- Beranda
- Stories from the Heart
Accidentally, You.
...
TS
salmansharkan
Accidentally, You.

Quote:
“That moment when you meet a perfect stranger who makes you feel like life.”

Quote:
Ini cerita tentang Airin saat berada di titik terendah dalam hidupnya. Airin menemukan sosok yang bisa membuatnya tersenyum dan mendadak bahagia dan lalu jatuh cinta.
Quote:
Langkahku melambat seiring dengan hembusan angin pelan menerbangkan ujung rambut panjang sepunggungku. Aku sedang bimbang sekarang. Beberapa jam yang lalu aku mengalami hal yang paling aku benci seumur hidupku: pertengkaran orang tua.
Aku masih tidak mengerti sampai saat ini, apa yang membuat mereka berdua mempertahankan pernikahan mereka sementara mereka selalu bertengkar setiap hari. Apa itu karena aku? Jika memang alasannya demikian, kurasa itu adalah alasan yang bodoh. Aku sudah mulai tidak memedulikan mereka lagi.
Oh ya… kau bisa sebut aku kurang ajar atau tidak menghormati orang tua, tapi seperti itulah adanya sekarang. Ada atau tidak ada aku diantara mereka toh mereka tetap bertengkar juga. Ada atau tidak ada mereka bersamaku, toh aku tetap tidak diperhatikan juga.
Aku baru saja turun dari sepeda motor yang ku gas penuh dari rumah menuju sebuah pantai yang banyak dikunjungi wisatawan yang berkunjung ke pulau kecil yang kadang terlupakan ini. Aku melangkah ke arah barat daya, ke arah susunan batu pemecah ombak yang dikelilingi oleh pasir-pasir putih. Melepas alas kakiku dan merasakan hangatnya pasir pantai yang membelai lembut telapak kakiku. Ingin sekali aku mengubur kakiku disana, sekarang juga. Kalau bisa sekujur tubuhku sekalian. Kehangatan itu kurasa bisa menggantikan dingin dan bekunya suasana rumah selama lima tahun terakhir ini.
Aku menghembuskan napas berkali-kali. Menarik napas dalam berkali-kali. Mencoba menenangkan diriku dengan cara yang diberitahukan seorang penyiar radio dalam sebuah acara kemarin siang. Aku mencoba menepikan semua masalahku ke sudut otak yang lain, menggabungkannya ke sebuah titik dan lalu memaksa setiap selnya untuk melupakan apa yang telah terjadi dan mengembalikan kenangan-kenangan yang kemungkinan bisa membuat aku tertawa.
Tapi… ah… aku tidak punya banyak kenangan indah. Umurku sudah dua puluh dan aku belum pernah merasakan pengalaman yang bisa ku kenang dengan indah disaat-saat seperti ini. Aku mengerucutkan bibir dan melanjutkan perjalanan ke ujung barat daya pantai itu dengan sepasang alas kaki di tangan kiriku.
Hari masih sangat pagi… Aku meninggalkan rumah sekitar pukul enam dan sekarang masih dingin dan agak berkabut. Debur ombak menemaniku berjalan hampir sendirian di pantai yang biasanya ramai ini. Memanjakan telingaku dengan lembut nyanyiannya ketika menyentuh bibir pantai dan bertemu pasir tempatku menapak. Aku menatap langit yang masih agak gelap di sebelah barat, namun berpadu cahaya khas matahari terbit di sebelah timur. Awan mulai membentuk formasi abstrak khas yang sangat kusuka.
“Lapar…”Aku mengelus perutku. Seharusnya memang ada penjual makanan di dekat parkiran pantai itu tapi aku melewatkannya begitu saja tadi karena pikiranku yang sedang rumit. Tanpa kusadari aku sudah tiba di ujung sebelah barat daya pantai itu. Ada banyak batu-batuan yang sengaja dibuat dan disusun untuk sebagai pemecah ombak disana. Aku duduk di salah satu batu tak jauh dari bibir pantai. Air dingin sesekali mengenai ujung hidungku yang membuatku semakin menggigil.
Aku menarik napas dalam lagi. Berusaha sebisa mungkin berbicara dengan Tuhan dari dalam hatiku. Memohon padanya agar hari ini, sehari saja, aku bisa merasa bahagia. Agar hari ini, sehari saja, aku bisa melepaskan segala beban di pundak, hati dan otakku dan tersenyum. Agar hari ini, aku bisa melupakan semuanya… tidak hanya hari ini saja, tetapi mulai hari ini dan seterusnya.
“Hai…”
Hatiku mencelos. Hampir saja aku berteriak karena terkejut mendengar suara itu masuk melalui telinga kananku. Aku merasakan kehadiran seseorang di sampingku, duduk persis di atas batu di sebelah tempatku duduk. Suara laki-laki. Tubuhku seketika mengejang, ketakutan. Aku sangat tidak terbiasa dengan hal-hal seperti ini: laki-laki dan kejutan. Suara ombak benar-benar menenggelamkan suara langkah kakinya. Aku berusaha untuk tenang dan mengatur kecepatan detak jantungku.
“Mengagetkanmu, eh?” dia bicara dalam bahasa Korea. Aku mengerti sekali. Aku pernah belajar bahasa Korea dan mendapatkan sertifikat. Anehnya, ketika mendengarnya bicara perasaan tegang yang tadi menyerbu itu seketika menghilang. Detak jantungku mulai normal dan aku mulai rileks sekarang.
Kuberanikan diriku untuk menoleh ke kanan, dan disanalah dia duduk, tiga puluh sentimeter dari wajahku. Seorang laki-laki berkulit putih, sangat putih tapi tidak pucat, berambut hitam legam lurus disisir klimis dan dibelah dibagian pinggir, tatapannya tajam dari bola matanya yang sehitam intan, berhidung mancung dan kokoh diatas bibirnya yang tipis kemerahan.
Dia tersenyum… padaku, orang yang tidak dia kenal sama sekali. Senyumnya benar-benar tidak dibuat-buat. Aku bisa membedakannya.
Aku mulai bertanya-tanya, kenapa dia tiba-tiba datang dan menyapaku?
Aku meyakinkan diriku bahwa dia bukan hantu atau semacamnya karena aku tahu betul, penduduk lokal pulau ini masih sangat percaya mitos dan tahayul. Ku gerakkan kakiku dengan sengaja menyentuh ujung sepatunya dengan harapan dia tidak akan merasakan sentuhan itu…
Sepatu… kenapa dia menggunakan sepatu diatas pasir? Bukankah itu aneh?
Otakku mulai memikirkan pertanyaan-pertanyaan yang tidak penting sampai-sampai aku lupa aku masih menatapnya sekarang. Matanya… indah sekali… Rasanya seperti menatap sebuah bintang paling terang yang bisa kau lihat di malam hari, seperti melihat keindahan Venus di kala fajar, atau menatap bulan di posisi terdekatnya dengan bumi delapan belas tahun sekali.
“Kau sendiri?” tanya laki-laki itu lagi. Saat itulah aku baru memalingkan pandanganku kembali ke atas batuan yang basah oleh air yang dibawa ombak.
“Bagaimana kau tahu aku berbicara berbahasa Korea?” tanyaku spontan. Separo penasaran separo tidak peduli. Entah bagaimana caranya aku masih ingat wajahnya ketika menatap batu-batu yang ada di depan kakiku itu.
“Kau tidak sadar?” tanyanya merasa aneh.
Aku menoleh, “Hah?” aku tidak mengerti juga.
“Ketika kau datang, memarkirkan sepeda motormu, kau mengumpat dalam bahasa Korea,” jelasnya.
