- Beranda
- Stories from the Heart
Petualangan di Kota Hantu DreadOut (Horror)
...
TS
Robinjack2098
Petualangan di Kota Hantu DreadOut (Horror)
Salam kenal, gan. Ane mencoba untuk mengetengahkan sebuah cerita horror yang berdasarkan pada kisah di dalam game horror indie buatan anak bangsa yang sudah masuk Steam, yaitu DreadOut. Di mana cerita ini mengambil setting tempat di dalam game tersebut dengan beberapa penambahan area yang tidak ada di dalam game alias karangan ane sendiri. Termasuk hantu-hantunya.
Cukup berbasa-basinya. Silahkan dibaca ya, gan. Semoga terhibur..
Cekidot Gan
Bagian Dua
Bagian Tiga
Bagian Empat
Bagian Lima
Bagian Enam
Bagian Tujuh
Bagian Delapan
Bagian Sembilan
Bagian Sepuluh
Bagian Sebelas
Bagian Dua Belas
Bagian Tiga Belas [Tamat]
Cukup berbasa-basinya. Silahkan dibaca ya, gan. Semoga terhibur..
Cekidot Gan
Spoiler for Bagian Satu:
Sore itu di suatu jalanan yang membelah hutan rimbun. Tampak sebuah mobil berjenis city car melaju melewati jalanan tersebut. Di dalamnya sang muda-mudi terdengar saling bercakap-cakap dengan nada sedikit saling ngotot.
"Yang, apa kita tidak salah jalan? Perasaan sebelumnya kita tidak melewati jalan ini, deh." tanya Mellani sambil melirik ke arah Andra yang sibuk menyetir.
"Tenang, sayang. Lewat jalan manapun, ujung-ujungnya kita pasti akan bertemu jalan yang benar" tukas Andra santai sambil terus menyetir.
"Ya udah, deh. Semoga aja kamu benar." tukas Mellani agak merajuk.
"Jangan ngambek gitu, sayang. Bisa ilang cantiknya kalau ngambek begitu. Hehehe." tukas Andra seraya tertawa.
Mellani tidak berkata-kata lagi. Ia hanya melihat-lihat kanan dan kiri jalan yang tampak dipenuhi pepohonan dan semak-semak yang hijau. Ia merasa seperti ada firasat buruk saat mobil yang ditumpanginya melewati jalanan kecil tersebut. Kondisi jalan beraspal tersebut sebagian besar telah rusak, sehingga mobil yang dikendarai Andra tersebut terombang-ambing.
Saat itu jam menunjukkan pukul 14.22, namun sinar matahari tampaknya tidak dapat menembus rimbunnya pepohonan di sekitar jalan kecil yang Andra dan Mellani lewati.
"Yank, kok diem aja, sih? Maaf, bukannya aku menganggap remeh, tapi aku hanya yakin jika jalan yang kita lewati ini pasti akan berujung jalan menuju pulang. Paling lambat nanti malam kita sampai di Jakarta." ujar Andra memecah keheningan.
"Yakin? Bagaimana kalau kita malah nyasar? Nyasar ke kampung orang mendingan. Bagaimana kalau nyasarnya di tengah hutan jauh dari mana-mana?" tukas Mellani tampak tegang.
"Jangan berpikiran seperti itu, yank. Yakinlah kalau kita akan tiba tepat waktu ke rumah." kata Andra berusaha meyakinkan kekasihnya tersebut.
"Bagaimana kalau aku tidak yakin, yank? Hei, berhentikan mobilnya! Awas tumpukan batu-batu besar di depan!" tukas Mellani tiba-tiba berteriak saat melihat di depan mobil yang mereka tumpangi terdapat banyak tumpukan batu-batu besar menghalangi jalan yang akan mereka lalui.
"Astaga, kita tidak bisa lewat, yank. Tidak ada celah sama sekali. Bagaimana ini?" kata Andra seraya menghentikan laju mobilnya.
"Tuh kan. Kalau aja tadi mau memutar balik di jalan sebelumnya yang lebih lebar. Nggak bakal begini jadinya!" kata Mellani tampak uring-uringan.
"Nggak bisa memutar balik di sini. Jalannya terlalu sempit. Di kiri jurang, di kanan tebing. Serba salah, harus bagaimana ini?" ucap Andra tampak terlihat frustrasi.
"Tau ah, pusing. Aku mau pipis dulu." tukas Mellani seraya keluar dari mobil dan berjalan menuju semak-semak di pinggir jalan.
Sedangkan Andra tampak berpikir keras bagaimana cara agar ia dapat memutar balik mobilnya. Melanjutkan perjalanan melewati jalan tersebut tidak mungkin karena jalan terhalang tumpukan batu-batu besar. Memutar balik pun sulit karena kondisi jalan yang sangat sempit. Tampaknya jalan satu-satunya adalah memundurkan mobilnya hingga tiba di area jalan yang cukup untuk memutar balik. Andra pun mencoba memundurkan mobilnya, namun sial penglihatannya berkurang ketika sinar matahari tampaknya terhalang rimbunnya pepohonan di sekitar jalan tersebut. Ia pun keluar dari mobil untuk memanggil Mellani yang ia rasa sudah cukup lama perginya.
"Yank, kamu di mana? Kok lama banget? Sudah apa belum pipisnya?" seru Andra sambil mencoba mendekati semak di mana sebelumnya Mellani diyakininya buang air kecil di situ. Namun aneh, Andra tidak menemukan kekasihnya tersebut di sana. Andra pun panik, sehingga ia berteriak-teriak memanggil Mellani.
"Yank, kamu di mana? Tolong jawab. Ayo yank, kita harus memundurkan mobil. Kita akan putar balik!" teriak Andra sambil terus mencari-cari kekasihnya tersebut hingga tanpa disadarinya ia jauh meninggalkan mobilnya.
Sedangkan Mellani tampak keluar dari balik semak-semak setelah selesai buang air kecil. Ia pun menuju mobil yang sekarang posisinya lebih mundur dari posisi sebelumnya. Mellani tampak kebingungan saat mengetahui kekasihnya, Andra sudah tidak berada di dalam mobil. Ia juga tidak melihat Andra di sekitar lokasi tersebut. Mellani juga sebelumnya tidak mendengar jika Andra berteriak memanggilnya. Entah apa yang terjadi sehingga Mellani tidak dapat mendengar Andra berteriak-teriak memanggilnya.
Dalam rimbunnya pepohonan yang memayungi jalan yang terblokade tersebut tampak siluet wajah mengerikan dengan rambutnya yang panjang berwarna putih muncul di antara batang pepohonan memperhatikan Mellani yang tampak sibuk memanggil-manggil Andra. Mellani tidak menyadari kehadiran sosok mengerikan tersebut.
Mellani terus memanggil-manggil Andra hingga suaranya menjadi serak.
"Yank, kamu di mana. Please jangan tinggalin aku. Tidak lucu tau. Jangan main petak umpet. Di sini bukan tempatnya. Di sini begitu menakutkan, yank!" teriak Mellani namun tidak ada jawaban.
Ia hanya mendengar gema suaranya yang terpantul di dinding tebing. Mellani kemudian mengambil tasnya yang berada di dalam mobil. Ia merasakan teduhnya di area tersebut semakin menjadi gelap karena petang telah menjelang. Mellani bingung harus berbuat apa. Ia hanya mondar-mandir di sekitar mobil. Ia mencoba menunggu di dalam mobil, namun perasaan bosan yang ia dapat.
Mellani pun beranjak meninggalkan mobil melewati celah di antara tumpukkan batu-batu besar tersebut. Ia terus berjalan menyusuri jalan aspal yang telah rusak tersebut. Hingga kemudian ia menemukan jalan buntu di mana jalan beraspal tersebut terputus. Mellani melihat kondisi badan jalan yang terkikis longsor sepanjang kira-kira sepuluh meter. Mellani tentu tidak dapat melewati jalan yang kondisinya telah hancur tersebut. Namun ia menemukan sebuah jalan setapak yang mengarah ke lembah. Jalan setapak tersebut tampak berundak-undak seperti tangga alami. Mellani pun menuruni jalan setapak yang berundak tersebut.
Petualangan Mellani pun dimulai. Dengan setelan pakaian dress berwarna hitam dengan beberapa bagian berwarna putih, rok pendek selutut bergelombang berwarna biru langit, dan sebuah tas wanita berwarna putih yang diselempangkan di bahunya, Mellani memulai petualangan mencari kekasihnya, Andra yang menghilang entah ke mana. Ia juga mengenakan alas kaki berupa sepasang sepatu kain berwarna hitam. Di lehernya tampak sebuah kalung perak yang melingkar dengan liontin berbentuk segi lima seperti Pentagon dengan bagian tengah menempel sebutir berlian tiruan berwarna merah. Rambutnya tergerai sebahu berhiaskan sebuah bando berwarna magenta di bagian depan.
Mellani tampak berhati-hati menuruni jalan setapak yang berundak tersebut. Jalan yang ia lewati memang agak licin. Ia sempat terpleset dua kali hingga rok yang dikenakannya menjadi kotor terkena lumpur.
Beberapa saat kemudian Mellani tiba di ujung jalan setapak yang berundak tersebut. Saat itu hari mulai gelap, dan Mellani pun harus menyalakan lampu senter smartphone-nya untuk tetap dapat melihat jalan. Namun untuk menyalakan lampu senter tersebut, Mellani harus menggunakan mode tampilan kamera di smartphone-nya.
Tak lama kemudian Mellani menemukan sebuah perkampungan yang terlihat begitu sepi. Tidak ada tanda-tanda kehidupan di sana. Semua rumah yang ada terlihat kumuh dan berantakan. Tidak ada cahaya apapun terlihat di sana. Rata-rata rumah yang dijumpai Mellani adalah rumah panggung dengan dinding bambu dan beratap asbes. Namun di sana juga terdapat beberapa rumah bertembok dengan atap genting dan berlantai tegel.
Mellani terlihat begitu galau saat menyadari hari telah menjadi gelap. Ia tampak ketakutan dan begitu panik. Ia pun terduduk di emperan sebuah rumah berdinding tembok sambil menangis. Ia tidak tahu harus bagaimana. Ia ingin kembali ke mobil tapi merasa takut sekali. Ia pun terduduk lesu sambil menangis tersedu-sedu karena bingung. Ia pun kini merasakan bagaimana rasanya tersesat di suatu tempat antah-berantah. Ia juga merasakan kalau area tersebut begitu menakutkan.
Secara perlahan Mellani menguatkan diri dan berusaha mengusir rasa takut yang menghantuinya.
