- Beranda
- Stories from the Heart
PERTAMA : Akhir sebuah Awal (romance)
...
TS
d.p.library
PERTAMA : Akhir sebuah Awal (romance)
Permisis agan-agan saya mau share tulisan saya yang berjudul PERTAMA : Akhir sebuah Awal
nantinya cerita ini saya pasti akan tamat yang artinya tidak gantung, setiap paling lamaseminggu sekali akan saya update. tapi saya minta respone dan masukan dari agan-agan yang baca ya. semoga suka..... aaaamiiiiin
visit my blog : dplibrary27@blogger.co.id
instagram : dp.library
Email for bussiness : Dp.librarywriter@gmail.com
terima kasih smuanya
diharapkan banyak cendol dan ga banyak yang bata

nantinya cerita ini saya pasti akan tamat yang artinya tidak gantung, setiap paling lamaseminggu sekali akan saya update. tapi saya minta respone dan masukan dari agan-agan yang baca ya. semoga suka..... aaaamiiiiin
visit my blog : dplibrary27@blogger.co.id
instagram : dp.library
Email for bussiness : Dp.librarywriter@gmail.com
terima kasih smuanya
diharapkan banyak cendol dan ga banyak yang bata
Quote:
Quote:

Diubah oleh d.p.library 03-03-2018 15:55
anasabila memberi reputasi
1
19.3K
130
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.3KAnggota
Tampilkan semua post
TS
d.p.library
#51
CHAPTER 6 (PART 1)
Rama keluar dari kamar mandi dengan pakaian bergaya casual. Pagi itu, Rama memang sengaja memilih pakaian yang agak santai. Dengan kaos berwarna hitam polos tanpa gambar apapun, dan celana pendek selutut, Rama sudah tampak siap untuk sarapan.
“Yuk To, gue udah selesai.” Rama masih terlihat sibuk mengeringkan rambutnya yang masih agak sedikit basah menggunakan handuk.
Dito memang lebih dahulu bangun dibanding Rama pagi itu. Ia sudah mandi dan siap untuk keluar dari kamarnya sejak 30 menit yang lalu. Dito yang saat itu sedang menikmati teh hangat di balkon kamarnya, tidak menjawab ajakan Rama. Ia sudah mengerti dan langsung keluar dari kamarnya bersama Rama untuk menikmati sarapan yang disediakan oleh hotel tempat mereka menginap.
Setelah mereka mengambil beberapa makanan, mereka memutuskan duduk di meja yang dekat dengan pancuran air buatan. Di depan mereka disajikan pemandangan pagi yang indah dengan warna hijau dari hamparan sawah yang luas, dan mereka juga mendapat bonus berupa udara Ubud yang sangat sejuk dan segar pagi itu.
“Gila ya Ram, kita sehat banget kalo tiap hari tuh kayak gini. Bukan badan aja yang sehat, pikiran kita juga sehat. Kayak berasa surga di depan mata kita.” Kali ini Dito bicara sambil menikmati sarapan pagi yang ia ambil. Sedangkan matanya dimanjakan oleh pemandangan yang begitu indah.
“Iya, ini sih namanya lidah sama mata kita yang dimanjain ya. Eh, Dini belum kelihatan ya? Masih tidur kali ya.” Rama mencoba merespon perkataan dari Dito.
Dini memang belum kelihatan pagi itu. Mungkin karena Dini semalam tidur agak malam, sehingga membuat ia bangun agak siang. Dini dan Rama memang cukup lama menghabiskan waktu berdua semalam. Tidak banyak memang pbrolan yang mereka obrolkan tadi malam, tetapi itu sudah cukup bagi mereka untuk sama-sama melewati seperempat malam dengan kedamaian dan ketenangan. Terkadang, memang kata-kata tidak diperlukan untuk menggambarkan setiap perasaan yang kita rasa.
“Lo siang ini mau kemana Ram? Kan acaranya malam. Gue kayaknya mau keluar sebentar deh, sekalian liat-liat, soalnya gue sempat nanya-nanya pas kita baru datang, katanya dekat sini ada galeri foto. Mau ikut ga?” Dito mengajak Rama untuk ikut bersamanya. Mereka berdua memang sama-sama menyukai semua hal berbau seni. Jadi mungkin mengunjungi galeri adalah ide yang tepat untuk mereka berdua.
