- Beranda
- Stories from the Heart
GW BERTEMAN DENGAN KOLONG WEWE (CHAPTER 3 / FINAL CHAPTER)
...
TS
juraganpengki
GW BERTEMAN DENGAN KOLONG WEWE (CHAPTER 3 / FINAL CHAPTER)
GW BERTEMAN DENGAN KOLONG WEWE (CHAPTER 3 / FINAL CHAPTER)

Cool Cover By Agan Linbara (Thanks, Bree)..
Prolog
Setelah bangun dari ‘Mati Suri’ karena memutuskan untuk mencoba membunuh diri sendiri untuk melindungi Kitab Langit dan melenyapkan Bayu Ambar, gw kembali ke dunia nyata.. Kehidupan gw sedikit jauh berbeda, karena pengalaman ‘Mati Suri’ itu berefek langsung pada kelebihan yang gw miliki.. Gw masih sama Anggie, meski ujian atas cinta kami masih saja mendera.. Ada musuh baru, tentu saja.. Tapi ada juga sahabat baru yang muncul.. Karena ini akhir dari cerita kami berempat..
Kembalinya Anak Ibu...
Pengorbanan Pedang Jagat Samudera...
Cintai Aku Sewajarnya, Yank...
Matinya Seorang Saudara (Versi Gw/Bimo)
Berkumpul Kembali...
Keanehan Yang Mulai Muncul...
Sambutan Ketiga Saudara Ke Reinata...
Sabar???
Cukup! Tinggalin Aku Sendiri!!!
Siapa Kau???
Aku Ikutin Kemauan Kamu...
Keputusan Sepihak Yang Pahit...
Semua Beban Menjadi satu
Semua Beban Menjadi Satu (2)...
Serangkum Rindu Untuk Ayah...
Munculnya Penguasa Laut Utara...
Bertemunya Dua Penguasa...
Sebuah Kesepakatan...
Ibu Kenapa Yah???
Lu Kenapa, Ka???
Wanted Dead Or Alive.. ANTON!!!
Mo 'Perabotan' Lu Hancur Apa Tanggung Jawab???
It's The End Of Us...
Di Kerjain Ibu...
Ridho!!!
Kelewatan!!!
Munculnya Dua Penjaga Gerbang Kerajaan Laut...
Dewi Arum Kesuma VS Dewi Ayu Anjani
Datangnya Sosok Seorang Pemisah Dan Shock Therapy Buat Gw...
Kerajaan Jin...
Terkuaknya Semua Jawaban...
Maafin Gw, Bree...
Pengakuan Suluh...
Akhirnya Boleh Gondrong...
Pernikahan Kak Silvi Yang Seharusnya Membuat Gw Bahagia...
Pernikahan Kak Silvi Yang seharusnya Membuat Gw Bahagia (2)...
Tunggu Pembalasan Gw!!!...
Ni Mas Linduri dan Banas Ireng...
Dua Sosok Penyelamat Misterius...
Ada Apa Sama Ridho?...
Kesalahan Fatal...
Kembalinya Jin Penjaga Ridho dan Suluh...
Akibat Terlalu Ikut Campur...
Setiap Perbuatan Akan Mendapat Balasan...
Munculnya Viny Dan Sebuah Tantangan Bertarung...
Manusia Cabul...
Suara Penolong Misterius...
Bertemunya Kembali Sepasang Kekasih...
Terkuaknya Kebenaran...
Kabar Baik Ayu Dan Prasangka Sekar...
Kabar Baik Ayu Dan Prasangka Sekar (2)...
Jaket Dan Celana Jeans Robek Serta Sweater Hitam Kumal...
She's My True Love...
Dilema...
Pertengkaran Dengan Ibu...
Rambe Lantak...
Gendewa Panah Pramesti...
Akan Ku Balaskan Dendam Mu, Arum Kesuma!!!
Yang Hilang dan Yang Kembali...
Jawaban Ayu...
Mati Gw!!!
Aku Makin Sayang...
Nasihat Om Hendra...
Jera Mencuri...
Ajian Segoro Geni...
Pilihan Sulit...
Keputusasaan Anggie...
Kabar Baik dari Ridho dan Suluh...
Perjalanan Menuju Pembalasan Dendam...
Rawa Rontek...
Rawa Rontek 2 (Terbayarnya Dendam)...
Kedatangan Pak Sugi...
Orang Titipan...
Hukuman Paling Berat...
Tidurlah Di Pangkuan Ku...
Menjajal Kesaktian...
Menjajal Kesaktian (2)...
Pengakuan Mengejutkan Babeh Misar...
Pengajaran Ilmu Silat Betawi...
Di Kepret Babeh Misar Lagi...
Tasya...
Naga Caglak dan Bajing Item...
Misteri Sebuah Dendam...
Kekuatan Sejati Kitab Langit Bagian Matahari...
Perpisahan...
Tanah, Air, Api dan Setetes Darah dari Jantung Seorang Putera...
Tanah, Air, Api dan Setetes Darah dari Jantung Seorang Putera (2)...
Kembalinya Ibu...
Empat Bayangan Hitam...
Siapa Ni Mas Laras Rangkuti???
Dendam Seorang Sahabat...
Ini Keputusan Yang Harus Gw Ambil...
Semua Pengorbanan Ini Demi Ibu...
Rapuh...
Kabar Mengejutkan Sekar dan Sebuah Restu...
Siasat Braja Krama...
Munculnya Kitab Langit...
Si Pembuka Kitab langit dan Sosok Asli Pak Sugi...
Rencana Yang Matang...
Lamaran Pribadi...
Keingintahuan Anggie...
Perubahan Rencana...
Hampir Terjebak...
Kekecewaan Sekar...
Dua Syarat Reinata...
Aku Harap Kamu dan Anggie Bahagia, Mam...
Rahasia Sepasang Suami Isteri...
Menitipkan Amanah...
Berkumpulnya Para Pembela Kitab Langit...
Siasat Ki Purwagalih...
Raja Jin Raja Muslihat (Nyesek, Bree)...
Pertukaran Tawanan...
Perang Gaib PunTak Terelakkan...
Sang Penyelamat Dari Utara...
Pertempuran Awal Dua Penguasa Kerajaan Gaib...
Bertekuk Lututnya Sekutu Braja Krama...
Pertarungan Dua Putera (Gugurnya Satu Sahabat Gaib)...
Krama Raja...
Braja Krama Versus Krama Raja...
Raja Licik...
Aku Lah Sang Pembuka...
Siasat Krama Raja dan Bayu Ambar...
Terbukanya Semua Ilmu Terlarang...
Sebuah Pengecualian...
Sri Baduga Maharaja...
Hilangnya Sebuah Pengecualian...
Hilangnya Sebuah Pengecualian (2)...
Sebuah Pengorbanan...
Pahlawan...
Sumpah...
Ilmu Pamungkas yang Terlarang...
Kabar Yang Mengejutkan...
Pulang...
Pulang (2)...
Sedikit Kisah Rio Sebelum Kisah Ini Tamat...
Terhalang Sumpah...
Bantuan Sahabat Baik...
Bachelor Party...