Jika melihat tokoh di game dreadout, maka Mellani mirip-mirip dengan Shelly di mana keduanya tergolong gadis yang manja juga selalu merasa tidak nyaman ketika dihadapkan dengan keadaan suatu tempat yang sepi dan terlihat berantakan. Kini si gadis manja Mellani harus menghadapi kenyataan bahwa ia tidak bisa selamanya menjadi sosok yang manja dan kekanak-kanakan. Ia harus menjadi lebih tegar saat ia berada dalam situasi genting seperti saat ini.
Saat Mellani selesai meratapnya, sayup-sayup ia mendengar seperti ada suara tangisan di kejauhan. Mellani yang sedang berusaha mengatasi kepanikannya menjadi semakin panik. Ia tampak celingukan sambil meringis menahan ketakutannya. Namun ia mencoba untuk mengusir rasa paniknya. Ia pun memberanikan dirinya menghampiri sumber suara yang ternyata berasal dari depan salah satu rumah panggung berdinding bilik bambu. Ia hanya mendengar suara tangisan tersebut namun belum melihat wujud orang yang sedang menangis tersebut.
Dengan keberanian yang pasang surut, Mellani mendekati teras rumah tersebut. Tiba-tiba sesosok perempuan berpenampilan mengerikan menampakkan diri ke hadapan Mellani sembari memuntahkan sesosok bayi laki-laki yang juga terlihat menyeramkan. Sontak Mellani menjerit histeris dan secara refleks ia berlari kencang menjauhi area di mana ia dikagetkan oleh sosok penampakan menyeramkan tersebut. Mellani pun lari pontang-panting hingga terjatuh karena tersandung akar pohon yang merintanginya. Sejenak Mellani terduduk lemas sambil memijit-mijit kaki kanannya yang terasa sakit akibat tersandung akar pohon tersebut.
Bila melihat ke misi game Dreadout Act 2, maka hantu yang mengejutkan Mellani tersebut adalah Matianak yang mana hantu tersebut tergolong hantu pasif atau bukan hantu ganas yang selalu menyerang pemain. Namun hantu jenis ini bisa menyerang jika pemain berjarak terlalu dekat dengan hantu tersebut. Hantu ini bisa melakukan serangan kejutan (Jumpscare) meski hanya sekali selama permainan.
Sambil meringis menahan sakit di pergelangan kaki kanannya, Mellani masih mendengar suara tangisan dari hantu yang telah menakutinya tersebut. Entah bagaimana caranya agar ia dapat melihat wujud hantu yang menangis tersebut. Bagaimana pun ia harus dapat melihatnya agar kemudian ia dapat mengantisipasi serangan dadakan dari hantu tersebut.
Mellani kemudian bangkit dari duduknya dan berjalan agak pincang menuju sebuah bangunan besar yang di salah satu bagian dindingnya terdapat sebuah plank bertuliskan Unit Kesehatan Sekolah (UKS). Mellani kemudian mendekati pintu bangunan tersebut yang ternyata tertutup dan terkunci. Sejenak Mellani melihat-lihat sekeliling apakah di sana terdapat semacam bangunan sekolah. Namun ia tidak menemukan bangunan yang ia cari tersebut. Sejenak ia terpaku dan merasa heran bagaimana di situ ada Unit Kesehatan Sekolah sedangkan sekolahnya sendiri tidak ada.
Mellani selanjutnya mencoba mencari jalan masuk lain yang mengarah ke dalam bangunan UKS tersebut. Sambil mencari-cari jalan masuk bangunan UKS, Mellani melihat-lihat melalui jendela kaca, dan ia terkesiap dalam tempo cukup lama saat melihat sesosok gadis berpakaian seragam SMA tampak menggantung di langit-langit bangunan tersebut. Siapakah gerangan gadis yang telah tewas dalam kondisi menggantung tersebut? Tidak ada yang tahu apakah gadis tersebut meninggal karena gantung diri atau karena dibunuh.
Mellani terlihat syok dan ia pun terduduk di bawah jendela kaca sambil menangis. Ia merasa begitu takut dan tertekan setelah melihat mayat gadis SMA tergantung di langit-langit.
Beberapa saat kemudian Mellani bangkit dan beranjak meninggalkan bangunan UKS tersebut menuju bangunan lain yang berada di sebelah bangunan UKS tersebut. Di sana Mellani menemukan sebuah selebaran yang sudah lecek menempel di salah satu pintu bangunan. Selebaran berisi tulisan seperti berikut ini :
Himbauan kepada warga RT 01/RW 04 agar jangan meninggalkan anak bayi Anda di rumah tanpa pengamanan. Akhir-akhir ini kasus penculikan bayi marak terjadi. Besar kemungkinan pelakunya adalah dukun ilmu hitam yang hingga saat ini belum diketahui identitasnya. Berhati-hatilah!
Ketua RW 04
Sahrudin
Mellani kemudian memotret selebaran tersebut. Ia tidak mengambil selebaran tersebut karena itu terlalu kuat menempel di pintu. Selanjutnya Mellani mengelilingi bangunan tersebut untuk mencari pintu yang mungkin bisa dibuka. Tampaknya bangunan tersebut mutlak tidak dapat dimasuki karena semua pintunya dalam kondisi terkunci. Satu-satunya cara untuk memasuki bangunan tersebut adalah dengan mendobrak pintu atau memecahkan kaca jendela. Namun Mellani tidak melakukan itu karena ia masih begitu takut untuk bertindak.
Ia kemudian meninggalkan bangunan tersebut mengarah ke sebuah jalan setapak yang diapit tebing di sekelilingnya. Setelah keluar dari jalan setapak yang dikelilingi tebing tersebut, Mellani menemukan perkampungan lain yang rumah-rumahnya kurang lebih sama dengan rumah-rumah di perkampungan sebelumnya.
Mellani kembali mendengar suara tangisan hantu Matianak. Suara tangisan hantu tersebut jelas berasal dari teras salah satu rumah panggung yang berada di sana. Namun wujud hantu tersebut tetap tidak dapat dilihatnya. Karena saking takutnya terkena serangan kejutan hantu tersebut, Mellani kemudian menjauhi rumah yang terindikasi terdapat hantu tersebut. Ia terus berjalan hingga suara tangisan hantu tersebut meredup.
Mellani menemukan sebuah rel tua kereta api membelah perkampungan. Rel tersebut tampaknya sudah cukup lama terbengkalai karena banyaknya tumpukan sampah dan benda-benda rongsokan di beberapa bagian rel tua tersebut. Mellani pun menyusuri rel tua tersebut hingga ia menemukan banyak lapak dagangan di kanan dan kiri rel. Beberapa di antaranya memiliki tenda berupa terpal berwarna biru maupun orange.
Semakin jauh melangkah, Mellani menemukan sebuah bangkai kereta yang memiliki setidaknya enam gerbong dengan lokomotif yang tampaknya berada di ujung sana dari bangkai kereta tersebut. Mellani menemukan pintu gerbong kereta bagian belakang tersebut pintunya terbuka. Dengan begitu, ia dapat memasuki gerbong tersebut.
Betapa kaget dan mualnya saat Mellani menemukan banyak mayat manusia dalam kondisi terbakar di dalam gerbong tersebut. Seisi gerbong tersebut memang dalam kondisi gosong. Tampaknya kereta tersebut dulunya mengalami kecelakaan fatal hingga terbakar dan membunuh banyak penumpangnya. Mellani sambil menahan mual terus berjalan hendak menuju gerbong berikutnya.
Namun, ia tampaknya tidak dapat melanjutkan ke gerbong tersebut karena pintu tengah dalam kondisi tertutup dan terblokade. Mellani hanya bisa mengintip dari sela-sela papan yang memblokade pintu tengah gerbong tersebut. Hanya gelap yang ia lihat. Menggunakan senter smartphone-nya hanya membuat jarak penglihatannya semakin terbatas. Mellani pun keluar dari gerbong tersebut dan berjalan mengitari kereta. Ia melihat dua gerbong kereta tersebut posisinya berada di luar rel alias anjlok. Sedangkan dua gerbong lagi masih berada di atas rel bersama lokomotif. Keseluruhan kereta tersebut tampak gosong. Sepertinya memang benar jika kereta tersebut dahulu mengalami kecelakaan fatal.
Saat Mellani tiba di dekat lokomotif, tiba-tiba ia mendengar suara seperti geraman seorang laki-laki tua. Mendengar itu, Mellani menjadi panik dibuatnya. Bukan hanya itu, Mellani merasakan bulu kuduknya terasa merinding (pertanda kehadiran aura mistis). Ia pun mencoba menjauhi lokomotif tersebut dengan berlari ke arah lain yang berlawanan, namun ia menghentikan langkahnya saat melihat sesosok laki-laki berpakaian seragam masinis tampak berdiri menghalangi jalan yang akan dilewatinya. Mellani menjadi panik karenanya. Terlebih ketika melihat wajah si masinis tersebut tampak menyeramkan.
Tampaknya penampakan pria masinis tersebut adalah Hantu Masinis yang mana merupakan perwujudan dari arwah seorang masinis yang tewas dalam kecelakaan kereta api yang dikemudikannya. Dalam Dreadout Act 0, 1 maupun 2, hantu tersebut tidak ada. Dalam Dreadout Keepers Of The Dark pun hantu tersebut tidak ada.
Mellani tampak panik dan ketakutan setengah mati. Ia tidak tahu harus berbuat apa. Saat ini yang ia pikirkan hanya melarikan diri menjauh dari hantu yang mengganggunya tersebut. Ia belum terpikir untuk melawan hantu karena ia memang bukan tipe gadis yang banyak tahu soal menghadapi hantu. Ia juga tidak menyangka jika harus berhadapan dengan hal-hal mistis yang tidak ia duga sebelumnya.
Mellani pun berlari menjauhi penampakan Hantu Masinis tersebut, namun dalam tempo cepat, hantu tersebut telah kembali menghalangi jalannya Mellani.
Mellani pun memutar langkah untuk menjauhi hantu masinis, namun kali ini ia terjatuh telentang saat posisinya berada begitu dekat dengan hantu tersebut. Mellani segera bangkit dan mencoba berlari sekuat tenaga, namun lagi-lagi ia terjatuh telentang saat si hantu masinis tiba-tiba muncul ke hadapannya.
Mellani mendengar hantu tersebut seperti bergumam dalam bahasa yang ia tidak mengerti. Selanjutnya ia hanya berlari dan berlari untuk menghindari serangan hantu masinis. Tentu saja Mellani kecapekan karenanya. Ia sudah tidak dapat berlari lagi. Ia tampak terengah-engah sambil berjalan membungkuk menahan capek. Tentu saja si hantu masinis dapat leluasa menyerang Mellani hingga terjatuh.