Wajahku memerah seketika. Entah aku ingat atau tidak apa yang aku ucapkan beberapa menit yang lalu. Aku memang suka bicara sendiri ketika sedang berkendara. Entah kenapa itu membuatku merasa lebih baik.
“Benarkah?” aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal. Dia mengangguk sambil tersenyum simpul. Sesaat pikiranku mulai teralih oleh wajahnya yang memukau itu. Lalu sedetik kemudian aku tersadar oleh ucapannya tadi. “Jadi sejak tadi kau mengikutiku, eh?” nada bicaraku agak tinggi dan menggeser posisi dudukku agak menjauh.
“Wow, tidak, bukan begitu! Aku hanya sedang berlari pagi dari hotel dan ketika mendengar kau bicara, aku, yah… terpikir untuk berjalan-jalan ke tempat ini juga,”
“Alasanmu tidak masuk akal! Kau pasti mengikutiku!” aku berteriak dan sekarang berdiri menjauh darinya.
“Hey, hey, tenang… aku tidak bermaksud… sungguh. Kau tidak percaya? Apakah wajahku terlihat seperti penjahat?” dia menunjuk wajahnya sendiri. Kentara sekali dia takut aku tiba-tiba marah dan pergi dari tempat itu. Entah kenapa aku merasa seperti itu.
“Tidak… kau mirip Wonbin… atau Kangta…? Ah… Kau juga sedikit mirip Choi Siwon…” aku meracau lalu duduk lagi.
Entah wajahku sudah semerah apa aku tidak tahu tetapi aku bisa merasakannya memanas.
Laki-laki itu tertawa sambil menutupi mulutnya dengan kepalan tangan kangannya. Aku melirik kearahnya dan memerhatikan ekspresi wajahnya saat itu. Dia terlihat benar-benar mengagumkan dengan tawanya.
“Kenapa tertawa?” aku berusaha tetap bicara dengan nada marah meskipun aku yakin sebenarnya aku sudah gagal.
“Kau juga menyanyikan sebuah lagu tadi. Fiction dari Beast kalau aku tidak salah dengar, eh?”
Mataku melotot, tercengang. Aku mulai merinding. Laki-laki ini… Wajahnya memang tampan, tapi dengan pendengaran seperti itu… Maksudku, aku bernyanyi tanpa ada niatan untuk didengar oleh siapapun. Aku biasanya bernyanyi untuk diriku sendiri… Bersenandung… Kenapa dia bisa mendengarnya? Bagaimana bisa dia mendengarnya?
“Apakah aku bernyanyi sekeras itu? Kau membuatku takut… Sungguh!” ucapku. Diam, aku masih menatap matanya yang juga menatap mataku. Dia sepertinya bisa membaca pikiranku atau apa, sedetik setelah dia menyelami mataku, ekspresinya berubah.
“Kau sedang ada masalah, eh?”
Hatikuku mencelos. Lagi. Sesegera mungkin aku mengalihkan pandanganku dan mencoba tenggelam dalam birunya samudera di depanku. Membatin. Apakah adegan saling tatap tadi membuat dia bisa membaca semua pikiranku?
“Kau ini penyihir atau apa, sih? Aku selalu takut dengan orang yang bisa membaca pikiran orang lain!” aku berkata jujur dan berteriak. “Rasanya seperti tidak punya privasi!”
Dia tertawa. TERTAWA!
Astaga… pria ini bukan manusia kurasa. Aku bahkan tidak bisa menangkap bagian yang lucu dari kalimat-kalimatku sebelumnya. Tetapi… tawa laki-laki itu, entah kenapa aku merasa sangat senang mendengarnya. Entah kenapa aku sangat senang melihatnya.
“Kau tidak pernah dengar?” dia bertanya.
“Apa?”
“Masalah yang sedang dihadapi seseorang akan sangat terlihat jelas di matanya. Ketika mereka melihat, mereka tidak benar-benar memerhatikan apa yang mereka lihat. Ketika mereka menatap, mereka tidak benar-benar menghiraukan apa yang mereka tatap.”
Aku hanya diam dan–ya–aku sedang menatapnya. Tapi… apakah aku memikirkan hal lain saat ini? Apakah dia tahu aku punya masalah yang sumpah demi Tuhan aku tidak ingin ceritakan pada siapapun bahkan teman terdekatku sekalipun jika memang aku punya?
“Ketika kau menatapku tadi, kau tidak benar-benar memerhatikan mataku… seperti ada pembatas kaca tak terlihat tetapi sangat tebal diantara mataku dan matamu. Dan di dalam kaca itu ada banyak sekali kegundahan yang sekarang sedang menghantui pikiranmu… Benar ‘kan?”
“Aku mulai takut. Sungguh…” kataku jujur, masih menatapnya.
“Kalau begitu, katakan, apa yang harus aku lakukan agar kau tidak takut?”
“Hah?” pertanyaan itu benar-benar aneh.
Dia tertawa lagi. Oh Tuhan… tawa itu… Aku benar-benar seperti sedang berada dalam satu scene di sebuah drama Korea sekarang. Aku mencoba mengembalikan kesadaranku. Mencoba sekali lagi membuang dan menyisihkan semua pikiran tentang masalah-masalahku ke sudut otak yang lain untuk bisa benar-benar memerhatikannya. Entah kenapa ucapannya tentang kaca tebal di depan mataku itu sangat mengganggu pikiranku. Rasanya seperti aku kehilangan ketulusan dalam diriku. Aku menatapnya lagi… Wajah itu… Perpaduan antara Wonbin dan Choi Siwon, sudah jelas.
“Kau mencoba memerhatikanku tanpa memikirkan masalahmu, eh?”
Sebuah tombak sudah menusuk punggungku sekarang. Dia benar-benar mengerikan!
“Aku… errr… aku benar-benar takut karena kau sepertinya tahu apa yang sedang aku pikirkan… Aku yakin kau pasti keturunan seorang penyihir di Korea!”
Dia tertawa lagi. “Hmmm kupikir kami tidak mengenal penyihir di Korea?”
“Tapi penyihir ada di semua negara, bukan?”
“Aku tidak tahu…” jawabnya tegas sambil mengangkat bahu dan mencoba menirukan gaya imut khas member boyband Korea.
“Katakan, bagaimana kau bisa tahu apa yang sedang aku rasakan!”
“Aku hanya menebak,”
“Bohong!”
“Sungguh! Dan sekarang kau mulai merasa takut, kan?”
“BAGAIMANA KAU TAHU?!”
Dia tertawa lagi. Oh aku mulai menyukai suara tawanya.
“Kau tadi bilang begitu.”
Wajahku seakan terbakar. Oh tidak, kali ini benar-benar sedang terbakar. Kakiku tiba-tiba saja gemetaran dan angin yang tadinya menenangkan menjadi sedikit terlalu dingin dan membuatku merinding berlebihan. Aku menunduk dan menahan tawa.
“Kalau kau ingin tertawa, sebaiknya dilepaskan saja… tidak baik menahan tawa. Kau tahu, jika kau menahan tertawa, pusar mu akan bertambah satu,”
“Bohong!” Aku berteriak lalu menutup mulutku sendiri dengan kedua tangan. Membayangkan bagaimana bentuk tubuhku dengan dua pusar. “KAU BOHONG!” jelas sekali ketakutan di wajahku dan dia melihatnya kemudian tertawa.