“Hmm, boleh sih, tapi liat ntar deh. Sekalian nunggu Dini, takutnya dia mau ngajak kita kemana gitu.”
“Oh iya benar juga sih, takutnya emang ada acara siangnya. Kita nunggu Dini dulu jadinya Ram. Lo nggak coba telfon dia?”
Rama lalu mengambil ponselnya di saku celana, lalu mencari nama Dini, “Sebentar, ini coba gue telfon deh. Gapapa kali ya, ini udah agak siang juga.” Telfon rama tidak kunjung mendapat jawaban. Rama sudah mencoba menelfon Dini dua kali. “Nggak diangkat To, masih tidur kali ya.”
“Mungkin.” Dito menjawab dengan singkat pertanyaan Rama.
Hampir 30 menit mereka menghabiskan waktu di restaurant hotel, pemandangan yang disajikan memang membuat mereka berdua enggan beranjak dari tempat mereka saat ini. Dito berkali-kali mengambil makanan yang disediakan pihak hotel untuk menu sarapan pagi, sedangkan Rama hanya menikmati secangkir kopi hitam tanpa gula yang menjadi favoritnya kalau pagi. Rama sudah kenyang, memang kalau urusan makanan, Dito lebih banyak makan dibanding Rama. Ditambah hotel ini menyediakan menu sarapan yang sangat enak dan boleh diambil sepuasnya. Maka Dito tidak mau melewatkan kesempatan itu.
“Hai kalian, udah dari tadi ya?” Tiba-tiba suara lembut dari seorang wanita yang mereka tunggu masuk di tengah-tengah obrolan Rama dan Dito. Dini yang saat itu menggunakan kaos biru tanpa lengan dipadukan dengan celana jeans pendek dan sneakersnya, terlihat cantik. Sebenarnya Dini memang sudah cantik, pakai apapun Dini selalu terlihat cantik, setidaknya itu di mata Rama. Dini tidak sendirian kali ini, dibelakangnya ada seorang pria dan wanita yang saling merangkul. Mereka seperti pasangan muda, mungkin umurnya tidak jauh berbeda dengan Dini, atau mugkin memang seumuran.
“Hai kenalin ini Adit dan ini Rika, mereka sepupu gue yang mau nikah, Dit, Rik ini Rama dan yang ini Dito. Mereka fotografer yang gue ceritain, yang rencananya bakal jadi tukang foto di acara nikahan kalian.” Dengan nada sedikit bercanda, Dini saling memperkenalkan satu sama lain.”
“Gue capek-capek ikut kelas fotonya Mas Darwis Triadi, fotografer terkenal, masih dibilang tukang foto? Berasa tukang foto keliling yang di Ancol gue.” Kali ini Dito berbisik kepada Rama.
Rama hanya tersenyum saat itu. Mereka berlima sekarang sedang sibuk dengan obrolan mereka sambil menikmati sarapan pagi. Dan beberapa kali Adit dan Rika juga menjelaskan konsep acara pernikahannya malam nanti. Ini jadi membuat Dito memiliki gambaran tentang apa saja moment yang nantinya akan ia foto.
“Acaranya mulai jam 7 malam, berarti dari jam 6 kita udah stand by ya. Karena sekarang masih jam 9 pagi, rencananya gue sama Rama mau jalan-jalan dulu sekitar sini. Sekalian mau liat ada galeri foto katanya deket-deket sini, kalian mau ikut?” Dito menawarkan Dini, Adit, dan Rika.
“Kita berdua sih nggak To, tau kan ada pantangan orang tua yang bilang kalau udah dekat waktunya nikah, nggak boleh kemana-mana. Ya takutnya kita kualat, mending kita disini aja.” Jawab Adit sambil sedikit tertawa, yang diikuti oleh anggukan Rika, calon istrinya.
“Gue ikut, boleh ya?” Dini langsung menjawab dengan cepat sambil tersenyum. Senyum Dini terlihat sangat manis, membuat yang lain jadi terfokus dengannya..
“Boleh dong Din, boleh banget.” Rama menjawab dengan ramah.