Keturunan Lain Sang Prabu...
Pembalasan Dendam Singgih...
Sepenggal Kisah Nyi Mas Roro Suwastri...
Tawaran Yang Mengejutkan...
Lawan Atau Kawan???
Terkuaknya Silsilah...
Sebuah Kebenaran...
Sebuah Kebenaran (2)...
Bertemunya Dua Keturunan Sang Prabu...
Pertempuran Dua Hati...
Cinta Pertama VS Cinta Terakhir Jagat Tirta...
Pengakuan Bayu Barata...
Ki Larang dan Nyi Mas Galuh Pandita???
Prana Kusuma...
Kau Benar Keturunan Kami, Ngger...
Our Big Day...
Insiden...
Munculnya Para Tamu Tak Terduga...
Munculnya Para Tamu Tak Terduga (2)...
Dua Tamu Istimewa...
Semua Karena Cinta...
Keputusan Sekar Kencana...
Kena Gampar...
Bonyok!!!
RIBET!!!
Berdamai...
Keponakan Baru...
Malam Pertama dan Tiga Keanehan...
Ajian Warisan Para Leluhur (The Last Part/End Of All Chapters)
SIDE STORIES
Keturunan Yang Tersesat...
Keturunan Yang Tersesat (2)...

Cool Cover By Agan Linbara (Thanks, Bree)..
Prolog
Setelah bangun dari ‘Mati Suri’ karena memutuskan untuk mencoba membunuh diri sendiri untuk melindungi Kitab Langit dan melenyapkan Bayu Ambar, gw kembali ke dunia nyata.. Kehidupan gw sedikit jauh berbeda, karena pengalaman ‘Mati Suri’ itu berefek langsung pada kelebihan yang gw miliki.. Gw masih sama Anggie, meski ujian atas cinta kami masih saja mendera.. Ada musuh baru, tentu saja.. Tapi ada juga sahabat baru yang muncul.. Karena ini akhir dari cerita kami berempat..
Kembalinya Anak Ibu...
Pengorbanan Pedang Jagat Samudera...
Cintai Aku Sewajarnya, Yank...
Matinya Seorang Saudara (Versi Gw/Bimo)
Berkumpul Kembali...
Keanehan Yang Mulai Muncul...
Sambutan Ketiga Saudara Ke Reinata...
Sabar???
Cukup! Tinggalin Aku Sendiri!!!
Siapa Kau???
Aku Ikutin Kemauan Kamu...
Keputusan Sepihak Yang Pahit...
Semua Beban Menjadi satu
Semua Beban Menjadi Satu (2)...
Serangkum Rindu Untuk Ayah...
Munculnya Penguasa Laut Utara...
Bertemunya Dua Penguasa...
Sebuah Kesepakatan...
Ibu Kenapa Yah???
Lu Kenapa, Ka???
Wanted Dead Or Alive.. ANTON!!!
Mo 'Perabotan' Lu Hancur Apa Tanggung Jawab???
It's The End Of Us...
Di Kerjain Ibu...
Ridho!!!
Kelewatan!!!
Munculnya Dua Penjaga Gerbang Kerajaan Laut...
Dewi Arum Kesuma VS Dewi Ayu Anjani
Datangnya Sosok Seorang Pemisah Dan Shock Therapy Buat Gw...
Kerajaan Jin...
Terkuaknya Semua Jawaban...
Maafin Gw, Bree...
Pengakuan Suluh...
Akhirnya Boleh Gondrong...
Pernikahan Kak Silvi Yang Seharusnya Membuat Gw Bahagia...
Pernikahan Kak Silvi Yang seharusnya Membuat Gw Bahagia (2)...
Tunggu Pembalasan Gw!!!...
Ni Mas Linduri dan Banas Ireng...
Dua Sosok Penyelamat Misterius...
Ada Apa Sama Ridho?...
Kesalahan Fatal...
Kembalinya Jin Penjaga Ridho dan Suluh...
Akibat Terlalu Ikut Campur...
Setiap Perbuatan Akan Mendapat Balasan...
Munculnya Viny Dan Sebuah Tantangan Bertarung...
Manusia Cabul...
Suara Penolong Misterius...
Bertemunya Kembali Sepasang Kekasih...
Terkuaknya Kebenaran...
Kabar Baik Ayu Dan Prasangka Sekar...
Kabar Baik Ayu Dan Prasangka Sekar (2)...
Jaket Dan Celana Jeans Robek Serta Sweater Hitam Kumal...
She's My True Love...
Dilema...
Pertengkaran Dengan Ibu...
Rambe Lantak...
Gendewa Panah Pramesti...
Akan Ku Balaskan Dendam Mu, Arum Kesuma!!!
Yang Hilang dan Yang Kembali...
Jawaban Ayu...
Mati Gw!!!
Aku Makin Sayang...
Nasihat Om Hendra...
Jera Mencuri...
Ajian Segoro Geni...
Pilihan Sulit...
Keputusasaan Anggie...
Kabar Baik dari Ridho dan Suluh...
Perjalanan Menuju Pembalasan Dendam...
Rawa Rontek...
Rawa Rontek 2 (Terbayarnya Dendam)...
Kedatangan Pak Sugi...
Orang Titipan...
Hukuman Paling Berat...
Tidurlah Di Pangkuan Ku...
Menjajal Kesaktian...
Menjajal Kesaktian (2)...
Pengakuan Mengejutkan Babeh Misar...
Pengajaran Ilmu Silat Betawi...
Di Kepret Babeh Misar Lagi...
Tasya...
Naga Caglak dan Bajing Item...
Misteri Sebuah Dendam...
Kekuatan Sejati Kitab Langit Bagian Matahari...
Perpisahan...
Tanah, Air, Api dan Setetes Darah dari Jantung Seorang Putera...
Tanah, Air, Api dan Setetes Darah dari Jantung Seorang Putera (2)...
Kembalinya Ibu...
Empat Bayangan Hitam...
Siapa Ni Mas Laras Rangkuti???
Dendam Seorang Sahabat...
Ini Keputusan Yang Harus Gw Ambil...
Semua Pengorbanan Ini Demi Ibu...
Rapuh...
Kabar Mengejutkan Sekar dan Sebuah Restu...
Siasat Braja Krama...
Munculnya Kitab Langit...
Si Pembuka Kitab langit dan Sosok Asli Pak Sugi...
Rencana Yang Matang...
Lamaran Pribadi...
Keingintahuan Anggie...
Perubahan Rencana...
Hampir Terjebak...
Kekecewaan Sekar...
Dua Syarat Reinata...
Aku Harap Kamu dan Anggie Bahagia, Mam...
Rahasia Sepasang Suami Isteri...
Menitipkan Amanah...
Berkumpulnya Para Pembela Kitab Langit...
Siasat Ki Purwagalih...
Raja Jin Raja Muslihat (Nyesek, Bree)...
Pertukaran Tawanan...
Perang Gaib PunTak Terelakkan...
Sang Penyelamat Dari Utara...
Pertempuran Awal Dua Penguasa Kerajaan Gaib...
Bertekuk Lututnya Sekutu Braja Krama...