Dan… untuk pertama kalinya dalam beberapa minggu ini, aku ikut tertawa… lepas… sepertinya semuanya tidak pernah terjadi. Sepertinya kepalaku kosong, hanya berisi pikiran-pikiran bahagia. Sepertinya setiap sudut dari sel otakku sudah bisa melupakan masalah yang terjadi beberapa minggu belakangan ini. Sepertinya, tidak, yang ini aku yakin, kaca tebal tak terlihat itu sudah menghilang dan kini aku bisa melihat mata laki-laki itu lebih dalam dan lebih jauh dari sebelumnya. Matanya lebih indah dilihat tanpa masalah yang kupendam… dia tersenyum.
“Hai, Airin. Namaku, Mario…”
Tawaku seketika terhenti ketika dia menyebut namaku sementara seingatku aku tidak pernah memberitahukannya.
Aku masih tidak mengerti sampai saat ini, apa yang membuat mereka berdua mempertahankan pernikahan mereka sementara mereka selalu bertengkar setiap hari. Apa itu karena aku? Jika memang alasannya demikian, kurasa itu adalah alasan yang bodoh. Aku sudah mulai tidak memedulikan mereka lagi.
Oh ya… kau bisa sebut aku kurang ajar atau tidak menghormati orang tua, tapi seperti itulah adanya sekarang. Ada atau tidak ada aku diantara mereka toh mereka tetap bertengkar juga. Ada atau tidak ada mereka bersamaku, toh aku tetap tidak diperhatikan juga.
Aku baru saja turun dari sepeda motor yang ku gas penuh dari rumah menuju sebuah pantai yang banyak dikunjungi wisatawan yang berkunjung ke pulau kecil yang kadang terlupakan ini. Aku melangkah ke arah barat daya, ke arah susunan batu pemecah ombak yang dikelilingi oleh pasir-pasir putih. Melepas alas kakiku dan merasakan hangatnya pasir pantai yang membelai lembut telapak kakiku. Ingin sekali aku mengubur kakiku disana, sekarang juga. Kalau bisa sekujur tubuhku sekalian. Kehangatan itu kurasa bisa menggantikan dingin dan bekunya suasana rumah selama lima tahun terakhir ini.
Aku menghembuskan napas berkali-kali. Menarik napas dalam berkali-kali. Mencoba menenangkan diriku dengan cara yang diberitahukan seorang penyiar radio dalam sebuah acara kemarin siang. Aku mencoba menepikan semua masalahku ke sudut otak yang lain, menggabungkannya ke sebuah titik dan lalu memaksa setiap selnya untuk melupakan apa yang telah terjadi dan mengembalikan kenangan-kenangan yang kemungkinan bisa membuat aku tertawa.
Tapi… ah… aku tidak punya banyak kenangan indah. Umurku sudah dua puluh dan aku belum pernah merasakan pengalaman yang bisa ku kenang dengan indah disaat-saat seperti ini. Aku mengerucutkan bibir dan melanjutkan perjalanan ke ujung barat daya pantai itu dengan sepasang alas kaki di tangan kiriku.
Hari masih sangat pagi… Aku meninggalkan rumah sekitar pukul enam dan sekarang masih dingin dan agak berkabut. Debur ombak menemaniku berjalan hampir sendirian di pantai yang biasanya ramai ini. Memanjakan telingaku dengan lembut nyanyiannya ketika menyentuh bibir pantai dan bertemu pasir tempatku menapak. Aku menatap langit yang masih agak gelap di sebelah barat, namun berpadu cahaya khas matahari terbit di sebelah timur. Awan mulai membentuk formasi abstrak khas yang sangat kusuka.
“Lapar…”Aku mengelus perutku. Seharusnya memang ada penjual makanan di dekat parkiran pantai itu tapi aku melewatkannya begitu saja tadi karena pikiranku yang sedang rumit. Tanpa kusadari aku sudah tiba di ujung sebelah barat daya pantai itu. Ada banyak batu-batuan yang sengaja dibuat dan disusun untuk sebagai pemecah ombak disana. Aku duduk di salah satu batu tak jauh dari bibir pantai. Air dingin sesekali mengenai ujung hidungku yang membuatku semakin menggigil.
Aku menarik napas dalam lagi. Berusaha sebisa mungkin berbicara dengan Tuhan dari dalam hatiku. Memohon padanya agar hari ini, sehari saja, aku bisa merasa bahagia. Agar hari ini, sehari saja, aku bisa melepaskan segala beban di pundak, hati dan otakku dan tersenyum. Agar hari ini, aku bisa melupakan semuanya… tidak hanya hari ini saja, tetapi mulai hari ini dan seterusnya.
“Hai…”
Hatiku mencelos. Hampir saja aku berteriak karena terkejut mendengar suara itu masuk melalui telinga kananku. Aku merasakan kehadiran seseorang di sampingku, duduk persis di atas batu di sebelah tempatku duduk. Suara laki-laki. Tubuhku seketika mengejang, ketakutan. Aku sangat tidak terbiasa dengan hal-hal seperti ini: laki-laki dan kejutan. Suara ombak benar-benar menenggelamkan suara langkah kakinya. Aku berusaha untuk tenang dan mengatur kecepatan detak jantungku.
“Mengagetkanmu, eh?” dia bicara dalam bahasa Korea. Aku mengerti sekali. Aku pernah belajar bahasa Korea dan mendapatkan sertifikat. Anehnya, ketika mendengarnya bicara perasaan tegang yang tadi menyerbu itu seketika menghilang. Detak jantungku mulai normal dan aku mulai rileks sekarang.
Kuberanikan diriku untuk menoleh ke kanan, dan disanalah dia duduk, tiga puluh sentimeter dari wajahku. Seorang laki-laki berkulit putih, sangat putih tapi tidak pucat, berambut hitam legam lurus disisir klimis dan dibelah dibagian pinggir, tatapannya tajam dari bola matanya yang sehitam intan, berhidung mancung dan kokoh diatas bibirnya yang tipis kemerahan.
Dia tersenyum… padaku, orang yang tidak dia kenal sama sekali. Senyumnya benar-benar tidak dibuat-buat. Aku bisa membedakannya.
Aku mulai bertanya-tanya, kenapa dia tiba-tiba datang dan menyapaku?
Aku meyakinkan diriku bahwa dia bukan hantu atau semacamnya karena aku tahu betul, penduduk lokal pulau ini masih sangat percaya mitos dan tahayul. Ku gerakkan kakiku dengan sengaja menyentuh ujung sepatunya dengan harapan dia tidak akan merasakan sentuhan itu…
Sepatu… kenapa dia menggunakan sepatu diatas pasir? Bukankah itu aneh?
Otakku mulai memikirkan pertanyaan-pertanyaan yang tidak penting sampai-sampai aku lupa aku masih menatapnya sekarang. Matanya… indah sekali… Rasanya seperti menatap sebuah bintang paling terang yang bisa kau lihat di malam hari, seperti melihat keindahan Venus di kala fajar, atau menatap bulan di posisi terdekatnya dengan bumi delapan belas tahun sekali.
“Kau sendiri?” tanya laki-laki itu lagi. Saat itulah aku baru memalingkan pandanganku kembali ke atas batuan yang basah oleh air yang dibawa ombak.
“Bagaimana kau tahu aku berbicara berbahasa Korea?” tanyaku spontan. Separo penasaran separo tidak peduli. Entah bagaimana caranya aku masih ingat wajahnya ketika menatap batu-batu yang ada di depan kakiku itu.
“Kau tidak sadar?” tanyanya merasa aneh.
Aku menoleh, “Hah?” aku tidak mengerti juga.
“Ketika kau datang, memarkirkan sepeda motormu, kau mengumpat dalam bahasa Korea,” jelasnya.