Mellani pun pingsan karena kecapekan dan juga karena efek serangan si hantu masinis. Mellani tergeletak tidak sadarkan diri di pinggir rel kereta yang telah usang.
"Yang, apa kita tidak salah jalan? Perasaan sebelumnya kita tidak melewati jalan ini, deh." tanya Mellani sambil melirik ke arah Andra yang sibuk menyetir.
"Tenang, sayang. Lewat jalan manapun, ujung-ujungnya kita pasti akan bertemu jalan yang benar" tukas Andra santai sambil terus menyetir.
"Ya udah, deh. Semoga aja kamu benar." tukas Mellani agak merajuk.
"Jangan ngambek gitu, sayang. Bisa ilang cantiknya kalau ngambek begitu. Hehehe." tukas Andra seraya tertawa.
Mellani tidak berkata-kata lagi. Ia hanya melihat-lihat kanan dan kiri jalan yang tampak dipenuhi pepohonan dan semak-semak yang hijau. Ia merasa seperti ada firasat buruk saat mobil yang ditumpanginya melewati jalanan kecil tersebut. Kondisi jalan beraspal tersebut sebagian besar telah rusak, sehingga mobil yang dikendarai Andra tersebut terombang-ambing.
Saat itu jam menunjukkan pukul 14.22, namun sinar matahari tampaknya tidak dapat menembus rimbunnya pepohonan di sekitar jalan kecil yang Andra dan Mellani lewati.
"Yank, kok diem aja, sih? Maaf, bukannya aku menganggap remeh, tapi aku hanya yakin jika jalan yang kita lewati ini pasti akan berujung jalan menuju pulang. Paling lambat nanti malam kita sampai di Jakarta." ujar Andra memecah keheningan.
"Yakin? Bagaimana kalau kita malah nyasar? Nyasar ke kampung orang mendingan. Bagaimana kalau nyasarnya di tengah hutan jauh dari mana-mana?" tukas Mellani tampak tegang.
"Jangan berpikiran seperti itu, yank. Yakinlah kalau kita akan tiba tepat waktu ke rumah." kata Andra berusaha meyakinkan kekasihnya tersebut.
"Bagaimana kalau aku tidak yakin, yank? Hei, berhentikan mobilnya! Awas tumpukan batu-batu besar di depan!" tukas Mellani tiba-tiba berteriak saat melihat di depan mobil yang mereka tumpangi terdapat banyak tumpukan batu-batu besar menghalangi jalan yang akan mereka lalui.
"Astaga, kita tidak bisa lewat, yank. Tidak ada celah sama sekali. Bagaimana ini?" kata Andra seraya menghentikan laju mobilnya.
"Tuh kan. Kalau aja tadi mau memutar balik di jalan sebelumnya yang lebih lebar. Nggak bakal begini jadinya!" kata Mellani tampak uring-uringan.
"Nggak bisa memutar balik di sini. Jalannya terlalu sempit. Di kiri jurang, di kanan tebing. Serba salah, harus bagaimana ini?" ucap Andra tampak terlihat frustrasi.
"Tau ah, pusing. Aku mau pipis dulu." tukas Mellani seraya keluar dari mobil dan berjalan menuju semak-semak di pinggir jalan.
Sedangkan Andra tampak berpikir keras bagaimana cara agar ia dapat memutar balik mobilnya. Melanjutkan perjalanan melewati jalan tersebut tidak mungkin karena jalan terhalang tumpukan batu-batu besar. Memutar balik pun sulit karena kondisi jalan yang sangat sempit. Tampaknya jalan satu-satunya adalah memundurkan mobilnya hingga tiba di area jalan yang cukup untuk memutar balik. Andra pun mencoba memundurkan mobilnya, namun sial penglihatannya berkurang ketika sinar matahari tampaknya terhalang rimbunnya pepohonan di sekitar jalan tersebut. Ia pun keluar dari mobil untuk memanggil Mellani yang ia rasa sudah cukup lama perginya.
"Yank, kamu di mana? Kok lama banget? Sudah apa belum pipisnya?" seru Andra sambil mencoba mendekati semak di mana sebelumnya Mellani diyakininya buang air kecil di situ. Namun aneh, Andra tidak menemukan kekasihnya tersebut di sana. Andra pun panik, sehingga ia berteriak-teriak memanggil Mellani.
"Yank, kamu di mana? Tolong jawab. Ayo yank, kita harus memundurkan mobil. Kita akan putar balik!" teriak Andra sambil terus mencari-cari kekasihnya tersebut hingga tanpa disadarinya ia jauh meninggalkan mobilnya.
Sedangkan Mellani tampak keluar dari balik semak-semak setelah selesai buang air kecil. Ia pun menuju mobil yang sekarang posisinya lebih mundur dari posisi sebelumnya. Mellani tampak kebingungan saat mengetahui kekasihnya, Andra sudah tidak berada di dalam mobil. Ia juga tidak melihat Andra di sekitar lokasi tersebut. Mellani juga sebelumnya tidak mendengar jika Andra berteriak memanggilnya. Entah apa yang terjadi sehingga Mellani tidak dapat mendengar Andra berteriak-teriak memanggilnya.
Dalam rimbunnya pepohonan yang memayungi jalan yang terblokade tersebut tampak siluet wajah mengerikan dengan rambutnya yang panjang berwarna putih muncul di antara batang pepohonan memperhatikan Mellani yang tampak sibuk memanggil-manggil Andra. Mellani tidak menyadari kehadiran sosok mengerikan tersebut.
Mellani terus memanggil-manggil Andra hingga suaranya menjadi serak.
"Yank, kamu di mana. Please jangan tinggalin aku. Tidak lucu tau. Jangan main petak umpet. Di sini bukan tempatnya. Di sini begitu menakutkan, yank!" teriak Mellani namun tidak ada jawaban.
Ia hanya mendengar gema suaranya yang terpantul di dinding tebing. Mellani kemudian mengambil tasnya yang berada di dalam mobil. Ia merasakan teduhnya di area tersebut semakin menjadi gelap karena petang telah menjelang. Mellani bingung harus berbuat apa. Ia hanya mondar-mandir di sekitar mobil. Ia mencoba menunggu di dalam mobil, namun perasaan bosan yang ia dapat.
Mellani pun beranjak meninggalkan mobil melewati celah di antara tumpukkan batu-batu besar tersebut. Ia terus berjalan menyusuri jalan aspal yang telah rusak tersebut. Hingga kemudian ia menemukan jalan buntu di mana jalan beraspal tersebut terputus. Mellani melihat kondisi badan jalan yang terkikis longsor sepanjang kira-kira sepuluh meter. Mellani tentu tidak dapat melewati jalan yang kondisinya telah hancur tersebut. Namun ia menemukan sebuah jalan setapak yang mengarah ke lembah. Jalan setapak tersebut tampak berundak-undak seperti tangga alami. Mellani pun menuruni jalan setapak yang berundak tersebut.
Petualangan Mellani pun dimulai. Dengan setelan pakaian dress berwarna hitam dengan beberapa bagian berwarna putih, rok pendek selutut bergelombang berwarna biru langit, dan sebuah tas wanita berwarna putih yang diselempangkan di bahunya, Mellani memulai petualangan mencari kekasihnya, Andra yang menghilang entah ke mana. Ia juga mengenakan alas kaki berupa sepasang sepatu kain berwarna hitam. Di lehernya tampak sebuah kalung perak yang melingkar dengan liontin berbentuk segi lima seperti Pentagon dengan bagian tengah menempel sebutir berlian tiruan berwarna merah. Rambutnya tergerai sebahu berhiaskan sebuah bando berwarna magenta di bagian depan.
Mellani tampak berhati-hati menuruni jalan setapak yang berundak tersebut. Jalan yang ia lewati memang agak licin. Ia sempat terpleset dua kali hingga rok yang dikenakannya menjadi kotor terkena lumpur.
Beberapa saat kemudian Mellani tiba di ujung jalan setapak yang berundak tersebut. Saat itu hari mulai gelap, dan Mellani pun harus menyalakan lampu senter smartphone-nya untuk tetap dapat melihat jalan. Namun untuk menyalakan lampu senter tersebut, Mellani harus menggunakan mode tampilan kamera di smartphone-nya.
Tak lama kemudian Mellani menemukan sebuah perkampungan yang terlihat begitu sepi. Tidak ada tanda-tanda kehidupan di sana. Semua rumah yang ada terlihat kumuh dan berantakan. Tidak ada cahaya apapun terlihat di sana. Rata-rata rumah yang dijumpai Mellani adalah rumah panggung dengan dinding bambu dan beratap asbes. Namun di sana juga terdapat beberapa rumah bertembok dengan atap genting dan berlantai tegel.
Mellani terlihat begitu galau saat menyadari hari telah menjadi gelap. Ia tampak ketakutan dan begitu panik. Ia pun terduduk di emperan sebuah rumah berdinding tembok sambil menangis. Ia tidak tahu harus bagaimana. Ia ingin kembali ke mobil tapi merasa takut sekali. Ia pun terduduk lesu sambil menangis tersedu-sedu karena bingung. Ia pun kini merasakan bagaimana rasanya tersesat di suatu tempat antah-berantah. Ia juga merasakan kalau area tersebut begitu menakutkan.
Secara perlahan Mellani menguatkan diri dan berusaha mengusir rasa takut yang menghantuinya.
Jika melihat tokoh di game dreadout, maka Mellani mirip-mirip dengan Shelly di mana keduanya tergolong gadis yang manja juga selalu merasa tidak nyaman ketika dihadapkan dengan keadaan suatu tempat yang sepi dan terlihat berantakan. Kini si gadis manja Mellani harus menghadapi kenyataan bahwa ia tidak bisa selamanya menjadi sosok yang manja dan kekanak-kanakan. Ia harus menjadi lebih tegar saat ia berada dalam situasi genting seperti saat ini.
Saat Mellani selesai meratapnya, sayup-sayup ia mendengar seperti ada suara tangisan di kejauhan. Mellani yang sedang berusaha mengatasi kepanikannya menjadi semakin panik. Ia tampak celingukan sambil meringis menahan ketakutannya. Namun ia mencoba untuk mengusir rasa paniknya. Ia pun memberanikan dirinya menghampiri sumber suara yang ternyata berasal dari depan salah satu rumah panggung berdinding bilik bambu. Ia hanya mendengar suara tangisan tersebut namun belum melihat wujud orang yang sedang menangis tersebut.
