- Beranda
- Stories from the Heart
Cerita Yang Belum Berakhir
...
TS
drupadi5
Cerita Yang Belum Berakhir
Kisah kita berbeda kawan, suka duka kita tidak pernah sama, meski kita hidup berpuluh-puluh tahun jalan hidup kita pun tidak pernah melengkung ke arah yang sama, memainkan suatu cerita dengan peran yang berbeda-beda, yang nanti, entah kapan, hanya akan berujung pada suatu akhir dimana waktu bukan lagi milik kita....
tapi bagaimana jika akhir itu pun tidak berarti sebuah penyelesain dari cerita kita?
*****
02.30 am
Subuh ini, sepulang kerja, seperti biasa suami dan anakku udah pada pulas tertidur. Kulepaskan dulu helm, jaket, dan semua atribut pengaman dan pelindung, sebelum sedikit membasuh diri.
Menenangkan diri sejenak sebelum bertemu kasur, kubuka hape BB jadulku, ada satu notif kalau ada yg mengirim pesan lewat FB messenger. Langsung kubuka,
dah pake BB ya, boleh minta PIN mu?
Sebuah pesan singkat, tp cukup membuat jantungku berdesir aneh. Setelah berpikir sejenak, kubalas pesan itu...
Bole, ini PIN ku %^&$#@
Bukan tanpa alasan kuberikan contactku, hanya karena rasa penasaran yang telah terpendam bertahun-tahun dan... sebuah penyelesaian
*****
prologue
part 1 jadi mahasiswa
part 2 baksos
part 3 mas kayon
part 4 karena matras
part 4.2 obrolan pertama
part 5 karena pertanyaan dan jawaban konyol
part 6 kesurupan???
part 7 sopir dan assisten sopir
part 8 around me
part 9 mabuk
part 10 pasar loak
part 11 pelukis malam
part 12 baksos in action
part 13 yunita
2014
part 14 would you be
part 15 would you be (2)
part 16 would you be mine?
part 17 hilang
part 18 second chance...1
part 19 second chance...2
part 20 second chance...3
part 21 SMS
part 22 blind love
part 23 blind love 2
part 24 blind love 3
part 24 blind love 4 (17+)
part 25 blind love 5
part 26 blind love 6
part 27 siksaan 1
part 28 Mr. Lee
part 29 siksaan 2
part 30 following the flow (cinta tanpa logika)
part 31 following the flow (cinta tanpa logika 2)
part 32 heart breaker
part 33 kehilangan
part 34 solo fighter
part 35 kejutan
part 36 perbedaan itu (ngga) indah
2008
part 37 the next steps
part 38 dewa bisma
part 39 anak rantau
part 40 penantian
part 41 akhir dari penantian
2009
all i want
part 42 and story goes on...
part 43 nelangsa
part 44 a gift
part 45 trouble maker
part 46 trouble maker 2
part 47 tentang dewa
part 48 tentang dewa 2
part 49 is it real?
part 50 is it real? 2
part 51 rasa itu
part 52 jealouse
part 53 Jakerdah
part 54 drama queens
part 55 i feel you
part 56 ikatan
part 57 September 2006
part 58 july 2009
part 59 ujian pertama
part 60 ujian kedua
part 61 ujian yg sebenarnya
Part 62 Dewa Rasya
part 63 kembali
part 64 Namy
part 65 batas benci dan cinta
part 66 trouble maker
part 67 trouble maker 2
part 68 trouble maker 3
tapi bagaimana jika akhir itu pun tidak berarti sebuah penyelesain dari cerita kita?
*****
02.30 am
Subuh ini, sepulang kerja, seperti biasa suami dan anakku udah pada pulas tertidur. Kulepaskan dulu helm, jaket, dan semua atribut pengaman dan pelindung, sebelum sedikit membasuh diri.
Menenangkan diri sejenak sebelum bertemu kasur, kubuka hape BB jadulku, ada satu notif kalau ada yg mengirim pesan lewat FB messenger. Langsung kubuka,
dah pake BB ya, boleh minta PIN mu?
Sebuah pesan singkat, tp cukup membuat jantungku berdesir aneh. Setelah berpikir sejenak, kubalas pesan itu...
Bole, ini PIN ku %^&$#@
Bukan tanpa alasan kuberikan contactku, hanya karena rasa penasaran yang telah terpendam bertahun-tahun dan... sebuah penyelesaian
*****
prologue
part 1 jadi mahasiswa
part 2 baksos
part 3 mas kayon
part 4 karena matras
part 4.2 obrolan pertama
part 5 karena pertanyaan dan jawaban konyol
part 6 kesurupan???
part 7 sopir dan assisten sopir
part 8 around me
part 9 mabuk
part 10 pasar loak
part 11 pelukis malam
part 12 baksos in action
part 13 yunita
2014
part 14 would you be
part 15 would you be (2)
part 16 would you be mine?
part 17 hilang
part 18 second chance...1
part 19 second chance...2
part 20 second chance...3
part 21 SMS
part 22 blind love
part 23 blind love 2
part 24 blind love 3
part 24 blind love 4 (17+)
part 25 blind love 5
part 26 blind love 6
part 27 siksaan 1
part 28 Mr. Lee
part 29 siksaan 2
part 30 following the flow (cinta tanpa logika)
part 31 following the flow (cinta tanpa logika 2)
part 32 heart breaker
part 33 kehilangan
part 34 solo fighter
part 35 kejutan
part 36 perbedaan itu (ngga) indah
2008
part 37 the next steps
part 38 dewa bisma
part 39 anak rantau
part 40 penantian
part 41 akhir dari penantian
2009
all i want
part 42 and story goes on...
part 43 nelangsa
part 44 a gift
part 45 trouble maker
part 46 trouble maker 2
part 47 tentang dewa
part 48 tentang dewa 2
part 49 is it real?
part 50 is it real? 2
part 51 rasa itu
part 52 jealouse
part 53 Jakerdah
part 54 drama queens
part 55 i feel you
part 56 ikatan
part 57 September 2006
part 58 july 2009
part 59 ujian pertama
part 60 ujian kedua
part 61 ujian yg sebenarnya
Part 62 Dewa Rasya
part 63 kembali
part 64 Namy
part 65 batas benci dan cinta
part 66 trouble maker
part 67 trouble maker 2
part 68 trouble maker 3
Diubah oleh drupadi5 23-11-2019 23:42
pulaukapok dan 10 lainnya memberi reputasi
11
37.6K
329
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•54KAnggota
Tampilkan semua post
TS
drupadi5
#212
Part 51 Rasa Itu
Ada satu kebiasaan baru yg aku lakukan semenjak Dewa membuat pengakuan. Aku selalu mengiriminya pesan setiap aku mau berganti pakaian, memintanya keluar dulu., hehehe konyol. Dan Dewa selalu menanggapinya dengan ketawa. Tapi lama2, aku males, pastilah dia tau diri, kan dia juga udah janji. Cowok sejati pasti bisa memegang janjinya.