Wajahku memerah seketika. Entah aku ingat atau tidak apa yang aku ucapkan beberapa menit yang lalu. Aku memang suka bicara sendiri ketika sedang berkendara. Entah kenapa itu membuatku merasa lebih baik.
“Benarkah?” aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal. Dia mengangguk sambil tersenyum simpul. Sesaat pikiranku mulai teralih oleh wajahnya yang memukau itu. Lalu sedetik kemudian aku tersadar oleh ucapannya tadi. “Jadi sejak tadi kau mengikutiku, eh?” nada bicaraku agak tinggi dan menggeser posisi dudukku agak menjauh.
“Wow, tidak, bukan begitu! Aku hanya sedang berlari pagi dari hotel dan ketika mendengar kau bicara, aku, yah… terpikir untuk berjalan-jalan ke tempat ini juga,”
“Alasanmu tidak masuk akal! Kau pasti mengikutiku!” aku berteriak dan sekarang berdiri menjauh darinya.
“Hey, hey, tenang… aku tidak bermaksud… sungguh. Kau tidak percaya? Apakah wajahku terlihat seperti penjahat?” dia menunjuk wajahnya sendiri. Kentara sekali dia takut aku tiba-tiba marah dan pergi dari tempat itu. Entah kenapa aku merasa seperti itu.
“Tidak… kau mirip Wonbin… atau Kangta…? Ah… Kau juga sedikit mirip Choi Siwon…” aku meracau lalu duduk lagi.
Entah wajahku sudah semerah apa aku tidak tahu tetapi aku bisa merasakannya memanas.
Laki-laki itu tertawa sambil menutupi mulutnya dengan kepalan tangan kangannya. Aku melirik kearahnya dan memerhatikan ekspresi wajahnya saat itu. Dia terlihat benar-benar mengagumkan dengan tawanya.
“Kenapa tertawa?” aku berusaha tetap bicara dengan nada marah meskipun aku yakin sebenarnya aku sudah gagal.
“Kau juga menyanyikan sebuah lagu tadi. Fiction dari Beast kalau aku tidak salah dengar, eh?”
Mataku melotot, tercengang. Aku mulai merinding. Laki-laki ini… Wajahnya memang tampan, tapi dengan pendengaran seperti itu… Maksudku, aku bernyanyi tanpa ada niatan untuk didengar oleh siapapun. Aku biasanya bernyanyi untuk diriku sendiri… Bersenandung… Kenapa dia bisa mendengarnya? Bagaimana bisa dia mendengarnya?
“Apakah aku bernyanyi sekeras itu? Kau membuatku takut… Sungguh!” ucapku. Diam, aku masih menatap matanya yang juga menatap mataku. Dia sepertinya bisa membaca pikiranku atau apa, sedetik setelah dia menyelami mataku, ekspresinya berubah.
“Kau sedang ada masalah, eh?”
Hatikuku mencelos. Lagi. Sesegera mungkin aku mengalihkan pandanganku dan mencoba tenggelam dalam birunya samudera di depanku. Membatin. Apakah adegan saling tatap tadi membuat dia bisa membaca semua pikiranku?
“Kau ini penyihir atau apa, sih? Aku selalu takut dengan orang yang bisa membaca pikiran orang lain!” aku berkata jujur dan berteriak. “Rasanya seperti tidak punya privasi!”
Dia tertawa. TERTAWA!
Astaga… pria ini bukan manusia kurasa. Aku bahkan tidak bisa menangkap bagian yang lucu dari kalimat-kalimatku sebelumnya. Tetapi… tawa laki-laki itu, entah kenapa aku merasa sangat senang mendengarnya. Entah kenapa aku sangat senang melihatnya.
“Kau tidak pernah dengar?” dia bertanya.
“Apa?”
“Masalah yang sedang dihadapi seseorang akan sangat terlihat jelas di matanya. Ketika mereka melihat, mereka tidak benar-benar memerhatikan apa yang mereka lihat. Ketika mereka menatap, mereka tidak benar-benar menghiraukan apa yang mereka tatap.”
Aku hanya diam dan–ya–aku sedang menatapnya. Tapi… apakah aku memikirkan hal lain saat ini? Apakah dia tahu aku punya masalah yang sumpah demi Tuhan aku tidak ingin ceritakan pada siapapun bahkan teman terdekatku sekalipun jika memang aku punya?
“Ketika kau menatapku tadi, kau tidak benar-benar memerhatikan mataku… seperti ada pembatas kaca tak terlihat tetapi sangat tebal diantara mataku dan matamu. Dan di dalam kaca itu ada banyak sekali kegundahan yang sekarang sedang menghantui pikiranmu… Benar ‘kan?”
“Aku mulai takut. Sungguh…” kataku jujur, masih menatapnya.
“Kalau begitu, katakan, apa yang harus aku lakukan agar kau tidak takut?”
“Hah?” pertanyaan itu benar-benar aneh.
Dia tertawa lagi. Oh Tuhan… tawa itu… Aku benar-benar seperti sedang berada dalam satu scene di sebuah drama Korea sekarang. Aku mencoba mengembalikan kesadaranku. Mencoba sekali lagi membuang dan menyisihkan semua pikiran tentang masalah-masalahku ke sudut otak yang lain untuk bisa benar-benar memerhatikannya. Entah kenapa ucapannya tentang kaca tebal di depan mataku itu sangat mengganggu pikiranku. Rasanya seperti aku kehilangan ketulusan dalam diriku. Aku menatapnya lagi… Wajah itu… Perpaduan antara Wonbin dan Choi Siwon, sudah jelas.
“Kau mencoba memerhatikanku tanpa memikirkan masalahmu, eh?”
Sebuah tombak sudah menusuk punggungku sekarang. Dia benar-benar mengerikan!
“Aku… errr… aku benar-benar takut karena kau sepertinya tahu apa yang sedang aku pikirkan… Aku yakin kau pasti keturunan seorang penyihir di Korea!”
Dia tertawa lagi. “Hmmm kupikir kami tidak mengenal penyihir di Korea?”
“Tapi penyihir ada di semua negara, bukan?”
“Aku tidak tahu…” jawabnya tegas sambil mengangkat bahu dan mencoba menirukan gaya imut khas member boyband Korea.
“Katakan, bagaimana kau bisa tahu apa yang sedang aku rasakan!”
“Aku hanya menebak,”
“Bohong!”
“Sungguh! Dan sekarang kau mulai merasa takut, kan?”
“BAGAIMANA KAU TAHU?!”
Dia tertawa lagi. Oh aku mulai menyukai suara tawanya.
“Kau tadi bilang begitu.”
Wajahku seakan terbakar. Oh tidak, kali ini benar-benar sedang terbakar. Kakiku tiba-tiba saja gemetaran dan angin yang tadinya menenangkan menjadi sedikit terlalu dingin dan membuatku merinding berlebihan. Aku menunduk dan menahan tawa.
“Kalau kau ingin tertawa, sebaiknya dilepaskan saja… tidak baik menahan tawa. Kau tahu, jika kau menahan tertawa, pusar mu akan bertambah satu,”
“Bohong!” Aku berteriak lalu menutup mulutku sendiri dengan kedua tangan. Membayangkan bagaimana bentuk tubuhku dengan dua pusar. “KAU BOHONG!” jelas sekali ketakutan di wajahku dan dia melihatnya kemudian tertawa.