Pertarungan Dua Putera (Gugurnya Satu Sahabat Gaib)...
Krama Raja...
Braja Krama Versus Krama Raja...
Raja Licik...
Aku Lah Sang Pembuka...
Siasat Krama Raja dan Bayu Ambar...
Terbukanya Semua Ilmu Terlarang...
Sebuah Pengecualian...
Sri Baduga Maharaja...
Hilangnya Sebuah Pengecualian...
Hilangnya Sebuah Pengecualian (2)...
Sebuah Pengorbanan...
Pahlawan...
Sumpah...
Ilmu Pamungkas yang Terlarang...
Kabar Yang Mengejutkan...
Pulang...
Pulang (2)...
Sedikit Kisah Rio Sebelum Kisah Ini Tamat...
Terhalang Sumpah...
Bantuan Sahabat Baik...
Bachelor Party...
Keturunan Lain Sang Prabu...
Pembalasan Dendam Singgih...
Sepenggal Kisah Nyi Mas Roro Suwastri...
Tawaran Yang Mengejutkan...
Lawan Atau Kawan???
Terkuaknya Silsilah...
Sebuah Kebenaran...
Sebuah Kebenaran (2)...
Bertemunya Dua Keturunan Sang Prabu...
Pertempuran Dua Hati...
Cinta Pertama VS Cinta Terakhir Jagat Tirta...
Pengakuan Bayu Barata...
Ki Larang dan Nyi Mas Galuh Pandita???
Prana Kusuma...
Kau Benar Keturunan Kami, Ngger...
Our Big Day...
Insiden...
Munculnya Para Tamu Tak Terduga...
Munculnya Para Tamu Tak Terduga (2)...
Dua Tamu Istimewa...
Semua Karena Cinta...
Keputusan Sekar Kencana...
Kena Gampar...
Bonyok!!!
RIBET!!!
Berdamai...
Keponakan Baru...
Malam Pertama dan Tiga Keanehan...
Ajian Warisan Para Leluhur (The Last Part/End Of All Chapters)
SIDE STORIES
Keturunan Yang Tersesat...
Keturunan Yang Tersesat (2)...
Diubah oleh juraganpengki 15-07-2018 20:23
adriantz dan 133 lainnya memberi reputasi
128
2.1M
8K
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.7KAnggota
Tampilkan semua post
TS
juraganpengki
#1874
Bertemunya Kembali Sepasang Kekasih...
“Bangunlah! Kau tidak seharusnya pingsan di saat seperti ini” Ucap seorang wanita yang terdengar samar di kedua indera pendengaran..
Gw hanya mengangguk lemah dan mengikuti gerakan tubuh yang sedang di goyang-goyangkan oleh seseorang..
Kedua mata gw sempat terbuka sedikit dan melihat seorang gadis asing sedang mencengkram kaus yang gw kenakan, sambil menepuk pipi gw beberapa kali.. Karena merasakan kedua mata berat seperti sedang dibanduli dua buah batu dan dengan kondisi masih sangat lemah, gw menutup mata kembali..
Samar-samar, gw mendengar suara seorang perempuan sedang memaki sebal dengan bahasa Sunda yang tidak begitu gw mengerti.. Lalu,..
BYURRR...
Seketika gw melompat bangun saat merasakan air dingin telah disiramkan oleh seseorang.. Gw langsung bersiap siaga dengan mencoba menggunakan Ajian Tapak Jagat di kedua telapak tangan.. Tapi, jangan kan mengeluarkan Ajian Tapak Jagat, tubuh gw yang sudah berdiri saja terasa sangat lemah dan seketika terjatuh..
“Kau tidak seharusnya berdiri, Bocah Edan.. Tenaga mu masih belum pulih benar, meski semua racun sudah keluar dari telapak tangan” Ucap Jin yang berwujud gadis cantik berpakaian ala puteri kerajaan, seperti Sekar, namun warnanya saja yang berbeda yaitu biru..
Gw tersentak mendengar kalimat gadis asing itu, lalu melirik ke telapak tangan kanan yang masih terbalut potongan lengan jaket.. Kedua mata gw membesar begitu melihat darah hitam, nampak merembes keluar dari balutan jaket dan menetes jatuh ke atas tanah..
“Jadi, semua racun Dewi Arum Kesuma sudah lenyap dari badan gw” Ucap gw dengan suara lirih..
“Benar, semua itu karena bantuan ku” Sambar gadis cantik yang sedari tadi terdengar berbicara, meski wajahnya sedikit menyiratkan raut sinis..
“Maaf, jika aku boleh bertanya, siapa gerangan Nyai yang sudah menolong ku?” Tanya gw dengan sopan
Gadis cantik yang kepala dan rambut panjangnya tertutup mahkota biru itu, memutar tubuh dan menghadap ke arah gw.. Gw tertegun menatap wajah cantik Jin tersebut, yang sepertinya pernah gw lihat, tapi entah kapan dan dimana.. Selendang biru yang mengikat pinggang ramping Jin itu nampak tersibak ke belakang, karena tertiup hembusan angin..
“Panggil aku Nyi Mas Galuh Pandita.. Aku juga yang menolong mu saat kau jatuh tak sadarkan diri di depan rumah gadis yang kau cintai, beberapa waktu lalu” Jawab gadis yang mengaku bernama Nyi Mas Galuh Pandita, dan membuat gw kembali tercengang..
“Jadi, kau juga yang telah menolongku waktu itu? Aku sangat sangat berterimakasih padamu, Nyi Mas”
“Sudah lah.. Lebih baik, sekarang aku membantu mu memulihkan tenaga” Kata Nyi Mas Galuh Pandita sambil melayang, dan duduk di belakang, lalu menempelkan kedua tangannya ke punggung gw..
Gw sendiri memejamkan kedua mata, mencoba menyelaraskan jalan nafas dan detak jantung, agar aliran darah kembali normal.. Perlahan, gw merasakan hawa hangat keluar dari dua telapak tangan Nyi Mas Galuh Pandita dan terus merasuk menyebar ke seluruh tubuh..
Tak memakan waktu lama, gw merasakan tenaga luar dan dalam sudah hampir seluruhnya pulih..Jin cantik yang sudah dua kali menolong gw itu, menarik kedua tangannya dari punggung gw dan kembali melayang beberapa tombak ke samping kanan..
“Untuk luka di telapak tangan mu, aku tidak bisa mengobati.. Luka dari salah satu senjata pusaka Kerajaan Laut Utara tidak bisa disembuhkan oleh kekuatan gaib apapun.. Mau tidak mau, kau harus menunggu luka itu sembuh dengan sendirinya.. Tapi, kau bisa menggunakan khasiat daun kelor untuk mempercepat kesembuhan” Ucap Nyi Mas Galuh Pandita yang membuat gw kembali melirik ke arah balutan lengan jaket di telapak tangan kanan..
“Baiklah, Nyi Mas.. Aku akan mengikuti saran mu.. Tapi, jika aku boleh meminta, bisa kah kau membawa ku kembali ke tempat tiga sahabat ku berada? Aku ingin menjelaskan semua kesalahpahaman” Pinta gw dengan sedikit sungkan ke Nyi Mas Galuh Pandita..