Dewa masih menelponku setiap malam, atau lebih tepatnya sukmanya Dewa, sedangkan Dewanya sendiri physically tidur. Curang bgt emang dia!
“Dy….?”
“iya? Apa?”
“belakangan ini kamu ada ngerasain sesuatu yg lain ngga sama diri kamu sendiri?”
“hmm…maksudnya?”
“emm…kamu ada ngerasa aneh gitu, atau..yah pokoknya ngerasa ada yg berbeda sama perasaan kamu?”
Aku bener2 ngga ngerti sama pertanyaannya ini. Perasaan aku biasa2 aja
“ngga ada Wa, emang kenapa?”
“gitu ya?”
“kenapa sih Wa? Jangan main rahasia2an lagi deh, bilang aja kenapa?”
“aku ngga bisa ngomonginnya sekarang Dy, nanti ya.”
“bilang sekarang aja Wa, kenapa sih? Ngomong aja.”
“ngga bisa Dy. Sumpah aku ngga bisa….hm… gini aja besok sore kamu ke warnet ya, aku kasih tahu lewat email aja.”
“astaga Dewa!! Apa susahnya sih ngomong sekarang?”
“beneran Dy, aku ngga bisa ngomong langsung, ngga sanggup aku.”
“soal apa sih Wa?”
“soal kamu Dy.”
“aku? Aku kenapa?”
“ya besok aja ya, kamu ke warnet sorenya, tp jangan lama2 di warnet.”
“ya udah…” akhirnya aku ngalah juga. Biarlah besok aku liat email. Ada apa sih?
Ngga sabar menunggu sore. Jadi sebelum sore aku sudah jalan ke warnet. Rasa penasaran ini sudah membuatku sangat tidak sabar.
Kubuka emailku dan benar saja ada satu email baru masuk dari Dewa. Kubuka dan kubaca…
Maaf say, aku ngga bisa mengatakan ini langsung ke kamu, rasanya susah banget mau ngomong karena baru kali ini aku denger pengakuan dari lubuk hati cewek yg paling dalam. Aku sendiri ngga percaya, tapi kata2 ini keluar saat kamu mengigau, sebab orang ngigau di luar dari raga jasmaninya, ngigau adalah hati dan sukma yg mengendalikan, sorry say aku mengatakan ini dengan sejujur2nya dan apa adanya karena aku tahu kamu orang yg ngga suka dengan kebohongan
Sebenernya aku ingin menyimpan kata2 ini untukku sendiri, tapi kalau nggak aku sampaikan aku akan kepikiran terus, semakin aku simpan semakin bergetar hatiku, maka aku putuskan untuk memberitahumu saja. Aku menyampaikannya tanpa mengurangi atau menambahkan sekata pun. Dalam tidurmu kamu berkata seperti ini:
‘Wa, kamu masih di sini kan? Wa, jangan tinggalin aku ya! Aku sayang dan cinta sama kamu. Apa kamu sayang aku, Wa?
Sewaktu kamu ngomong gitu, sukmaku kebingungan ngga bisa menjawab pertanyaanmu.
Belum sempat berkata2, kamu bertanya lagi,
‘Wa, apa kamu sayang aku?’ saat itu aku makin bingung Dy, sampai nggak bisa ngomong, lagi2 sebelum aku bisa menjawab kamu mengigau lagi sambil memelukku kamu berkata,
‘wa aku nggak mau kehilangan orang yg aku sayangi lagi.’
Hingga sampai pagi kamu terus memelukku. Say, maaf aku sendiri masih kebingungan sampai saat ini, waktu menulis email ini jantungku terus deg2an rasanya ingin kupendam saja sendiri, tapi sungguh aku ngga bisa, malah semakin bingung aku jadinya. Maaf ya say, aku sudah mengatakan semuanya dengan apa adanya sebenarnya aku malu mengatakannya, aku nggak ingin setelah membaca email ini malah menjadi beban pikiran buat kamu, janji ya kamu nggak akan menjadikan ini beban. Aku nggak mau itu terjadi.
Aku merasakan wajahku memanas setelah membaca email itu. Entah aku harus percaya atau tidak dengan semua yg di tulis di emailnya.
Tapi, apa mungkin Dewa berbohong? Buat apa? Hatiku sama sekali tidak menaruh rasa curiga padanya dari awal aku mulai kenal dia meski ngga pernah bertemu secara langsung.
Bahkan dia membuktikan bahwa dia tahu semua tentangku. Seandainya ini benar, mau ditaruh di mana mukaku nanti kalau suatu saat aku bisa bertemu dengannya.
Ah, ngga usah mikir ketemuan, kalau dia menelponku sajalah, aku harus ngomong apa? Gila, malu banget rasanya. Ini sama aja dengan aku nembak dia. Eh, bukan aku, sukmaku, tapi apa bedanya?!
Tapi menurutku bedalah, sukma dewa mendekati sukmaku, memberikan perhatiannya pada sukmaku, jelaslah jadi luluh, tapi bisa gitu ya yg pacaran sukmanya aja tp physically raganya ngga pacaran?
Aduuuh... ini gimana ya? Dewa aja bingung, apalagi aku.
Apa dewa juga ngerasain hal yg sama. Kalau secara jasmani, aku dan dia belum merasakan yg namanya perasaan sayang seperti sukma2 kami itu. Tapi kok bisa ya? Apa mungkin belum? Atau apa mungkin sudah, tapi aku ngga peka, atau pura2 ngga peka?
Aaarrrgghhh......
Kalau nanti Dewa telpon aku musti gimana? Atau aku bilang no comment aja kali ya...
Ddrrttt...... telponku berbunyi, Dewa calling......
Mati aku! Umpatku dalam hati.