Dengan keberanian yang pasang surut, Mellani mendekati teras rumah tersebut. Tiba-tiba sesosok perempuan berpenampilan mengerikan menampakkan diri ke hadapan Mellani sembari memuntahkan sesosok bayi laki-laki yang juga terlihat menyeramkan. Sontak Mellani menjerit histeris dan secara refleks ia berlari kencang menjauhi area di mana ia dikagetkan oleh sosok penampakan menyeramkan tersebut. Mellani pun lari pontang-panting hingga terjatuh karena tersandung akar pohon yang merintanginya. Sejenak Mellani terduduk lemas sambil memijit-mijit kaki kanannya yang terasa sakit akibat tersandung akar pohon tersebut.
Bila melihat ke misi game Dreadout Act 2, maka hantu yang mengejutkan Mellani tersebut adalah Matianak yang mana hantu tersebut tergolong hantu pasif atau bukan hantu ganas yang selalu menyerang pemain. Namun hantu jenis ini bisa menyerang jika pemain berjarak terlalu dekat dengan hantu tersebut. Hantu ini bisa melakukan serangan kejutan (Jumpscare) meski hanya sekali selama permainan.
Sambil meringis menahan sakit di pergelangan kaki kanannya, Mellani masih mendengar suara tangisan dari hantu yang telah menakutinya tersebut. Entah bagaimana caranya agar ia dapat melihat wujud hantu yang menangis tersebut. Bagaimana pun ia harus dapat melihatnya agar kemudian ia dapat mengantisipasi serangan dadakan dari hantu tersebut.
Mellani kemudian bangkit dari duduknya dan berjalan agak pincang menuju sebuah bangunan besar yang di salah satu bagian dindingnya terdapat sebuah plank bertuliskan Unit Kesehatan Sekolah (UKS). Mellani kemudian mendekati pintu bangunan tersebut yang ternyata tertutup dan terkunci. Sejenak Mellani melihat-lihat sekeliling apakah di sana terdapat semacam bangunan sekolah. Namun ia tidak menemukan bangunan yang ia cari tersebut. Sejenak ia terpaku dan merasa heran bagaimana di situ ada Unit Kesehatan Sekolah sedangkan sekolahnya sendiri tidak ada.
Mellani selanjutnya mencoba mencari jalan masuk lain yang mengarah ke dalam bangunan UKS tersebut. Sambil mencari-cari jalan masuk bangunan UKS, Mellani melihat-lihat melalui jendela kaca, dan ia terkesiap dalam tempo cukup lama saat melihat sesosok gadis berpakaian seragam SMA tampak menggantung di langit-langit bangunan tersebut. Siapakah gerangan gadis yang telah tewas dalam kondisi menggantung tersebut? Tidak ada yang tahu apakah gadis tersebut meninggal karena gantung diri atau karena dibunuh.
Mellani terlihat syok dan ia pun terduduk di bawah jendela kaca sambil menangis. Ia merasa begitu takut dan tertekan setelah melihat mayat gadis SMA tergantung di langit-langit.
Beberapa saat kemudian Mellani bangkit dan beranjak meninggalkan bangunan UKS tersebut menuju bangunan lain yang berada di sebelah bangunan UKS tersebut. Di sana Mellani menemukan sebuah selebaran yang sudah lecek menempel di salah satu pintu bangunan. Selebaran berisi tulisan seperti berikut ini :
Himbauan kepada warga RT 01/RW 04 agar jangan meninggalkan anak bayi Anda di rumah tanpa pengamanan. Akhir-akhir ini kasus penculikan bayi marak terjadi. Besar kemungkinan pelakunya adalah dukun ilmu hitam yang hingga saat ini belum diketahui identitasnya. Berhati-hatilah!
Ketua RW 04
Sahrudin
Mellani kemudian memotret selebaran tersebut. Ia tidak mengambil selebaran tersebut karena itu terlalu kuat menempel di pintu. Selanjutnya Mellani mengelilingi bangunan tersebut untuk mencari pintu yang mungkin bisa dibuka. Tampaknya bangunan tersebut mutlak tidak dapat dimasuki karena semua pintunya dalam kondisi terkunci. Satu-satunya cara untuk memasuki bangunan tersebut adalah dengan mendobrak pintu atau memecahkan kaca jendela. Namun Mellani tidak melakukan itu karena ia masih begitu takut untuk bertindak.
Ia kemudian meninggalkan bangunan tersebut mengarah ke sebuah jalan setapak yang diapit tebing di sekelilingnya. Setelah keluar dari jalan setapak yang dikelilingi tebing tersebut, Mellani menemukan perkampungan lain yang rumah-rumahnya kurang lebih sama dengan rumah-rumah di perkampungan sebelumnya.
Mellani kembali mendengar suara tangisan hantu Matianak. Suara tangisan hantu tersebut jelas berasal dari teras salah satu rumah panggung yang berada di sana. Namun wujud hantu tersebut tetap tidak dapat dilihatnya. Karena saking takutnya terkena serangan kejutan hantu tersebut, Mellani kemudian menjauhi rumah yang terindikasi terdapat hantu tersebut. Ia terus berjalan hingga suara tangisan hantu tersebut meredup.
Mellani menemukan sebuah rel tua kereta api membelah perkampungan. Rel tersebut tampaknya sudah cukup lama terbengkalai karena banyaknya tumpukan sampah dan benda-benda rongsokan di beberapa bagian rel tua tersebut. Mellani pun menyusuri rel tua tersebut hingga ia menemukan banyak lapak dagangan di kanan dan kiri rel. Beberapa di antaranya memiliki tenda berupa terpal berwarna biru maupun orange.
Semakin jauh melangkah, Mellani menemukan sebuah bangkai kereta yang memiliki setidaknya enam gerbong dengan lokomotif yang tampaknya berada di ujung sana dari bangkai kereta tersebut. Mellani menemukan pintu gerbong kereta bagian belakang tersebut pintunya terbuka. Dengan begitu, ia dapat memasuki gerbong tersebut.
Betapa kaget dan mualnya saat Mellani menemukan banyak mayat manusia dalam kondisi terbakar di dalam gerbong tersebut. Seisi gerbong tersebut memang dalam kondisi gosong. Tampaknya kereta tersebut dulunya mengalami kecelakaan fatal hingga terbakar dan membunuh banyak penumpangnya. Mellani sambil menahan mual terus berjalan hendak menuju gerbong berikutnya.
Namun, ia tampaknya tidak dapat melanjutkan ke gerbong tersebut karena pintu tengah dalam kondisi tertutup dan terblokade. Mellani hanya bisa mengintip dari sela-sela papan yang memblokade pintu tengah gerbong tersebut. Hanya gelap yang ia lihat. Menggunakan senter smartphone-nya hanya membuat jarak penglihatannya semakin terbatas. Mellani pun keluar dari gerbong tersebut dan berjalan mengitari kereta. Ia melihat dua gerbong kereta tersebut posisinya berada di luar rel alias anjlok. Sedangkan dua gerbong lagi masih berada di atas rel bersama lokomotif. Keseluruhan kereta tersebut tampak gosong. Sepertinya memang benar jika kereta tersebut dahulu mengalami kecelakaan fatal.
Saat Mellani tiba di dekat lokomotif, tiba-tiba ia mendengar suara seperti geraman seorang laki-laki tua. Mendengar itu, Mellani menjadi panik dibuatnya. Bukan hanya itu, Mellani merasakan bulu kuduknya terasa merinding (pertanda kehadiran aura mistis). Ia pun mencoba menjauhi lokomotif tersebut dengan berlari ke arah lain yang berlawanan, namun ia menghentikan langkahnya saat melihat sesosok laki-laki berpakaian seragam masinis tampak berdiri menghalangi jalan yang akan dilewatinya. Mellani menjadi panik karenanya. Terlebih ketika melihat wajah si masinis tersebut tampak menyeramkan.
Tampaknya penampakan pria masinis tersebut adalah Hantu Masinis yang mana merupakan perwujudan dari arwah seorang masinis yang tewas dalam kecelakaan kereta api yang dikemudikannya. Dalam Dreadout Act 0, 1 maupun 2, hantu tersebut tidak ada. Dalam Dreadout Keepers Of The Dark pun hantu tersebut tidak ada.
Mellani tampak panik dan ketakutan setengah mati. Ia tidak tahu harus berbuat apa. Saat ini yang ia pikirkan hanya melarikan diri menjauh dari hantu yang mengganggunya tersebut. Ia belum terpikir untuk melawan hantu karena ia memang bukan tipe gadis yang banyak tahu soal menghadapi hantu. Ia juga tidak menyangka jika harus berhadapan dengan hal-hal mistis yang tidak ia duga sebelumnya.
Mellani pun berlari menjauhi penampakan Hantu Masinis tersebut, namun dalam tempo cepat, hantu tersebut telah kembali menghalangi jalannya Mellani.
Mellani pun memutar langkah untuk menjauhi hantu masinis, namun kali ini ia terjatuh telentang saat posisinya berada begitu dekat dengan hantu tersebut. Mellani segera bangkit dan mencoba berlari sekuat tenaga, namun lagi-lagi ia terjatuh telentang saat si hantu masinis tiba-tiba muncul ke hadapannya.
Mellani mendengar hantu tersebut seperti bergumam dalam bahasa yang ia tidak mengerti. Selanjutnya ia hanya berlari dan berlari untuk menghindari serangan hantu masinis. Tentu saja Mellani kecapekan karenanya. Ia sudah tidak dapat berlari lagi. Ia tampak terengah-engah sambil berjalan membungkuk menahan capek. Tentu saja si hantu masinis dapat leluasa menyerang Mellani hingga terjatuh.
Mellani pun pingsan karena kecapekan dan juga karena efek serangan si hantu masinis. Mellani tergeletak tidak sadarkan diri di pinggir rel kereta yang telah usang.
Bagian Dua
Bagian Tiga
Bagian Empat
Bagian Lima
Bagian Enam
Bagian Tujuh
Bagian Delapan
Bagian Sembilan
Bagian Sepuluh
Bagian Sebelas
Bagian Dua Belas
Bagian Tiga Belas [Tamat]
Jangan Lupa Rate dan Komennya gan
Diubah oleh Robinjack2098 11-10-2018 14:14
anasabila memberi reputasi
1
11.4K
Kutip
68
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.5KAnggota
Tampilkan semua post
TS
Robinjack2098
#12
Quote:
Mellani perlahan membuka kedua matanya. Ia tampak mulai siuman setelah tidak sadarkan diri akibat kelelahan setelah mencoba menghindari kejaran hantu masinis.
Mellani terhenyak saat menyadari dirinya tidak lagi berada di samping rel usang. Ia kini berada di dalam sebuah kamar kecil dengan sebuah bak mandi dan sebuah WC. Tampaknya kamar tersebut merupakan sebuah toilet yang entah berada di dalam bangunan yang mana. Ia pun segera bangkit dan melihat-lihat kamar kecil tersebut. Ia mendapati pintu toilet dalam keadaan tertutup namun tidak terkunci saat ia mencoba membuka pintu toilet tersebut.