Untuk beberapa saat, Jin cantik yang nampak hampir sebaya dengan Sekar itu, terdiam seperti memikirkan sesuatu sambil melemparkan pandangan ke arah utara.. Gw mengerutkan dahi, melihat Nyi Mas Galuh Pandita nampak sedang memandang ke suatu titik di arah utara.. Lalu, Jin cantik itu kembali membalikkan tubuhnya dan melayang mendekat..
“Lekas pegang lenganku.. Aku merasakan beberapa Ilmu Kesaktian cukup kuat dari arah utara.. Kemungkinan, sahabat mu sedang bertarung satu sama lain” Perintah Nyi Mas Galuh Pandita yang membuat gw mulai merasa cemas setelah mendengar perkataannya..
Tanpa pikir panjang, gw melakukan apa yang beliau perintahkan, yaitu memegang lengan kanannya.. Kedua mata gw mulai terpejam, saat Nyi Mas Galuh Pandita menganggukan kepala, sebagai pertanda ia akan segera membawa gw kembali ke tempat Sekar dan dua utusan Kerajaan Laut Utara berada..
Sedetik kemudian, gw langsung membuka kedua indera penglihatan begitu mendengar suara ledakan cukup hebat.. Di jarak kurang lebih sepuluh tombak, asap pekat berwarna hitam nampak menutupi jarak pandangan mata.. Samar-samar, gw bisa melihat sosok Raden Jaka Wastra nampak sedang memegangi tubuh Dewi Arum Kesuma yang terjatuh..
Lima tombak dihadapan mereka, sosok Sekar sedang menyilangkan kedua kaki merapat diatas bumi, sementara dua tangannya terlipat lurus ke langit.. Wajah Jin Penjaga gw itu nampak sedikit pucat, meski tatapan mata nya yang masih basah seperti habis menangis, menyorot tajam ke arah Dewi Arum Kesuma..
Gw yang tidak mau kedua belah pihak, yang gw anggap sahabat harus bertarung satu sama lain, berniat untuk melompat maju dan melerai.. Namun, cengkraman tangan kanan Nyi Mas Galuh Pandita di bahu kanan secara tiba-tiba, membuat gw menghentikan tindakan..
“Jangan terlalu cepat melerai mereka..” Kata Nyi Mas Galuh Pandita..
“Tapi, Nyi.. Mereka semua sahabatku.. Aku harus...”
“Diam! Turuti perintahku, Bocah Edan.. Aku ingin melihat Jin cantik berselendang emas itu, memberi pelajaran ke sosok yang telah meracuni mu.. Lagipula, aku sudah menutupi tubuh kita dengan Ajian Halimun Panon di tingkat paling sempurna.. Tidak ada satupun Jin yang bisa melihat atau merasakan kehadiran kita, meski berdiri tepat didepan hidung mereka sekalipun” Kata Nyi Mas Galuh Pandita dengan nada suara tinggi serta kedua mata melotot, lalu menatap kembali ke arah medan pertarungan..
Gw sebenarnya merasa sebal dengan tingkah Jin yang sudah menolong itu, tapi entah mengapa tiap memandang wajahnya, terutama dikedua mata, selalu saja gw merasa segan.. Mau tidak mau, gw pun harus menahan ludah dan mengikutinya melempar pandangan ke arah Sekar dan dua sahabat dari Kerajaan Laut Utara..
“Aku tidak akan mengampuni mu, karena telah meninggalkan Imam setelah kau racuni.. Bersiaplah kalian menerima serangan ku dua mahluk keji” Ucap Sekar dengan dua butir air mata menetes di pipinya..
Gw tertegun melihat raut kesedihan amat dalam, terpancar dari wajah Jin Penjaga gw itu.. Namun, tertegunnya gw seketika menghilang berganti rasa gusar, saat melihat kedua mata Sekar berubah memutih, bersamaan dengan dua tangannya yang terlipat ke atas, perlahan turun dan terentang lurus kesamping..
Kedua kaki jenjang milik Sekar yang semula menyilang, mulai kembali sejajar.. Lalu sebelah kaki kanannya tertekuk naik dan berhenti tepat di depan dada.. Perlahan-lahan, Sekar menggerakkan kedua tangannya yang sudah terentang, naik turun seperti bergerak mengikuti kepakan sayap seekor burung..
“Astaghfirullah, bagaimana mungkin Jin itu menguasai Ajian Burung Api Neraka?” Pekik Nyi Mas Galuh Pandita dengan suara tertahan dan kedua mata membesar..
Gw yang dari awal merasa gusar saat melihat berubah memutihnya kedua mata Sekar, malah dibuat semakin cemas setelah mendengar pekikan Nyi Mas Galuh Pandita dan menangkap raut terkejut diwajahnya..
“Ajian seperti apa yang akan dikeluarkan Jin Penjaga ku, Nyi Mas? Mengapa perasaan ku berubah cemas, melihat mu terkejut?”
“Ajian Burung Api Neraka, aku kenal betul siapa yang menciptakan Kesaktian itu.. Hanya aku dan yang menciptakannya saja, yang bisa melawan Ajian tersebut.. Dua Jin dari Kerajaan Laut Utara tidak akan mampu menahannya” Jawab Nyi Mas Galuh Pandita sambil terus menatap tajam ke arah Sekar, yang mulai mengeluarkan sinar merah menyala dari seluruh tubuhnya..
“Lekas kau lerai mereka, Nyi Mas.. Sebelum ada yang terluka salah satu dari ketiga sahabat ku.. Jangan sampai...”
“Diam!! Apakah kau selalu cerewet seperti ini? Aku tidak bisa menggagalkan Jin itu sebelum Ajiannya sempurna.. Apakah kau mau tubuh Jin cantik yang kau sebut sebagai Jin Penjaga mu itu, hancur lebur?” Kata Nyi Mas Galuh Pandita yang lagi-lagi membentak gw..
Seketika gw membungkam mulut sambil menggelengkan kepala, lalu melemparkan kembali pandangan ke arah tiga sosok Jin yang masing-masing hendak mengeluarkan Ilmu Kesaktiannya..
Kedua mata gw kembali membesar, saat melihat seluruh tubuh Sekar mulai terbakar oleh api aneh berwarna merah menyala.. Raut wajah Sekar yang terlihat dingin dengan kedua mata memutih, menandakan bahwa tubuhnya sama sekali tidak merasakan panasnya api yang membakar dan semakin berkobar.. Perlahan-lahan, sosok Sekar mulai melayang naik ke atas, seiring seluruh tubuhnya sudah sempurna menjelma menjadi seekor burung api raksasa..
Dari arah berlawanan, Raden Jaka Wastra nampak sudah duduk bersila, sementara Dewi Arum Kesuma berdiri di sampingnya dengan Trisula Perak yang sudah memancarkan sinar perak sangat terang, layaknya lampu ratusan watt yang membuat seisi hutan semakin terang benderang..
Suara hewan-hewan penghuni hutan terdengar riuh, seperti sedang mencoba menyelamatkan diri dengan cara menghindari tempat itu sejauh mungkin..