“ya Wa?”
“sudah di baca?”
“hahahaha sudah....” tertawaku terdengar garing bgt
“trus...”
“wa, telpon aku ntar malem aja ya, aku masih di warnet ini, mau makan dulu abis ini, telpon seperti biasa aja, tapi bukan sukma kamu yg tlp, kamunya juga, keenakan kamu tidur terus.”
“hehehe iya iya...nanti aku telpon. Kamu hati2 ya.”
“iya, pasti.”
“dah..”
“dah...”
Ok. Kalau ini dipikirkan ngga akan nemu jawaban malah tambah bingung aku. Nanti saja sharing langsung sama Dewa.
***
“jadi kamu sudah baca kan?” tanya Dewa melalui telpon ketika aku sudah sampai di rumah.
“sudah…”
“jujur saja, aku malu Dy, ngomong gini ke kamu. Takut kalau kamu ngga percaya, takut kamu anggap aku mengada2. Kayak yg aku tulis di email, aku pengen sekali simpan ini buat diriku sendiri sampai kamu nanti tahu sendiri. Tapi, aku ngga bisa, rasanya ada yg mengganjal di hatiku. Sebenernya, ngga hanya sekali kamu ngigau gitu. 2 malam berturut2 kamu ngigaunya. Aku bener2 ngga tahu harus bagaimana…”
“aku cuma ngga ngerti aja Wa, kalau memang sukmaku suka sama kamu, kenapa aku ngga ngerasainnya?maksudku, bukannya sukmaku itu aku sendiri kan? Lalu kenapa bisa ngerasain hal yg berbeda kaya 2 orang yg beda.”
“Dy, sukma itu lebih murni dan lebih jujur, apalagi kamu ngga dipengaruhi oleh ilmu apapun, maksudnya sukma kamu keluar dari raga kamu karena keinginannya sendiri, ngga seperti aku yg aku menginginkannya untuk keluar. Sukma kamu tahu apa yg sedang terjadi dalam pikiran bawah sadarmu, dan lebih jujur karena sukma yg murni bebas dari ego dan logika pikiran kamu.
Sorry sebelumnya kalau aku bicara seperti ini, coba seandainya aku ngga ngomong ke kamu dulu. Lalu kamu tanya pada dirmu sendiri, apa kmu menyukaiku, aku yakin akan ada,mungkin hanya 5% dari suara hati kamu yg bilang ‘iya’ tp kamu ngga akan menghiraukannya karena persentasenya yg kecil dan didukung lagi banyak bantahan2 dari pikiran kamu yg memberikan alasan2 logis. Dan kamu pasti akan mengacuhkan suara yg 5% ini.”
Aku terdiam mendengarkan omongan Dewa, karena apa yg dikatakannya memang benar.
Jujur, aku memang merasa senang setiap kali Dewa menelponku, bicara dengannya membuat bebanku sedikit berkurang.
Tapi, aku ngga yakin dengan apa yg kurasakan ini, persis seperti apa yg dikatakan Dewa, pikiranku selalu ikut campur, logikaku selalu membantah dengan memberikan banyak sekali pertanyaan2 dan alasan2, seperti,
apa aku yakin suka padahal ketemu aja ngga pernah?
Apa ngga Cuma pelarian aja berhubung aku baru aja patah hati?
Ok kalau kmu suka sama dia, trus dianya sendiri gimana suka ngga, udah siap patah hati lagi?????
Iya aku lupa dengan Dewa, apa dia juga punya rasa yg sama?
“hmm…wa, kalau kamu sendiri gimana?”
“aku….aku juga ngga tahu Dy…aku takut ngecewain kamu?”
“lho kok ngecewain aku?katamu harus jujur, kalau memang sukma kamu ngga punya rasa yg sama kan ngga bisa di paksa.”
“maksudku…aku takut ngecewain kamu karena mencintai kamu tidak seperti yg kamu inginkan..”
Eh…aku mencoba mencermati perkataannya.
“maksudmu wa?” aku ngga mau menduga2 aku harus denger sendiri maksudnya apa
“maaf ya Dy, aku memang menyukaimu sejak aku mulai dekat dengan sukma kamu, aku suka dengan pembawaan kamu, sifat, dan karakter kamu, dan aku yakin itu ngga dibuat2 karena aku melihatnya langsung dari sukma kamu, bagian dari diri kamu yg paling jujur..”
Ya Tuhan, ini aku harus ngomong apa lagi sekarang.
“maunya aku simpen dulu rasaku ini sampai kamu pun memiliki rasa yg sama, kalaupun tidak, aku sudah ikhlas untuk menyimpannya sendiri untuk seterusnya, tapi aku ngga nyangka kamu akan mengigau seperti itu.”
Berarti ini artinya, aku yg nembak dia!
Astaga, sesaat aku rasakan wajahku menghangat, malu banget, meski ngga diihat sama Dewa, tapi tetep aja ini membuatku malu.
Gimana bisa aku nembak cowok, belum pernah ketemu pula. Akunya secara nyata yg ngga pernah lihat, tp sukmaku sering.
“Dy….” Dewa memanggilku yg terdiam larut dalam kekalutan pikiranku.
“hehehe iya Wa?”
“kamu marah?”
“eh, kenapa marah? Ngga lah..”
“siapa tahu kamu marah…”
“bukan marah Wa, tapi bingung hehehe”
“iya, aku ngerti…ngga usah dipaksa untuk di mengerti, di rasakan saja. Mudah2an kamu bisa…”
“iya…”
Aku menyahut ‘iya’ tapi aku ngga ngerti apa yg aku ‘iya’kan itu.
****
Seperti saran Dewa, aku berusaha untuk tidak memikirkan apa yg terjadi dengan sukmaku dan sukmanya Dewa.
Hubunganku dengan Dewa masih tetap sama, hanya saja ngga hanya malam hari dia menghubungiku, siang pun sering meski hanya lewat pesan singkat.
Kurasakan perhatiannya semakin intens, meski hanya lewat sms atau pun sekedar tlp. Beberapa kali dia pun mengirimiku produk2 perawatan tubuh walaupun aku sudah katakan aku ngga terbiasa dengan perawatan2 aneh seperti yg di ceritakan. Hasilnya, sudah bisa di tebak, aku hanya memakainya ngga lebih dari seminggu, setelah itu aku memilih menyimpannya, buat kenangan2an.