Setelah Dini dan sepupunya menyelesaikan sarapan, Dini meminta izin untuk pamit ke orang tuanya terlebih dahulu. Dito juga memang sekalian mau mengambil kameranya, mungkin saja ada yang menarik untuk difoto nantinya. Sedangkan Rama yang memang sudah tidak ada keperluan apapun memilih untuk menunggu mereka berdua di lobby hotel.
Ketika Rama sedang duduk-duduk di lobby untuk menunggu Dini dan Dito, mata Rama seperti teralihkan oleh seseorang. Seseorang yang mungkin saja familiar di mata Rama. Tetapi penglihatan itu hanya sekilas, Rama hanya melihat orang itu beberapa detik, sangat singkat. Bahkan Rama tidak sempat melihat dengan jelas wajah orang yang dimaksud, orang itu sudah keburu hilang memasuki mobilnya.
Apa iya dia? Tapi kayaknya nggak mungkin, ngapain dia disini? Mungkin hanya mirip. Rama jadi sibuk memikirkan sesuatu. Sesuatu yang sudah beberapa minggu ini sudah bisa ia lupakan. Atau mungkin seseuatu itu memang selalu Rama coba lupakan selamanya, tapi tidak pernah bisa.
“Oit, bengong bos? Dini belum disini? Lama ya cewek.” Tiba-tiba suara Dito membuyarkan lamunan Rama.
Mungkin memang sebaiknya Rama tidak memikirkan hal yang tidak ingin ia ingat-ingat kembali saat liburan seperti ini. Rama memang menjadikan hari-harinya di Bali selain untuk membantu Dito, juga untuk merefresh otaknya dari kegalauan yang akhir-akhir ini sering terpikirkan olehnya.
“Hai kalian berdua, yuk! Nih gue dikasih pinjem mobil sama saudara gue yang Di Bali. Tapi jangan gue yang nyetir ya.” Dini menunjukkan kunci mobil di tangannya. Di usia yang sudah hampir menginjak kepala 3, Dini memang masih terlihat sangat cantik dan modis. Ia selalu cocok menggunakan apapun di tubuhnya, mungkin memang karena kulitnya yang putih terawat, dan badannya yang cukup proporsional. Begitupun saat itu, Dini menggunakan jumpsuit jeans yang dipadukan dengan kaos putih di dalamnya. Sneakers putih yang ia kenakan pun menjadi item tambahan agar penampilannya terlihat modis.
Kali ini, Dito meminta Rama untuk menyetir. Dito ingin memfoto beberapa objek yang nantinya akan ia lewati. Dito pun memilih duduk di kursi belakang, katanya agar lebih leluasa saat nanti ada view yang bagus.
Diperjalanan mereka bertiga jarang mengobrol. Dito sibuk dengan kameranya, memfoto berbagai objek pemandangan yang memang sangat indah, Dini dan Rama hanya sesekali saja mengobrol, Dini asik dengan ponsel dan sosial medianya, sedangkan Rama hanya fokus menyetir dan menikmati berbagai keindahan yang disajikan oleh alam. Dan tidak terasa, setelah kurang lebih 25 menit, mereka sampai di galeri foto yang dituju.
Mereka tampak menikmati setiap foto yang galeri ini sajikan. Bagi Dini, mungkin ia tidak terlalu mengerti tentang foto, tetapi Rama dan Dito memang sudah menyukai setiap hal yang memiliki unsur seni, terutama Dito yang sangat mendalami fotografi. Mungkin kalau ditanya detail mengenai setiap foto yang ada di galeri, mereka berdua juga tidak terlalu mengerti, setiap foto memiliki cerita dan sejarah nya sendiri. Hal itu yang membuat mereka ingin lebih mengerti tentang dunia fotografi, terutama Dito.
“Eh, gue misah dulu ya, mau muter-muter sekalian mau nanya-nanya. Nanti kita ketemuan di depan lagi aja ya.” Kali ini Dito berbicara sambil berjalan pergi meninggalkan Rama dan Dini.