Mellani kemudian melangkah keluar sambil melihat-lihat ruangan di luar toilet tersebut. Ia melihat beberapa buah ranjang rumah sakit tampak tidak beraturan letaknya. Ia kemudian menemukan sebuah smartphone dengan chasing berwarna pink tergeletak di atas lantai yang berupa tegel tersebut. Saat melihat ke layar smartphone, Mellani menemukan tampilan smartphone tersebut dalam mode kamera. Saat itulah ia menyadari jika smartphone-nya sendiri telah raib.
Melalui tampilan kamera, Mellani melihat layar smartphone seperti terdistorsi dan seperti mengalami kerusakan tampilan. Karena merasa penasaran, ia pun menyentuh tombol Shutter, dan ceklikk, terlihat cahaya berwarna merah memijar di layar smartphone yang baru ia temukan tersebut.
Tiba-tiba Mellani dikagetkan dengan jatuhnya sesosok jasad manusia dari atas langit-langit. Jasad tersebut jatuh pas di hadapan Mellani. Ternyata jasad tersebut adalah jasad seorang gadis siswi SMA yang sebelumnya Mellani lihat tergantung di langit-langit bangunan tempat saat ini ia berada.
Mellani tampak syok sambil mundur beberapa langkah. Ia kaget mengapa ia bisa tiba-tiba berada di dalam bangunan UKS tersebut dan menjumpai jasad yang sebelumnya tergantung di langit-langit yang kini tergeletak di hadapannya.
Mellani pun memberanikan dirinya memeriksa jasad siswi SMA tersebut. Jasad gadis malang tersebut tampak pucat dengan luka lebam dan lecet-lecet di bagian leher. Gadis malang tersebut memilik paras cukup cantik dan masih terlihat cantik meski telah terbujur kaku. Rambutnya tergerai hingga ke lengan dihiasi sebuah jepit rambut yang terbuat dari besi anti karat.
Mellani sejenak merasa bingung, mau dia apakan jasad gadis tersebut. Ia tidak mau berpikiran untuk mengubur jasad gadis tersebut karena situasi dan kondisinya yang tidak memungkinkan.
Namun sejenak ia merasakan ada sesuatu yang aneh. Ia merasakan seperti ada seseorang yang memperhatikannya. Selain itu ia juga merasakan kehadiran aura mistis di sana. Belum sempat ia menoleh untuk melihat apa sebenarnya yang sedang memperhatikannya, mendadak mayat si gadis SMA bangkit dari posisinya dan menyerang Mellani dengan cekikan yang begitu kuat. Mellani pun berjuang sekuat tenaga melepaskan diri dari cekikan mayat si gadis yang kerasukan tersebut.
"Uhhh, uhuk, uhuk" Mellani terbatuk-batuk setelah berhasil melepaskan diri dan terjengkang di atas lantai.
Dengan cepat Mellani berlari menghindari kejaran mayat hidup tersebut. Smartphone dengan chasing berwarna pink sebelumnya terjatuh saat Mellani dicekik mayat si gadis yang tiba-tiba dapat hidup tersebut. Untuk mengambil smartphone tersebut tentu butuh perjuangan. Sedangkan Mellani hampir tidak mendapat kesempatan untuk mengambil smartphone tersebut. Mayat si gadis terus mengejarnya bahkan beberapa kali sempat membuat Mellani terjatuh. Tidak jarang ia terjatuh menghantam ranjang rumah sakit sehingga badannya terasa sakit-sakit.
Namun pada akhirnya Mellani dapat mengambil smartphone pink yang tampaknya merupakan milik si gadis SMA tersebut semasa hidupnya. Tampaknya Mellani sekarang dapat balik menyerang penyerangnya dengan menggunakan smartphone pink tersebut. Kilatan lampu flash smartphone tersebut rupanya dapat membuat sesuatu yang menggerakkan mayat si gadis menjadi ketakutan. Itu ditandai dengan jatuhnya mayat si gadis ke lantai. Namun makhluk pengganggu yang merasuki atau menggerakkan mayat si gadis masih belum terlihat. Mellani juga berusaha melihat makhluk tersebut melalui tampilan kamera smartphone. Tidak terlihat apapun di sana, namun Mellani dapat merasakan jika makhluk tersebut masih ada dan sedang bersiap membokongnya dari belakang.
Mellani pun dapat melihat tampilan kamera di layar smartphone terlihat mengalami kerusakan. Dengan segera ia menyentuh tombol shutter dengan jempol tangannya. Ceklikk, tampak seberkas sinar berwarna merah berpijar melalui tampilan kamera smartphone setelah Mellani menjepret target yang tidak terlihat tersebut.
Setelah kira-kira setidaknya lima kali jepretan tiba-tiba suasana di dalam ruangan menjadi bising oleh suara benda-benda yang bergerak sendiri dan saling bertabrakan. Beberapa di antaranya malah melayang hendak menghantam Mellani. Tentu saja ia tidak tinggal diam. Ia berlari ke sana kemari untuk menghindari terkena serangan benda-benda yang bergerak sendiri tersebut. Mellani juga tidak lupa untuk melakukan serangan balik dengan menjepret area yang terlihat berriak-riak di layar smartphone-nya. Beberapa kali ia berhasil membuat makhluk yang menggerakkan benda-benda di dalam ruangan UKS tersebut melenguh keras. Tampaknya makhluk tak kasat mata tersebut merasa tidak tahan terhadap kilatan lampu flash smartphone-nya Mellani. Hingga akhirnya suasana di dalam ruangan kembali tenang, dan Mellani merasakan aura mistis makhluk tersebut telah lenyap. Ia juga mendapati pintu keluar bangunan UKS tersebut telah terbuka.
Sejenak Mellani melihat ke arah mayat si gadis yang tergeletak di atas lantai dan tertindih sebuah kursi berdebu. Mellani kemudian menyingkirkan kursi tersebut dan sekuat mungkin mengangkat mayat si gadis ke atas ranjang rumah sakit. Setelah berhasil menempatkan jasad si gadis di atas ranjang, Mellani kemudian beranjak keluar bangunan tersebut.
Selanjutnya Mellani berjalan menuju sebuah jalan setapak yang mengarah ke sebuah bangunan besar yang tampaknya itu merupakan sebuah graha/mansion. Terdapat sebuah tangga berundak berukuran cukup luas yang mengarah ke sebuah pintu gerbang graha yang tertutup. Bagian kanan tangga tersebut terlihat retak-retak tertembus oleh akar sebatang pohon beringin yang tumbuh di sisi kanan tangga.
Saat Mellani mencapai pertengahan tangga, tiba-tiba ia merasakan aura mistis menyelimuti tempat tersebut. Mendadak di tangga tersebut muncul beberapa benda yang berbentuk seperti kepala manusia tanpa rambut menggelinding menuruni tangga. Bahkan satu di antaranya melompat dan menempel di kedua tangan Mellani yang sedang berusaha mengarahkan smartphone untuk menjepret penampakkan-penampakkan horror tersebut. Mellani dapat dengan jelas melihat bahwa itu adalah kepala manusia dengan wajah menakutkan. Sontak Mellani melonjak kaget dan mengibaskan kedua tangannya hingga hantu kepala tanpa badan tersebut terjatuh.
Tampaknya kepala-kepala gundul yang menggelinding tersebut adalah Hantu Gundul Pringis yang merupakan sosok hantu kepala tanpa badan. Untuk berpindah tempat, Gundul Pringis menggelinding seperti bola. Gundul Pringis bukan tipe hantu yang berbahaya, namun cukup mengagetkan bagi pemain karena hantu ini memiliki tampang menyeramkan. Hantu ini muncul dalam DreadOut Act 2.
Mellani pun segera menaiki tangga menjauhi kelompok hantu kepala tersebut dan mencoba membuka pintu graha, namun pintu besi dengan hiasan motif tanaman menjalar tersebut dalam keadaan terkunci. Mungkin ia harus mendapatkan kunci agar dapat membuka pintu graha tersebut. Namun kemudian Mellani sadar untuk apa ia berada di perkampungan terbengkalai tersebut. Ia akhirnya berpikir untuk tidak bertindak terlalu jauh dengan memaksa memasuki area yang tidak mungkin dapat ia kunjungi.
Selanjutnya Mellani meninggalkan graha tersebut dan mengabaikan hantu-hantu kepala gundul berwajah seram tersebut. Ia kini sudah dapat mengatasi ketakutannya, karena ia berpikir bahwa ketakutan ketika berada di tempat angker seperti itu tidak akan menyelamatkannya. Jadi kini baginya adalah ia harus mengabaikan ketakutan itu sebelum ketakutan dapat membunuhnya secara perlahan.
Mellani kemudian menuju suatu jalan setapak yang berada di balik sebuah pintu kecil tembok graha. Tampaknya pintu kecil tersebut mengarahkan Mellani memasuki sebuah lorong rahasia menuju suatu tempat yang terlihat begitu tenang dan tentram. Bahkan yang lebih luar biasa, Mellani dapat merasakan jika pagi muncul di area tersebut. Melalui jalan setapak di antara dua tebing kecil, Mellani dapat menyaksikan sinar keemasan matahari muncul dari ufuk timur. Namun anehnya ia mendengar suara seperti lolongan anjing kelaparan dari kejauhan bukan suara kokok ayam jantan.
Tak lama Mellani menemukan sebuah oasis berupa sebuah telaga kecil dan dangkal dengan sebuah bukit batu kecil di tengah-tengah. Telaga tersebut terlihat sepi, hanya suara katak bersahut-sahutan di sana. Telaga kecil tersebut ditumbuhi rerumputan yang sejenis dengan ilalang namun biasa tumbuh di atas tanah berair. Tidak ada apa-apa lagi di area telaga maupun sekitarnya. Mellani pun di sana hanya berkeliling sambil sesekali duduk di atas sebuah batu di pinggir telaga.
Matahari tampak semakin naik dengan pancaran sinarnya yang hangat menyinari area telaga di mana Mellani berada. Saat Mellani iseng-iseng melihat ke layar smartphone-nya, ia mendapati ada sesuatu yang ganjil mengenai tempat tersebut. Mellani pun mencoba membidik tebing batu yang berada di sebelahnya, dan saat tampilan kameranya terdistorsi, ia pun langsung menekan tombol shutter dan thuss, tebing batu tersebut tiba-tiba menghilang. Mellani mendapati suatu pemandangan yang tidak ia sangka-sangka sebelumnya. Ia melihat sebuah telaga yang ukurannya lebih luas daripada telaga tempatnya berada. Di telaga besar tersebut terlihat banyak gadis sedang berbasah-basahan ria. Mereka tampak begitu bergembira main air di telaga besar tersebut.