Padahal itu ada masa expired nya. Bodo amat. Benda yg paling aku sayang adalah hand body lotion racikannya Dewa, harumnya pas banget, ngga terlalu keras dan ngga terlalu lembut juga dan juga tahan lama, ada gliternya jd kalau diusap ke kulit jadi blink blink gitu, Cuma ngga terlalu mencolok juga. Saking sayangnya aku ngga pernah pake itu lotion aku simpan saja.
Suatu hari aku menerima kabar dari rumah kalau kakakku yg kedua akan menikah. Tentu saja, kedua orang tuaku memintaku untuk pulang barang satu atau dua hari di hari perayaannya. Tentu saja aku harus pulang, dan ini juga kukabarkan ke Dewa.
“berapa lama kamu di rumah?”
“entahlah, mungkin 3 – 4 hari.”
“ya udah, kamu yg hati2 ya.”
“iya. Kamu ngga usah ikut ya.” Ujarku
“ngga Dy, kali ini aku akan ikut. Aku akan temenin kamu ke mana pun kamu pergi.”
“ngga usah Wa, kan kamu bilang udah ada yg selalu nemenin aku, udah itu aja cukup kan.”
“ngga. Aku ikut nanti.”
“tap..”
“udah ngga usah kuatir, gpp kok dy, nanti kamu ke kampung kan?”
“iya.”
“hehe sudah ada yg aku kenal di sana, aman lah….”
“maksudnya?”
“iya kan udah sempet ketemu kmrin, bisalah aku ngenalinnya nanti, lagian aku kuatir klo ngga nemenin kamu.”
“ya terserah kamu aja, aku cuma ngga mau kamu kena masalah .”
“ngga akan, janji!”
***
Pesawat yg aku tumpangi landing jam 8 malam. Aku dijemput kakakku yg pertama di bandara. Karena ortuku semua sudah di kampung menyiapkan upacara nikahannya kakakku yg kedua, maka di rumahku kosong, makanya malam ini aku nginep di rumahnya kakakku yg cewek.
Rumahnya ada di pinggiran kota Denpasar, masih agak masuk pula ke pelosok, rumahnya asri dan dikelilingi persawahan, dan karena masih banyak pepohonan udaranya jadi lebih dingin.
Aku tidur di kamar ponakanku yg masih tidur dengan ortunya. Rasa lelah menghinggapi tubuhku sehingga kuputuskan untuk baringan di kamar. Ponselku berbunyi menandakan panggilan masuk. Dari Dewa.
“hallo..”
“kenapa belum tidur?” tanyanya
“nungguin telpon kamu,”
“yah kamu itu, udah tidur aja”
“kamu di sini?”
“iya, aku udah di kamar. Kenapa?”
“ngga apa2. Aku cuma was2 aja.”
“jangan kuatir, kakak ipar kamu ngga akan berani macem2, pintu kamar ngga ada kuncinya?”
“ngga ada.”
“aku yakin dia ngga akan macem2. Jangan kuatir ya,” ujarnya.
Ya, aku juga jujur sama Dewa tentang kejadian di masa lalu yg tidak akan pernah bisa kulupakan itu.
“ tidur ya sekarang…boleh aku peluk?”
“iya…”
“ya udah tidur ya, kalau kamu mau, coba di rasain, tidurmu agak mepet ke dinding, nanti aku peluk dari belakang.”
“iya..”
“ya udah, sekarang tidur, dah…”
“dah..”
Telpon pun terputus. Setelah itu aku agak merapat ke dinding, udara yg dingin membuatku tidur meringkuk menahan dingin, ngga ada selimut, dan aku hanya tidur dengan kaos dan celana jeans.
Selang beberapa menit, aku merasakan hangat di sekitaran tubuhku bagian atas dan belakang. Aku tidak berkonsentrasi, seperti saran Dewa, tapi aku bisa langsung merasakan hangat.
Dan kemudian aku merasakan bulu kudukku berdiri hanya saja pada setengah badanku saja. Setelah itu rasa hangat kembali kurasakan. Aku meraih ponselku yg kuletakkan di sampingku, kukirimkan pesan ke Dewa
Sudah tidur?
Apalagi Say? Udah tidur saja, udah aku peluk ini.
Iya. Makasi.
Apa ini yg dulu dimaksudkan sama Dewa dengan adanya rasa itu? Kalau aku ada rasa dengannya maka dengan sedikit konsentrasi saja atau malah tanpa konsentrasi aku pun bisa merasakan kehadiranya dengan mudah.
Paginya aku pulang ke rumahku dengan diantar oleh kakakku. Lalu dengan motoran aku pulang ke kampung bokap. Dari Denpasar sekitaran 1 jam. Sampai di rumah bokap di kampung sudah ramai para sodara2 yg bantu2 untuk menyiapkan upacara pernikahan kakakku.
Di gerbang depan aku langsung bertemu dengan bokap, dan Pak Mangku yg pernah membantuku saat Nadya kerasukan. Pak Mangku hanya menanyakan kabarku, lalu berlalu pergi, tidak seperti biasanya, biasanya beliau pasti nanya macem2 ke aku. Ya sudahlah mungkin lagi sibuk.
Sebelum gelap aku balik ke Denpasar lagi. Sebenernya bokap ngelarang, tapi aku beralasan ada sedikit urusan yg harus aku urus sebelum nanti balik ke S**.
Menjelang malam aku sudah sampai di rumah, dan otomatis malam ini aku akan sendirian saja. Takut? Tentu saja tidak. Aku sudah terbiasa sendirian di rumah sedari kecil, sama sekali ngga ada perasaan takut meski rumahku boleh di bilang cukup luas.
Selesai makan hasil dari beli makan td di pinggir jalan, aku mengunci pintu gerbang dan semua pintu yg harusnya dikunci.
Setelah itu aku masuk ke kamarku, yg sedikit tak terurus karena lama tidak di tempati. Aku bersihkan sekedarnya, dan merapikan tempat tidurku yg acak2an. Siapa pula yg berantakin gini, biasanya anak dari kakakku yg pertama, yg baru berumur 5 tahun, suka dititipkan di rumah, mungkin dia yg suka mainan di sini.
Sekilas aku terpaku pada satu ruang di sudut pojok kamarku. Di sebelah almari dan berhimpitan dengan dinding.