Rama dan Dini dari tadi hanya melihat beberapa foto yang mereka lewati. Sampai ada suatu foto yang membuat Dini berdiam cukup lama untuk melihatnya. Dini tidak mengerti kenapa, ia hanya melihat sesuatu yang menarik di foto tersebut. Sekarang di depan Rama dan Dini ada sebuah foto yang menunjukkan salah satu sudut jalan yang terkenal sangat ramai di Bali, tetapi difoto terlihat tampak sepi, bahkan sangat sepi. Tidak ada seorangpun yang melalui jalan tersebut. Bagi orang yang sudah sering ke Bali, jalanan di foto itu mungkin akan sangat familiar, tetapi jalanan itu memang hampir tidak pernah sepi seperti tampak di foto.
“Ram, liat deh, ini salah satu jalanan di Kuta kan? Yang biasanya selalu ramai, malah hampir nggak pernah sepi. Ini kok momentnya bisa pas sepi banget ya, kayak kota yang nggak ada kehidupan.” Dini mencoba bertanya kepada Rama.
“Mungkin itu kenapa fotografi menjadi sesuatu yang menarik, dimana seseorang dapat mengambil suatu moment pada saat yang tepat, para fotografer juga diharapkan bisa melihat apapun dari sudut pandang yang berbeda, dan terkadang, mereka tidak menunggu moment yang tepat, tetapi merekalah yang menciptakan momentnya.” Sambil tersenyum, kali ini Rama menjawab pertanyaan Dini sambil melihat Dini yang sedang fokus melihat foto di depannya. Mata Rama kali ini benar-benar teralihkan. Ada hal lain yang lebih indah dari pada semua foto di galeri ini. Sesuatu yang benar-benar nyata. Apa iya gue?Hati Rama kali ini menjadi tidak menentu.
“Ram, di bawahnya ada penjelasannya. Bentar coba gue baca.”
Keheningan
Foto ini diambil tanggal 13 Oktober 2002, tepat sehari setelah bom Bali pertama yang menewaskan 203 orang. Jalan Kuta yang selalu ramai tampak sangat sepi hari itu. God bless us.
Saya percaya, orang-orang yang “pergi” pada tragedi itu, mereka tidak pergi untuk meninggalkan orang-orang terkasih, mereka hanya diselamatkan oleh Tuhan ke tempat yang terbaik. Dan mereka akan digantikan dengan orang-orang yang lebih baik di dunia menurut-Nya. Tuhan selalu bersama kita.
Saya percaya, orang-orang yang “pergi” pada tragedi itu, mereka tidak pergi untuk meninggalkan orang-orang terkasih, mereka hanya diselamatkan oleh Tuhan ke tempat yang terbaik. Dan mereka akan digantikan dengan orang-orang yang lebih baik di dunia menurut-Nya. Tuhan selalu bersama kita.
-Australian photographer.
“Jadi foto ini diambil sehari setelah tragedi bom di Kuta Ram, dan yang ngambil fotografer asal Australia. Ternyata benar ya, setiap foto akan punya ceritanya sendiri, seperti foto jalan ini, hanya sebuah jalan tetapi memiliki makna yang mendalam.” Dini kali ini berbicara cukup serius, dengan raut wajah yang sedikit menunjukkan kesedihan.
Rama melihat Dini yang sangat berbeda siang itu. Dini menunjukkan sisi lain di depan Rama kali ini. “Mungkin itu makna kehidupan, setiap hari selalu ada orang yang pergi meninggalkan orang-orang yang mereka kasih dengan berbagai cara, ada yang meninggal dunia, bercerai, putus dalam sebuah hubungan, atau mungkin harus pindah ke suatu tempat. Tetapi Tuhan akan selalu punya cara untuk menggantikan orang yang ditinggalkan dengan seseorang yang jauh lebih baik. Mungkin bukan menggantikan, tetapi hanya mengisi di sudut lain hati orang itu, dengan cara dan kondisi yang lebih baik.” Perkataan Rama kali ini sangat dalam. Ia mengucapkan dengan sangat lembut, tetapi penuh makna, setiap kata yang di keluarkan seakan memiliki rasa pada tiap-tiap katanya.
Rama dan Dini sedang menikmati setiap moment yang mereka lalui di galeri, melihat foto demi foto, dan membaca kalimat demi kalimat yang menceritakan foto yang mereka lihat. Kali ini, Dini lebih banyak bertanya, dan Rama menjawab pertanyaan Dini yang memang ia tahu.