Dan… untuk pertama kalinya dalam beberapa minggu ini, aku ikut tertawa… lepas… sepertinya semuanya tidak pernah terjadi. Sepertinya kepalaku kosong, hanya berisi pikiran-pikiran bahagia. Sepertinya setiap sudut dari sel otakku sudah bisa melupakan masalah yang terjadi beberapa minggu belakangan ini. Sepertinya, tidak, yang ini aku yakin, kaca tebal tak terlihat itu sudah menghilang dan kini aku bisa melihat mata laki-laki itu lebih dalam dan lebih jauh dari sebelumnya. Matanya lebih indah dilihat tanpa masalah yang kupendam… dia tersenyum.
“Hai, Airin. Namaku, Mario…”
Tawaku seketika terhenti ketika dia menyebut namaku sementara seingatku aku tidak pernah memberitahukannya.
Spoiler for INDEX PART 'accidentally, you.':
Diubah oleh salmansharkan 25-01-2018 10:23
Heidymahrani dan 5 lainnya memberi reputasi
6
18.7K
Kutip
62
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.6KAnggota
Tampilkan semua post
TS
salmansharkan
#3
Quote:
"Dia membuatku lupa pada hari-hari burukku yang sudah berlalu. Aku menyukainya. Entah bagaimana aku menjelaskan ini tapi pertemuan pagi itu membuatku menyukainya. Aku menyukai Mario."-- Airin

Quote:
“Kau yakin mau mendengarnya? Maksudku, ini akan terdengar sangat menjijikkan dan akan membuatmu langsung memutuskan untuk meninggalkanku saat ini juga,”
“Aku akan mendengarkan apapun itu. Jadi? Jawab sekarang,”
“Definisi cinta itu sudah lama hilang dari dalam kamusku. Aku bertemu banyak orang, hampir setiap hari orang yang baru dan berbeda. Masing-masing dari mereka memiliki pesona yang berbeda tetapi tetap melakukan hal yang sama padaku.
Hatiku ini rasanya sudah lama beku karena ritme hidup yang sulit demi uang. Jadi jika kau bertanya padaku apakah aku benar-benar pernah jatuh cinta... rasanya akan sangat sulit untuk dijawab. Aku sedang berada disebuah fase dimana aku tidak bisa menjelaskan dengan detail apa yang aku rasakan.
Orang-orang ini, mereka memang tidak pernah memberikan kesan buruk padaku ataupun berbuat jahat padaku, tetapi keadaan kami membuat aku tidak benar-benar bisa jatuh cinta padanya,”
Aku mencoba mencerna kalimat-kalimat itu tetapi aku tidak mengerti sama sekali. 'Masing-masing dari mereka memiliki pesona yang berbeda,' apakah itu artinya banyak perempuan yang menyukai Mario? Lalu bagaimana dengan kalimat 'hatiku ini rasanya sudah lama beku karena ritme hidup yang sulit demi uang?' Apakah karena dia sedang berusaha mengumpulkan uang sehingga dia tidak sempat memikirkan cinta sama sekali?
Oh... aku ingin lebih memperjelas semua itu tetapi Mario sepertinya tidak nyaman dengan pertanyaan itu dan juga jawaban berputar-putar yang keluar dari mulutnya.
“Tapi aku pernah jatuh cinta, ya... aku baru menyadarinya,” Mario bicara lagi dan mengakhiri kalimatnya dengan menatapku lagi dengan tatapan yang sama dengan sebelumnya. Penuh selidik dan penasaran. Jauh ke dalam mataku.
Aku tersenyum dan menepuk bahunya tanpa alasan yang jelas.
“Aku tidak merasa itu menjijikkan,” aku tidak mungkin bilang padanya aku tidak mengerti pada apa yang dia katakan. Itu akan membuat suasana semakin tidak enak. “Tapi kurasa masalah itu benar-benar menggangumu sekarang, eh?”
“Lumayan... hey! Aku punya cara agar kau bisa melupakan masalah-masalahmu itu!”
“Bagaimana?”dia mengalihkan topik pembicaraan tetapi topik ini selalu membuatku penasaran.
“Kau sedang berada di puncak tertinggi di daerah pantai ini, jadi sekarang ayo berdiri!”
“Hah?!”
Mario melakukan gerakan berdiri tiba-tiba disaat aku masih memegang bahu sebelah kanannya. Otomatis aku goyah dan hampir saja terjatuh dari ketinggian yang mengerikan itu. Mario segera menarik tanganku dan aku selamat.
“Kau membuatku takut!”
“Maafkan aku,” Mario tersenyum. “Sebaiknya berpegangan di dahan pohon ini saja,”
“Kenapa? Aku merasa lebih aman memegang tanganmu,” jujur saja memang benar begitu. Wajahku memerah sekarang, eh? Mario tersenyum setelah aku mengatakannya.
“Baiklah kalau begitu, kau boleh memegang apa saja,” Mario tertawa.
“Baiklah, dokter cinta, lalu apa yang bisa kau lakukan agar aku bisa melupakan masalahku?”
“Berteriak!”
“Hah?”
“Iya, berteriak dari sini. Keluarkan semua emosimu, keluarkan semua amarahmu, dan kau akan merasa lebih baik,”
“Ya ampun Mario, kau benar-benar seperti bintang film televisi! Aku sudah sering berteriak. Menangis di rumah. Haruskah aku berteriak tanpa sebab disini?”
“Bukan tanpa sebab, tetapi memang untuk melupakan masalah-masalahmu, kalau kau tidak mau mencoba juga tidak apa-apa,”
Aku menatap mata Mario. Laki-laki itu terlihat serius dengan cara ini. Walaupun aku yakin ini tidak akan lebih berhasil dari menulis di secarik kertas dan meletakkannya di sebuah tempat yang mudah dilupakan.
Tapi toh aku melakukannya juga... aku berteriak juga. Aku berusaha mengeluarkan semua emosiku.
Aku berteriak. kukatakan apa yang ingin kukatakan pada dunia.
Aku berteriak. Tidak peduli semua orang disana melihatku.
Aku berteriak. Tidak peduli semua orang akan mendengar cerita memalukanku.
Aku berteriak.
Tanganku masih menggenggam bisep Mario alih-alih batang pohon.
Baru kali ini.
Ya.
Baru kali ini aku bisa merasa bebas. Memiliki seorang teman. Percaya pada laki-laki, lagi.
Aku hampir tertidur. Mario sedang mengendarai sepeda motorku dan melaju mengikuti jalan beraspal yang rasanya tidak ada putusnya. Aku tidak tahu Mario akan membawaku kemana, tapi dia bersumpah aku tidak akan menyesal jika ikut. Mario menyebut sebuah nama pulau kecil yang aku sendiri belum pernah mendengarnya.
Tidak... aku pernah, tapi aku belum pernah benar-benar datang ke pulau itu. Hanya mendengar beberapa patah cerita dari teman dan membayangkan seperti apa rasanya bisa berada di pulau itu.
Wangi tubuh Mario sudah bisa kuhapal sekarang. Sejak tadi aku berusaha agar kepalaku tidak tumbang ke punggungnya. Angin yang membuat wajahku kebas di atas sepeda motor itu benar-benar menenangkan. Membuatku mengantuk dan sedikit melegakan lubang hidungku yang rasanya sudah lama membutuhkan udara segar seperti ini.
Aku tidak berani bicara apapun setelah Mario tadi mendengar semua masalahku. Aku bahkan tidak berani lagi menatap wajahnya lekat-lekat setelah berteriak tadi. Masih ada rasa malu dalam hatiku karena orang yang tidak perlu tahu tentang masalah ini harus mendengarnya.
Sepeda motor itu masih melaju kencang dengan sesekali terguncang oleh gundukan jalan yang tidak rata ataupun berlubang. Mario berbelok beberapa kali dan aku baru saja menyadari bahwa sepanjang jalan sejak kami memutuskan untuk meninggalkan tebing curam tadi, mataku dimanjakan oleh lautan biru dengan pohon-pohon kelapa di sepanjang garis pantainya.