Tempat di mana dulu ada seperangkat computer pinjaman dari kakakku yg kedua, tempat di mana aku membuang semua energiku dari subuh ketemu subuh, untuk menyelesaikan skripsiku sambil meratapi nasib burukku.
Aku mendekat dan duduk di lantai, sama seperti yg dulu kulakukan, hanya saja kini tidak ada lagi computer dan kertas2 yg berserakan di sekitarku. Kembali kurasakan dengan jelas bagaimana sakitnya hatiku saat itu, sampai2 pandanganku mengabur karena genangan air mata di pelupuk mataku.
Cepat2 aku singkirkan semua memori itu, dan segera beranjak berdiri. Aku duduk di tepi tempat tidurku ketika ponselku berbunyi menandakan sebuah pesan masuk. Pasti Dewa
Tidur cepetan
Kenapa?
Ngga apa2. Tidur aja.
Iya.
Aku menuruti perkataannya, kubaringkan tubuhku yg terasa pegal2 ini di atas kasur. Karena belum terlalu mengantuk aku membuka ponselku dan main games. Sedang seru2nya main…
“ehheehhhheem…”
Seketika aku balikkan badanku yg awalnya tidur menyamping, kini terlentang. Mataku awas memandang ke sekeliling kamarku. Jelas bgt tadi aku dengar suara orang berdehem.
Aku kirimkan pesan ke Dewa.
Wa, aku denger suara berdehem? Siapa ya?
Tak lama ponselku berbunyi. Dewa calling
“iya Wa, siapa itu yg berdehem2 Wa?” kini aku mulai takut.
“beneran kamu denger? Bukan mimpi?”
“mimpi apaan wong aku main game td. Jelas bgt di telingaku, kayak di samping pas bgt. Masa iya mahluk halus, yg begituan ngga bakalan bisa masuk rumah, Wa.”
“hehehe aku bisa?”
“ya kamu kan beda.”
“hehehe udah tidur aja, gpp kok.”
“bilang dulu bener ngga yg aku denger itu? Trus siapa yg dehem2 gitu?”
“itu aku Dy, lg disebelahmu… berarti kamu udah bisa dengerin aku.”
“oya, asik nih.”
“ya udah sekarang tidur ya”
“ok boss.”
“jangan takut aku jagain kamu kok.”
“iya, makasi ya, ya udah akuu tidur ya.”
“iya say.”
“dah…”
“dah…”
Setelah telponan dengan Dewa ternyata tidak kunjung membuatku mengantuk. Jadi aku mencoba untuk membaca ulang sms2 ku dengan Dewa.
Sejurus kemudian, aku merasa bulu kudukku berdiri. Kali ini tidak seperti biasanya.
Biasanya kalau bulu kudukkuu berdiri karena kehadiran Dewa, biasanya yg berdiri hanya di sebagian tubuh saja di mana sukma dewa sedang berdiri.
Kali ini yg meremang adalah tengkukku. Dan seumur2 baru kali ini aku ngerasa takut berada di rumahku sendiri. Aku mengirimkan pesan ke Dewa.
Wa, kok aku takut ya?
Dia tidak membalas pesanku tapi dia langsung menelponku
“takut kenapa?”
“ya takut aja Wa. Gimana dong aku bilangnya.”
“udah ngga usah dipikir, aku di sana kok. Kmu ngga usah khawatir. Lanjutin tidur ya,."
"Say?”
“Ya udah aku tidur ya Wa.”
“iya, inget doa.”
“sip”
*****
What if the life is the dream, and when we die, we wake up
Dewa masih menelponku setiap malam, atau lebih tepatnya sukmanya Dewa, sedangkan Dewanya sendiri physically tidur. Curang bgt emang dia!
“Dy….?”
“iya? Apa?”
“belakangan ini kamu ada ngerasain sesuatu yg lain ngga sama diri kamu sendiri?”
“hmm…maksudnya?”
“emm…kamu ada ngerasa aneh gitu, atau..yah pokoknya ngerasa ada yg berbeda sama perasaan kamu?”
Aku bener2 ngga ngerti sama pertanyaannya ini. Perasaan aku biasa2 aja
“ngga ada Wa, emang kenapa?”
“gitu ya?”
“kenapa sih Wa? Jangan main rahasia2an lagi deh, bilang aja kenapa?”
“aku ngga bisa ngomonginnya sekarang Dy, nanti ya.”
“bilang sekarang aja Wa, kenapa sih? Ngomong aja.”
“ngga bisa Dy. Sumpah aku ngga bisa….hm… gini aja besok sore kamu ke warnet ya, aku kasih tahu lewat email aja.”
“astaga Dewa!! Apa susahnya sih ngomong sekarang?”
“beneran Dy, aku ngga bisa ngomong langsung, ngga sanggup aku.”
“soal apa sih Wa?”
“soal kamu Dy.”
“aku? Aku kenapa?”
“ya besok aja ya, kamu ke warnet sorenya, tp jangan lama2 di warnet.”
“ya udah…” akhirnya aku ngalah juga. Biarlah besok aku liat email. Ada apa sih?
Ngga sabar menunggu sore. Jadi sebelum sore aku sudah jalan ke warnet. Rasa penasaran ini sudah membuatku sangat tidak sabar.
Kubuka emailku dan benar saja ada satu email baru masuk dari Dewa. Kubuka dan kubaca…
Maaf say, aku ngga bisa mengatakan ini langsung ke kamu, rasanya susah banget mau ngomong karena baru kali ini aku denger pengakuan dari lubuk hati cewek yg paling dalam. Aku sendiri ngga percaya, tapi kata2 ini keluar saat kamu mengigau, sebab orang ngigau di luar dari raga jasmaninya, ngigau adalah hati dan sukma yg mengendalikan, sorry say aku mengatakan ini dengan sejujur2nya dan apa adanya karena aku tahu kamu orang yg ngga suka dengan kebohongan
Sebenernya aku ingin menyimpan kata2 ini untukku sendiri, tapi kalau nggak aku sampaikan aku akan kepikiran terus, semakin aku simpan semakin bergetar hatiku, maka aku putuskan untuk memberitahumu saja. Aku menyampaikannya tanpa mengurangi atau menambahkan sekata pun. Dalam tidurmu kamu berkata seperti ini:
‘Wa, kamu masih di sini kan? Wa, jangan tinggalin aku ya! Aku sayang dan cinta sama kamu. Apa kamu sayang aku, Wa?