Mellani kemudian beranjak menuju telaga besar tersebut dan disambut dua orang gadis berpakaian kebaya simple berwarna kuning dan merah. Mereka berdua mengucapkan kata-kata dalam bahasa Sunda :"Wilujeng Sumping"/ "Selamat Datang".
Mellani hanya mengangguk sambil menuju pinggir telaga tersebut. Ia melihat tampak percikan air berhamburan saat beberapa orang gadis yang sedang berenang di telaga bermain percik-percik air ke temannya. Mellani pun ikut terkena percikan air hingga pakaiannya menjadi sedikit basah. Ia pun berjalan agak menjauhi posisi para gadis yang sedang bermain air tersebut.
Selanjutnya Mellani memotret mereka semua. Namun Mellani terkejut saat mengarahkan smartphone-nya agak ke atas. Ia melihat sesosok perempuan cantik berukuran raksasa berpakaian seperti peri berwarna krem lengkap dengan sayap transparan yang juga berwarna krem tampak mengapung di udara setinggi empat meter dari tanah. Pakaian yang dikenakan peri raksasa tersebut terlihat transparan sehingga Mellani dapat melihat beberapa bagian tubuh peri tersebut seperti pusar dan bagian bawah pahanya, sehingga celana dalamnya yang berwarna krem pun terlihat jelas. Kulit peri tersebut kuning Langsat dan terlihat begitu mulus. Wajahnya begitu cantik sehingga siapapun yang melihatnya akan berdecak kagum. Mellani pun tidak lupa memotret peri raksasa tersebut.
Mellani tampaknya tidak mungkin dapat mendekati peri raksasa tersebut karena jalan yang mengarah ke sana dalam kondisi tertutup longsoran tebing.
Ia kemudian menjepret sana sini dengan smartphone yang ia bawa. Hingga kemudian ia mendapati sebuah jalan setapak dalam celah di antara dua tebing. Ia pun menuju ke sana dan menemukan sebilah kujang tanpa sarung dalam kondisi sedikit berkarat tergeletak di atas sebuah batu kali.
Mellani mengambil kujang tersebut dan menaruhnya dalam tas. Ia kemudian mengitari tempat tersebut sambil melihat melalui tampilan kamera di smartphone-nya. Sejenak ia melihat dua batang pohon setinggi manusia dewasa tampak mengapit dua batang pohon dengan satu pohon setinggi anak berusia 10 tahun dan satu pohon lagi setinggi anak berusia 6 tahun.
Latar belakang pohon-pohon dengan formasi unik tersebut berupa tebing batu berundak yang jika diamati lebih teliti akan tampak seperti anak-anak tangga suatu bangunan dengan ukuran yang luas.
Saat Mellani mengarahkan kameranya ke arah pohon-pohon tersebut dari arah depan, jelas dia melihat layar smartphone-nya berriak-riak dengan kerusakan tampilan seperti saat ia melihat penampakkan hantu. Dengan mantap ia menekan tombol shutter. Ceklikkk, glederr, mendadak terdengar suara halilintar dibarengi dengan munculnya foto di layar smartphone yang digunakan Mellani. Foto tersebut membuat Mellani terkejut setengah mati.
Mellani begitu terkejut saat melihat apa yang ditampilkan foto tersebut. Foto tersebut menampilkan foto keluarga lengkap dengan ayah, ibu, anak laki-laki dan anak perempuan dengan latar belakang tangga berundak yang ditutupi karpet merah. Yang membuat kaget adalah seluruh anggota keluarga yang ditampilkan di foto terlihat begitu menakutkan. Mereka memiliki wajah yang mengerikan dengan kulit pucat seperti mayat baru. Di antaranya bahkan memiliki mulut yang lebar hingga ke telinga. Sebagian di antaranya terlihat melelehkan darah dari mulutnya. Jika dilihat dari pakaian-pakaian yang dikenakan, seperti si ayah memakai setelan celana bahan berwarna hitam dengan jas yang juga berwarna hitam serta dasi bermotif batik, si ibu memakai kebaya berwarna putih dengan bawahan kain batik serta rambutnya digelung, dan kedua anaknya berpakaian mengikuti gaya pakaian si ayah dan si ibu, tampaknya mereka sedang melakukan sesi foto keluarga. Namun siapapun mereka tampaknya tidak Mellani ambil pusing. Ia memilih untuk beranjak mencari area lain yang mungkin mengandung teka-teki di dalamnya.
Ia harus memecahkan teka-teki lain agar ia bisa menemukan jalan keluar untuk menemukan Andra. Ia saat ini hanya bisa berharap untuk segera menemukan Andra dan secepatnya keluar dari area yang asing tersebut.
Mellani selanjutnya menemukan jalan setapak lain yang berada di antara celah dua tebing di mana jalan tersebut rupanya terhalang sebatang pohon yang roboh. Di seberang pohon yang roboh tersebut terdapat seonggok batu berbentuk seperti guci dengan sebuah benda berbentuk seperti lilin namun lebih mirip petasan besar di atasnya. Mellani tidak dapat menjangkau tempat di mana batu guci dengan petasan tersebut berada karena terhalang pohon tumbang. Namun Mellani segera mengarahkan smartphone-nya ke arah batu guci dengan petasan tersebut. Tidak terjadi apa-apa dengan tampilan kameranya. Bisa jadi karena jarak Mellani yang terlalu jauh dengan objek tersebut. Namun Mellani tidak kehilangan akal. Ia mencoba memperbesar atau men-zoom tampilan kamera smartphone-nya, dan thuss, layar smartphone-nya berriak-riak dengan kerusakan tampilan seperti biasa. Dengan begitu maka Mellani menjepret objek berupa batu guci dengan petasan dan tiba-tiba petasan tersebut menyala dan meledak keras disertai kembang api membubung ke langit.
Duarrrrr, siuuuuttt, tampak nyala kembang api dari petasan tersebut berwarna-warni di langit. Mellani juga mendapatkan foto warna-warni nyala kembang api tersebut. Namun kemudian ia baru menyadari jika meletusnya petasan dengan pancaran kembang api tersebut membuat langit yang tadinya terang menjadi gelap. Suasana malam pun kembali menyelimuti membuat bulu kuduknya terasa merinding. Ia sejenak merasa bingung, bagaimana bisa ledakan petasan kembang api tersebut bisa mengubah hari yang tadinya siang terang benderang menjadi malam gelap gulita.
Mellani kemudian segera pergi kembali menuju danau dan sesampainya di sana ia mendapati semua orang telah pergi. Telaga kini menjadi sunyi senyap. Sesekali terdengar suara lolongan serigala di kejauhan menambah bulu kuduk semakin merinding. Mellani mengarahkan smartphone-nya untuk melihat-lihat sekitar telaga. Ia masih dapat menyaksikan peri raksasa tersebut masih berada di tempat semula. Namun kali ini Mellani melihat seperti ada sebuah pohon raksasa berada di belakang peri tersebut. Mellani masih belum bisa menemukan jalan menuju tempat di mana peri dan pohon besar tersebut berada. Tampaknya ia harus memecahkan teka-teki lain yang belum ia temukan.
Dengan menggunakan smartphone-nya, Mellani menelusuri setiap sudut di pinggir telaga hingga akhirnya ia menemukan susunan longsoran tebing yang menghalangi jalan seperti berbentuk aliran lava gunung berapi yang sedang meletus. Di antara bentuk aliran lava tersebut terdapat sebutir batu berbentuk seperti bom klasik lengkap dengan sumbunya. Melalui tampilan kamera smartphone, Mellani dapat melihat jika longsoran tersebut berpijar berwarna seperti lava atau batuan yang terbakar. Saat ia mengarahkan kamera ke arah batu yang berbentuk seperti bom klasik, tampilan kameranya langsung berriak-riak dengan kerusakan tampilan. Langsung saja ia menjepret objek tersebut, dan mendadak batu berbentuk bom klasik tersebut menyala kemudian meledak dengan keras menghancurkan longsoran tebing dan membentuk sebuah jalan setapak baru di antara timbunan material longsoran tersebut.
Mellani pun akhirnya dapat mencapai tempat di mana peri raksasa berada. Namun Mellani hanya bisa menengadah melihat ke atas ke arah peri raksasa mengapung. Ia dapat melihat dengan lebih jelas lagi peri raksasa tersebut. Bagaimana bawahan peri tersebut terlihat tanpa tertutup busana bagian bawah.
Mellani kemudian memotret gadis cantik berukuran Titan tersebut, dan thuss mendadak Mellani menyaksikan adegan horror yang membuat ngilu siapapun yang melihatnya. Peri cantik tersebut mengeluarkan sebuah cakar besi mirip cakar Wolverine dalam serial franchise X-Men. Ia tampak dengan pelan menyayat wajahnya sendiri dengan cakar Wolverine tersebut. Namun kemudian gerakan si peri menjadi semakin cepat dan kasar menguliti seluruh wajahnya hingga menampilkan wajahnya yang tanpa kulit dan mengeluarkan darah. Sedangkan Mellani terlihat begitu kaget dan ketakutan setengah mati melihat adegan horror tersebut. Belum habis ketakutan dan kekagetannya, wujud si peri tiba-tiba berubah menjadi wujud negatif sesosok iblis raksasa yang terbungkus kain kafan kotor menggantung di pohon beringin raksasa. Aura mistis pun menyeruak membuat suasana di tempat tersebut terasa mengerikan. Makhluk tersebut bisa disebut sebagai Rajanya Pocong. Ukuran hantu pocong tersebut tergolong sangat besar, namun untuk bergerak, pocong tersebut hanya merangkak dengan menggunakan satu tangan yang keluar dari balik kain kafan yang membungkusnya. Makhluk Titan ini hanya memiliki satu mata besar yang berpijar berwarna merah menyala, sedangkan mata satunya lagi tertutup kain kafan. Pocong raksasa ini dikenal sebagai Pocong Radja. Meski bergerak dengan merangkak, namun gerakannya tergolong cepat dan daya serangnya cukup massif. Makhluk ini memiliki kemampuan untuk memanggil pocong-pocong yang lebih kecil untuk membantunya.
Sejurus kemudian pocong raksasa tersebut terjatuh berdebum ke tanah membuat tanah berguncang hebat seperti sedang mengalami gempa dahsyat. Mellani pun terjatuh telentang di atas tanah.
