah dimasukkin juga nggak papa. Jujur amat jadi orang. emoticon-Nohope

“Aaaaakkkk......” ujarku sambil menyodorkan sedotan dari gelas berisi es milo punyaku.

Satu-satunya cara yang kepikiran buat memadamkan emosi Beth sebelum dia meluapkannya. Siapa sih yang bisa melawan segernya es milo di siang hari yang panas? Ceilehhh, udah kaya sales milo aja.

Dan nyatanya emang berhasil sih, pelototan Beth pelan-pelan meredup. Dia malah jadi merem melek karena keenakan minum es milo. Kalo nggak abis nggak berhenti tuh kayanya. Ya udah lah, biarin aja yang penting selamat.

“Biarin badan gue gede, yang penting nggak jualin nasi goreng. Ahahaha” ucap Beth tiba-tiba setelah menandas habis es milo punyaku.
“Sialan. Diingetin lagi.” umpatku singkat yang hanya direspon dengan tertawa berjamaah lagi oleh ketiga sahabatku.

---

Dan seperti yang sudah dijanjikan oleh Ma’am Dara, setiap pagi satu plastik besar warna merah berisi sekitar 20 kotak nasi goreng selalu ready di pojokkan kelas alias di meja ku. Nggak susah buat Ma’am Dara menemukan siswa yang disuruh bawa itu nasi goreng. Ma’am Dara tinggal cegat siswa beruntung yang lambang kelasnya warna kuning, alias kelas 7.

Aku pun mau nggak mau harus datang lebih pagi dan merelakan waktu ngantin pagi ku dengan duduk manis nungguin nasi goreng di kelas. Mau ditinggal juga takut, duit coy urusannya. Duit guru pulak. Kalo duit yang aku kasih nggak sesuai sama berapa kotak yang habis kan bisa berabe.

Tapi ya sisi positifnya adalah, setiap hari dapet nasi goreng gratis sih, lumayan lah ngemat uang jajan. Kalo lagi nggak pengen, tinggal dijual, terus uangnya dipake beli martabak ekstra pas istirahat.

Biasanya uangnya bakal aku setorin ke Ma’am Dara setiap istirahat pertama, sebelum aku ke kantin. Dan hari ini pun seperti biasa, aku berpisah dengan ketiga temanku setelah menuruni tangga. Karena kantin arahnya lurus, sedangkan aku harus belok kanan untuk menuju ruang guru.

Setelah masuk ke ruang guru, aku tidak menemukan Ma’am Dara di meja biasa beliau duduk. Aku pun balik lagi ke depan, mengintip ke dalam pengawas harian, siapa tau beliau ada di sana.

“Nyari siapa mbak?” tanya seorang guru laki-laki padaku.

Di dadanya dapat kulihat badge nama “Dirdjo Nugroho”. Setahuku bapak ini adalah guru matematika kelas 9. Dan anak beliau ini juga sohib deketnya si Leo, Hutama namanya.

“Oh, ini pak. Ma’am Dara kemana ya pak?” tanyaku.
“Ohh, mau ngumpulin duit nasi goreng ya?” tanya beliau sambil tersenyum.
“Hehe iya pak..”
“Ma’am Dara lagi keluar, motokopi soal buat ulangan harian katanya. Tadi titip pesan, kalo ada yang mau ngumpul uang disuruh ke kelas 7A sehabis bel istirahat. “ ucap beliau.
“Ohh gitu ya pak? Baik pak, saya pamit kalau gitu. Permisi pak...” pamitku sambil berlalu dan melangkahkan kakiku menuju kantin. Menemuiku martabakku yang tercinta yang sudah terbayang kelezatannya.

---

Teeettt...Teeettt...Teeettt...

“Eh, gue ke kelas 7A dulu yak, ngumpulin duit. Bahaya ni duit lama-lama di kantong gue, takut khilaf.” ucapku sambil berdiri lalu menyedot habis es milo di dalam gelasku.
“Iyeee dehh asisten Ma’am Dara. Semangat yeee... Ahahaha” saut Beth.
“Sirik aja lo. Membantu guru itu adalah ibadah! Dah ah! Nih, bayarin punya gue yak. Ambil aja kembaliannya.” ujarku yang berlalu setelah meninggalkan sejumlah uang di meja.

“Kembalian pala lo peyang! Duitnya aja kuranggg!!!” teriak Beth yang sayup-sayup ku dengar. Aku tidak menggubris dan tetap berlari sambil nyengir karena reaksi Beth barusan.

Aku harus cepat, soalnya setelah istirahat adalah kelas Ibu Ningsih. Bisa berkepanjangan konflik ku sama beliau kalo aku berulah terus. Dan lagi, kelas 7A juga letaknya di bangunan yang berbeda denganku. Jadi aku harus naik turun tangga beberapa kali.

Tok-tok-tok

“Heks..cyus..mi.. meem..hhh” ucapku terbata-bata karena masih ngos-ngosan abis lari naik tangga.

Ma’am Dara yang lagi berada di meja guru di depan pun melihat ke arahku lalu senyum sambil melambaikan tangannya.

“Oh, Vanilla! Come in~” seru beliau.

Aku pun menganggukkan kepalaku lalu masuk dengan gontai ke dalam kelas, dan langsung menuju meja guru tempat Ma’am Dara sedang menantiku sambil tersenyum.

“Hinii.. duitnya Ma’am.” ucapku menyerahkan uang nasi goreng sambil curi-curi untuk menarik nafas.
“Oke, Ma’am count dulu. You tarik nafas dulu lah for a second. Okay?” ucap beliau sambil menerima uang.

Aku pun cuma ngangguk pelan aja sambil menoleh ke belakang mencari teman di kelas 7A ini. Setelah ketemu, aku pun akhirnya berjalan ke meja Cahaya. Teman sebangku ku waktu SD.

“Ya, ada minum nggak? Dehidrasi maksimalllll...” tanyaku padanya.

Yang ditanya cuman ngambilin botol minum terus ngasihin ke aku. Tanpa buang waktu, aku pun langsung membuka botol minum itu dan mereguknya beberapa teguk.

“Makasih banyak ya Cahaya yang menerangi hari-hariku waktu SD. Hehehe” cengirku sambil menyerahkan botol minumnya.

“Jijik Van, sumpah. emoticon-Nohope Iye, sama-sama. “ sahutnya sambil menyimpan kembali botol tersebut.

“Mau ulangan harian ya ini kelas?” tanyaku.
“Iya nih. Untung lo dateng, jadi diundur deh sebentar ahaha” sahutnya.

“Vanilla!” panggil Ma’am Dara. Aku pun berbalik dan kembali ke meja guru.

“Gimana Ma’am? Pas aja kan money nya?”
“Yes, thank you sweety. You may go to your class now.” ucap Ma’am Dara padaku sambil menampilkan senyum terbaiknya.

Ya iyalah senyum, baru dapet duit. Aku pun cuma senyum sambil ngangguk pelan tanda pamit, dan bersiap buat sprint lagi menuju kelasku yang aku yakin Ibu Ningsih sudah ada di dalamnya.

“Vanilla!” panggil seseorang saat aku sudah berada di depan tangga turun dari lorong kelas itu.

Aku pun berbalik dan melihat seseorang yang beberapa waktu terakhir ini menjadi korban kejahatan identitas palsuku.


Ya.


Leo.
0
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.