Raden Jaka Wastra terlihat menghunus Pedang Peraknya keatas langit.. Tiba-tiba, dari ujung Pedang Perak, keluar selarik sinar sangat terang yang melesat menembus angkasa dan membuat langit malam nampak gemerlapan dipenuhi cahaya..
Dari jarak cukup jauh, gw bisa merasakan ketiga sosok itu, sama-sama sedang mengeluarkan Ilmu Kesaktian dengan tingkat tenaga dalam hampir mencapai batasannya.. Tubuh Raden Jaka Wastra dan Dewi Arum Kesuma nampak bergetar, dengan kedua mata terus menatap tajam ke arah Burung Api Raksasa jelmaan Sekar..
Tiba-tiba, suara lengkingan keras keluar dari mulut Burung Api Raksasa, seiring sosok berselimutkan kobaran api luar biasa panas itu, menukik ke bawah, ke arah dua Jin utusan Kerajaan Laut Utara..
Melihat sebuah serangan mematikan akan menghantam mereka, Raden Jaka Wastra seketika melompat tinggi dan menyabetkan Pedang Peraknya ke arah Burung Api Raksasa jelmaan Sekar, disusul Dewi Arum Kesuma yang juga melompat ke atas sambil mengayunkan Trisula Peraknya..
Baru saja gw ingin meminta Nyi Mas Galuh Pandita untuk melakukan sesuatu, mendadak, Jin cantik berpakaian puteri kerajaan berwarna biru itu, melesat secepat kilat, sambil melemparkan Selendang Birunya yang nampak sudah mengeluarkan sinar cukup terang, ke arah Burung Api Raksasa jelmaan Sekar dan berhasil membelit bagian pinggang Hewan jadi-jadian tersebut..
Untuk sedetik, Burung Api Raksasa terlihat meronta, sambil cumiik kencang menggetarkan gendang telinga, mencoba melepas jeratan Selendang Biru dipinggangnya.. Namun, Selendang sakti milik Nyi Mas Galuh Pandita terlihat seperti menyerap kekuatan Ajian Burung Api Neraka..
Gw sempat lega begitu melihat Nyi Mas Galuh Pandita mampu meredam kekuatan Ajian Burung Api Neraka.. Tapi, pandangan gw kembali terbelalak saat melihat dua sinar perak dari Kesaktian Senopati Kerajaan Laut Utara dan Penjaga Gerbang nya, terus melesat ke arah Burung Api Raksasa jelmaan Sekar..
Nyi Mas Galuh Pandita yang menyadari akan hal itu, terlihat mengikat Selendang Biru miliknya dipinggang sendiri.. Lalu, kedua telapak tangan Jin cantik berbaju biru tersebut, berputar ke samping kiri dan kanan, kemudian dengan cepat ia luruskan ke arah dua sinar perak, seperti hendak mengeluarkan suatu Ajian lain..
Tapi, tiba-tiba, dari arah berlawanan, kedua mata gw menangkap sekelebat bayangan putih, juga melesat secepat kilat sambil melemparkan sebuah bola berwarna putih ke arah dua sinar perak milik Raden Jaka Wastra dan Dewi Arum Kesuma.. Melihat ada kawan yang hendak menghancurkan dua kesaktian bersinar perak, Nyi Mas Galuh Pandita menurunkan tangannya kembali dan melepas belitan Selendang Biru miliknya dari pinggang, lalu melompat menjauh sambil terus menggenggam kuat Selendangnya..
DUARRRR!!!!
Sebuah ledakan dahsyat tercipta, dari benturan bola putih yang dilemparkan sosok misterius, dengan dua Kesaktian milik dua utusan Kerajaan Laut Utara.. Gelombang ledakan bercampur bunga api berukuran besar, membuat puluhan pohon tercabut dari akar dengan daun yang terbakar.. Sementara, sosok Raden Jaka Wastra serta Dewi Arum Kesuma, terlempar ke belakang dan sempat menghantam dua pohon besar seukuran dua pelukan tangan orang dewasa, hingga batangnya terpatah menjadi dua..
Gw yang berdiri di jarak cukup jauh, juga sempat terdorong dua tombak ke belakang saat tersapu gelombang ledakan.. Beruntung, ada sebuah batu besar dibelakang yang bisa gw gunakan sebagai pijakan sebelah kaki, untuk menahan tubuh agar tak lagi tersudut mundur..
Dilain pihak, Burung Api Raksasa yang sudah menjelma kembali menjadi sosok Sekar, terlempar ke samping karena tersapu gelombang ledakan, namun dengan sigap, Nyi Mas Galuh Pandita menangkap tubuh Jin Penjaga gw itu, dan sempat menghalau sambaran api dari ledakan, dengan ujung Selendang Birunya yang mengeluarkan serangkuman angin besar..
Setelah efek ledakan berakhir, suasana hutan kembali temaram, meski beberapa pohon yang daunnya masih terbakar membantu menerangi suasana dengan cahaya apinya.. Gw yang menyadari sosok bayangan putih, yang telah berhasil menghalau dua sinar perak milik Raden Jaka Wastra dan Dewi Arum Kesuma, langsung melompat untuk mendekat ke arah mereka..
“Eyang” Ucap gw setengah berteriak, memanggil ke arah sosok Ki Suta..
Panggilan gw barusan, sontak membuat Nyi Mas Galuh Pandita berdiri dan menoleh ke arah Ki Suta.. Gw yang sudah berada di dekat Kakek Moyang gw itu, sempat menatap heran ke wajahnya yang memandangi sosok Nyi Mas Galuh Pandita dengan penuh arti..
Bukannya menyapa gw, Ki Suta malah melayang cepat ke arah Nyi Mas Galuh Pandita yang nampak memandangnya dengan kedua mata mulai berkaca-kaca.. Sekar yang wajahnya sangat pucat, langsung duduk bersila dan menyilangkan kedua telapak tangan di dadanya..
Sementara, dua sosok utusan Kerajaan Laut Utara juga berlaku sama.. Sosok Raden Jaka Wastra dan Dewi Arum Kesuma terlihat sudah duduk bersila dengan wajah sama pucat, meski jejak darah hitam nampak mengalir di sela kedua mulut mereka..
“Kanda, Suta Dewa” Seru Nyi Mas Galuh Pandita ke arah Ki Suta sambil berlari dengan kedua mata mulai dibanjiri air mata, lalu memeluk tubuh Kakek Moyang gw itu sangat erat..
“Nyi Mas” Sahut Ki Suta dengan suara bergetar, seraya membalas pelukan jin cantik itu sama eratnya..
Gw tidak mengerti melihat kedua Jin, yang sama-sama pernah berjasa menyelamatkan nyawa gw itu, sedang berpelukan erat sambil menangis.. Gw hanya bisa tertegun menatap mereka, yang mulai menatap wajah masing-masing dengan penuh arti..