“Aku mengantuk,”bisikku, sama sekali tidak berniat untuk Mario mendengarkannya.
“Kau tidak tidur belakangan ini, eh?”
“Aku benar-benar takjub dengan kehebatan dan ketajaman pendengaranmu, bahkan ditengah terpaan angin seperti ini. Ya, tapi kau benar, aku tidak benar-benar tidur selama satu bulan ini. Aku selalu mengantuk,”
“Kau bisa tidur di punggungku kalau begitu. Aku akan membangunkanmu jika sudah sampai di pelabuhan,”
Aku tertawa. “Kau terlalu baik untuk kukerjai, aku hanya bercanda,”
“Kalaupun itu serius, aku tidak akan masalah.”
“Hey! Mario, kau ini benar-benar...”
“Tampan? Ya aku tahu,”
Kakiku melesak ke dalam pasir putih lembut yang menghangatku telapaknya sampai ke buku-buku jariku. Kami tiba sekitar sepuluh menit yang lalu dan Mario mengajakku berjalan menyusuri bibir pantai ke arah selatan pulau itu.
Hari ini belum terlalu ramai, entah karena masih pagi atau memang bulan-bulan ini sedang tidak ramai wisatawan. Mario bilang padaku bahwa pulau ini biasanya diramaikan oleh para wisatawan asing. Aku bisa melihat beberapa sedang berjemur dan menikmati hangatnya matahari di pulau ini.
“Aku suka tempat ini. Kau tahu kenapa?”
“Karena indah?”
“Karena disini aku biasa berdiam diri dan memikirkan apa yang harus aku lakukan selanjutnya,”
“Kupikir manusia hanya merenung dan berpikir di tempat ibadah, eh?”
“Beberapa mungkin iya, tapi aku tidak,”
“Kau percaya Tuhan?”
“Aku? Jangan kau tanya...”
“Kenapa?”
“Aku tidak terlalu memerhatikan pelajaran di sekolah. Aku banyak belajar dari pengalaman orang-orang yang aku temui ditempat kerjaku. Kami bekerja profesional, dan well, beberapa dari mereka terkadang bercerita banyak tentang banyak hal. Pernah salah seorang dari mereka kemudian memberikanku tiket ke Korea untuk mencari keluargaku tapi tidak ada hasilnya. Aku kemudian memutuskan untuk kembali ke negara ini dan...”
“Kenapa?”
Mario diam dan tidak menjawab. Meskipun rasanya tidak adil karena sejak tadi aku sudah mengoceh soal masalahku, tapi aku tahu semua orang butuh privasi.
“Orang tuaku meninggalkanku saat aku berusia sebelas tahun. Aku harus membiayai hidupku sendiri dengan bekerja paruh waktu, bekerja apa saja. Aku sangat ingin menjadi seorang chef. Tapi tidak ada restoran disini yang mau menerima chef tanpa sertifikat seperti aku...”
“Benarkah?”
Mario mengangguk.
“Lalu kenapa kau tidak percaya Tuhan? Aku belum mendapatkan jawabannya,”
“Karena Tuhan tidak pernah adil padaku. Aku merasa lebih baik tanpa memiliki kepercayaan pada apapun dan siapapun. Aku merasa tidak terbebani oleh apa yang harus dan boleh aku lakukan dan apa yang tidak boleh aku lakukan. Bebas... itu saja,”
“Itukah kenapa kau sangat suka berkelana seorang diri?”
“Ya...”
“Kau mencari sesuatu?”
“Ketenangan dan jalan keluar dari masalahku,”
“Aku bahkan tidak tahu masalahmu apa,”
“Kau tidak akan mengerti,”
“Lalu kenapa kau begitu yakin bahwa kau mengerti masalahku? Kau sejak tadi memutuskan sendiri mengajakku ke tebing curam itu dan berteriak lalu ke pantai ini untuk.... yah, aku belum tahu. Tapi bukankah ini rasanya tidak adil?” [/B][/I]aku terus mengoceh.
Mario tertawa lagi.
“Kalau kau merasa ini tidak adil, kau bisa berhenti kapan saja,”
“Lalu pulang tanpa ada imbalan apapun darimu? Oh Tuhan... Kau bilang Tuhan tidak adil, tapi ternyata kau juga,”
“Imbalan? Kupikir aku yang seharusnya berkata seperti itu. Aku yang membuatmu merasa lebih baik dengan mengeluarkan semua emosimu bukan?”
“Benar juga, sih.”aku berkata lemah.
Kami tiba di sebuah ujung dari pulau ini dengan pantai yang tenang dan pasir yang putih berkilauan. Ombak mencium bibir pantai sesekali. Menghapus jejak yang aku dan Mario tinggalkan selama berjalan tadi.
“Kau tahu?”
“Apa?”
“Ada kepercayaan di pulau ini, jika kau menulis semua masalahmu di atas pasir ini atau apapun yang ingin kau lupakan, maka kau akan mendapatkannya. Masalahmu akan hilang dan kau akan bisa merasakan otakmu lebih ringan,” Sekarang aku yang tertawa. Mario terdengar selalu serius dalam banyak hal termasuk yang satu ini walaupun aku masih berusaha menganggap ini hanyalah sebuah lelucon.
“Kau tahu banyak hal, eh? Jangan kau pikir aku bodoh,”
“Aku tidak membodohimu, kau coba saja kalau tidak percaya,”
“Bagaimana mungkin aku bisa menuliskan semua masalahku di atas pasir ini, hah? Terlalu banyak,”
Mario memungut sebatang kayu sebesar pensil tak jauh dari sana lalu menyerahkannya padaku.
“Tuliskan point-point nya saja,”
Aku tertawa lagi.
“Oke, dan sekarang kau terdengar seperti guru bahasa Indonesia di SMA ku,”
“Kita tidak akan pernah tahu sebelum mencoba, ingat? Kau percaya padaku bukan?”
“Hmmm...”
“Kau merasa lebih baik setelah berteriak dari atas tebing itu bukan?”
Aku mengangguk.
“Apa aku sejak tadi berbohong padamu?”
Aku menggeleng. Seperti orang bodoh.
“Cobalah,”
Aku yakin--sekali lagi--laki-laki itu adalah keturunan penyihir karena entah bagaimana caranya aku selalu menuruti apa yang dikatakannya. Aku menerima batang kayu itu dan menulis apa yang ingin aku lupakan di atas pasir secepat aku bisa sebelum ombak menghapusnya. Meskipun aku tidak yakin akan bisa menyelesaikan semuanya sebelum ombak datang, tapi--wow--ternyata aku berhasil.
Aku yakin ada keajaiban saat itu. Ombak seperti berhenti berdebur dan mendekati pantai. Mario berdiri mengawasi sambil tersenyum sementara aku, setelah menyelesaikan tulisan-di-atas-pasir-ku merasa cukup lelah karena sejak tadi membungkuk.
“Lalu apa yang harus aku lakukan sekarang? Menunggu ombak menghapusnya? Begitu? Konyol sekali,”
Mario menarik tanganku tiba-tiba dan sedetik setelah aku berada persis di sampingnya
“Tutup matamu dan pikirkan sesuatu yang menyenangkan,”
Otakku segera mencari-cari kenangan apa yang kira-kira bisa membuatku senang dan sekiranya menyenangkan. Hanya ada satu, dan entah kenapa itu adalah kejadian hari ini bersama Mario.