Sewaktu kamu ngomong gitu, sukmaku kebingungan ngga bisa menjawab pertanyaanmu.
Belum sempat berkata2, kamu bertanya lagi,
‘Wa, apa kamu sayang aku?’ saat itu aku makin bingung Dy, sampai nggak bisa ngomong, lagi2 sebelum aku bisa menjawab kamu mengigau lagi sambil memelukku kamu berkata,
‘wa aku nggak mau kehilangan orang yg aku sayangi lagi.’
Hingga sampai pagi kamu terus memelukku. Say, maaf aku sendiri masih kebingungan sampai saat ini, waktu menulis email ini jantungku terus deg2an rasanya ingin kupendam saja sendiri, tapi sungguh aku ngga bisa, malah semakin bingung aku jadinya. Maaf ya say, aku sudah mengatakan semuanya dengan apa adanya sebenarnya aku malu mengatakannya, aku nggak ingin setelah membaca email ini malah menjadi beban pikiran buat kamu, janji ya kamu nggak akan menjadikan ini beban. Aku nggak mau itu terjadi.
Aku merasakan wajahku memanas setelah membaca email itu. Entah aku harus percaya atau tidak dengan semua yg di tulis di emailnya.
Tapi, apa mungkin Dewa berbohong? Buat apa? Hatiku sama sekali tidak menaruh rasa curiga padanya dari awal aku mulai kenal dia meski ngga pernah bertemu secara langsung.
Bahkan dia membuktikan bahwa dia tahu semua tentangku. Seandainya ini benar, mau ditaruh di mana mukaku nanti kalau suatu saat aku bisa bertemu dengannya.
Ah, ngga usah mikir ketemuan, kalau dia menelponku sajalah, aku harus ngomong apa? Gila, malu banget rasanya. Ini sama aja dengan aku nembak dia. Eh, bukan aku, sukmaku, tapi apa bedanya?!
Tapi menurutku bedalah, sukma dewa mendekati sukmaku, memberikan perhatiannya pada sukmaku, jelaslah jadi luluh, tapi bisa gitu ya yg pacaran sukmanya aja tp physically raganya ngga pacaran?
Aduuuh... ini gimana ya? Dewa aja bingung, apalagi aku.
Apa dewa juga ngerasain hal yg sama. Kalau secara jasmani, aku dan dia belum merasakan yg namanya perasaan sayang seperti sukma2 kami itu. Tapi kok bisa ya? Apa mungkin belum? Atau apa mungkin sudah, tapi aku ngga peka, atau pura2 ngga peka?
Aaarrrgghhh......
Kalau nanti Dewa telpon aku musti gimana? Atau aku bilang no comment aja kali ya...
Ddrrttt...... telponku berbunyi, Dewa calling......
Mati aku! Umpatku dalam hati.
“ya Wa?”
“sudah di baca?”
“hahahaha sudah....” tertawaku terdengar garing bgt
“trus...”
“wa, telpon aku ntar malem aja ya, aku masih di warnet ini, mau makan dulu abis ini, telpon seperti biasa aja, tapi bukan sukma kamu yg tlp, kamunya juga, keenakan kamu tidur terus.”
“hehehe iya iya...nanti aku telpon. Kamu hati2 ya.”
“iya, pasti.”
“dah..”
“dah...”
Ok. Kalau ini dipikirkan ngga akan nemu jawaban malah tambah bingung aku. Nanti saja sharing langsung sama Dewa.
***
“jadi kamu sudah baca kan?” tanya Dewa melalui telpon ketika aku sudah sampai di rumah.
“sudah…”
“jujur saja, aku malu Dy, ngomong gini ke kamu. Takut kalau kamu ngga percaya, takut kamu anggap aku mengada2. Kayak yg aku tulis di email, aku pengen sekali simpan ini buat diriku sendiri sampai kamu nanti tahu sendiri. Tapi, aku ngga bisa, rasanya ada yg mengganjal di hatiku. Sebenernya, ngga hanya sekali kamu ngigau gitu. 2 malam berturut2 kamu ngigaunya. Aku bener2 ngga tahu harus bagaimana…”
“aku cuma ngga ngerti aja Wa, kalau memang sukmaku suka sama kamu, kenapa aku ngga ngerasainnya?maksudku, bukannya sukmaku itu aku sendiri kan? Lalu kenapa bisa ngerasain hal yg berbeda kaya 2 orang yg beda.”
“Dy, sukma itu lebih murni dan lebih jujur, apalagi kamu ngga dipengaruhi oleh ilmu apapun, maksudnya sukma kamu keluar dari raga kamu karena keinginannya sendiri, ngga seperti aku yg aku menginginkannya untuk keluar. Sukma kamu tahu apa yg sedang terjadi dalam pikiran bawah sadarmu, dan lebih jujur karena sukma yg murni bebas dari ego dan logika pikiran kamu.
Sorry sebelumnya kalau aku bicara seperti ini, coba seandainya aku ngga ngomong ke kamu dulu. Lalu kamu tanya pada dirmu sendiri, apa kmu menyukaiku, aku yakin akan ada,mungkin hanya 5% dari suara hati kamu yg bilang ‘iya’ tp kamu ngga akan menghiraukannya karena persentasenya yg kecil dan didukung lagi banyak bantahan2 dari pikiran kamu yg memberikan alasan2 logis. Dan kamu pasti akan mengacuhkan suara yg 5% ini.”
Aku terdiam mendengarkan omongan Dewa, karena apa yg dikatakannya memang benar.
Jujur, aku memang merasa senang setiap kali Dewa menelponku, bicara dengannya membuat bebanku sedikit berkurang.
Tapi, aku ngga yakin dengan apa yg kurasakan ini, persis seperti apa yg dikatakan Dewa, pikiranku selalu ikut campur, logikaku selalu membantah dengan memberikan banyak sekali pertanyaan2 dan alasan2, seperti,
apa aku yakin suka padahal ketemu aja ngga pernah?
Apa ngga Cuma pelarian aja berhubung aku baru aja patah hati?
Ok kalau kmu suka sama dia, trus dianya sendiri gimana suka ngga, udah siap patah hati lagi?????
Iya aku lupa dengan Dewa, apa dia juga punya rasa yg sama?