Mendadak, gw teringat saat Bayu Ambar menunjukkan kilasan peristiwa masa silam.. Ingatan gw kembali ke sosok Ki Suta sedang menggendong bayi Jagat Tirta, sementara Istrinya yang merupakan puteri Raja Jin, menggendong bayi Bayu Ambar.. Sesaat, gw berusaha mengingat seperti apa rupa istrinya Ki Suta, atau Ibu nya Jagat Tirta dan Bayu Ambar.. Lalu, melempar pandangan ke arah Nyi Mas Galuh Pandita yang saat ini sedang meraba wajah Ki Suta..
Kedua mata gw seketika membesar, begitu ingat rupa istri nya Kakek Moyang gw tersebut, mirip sekali dengan wajah Nyi Mas Galuh Pandita.. Pantas saja, gw merasa seperti pernah melihat sosok jin cantik yang sudah dua kali menyelamatkan gw itu..
“Jadi, Nyi Mas Galuh Pandita adalah istri dari Ki Suta? Tapi, bukan nya Bayu Ambar bilang kalo Ibunya sedang menjalani hukuman dari Raja Jin yang merupakan Ayahandanya sendiri? Aneh..” Tanya gw ke diri sendiri, sambil terus melihat ke arah dua sosok gaib, yang sedang saling menatap penuh arti, layaknya sepasang kekasih yang baru bertemu kembali setelah sekian lama terpisah..
“Bangunlah! Kau tidak seharusnya pingsan di saat seperti ini” Ucap seorang wanita yang terdengar samar di kedua indera pendengaran..
Gw hanya mengangguk lemah dan mengikuti gerakan tubuh yang sedang di goyang-goyangkan oleh seseorang..
Kedua mata gw sempat terbuka sedikit dan melihat seorang gadis asing sedang mencengkram kaus yang gw kenakan, sambil menepuk pipi gw beberapa kali.. Karena merasakan kedua mata berat seperti sedang dibanduli dua buah batu dan dengan kondisi masih sangat lemah, gw menutup mata kembali..
Samar-samar, gw mendengar suara seorang perempuan sedang memaki sebal dengan bahasa Sunda yang tidak begitu gw mengerti.. Lalu,..
BYURRR...
Seketika gw melompat bangun saat merasakan air dingin telah disiramkan oleh seseorang.. Gw langsung bersiap siaga dengan mencoba menggunakan Ajian Tapak Jagat di kedua telapak tangan.. Tapi, jangan kan mengeluarkan Ajian Tapak Jagat, tubuh gw yang sudah berdiri saja terasa sangat lemah dan seketika terjatuh..
“Kau tidak seharusnya berdiri, Bocah Edan.. Tenaga mu masih belum pulih benar, meski semua racun sudah keluar dari telapak tangan” Ucap Jin yang berwujud gadis cantik berpakaian ala puteri kerajaan, seperti Sekar, namun warnanya saja yang berbeda yaitu biru..
Gw tersentak mendengar kalimat gadis asing itu, lalu melirik ke telapak tangan kanan yang masih terbalut potongan lengan jaket.. Kedua mata gw membesar begitu melihat darah hitam, nampak merembes keluar dari balutan jaket dan menetes jatuh ke atas tanah..
“Jadi, semua racun Dewi Arum Kesuma sudah lenyap dari badan gw” Ucap gw dengan suara lirih..
“Benar, semua itu karena bantuan ku” Sambar gadis cantik yang sedari tadi terdengar berbicara, meski wajahnya sedikit menyiratkan raut sinis..
“Maaf, jika aku boleh bertanya, siapa gerangan Nyai yang sudah menolong ku?” Tanya gw dengan sopan
Gadis cantik yang kepala dan rambut panjangnya tertutup mahkota biru itu, memutar tubuh dan menghadap ke arah gw.. Gw tertegun menatap wajah cantik Jin tersebut, yang sepertinya pernah gw lihat, tapi entah kapan dan dimana.. Selendang biru yang mengikat pinggang ramping Jin itu nampak tersibak ke belakang, karena tertiup hembusan angin..
“Panggil aku Nyi Mas Galuh Pandita.. Aku juga yang menolong mu saat kau jatuh tak sadarkan diri di depan rumah gadis yang kau cintai, beberapa waktu lalu” Jawab gadis yang mengaku bernama Nyi Mas Galuh Pandita, dan membuat gw kembali tercengang..
“Jadi, kau juga yang telah menolongku waktu itu? Aku sangat sangat berterimakasih padamu, Nyi Mas”
“Sudah lah.. Lebih baik, sekarang aku membantu mu memulihkan tenaga” Kata Nyi Mas Galuh Pandita sambil melayang, dan duduk di belakang, lalu menempelkan kedua tangannya ke punggung gw..
Gw sendiri memejamkan kedua mata, mencoba menyelaraskan jalan nafas dan detak jantung, agar aliran darah kembali normal.. Perlahan, gw merasakan hawa hangat keluar dari dua telapak tangan Nyi Mas Galuh Pandita dan terus merasuk menyebar ke seluruh tubuh..
Tak memakan waktu lama, gw merasakan tenaga luar dan dalam sudah hampir seluruhnya pulih..Jin cantik yang sudah dua kali menolong gw itu, menarik kedua tangannya dari punggung gw dan kembali melayang beberapa tombak ke samping kanan..
“Untuk luka di telapak tangan mu, aku tidak bisa mengobati.. Luka dari salah satu senjata pusaka Kerajaan Laut Utara tidak bisa disembuhkan oleh kekuatan gaib apapun.. Mau tidak mau, kau harus menunggu luka itu sembuh dengan sendirinya.. Tapi, kau bisa menggunakan khasiat daun kelor untuk mempercepat kesembuhan” Ucap Nyi Mas Galuh Pandita yang membuat gw kembali melirik ke arah balutan lengan jaket di telapak tangan kanan..
“Baiklah, Nyi Mas.. Aku akan mengikuti saran mu.. Tapi, jika aku boleh meminta, bisa kah kau membawa ku kembali ke tempat tiga sahabat ku berada? Aku ingin menjelaskan semua kesalahpahaman” Pinta gw dengan sedikit sungkan ke Nyi Mas Galuh Pandita..
Untuk beberapa saat, Jin cantik yang nampak hampir sebaya dengan Sekar itu, terdiam seperti memikirkan sesuatu sambil melemparkan pandangan ke arah utara.. Gw mengerutkan dahi, melihat Nyi Mas Galuh Pandita nampak sedang memandang ke suatu titik di arah utara.. Lalu, Jin cantik itu kembali membalikkan tubuhnya dan melayang mendekat..
“Lekas pegang lenganku.. Aku merasakan beberapa Ilmu Kesaktian cukup kuat dari arah utara.. Kemungkinan, sahabat mu sedang bertarung satu sama lain” Perintah Nyi Mas Galuh Pandita yang membuat gw mulai merasa cemas setelah mendengar perkataannya..
Tanpa pikir panjang, gw melakukan apa yang beliau perintahkan, yaitu memegang lengan kanannya.. Kedua mata gw mulai terpejam, saat Nyi Mas Galuh Pandita menganggukan kepala, sebagai pertanda ia akan segera membawa gw kembali ke tempat Sekar dan dua utusan Kerajaan Laut Utara berada..