“Ketika kau membuka matamu, kau akan melupakan semuanya, semua masalahmu... akan hilang bersama dengan tulisan yang terhapus ombak ini,”
Aku mengiyakan dalam hati. Seakan sudah lelah memendam semua perasaan tentang masalah ini. Dan ketika kubuka mataku, ombak datang dan menghapus semua yang kutuliskan tanpa sisa. Dan sejak itu, entah bagaimana lagi aku bisa menjelaskan semua keanehan ini. Aku merasa seperti Airin yang baru. Aku sudah tidak merasakan apa-apa lagi. Aku hanya ingin berkata bahwa aku baik-baik saja sekarang.
“Aku akan mendengarkan apapun itu. Jadi? Jawab sekarang,”
“Definisi cinta itu sudah lama hilang dari dalam kamusku. Aku bertemu banyak orang, hampir setiap hari orang yang baru dan berbeda. Masing-masing dari mereka memiliki pesona yang berbeda tetapi tetap melakukan hal yang sama padaku.
Hatiku ini rasanya sudah lama beku karena ritme hidup yang sulit demi uang. Jadi jika kau bertanya padaku apakah aku benar-benar pernah jatuh cinta... rasanya akan sangat sulit untuk dijawab. Aku sedang berada disebuah fase dimana aku tidak bisa menjelaskan dengan detail apa yang aku rasakan.
Orang-orang ini, mereka memang tidak pernah memberikan kesan buruk padaku ataupun berbuat jahat padaku, tetapi keadaan kami membuat aku tidak benar-benar bisa jatuh cinta padanya,”
Aku mencoba mencerna kalimat-kalimat itu tetapi aku tidak mengerti sama sekali. 'Masing-masing dari mereka memiliki pesona yang berbeda,' apakah itu artinya banyak perempuan yang menyukai Mario? Lalu bagaimana dengan kalimat 'hatiku ini rasanya sudah lama beku karena ritme hidup yang sulit demi uang?' Apakah karena dia sedang berusaha mengumpulkan uang sehingga dia tidak sempat memikirkan cinta sama sekali?
Oh... aku ingin lebih memperjelas semua itu tetapi Mario sepertinya tidak nyaman dengan pertanyaan itu dan juga jawaban berputar-putar yang keluar dari mulutnya.
“Tapi aku pernah jatuh cinta, ya... aku baru menyadarinya,” Mario bicara lagi dan mengakhiri kalimatnya dengan menatapku lagi dengan tatapan yang sama dengan sebelumnya. Penuh selidik dan penasaran. Jauh ke dalam mataku.
Aku tersenyum dan menepuk bahunya tanpa alasan yang jelas.
“Aku tidak merasa itu menjijikkan,” aku tidak mungkin bilang padanya aku tidak mengerti pada apa yang dia katakan. Itu akan membuat suasana semakin tidak enak. “Tapi kurasa masalah itu benar-benar menggangumu sekarang, eh?”
“Lumayan... hey! Aku punya cara agar kau bisa melupakan masalah-masalahmu itu!”
“Bagaimana?”dia mengalihkan topik pembicaraan tetapi topik ini selalu membuatku penasaran.
“Kau sedang berada di puncak tertinggi di daerah pantai ini, jadi sekarang ayo berdiri!”
“Hah?!”
Mario melakukan gerakan berdiri tiba-tiba disaat aku masih memegang bahu sebelah kanannya. Otomatis aku goyah dan hampir saja terjatuh dari ketinggian yang mengerikan itu. Mario segera menarik tanganku dan aku selamat.
“Kau membuatku takut!”
“Maafkan aku,” Mario tersenyum. “Sebaiknya berpegangan di dahan pohon ini saja,”
“Kenapa? Aku merasa lebih aman memegang tanganmu,” jujur saja memang benar begitu. Wajahku memerah sekarang, eh? Mario tersenyum setelah aku mengatakannya.
“Baiklah kalau begitu, kau boleh memegang apa saja,” Mario tertawa.
“Baiklah, dokter cinta, lalu apa yang bisa kau lakukan agar aku bisa melupakan masalahku?”
“Berteriak!”
“Hah?”
“Iya, berteriak dari sini. Keluarkan semua emosimu, keluarkan semua amarahmu, dan kau akan merasa lebih baik,”
“Ya ampun Mario, kau benar-benar seperti bintang film televisi! Aku sudah sering berteriak. Menangis di rumah. Haruskah aku berteriak tanpa sebab disini?”
“Bukan tanpa sebab, tetapi memang untuk melupakan masalah-masalahmu, kalau kau tidak mau mencoba juga tidak apa-apa,”
Aku menatap mata Mario. Laki-laki itu terlihat serius dengan cara ini. Walaupun aku yakin ini tidak akan lebih berhasil dari menulis di secarik kertas dan meletakkannya di sebuah tempat yang mudah dilupakan.
Tapi toh aku melakukannya juga... aku berteriak juga. Aku berusaha mengeluarkan semua emosiku.
Aku berteriak. kukatakan apa yang ingin kukatakan pada dunia.
Aku berteriak. Tidak peduli semua orang disana melihatku.
Aku berteriak. Tidak peduli semua orang akan mendengar cerita memalukanku.
Aku berteriak.
Tanganku masih menggenggam bisep Mario alih-alih batang pohon.
Baru kali ini.
Ya.
Baru kali ini aku bisa merasa bebas. Memiliki seorang teman. Percaya pada laki-laki, lagi.
-Accidentally You-
Aku hampir tertidur. Mario sedang mengendarai sepeda motorku dan melaju mengikuti jalan beraspal yang rasanya tidak ada putusnya. Aku tidak tahu Mario akan membawaku kemana, tapi dia bersumpah aku tidak akan menyesal jika ikut. Mario menyebut sebuah nama pulau kecil yang aku sendiri belum pernah mendengarnya.
Tidak... aku pernah, tapi aku belum pernah benar-benar datang ke pulau itu. Hanya mendengar beberapa patah cerita dari teman dan membayangkan seperti apa rasanya bisa berada di pulau itu.
Wangi tubuh Mario sudah bisa kuhapal sekarang. Sejak tadi aku berusaha agar kepalaku tidak tumbang ke punggungnya. Angin yang membuat wajahku kebas di atas sepeda motor itu benar-benar menenangkan. Membuatku mengantuk dan sedikit melegakan lubang hidungku yang rasanya sudah lama membutuhkan udara segar seperti ini.
Aku tidak berani bicara apapun setelah Mario tadi mendengar semua masalahku. Aku bahkan tidak berani lagi menatap wajahnya lekat-lekat setelah berteriak tadi. Masih ada rasa malu dalam hatiku karena orang yang tidak perlu tahu tentang masalah ini harus mendengarnya.
Sepeda motor itu masih melaju kencang dengan sesekali terguncang oleh gundukan jalan yang tidak rata ataupun berlubang. Mario berbelok beberapa kali dan aku baru saja menyadari bahwa sepanjang jalan sejak kami memutuskan untuk meninggalkan tebing curam tadi, mataku dimanjakan oleh lautan biru dengan pohon-pohon kelapa di sepanjang garis pantainya.
“Aku mengantuk,”bisikku, sama sekali tidak berniat untuk Mario mendengarkannya.
“Kau tidak tidur belakangan ini, eh?”
“Aku benar-benar takjub dengan kehebatan dan ketajaman pendengaranmu, bahkan ditengah terpaan angin seperti ini. Ya, tapi kau benar, aku tidak benar-benar tidur selama satu bulan ini. Aku selalu mengantuk,”
“Kau bisa tidur di punggungku kalau begitu. Aku akan membangunkanmu jika sudah sampai di pelabuhan,”
Aku tertawa. “Kau terlalu baik untuk kukerjai, aku hanya bercanda,”
“Kalaupun itu serius, aku tidak akan masalah.”