“hmm…wa, kalau kamu sendiri gimana?”
“aku….aku juga ngga tahu Dy…aku takut ngecewain kamu?”
“lho kok ngecewain aku?katamu harus jujur, kalau memang sukma kamu ngga punya rasa yg sama kan ngga bisa di paksa.”
“maksudku…aku takut ngecewain kamu karena mencintai kamu tidak seperti yg kamu inginkan..”
Eh…aku mencoba mencermati perkataannya.
“maksudmu wa?” aku ngga mau menduga2 aku harus denger sendiri maksudnya apa
“maaf ya Dy, aku memang menyukaimu sejak aku mulai dekat dengan sukma kamu, aku suka dengan pembawaan kamu, sifat, dan karakter kamu, dan aku yakin itu ngga dibuat2 karena aku melihatnya langsung dari sukma kamu, bagian dari diri kamu yg paling jujur..”
Ya Tuhan, ini aku harus ngomong apa lagi sekarang.
“maunya aku simpen dulu rasaku ini sampai kamu pun memiliki rasa yg sama, kalaupun tidak, aku sudah ikhlas untuk menyimpannya sendiri untuk seterusnya, tapi aku ngga nyangka kamu akan mengigau seperti itu.”
Berarti ini artinya, aku yg nembak dia!
Astaga, sesaat aku rasakan wajahku menghangat, malu banget, meski ngga diihat sama Dewa, tapi tetep aja ini membuatku malu.
Gimana bisa aku nembak cowok, belum pernah ketemu pula. Akunya secara nyata yg ngga pernah lihat, tp sukmaku sering.
“Dy….” Dewa memanggilku yg terdiam larut dalam kekalutan pikiranku.
“hehehe iya Wa?”
“kamu marah?”
“eh, kenapa marah? Ngga lah..”
“siapa tahu kamu marah…”
“bukan marah Wa, tapi bingung hehehe”
“iya, aku ngerti…ngga usah dipaksa untuk di mengerti, di rasakan saja. Mudah2an kamu bisa…”
“iya…”
Aku menyahut ‘iya’ tapi aku ngga ngerti apa yg aku ‘iya’kan itu.
****
Seperti saran Dewa, aku berusaha untuk tidak memikirkan apa yg terjadi dengan sukmaku dan sukmanya Dewa.
Hubunganku dengan Dewa masih tetap sama, hanya saja ngga hanya malam hari dia menghubungiku, siang pun sering meski hanya lewat pesan singkat.
Kurasakan perhatiannya semakin intens, meski hanya lewat sms atau pun sekedar tlp. Beberapa kali dia pun mengirimiku produk2 perawatan tubuh walaupun aku sudah katakan aku ngga terbiasa dengan perawatan2 aneh seperti yg di ceritakan. Hasilnya, sudah bisa di tebak, aku hanya memakainya ngga lebih dari seminggu, setelah itu aku memilih menyimpannya, buat kenangan2an.
Padahal itu ada masa expired nya. Bodo amat. Benda yg paling aku sayang adalah hand body lotion racikannya Dewa, harumnya pas banget, ngga terlalu keras dan ngga terlalu lembut juga dan juga tahan lama, ada gliternya jd kalau diusap ke kulit jadi blink blink gitu, Cuma ngga terlalu mencolok juga. Saking sayangnya aku ngga pernah pake itu lotion aku simpan saja.
Suatu hari aku menerima kabar dari rumah kalau kakakku yg kedua akan menikah. Tentu saja, kedua orang tuaku memintaku untuk pulang barang satu atau dua hari di hari perayaannya. Tentu saja aku harus pulang, dan ini juga kukabarkan ke Dewa.
“berapa lama kamu di rumah?”
“entahlah, mungkin 3 – 4 hari.”
“ya udah, kamu yg hati2 ya.”
“iya. Kamu ngga usah ikut ya.” Ujarku
“ngga Dy, kali ini aku akan ikut. Aku akan temenin kamu ke mana pun kamu pergi.”
“ngga usah Wa, kan kamu bilang udah ada yg selalu nemenin aku, udah itu aja cukup kan.”
“ngga. Aku ikut nanti.”
“tap..”
“udah ngga usah kuatir, gpp kok dy, nanti kamu ke kampung kan?”
“iya.”
“hehe sudah ada yg aku kenal di sana, aman lah….”
“maksudnya?”
“iya kan udah sempet ketemu kmrin, bisalah aku ngenalinnya nanti, lagian aku kuatir klo ngga nemenin kamu.”
“ya terserah kamu aja, aku cuma ngga mau kamu kena masalah .”
“ngga akan, janji!”
***
Pesawat yg aku tumpangi landing jam 8 malam. Aku dijemput kakakku yg pertama di bandara. Karena ortuku semua sudah di kampung menyiapkan upacara nikahannya kakakku yg kedua, maka di rumahku kosong, makanya malam ini aku nginep di rumahnya kakakku yg cewek.
Rumahnya ada di pinggiran kota Denpasar, masih agak masuk pula ke pelosok, rumahnya asri dan dikelilingi persawahan, dan karena masih banyak pepohonan udaranya jadi lebih dingin.
Aku tidur di kamar ponakanku yg masih tidur dengan ortunya. Rasa lelah menghinggapi tubuhku sehingga kuputuskan untuk baringan di kamar. Ponselku berbunyi menandakan panggilan masuk. Dari Dewa.
“hallo..”
“kenapa belum tidur?” tanyanya
“nungguin telpon kamu,”
“yah kamu itu, udah tidur aja”
“kamu di sini?”
“iya, aku udah di kamar. Kenapa?”
“ngga apa2. Aku cuma was2 aja.”
“jangan kuatir, kakak ipar kamu ngga akan berani macem2, pintu kamar ngga ada kuncinya?”
“ngga ada.”
“aku yakin dia ngga akan macem2. Jangan kuatir ya,” ujarnya.
Ya, aku juga jujur sama Dewa tentang kejadian di masa lalu yg tidak akan pernah bisa kulupakan itu.
“ tidur ya sekarang…boleh aku peluk?”
“iya…”
“ya udah tidur ya, kalau kamu mau, coba di rasain, tidurmu agak mepet ke dinding, nanti aku peluk dari belakang.”
“iya..”
“ya udah, sekarang tidur, dah…”
“dah..”