Sedetik kemudian, gw langsung membuka kedua indera penglihatan begitu mendengar suara ledakan cukup hebat.. Di jarak kurang lebih sepuluh tombak, asap pekat berwarna hitam nampak menutupi jarak pandangan mata.. Samar-samar, gw bisa melihat sosok Raden Jaka Wastra nampak sedang memegangi tubuh Dewi Arum Kesuma yang terjatuh..
Lima tombak dihadapan mereka, sosok Sekar sedang menyilangkan kedua kaki merapat diatas bumi, sementara dua tangannya terlipat lurus ke langit.. Wajah Jin Penjaga gw itu nampak sedikit pucat, meski tatapan mata nya yang masih basah seperti habis menangis, menyorot tajam ke arah Dewi Arum Kesuma..
Gw yang tidak mau kedua belah pihak, yang gw anggap sahabat harus bertarung satu sama lain, berniat untuk melompat maju dan melerai.. Namun, cengkraman tangan kanan Nyi Mas Galuh Pandita di bahu kanan secara tiba-tiba, membuat gw menghentikan tindakan..
“Jangan terlalu cepat melerai mereka..” Kata Nyi Mas Galuh Pandita..
“Tapi, Nyi.. Mereka semua sahabatku.. Aku harus...”
“Diam! Turuti perintahku, Bocah Edan.. Aku ingin melihat Jin cantik berselendang emas itu, memberi pelajaran ke sosok yang telah meracuni mu.. Lagipula, aku sudah menutupi tubuh kita dengan Ajian Halimun Panon di tingkat paling sempurna.. Tidak ada satupun Jin yang bisa melihat atau merasakan kehadiran kita, meski berdiri tepat didepan hidung mereka sekalipun” Kata Nyi Mas Galuh Pandita dengan nada suara tinggi serta kedua mata melotot, lalu menatap kembali ke arah medan pertarungan..
Gw sebenarnya merasa sebal dengan tingkah Jin yang sudah menolong itu, tapi entah mengapa tiap memandang wajahnya, terutama dikedua mata, selalu saja gw merasa segan.. Mau tidak mau, gw pun harus menahan ludah dan mengikutinya melempar pandangan ke arah Sekar dan dua sahabat dari Kerajaan Laut Utara..
“Aku tidak akan mengampuni mu, karena telah meninggalkan Imam setelah kau racuni.. Bersiaplah kalian menerima serangan ku dua mahluk keji” Ucap Sekar dengan dua butir air mata menetes di pipinya..
Gw tertegun melihat raut kesedihan amat dalam, terpancar dari wajah Jin Penjaga gw itu.. Namun, tertegunnya gw seketika menghilang berganti rasa gusar, saat melihat kedua mata Sekar berubah memutih, bersamaan dengan dua tangannya yang terlipat ke atas, perlahan turun dan terentang lurus kesamping..
Kedua kaki jenjang milik Sekar yang semula menyilang, mulai kembali sejajar.. Lalu sebelah kaki kanannya tertekuk naik dan berhenti tepat di depan dada.. Perlahan-lahan, Sekar menggerakkan kedua tangannya yang sudah terentang, naik turun seperti bergerak mengikuti kepakan sayap seekor burung..
“Astaghfirullah, bagaimana mungkin Jin itu menguasai Ajian Burung Api Neraka?” Pekik Nyi Mas Galuh Pandita dengan suara tertahan dan kedua mata membesar..
Gw yang dari awal merasa gusar saat melihat berubah memutihnya kedua mata Sekar, malah dibuat semakin cemas setelah mendengar pekikan Nyi Mas Galuh Pandita dan menangkap raut terkejut diwajahnya..
“Ajian seperti apa yang akan dikeluarkan Jin Penjaga ku, Nyi Mas? Mengapa perasaan ku berubah cemas, melihat mu terkejut?”
“Ajian Burung Api Neraka, aku kenal betul siapa yang menciptakan Kesaktian itu.. Hanya aku dan yang menciptakannya saja, yang bisa melawan Ajian tersebut.. Dua Jin dari Kerajaan Laut Utara tidak akan mampu menahannya” Jawab Nyi Mas Galuh Pandita sambil terus menatap tajam ke arah Sekar, yang mulai mengeluarkan sinar merah menyala dari seluruh tubuhnya..
“Lekas kau lerai mereka, Nyi Mas.. Sebelum ada yang terluka salah satu dari ketiga sahabat ku.. Jangan sampai...”
“Diam!! Apakah kau selalu cerewet seperti ini? Aku tidak bisa menggagalkan Jin itu sebelum Ajiannya sempurna.. Apakah kau mau tubuh Jin cantik yang kau sebut sebagai Jin Penjaga mu itu, hancur lebur?” Kata Nyi Mas Galuh Pandita yang lagi-lagi membentak gw..
Seketika gw membungkam mulut sambil menggelengkan kepala, lalu melemparkan kembali pandangan ke arah tiga sosok Jin yang masing-masing hendak mengeluarkan Ilmu Kesaktiannya..
Kedua mata gw kembali membesar, saat melihat seluruh tubuh Sekar mulai terbakar oleh api aneh berwarna merah menyala.. Raut wajah Sekar yang terlihat dingin dengan kedua mata memutih, menandakan bahwa tubuhnya sama sekali tidak merasakan panasnya api yang membakar dan semakin berkobar.. Perlahan-lahan, sosok Sekar mulai melayang naik ke atas, seiring seluruh tubuhnya sudah sempurna menjelma menjadi seekor burung api raksasa..
Dari arah berlawanan, Raden Jaka Wastra nampak sudah duduk bersila, sementara Dewi Arum Kesuma berdiri di sampingnya dengan Trisula Perak yang sudah memancarkan sinar perak sangat terang, layaknya lampu ratusan watt yang membuat seisi hutan semakin terang benderang..
Suara hewan-hewan penghuni hutan terdengar riuh, seperti sedang mencoba menyelamatkan diri dengan cara menghindari tempat itu sejauh mungkin..
Raden Jaka Wastra terlihat menghunus Pedang Peraknya keatas langit.. Tiba-tiba, dari ujung Pedang Perak, keluar selarik sinar sangat terang yang melesat menembus angkasa dan membuat langit malam nampak gemerlapan dipenuhi cahaya..
Dari jarak cukup jauh, gw bisa merasakan ketiga sosok itu, sama-sama sedang mengeluarkan Ilmu Kesaktian dengan tingkat tenaga dalam hampir mencapai batasannya.. Tubuh Raden Jaka Wastra dan Dewi Arum Kesuma nampak bergetar, dengan kedua mata terus menatap tajam ke arah Burung Api Raksasa jelmaan Sekar..
Tiba-tiba, suara lengkingan keras keluar dari mulut Burung Api Raksasa, seiring sosok berselimutkan kobaran api luar biasa panas itu, menukik ke bawah, ke arah dua Jin utusan Kerajaan Laut Utara..
Melihat sebuah serangan mematikan akan menghantam mereka, Raden Jaka Wastra seketika melompat tinggi dan menyabetkan Pedang Peraknya ke arah Burung Api Raksasa jelmaan Sekar, disusul Dewi Arum Kesuma yang juga melompat ke atas sambil mengayunkan Trisula Peraknya..