Siang itu, Rama merasa kalau hatinya ingin selalu menjalani setiap moment di Bali ini bersama Dini. Tidak tahu kenapa, tetapi Rama seperti merasakan kembali kedamaian dan ketenangan jika berada di samping Dini. Bagi Rama, ia adalah tipe orang yang sulit jatuh hati, sudah beberapa perempuan yang menunjukkan ketertarikan terhadapnya, tetapi Rama selalu berusaha untuk menjauh dengan cara yang baik, tetapi kali ini berbeda, Rama merasakan kalau ia tidak ingin menjauh dari Dini. Mungkin kah gue sudah memaafkan semua yang udah terjadi di masa lalu, mungkinkah dia orangnya? Mungkinkah gue sudah siap menaruh setiap kenangan tentang Vira di suatu tempat yang sangat baik dan terjaga tanpa harus membukanya kembali?Rama merasa sedang terjadi pergulatan batin saat ini. Ia masih belum tahu akan bagaimana nantinya. Ia hanya ingin menikmati dan menjalani hari-harinya seperti biasa. Tetapi justru hatinya sendiri yang sedang tidak akur dan membuat semuanya jadi tampak seperti tidak sangat biasa.
“Din, gue telfon Dito dulu ya, nanyain dimana. Udah dari tadi juga kita, jam makan siang juga udah lewat nih.” Setelah pada panggilan pertama Dito tidak mengangkat telfon Rama, baru di panggilan kedua telfon Rama diangkat oleh Dito.
“Ram, lo sama Dini duluan aja deh, gue masih lama disini kayaknya, ntar kabarin aja lo lagi dimananya. Atau kalau nggak kita ketemuan di hotel aja.” Dito menjawab dari balik telfon.
“Din, kata Dito kita disuruh duluan aja. Dito masih mau disini, nanti kabar-kabaran aja katanya. Yaudah yuk kita jalan aja. Gapapa kan?” Rama memberitahu kepada Dini.
“Oh yaudah Ram kalo gitu, gapapa kok. Yuk kita cari tempat makan, sekalian ngopi ya, gue ada tempat ngopi langganan kalo gue sama keluarga lagi di Ubud.” Sebenarnya Dini malah senang jika ia bisa berdua dengan Rama. Ia jadi bisa mengenal Rama lebih dekat lagi.
Mereka tidak saling berbicara, mereka sama-sama tidak tahu apa yang mereka sedang ingin bicarakan. Hanya alunan lagu dari radio mobil yang mengisi keheningan mereka. Keindahan Ubud yang didominasi dengan hijaunya padi dan pepohonan membuat mereka hanya ingin menikmati mahakarya Tuhan yang sempurna. Terkadang mereka hanya mencuri kesempatan untuk melihat orang di sebelah mereka. Memang perjalanan dari galeri ke tempat yang mereka tuju selanjutnya tidak memerlukan waktu yang lama, hanya sekitar 15 menit.
“Yuk Ram, sekalian makan disini aja ya, disini juga makanannya enak kok. Gue sama bokap nyokap gue sering banget kesini, bokap yang hobi banget minum kopi suka banget sama kopi disini, sedangkan nyokap gue suka sama makanannya. Jadi gue lumayan sering ke tempat ini kalo lagi di Ubud.”
Setelah itu mereka turun dari mobil, menelusuri jalan setapak yang dikanan dan kirinya ditumbuhi pohonan hijau yang lebat. Mungkin saat itu, Rama hanya akan mengikuti kemana Dini akan membawanya. Ia mungkin memang sudah beberapa kali ke Bali dan daerah Ubud, tetapi ia tidak familiar, dan sepertinya Dini memang lebih tahu tentang daerah Ubud ini.
“Gue kira pas turun dari mobil tempat yang lo maksud udah deket Din, ternyata masih jalan lumayan ya. Kok bisa tahu tempat ini?” Rama bertanya kepada Dini.
“Sabar Ram, semua yang enak tuh butuh perjuangan buat dapetinnya, sama kayak tempat ini. Kenapa gue bisa tahu? Bokap gue yang tau tempat ini pertama.”