Mellani terhenyak saat menyadari dirinya tidak lagi berada di samping rel usang. Ia kini berada di dalam sebuah kamar kecil dengan sebuah bak mandi dan sebuah WC. Tampaknya kamar tersebut merupakan sebuah toilet yang entah berada di dalam bangunan yang mana. Ia pun segera bangkit dan melihat-lihat kamar kecil tersebut. Ia mendapati pintu toilet dalam keadaan tertutup namun tidak terkunci saat ia mencoba membuka pintu toilet tersebut.
Mellani kemudian melangkah keluar sambil melihat-lihat ruangan di luar toilet tersebut. Ia melihat beberapa buah ranjang rumah sakit tampak tidak beraturan letaknya. Ia kemudian menemukan sebuah smartphone dengan chasing berwarna pink tergeletak di atas lantai yang berupa tegel tersebut. Saat melihat ke layar smartphone, Mellani menemukan tampilan smartphone tersebut dalam mode kamera. Saat itulah ia menyadari jika smartphone-nya sendiri telah raib.
Melalui tampilan kamera, Mellani melihat layar smartphone seperti terdistorsi dan seperti mengalami kerusakan tampilan. Karena merasa penasaran, ia pun menyentuh tombol Shutter, dan ceklikk, terlihat cahaya berwarna merah memijar di layar smartphone yang baru ia temukan tersebut.
Tiba-tiba Mellani dikagetkan dengan jatuhnya sesosok jasad manusia dari atas langit-langit. Jasad tersebut jatuh pas di hadapan Mellani. Ternyata jasad tersebut adalah jasad seorang gadis siswi SMA yang sebelumnya Mellani lihat tergantung di langit-langit bangunan tempat saat ini ia berada.
Mellani tampak syok sambil mundur beberapa langkah. Ia kaget mengapa ia bisa tiba-tiba berada di dalam bangunan UKS tersebut dan menjumpai jasad yang sebelumnya tergantung di langit-langit yang kini tergeletak di hadapannya.
Mellani pun memberanikan dirinya memeriksa jasad siswi SMA tersebut. Jasad gadis malang tersebut tampak pucat dengan luka lebam dan lecet-lecet di bagian leher. Gadis malang tersebut memilik paras cukup cantik dan masih terlihat cantik meski telah terbujur kaku. Rambutnya tergerai hingga ke lengan dihiasi sebuah jepit rambut yang terbuat dari besi anti karat.
Mellani sejenak merasa bingung, mau dia apakan jasad gadis tersebut. Ia tidak mau berpikiran untuk mengubur jasad gadis tersebut karena situasi dan kondisinya yang tidak memungkinkan.
Namun sejenak ia merasakan ada sesuatu yang aneh. Ia merasakan seperti ada seseorang yang memperhatikannya. Selain itu ia juga merasakan kehadiran aura mistis di sana. Belum sempat ia menoleh untuk melihat apa sebenarnya yang sedang memperhatikannya, mendadak mayat si gadis SMA bangkit dari posisinya dan menyerang Mellani dengan cekikan yang begitu kuat. Mellani pun berjuang sekuat tenaga melepaskan diri dari cekikan mayat si gadis yang kerasukan tersebut.
"Uhhh, uhuk, uhuk" Mellani terbatuk-batuk setelah berhasil melepaskan diri dan terjengkang di atas lantai.
Dengan cepat Mellani berlari menghindari kejaran mayat hidup tersebut. Smartphone dengan chasing berwarna pink sebelumnya terjatuh saat Mellani dicekik mayat si gadis yang tiba-tiba dapat hidup tersebut. Untuk mengambil smartphone tersebut tentu butuh perjuangan. Sedangkan Mellani hampir tidak mendapat kesempatan untuk mengambil smartphone tersebut. Mayat si gadis terus mengejarnya bahkan beberapa kali sempat membuat Mellani terjatuh. Tidak jarang ia terjatuh menghantam ranjang rumah sakit sehingga badannya terasa sakit-sakit.
Namun pada akhirnya Mellani dapat mengambil smartphone pink yang tampaknya merupakan milik si gadis SMA tersebut semasa hidupnya. Tampaknya Mellani sekarang dapat balik menyerang penyerangnya dengan menggunakan smartphone pink tersebut. Kilatan lampu flash smartphone tersebut rupanya dapat membuat sesuatu yang menggerakkan mayat si gadis menjadi ketakutan. Itu ditandai dengan jatuhnya mayat si gadis ke lantai. Namun makhluk pengganggu yang merasuki atau menggerakkan mayat si gadis masih belum terlihat. Mellani juga berusaha melihat makhluk tersebut melalui tampilan kamera smartphone. Tidak terlihat apapun di sana, namun Mellani dapat merasakan jika makhluk tersebut masih ada dan sedang bersiap membokongnya dari belakang.
Mellani pun dapat melihat tampilan kamera di layar smartphone terlihat mengalami kerusakan. Dengan segera ia menyentuh tombol shutter dengan jempol tangannya. Ceklikk, tampak seberkas sinar berwarna merah berpijar melalui tampilan kamera smartphone setelah Mellani menjepret target yang tidak terlihat tersebut.
Setelah kira-kira setidaknya lima kali jepretan tiba-tiba suasana di dalam ruangan menjadi bising oleh suara benda-benda yang bergerak sendiri dan saling bertabrakan. Beberapa di antaranya malah melayang hendak menghantam Mellani. Tentu saja ia tidak tinggal diam. Ia berlari ke sana kemari untuk menghindari terkena serangan benda-benda yang bergerak sendiri tersebut. Mellani juga tidak lupa untuk melakukan serangan balik dengan menjepret area yang terlihat berriak-riak di layar smartphone-nya. Beberapa kali ia berhasil membuat makhluk yang menggerakkan benda-benda di dalam ruangan UKS tersebut melenguh keras. Tampaknya makhluk tak kasat mata tersebut merasa tidak tahan terhadap kilatan lampu flash smartphone-nya Mellani. Hingga akhirnya suasana di dalam ruangan kembali tenang, dan Mellani merasakan aura mistis makhluk tersebut telah lenyap. Ia juga mendapati pintu keluar bangunan UKS tersebut telah terbuka.
Sejenak Mellani melihat ke arah mayat si gadis yang tergeletak di atas lantai dan tertindih sebuah kursi berdebu. Mellani kemudian menyingkirkan kursi tersebut dan sekuat mungkin mengangkat mayat si gadis ke atas ranjang rumah sakit. Setelah berhasil menempatkan jasad si gadis di atas ranjang, Mellani kemudian beranjak keluar bangunan tersebut.
Selanjutnya Mellani berjalan menuju sebuah jalan setapak yang mengarah ke sebuah bangunan besar yang tampaknya itu merupakan sebuah graha/mansion. Terdapat sebuah tangga berundak berukuran cukup luas yang mengarah ke sebuah pintu gerbang graha yang tertutup. Bagian kanan tangga tersebut terlihat retak-retak tertembus oleh akar sebatang pohon beringin yang tumbuh di sisi kanan tangga.
Saat Mellani mencapai pertengahan tangga, tiba-tiba ia merasakan aura mistis menyelimuti tempat tersebut. Mendadak di tangga tersebut muncul beberapa benda yang berbentuk seperti kepala manusia tanpa rambut menggelinding menuruni tangga. Bahkan satu di antaranya melompat dan menempel di kedua tangan Mellani yang sedang berusaha mengarahkan smartphone untuk menjepret penampakkan-penampakkan horror tersebut. Mellani dapat dengan jelas melihat bahwa itu adalah kepala manusia dengan wajah menakutkan. Sontak Mellani melonjak kaget dan mengibaskan kedua tangannya hingga hantu kepala tanpa badan tersebut terjatuh.
Tampaknya kepala-kepala gundul yang menggelinding tersebut adalah Hantu Gundul Pringis yang merupakan sosok hantu kepala tanpa badan. Untuk berpindah tempat, Gundul Pringis menggelinding seperti bola. Gundul Pringis bukan tipe hantu yang berbahaya, namun cukup mengagetkan bagi pemain karena hantu ini memiliki tampang menyeramkan. Hantu ini muncul dalam DreadOut Act 2.
Mellani pun segera menaiki tangga menjauhi kelompok hantu kepala tersebut dan mencoba membuka pintu graha, namun pintu besi dengan hiasan motif tanaman menjalar tersebut dalam keadaan terkunci. Mungkin ia harus mendapatkan kunci agar dapat membuka pintu graha tersebut. Namun kemudian Mellani sadar untuk apa ia berada di perkampungan terbengkalai tersebut. Ia akhirnya berpikir untuk tidak bertindak terlalu jauh dengan memaksa memasuki area yang tidak mungkin dapat ia kunjungi.
Selanjutnya Mellani meninggalkan graha tersebut dan mengabaikan hantu-hantu kepala gundul berwajah seram tersebut. Ia kini sudah dapat mengatasi ketakutannya, karena ia berpikir bahwa ketakutan ketika berada di tempat angker seperti itu tidak akan menyelamatkannya. Jadi kini baginya adalah ia harus mengabaikan ketakutan itu sebelum ketakutan dapat membunuhnya secara perlahan.
Mellani kemudian menuju suatu jalan setapak yang berada di balik sebuah pintu kecil tembok graha. Tampaknya pintu kecil tersebut mengarahkan Mellani memasuki sebuah lorong rahasia menuju suatu tempat yang terlihat begitu tenang dan tentram. Bahkan yang lebih luar biasa, Mellani dapat merasakan jika pagi muncul di area tersebut. Melalui jalan setapak di antara dua tebing kecil, Mellani dapat menyaksikan sinar keemasan matahari muncul dari ufuk timur. Namun anehnya ia mendengar suara seperti lolongan anjing kelaparan dari kejauhan bukan suara kokok ayam jantan.
Tak lama Mellani menemukan sebuah oasis berupa sebuah telaga kecil dan dangkal dengan sebuah bukit batu kecil di tengah-tengah. Telaga tersebut terlihat sepi, hanya suara katak bersahut-sahutan di sana. Telaga kecil tersebut ditumbuhi rerumputan yang sejenis dengan ilalang namun biasa tumbuh di atas tanah berair. Tidak ada apa-apa lagi di area telaga maupun sekitarnya. Mellani pun di sana hanya berkeliling sambil sesekali duduk di atas sebuah batu di pinggir telaga.
Matahari tampak semakin naik dengan pancaran sinarnya yang hangat menyinari area telaga di mana Mellani berada. Saat Mellani iseng-iseng melihat ke layar smartphone-nya, ia mendapati ada sesuatu yang ganjil mengenai tempat tersebut. Mellani pun mencoba membidik tebing batu yang berada di sebelahnya, dan saat tampilan kameranya terdistorsi, ia pun langsung menekan tombol shutter dan thuss, tebing batu tersebut tiba-tiba menghilang. Mellani mendapati suatu pemandangan yang tidak ia sangka-sangka sebelumnya. Ia melihat sebuah telaga yang ukurannya lebih luas daripada telaga tempatnya berada. Di telaga besar tersebut terlihat banyak gadis sedang berbasah-basahan ria. Mereka tampak begitu bergembira main air di telaga besar tersebut.