“Hey! Mario, kau ini benar-benar...”
“Tampan? Ya aku tahu,”
-Accidentally You-
Kakiku melesak ke dalam pasir putih lembut yang menghangatku telapaknya sampai ke buku-buku jariku. Kami tiba sekitar sepuluh menit yang lalu dan Mario mengajakku berjalan menyusuri bibir pantai ke arah selatan pulau itu.
Hari ini belum terlalu ramai, entah karena masih pagi atau memang bulan-bulan ini sedang tidak ramai wisatawan. Mario bilang padaku bahwa pulau ini biasanya diramaikan oleh para wisatawan asing. Aku bisa melihat beberapa sedang berjemur dan menikmati hangatnya matahari di pulau ini.
“Aku suka tempat ini. Kau tahu kenapa?”
“Karena indah?”
“Karena disini aku biasa berdiam diri dan memikirkan apa yang harus aku lakukan selanjutnya,”
“Kupikir manusia hanya merenung dan berpikir di tempat ibadah, eh?”
“Beberapa mungkin iya, tapi aku tidak,”
“Kau percaya Tuhan?”
“Aku? Jangan kau tanya...”
“Kenapa?”
“Aku tidak terlalu memerhatikan pelajaran di sekolah. Aku banyak belajar dari pengalaman orang-orang yang aku temui ditempat kerjaku. Kami bekerja profesional, dan well, beberapa dari mereka terkadang bercerita banyak tentang banyak hal. Pernah salah seorang dari mereka kemudian memberikanku tiket ke Korea untuk mencari keluargaku tapi tidak ada hasilnya. Aku kemudian memutuskan untuk kembali ke negara ini dan...”
“Kenapa?”
Mario diam dan tidak menjawab. Meskipun rasanya tidak adil karena sejak tadi aku sudah mengoceh soal masalahku, tapi aku tahu semua orang butuh privasi.
“Orang tuaku meninggalkanku saat aku berusia sebelas tahun. Aku harus membiayai hidupku sendiri dengan bekerja paruh waktu, bekerja apa saja. Aku sangat ingin menjadi seorang chef. Tapi tidak ada restoran disini yang mau menerima chef tanpa sertifikat seperti aku...”
“Benarkah?”
Mario mengangguk.
“Lalu kenapa kau tidak percaya Tuhan? Aku belum mendapatkan jawabannya,”
“Karena Tuhan tidak pernah adil padaku. Aku merasa lebih baik tanpa memiliki kepercayaan pada apapun dan siapapun. Aku merasa tidak terbebani oleh apa yang harus dan boleh aku lakukan dan apa yang tidak boleh aku lakukan. Bebas... itu saja,”
“Itukah kenapa kau sangat suka berkelana seorang diri?”
“Ya...”
“Kau mencari sesuatu?”
“Ketenangan dan jalan keluar dari masalahku,”
“Aku bahkan tidak tahu masalahmu apa,”
“Kau tidak akan mengerti,”
“Lalu kenapa kau begitu yakin bahwa kau mengerti masalahku? Kau sejak tadi memutuskan sendiri mengajakku ke tebing curam itu dan berteriak lalu ke pantai ini untuk.... yah, aku belum tahu. Tapi bukankah ini rasanya tidak adil?” [/B][/I]aku terus mengoceh.
Mario tertawa lagi.
“Kalau kau merasa ini tidak adil, kau bisa berhenti kapan saja,”
“Lalu pulang tanpa ada imbalan apapun darimu? Oh Tuhan... Kau bilang Tuhan tidak adil, tapi ternyata kau juga,”
“Imbalan? Kupikir aku yang seharusnya berkata seperti itu. Aku yang membuatmu merasa lebih baik dengan mengeluarkan semua emosimu bukan?”
“Benar juga, sih.”aku berkata lemah.
Kami tiba di sebuah ujung dari pulau ini dengan pantai yang tenang dan pasir yang putih berkilauan. Ombak mencium bibir pantai sesekali. Menghapus jejak yang aku dan Mario tinggalkan selama berjalan tadi.
“Kau tahu?”
“Apa?”
“Ada kepercayaan di pulau ini, jika kau menulis semua masalahmu di atas pasir ini atau apapun yang ingin kau lupakan, maka kau akan mendapatkannya. Masalahmu akan hilang dan kau akan bisa merasakan otakmu lebih ringan,” Sekarang aku yang tertawa. Mario terdengar selalu serius dalam banyak hal termasuk yang satu ini walaupun aku masih berusaha menganggap ini hanyalah sebuah lelucon.
“Kau tahu banyak hal, eh? Jangan kau pikir aku bodoh,”
“Aku tidak membodohimu, kau coba saja kalau tidak percaya,”
“Bagaimana mungkin aku bisa menuliskan semua masalahku di atas pasir ini, hah? Terlalu banyak,”
Mario memungut sebatang kayu sebesar pensil tak jauh dari sana lalu menyerahkannya padaku.
“Tuliskan point-point nya saja,”
Aku tertawa lagi.
“Oke, dan sekarang kau terdengar seperti guru bahasa Indonesia di SMA ku,”
“Kita tidak akan pernah tahu sebelum mencoba, ingat? Kau percaya padaku bukan?”
“Hmmm...”
“Kau merasa lebih baik setelah berteriak dari atas tebing itu bukan?”
Aku mengangguk.
“Apa aku sejak tadi berbohong padamu?”
Aku menggeleng. Seperti orang bodoh.
“Cobalah,”
Aku yakin--sekali lagi--laki-laki itu adalah keturunan penyihir karena entah bagaimana caranya aku selalu menuruti apa yang dikatakannya. Aku menerima batang kayu itu dan menulis apa yang ingin aku lupakan di atas pasir secepat aku bisa sebelum ombak menghapusnya. Meskipun aku tidak yakin akan bisa menyelesaikan semuanya sebelum ombak datang, tapi--wow--ternyata aku berhasil.
Aku yakin ada keajaiban saat itu. Ombak seperti berhenti berdebur dan mendekati pantai. Mario berdiri mengawasi sambil tersenyum sementara aku, setelah menyelesaikan tulisan-di-atas-pasir-ku merasa cukup lelah karena sejak tadi membungkuk.
“Lalu apa yang harus aku lakukan sekarang? Menunggu ombak menghapusnya? Begitu? Konyol sekali,”
Mario menarik tanganku tiba-tiba dan sedetik setelah aku berada persis di sampingnya
“Tutup matamu dan pikirkan sesuatu yang menyenangkan,”
Otakku segera mencari-cari kenangan apa yang kira-kira bisa membuatku senang dan sekiranya menyenangkan. Hanya ada satu, dan entah kenapa itu adalah kejadian hari ini bersama Mario.
“Ketika kau membuka matamu, kau akan melupakan semuanya, semua masalahmu... akan hilang bersama dengan tulisan yang terhapus ombak ini,”
Aku mengiyakan dalam hati. Seakan sudah lelah memendam semua perasaan tentang masalah ini. Dan ketika kubuka mataku, ombak datang dan menghapus semua yang kutuliskan tanpa sisa. Dan sejak itu, entah bagaimana lagi aku bisa menjelaskan semua keanehan ini. Aku merasa seperti Airin yang baru. Aku sudah tidak merasakan apa-apa lagi. Aku hanya ingin berkata bahwa aku baik-baik saja sekarang.
Diubah oleh salmansharkan 26-01-2018 19:17
0
Kutip
Balas