Telpon pun terputus. Setelah itu aku agak merapat ke dinding, udara yg dingin membuatku tidur meringkuk menahan dingin, ngga ada selimut, dan aku hanya tidur dengan kaos dan celana jeans.
Selang beberapa menit, aku merasakan hangat di sekitaran tubuhku bagian atas dan belakang. Aku tidak berkonsentrasi, seperti saran Dewa, tapi aku bisa langsung merasakan hangat.
Dan kemudian aku merasakan bulu kudukku berdiri hanya saja pada setengah badanku saja. Setelah itu rasa hangat kembali kurasakan. Aku meraih ponselku yg kuletakkan di sampingku, kukirimkan pesan ke Dewa
Sudah tidur?
Apalagi Say? Udah tidur saja, udah aku peluk ini.
Iya. Makasi.Apa ini yg dulu dimaksudkan sama Dewa dengan adanya rasa itu? Kalau aku ada rasa dengannya maka dengan sedikit konsentrasi saja atau malah tanpa konsentrasi aku pun bisa merasakan kehadiranya dengan mudah.
Paginya aku pulang ke rumahku dengan diantar oleh kakakku. Lalu dengan motoran aku pulang ke kampung bokap. Dari Denpasar sekitaran 1 jam. Sampai di rumah bokap di kampung sudah ramai para sodara2 yg bantu2 untuk menyiapkan upacara pernikahan kakakku.
Di gerbang depan aku langsung bertemu dengan bokap, dan Pak Mangku yg pernah membantuku saat Nadya kerasukan. Pak Mangku hanya menanyakan kabarku, lalu berlalu pergi, tidak seperti biasanya, biasanya beliau pasti nanya macem2 ke aku. Ya sudahlah mungkin lagi sibuk.
Sebelum gelap aku balik ke Denpasar lagi. Sebenernya bokap ngelarang, tapi aku beralasan ada sedikit urusan yg harus aku urus sebelum nanti balik ke S**.
Menjelang malam aku sudah sampai di rumah, dan otomatis malam ini aku akan sendirian saja. Takut? Tentu saja tidak. Aku sudah terbiasa sendirian di rumah sedari kecil, sama sekali ngga ada perasaan takut meski rumahku boleh di bilang cukup luas.
Selesai makan hasil dari beli makan td di pinggir jalan, aku mengunci pintu gerbang dan semua pintu yg harusnya dikunci.
Setelah itu aku masuk ke kamarku, yg sedikit tak terurus karena lama tidak di tempati. Aku bersihkan sekedarnya, dan merapikan tempat tidurku yg acak2an. Siapa pula yg berantakin gini, biasanya anak dari kakakku yg pertama, yg baru berumur 5 tahun, suka dititipkan di rumah, mungkin dia yg suka mainan di sini.
Sekilas aku terpaku pada satu ruang di sudut pojok kamarku. Di sebelah almari dan berhimpitan dengan dinding.
Tempat di mana dulu ada seperangkat computer pinjaman dari kakakku yg kedua, tempat di mana aku membuang semua energiku dari subuh ketemu subuh, untuk menyelesaikan skripsiku sambil meratapi nasib burukku.
Aku mendekat dan duduk di lantai, sama seperti yg dulu kulakukan, hanya saja kini tidak ada lagi computer dan kertas2 yg berserakan di sekitarku. Kembali kurasakan dengan jelas bagaimana sakitnya hatiku saat itu, sampai2 pandanganku mengabur karena genangan air mata di pelupuk mataku.
Cepat2 aku singkirkan semua memori itu, dan segera beranjak berdiri. Aku duduk di tepi tempat tidurku ketika ponselku berbunyi menandakan sebuah pesan masuk. Pasti Dewa
Tidur cepetan
Kenapa?
Ngga apa2. Tidur aja.
Iya.Aku menuruti perkataannya, kubaringkan tubuhku yg terasa pegal2 ini di atas kasur. Karena belum terlalu mengantuk aku membuka ponselku dan main games. Sedang seru2nya main…
“ehheehhhheem…”
Seketika aku balikkan badanku yg awalnya tidur menyamping, kini terlentang. Mataku awas memandang ke sekeliling kamarku. Jelas bgt tadi aku dengar suara orang berdehem.
Aku kirimkan pesan ke Dewa.
Wa, aku denger suara berdehem? Siapa ya?Tak lama ponselku berbunyi. Dewa calling
“iya Wa, siapa itu yg berdehem2 Wa?” kini aku mulai takut.
“beneran kamu denger? Bukan mimpi?”
“mimpi apaan wong aku main game td. Jelas bgt di telingaku, kayak di samping pas bgt. Masa iya mahluk halus, yg begituan ngga bakalan bisa masuk rumah, Wa.”
“hehehe aku bisa?”
“ya kamu kan beda.”
“hehehe udah tidur aja, gpp kok.”
“bilang dulu bener ngga yg aku denger itu? Trus siapa yg dehem2 gitu?”
“itu aku Dy, lg disebelahmu… berarti kamu udah bisa dengerin aku.”
“oya, asik nih.”
“ya udah sekarang tidur ya”
“ok boss.”
“jangan takut aku jagain kamu kok.”
“iya, makasi ya, ya udah akuu tidur ya.”
“iya say.”
“dah…”
“dah…”
Setelah telponan dengan Dewa ternyata tidak kunjung membuatku mengantuk. Jadi aku mencoba untuk membaca ulang sms2 ku dengan Dewa.
Sejurus kemudian, aku merasa bulu kudukku berdiri. Kali ini tidak seperti biasanya.
Biasanya kalau bulu kudukkuu berdiri karena kehadiran Dewa, biasanya yg berdiri hanya di sebagian tubuh saja di mana sukma dewa sedang berdiri.
Kali ini yg meremang adalah tengkukku. Dan seumur2 baru kali ini aku ngerasa takut berada di rumahku sendiri. Aku mengirimkan pesan ke Dewa.
Wa, kok aku takut ya?Dia tidak membalas pesanku tapi dia langsung menelponku
“takut kenapa?”
“ya takut aja Wa. Gimana dong aku bilangnya.”
“udah ngga usah dipikir, aku di sana kok. Kmu ngga usah khawatir. Lanjutin tidur ya,."
"Say?”
“Ya udah aku tidur ya Wa.”
“iya, inget doa.”
“sip”
*****
What if the life is the dream, and when we die, we wake up
0