Baru saja gw ingin meminta Nyi Mas Galuh Pandita untuk melakukan sesuatu, mendadak, Jin cantik berpakaian puteri kerajaan berwarna biru itu, melesat secepat kilat, sambil melemparkan Selendang Birunya yang nampak sudah mengeluarkan sinar cukup terang, ke arah Burung Api Raksasa jelmaan Sekar dan berhasil membelit bagian pinggang Hewan jadi-jadian tersebut..
Untuk sedetik, Burung Api Raksasa terlihat meronta, sambil cumiik kencang menggetarkan gendang telinga, mencoba melepas jeratan Selendang Biru dipinggangnya.. Namun, Selendang sakti milik Nyi Mas Galuh Pandita terlihat seperti menyerap kekuatan Ajian Burung Api Neraka..
Gw sempat lega begitu melihat Nyi Mas Galuh Pandita mampu meredam kekuatan Ajian Burung Api Neraka.. Tapi, pandangan gw kembali terbelalak saat melihat dua sinar perak dari Kesaktian Senopati Kerajaan Laut Utara dan Penjaga Gerbang nya, terus melesat ke arah Burung Api Raksasa jelmaan Sekar..
Nyi Mas Galuh Pandita yang menyadari akan hal itu, terlihat mengikat Selendang Biru miliknya dipinggang sendiri.. Lalu, kedua telapak tangan Jin cantik berbaju biru tersebut, berputar ke samping kiri dan kanan, kemudian dengan cepat ia luruskan ke arah dua sinar perak, seperti hendak mengeluarkan suatu Ajian lain..
Tapi, tiba-tiba, dari arah berlawanan, kedua mata gw menangkap sekelebat bayangan putih, juga melesat secepat kilat sambil melemparkan sebuah bola berwarna putih ke arah dua sinar perak milik Raden Jaka Wastra dan Dewi Arum Kesuma.. Melihat ada kawan yang hendak menghancurkan dua kesaktian bersinar perak, Nyi Mas Galuh Pandita menurunkan tangannya kembali dan melepas belitan Selendang Biru miliknya dari pinggang, lalu melompat menjauh sambil terus menggenggam kuat Selendangnya..
DUARRRR!!!!
Sebuah ledakan dahsyat tercipta, dari benturan bola putih yang dilemparkan sosok misterius, dengan dua Kesaktian milik dua utusan Kerajaan Laut Utara.. Gelombang ledakan bercampur bunga api berukuran besar, membuat puluhan pohon tercabut dari akar dengan daun yang terbakar.. Sementara, sosok Raden Jaka Wastra serta Dewi Arum Kesuma, terlempar ke belakang dan sempat menghantam dua pohon besar seukuran dua pelukan tangan orang dewasa, hingga batangnya terpatah menjadi dua..
Gw yang berdiri di jarak cukup jauh, juga sempat terdorong dua tombak ke belakang saat tersapu gelombang ledakan.. Beruntung, ada sebuah batu besar dibelakang yang bisa gw gunakan sebagai pijakan sebelah kaki, untuk menahan tubuh agar tak lagi tersudut mundur..
Dilain pihak, Burung Api Raksasa yang sudah menjelma kembali menjadi sosok Sekar, terlempar ke samping karena tersapu gelombang ledakan, namun dengan sigap, Nyi Mas Galuh Pandita menangkap tubuh Jin Penjaga gw itu, dan sempat menghalau sambaran api dari ledakan, dengan ujung Selendang Birunya yang mengeluarkan serangkuman angin besar..
Setelah efek ledakan berakhir, suasana hutan kembali temaram, meski beberapa pohon yang daunnya masih terbakar membantu menerangi suasana dengan cahaya apinya.. Gw yang menyadari sosok bayangan putih, yang telah berhasil menghalau dua sinar perak milik Raden Jaka Wastra dan Dewi Arum Kesuma, langsung melompat untuk mendekat ke arah mereka..
“Eyang” Ucap gw setengah berteriak, memanggil ke arah sosok Ki Suta..
Panggilan gw barusan, sontak membuat Nyi Mas Galuh Pandita berdiri dan menoleh ke arah Ki Suta.. Gw yang sudah berada di dekat Kakek Moyang gw itu, sempat menatap heran ke wajahnya yang memandangi sosok Nyi Mas Galuh Pandita dengan penuh arti..
Bukannya menyapa gw, Ki Suta malah melayang cepat ke arah Nyi Mas Galuh Pandita yang nampak memandangnya dengan kedua mata mulai berkaca-kaca.. Sekar yang wajahnya sangat pucat, langsung duduk bersila dan menyilangkan kedua telapak tangan di dadanya..
Sementara, dua sosok utusan Kerajaan Laut Utara juga berlaku sama.. Sosok Raden Jaka Wastra dan Dewi Arum Kesuma terlihat sudah duduk bersila dengan wajah sama pucat, meski jejak darah hitam nampak mengalir di sela kedua mulut mereka..
“Kanda, Suta Dewa” Seru Nyi Mas Galuh Pandita ke arah Ki Suta sambil berlari dengan kedua mata mulai dibanjiri air mata, lalu memeluk tubuh Kakek Moyang gw itu sangat erat..
“Nyi Mas” Sahut Ki Suta dengan suara bergetar, seraya membalas pelukan jin cantik itu sama eratnya..
Gw tidak mengerti melihat kedua Jin, yang sama-sama pernah berjasa menyelamatkan nyawa gw itu, sedang berpelukan erat sambil menangis.. Gw hanya bisa tertegun menatap mereka, yang mulai menatap wajah masing-masing dengan penuh arti..
Mendadak, gw teringat saat Bayu Ambar menunjukkan kilasan peristiwa masa silam.. Ingatan gw kembali ke sosok Ki Suta sedang menggendong bayi Jagat Tirta, sementara Istrinya yang merupakan puteri Raja Jin, menggendong bayi Bayu Ambar.. Sesaat, gw berusaha mengingat seperti apa rupa istrinya Ki Suta, atau Ibu nya Jagat Tirta dan Bayu Ambar.. Lalu, melempar pandangan ke arah Nyi Mas Galuh Pandita yang saat ini sedang meraba wajah Ki Suta..
Kedua mata gw seketika membesar, begitu ingat rupa istri nya Kakek Moyang gw tersebut, mirip sekali dengan wajah Nyi Mas Galuh Pandita.. Pantas saja, gw merasa seperti pernah melihat sosok jin cantik yang sudah dua kali menyelamatkan gw itu..
“Jadi, Nyi Mas Galuh Pandita adalah istri dari Ki Suta? Tapi, bukan nya Bayu Ambar bilang kalo Ibunya sedang menjalani hukuman dari Raja Jin yang merupakan Ayahandanya sendiri? Aneh..” Tanya gw ke diri sendiri, sambil terus melihat ke arah dua sosok gaib, yang sedang saling menatap penuh arti, layaknya sepasang kekasih yang baru bertemu kembali setelah sekian lama terpisah..
Diubah oleh juraganpengki 05-10-2023 10:27
dodolgarut134 dan 16 lainnya memberi reputasi
17