Mellani kemudian beranjak menuju telaga besar tersebut dan disambut dua orang gadis berpakaian kebaya simple berwarna kuning dan merah. Mereka berdua mengucapkan kata-kata dalam bahasa Sunda :"Wilujeng Sumping"/ "Selamat Datang".
Mellani hanya mengangguk sambil menuju pinggir telaga tersebut. Ia melihat tampak percikan air berhamburan saat beberapa orang gadis yang sedang berenang di telaga bermain percik-percik air ke temannya. Mellani pun ikut terkena percikan air hingga pakaiannya menjadi sedikit basah. Ia pun berjalan agak menjauhi posisi para gadis yang sedang bermain air tersebut.
Selanjutnya Mellani memotret mereka semua. Namun Mellani terkejut saat mengarahkan smartphone-nya agak ke atas. Ia melihat sesosok perempuan cantik berukuran raksasa berpakaian seperti peri berwarna krem lengkap dengan sayap transparan yang juga berwarna krem tampak mengapung di udara setinggi empat meter dari tanah. Pakaian yang dikenakan peri raksasa tersebut terlihat transparan sehingga Mellani dapat melihat beberapa bagian tubuh peri tersebut seperti pusar dan bagian bawah pahanya, sehingga celana dalamnya yang berwarna krem pun terlihat jelas. Kulit peri tersebut kuning Langsat dan terlihat begitu mulus. Wajahnya begitu cantik sehingga siapapun yang melihatnya akan berdecak kagum. Mellani pun tidak lupa memotret peri raksasa tersebut.
Mellani tampaknya tidak mungkin dapat mendekati peri raksasa tersebut karena jalan yang mengarah ke sana dalam kondisi tertutup longsoran tebing.
Ia kemudian menjepret sana sini dengan smartphone yang ia bawa. Hingga kemudian ia mendapati sebuah jalan setapak dalam celah di antara dua tebing. Ia pun menuju ke sana dan menemukan sebilah kujang tanpa sarung dalam kondisi sedikit berkarat tergeletak di atas sebuah batu kali.
Mellani mengambil kujang tersebut dan menaruhnya dalam tas. Ia kemudian mengitari tempat tersebut sambil melihat melalui tampilan kamera di smartphone-nya. Sejenak ia melihat dua batang pohon setinggi manusia dewasa tampak mengapit dua batang pohon dengan satu pohon setinggi anak berusia 10 tahun dan satu pohon lagi setinggi anak berusia 6 tahun.
Latar belakang pohon-pohon dengan formasi unik tersebut berupa tebing batu berundak yang jika diamati lebih teliti akan tampak seperti anak-anak tangga suatu bangunan dengan ukuran yang luas.
Saat Mellani mengarahkan kameranya ke arah pohon-pohon tersebut dari arah depan, jelas dia melihat layar smartphone-nya berriak-riak dengan kerusakan tampilan seperti saat ia melihat penampakkan hantu. Dengan mantap ia menekan tombol shutter. Ceklikkk, glederr, mendadak terdengar suara halilintar dibarengi dengan munculnya foto di layar smartphone yang digunakan Mellani. Foto tersebut membuat Mellani terkejut setengah mati.
Mellani begitu terkejut saat melihat apa yang ditampilkan foto tersebut. Foto tersebut menampilkan foto keluarga lengkap dengan ayah, ibu, anak laki-laki dan anak perempuan dengan latar belakang tangga berundak yang ditutupi karpet merah. Yang membuat kaget adalah seluruh anggota keluarga yang ditampilkan di foto terlihat begitu menakutkan. Mereka memiliki wajah yang mengerikan dengan kulit pucat seperti mayat baru. Di antaranya bahkan memiliki mulut yang lebar hingga ke telinga. Sebagian di antaranya terlihat melelehkan darah dari mulutnya. Jika dilihat dari pakaian-pakaian yang dikenakan, seperti si ayah memakai setelan celana bahan berwarna hitam dengan jas yang juga berwarna hitam serta dasi bermotif batik, si ibu memakai kebaya berwarna putih dengan bawahan kain batik serta rambutnya digelung, dan kedua anaknya berpakaian mengikuti gaya pakaian si ayah dan si ibu, tampaknya mereka sedang melakukan sesi foto keluarga. Namun siapapun mereka tampaknya tidak Mellani ambil pusing. Ia memilih untuk beranjak mencari area lain yang mungkin mengandung teka-teki di dalamnya.
Ia harus memecahkan teka-teki lain agar ia bisa menemukan jalan keluar untuk menemukan Andra. Ia saat ini hanya bisa berharap untuk segera menemukan Andra dan secepatnya keluar dari area yang asing tersebut.
Mellani selanjutnya menemukan jalan setapak lain yang berada di antara celah dua tebing di mana jalan tersebut rupanya terhalang sebatang pohon yang roboh. Di seberang pohon yang roboh tersebut terdapat seonggok batu berbentuk seperti guci dengan sebuah benda berbentuk seperti lilin namun lebih mirip petasan besar di atasnya. Mellani tidak dapat menjangkau tempat di mana batu guci dengan petasan tersebut berada karena terhalang pohon tumbang. Namun Mellani segera mengarahkan smartphone-nya ke arah batu guci dengan petasan tersebut. Tidak terjadi apa-apa dengan tampilan kameranya. Bisa jadi karena jarak Mellani yang terlalu jauh dengan objek tersebut. Namun Mellani tidak kehilangan akal. Ia mencoba memperbesar atau men-zoom tampilan kamera smartphone-nya, dan thuss, layar smartphone-nya berriak-riak dengan kerusakan tampilan seperti biasa. Dengan begitu maka Mellani menjepret objek berupa batu guci dengan petasan dan tiba-tiba petasan tersebut menyala dan meledak keras disertai kembang api membubung ke langit.
Duarrrrr, siuuuuttt, tampak nyala kembang api dari petasan tersebut berwarna-warni di langit. Mellani juga mendapatkan foto warna-warni nyala kembang api tersebut. Namun kemudian ia baru menyadari jika meletusnya petasan dengan pancaran kembang api tersebut membuat langit yang tadinya terang menjadi gelap. Suasana malam pun kembali menyelimuti membuat bulu kuduknya terasa merinding. Ia sejenak merasa bingung, bagaimana bisa ledakan petasan kembang api tersebut bisa mengubah hari yang tadinya siang terang benderang menjadi malam gelap gulita.
Mellani kemudian segera pergi kembali menuju danau dan sesampainya di sana ia mendapati semua orang telah pergi. Telaga kini menjadi sunyi senyap. Sesekali terdengar suara lolongan serigala di kejauhan menambah bulu kuduk semakin merinding. Mellani mengarahkan smartphone-nya untuk melihat-lihat sekitar telaga. Ia masih dapat menyaksikan peri raksasa tersebut masih berada di tempat semula. Namun kali ini Mellani melihat seperti ada sebuah pohon raksasa berada di belakang peri tersebut. Mellani masih belum bisa menemukan jalan menuju tempat di mana peri dan pohon besar tersebut berada. Tampaknya ia harus memecahkan teka-teki lain yang belum ia temukan.
Dengan menggunakan smartphone-nya, Mellani menelusuri setiap sudut di pinggir telaga hingga akhirnya ia menemukan susunan longsoran tebing yang menghalangi jalan seperti berbentuk aliran lava gunung berapi yang sedang meletus. Di antara bentuk aliran lava tersebut terdapat sebutir batu berbentuk seperti bom klasik lengkap dengan sumbunya. Melalui tampilan kamera smartphone, Mellani dapat melihat jika longsoran tersebut berpijar berwarna seperti lava atau batuan yang terbakar. Saat ia mengarahkan kamera ke arah batu yang berbentuk seperti bom klasik, tampilan kameranya langsung berriak-riak dengan kerusakan tampilan. Langsung saja ia menjepret objek tersebut, dan mendadak batu berbentuk bom klasik tersebut menyala kemudian meledak dengan keras menghancurkan longsoran tebing dan membentuk sebuah jalan setapak baru di antara timbunan material longsoran tersebut.
Mellani pun akhirnya dapat mencapai tempat di mana peri raksasa berada. Namun Mellani hanya bisa menengadah melihat ke atas ke arah peri raksasa mengapung. Ia dapat melihat dengan lebih jelas lagi peri raksasa tersebut. Bagaimana bawahan peri tersebut terlihat tanpa tertutup busana bagian bawah.
Mellani kemudian memotret gadis cantik berukuran Titan tersebut, dan thuss mendadak Mellani menyaksikan adegan horror yang membuat ngilu siapapun yang melihatnya. Peri cantik tersebut mengeluarkan sebuah cakar besi mirip cakar Wolverine dalam serial franchise X-Men. Ia tampak dengan pelan menyayat wajahnya sendiri dengan cakar Wolverine tersebut. Namun kemudian gerakan si peri menjadi semakin cepat dan kasar menguliti seluruh wajahnya hingga menampilkan wajahnya yang tanpa kulit dan mengeluarkan darah. Sedangkan Mellani terlihat begitu kaget dan ketakutan setengah mati melihat adegan horror tersebut. Belum habis ketakutan dan kekagetannya, wujud si peri tiba-tiba berubah menjadi wujud negatif sesosok iblis raksasa yang terbungkus kain kafan kotor menggantung di pohon beringin raksasa. Aura mistis pun menyeruak membuat suasana di tempat tersebut terasa mengerikan. Makhluk tersebut bisa disebut sebagai Rajanya Pocong. Ukuran hantu pocong tersebut tergolong sangat besar, namun untuk bergerak, pocong tersebut hanya merangkak dengan menggunakan satu tangan yang keluar dari balik kain kafan yang membungkusnya. Makhluk Titan ini hanya memiliki satu mata besar yang berpijar berwarna merah menyala, sedangkan mata satunya lagi tertutup kain kafan. Pocong raksasa ini dikenal sebagai Pocong Radja. Meski bergerak dengan merangkak, namun gerakannya tergolong cepat dan daya serangnya cukup massif. Makhluk ini memiliki kemampuan untuk memanggil pocong-pocong yang lebih kecil untuk membantunya.
Sejurus kemudian pocong raksasa tersebut terjatuh berdebum ke tanah membuat tanah berguncang hebat seperti sedang mengalami gempa dahsyat. Mellani pun terjatuh telentang di atas tanah.
0
Kutip
Balas