Mereka memang masih harus berjalan sekitar 100 meter untuk sampai ke tempat yang Dini maksud. Mungkin memang agak merepotkan, tetapi Rama tidak ingin memprotes Dini. Ia tidak tahu kenapa, tetapi hatinya pun memang hanya ingin mengikuti Dini, bahkan kalaupun ia disuruh berjalan beberapa kilometer pun, Rama tidak akan mengeluh, asal bersama Dini.
“Sampe, yuk Ram.” Dini mengucapkan kalimat ini diikuti dengan senyuman yang sangat lebar.
Mereka langsung memesan beberapa makanan dan minuman khas Bali yang kata Dini terbaik, tidak lupa juga kopi yang mereka minta disajikan setelah makan nanti. Mereka memang sangat lapar, jam sudah menunjukkan pukul 2 siang, berarti sudah hampir 2 jam mereka melewatkan jam makan siang yang seharusnya jam12 tadi. Setelah beberapa saat menunggu, makanan dan minuman yang mereka pesan datang. Rama dan Dini langsung menyantap setiap makanan yang mereka pesan. Dan tidak perlu waktu yang lama untuk mereka menghabiskan semua makanan itu. Setelah itu, pelayan dengan sigap menyajikan kopi yang di awal tadi mereka minta sajikan setelah makanan selesai tanpa diminta kembali.
Rama dan Dini menikmati siang itu. Alam sedang menyajikan semua hal yang mampu dinikmati oleh Rama dan Dini. Udara yang segar, pemandangan yang indah, kopi di depan mereka, dan moment kebersamaan mereka berdua. Semuanya hanya untuk dinikmati dan dirasakan, tanpa harus ada kata yang mewakili.
“Kenapa Ubud Din?” perkataan Rama seakan memecah kesunyian diantara mereka yang dari tadi tercipta.
“Ubud? Kenapa ya, mungkin kalau gue ditanya kenapa, gue juga nggak tau jawaban pastinya apa. Karena mungkin akan sulit bagi gue menggambarkan semuanya. Gue nggak perlu jelasin lagi gimana keindahan yang Ubud tawarkan ke gue, tapi.......” Dini diam sebentar, sebelum akhirnya melanjutkan perkataannya. “buat gue, gue suka kesunyian, kedamaian dan ketenangan yang ada di Ubud. Gue ngerasa kayak alam sedang bicara sama gue setiap gue di Ubud, setiap hembusan angin, kicauan burung, lolongan anjing, riak air, bahkan sampai daun-daun yang bergoyang, semua seperti sedang menunjukkan suatu interaksi ke gue. Bahkan kalau gue memejamkan mata sekalipun, semua kayak sedang berbisik sama gue.” Dini menjelaskan dengan lembut, sangat lembut, setiap kata yang dikeluarkan seperti memiliki makna yang sangat dalam.
Rama terdiam, seperti seseorang yang sedang terhipnotis, setiap perkataan Dini membuat Rama seperti ingin terdiam. Mungkin Dini berbeda. Dini tidak seperti ia yang biasanya. Ia wanita yang luar biasa. Mungkin memang gue belum cukup baik mengenal Dini. Bahkan setiap kata-kata yang Dini keluarkan barusan, seperti memiliki filosofi yang kuat. Hati Rama bergejolak kali ini.
“Ram, are you okey? Hey?” Dini sedikit mengguncang tangan Rama, sehingga membuat Rama tersadar dari lamunannya.
“Oh sorry Din, iya. Gue dengar kok. Tapi lo lagi nggak lari dari kenyataan kan?” Rama kembali bertanya ke Dini.
“Maksudnya Ram?”
“Iya, karena terkadang orang suka menjadikan setiap kesunyian, kedamaian, dan ketenangan sebagai pembelaan dan jalan pintas untuk lari dari setiap masalah dan kenyataan yang ada. Terkadang manusia tidak tahu apa mereka sebenarnya sudah memang benar-benar menyelesaikan setiap masalah mereka, atau hanya lari dari masalah itu.” Rama memberikan sedikit senyum dengan perkataannya kali ini agar tidak menyinggung Dini.
bersambung ke part 2 ya
0